Title : Say You Love Me

Author : Sherry Kim
Cast : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Other

Genre : Romance, Drama, Family, Sad, HQ, etc...

Rate : M
WARNING
Yaoi. Tidak suka jangan baca.
Alur tidak jelas typo bertebaran.

.. * ..

Yjskpresent.

.

.

"Jangan melihatnya jika kau ingin mendapatkan perhatiannya." telapak tangan Hyunjoong menahan wajah Jaejoong agar tidak menoleh kearah di mana Yunho berada, ia tahu, pria itu sedang menerobos kerumunan aula menuju kearah mereka.

"Haruskah?" ia bertanya ragu.

"Lima menit, teruslah menatapku selama itu. Setelahnya aku jamin dia akan menyatakan cinta padamu." Ibu jari Hyunjoong mengusap sisi wajah Jaejoong. Pria itu menekan tangan kirinya di tiang marmer tepat di belakang Jaejoong. Pemandangan yang indah untuk membuat seseorang terbakar api cemburu.

"Tersenyumlah Jongie, kau akan mendapatkan tangkapanmu segera."

"Bagaimana aku bisa tersenyum ketika kau berdiri begitu dekat denganku. Mundur lah sedikit."

"Dan membiarkan Tuan muda tampanmu itu bernapas lega, tidak akan!" Hyunjoong menyerigai sebelum menunduk untuk berbisik, menghalangi wajah Jaejoong untuk dapat melihat kehadiran Yunho yang sudah berdiri beberapa langkah dari mereka. "Tersenyumlah." bisiknya.

Senyum paksa di bibir Jaejoong membuat Hyunjoong memutar bola mata jengah. "Aku lebih suka tidak melihatmu tersenyum."

Wajah polos yang di tunjukan Jaejoong membuat pria muda itu menghela napas, lagi. "Empat menit lagi."

Jaejoong menyadari kehadiran Yunho di sisinya. Indra dalam tubuhnya tahu keberadaan pria itu mendahului kedua matanya dan ia melihat sekelebat bayangan berhenti di sisinya. Jaejoong tidak berani menoleh untuk memastikan karena ia telah berjanji. Terlebih ia akan menahan diri jika empat menit setelah ini akan membuat Yunho menyukainya.

"Kau tidak ingin mengenalkan temanmu kepadaku Jongie?"

Yunho marah. Jaejoong tahu hanya dengan mendengar nada suara pria itu. Tapi kenapa? Hyunjoong mengatakan Yunho akan menyatakan cinta setelah empat menit setelahnya, tapi... "Dia... " Hyunjoong menahan wajah Jaejoong saat pemuda itu berniat menoleh ke arah Yunho.

"Nanti." ujar Hyunjoong dengan nada rendah tanpa mengalihkan perhatiannya dari Jaejoong. "Saat ini kita sedang sibuk melepas rindu karena sudah sekian tahun tak bertemu."

Rahang Yunho mengeras mendengar apa yang di katakan pria itu. Jemarinya mengepal di kedua sisi tubuh dengan pandangan menatap tajam Jaejoong yang bahkan tidak juga meliriknya. "Kim Jaejoong, tatap aku ketika aku sedang bicara denganmu."

Hyunjoong kembali berkata. "Mr. Jung, maafkan kelancanganku. Tapi bolehkah Anda memberi waktu kami beberapa menit lagi untuk mengobrol. Sudah sangat lama sejak... Ah... "

"Tidak sedetik pun." Amarah menguasai Yunho. Demi seluruh manusia di bumi ia tidak akan membiarkan seorang pun berani menyenguh Kim Jaejoong, bahkan tidak juga pria yang Jaejoong kenal ini. "Jauhkan tanganmu darinya." cengraman tangan Yunho pada tangan Hyunjoong tidak juga membuat amarahnya mereda. Ia membalik jari pria itu sampai hampir menyentuh pungung tangannya.

"Yunho kau akan mematahkan jari Hyunjoong." Jaejoong menarik tangan kedua pria yang bertautan di depannya, mencoba melepaskan genggaman Yunho dari jari Hyunjoong. "Yunho." jika rintihan Hyunjoong tidak mampu menarik perhatian orang orang di sekeliling mereka, maka teriakan serak serta lantang Jaejoong mampu melakukan itu.

Siapapun orang yang berada di sekeliling mereka menatap tiga pria yang berdiri kaku itu dengan penasaran. Bisik bisik mulai terdengar di antara alunan musik yang di mainkan musisi ternama.

"Jika kau tidak segera melepaskan tanganmu aku akan mengigit tanganmu."

Tatapan Yunho beralih menatap Jaejoong. Apakah Jaejoong sedang mengancam? Mengancam akan mengigitnya? Ya Tuhan. Ini terdengar konyol.

"Baiklah." mengabaikan sekeliling, Yunho melepaskan tangan Hyunjoong hanya untuk mendorong pria itu ke dinding. Menempatkan tubuh pria muda yang tidak lebih tinggi dari tubuhnya itu di antara dirinya dan dinding pilar. "Jauhkan tanganmu dari Jaejoong, jika tidak aku yakinkan kau tidak akan memiliki jari besok pagi."

Menarik diri, Yunho merapikan jas yang pria itu kenakan dengan santai seakan barusan tidak terjadi apapun di antara mereka. Jaejoong menyadari Yunho begitu tampan dengan balutan jas hitam serta kemeja mahal yang pria itu kenakan.

Kepada Jaejoong, Yunho berkata tegas. "Kau ikut denganku."

"Tapi... " penolakan serta tatapan yang Jaejoong arahkan kepada Hyunjoong hanya membuat amarah dalam diri Yunho semakin membara. Berani beraninya Jaejoong menolak apa yang ia inginkan demi pria bodoh seperti Hyunjoong.

"Tidak ada tapi jika kau tidak ingin aku melempar temanmu keluar dsri sini." Ancaman itu cukup membuat bibir Jaejoong mencebil tidak suka dengan Yunho, namun ia tak juga berani melanggar. Jadi, ia membiarkan dirinya di seret oleh Yunho menjauh dari Hyunjoong yang masih merintih kesakitan di sana.

Jaejoong bersyukur Lee Joon dan yang lain segera datang menghampiri pria itu dan melambai kearah Jaejoong dengan senyum lebar di bibir mereka. Jaejoong tidak melihat teman temannya itu bersorak bahagia setelahnya ketika pilar besar di sisi tangga menghalangi pandangan.

Seluruh ruangan nyaris terisi tamu tamu pesta baik yang hanya sekedar mengobrol atau sedikit minum di ruangan lain. Jaejoong membiarkan dirinya di seret oleh Yunho melalui pintu demi pintu yang terutup maupun terbuka.

Di balik pintu sebelumnya yang Yunho buka mereka menemukan pasangan muda mudi yang sedang berciuman panas. Wajah Jaejoong merona melihatnya. Tidak ada kata minta maaf dari Yunho selain menutup pintu itu kembali dengan bantingan keras.

Jaejoong menghawatirkan pintu indah itu jika angselnya rusak. "Yunho, kau mau membawaku ke mana?"

Yunho tidak menjawab melainkan terus berjalan cepat melewati lorong serta puluhan pintu lain sambil menyeret oemuda malang itu. Jaejoong mengenali ruangan yang baru saja ia lewati sebelum Yunho berhenti di salah satu pintu besar yang ia ketahui milik siapa. Ruang kerja pribadi Yunho.

Pintu tertutup di susul bunyi kunci pintu berputar di belakang mereka. Yunho mendelik galak kearah Jaejoong yang hanya menatapnya dengan mata polos yang membuat sebagian amarahnya mereda. Menghela napas lelah, ia mengumpat lirih. Inilah kelemahannya jika berhadapan dengan Jaejoong.

"Duduklah." Jaejoong tidak memerlukan perintah kedua karena sungguh, ia tidak ingin membuat Yunho kembali marah. Pria itu terlihat mengerikan dengan wajah merah dan musang yang mendelik ke arahnya meskipun tak segalak sesaat lalu.

Jaejoong menunduk karena takut. Hal itu membuat Yunho menyadari apa yang telah ia perbuat. Amarah meninggalkan rongga dadanya, tidak seharusnya ia membentak Jaejoong karena kesalahan pemuda itu. Yunho yakin Jaejoong takut serta bingung dengan apa yang terjadi di antara mereka. Pemuda itu terlalu polos untuk menyadari perasaan Yunho, ia juga tidak yakin Jaejoong paham arti kata cemburu.

Ya. Ia cemburu kepada mereka yang mendapatkan perhatian dari Jaejoong. Jaejoong adalah miliknya mutlak, orang lain tidak berhak mendapatkan senyuman apalagi pelukan Jaejoong.

Mencoba tetap tenang, Yunho duduk di meja pendek di hadapan Jaejoong. Pemuda itu beringsut menjauh, Yunho meraih tangan Jaejoong untuk menghentikan gerakan itu. Jaejoong memperhatikan tautan tangan mereka dalam diam, tangan Yunho begitu besar dan hangat melingkupi jari jarinya yang jauh lebih mungil.

"Aku tidak berniat membuatku takut, mungil. Melihatmu bersama mereka membuatku marah." pandangan Jaejoong menatap wajah Yunho yang berada tepat di hadapannya.

Yunho menarik tangan Jaejoong, mencium punggung tangan itu dengan sangat lembut. Rasa menggelitik menjalari indra Jaejoong merasakan bibir lembut pria itu pada kulit tangannya.

"Aku tidak suka kau begitu dekat dengan mereka."

"Tapi mereka temanku."

"Aku tidak tahu sebelumnya. Dan meskipun aku tahu mereka teman temanmu, hatiku juga akan terasa sakit melihatmu bersama pria lain." Doe Jaejoong yang mengerjap polos menandakan bahwa pemuda itu tidak memahami kata kata yang ia maksudkan.

Dengan suara lebih dalam Yunho menjelaskan. "Aku ingin kau tersenyum hanya untukku, hanya boleh memelukku dan aku tidak suka kau terlalu akrab dengan mereka melebihi keakraban kita berdua."

"Kenapa?" Degub jantung Jaejoong mulai menggila. Ia menunggu jawaban Yunho dengan keringat mulai membasahi tulang punggungnya meski cuaca tidak begitu panas.

"Entahlah."

Sorot mata kecewa yang di perlihatkan Jaejoong membuat Yunho mengulum senyum. "Mungkin... " ia berhenti berkata. Jaejoong mendongak, menatap Yunho dengan doe besar pemuda itu penasaran. "... karena aku menyukaimu. Aku cemburu"

"Yun..." tangan Yunho terulur untuk mengusap wajah Jaejoong ringan. Menghentikan suara pemuda kesayangannya itu. "Ya Jongie. Aku menyukaimu."

Keduanya bertatapan untuk beberapa lama. Tidak ada yang bersuara, namun mereka merasa inilah yang mereka inginkan. Rasa nyaman hanya berduaan saja tanpa melakukan apapun sudah cukup bagi mereka untuk merasakan secerca kebahagiaan.

"Aku hanya terkejut mendapati aku memiliki perasaan kepadamu," Jemari Yunho mengusap garis lembut pada bibi Jaejoong yang merekah. Sentuhan itu ringan sampai Jaejoong merinding karenanya. "Aku juga takut menarikmu ke dalam kutukan keluarga. Karena aku ingin kau bahagia." Menarik diri, Yunho bangkit lalu menjauhi pemuda itu. "Tapi aku juga tidak ingin melihat kau tersenyum untuk orang lain, aneh bukan."

"Apa kutukan itu benar?"

Yunho masih membelakangi Jaejoong. Ia hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh pemuda itu. "Mungkin saja aku akan mati muda dan aku tidak ingin meninggalkanmu sendirian."

.

。。* 。。

.

Jaejoong terdiam beberapa saat untuk mencerna apa saja yang di katakan pria itu. "Yun." Jaejoong bangkit, menghampiri pria itu tepat saat Yunho memutar tubuh kearahnya. Karena terkejut, Jaejoong berhenti mendadak dan menubruk tubuh pria itu. Dagu pria itu menghantam keningnya sampai menimbulkan denyutan nyeri di kepala.

Namun, sakit itu lenyap seketika saat ia merasakan lengan Yunho merengkuh pinggangnya, Jaejoong mendongak, keduanya menatap satu sama lain untuk beberapa saat sampai Yunho memecah keheningan. "Kau tidak apa apa?"

Pertanyaan konyol. Tentu saja Jaejoong tidak apa apa kecuali jantungnya yang berdebar tak karuan seakan akan melompat dari tempatnya.

"Aku tidak keberatan menemanimu sampai akhir." ia behasil berkata.
Jadi benar tentang kutukan yang di kagakan oleh bibi Yuri. Yunho bisa meninggal jika tidak segera menikah. Hanya saja Jaejoong tidak tahu kalau apa yang di pikirkan olehnya serta Yunho adalah kutukan yang berbeda.

Mencoba menarik diri, Jaejoong merasa cengkraman jari Yunho di sisi punggungnya mengerat, menyusuri tulang rusuknya dan kembali ke punggung. "Kau tidak makan dengan baik aku rasa," Yunho mencoba mengalihkan pembicaraan. Jaejoong menatap Yunho bingung dengan pertanyaan yang jauh dari inti pembicaraan yang mereka bahas tadi. "Kau begitu kurus."

Bibir Jaejoong mencebil, ia mencoba menarik diri namun lengan Yunho menekan punggungnya kearah pria itu, sedikit sapuan, jemari pria itu sampai ke sisi lain pinggan dan menarik tubuh Jaejoong untuk bersandar sepenuhnya ketubuh pria itu. "Yunho." napas Jaejoong berhembus hangat, memenuhi paru paru Yunho dengan aroma mint dan sesuatu yang manis menyegarkan.

"Ya." suara pria itu terdengar serak melebihi suara Jaejoong. Musang Yunho menatap bibir Jaejoong yang berada di antara gigi rapinya sebagai tanda bahwa Jaejoong gelisah.

"Terima kasih telah menghawatirkanku, tapi kau tak berhak menghawatirkanku ketika kau sendiri tidak ingin aku menghawatirkan dirimu." Jaejoong mengecup singkat sisi wajah Yunho, rona merah muda muncul di wajahnya semakin pekat, sapuan tubuh pemuda itu di tubuhnya ketika berjinjit hanya membuat Yunho menggeram dan menarik Jaejoong untuk lebih mendekat kearahnya.

Yunho mengumpat menyadari Jaejoong telah membangunkan sesuatu dalam dirinya hanya dengan sapuan lembut itu. Persetan tentang kutukan. Persetan tentang semua tamu yang memenuhi kastil dan persetan perasaanya sendiri yang gamang. "Kau tahu apa yang kau lakukan Jongie?" anggukan lemah pemuda itu membuat kesadaran Yunho menghilang. Ia menunduk untuk mempertemukan bibir mereka dalam ketenangan yang ia sendiri terkejut karena tidak langsung menyambar Jaejoong.

Doe Jaejoong terbelalak lebar mendapati benda lunak yang mencoba menyusup di antara sela sela bibirnya lembut. Percikan berbagai perasaan memenuhi perutnya, rasa panas menjalar ke seluruh indera dalam tubuh dan ia membuka diri, membiarkan Yunho menyelipkan lidahnya di antara giginya.

Bibi Yuri sudah menjelaskan ciuman sebelumnya sebagai cara untuk menjebak Yunho ke dalam pernikahan yang pria itu hindari. Namun ia tidak membayangkan akan seperti ini yang celakanya ia pun menikmati.

Tubuh Jaejoong mengang, ini adalah ciuman pertamanya, ia tidak menyangka akan se menakjupkan dan seindah ini. Lidah Yunho mengekspos mulut Jaejoong, mencium pemuda itu sedemikian rupa sampai ia yakin mampu menelan Jaejoong hidup hidup hanya dengan sebuah ciuman. Ciuman balasan penuh kepolosan pemuda itu hanya membuat gairah Yunho berkobar. Jaejoong begitu lembut dan manis sampai ia ingin menguasai Jaejoong detik itu juga.

Jaejoong menggeliat di dalam dekapan lengan Yunho yang kuat, pria itu melepaskan Jaejoong dengan tiba tiba sampai membuat Jaejoong terhuyung mundur.

Ini salah. Yunho mengambil langkah mundur dengan tubuh gemetar. Ya Tuhan, apa yang telah ia lakukan. Ia mengumpat pelan, memberi jarak pada keduanya. "Jangan." ia berseru, menghentikan Jaejoong yang berniat maju kearahnya.

Pemuda itu menunjukan wajah polos bak malaikat, dengan bibir merah bengkak akibat ciuman singkat penuh nafsu mereka. "Tidak... " Yunho tidak yakin ingin mendorong atau menarik Jaejoong saat pemuda itu melempar diri kearahnya.

Ya Tuhan. Ini salah, tidak seharusnya ia mencium Jaejoong dan menganggap ini tidak akan pernah terjadi besok pagi. Ia terlalu kalut dan di bakar cemburu melihat Jaejoong bersama pria lain. Jaejoong tidak pantas mendapat penghinaan ini dan Yunho tidak berniat memberikan janji atau pernikahan setelahnya karena merenggut kepolosan Jaejoong.

Makian kasar keluar dari bibir Yunho, persetan dengan kesopanan di saat Jaejoong kembali meraih tengkuknya dan memberikan ciuman ciuman penuh kepolosan yang membuat gairah Yunho kembali berkobar. Ia menekan diri kearah Jaejoong dan memperdalam ciuman mereka, mengabaikan jeritan hati tentang kesopanan, jika perlu ia akan menikahi Jaejoong demi mendapatkan pemuda itu.

Belum pernah sebelumnya Yunho menginginkan sesuatu sebesar ini. Keinginan untuk melindungi, membuat Jaejoong bahagia dan sekarang ia menginginkan pemuda itu seutuhnya. Menenggelamkan diri di tubuh Jaejoong dan menginginkan Jaejoong untuk dirinya sendiri.

Perasaan mendampa ini mengejutkan Yunho. Dilema itu kembali muncul. Ia tidak menginginkan sebuah ikatan jika harus membawa Jaejoong ke dalam penderitaan setelah ia pergi. Tapi apakah ia akan bahagia dengan melepas Jaejoong untuk menjalani kehidupan tanpanya.

Membayangkan Jaejoong hidup jauh darinya membuat dada Yunho seakan di pukul palu. Ia membenci perasaan ini, ia tidak ingin Jaejoong jauh darinya. Ia ingin melindungi, memberi dan membahagiakan Jaejoong selamanya.
Jika ia harus mati, maka ia akan mati dengan bahagia dan mewariskan semuanya kepada Jaejoong, menjamin kehidupan mada depan pemuda itu setelahnya.

Ya, Yunho memutuskan. Jaejoong akan bahagia dengan warisan yang ia berikan, dan ia yakin dengan pelajaran yang akan ia berikan kepada Jaejoong nantinya. Pemuda itu akan mengelola estat Jung dengan baik. Itu lebih baik ketimbang mewariskan tanahnya kepada negara atau kerabat jauh.

Geraman samar bergetar di tenggorokan kasar Jaejoong yang terluka, jemari Yunho membelai luka tersebut dan naik untuk menarik wajah Jaejoong dan menuntut ciuman itu lebih dalam. Ciuman itu bukanlah ciuman sopan lembut untuk ciuman yang Yunho yakini sebagai ciuman pertama Jaejoong.

Di lain pihak Jaejoong mengagumi pria itu, bagaimana bibir pria itu mampu membuat darah dalam nadi mendidih dan Yunho begitu ahli dalam berciuman sampai ia merasakan rasa nyeri di punggungnya saat Yunho menekan lukanya.
"Akhr... " Rintihan itu menyadarkan keduanya tentang luka di punggung Jaejoong, keduanya menarik diri di saat yang bersamaan. Mencoba menarik napas dalam, menebus kehilangannya napas yang sudah mereka lewatkan ketika mereka berciuman.

Yunho lah yang memecahkan keheningan. "Kau tidak apa apa? Maaf jika aku menyakitimu."

Jaejoong menggeleng atau itulah yang ia tahu ia lakukan. Ia tidak yakin Yunho melihatnya karena ia menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang terasa panas. Oh, ini gila. Bibi Yuri tidak menjelaskan tentang akibat berciuman yang mampu membuat akal serta kesadarannya menghilang.

Dengan kaki gemetar, Jaejoong berputar membelakangi Yunho. Ia terlalu malu menatap wajah pria itu setelah dengan bodohnya ia melempar diri kepadanya. Bagaimana jika Yunho marah dan menganggap dirinya terlalu agresif. Tunho membenci para wanita yang tetang terangan menggodanya tadi, dan sekarang Jaejoong dengan terang terangan melemparkan diri kepada pria itu.

Setelah ini, ia tidak akan terkejut jika Yunho membenci atau menghindarinya seperti Yunho menghindari para gadis seperti wabah penyakit. Memikirkan kebencian pria itu membuat perasaanya berubah drastis. "Keluar." ia berbisik serak.

"Jae... "

"Aku mohon, keluarlah. Maafkan apa yang telah aku lakukan tadi. Aku harap kau tidak menganggap itu sesuatu yang lebih selain ucapan terima kasih."

Musang Yunho mendelik. "Ucapan terima kasih." ia tidak mempercayai pendengarannya. Apa yang di katakan Jaejoong sungguh tidak masuk akal. "Untuk apa?"

"Karena kau telah bersedia menampungku beberapa hari ini."

Dengan marah Yunho menarik Jaejoong untuk berbalik. "Kau anggap apa aku ini?"

"Aku lelah Yun, pergilah." agar Jaejoong sendiri memiliki waktu untuk merenungkan apa yang ia rasakan ini. Perasaan ini begitu asing sampai ia pusing memikirkannya. Jaejoong kembali berbalik.

Yunho menatap punggung Jaejoong. Pria itu terlihat terpukul setelah apa yang mereka lakukan barusan, mungkin Jaejoong menyesali apa yang terjadi di antara mereka, atau Jaejoong menyesal telah melemparkan diri kearahnya seperti wanita nakal yang melemparkan diri kepada pengunjung pertamanya.

Ingin sekali Yunho menjelaskan apa yang terjadi di antara mereka bukanlah sesuatu hal yang aneh atau sesuatu hal yang perlu di sesali. Ia ingin menjelaskan arti ciuman mereka yang mungkin tidak di pahami Jaejoong.

Astaga, mungkin ini kali pertama Jaejoong di perlakukan seperti bagaimana Yunho menciumnya, mungkin juga pemuda itu terlalu terkejut dengan apa yang ia rasakan karena membalas ciuman Yunho barusan.

Menggela napas dalam, Yunho mencoba menahan diri untuk tidak tertawa karena kepolosan pemuda itu membuat Jaejoong sendiri bingung. Jika boleh jujur ia juga bingung dengan perasaanya sendiri karena untuk pertama kali ini ia memikirkan pernikahan. "Baiklah." akhirnya ia berkata. Jaejoong butuh waktu dan Yunho juga butuh waktu untuk memikirkan yang terbaik untuk keduanya.

"Tetaplah di sini sampai kau tenang dan memikirkan perasaanmu." Yunho berbalik menuju pintu. Ia berputar menatap Jaejoong yang masih betah memunggunginya dan berkata. "Tidak perlu memikirkan apa yang telah terjadi dan apa yang kita lakukan Jongie, karena ini bukan sesuatu yang salah." pria itu keluar dari ruangan. Meniggalkan pemuda itu dalam ruang kerja seorang diri.

Yunho harus menemui bibi Yuri dan meminta wanita itu untuk mengumumkan pertunangannya. Yunho tidak peduli jika Jaejoong menolak karena ia akan memenangkan hati Jaejoong setelahnya. Mengingat balasan atas ciuman yang ia berika kepada Jaejoong tadi, Yunho ragu Jaejoong membenci keputusannya untuk menikahi pemuda itu.

Di dalam ruang kerja, Jaejoong menyerigai meskipun tubuhnya masih gemetaran akibat ciuman mereka barusan. "Siapa juga yang berpikir ini salah." ia tersenyum lebar sebelum melempar diri sofa yang tak kalah lembut dari ranjang baru miliknya. Pemuda itu mendesah lelah dan senang. Meski ini jauh dari rencana yang ia dan bibi Yuri rancang, setidaknya Yunho sudah maju beberapa langkah dan kesempatan untuk Jaejoong menyelamatkan Yunho dari kutukan semakin besar.

Yunho yang malang. Pria tampan seperti Yunho sangat sayang kalau di abaikan, jadi tidak ada salahnya jika Jaejoong mengklaim pria itu sebagai miliknya, bukan.

.

-TBC-

Typo bertebaran. EYD tak beraturan.
Semoga hasilnya tidak mengecewakan.

Seperti biasa menerima kritik dan saran. Terima kasih untuk kalian yang meninggalkan jejak saran. Aku sangat menghargai itu.

Saya kurang actif di ffn jadi maaf kalau tidak bisa balas satu satu ripiu kalian, tapi saya baca semua dan terima kasih untu kalian yang sudah memberi tahu banyak kesalahan dalam ff ini. Ada pertanyaan bisa inbox, karena saya lebih on di wattpad.