Title : Say You Love Me
Author : Sherry Kim
Cast : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Other
Genre : Romance, Drama, Family, Sad, HQ, etc...
Rate : M
WARNING
Yaoi. Tidak suka jangan baca.
Alur tidak jelas typo bertebaran.
.. * ..
Yjskpresent.
.
.
Tidak mudah memang menemukan bibi Yuri di antara ratusan para tamu lain. Yunho sudah berkeliling selama sepuluh menit mencari ketika ia meliat bibinya sibuk berbincang besama beberapa tamu wanita yang ia yakini adalah kenalan bibinya.
Pria itu menghampiri bibinya dalam langkahnya yang panjang. "Bibi, kita harus bicara." Yunho mengangguk kepada para tamu memberi salam, mencoba memasang senyum sopan meskipun hatinya gundah gulana dan ingin segera menyeret bibinya untuk mendiskusikan masalah yang telah menghantuinya sejak beberapa saat lalu.
Wajah bibi Yuri berkerut khawatir melihat keponakannya. Yunho terlihat sedikit pucat dan ia paham hanya dengan melihat kerutan samar di kening keponakannya itu. "Ada sesuatu yang salah, sayang?" wanita itu menyambut uluran tangan Yunho untuk ia genggam erat.
"Aku ingin bicara padamu. Berdua." bisiknya. Yuri mengangguk, usai mengumamkan sesuatu kepada para tamu, Yunho membimbing bibinya menjauh. Tidak cukup jauh dari aula pesta namun masih dalam ruangan yang sama, di ujung ruangan yang tersedia sofa untuk mengistirahatkan diri.
Yunho membimbing bibinya duduk dengan ia duduk sisi sebelah wanita itu. "Aku ingin kau mengumumkan pertunanganku, Bibi."
Yuri menatap Yunho dengan terkejut, mata bulat wanita itu mengerjap tak percaya mendengar berita mendadak ini. Setelah sekian kali ia memaksa Yunho menikah yang ujung ujung di tolak oleh keponakannya itu, dan sekarang Yunho sendiri lah yang mengusulkan pertunangan ini.
Wajah melonggo bibinya cukup memberi tahu Yunho bahwa wanita itu sama terkejutnya dengan dirinya. Yunho memang tidak menduga ini akan terjadi sebelumnya, namun demi Jaejoong ia harus menikahi pemuda itu. Harus!
Yuri menggeleng lemah untuk menjernihkan pendengaran yang mungkin saja tersumbat sesuatu. Ia tidak salah dengar bukan? Tentang apa yang barusan keponakannya ini katakan. "Kau apa?" ujarnya tak percaya.
Yunho paham hal ini mengejutkan bibinya karena ia membahas pertunangan ini begitu mendadak. Tapi ia tidak ingin mengulur waktu lebih lama dan sekarang lah waktu yang tepat untuk mengumumkan pertunangan ini. "Aku ingin Bibi mengumumkan pertunanganku dengan Jaejoong."
Penuh segenap kekuatan diri bagi Yuri agar tidak melonjak senang mendengar nama yang baru saja di jabarkan oleh keponakannya itu. Demi Tuhan, ia bahkan belum menjalankan rencana untuk menarik beberapa pria yang akan ia kenalkan kepada Jaejoong agar keponakannya itu cemburu, namun Yunho sudah memutuskan apa yang terbaik untuk dirinya sendiri. Yuri bertanya tanya, apakah Jaejoong melakukan perintahnya untuk bersikap sedikit lebih agresif kepada Yunho?
Sepanjang sisa hari kemarin ia meluangkan waktu untuk membuat Jaejoong bersikap nakal, tidak mudah memang mengingat kehidupan yang Jaejoong jalani di hutan selama bertahun tahun serta sikap malu pemuda itu. Namun itu semua tidak menghalangi niat Yuri untuk sedikit mengotori sikap polos Jaejoong. Yuri tidak menyesal menjelaskan hubungan sepasang kekasih yang saling mencintai meski ia telah membuat wajah pemuda itu merah merona seperti tomat matang setelahnya, ia hanya ingin membuat Jaejoong sedikit kebal dan sepertinya pengorbanannya kemarin tidak sia sia melihat hasilnya sekarang.
Yuri mengagumi apapun usaha yang telah Jaejoong lakukan untuk menggoda Yunho. Pandanganya menyusuri kemeja Yunho yang kusut di bagian depan dan ia paham apa yang telah terjadi di antara keduanya tadi, sebelum Yunho mencarinya. Astaga, apakah Jaejoong telah berhasil mendapatkan ciuman dari keponakan yang sok jual mahal ini.
Wanita itu berdeham. Ia menahan ekspresi wajahnya tetap tenang saat berkata. "Kenapa mendadak kau ingin bertunangan dengan Jaejoong? Kau yakin Jaejoong menerima ide ini, atau ini hanya idemu?" Rahang Yunho berubah tegang. Yuri menyesali pertanyaan yang ia ajukan karena sepertinya menyinggung perasaan sensitif keponakannya.
Merutuk diri, tidak seharusnya Yunho seterburu ini. Dan ia paham jika bibinya terkejut dengan pilihan yang ia pilih. "Jongie akan setuju. Dia akan menerima pertunangan ini. Aku akan memberi waktu berapa pun lamanya agar dia mampu membiasakan diri dan menerima hubungan kami sebelum pernikahan. Hanya saja aku ingin Bibi mengumumkan pertunangan kami segera."
Mendengar jawaban acuh keponakannya , Yuri menghela napas. Wanita paruh baya itu entah harus bersyukur atau menyesali ide ini. Yunho tidak mengatakan tentang menyukai Jaejoong atau kata kata menuju ke arah di mana ia memiliki rasa lain terhadap Jaejoong, tentu saja selain rasa menyayangi dan ingin melindungi pemuda itu.
"Baiklah," Yuri mendesah. "kalau itu yang kau inginkan. Aku akan mengumumkan pertunangan ini setelah musik terakhir berakhir."
Lega mendengar Yuri tidak memprotes atau memberinya ultimatum lain, Yunho memeluk wanita itu. Ia sangat senang karena bibinya tidak menentang keinginannya untuk menikahi Jaejoong yang bukan lah siapa siapa.
"Lepaskan aku anak nakal. Kau membuat gaunku kusut."
"Kau tetap cantik meskipun gaun yang kau kenakan kusut Bibi."
"Kau menggodaku?" Yuri memasang wajah cemberut namun bercanda.
"Itu kenyataan Bibiku sayang."
Menempatkan tangan bibinya di lekukan lengan, Yunho menarik Yuri berdiri, menuntun Yuri kembali ke pesta yang semakin meriah seiring berlalunya jam menuju tengah malam. Di seberang ruangan, Yunho menangkap siluet pemuda yang baru saja mereka bicarakan merobos kerumunan. Musang Yunho mencari dan melihat Jaejoong di antara kerumunan orang berdesakan menuju lantai dansa.
Yuri menahan napas saat melihat Jaejoong di seberang ruangan terdorong oleh sepasang kekasih yang terburu buru menuju lantai dansa. Pemuda itu terdorong ke sisi aula, menyenggol kerumunan wanita paruh baya yang celakanya dua dari wanita itu ia kenali sebagai tamu dari seberang estat. Kedua wanita itu adalah penggosip berlidah tajam karena hanya perlu satu jam bersama mereka kau akan tahu semua gosip tentang semua orang di desa.
"Bawa aku menemui Jaejoong, Yunho, sekarang!" Nada suara bibinya yang tegang serta penuh tekanan menarik kewaspadaan Yunho. Terlebih saat ia memandang Jaejoong yang tidak lah sendiri di depan sana. Pemuda itu di kerumuni beberapa tamu dan dengan langkah lebar ia menyeret bibi Yuri menyeberangi aula. Mengabaikan langkah terseret wanita itu karena mencoba menyamai langkah kakinya yang panjang.
Saat mereka berdiri di belakang kerumunan terdengar tawa mengejek dari beberapa orang, di ikuti suara tarikan napas terkejut serta gumaman tidak percaya dari mereka. Lalu bidik bisik tak nyaman di sekeliling mereka mulai terdengar.
Yunho menahan diri untuk tidak menerobos maju dan menampar mulut mereka yang telah membicarakan Jaejoong di depan pemuda itu. Cengkraman tangan bibi Yuri mengerat pada lekukan lengan Yunho, menahan apapun yang akan ia lakukan di luar nalar.
Salah satu dari wanita di depan sana berkata. "Aku tidak yakin Mr. Jung yang tampan itu mengundang anak haram sepertimu ke pesta yang beliau adakan. Kau pasti menyelinap masuk untuk menimati makanan gratis bukan? Dasar kau penyihir." Wajah mencemooh wanita tua itu mengamati Jaejoong dari atas sampai kebawah dengan sorot mata menghina.
Amarah menguasai Yunho mendengar kata yang di ucapka oleh satu dari kerumunan itu. Hanya cengkraman tangan pada lengannya lah yang menahan Yunho tetap diam.
"Bibi." ia berbisik tanpa menatap Yuri. "Lepaskan aku." ujsrnya dingin.
"Aku ingin tahu apa yang mereka katakan, tunggu sebentar agar aku memiliki alasan untuk mengusir wanita bermulut tajam itu keluar dsri rumah kita." cengkraman tangan Yuri semakin mengerat saat salah seorang wanita lain maju, menantang Jaejoong dengan tatapan penuh kebencian.
"Dia adalah putra pelacur pembawa sial yang telah di usir dari estat kami." Wanita itu menuturkan. "dia telah di usir dari tanah kami oleh Mr. Choi. Aku pikir dia sudah meninggal, tapi sungguh, siapa yang menduga jika anak haram ini ternyata bersembunyi di tanah keluarga Jung."
"Almarhum Mr. Choi Siwon?" salah seorang menyahut. Mr. Choi senior terkenal baik hati. Jika benar pria terhormat itu yang mengusir pemuda itu, tentu saja mereka semua akan mempercayai apa yang sudah wanita itu katakan.
"Bukan. Tetapi putranya. Choi Seung Hyun." ketika nama itu di sebut terdengar keributan serta dengusan tak percaya dari sebagian serumunan itu.
"Selamat malam semuanya." Yunho mengatakan itu dengan nada ramah yang kaku. Mengejutkan kerumunan itu yang segera berpencar memberi jalan baginya melangkah maju.
Pria itu berhasil menerobos kerumunan yang mulai bertambah untuk berdiri di sisi Jaejoong, pemuda itu menyembuyikan wajahnya, menunduk. "Boleh aku tahu apa yang sexang kalian bicarakan?" ia berkata datar dengan senyum palsu di bibirnya. "Sepertinya terlihat sangat menarik. Bolehkan kalian beri tahu apa itu? Aku penasaran karena jarang sekali tunanganku merona mendengar apapun itu seperti saat ini." wajah Jaejoong memang sedikit merah muda, yang Yunho yakini bukan karena merona.
Melingkarkan lengan pada pinggang Jaejoong, Yunho menarik pemuda itu kearahnya dengan sikap posesif yang berlebihan. Membuat sebagian kerumunan menatap keduanya terkejut. Suara tersentak, tertahan entah terkejut atau kecewa terdengar serempak usai Yunho mengumumkan siapa pemuda yang berdiri berdampingan dengannya itu.
Yuri menutupi wajah dengan punggung tangan menahan tawa melihat wajah si biang gosip berubah menjadi pucat pasi mendengar apa yang di ucapkan keponakannya tadi. Sungguh menyenangkan rasanya mampu membuat wanita itu malu di depan umum karena menuduh tunangan pemilik estat Jung dengan sangat keterlaluan.
Yuri berdeham untuk menarik perhatian segerombolan tamu yang mulai bertambah. "Kami berniat mengumumkan pertunangan ini malam ini," ia meyakinkan para tamu. "Ini kejutan yang menyenangkan bagiku setelah sekian lama aku menginginkan Yunho menikah, dan sebentar lagi keinginanku akan terwujud. Tapi, sepertinya keponakanku lebih suka mengumumkan pertunangan ini sendiri lebih awal dari yang di rencanakan malam ini."
Musang Yunho mengamati mereka satu persatu dengan sorot mata yang mampu menbunuh jika mampu, ia berkata dengan tegas kepada dua wanita yang melempar tuduhan tadi kepada Jaejoong. "Aku tidak peduli apa pendapat Anda berdua tentang tunanganku, namun jika itu menyangkut nama baiknya aku tidak akan tinggal diam. Aku harap kalian memperlakukan tunanganku sebagaimana kalian mengormati dan menerimaku sebagai pemimpin baru estat Jung," Dengan nada yang lebih rendah Yunho berkata kepada yang lain. "Jaejoong adalah segalanya bagiku, aku menyayanginya dengan sangat, aku yakinkan kalian semua bahwa siapapun yang berani membicarakan hal buruk tentang calon istriku akan berhadapan denganku."
Tubuh Jaejoong berubah tegang di bawah lengan Yunho. Ia menuduk untuk mengamati apakah Jaejoong baik baik saja. "Tidak susah untuk menyukai Jaejoong, aku yakinkan itu kepada kalian semua. Dia adalah pemuda baik yang akan membantuku mengelola tanah ini jika aku tidak ada di tempat." Yunho berkata kepada para tamu lain yang ia tahu sebagai warga desa, penyewa tanah serta pekerja di pabrik miliknya. Ia ingin memberi kesan pada mereka bahwa Jaejoong bukan lah orang yang seperti orang lain katakan.
Pria itu tersenyum hangat kearah Jaejoong. Menarik wajah pemuda itu untuk mendongak menatapnya. "Aku harap kau tidak keberatan aku mengumumkan pertunangan kita lebih awal, sayang." Mengusap jejak air mata di sudut mata Jaejoong, Yunho mencium kening pemuda yang sudah ia klaim sebagai tunangannya itu. "Aku hanya tak sabar untuk segera menikah denganmu." imbuhnya. Kembali pada para tamu, Yunho berkata. "Aku mengundang kalian ke acara pernikahan kami minggu depan." usai berkata, Yunho mendekap Jaejoong ke dalam pelukan, membimbing pemuda itu menjauh dari kerumunan sebelum menaiki tangga menuju lantai atas.
Untuk saat ini Yunho akan menyembunyikan Jaejoong. Ia tidak ingin kekasihnya itu tersakiti oleh perkataan para tamu yang tak berperasaan.
Sebelumnya Yuri mengangguk memberi isyarat akan mengelesaikan sisa masalah yang telah Yunho buat, Yuri menghalangi para tamu yang sudah akan berpencar dengan sapaannya yang hangat. "Selamat malam semuanya. Maaf membuat Anda sekalian tidak nyaman dengan apa yang baru saja terjadi."
Yuri juga merasakan amarah atas apa yang terjadi barusan. Mereka terlalu lengah sampai membiarkan orang orang itu menghina Jaejoong di hadapannya sendiri dan sekarang sudah saatnya ia menyelesaikan masalah ini dengan mengumumkan pertunangan serta pernikahan yang akan di adakan dua minggu dari sekarang. Dengan begitu tidak akan ada yang berani menghina atau mentakiti calon istri seorang Jung.
Dua minggu dari sekarang? Astaga. Apakah keponakannya itu sudah gila. Yuri bergumam pelan mengingat kata penuh penekanan keponakannya tadi. Apa dia pikir mempersiapkan pesta pernikahan semudah mengadakan pesta dadakan. Yuri menginginkan pernikahan ini diadakan secara besar besaran, mewah serta berkesan bagi mereka semua dengan mengundang orang penting yang tentunya akan dengan senang hati menghadiri pernikahan pewaris Jung.
Kesempatan besar ini tidak akan ia sia-siakan mengingat kesempatan ini adalah resepsi pernikahan pertama serta terakhir yang akan ia rancang semasa hidupnya dan Yuri menginginkan kesempurnaan. Bahkan jika membutuhkan waktu berbulan bulan untuk menyiapkan segalanya, akan dengan senang hati ia akan melakukannya. Pertama tama ia harus mengelesaikan masalah ini terlebih dahulu. "Baiklah semuanya... ." wanita itu memulai.
.
。。* 。。
.
Hari sudah sangat siang saat Yunho terbangun pagi berikutnya. Ia terlalu malas bangun meski hanya untuk memastikan bahwa Jaejoong baik baik saja setelah Yoochun melapor jika Jaejoong masih tertidur beberapa menit lalu.
Lelah mungkin atau karena pengaruh hal lain seperti tidak bisa tidur sepanjang malam seperti apa yang Yunho alami. Tidak mudah untuk memaksa diri meninggalkan ranjang karena ia baru tidur ketika matahari terbit. Jika tidak ada tugas yang harus ia selesaikan Yunho akan memilih tetap di ranjang menunggu Jaejoong bangun dan sarapan bersama. Atau lebih tepat di sebut makan siang mengingat matahari sudah hampir berada di atas kepala.
"Aku sudah membereskan semuanya." Yunho tidak terkejut mendapati bibi Yuri mencarinya setelah pelayan tahu ia sudah bangun serta mandi.
Wanita itu berjalan dengan anggun menuju sofa yang berada di tengah ruang kamar, mendudukan diri dengan nyaman di sana mata Yuri tidak lepas untuk mengamati pria yang saat ini mondar mandir di kamarnya yang luas.
Meskipun terdengar tidak sopan karena ia menghilang di pesta semalam, Yunho tidak menyesal ia menghilang setelah mengumumkan pertunangannya dengan Jaejoong. Persetan dengan apa yang akan di pikirkan semua tamu tentang sambutan pemilik estat baru Jung yang sombong. Toh sebagian dari mereka telah dengan lancang membicarakan tunangannya di belakang Yunho.
Mengingat hal itu kembali membuat amarah Yunho tersulut. Terlebih setelah pesta semalam yang berakhir ia membawa Jaejoong kembali ke kamarnya, pemuda itu menutup diri, mengabaikan dirinya. Bahkan Jaejoong tidak berkata sepatah kata pun meski Yunho menemani pemuda itu selama berjam jam sampai Jaejoong berlabuh ke alam mimpi karena lelah setelah menangis.
"Tamu terakhir sudah pergi meskipun Ahra berkeras ingin menemuimu sebelum dia meninggalkan kastil, aku berhasil membujuknya meninggalkan kastil dengan janji dia boleh berkunjung atau kau menemuinya di estat keluarga Choi." Itu adalah hal terakhir yang akan Yunho lakukan setelah apa yang di lakukan Choi Seung Hyung terhadap Jaejoong.
Menginjakkan kaki di tanah orang orang yang telah menghina Jaejoong sama saja dengan menghina atau menyetujui penghinaan yang mereka lakukan kepada tunangannya. "Kau tahu aku tidak akan pernah mengunjungi Seung Hyun, Bibi."
Mengedikan bahu, Yuri berkata acuh meski pandangannya mengamati penampilan Yunho yang modis. "Apa peduliku. Aku tidak menemukan cara lain untuk membuatnya segera angkat kaki dari sini. Dan ke mana kau akan pergi hari ini?" Yuri bertanya ketika menyadari keponakannya itu sudah berpakaian rapi dengan kemeja putih bersih serta dasi terpasang rapi mencekik leher.
"Ke kota. Aku harus meninjau pembangunan hotel yang akan di bangun. Mengunjungi beberapa toko yang kita sewakan serta Mall yang akan di bangun dan menginginkan aku menanam saham di sana." Yunho menjelaskan sambil lalu. "Aku akan sibuk seharian di kota."
"Kau akan meninggalkan Jaejoong setelah apa yang terjadi semalam?" Yuri bertanya dengan terkejut. "Kau tahu pertunangan dadakan yang telah aku umumkan membuat gempar warga dan aku yakin seluruh warga sampai kota sudah mengetahui pertunanganmu sekarang." wanita itu bangkit untuk menghentikan keponakannya memasukan beberapa berkas ke dalam tas kerja.
"Sebagian besar para wanita merasa kecewa karena mereka datang dengan niat menaklukanmu yang ternyata sudah memiliki tambatan hati," wanita itu terdiam dengan helaan napas pasrah. "Maskipun ada beberapa bisikan tentang hal hal konyol tentang Jaejoong dan sihirnya yang telah mempengaruhi kita." Yuri ingin sekali membantah dan berkata selaman bahwa dirinya lah yang menjebak Jaejoong ke dalam pernikahan ini tapi ia urungkan. "Demi Tuhan, sekarang sudah era moderen dan mereka masih mempercayai hal hal menggelikan seperti itu."
"Terkadang hal menggelikan perlu di pertimbangkan Bibi." senyum Yunho terlihat tulus menatap Yuri. Hal itu mau tak mau membuat wanita itu mengalah karena Yunho mengunkit kutukan keluarga yang merenggut keluarganya lebih awal yang tidaklah pernah ada.
"Berarti kau setuju dengan mereka yang mengatakan Jaejoong telah memperdayamu?" Yuri bertanya dengan terkejut. Yunho tidak bercanda dengan pertunangan yang telah mereka umumkan semalam, bukan?
"Astaga. Tidak! Aku berniat menikahi Jaejoong dengan sangat sadar dan yakin seratus persen bahwa aku menyukainya karena dia adalah Kim Jaejoong."
"Syukurlah." ia mendes lega."Karena kau sungguh sungguh ingin memulai hidup berumah tangga. Dengan begitu aku bisa kembali ke Busan bersama pekerjaanku yang sudah menunggu."
Menangkup kedua tangan bibinya, Yunho memeluk wanita paruh baya itu. "Kau tahu aku sangat menyayangimu, bukan? Aku menyerahkan tanggung jawab besar tentang persiapan pernikahan ini kepadamu." menarik diri, ia tersenyum meminta maaf. "Maaf jika aku harus merepotkanmu sekali lagi. Tidak ada orang lain yang dapat aku mintai tolong, meskipun aku mampu mempersiapkan semuanya dalam kurun satu minggu, aku ingin Bibi mewakili pernikahan ini atas nama orang tuaku."
"Tentu saja! Siapa yang akan menyiapkan pesta dan hal lainnya kalau bukan aku." ujarnya sombong. "Aku tidak percaya orang lain mampu mempersiapkan semuanya dengan sempurna."
"Dan kau Bibi cantik, aku yakin seratus persen kau mampu melakukannya, dan beruntungnya aku karena aku tidak sanggup membayangkan bagaimana aku mengatur semua acara yang berbelit ini tanpa dirimu."
Kembali menyibukan diri dengan sisa berkas yang akan ia bawa, Yunho mengabaikan tatapan penuh intimindasi kearahnya yang di tunjukan Yuri.
"Boleh aku bertanya Yunho?"
Melirik bibinya dari balik bahu, Yunho tersenyum pasrah. "Tentu saja!"
"Apa kau mencintai Jaejoong? Itukah alasanya kau menikahi Jaejoong?"
Wajah terkejut Yunho entah mengapa membuat Yuri cemas. Pria itu berdiri diam di sana untuk beberapa waktum "Tidak perlu cinta untuk menikahi seseorang Bibi."
"Lalu kenapa kau memilih ingin menikahi Jaejoong secepatnya?"
Kenapa? "Karena aku menyukainya. Aku ingin membuatnya bahagia. Aku ingin dia mewarisi semuanya tanpa pertimbangan ketika aku meninggal nanti. Dengan begitu kau tidak perlu mencemaskan ke mana harta keluarga Jung akan di wariskan serta kehidupan Jaejoong nantinya. Menjadi pewaris Jung akan membuat Jaejoong di hormati, kekayaan yang akan wariskan kepadanya akan menutup mulut mereka yang bergunjing."
"Tapi bukan cinta? Tidak adakah sedikit rasa yang lebih dari sekedar sayang?"
Dengan sendu Yunho menjawab. "Maaf, sayangnya, tidak ada." Meski beberapa perasaan lain terasa janggal baginya saat mengucapkan itu, Yunho tidak akan berkata jujur kepada bibinya. Itu hanya akan membuat bibi Yuri berpikir ia mencintai Jaejoong.
"Apakah kau... "
Suara ketukan pintu membuat Yuri menahan kembali kata yang akan ia lontarkan. Yunho mengedikkan bahu acuh sebelum kembali berkutat dengan tas yang akan ia bawa pergi. "Masuk."
Sosok mungil berambut legam mengintip malu dari balik pintu, baik Yuri maupun Yunho menatap pintu yang terbuka hanya beberapa senti dengan kening berkerut melihat Jaejoong mengintip di sana setelah keheningan yang cukup lama sebelumnya.
"Masuklah Jongie." ujar Yuri santai.
Sosok pemuda tampan itu menunjukan separuh dari wajahnya yang segar. Sepertinya Jaejoong baru selesai mandi. Doe bulat pemuda itu mengintip ragu ke dalam ruangan, mengamati siapa gerangan di dalam sana. "Masuklah Jongie." Yuri mengulangi ketika melihat Jaejoong hanya berdiri di sana.
Hanya butuh beberapa langkah lebar bagi Yunho menyeberani ruangan luas kamarnya untuk menarik pintu terbuka, hal tersebut mengejutkan Jaejoong dan nyaris terjungkal karenanya.
"Kamarku selalu terbuka lebar untukmu. Tidak perlu sungkan." menutup pintu di belakang Jaejoong, Yunho membimbing Jaejoong ke sofa yang telah di duduki bibi Yuri.
Pandangan Jaejoong tidak berani menatap sosok Yunho yang menjulang tinggi di hadapannya setelah ia menyamankan diri di sofa. Pemuda itu melempar tatapan ke mana saja asal tidak menatap Yunho ysng berdiri di sana.
Kamar itu masih berantakan karena pelayan belum membereskan kekacauan. Selimut, bantal berserakan di atas ranjang dengan empat tiang itu. "Selamat pagi bibi" Jaejoong tersenyum lebar kearah Yuri. Wanita itu meraih tangan Jaejoong dengan sangat akrab.
Yunho bertanya tanya. Sejak kapan keduanya menjadi sangat akrab? Bahkan Yunho cemburu karena tidak mendapatkan sambutan istimewa selamat pagi dari calon istrinya itu.
"Apa tidurmu nyenyak?" Yunho berhasil menarik perhatian Jaejoong, pemuda itu mengangguk dan kembali berbisik bisik penuh rahasia bersama bibinya. Mengabaikan ia yang hanya berdiri di sana. Yunho ingin bergabung dan mencari tahu apa yang keduanya bisikan namun ia sudah terlambat untuk menghadiri pertemua jika tidak segera bergegas.
"Bolehkah... " suara Jaejoong yang terdengar ragu terdengar di belakang. "Bolehkah Jongie ikut?"
Menoleh terkejut, Yunho tidak menyangka Jaejoong berani mengajukan diri keluar bersama dirinya. Serigai menyebalkan yang di tunjukan bibi Yuri memberitahu Yunho jika itu adalah idenya. "Ide bagus sayang. Seluruh kota sudah tahu bahwa kalian bertunangan. Akan lebih baik jika kalian terlihat bersama di kota sepanjang hari." kepada Yunho, Yuri menambahkan. "Ajak Jongie jalan jalan, belikan dia pakaian baru makan di restoran serta nonton bisokop."
"Aku pergi untuk urusan bisnis Bibi, bukan untuk... "
"Jika aku mangganggu aku tidak akan ikut." buru buru Jaejoong menyahut. Yunho mengigit lidahnya sendiri karenanya.
Pandangan menegur Yuri tunjukan kearah keponakannya. Wanita itu bisa sekeras batu jika sudah menginginkan sesuatu terlebih yang menurut Yuri baik bagi mereka. "Baiklah." Yunho mendesah. "Mungkin aku akan mengabaikanmu beberapa saat tapi setelahnya kita akan melakukan semua yang telah Bibi katakan." Yunho berkedip kearah Jaejoong penuh rahasia.
Menangkup kedua tangannya di depan tubuh, wanita itu berdiri untuk berpamitan. "Kalau begitu aku tidak akan menganggu persiapan kalian. Aku akan menyuruh Junsu memilihkan pakain untuk kau kenakan ke kota sayang." ia berkata kepada Jaejoong. "Kau harus terlihat memesona karena sekarang kau adalah calon nyonya rumah ini."
Doe Jaejoong mengerap terkejut. Nyonya rumah? Itu terdengar... Sedikit aneh.
-TBC-
Typo bertebaran. EYD tidak beraturan dan tidak jelas. Menerima kritik dan saran yang masih berhubungan dengan FF ini.
Terima kasih untuk yang sudah meninggalkan vote dan komentar. Terima kasih juga yang selalu mengamati adanya typo dan memberi Sherry masukan. Jangan bosen ya.
Terima kasih... -BOW-
