Title : Say You Love Me
Author : Sherry Kim
Cast : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Other
Genre : Romance, Drama, Family, Sad, HQ, etc...
Rate : M
WARNING
Yaoi. Tidak suka jangan baca.
Alur tidak jelas typo bertebaran.
.. * ..
Yjskpresent.
.
.
"Kenapa kau menyembunyikan suaramu?"
Pandangan Jaejoong tertuju pada wanita paruh baya yang duduk di sofa tengah ruang. Bibi Yuri meminta pelayan memanggil Jaejong untuk menemui beliau, mengatakan ingin membahas sesuatu yang pribadi dan hanya berdua tanpa sepengetahuan Yunho.
Merasa gemas karena keterdiaman Jaejoong, Yuri mengulangi. "Kenapa kau menyembunyikan suaramu Jaejoong?" pemuda itu tidak menjawab, juga tidak bergerak di ambang pintu.
Yuri menghela napas dalam, tidak seharusnya ia menghujani Jaejoong dengan pertanyaan ketika pemuda itu bahkan pelum masuk ke dalam ruangan. "Tutup pintunya dan masuklah." Baru ketika itu Jaejoong kembali tersadar dari pertanyaan yang telah di ajukan bibi Yuri.
Menepuk sofa di sebelahnya, Yuri mengisyaratkan agar pemuda itu duduk di sisinya. "Kemarilah. Jangan takut, aku tidak akan mengigitmu."
Jaejoong tersenyum. Kata itu mengingatkannya kepada Yunho bahwa pria itu juga tidak akan mengigitnya. "Bagaimana keadaanmu? Dan apa kata dokter tentang suaramu?"
Tangan Jaejoong menyentuh lehernya sebelum berkata dengan suara yang lirih. "Dokter menyarankan untuk aku sering berbicara agar pita suaraku kembali ke kondisi semula." iapun duduk di samping bibi Yuri.
Suara Jaejoong masih terdengar serak. Tapi Yuri membayangkan akan sangat indah suara itu pada saatnya nanti. "Aku senang kau akhirnya memberanikan diri membuka suara."
Jaejoong tersenyum simpul, menunduk malu memperhatikan jemarinya yang bertautan di atas pangkuan. Yuri mengulurkan tangan, meraih tangan Jaejoong dan menarik tangan pemuda itu kearah pangkuannya, memaksa Jaejoong untuk duduk lebih mendekat kepadanya.
Pemuda malang, harus hidup seorang diri dan menderita tanpa kedua orang tua ketika Yuri sendiri tidak mampu melahirkan seorang putra. Mungkin karena itulah ia merasa memiliki kasih sayang lebih dan berniat melindungi pemuda manis ini. "Katakan padaku apakah benar ibumu seorang laki laki?"
Bola mata bulat pemuda itu terbelalak sebelum mengangguk ragu. "Ya."
"Dan... apakah... apakah kau?" bagaimana mengatakannya. Yuri memutar otak untuk mengatakannya setelah terdiam cukup lama. "Kau juga bisa hamil seperti ibumu?"
Pertayaan itu membuat Jaejoong menarik tangan dari genggaman Yuri. Entah mengapa pemuda itu terlihat tidak bersemangat seperti tadi. "Kenapa?"
Meskipun ragu, Jaejoong akhirnya berkata. "Saat kami kecil ibuku mengatakan Youngwoon Hyung tidak seperti dirinya. Tapi aku memiliki kemungkinan seperti beliau." ujarnya lirih.
"Bagus!" bibi Yuri berujar senang.
Kepala Jaejoong mendongak, menatap wanita paruh baya itu dengan geryitan samar di kening. Bagus? Apanya yang bagus? Yang benar saja. Dia laki laki yang memiliki kelainan gen, apa yang bagus dari keanehan itu. "Kenapa?" Jaejoong bertanya lirih.
Bergeser lebih dekat. Yuri mencondongkan tubuh penuh rahasia, wanita itu bahkan memperhatikan sekeliling untuk memastikan tidak ada siapapun di sekitar sana untuk menguping. "Aku butuh bantuanmu."
Bulu mata lentik Jaejoong mengerjap polos. Yuri merasa iri dengan bulu mata Jaejoong yang begitu alami itu dan tebal padahal dia seorang laki laki.
"Bantuan?" ulang Jaejoong. "Aku akan sangat senang jika berguna dan dapat membantumu Bibi."
"Ya. Hanya kau satu satunya orang yang bisa membantuku dalam masalah ini, Jongie." Kepala Jaejoong di miringkan sedemikian rupa. Senang dengan panggilan akrap itu. Doe miliknya menatap bibi Yuri menunggu wanita itu mengucapkan sesuatu yang bahkan tidak juga segera wanita itu ucapkan untuk waktu beberapa menit kedepan.
Akhirnya bibi Yuri berujar. "Kau harus membantu Yunho." Nama itu membuat denyut nadi dalam tubuh Jaejoong berdetak cepat, darahnya berdesir. Bantuan seperti apa tepatnya yang pria itu inginkan darinya?
Melihat wajah pemuda itu menatapnya penuh minat membuat rasa bersalah Yuri bangkit. Ia sudah memikirkan ini sepanjang siang, kebohongan ini akan indah pada waktunya nanti bagi mereka berdua jika rencana yang ia rangkai ini berhasil membuat Jaejoong menerima tawaran yang akan ia ajukan.
"Yunho dia... dia... " Yuri memberi jeda. Memasang mimik wajah teraniaya yang membuat Jaejoong gelisah di tempat duduknya. "Yunho butuh bantuanmu Jaejoong."
Benar saja. Wajah cemas Jaejoong terlihat semakin pucat mendengar kata kata yang ia tekan sedemikian rupa. "Katakan padaku bibi, apa yang terjadi kepada Yunho? Aku akan berusaha membantunya sebisaku. Bahkan dengan nyawaku sendiri jika perlu." Bagus. Karena itulah yang di inginkan Yuri.
"Kau harapan satu satunya yang aku milikki Jongie, atau Yunho akan mati jika kau tidak mau menikah dengannya." Wanita itu mengusap air mata di ujung matanya, air mata buaya yang sesungguhnya tidak ada di sana untuk membuat scenario ini terlihat lebih meyakinkan.
Doe Jaejoong membelalak lebar mendengar apa yang di ucapkan oleh bibi Yuri. "Meninggal, bagaimana mungkin?" ujar Jaejoong tak percaya.
"Tidak! Yunho tidak boleh meninggal." Jawaban itu cukup membuat Yuri bersorak dalam hati karena secara mutlak Jaejoong telah bersedia membantunya dan ia telah memenangkan permainan ini.
"Menikahlah dengan Yunho."
Dari para biadadir surga. Dari semua bantuan yang mulai mengantri di kepala Jaejoong, bantuan yang di sebut Yuri tidak ada dalam daftar itu.
Sungguh konyol, kenapa juga Yunho harus menikah denganya. "Kenapa harus Jongie?" ia mengungkapkan kata hatinya. "Bukankah banyak wanita yang menyukai Yunho." Jaejoong ingat puluhan pasang mata gadis dan wanita yang menatap Yunho terpesona ketika mereka menyantap makan siang tadi.
"Karena hanya kau yang di sukai oleh keponakanku."
"Yunho? Menyukaiku." ujar Jaejoong tak percaya. Kembang api itu lagi lagi meletup indah mengetahui Yunho menyukainya. Benarkah?
Kebahagiaan yang Jaejoong rasakan saat ini membuat dadanya sesak. Ia takut berharap. Ia juga takut berhayal terlalu tingi tentang semua ini. Bagaimana jika ini adalah mimpi dan mendapati dirinya terbangun di rumah pondok di tengah hutan dalam kesendirian dan kedinginan.
Ia meragukan Yunho menyukainya ketika pria itu juga tersenyum pada para gadis yang terang terangan menggoda dan mengajaknya mengobrol siang tadi, bahkan pria itu menawarkan dansa untuk mereka nanti malam. Hal itu entah mengapa membuat Jaejoong merasa iri, ia juga ingin hadir di sana tapi ia juga takut untuk muncul di hadapan publik.
Bagaimana jika ada warga sebelah yang datang ke pesta lalu mengenalinya, bagaimana jika ada orang yang menjelek jelekan dirinya di depan umum. Sungguh, ia tidak ingin membuat nama Yunho buruk di mata umum dengan munculnya ia di pesta, bisik bisik tentang Yunho menampung seorang anak haram dan anak pembunuh di rumahnya akan membuat nama baik pria itu tercemar dalam hitungan hari dan ia tidak ingin itu terjadi.
"Karena hanya kau yang di sukai oleh keponakanku." ujar bibi Yuri. Mengambil kembali perhatian Jaejoong yang sempat teralihkan.
Jaejoong kembali teringat akan apa yang barusan wanita itu ungkapkan. "Dan kenapa Yunho dapat meninggal jika tidak menikah?"
Dengan sangat lancar bibi Yuri menambahkan. "Yunho akan meninggal di usia tiga puluh tahun jika tidak memiliki keturunan. Itu sudah menjadi tradisi turun temurun keluarga Jung, mereka para pria di wajibkan menikah sebelum umur dua puluh delapan dan memiliki keturunan di usia tiga puluh tahun. Dengan begitu kutukan itu akan lenyap dan Yunho tidak akan meninggal jika menikah. Kau tahu, Yunho sudah berusia dua puluh delapan dan ia belum juga ingin menikah."
Jaejoong terdiam memikirkan setiap kata yang di ucapkan bibi Yuri. ya Tuhan, malangnya nasib Yunho. Jaejoong tidak akan membiarkan Yunho meninggal di usianya yang begitu muda. dan Jaejoong tidak ingin kehilangan orang yang ia sayangi, tidak lagi.
Apakah ia menyayangi Yunho dalam arti biasa atau sayang dalam arti lain, karena rasa sayang ini lebih mendominan dengan rasa sayang ia rasakan kepada saudara kembarnya. Ini berbeda. Ia sangat menyukai Yunho, tapi Jaejoong tidak berani menyebut ini cinta. Ia paham apa itu cinta. Ibunya pernah mengatakan bahwa Heechul mencintai ayahnya dan itulah sebab mereka menikah lalu melahirkan Jaejoong dan Youngwoon.
Dan apakah ia dapat memberi Yunho keturunan jika tidak ada cinta di antara keduanya. Rasa sayang tidak akan cukup untuk membina rumah tangga, dan ia paham akan hal itu. Namun, Jaejoong akan berusaha mencintai Yunho untuk mencegah pria itu meninggal jika di perlukan.
"Beritahu aku Bibi, apa yang harus aku lakukan?" Air mata yang dilihat Jaejoong tadi tidak membekas di mata sayu wanita itu, namun ia megabaikan perasaan aneh itu dan menatap bibi Yuri penuh harap. "Aku akan melakukan apapun untuk mencegah kutukan itu mengambil Yunho dari kita, apapun, bahkan jika harus mengorbankan nyawaku sendiri."
"Apa kau menyukainya?" Bibi Yuri bertanya.
Jaejoong ragu sejenak, lalu menganggu pasti. Ia tidak berbohong tentang meyukai Yunho. Pria itu begitu mudah untuk di sukai dan ia yakin akan menyukai Yunho bahkan akan berusaha untuk mencintai pria itu demi menyelamatkan pria itu dari kutukan. "Aku menyukainya. Yunho begitu tampan, bagaimana ada orang yang tidak menyukainya."
Semburat merah muda di pipi Jaejoong tidak mampu membohongi Yuri jika pemuda itu memang menyukai keponakannya. Yuri ingat, Yunho juga mengatakan hal yang sama kemarin saat ia bertanya apakah keponakannya itu menyukai Jaejoong. Sungguh pasangan yang manis bukan.
Mengabaikan rasa bersalah karena membohongi Jaejoong, Yuri berkata. "Cukup kau menikah dengannya dan berusaha mendapatkan keturunan sebelum Yunho berusia tiga puluh tahun, kau sudah sangat membantu."
Jaejoong ragu, gigi mungil pemuda itu mengingit bibir bawahnya. "Tapi, apakah Yunho mau menikah denganku? Dan bagaimana jika ternyata aku tidak bisa hamil?"
"Aku yakin kau bisa." ujar bibi Yuri meyakinkan. "Itu juga alasannya kenapa aku memintamu datang menemuiku, Yunho menyukaimu, hanya saja pria itu takut membawamu ke dalam kutukan keluarga Jung."
"Aku tidak takut dengan kutukan itu."
"Bagus. Meski aku tidak meragukan itu, namun keponakanku tidak mudah di bujuk untuk menikah."
Yuri menghela napas, meki ia berbohong tapi Yuri tidak memiliki pilihan untuk segera mendapatkan cucu dan menyadarkan keponakannya itu tentang kutukan yang tidak pernah ada di keluarga Jung. Ironisnya ia menggunakan kutukan lain yang tidak nyata untuk membujuk Jaejoong agar bersedia merayu keponaknnya itu. "Aku akan mengajarimu bagaimana cara membujuk dan merayu Yunho."
Doe Jaejoomg mendelik tak percaya. "Bibi akan mengajariku? Maksudku akan membantuku atau membantu Yunho?"
"Membantu kalian berdua, Yunho terlalu menyukaimu sampai tidak berani mengambil risiko dengan menarikmu ke dalam belengu kutukan, tapi cukup dengan kalian menikah dan punya keturunan, kutukan itu akan hilang dengan sendirinya."
"Dan bagaimana caranya agar Yunho mau menerimaku, bagaimana caranya agak kita meyakinkan Yunho bahwa aku tidak takut dengan kutukan keluarga Jung?"
"Dengan kau tidak mengungkit pertemuan kita ini."
"Kenapa?"
"Karena jika Yunho tahu kau bersedia menikah dengannya demi menyelamatkan nyawanya, Yunho akan berpikir kau tidak tulus menyayanginya."
"Tapi aku sangat, sangat tulus menyanginya," Jaejoong berdeham untuk menstabilkan suaranya yang semakin serak. "sudah sangat lama sejak ada seseorang yang rela berkorban demi aku seperti yang Yunho lakukan."
"Nah di situ permasalahan kita. Yunho akan merasa kau hanya kasihan dengan menikahinya , kau harus menunjukkan rasa cintamu seketara mungkin dan buat dia menyukaimu, aku akan membujuknya untuk segera melamarmu segera, dengan begitu kalian bisa segera menikah dan mendapatkan keturunan sebelum dia berusia tiga puluh tahun."
Jaejoong ragu, ia takut Yunho tidak menyukai ide ini dan menolak bantuannya, ia juga tidak yakin akan mampu hamil seperti ibunya dan bahagimana jika ia tidak bisa memberi Yunho keturunan setelahnya?
Tidak! Ia tidak ingin Yunho meninggal, Jaejoong akan berusaha mendapatkan keturunan demi Yunho. Ya putusnya. "Beritahu aku caranya, sekarang, semakin cepat semakin baik."
Yuri tersedak teh yang baru akan di nikmatinya mendengar nada terburu buru dari suara Jaejoong. Pemuda itu begitu polos sampai tidak menyadari siasat licik yang di mainkan oleh Yuri. Wanita itu mendesah entah karena lega atau khawatir. "Baiklah, pertama tama kita harus mencari pakaian untukmu untuk hadir di pesta nanti malam."
"Oh, bolehkan aku tidak hadir?"
"Tidak! Di sanalah kau mulai melancarkan godaan pertamamu. Aku sudah memanggil salah satu disainer butik ternama di kota ini untuk datang dengan koleksinya yang terbaik. Kau akan memili pakaian baru satu jam lagi."
.
。。* 。。
.
"Dari mana saja kau, aku mencarimu?" suara Yunho membuat Jaejoong berjenggit karena terkejut mendengar suara pria itu yang keras. Bahkan ia belum sepenuhnya membuka pintu saat mendapat suara Yunho yang sudah menunggunya di kamar yang akan ia tempati.
Pria itu berdiri dengan wajah marah di balik pintu kamarnya, kamar baru yang Jaejoong minta karena tidak mungkin ia akan tidur di kamar pria itu lagi , bukan.
Yunho tidak mengijinkan Jaejoong kembali ke kamar lamanya di lantai belakang bersama pelayan karena pria itu tidak ingin melepaskan pandangan dari Jaejoong. Dan di sinilah Jaejoong, mendapati kamar baru di seberang kamar Yunho yang lebih kecil dari kamar pria itu.
Yunho menyingkir untuk membiarkan Jaejoong melangkah masuk ke dalam kamar. "Apa yang Bibi bicarakan denganmu?" Yunho
mengekor Jaejoong masuk ke dalam, pemuda itu duduk di sisi ranjang dan Yunho berdiri di hadapannya, berkacak pinggang
"Bibi memintaku untuk menghadiri pesta nanti malam, beliau
Memintaku untuk mencoba pakaian yang akan aku kenakan nanti malam."
"Dan apakah kau menerimanya, kau akan datang?" Yunho menunggu dengan antusias jawaban Jaejoong. Entah sadar atau tidak ia juga menahan napas.
Jaejoong menganguk, poni di kening pemuda itu menjumpai kedepan dan Yunho mengulurkan tangan menyibak rambut pemuda itu ringan, "Bagus! Karena aku akan menanti kedatanganmu di sana." jemari Yunho terasa hangat di kulit Jaejoong yang lembut. Jaejoong menelan ludah susah payah mengingat apa saja yang sudah di katakan bibi Yuri tentang cara cara untuk menggoda Yunho.
Ia merasa wajahnya menghangat, membayangkan apa saja yang sudah ia pelajari. Jaejoong tidak yakin ia mampu menjadi agresif seperti yang bibi Yuri inginkan.
"Terima kasih untuk semuanya Yunho." Jaejoong berbisik untuk menghilangkan bayangan apa saja yang telah ia dengar dari bibi Yuri.
Sudah cukup untuk hari ini, ia lelah dan ingin beristirahat untuk pesta nanti malam, ia juga terlalu banyak berkata hari ini sampai tenggorokannya begitu kering dan menyakitkan. Ia sudah meminum air madu yang pelayan dapur berikan sebagai ramuan rahasia keluarga untuk obat agar suara Jaejoong kembali jernih.
Yunho berniat menarik tangannya namun Jaejoong mencegah pria itu mundur. Alis yunho mengeryit dan menunduk untuk menatap bola mata Jaejoong yang gugup, kedua pipi tirus pemuda itu memerah sampai Yunho merasa takut jika Jaejoong demam. "Ada apa?"
Jaejoong menggeleng, ia menutup mata untuk mengumpulkan keberanian dan bertindak sedikit agresif. Ya Tuhan, jantungnya sudah berdebar tak karuan membayangkan hal hal apa saja yang di namakan agresif padahal ia belum melakukan satupun apa yang bibi Yuri ingin ia lakukan agar bisa memikat Yunho sampai bersedia melamarnya
"Baiklah," Yunho menarik diri, berdiri tegak dan menatap sekeliling. "aku harap kau suka kamar barumu, tunggu sampai pesta usai dan kau bisa menghias kamarmu sesuka hati, aku harus pergi." Jaejoong membiarkan jemari Yunho lepas dari genggaman tangannya, pria sudah berbalik saat Jaejoong berdiri dan mulai gelisah memikirkan dari mana ia hatus mulai menggoda Yunho. Semoga Tuhan menolongnya
.
.
.
.
Pesta sudah mulai sejak satu jam lalu, aula lantai dasar sudah di penuhi para tamu baik dari desa atau luar desa. Bahkan Jaejoong mengenali beberapa tamu dari estat tetangga yang dulu pernah menjadi tetagganya.
Pesta perkenalan untuk pewaris Jung ini memang di adakan besar besaran meski acara ini di adakan secara mendadak. Dari sisi tangga lantai dasar Jaejoong mengamati puluh pelayan dengan nampan di tangan berjalan kesana kemari membawa nampah penuh minuman.
Dasi di leher terasa mencekik Jaejoong, dengan gelisah ia menarik ujung dasi kupu kupu yang di sematkan di leher oleh salah satu penata rias bibi Yuri. Demi Tuhan, haruskan ia memakai dasi untuk dapat menghadiri pesta dan jika iya maka ia lebih memilih untuk tidur di kamar dari pada berdiri di pesta menjadi bahan tontonan seperti salah satu patung lilin madam Thousand.
Hadir di pesta bukanlah idenya, Jaejoong tidak yakin ini adalah keputusan bijak. Bagimana jika salah satu teman lamanya itu mengenalinya? Bagaimana jika ada orang lain yang mengenalinya? Pertanyaan itu mengantung di udara memaksa kaki pemuda itu berhenti di ujung tangga.
Lima tahun tidaklah membawa banyak perubahan bagi Jaejoong, tidak juga pikiran warga estat tetangga. Jika ia dapat mengenali mereka serta pemuda yang berdiri dengan jarak lima meter darinya itu dapat di pastikan mereka juga dapat mengenali Jaejoong. Ia tidak menghawatirkan salah satu dari pemuda itu yang mengenalinya tapi bagaimana jika mereka yang membenci keluarganya lah yang mengenali Jaejoong terlebih dulu dam menyebarkan kehadirannya di pesta ini.
Ya Tuhan. Memikirkan konsekuensi yang akan di terima oleh Yunho membuatnya bimbang. Keluarga Jung akan di cerca mati matian karena mengundang orang seperti dirinya. Tidak! Jaejoong tidak ingin memperburuk pendapat serta pandangan warga atas kepemimpinan Yunho hanya karena dirinya. Jadi kabur sebelum muncul adalah pilihan yang bijak.
"Kau kah itu Jongie?" suara seseorang terdengar dari belakang Jaejoong. Ia menutup mata dan mengutuk dirinya karena terlalu lamban untuk bisa melarikan diri.
"Yah Kim Jaejoong."
Sesorang itu berdiri di sisi kiri Jaejoongengamati. Jaejoong hanya bisa memasrahkan diri saat pemuda itu memutar tubuhnya untuk saling berhadapan. "Ya Tuhan, ini kau. Kim Jaejoong." pria itu memeluk Jaejoong layaknya kawan lama yang sudah lama tak saling jumpa. Karena memang itulah hubungan mereka selama ini, teman. Setidaknya sebelum ia dan keluarganya di usir.
"Lee Joon."
"Ya ini aku. Aku Lee Joon teman baikmu." Pemuda yang tidak jauh lebih tua dari Jaejoong itu terdiam. "Astaga senang melihatmu lagi." pemuda itu berniat memanggil teman lainnya yang berdiri tidak jauh di seberang sana, asyik bercanda satu sama lain.
Tangan Jaejoong membekap mulut pemuda itu dan menyeretnya menjauh dari sana. "Ikut aku." jemari pemuda itu mencoba menarik tangan Jaejoong mencoba melepaskan diri. "Aku akan melepaskanmu tapi diamlah, ku mohon." Mendapat tanggapan dari Lee Joon, iapun menarik diri.
Lee Joon mengamati Jaejoong dari atas sampai bawah penuh selidik. "Yah, ke mana saja kau. Aku dengar ibu dan kakakmu meninggal dan kau di usir dari desa?" Sangat khas seorang Lee Joon yang Jaejoong kenal, bicara blak blakan seenak jidatnya tanpa melihat stuasi dan kondisi. "aku dengar kau di usir dari desa dan di mana kau tinggal sekarang?" pemuda itu terlihat memikirkan sesuatu, wajahnya berubah ngeri dan berkata. "Tunggu, bukankah kau bisu? Atau itulah yang di katakan yang lainnya."
Jaejoong tidak bisa menyalahkan pemuda itu karena tidak tahu apa yang dia dan keluarganya alami. Lee Joon melanjutkan pendidikannya di Seoul satu tahun sebelum ia di usir.
"Ceritanya panjang." ujar Jaejong lirih
"Dan aku tidak punya waktu untuk itu. Aku melihat gadis di sekitar sini yang manis dan... " ucapan pemuda itu terpotong oleh suara pemuda lain yang Jaejoong kira tahu milik siapa "Yah Hyun Joong, Dong Wook lihat siapa yang aku temukan di sini." Pemuda itu memutar Jaejoong dengan paksa menghadap kearah lain, "Kim Jaejoong. Teman kita, kalian ingat?"
Jaejoong tidak berani mengangkat wajah untuk menatap mereka, ia tidak siap melihat mereka memandangnya dengan tatapan mengasihani ataupun jijik. Tapi keterdiaman mereka membuatnya penasaran dan ia mengangkat pandangan.
Tiga anak muda yang berdiri di hadapannya sangat ia kenali. Sahabatnya, atau setidaknya itulah dulu ia menganggap mereka semua.
"Hai."
"Kau bisa bicara?" Hyun Jong menyentuh wajah Jaejoong untuk memastikan bahwa pemuda yang berdiri di hadapannya itu adalah Kim Jaejoong yang mereka kenal. "Dan ke mana saja kau selama ini?"
Yonghwa memeluk Jaejoong erat, begitu kuga yang lainnya sambil berbisik mengucapkan selamat datang dan di susul kata kata lain yang membuatnya merasa terharu. Jaejoong mengira ia sendirian di dunia ini, tanpa teman dan tanpa dukungan, tetapi ia salah karena mereka semua masihlah menganggapnya sahabat.
"Ayahku mengurungku di kamar saat mengetahui bahwa Seung Hyun mengusirmu dari desa setelah ibu dan kakakmu meninggal. Kami ikut menyesal." Lee Dong Wook, pria yang dua tahun lebih tua dari Jaejoong menjelaskan.
"Orang tua kami takut kami akan memihakmu dan itulah tujuan kami andai ayah ibuku tidak melarang kami maju untuk membelamu. Mereka mengancam akan mengusir kami jika berani membela atau menyelamatkanmu." sahut Yonghwa.
"Ayahmu benar! Kalian akan di usir dari desa jika kalian membelaku. Dan aku tidak mau membuat keluarga kalian kehilangan putra mereka hanya karena aku."
"Kau tahu kami bisa menyembunyikanmu."
"Dan aku bersembunyi dengan baik sampai Mr. Jung menemukanku."
"Jung Yunho?" Hyunjoong menyahut. "Tuan muda baru pemilik kastil mewah ini?"
Jaejoong mengangguk dan tersenyum. Senyum yang untuk pertama kalinya ia tunjukan malam ini. "Ceritakan padaku." Yonghwa meminta. "bagaimana kau bisa berada di sini dan apakah Mr. Jung muda itu tahu masa lalumu?"
Pandangan Jaejoong menatap Yunho yang berdiri di seberang lain aula bersama bibi Yuri yang berbincang bersama tamu mereka. Bibir Jaejoong tertarik ke atas dan tanpa ia sadari ia meceritakan semuanya kepada teman teman lamanya itu. Ia tidak takut pada apapun jika Yunho di sisinya, pria itu memberikan perlindungan serta janji untuk menjaganya, terlebih bibi Yuri juga ingin ia menggoda keponakannya.
Bahkan tanpa sadar ia menceritakan apa yang telah ia dan bibi Yuri bicarakan sore ini. "Jadi kau berniat menggoda tuan muda baik hati itu?"
"Aku tidak tahu dan aku tidak bisa." Jaejoong memang sudah memikirkan ini dan ia benar benar tidak sanggup berubah menjadi agresif.
"Kenapa," keempat pemuda di sisinya berkata bersamaan.
"Aku tidak tahu caranya dan takut Yunho tidak menyukaiku."
Lee Joon mendengus. "Setelah apa yang Tuan muda tampan itu lakukan untukmu. Aku yakinkan kau bahwa Tuan muda Jung juga menyukaimu."
"Aku akan membantumu." Hyunjoong maju untuk menggamit lengan Jaejoong. "Yang perlu kau lakukan adalah terus menatapku tidak peduli ada kebakatan atau ada presiden di sekeliling kita untuk waktu sepuluh menit ke depan."
Jemari Hyunjoong mengusap kerutan pada kening Jaejoong. "Oh tenanglah, itu hanya perumpamaan Jongie."
Desahan lega membuat Yonghwa tertawa. "Aku akan meninggalkan kalian agar ini lebih terlihat meyakinkan." pemuda itu berlalu sambil menyeret Lee Joon yang tidak ingin meninggalkan mereka dan Dong Wook di kedua sisi.
"Aku masih ingin berbincang dengan Jaejoong."
"Tidak sekarang, bodoh."
"Aku tidak bodoh."
"Aku tahu. Tapi biarkan Hyunjoong membantu Jaejoong menebar umpan terlebih dahulu, setelahnya kau memiliki banyak waktu untuk berbincang dengan Jaejoong."
Di seberang ruangan, bibi Yuri sibuk membujuk Yunho yang mendengarkan dengan malas ucapannya saat musang Yunho menemukan Jaejoong bersama seorang pemuda di sisi kiri tangga. "Kau harus memilihkan suami untuk Jaejoong, dia butuh perlindungan. Tidak mungkin kau akan menjaganya seumur hidupmu bukan?"
Yunho menegug habis minumanya dalam sekali teguk tanpa mengalihkan pandangan dari Jaejoong dan pria muda yang mengukung Jaejoong di antara tubuhnya dan dinding. Gelenyar panas memenuhi rongga dada entah karena minuman yang ia minum atau apa yang ia lihat di sana.
"Siapa pria muda itu?" Yunho tidak perlu menduga siapa yang bibinya maksud karena sepertinya bibi Yuri juga menatap kearah yang sama dengannya. Dengan marah ia menarik lengan pelayan yang lewat di hadapannya dan menaruh gelas kosong sedikit lebih kasar. "Kenapa tidak bisa?"
Yuri menatap keponakannya dengan alis berkerut tidak paham." Apa?"
"Aku bisa menjaga Jaejoong seumur hidupku jika aku mau." Kata itu di ucapkan Yunho dengan nada penuh keyakinan. Pria itu beralih menatap ke sebarang ruangan. "Siapapun dia aku akan segera mencari tahu."
Yuri masih tidak begitu paham sampai melihat keponakannya itu berjalan menyeberangi aula dengan langkah lebar menuju ketempat di mana Jaejoong dan pria muda lain yang tidak ia kenal berada. Untuk pertama kali dalam seumur hidup ia melihat wajah cemburu ada pada keponakan yang tidak ingin menikah itu.
Baiklah. Yuri tersenyum bangga. Meskipun ini jauh dari skenario yang ia dan Jaejoong mainkan tapi tidak ada salahnya membuat pria bodoh itu mengetahui perasaannya sendiri lebih cepat.
Dan sepertinya ia harus menyiapkan pesta lain segera, yaitu pesta pernikahan. Oh ia sudah tidak sabar meninggalkan tempat ini setelah Yunho menikah dan ada seseorang yang akan menjaganya karena sungguh, Yuri membenci kastil ini sebesar ia membenci ayah dan ibu Yunho.
-TBC-
Typo bertebaran EYD tidak jelas. Semoga hasilnya tidak mengecewakan.
Terima kasih untuk yang sudah memberikan dukungan masukan dan juga vote. Aku sangat senang ada yg menyukai ff abalku ini. Baca juga ff sherry lainnya.
