Title : Say You Love Me
Author : Sherry Kim
Cast : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Other
Genre : Romance, Drama, Family, Sad, HQ, etc...
Rate : M
WARNING
Yaoi. Tidak suka jangan baca.
Alur tidak jelas typo bertebaran.
.. * ..
Yjskpresent.
.
.
Mobil baru. Sebelumnya Yunho tidak pernah berpikir bahwa ia memerlukan mobil baru sampai saat ini. Mobil tua ayahnya yang biasanya ia kendarai setiap kali berkunjung ke perkebunan atau pun ke kota terasa kurang nyaman saat ada Jaejoong duduk di sisinya.
Setiap kali ada lubang di jalan, mobil akan terguncang, menimbulkan suara berderit dari badan mobil sampai Yunho merasa otaknya juga terguncang. Yunho diam diam memperhatikan Jaejoong selama perjalanan menuju ke kota. Pemuda itu tidak mengeluh meskipun mobil tua ini terasa tidak nyaman.
Malah, pemuda itu menikmati perjalanan sampai mengabaikan Yunho yang duduk di balik kemudi dan hanya mengamati keindahan desa di luar jendela. Tidak hanya sekali Jaejoong terlihat takjub melihat pemandangan indah menuju kota, bahkan, pemuda itu memekik senang saat mereka melalui jembatan dan melihat angsa serta bangau di bibir sungai.
Sesampainya mereka di perbatasan kota, pemuda itu menatap tanpa berkedip gedung gedung tinggi serta indahnya kehidupan di kota di depan sana. "Bagaimana cara seseorang membangun gedung setinggi itu?" gumam Jaejoong saat mereka melewati gedung tertinggi dengan lantai 30 di kota.
Kaca mobil terbuka untuk membiarkan angin berhembus masuk. Yunho hanya mampu menggeleng saat Jaejoong melongok keluar jendela pintu untuk memperhatikan gedung yang baru saja mereka lewati.
"Jika kau tidak duduk manis Jongie, kepala mungilmu itu akan berbenturan dengan mobil yang berlalu lalang."
"Maaf." ujar Jaejong segera. "Biasanya aku hanya melihat gedung itu dri kejauhan. Dan itu tampak sangat kecil. Berbeda dengan sekarang." Yunho menangkap nada kagum dari suara pemuda itu. Ia tidak terkejut melihat semangat Jaejoong dengan segala hal baru yang di lihatnya, mengingat sebagian besar kehidupan pemuda itu di habiskan di desa dan hutan sejak ia berumur lima belas tahun. Dan Yunho sendiri tidak yakin sebeleumnya jika ibu dari tunanganya ini akan meluangkan waktu membawa Jaejoong ke kota untuk sekedar jalan jalan.
"Apa kau pernah ke kota sebelumnya Jongie?" mobil membelok ke kawasan yang lebih ramai.
"Em... sekali. Waktu itu aku dan Youngwoon Hyung di ajak bersama Paman Siwon ke toko perlengkapan sekolah. Itu adalah kali pertama serta terakhir aku ke kota. Karena Bibi Kibum tidak menyukai kami ikut bersama Paman Siwon." Mrs. Choi senior. Dari apa yang Yunho dengar dari Yoochun, wanita itu masih tinggal di rumah keluarga Choi meskipun Mr. Choi sudah meninggal beberapa tahun lalu dan meninggalkan villa pribadi untuk wanita itu tempati.
Perasaan kasihan menganggu Yunho mengetahui Jaejoong hanya pernah sekali berkunjung ke kota. Hal yang ingin Yunho lakukan saat ini adalah membawa Jaejoong berkeliling kota usai urusan yang akan ia selesaikan rampung. Ia berharap urusan bisnis itu tidak akan memakan bayak waktu karena ia ingin memperlihat kan keindahan kota Gwangju ke pada Jaejoong.
"Maafkan aku, aku tidak berniat menghancurkan suasana hatimu dengan pertanyaanku tadi."
"Tidak apa, aku sudah terbiasa."
Terbiasa. Pernyataan itu melebihi perasaan nyeri yang Jaejoong timbulkan tadi berkali kali lipat. Pertunangan ini sempurna karena ia berniat membahagiakan Jaejoong dan memanjakan pemuda itu selama sisa hidup yang di milikinya. Meskipun ia meninggal nanti, kekayaan keluarga Jung akan membuat Jaejoong tidak perlu bekerja kerasa sampai tua.
"Bagaimana kalau kita makan terlebih dahulu, sebelum kau dan aku melakukan pekerjaan kita."
Jaejoong ingin bertanya kepada Yunho pekerjaan apa yang akan ia lakukan. Namun terhenti saat terdengar suara perut Jaejoong mergemuruh minta di isi. Bibir hati Yunho menahan serigai melihat Jaejoong memalingkan wajah. "Tidak usah malu Jongie, kau lapar, begitu juga aku. Kita berdua belum makan apapun sejak bangun pagi ini."
Jaejoong mencebil. Sebelum ia sempat berpikir atau menyadari, ia berkata. "Hampir tengah hari kita bangun tadi."
Tangan Jaejoong berhenti untuk menutup kaca mobil. Ia melirik Yunho yang masih duduk di balik kemudi. Pria itu menatapnya dengan musang menyipit karena tersenyum sebelum menatap kembali ke depan.
"Kau benar." Yunho membenarkan. "kita bangun terlambat hari ini, mungkin kita harus memberikan hukuman pada diri kita sendiri dengan membeli eskrim sebagai pencuci mulut."
"Itu bukan hukuman." cicit Jaejoong. Ia terlalu malu. Mengingat bahwa mereka sudah bertunangan membuatnya memandang Yunho dari sisi yang berbeda. Jika kemarin ia bersikap terbuka dan menggoda Yunho dengan tujuan menjerat pria itu, tidak untuk hari ini. Entah kenapa ia merasa malu jika harus bersikap agresif seperti yang sudah sudah. Toh, Yunho sudah terikat denganya. Usaha untuk menyelamatkan pria itu dari kutukan pun sudah setengah jalan.
Usai memarkirkan mobil di parkiran sisi jalan, Yunho melepas sabuk pengaman miliknya dan membantu Jaejoong. Pemuda itu sibuk menatap ke ujung jalan, di toko toko berjajar di kedua sisi jalan.
"Kau boleh berjalan jalan selama aku menyelesaikan urusanku kurang lebih dua atau tiga jam nanti. Cari aku jika kau sudah bosan berkeliling." Keluar dari mobil, Jaejoong mengikuti Yunho dengan terburu.
"Aku akan berada di sisi bangunan itu," Yunho menunjuk kerangka bangunan tiga lantai yang belum selesai di bangun. "Aku harus menemui mandor proyek pembangunan hotel. Dan ingat! Jangan pergi terlalu jauh jika kau tidak tahu jalan, jika ada sesuatu yang kau inginkan, beritahu aku, aku akan membelikan apapun itu untukmu." memutar tubuh Jaejoong, Yunho menepuk pundah pemuda itu sebelum mendorong Jaejoong melangkah maju menuju restoran.
Aroma sedap makanan memenuhi hidung Jaejoong ketika mereka berdua masuk melewati ambang pintu. Restoran itu ramai pada jam makan siang seperti saat ini.
Pelayan menghampiri mereka dengan wajah berseri seri saat mengenali siapa tamu mereka. "Selamat siang Mr. Jung." pelayan wanita itu membawa mereka ke meja kosong. "Kami merasa senang mendapat kunjungan Anda siang ini."
Sikap posesif Yunho akan Jaejoong membuat pelayan itu terkejut. Wajah merah merona Jaejoong terlihat menggemaskan saat Yunho menarik kursi dan menyuruhnya duduk.
"Jadi berita itu benar?"
Yunho menatap pelayan wanita yang ia kenal dengan baik itu bingung. Ia sering mampir ketempat ini setiap kali berkunjung ke kota. "Berita?"
Merasa bahwa dirinya lancang karena banyak bicara, pelayan itu menunduk malu. "Maafkan aku sebelumnya Mr. Jung. Kami mendengar Anda mengumumkan pertunangan Anda semalam."
"Benar! Dan ini tunanganku." Ia memperkenalkan Jaejoong.
Jaejoong mengabaikan pelayan wanita yang berbincang dengan Yunho, ia sibuk memandangi menu dengan mata terbelalak lebar. Ya Tuhan, ia tidak salah lihat bukan. Ini namanya penipuan!
Gerakan di seberang meja menarik kesadaran Jaejoong ke dunia nyata. Pelayan itu telah pergi, sedangkan Yunho mengamatinya dengan kerutan di kening pria tampan itu. "Kau tidak menyukai makanan di sini? Restoran ini restoran langgananku dan paling populer di kota... "
Jaejoong mengangkat tangan, menghentikan ocehan Yunho. Menutupi sebagian wajah dari pandangan pelanggan lain dengan buku menu, ia berbisik. "Penipuan, bagaimana bisa seekor kepiting di hargai begitu mahal. Di pasar harganya tidak lebih dari separuh harga di sini."
Menarik buku menu, Yunho memukul kan buku itu pada kening Jaejoong lirih. "Ini restoran Jongie, bukan pasar." Meskipun dulu Yunho tidak pernah menganggap masalah harga pada setiap apa yang ia makan, tidak untuk kali ini. Jaejoong benar, restoran ini memang mahal. Dan bagi pemuda seperti Jaejoong yang kemungkinan besar tidak pernah merasakan apa itu kemewahan semua ini terlihat seperti membuang buang uang.
Dengan nada lebih lembut Yunho berkata. "Pilih apapun yang kau mau. Jangan pikirkan harga."
"Kita bisa makan di tempat lain." ia memberi saran.
"Dan membuatku malu dengan mengajak tunanganku makan di tempat murah. Tidak!" ujar Yunho tegas.
"Apa aku membuatmu malu?" wajah terkejut Jaejoong membuat Yunho merasa bersalah.
"Dengarkan aku Jongie. Duduk lah dengan manis. Aku akan memesankan makanan untuk kita, kau harus menghabiskan semuanya karena ku tidak suka kau yang kurus." saat melihat bibir mungil Jaejoong bergerak, Yunho menambahkan dengan tegas. Dan aku tidak suka di bantah."
Itu adalah kata terakhir yang Jaejoong atau pun Yunho keluarkan sepanjang makan siang. Keduanya larut dalam keterdiaman saat makan. Baik Jaejoong maupun Yunho memilih mendiamkan satu sama lain. Yunho merasa bersalah karena terlalu tegas, tapi ia tidak menyesali keputusannya untuk tidak meng-iyakan ajakan Jaejoong dengan pindah ke restoran lain karena pemuda itu makan dengan rakus semua makanan yang ia pesan.
.
。。* 。。
.
Menoleh dari baik bahu, Jaejoong menatap Yunho tidak percaya, pria itu membiarkan dirinya berkeliyaran di kota sendirian, tidak salah?
Apakah Yunho tidak takut ia tersesat di kota baru ini?
"Bolehkan aku menunggumu?" ia bertanya takut takut.
Alis Yunho begerak aneh. "Tentu saja tidak. Tapi akan sangat membosankan jika kau duduk diam menunggu selama berjam jam, terlebih aku tidak akan dapat berkonsentrasi jika aku tahu kau menungguku." Yunho melempar senyum menenangkan untuk Jaejoong. "Pergilah, bersenang senang lah. Kau akan sering ke sini jika kita sudah menikah nanti, dan aku tidak ingin kau tidak mengenal kota ini karena mungkin suatu hari nanti kau akan datang ke sini seorang diri."
Menyerahkan sesuatu kepada Jaejoong, pemuda itu menatap benda persegi tipis itu dengan penasaran. "Apalagi ini?"
"Kartu kredit. Kau bisa membeli apapun dengan itu."
Doe Jaejoong mendelik terkejut. "Apapun?"
"Hanya jika kau berbelanja di toko, bukan di pasar."
Jaejoong ragu ragu sebelum melangkah. Ia berhenti untuk kembali menoleh ke arah Yunho. "Pergilah, tidak akan ada orang yang menolak kehadiranmu di toko mereka setelah pengumuman pertunangan kita semalam, terlebih kau membawa kartu itu." Yunho berkedip menggoda kearah Jaejoong, hal itu membuat rona samar muncul di wajah halus pemuda itu.
Jaejoog berbalik dan melangkah pergi sebelum ia terbakar. Entah kenapa hal itu membuat wajah Jaejoong merona dan perasaan hangat melingkupi dirinya. Membayangkan seluruh orang di kota ini mengetahui pernikahan mereka yang tidak akan lama lagi, hal itu semakin membuatnya malu jika ada orang yang menggoda atau mengejeknya tentang pernikahan dadakan ini.
Apakah ia bisa berbohong bahwa pernikahan ini hanya untuk menyelamatkan Yunho, apakah ia bisa meyakinkan mereka bahwa bereka berdua saling mencintai ketika ia dan Yunho belum saling mencintai?
Ya, belum. Batin Jaejoong. Jaejoong akan berusaha mencintai Yunho, dengan begitu mereka akan memiliki keturunan dan pria itu akan terhindar dari kutukan keluarga Jung.
Degan semangat dan keyakinan baru, Jaejoong melangkahkan kakinya menyusuri jalan yang ramai oleh pejalan kaki penuh semangat. Toko pakaian, sepatu. toko buku dan banyak toko lsin terlihat sibuk dengan para pelangan mereka.
Yunho memperhatikan Jaejoong menghilang masuk ke salah satu toko, barulah ia menuju tempat yang ia tuju. Ia harap Jaejoong bisa bersenang senang selama ia bekerja.
Kilau dari bali kaca berasal dari toko perhiasan yang Yunho lewati menarik perhatian Yunho. Cincin berlian di balik kaca toko itu mengingatkannya kepada Jaejoong bahwa Ia berhutan sebuah cincin pertunangan. Ia tersenyum membayangkan senyum Jaejoong ketika memberikan hadiah indah itu jika ia membelinya.
Sebelum ini Yunho tidak pernah menganggap perhiasan adalah suatu benda yang indah. Ia hanya berpikir hanya pria gila yang memakai cincin emas di jarinya usai mereka menikah atau bertunangan. Penilaiannya itu salah! Membayangkan ia dan Jaejoong memakai cincin yang sama membuatnya merasa bangga. Hal itu menunjukan pada dunia bahwa mereka berdua telah terikat.
Sebelum ia berpikir atau berubah pikiran. Yunho mendapati dirinya berada di dalam toko dengan pelayan cantik memperlihatkan koleksi cincin terbaik mereka.
.
。。* 。。
.
Tidak jauh dari sana Jaejoong mengamati toko alat musik yang berada di sebelah restoran pizza. Baru beberapa menit saja Jaejoong masuk ke toko alat musik, ia sudah lupa sekeliling bahkan tentang Yunho. Ia sibuk memandangi gitar dan alat musik lain yang tertata rapi di rak toko dengan pandangan penuh minat.
Seorang pelayan yang lebih muda dari Jaejoong menghampirinya. "Ini adalah koleksi gitar terbaik kami. Silahkan melihat lihat, jika membutuhkan sesuatu bisa memanggil saya." usai membungkuk sopan, pelayan muda itu kembali sibuk dengan pelanggan lainnya.
Jaejoong kembali mengamati alat alat musik yang dulu pernah ia liat di televisi tetangga. Sudah sangat lama dan sepertinya banyak hal di dunia yang tidak ia ketahui. Lima tahun di hutan membuatnya seperti manusia purba memasuki era moderen. Bahkan ia juga terkejut saat melihat telefon tanpa kabel yang Yunho milikki tadi.
Jaejoong melangkah semakin masuk ke dalam toko. Berbagai jenis alat musik terpajang di dinding serta lantai, begitu banyaknya dan menakjubkan. Drum di ujung ruanga.
Piano.
Piano di tengah ruangan mengingatkan Jaejoong tentang masa kecilnya dulu. Sekelebat banyangan membuat ia menutup mata. Sebagian ingatan itu tidak dapat ia ingat dengan jelas. Akan tetapi, dulu sekali, dan entah kapan ia pernah memainkan piano bersama saudara kembarnya Youngwon di suatu tempat.
Dengan hati hati ia berjalan mendekat. Jemarinya mengusap permukaan piano dengan perasaan campur aduk. Jemari Jaejoong menekan dan piano itu pun mengalunkan nada rendah. Jemarinya yang lain menekan not lain, memunculkan bayangan lain yang tidak ia kenali. Kedua matanya kembali terpejam, nada lain yang tidak ia kenali terdengar samar di telinganya. Sosok bayangan pria duduk di antara ia dan saudara kembarnya. Jaejoong mengenali pria itu. Ibunya, Kim Heechul.
Doe Jaejoong terbuka lebar, kakinya melangkah mundur menjauhi piano tersebut dengan napas tersenggal. Ia tidak tahu jika ibunya bisa bermain piano, ia juga tidak tahu bahwa ia sendiri dulu pernah memainkan piano, sampai saat ini. Begitu banyak kenangan muncul di saat bersamaan namun suram. Bayangan lain itu muncul, Jaejoong menutup mata, untuk kembali mengingat. Sosok lain berdiri di sisi kanan piano, seorang pria yang ia tidak ingat wajah dan suaranya.
Ya Tuhan, ini gila. Dengan langkah terburu Jaejoong berbalik dan hampir menabrat pelayan toko yang sudah akan menghampirinya. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Tidak!" ujarnya gusar. Jaejoong berlari keluar dari toko. Tanpa tahu arah dan tujuan ia berlari menerobos kerumunan kota yang tidak lah terlalu padat pada siang itu. Langkah kakinya melambat ketika ia sudah berada di tempat sepi. Bersanda pada tembok di salah satu gang, ia menarik napas dalam untuk menenangkan diri.
Selama lebih dari dembilan belas tahun ia tidak pernah memiliki kenangan apapun di masa kecilnya, bahkan tidak tentang ayahnya. Sepanjang ingatan yang dapat ia temukan hanyalah masa kecilnya bersama saudaranya sampai ibu serta saudaranya meninggal. Kenangan itu terpatri sangat jelas di otak Jaejoong, hanya saja ia tidak mampu mengingat kenangan kenangan yang terjadi sebelumnya.
Sekali lagi ia mencoba menutup mata, mecoba menemukan serpihan kenangan yang tak mampu ia temukan. Kenangan itu seperti potongan potongan puzel kecil yang berserakan tidak jelas. Berdinding ketidak pastian tentang kehidupan apa yang sebelumnya ia dan keluarganya jalani sebelum datang ke Gwangju, tepatnya berlindung di tempat teman dari ibunya itu, estat keluarga Choi yang berujung petaka.
Kapal.
Serpihan puzel kenangan tentang kapal berlabuh di tempat yang tidak ia kenali terlintas di benak Jaejoong, perdebatan sengit antara beberapa orang yang tidak ia ketahui siapa.
Ibu, salah satu dari mereka adalah ibunya lalu... apalagi?
Punggung Jaejoong menyapu dinding saat tubuhnya merosot. Tanpa memperhatikan perhatian pejalan kaki yang menghawatirkan dirinya ia tetap membisu. Pertanyaan itu tidak ada jawabannya. Tidak ada orang lain yang dapat ia tanyai mengenai siapa ayah serta mengapa mereka bisa tinggal di estat keluarga Choi.
Jaejoong tidak lahir di sini, tidak juga ibunya, ia yakin itu. Dan kenapa kenangan itu muncul sekarang, di saat ia memiliki kehidupan yang lebih baik. Di saat ia tidak ingin mengingat kembali sakitnya hidup di masa lalu. Disaat munculnya seseorang yang ingin ia ajak berbagi dan sayangi.
Kenapa?
.
。。* 。。
.
Matahari sudah berada di barat saat Yunho menyelesaikan semua urusan pekerjaan secepat yang ia bisa. Bahkan hal itu tidak mampu membuat Yunho menyelesaikan urusanya lebih cepat dari yang sudah ia perkirakan. Berita tentang pertunangan semalam telah menyebar secepat virus di kota, hal itu membuat semua orang yang mengenalnya menghentikan dirinya di setiap tempat yang ia datangi untuk mengucapkan selamat, memakan waktu lebih dari yang ia inginkan.
Empat jam bukan lah waktu yang singkat untuk menunggu, jika Jaejoong tidak marah terhadapnya itu adalah suatu keajaiban. Meskipun pemuda itu kemungkinan akan memaafkan dirinya karena membuat Jaejoong menunggu selama itu, Yunho tidak mampu memaafkan dirinya sendiri.
Informasi yang ia dapatkan dari beberapa pelayan toko mengenai Jaejoong menunjukkan jalan menuju taman kota, apakah Jaejoong memutuskan untuk berjalan jalan di taman kota sore ini untuk menunggu. Yunho tidak akan tahu sebelum melihat Jaejoong di sana.
Selama lebih dari satu jam kemudian tanpa menemukan sosok yang ia cari memunculkan rasa khawatir Yunho mengenai keselamatan tunanganya itu. Apakah Jaejoong tersesat, atau sesuatu hal yang buruk terjadi padanya. Berbagai kemungkinan buruk bermunculan di kepala Yunho. Jika suatu hal buruk terjadi pada Jaejoong ia tidak akan bisa memaafkan diri sendiri karena begitu bodoh membiarkan pemuda itu berkeliling kota tanpa pengawalan, setelah kejadian kemarin malam di pesta. Bodohnya ia.
Menyingkirkan kekawatirkanya yang berlebihan, Yunho berlari menuju taman kota. Matahari senja sudah berubah warna, memberitahukan pada Yunho bahwa waktu berjalan begitu cepat tanpa menemukan Jaejoong di manapun.
"Jaejoongi." ia berteriak.
Beberapa pejalan kaki melirik Yunho penasaran mendengar teriakan pria itu. Bahkan Yunho juga menyusuri gang kecil, berharap menemukan Jaejoong terluka di sana ketimbang tidak menemukan pemuda itu di manapun.
Perasaan tak nyaman yang belum pernah ia rasakan menganggu indra dalam tubuh Yunho, ia benci merasakan amarah, keputusasaan serta penyesalan serta kekhawatiran di saat bersamaan menggerogoti jantungnya. Ia benci berasaan ini. Dan bertanya tanya bagaimana bisa ia memiliki perasaan seperti ini hanya karena menghawatirkan seseorang. Perasaan ini melebihi kekhawatiranya tentang almarhum ayah atau ibunya.
Tentu saja! Dia tunanganmu.
Sisi hati Yunho berbisik ketika benaknya berpikir itu bukanlah jawaban yang layak. Apapun itu Yunho akan mencari tahu nanti, tentunya setelah ia menemukan Jaejoong.
Ini kali ketiga Yunho memutari jalan yang sama menuju mobilnya. Sekali lagi ia berharap Jaejoong sudah berdiri menunggunya dengan marah karena meninggalkan pemuda itu. Ia harus puas dengan kekecewaan yang menyebalkan ini untuk sekian kalinya. Jaejoong tidak ada di sana, tidak juga di sekitar sana.
"Ya Tuhan Jongie, aku bersumpah akan memukulmu jika menemukanmu nanti." sekali lagi Yunho berjalan menuju arah pertama kali pemuda itu pergi.
Ia melewati toko pertama yang di masuki Jaejoong dan menatap ke dalam, sekilas. Langkah Yunho terhenti.
Mundur beberapa langkah, ia menatap ke dalam toko dengan mata terbelalak lebar. Amarah bercampur rasa lega membuat dadanya menemukan kesejukan. Seakan beban yang ia pikul selama dua jam tidak pernah menganggunya.
Jaejoong terlibat perdebatan sengit dengan seorang pemuda lain saat Yunho memasuki toko yang ternyata adalah toko musik. Jaejoong terlihat sangat marah, melontarkan kata kata kasar yang membuat Yunho berdiri tegak waspada. Wajah pemuda itu terlihat tak bersahabat saat pelayan toko mencoba menenangkan keduanya.
"Aku pertama kali melihat piano itu. Hanya saja aku keluar dan kembali untuk membelinya saat kau hanya melihatnya tadi." ujar Jaejoong marah.
"Aku berniat membelinya. Dan akan membelinya." pria lain berusia sekitar tiga puluhan itu tidak kalah sengit mendebat Jaejoong. "Aku sudah akan membelinya sampai kau datang dan berniat membelinya juga."
"Aku yang lebih dulu datang." ujar Jaejoong tak mau kalah.
"Tapi kau keluar dan aku masuk sebelum kau kembali masuk ke sini."
"Jongie." Yunho maju selangkah. Tatapan tajam Jaejoong menghentikan apapun yang akan Yunho ucapkan. Demi Tuhan, wajah pemuda itu terlihat menakutkan jika sedang marah.
Seseorang berseragam rapi menghampiri mereka. Pria itu memakai jas rapi dan terdapat pin nama di bagian kanan jas pria itu. Manager. "Tuan tuan, kita bisa mendiskusikan ini dengan baik baik. Tidak perlu berbicara keras karena kalian menakuti pelanggan kami yang lain."
"Tidak." Jaejoong serta pria itu berkata bersamaan.
Yunho tidak tahu Jaejoong bisa begitu sangat keras kepala jika menginginkan sesuatu. Dan demi Tuhan, mereka berdebat demi sebuah piano. Mengabaikan perdebatan keduanya, Yunho menatap pelayan muda yang ketakutan di kasir. "Apakah hanya ada satu piano?"
"Iya Sir. Sudah berbulan bulan piano itu di sana ketika piano lain laku terjual meski datangnya lebih lambat dari piano tersebut. Tapi kali ini sangat mengerikan."
Menghela napas lelah. Yunho mengangguk mengerti. "Kapan tepatnya piano baru akan datang?"
"Jika Anda berminat, kami bisa memesan pengiriman khusus. Dua sampai tiga hari piano baru akan di kirim ke rumah Anda."
Dan kedua pria yang masih berdebat itu tidak bisa menunggu bahkan dua sampai tiga hari. Ya Tuhan. Yunho tidak tahu harus tertawa atau menangis melihat tingkah ajaib Jaejoong.
Kepada pelayan itu, Yunho berkata. "Pilihkan piano terbaik. Aku tidak peduli berapa harganya. Dan kirim tagihan bersama piano itu ke estat Jung."
Pelayan muda itu menatap Yunho terkejut. "Anda Mr. Jung? Aku pikir Anda hanya mirip dengan beliau." pelayan itu menatap perdebatan di tengah toko dengan ngeri. "Dia... "
"Tunanganku." ujar Yunho pasrah. "Jaejoongie." Yunho mengampiri Jaejoong. Menarik pemuda itu untuk mendapatkan perhatiannya.
"Jangan sekarang Yunho, kau tidak lihat aku sedang sibuk." Jaejoong kembali berpaling dan berdebat dengan pria itu lagi.
Kesabaran Yunho benar benar di uji. Perasaanya jungkir balik karena mencari Jaejoong, menghawatirkan keselamatan pemuda itu, tapi apa yang di lakukan Jaejoong.
Ia mengela napas dalam, membutuhkan cadangan napas sebelum menarik Jaejoong berbalik kearahnya. Tanpa menunggu, ia mengangkat Jaejoong ke atas pundak, mengabaikan pekikan terkejut serta teriakan marah Jaejoong setelah sadar apa yang telah ia lakukan.
Dengan langkah pasti, ia berjalan keluar toko dengan Jaejoong meronta ronta di pundaknya. Sebelum keluar Yunho berkata kepada pelayan. "Usahakan secepatnya." sebelum pelayan itu merespon, Yunho sudah berada di terotoar menuju mobil mereka yang terparkir tidak begitu jauh di depan sana.
"Lepaskan aku Yunho. Aku belum selesai dengan pria itu."
"Sudah! Dan aku tidak ingin di bantah."
-TBC-
Typo bertebaran. EYD tidak jelas.
Cerita makin ngawur.
Menerima kritik dan saran yang membanun. Terima kasih bagi yang sudah meninggalkan jejak dan votenya. -bow-
