Title : Say You Love Me
Author : Sherry Kim
Cast : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Other
Genre : Romance, Drama, Family, Sad, HQ, etc...
Rate : M
WARNING
Yaoi. Tidak suka jangan baca.
Alur tidak jelas typo bertebaran.
.. * ..
Yjskpresent.
.
.
"Sebenarnya, apa yang sudah kau lakukan kepada Jongie, Yunho?"
Perhatian Yunho teralihkan dari komputer, ia melihat bibi Yuri berderap menghampiri meja kerjanya dengan sorot marah yang begitu kentara.
"Jaejoong mengurung diri sejak kalian kembali dari kota dua hari lalu. Sesuatu telah terjadi dan tidak ada satu pun dari kalian berniat menjelaskannya kepadaku."
Melepaskan kaca mata baca, jemari Yunho mengusap pangkal hidung lelah. Jadi, ksrena itu bibi Yuri yang biasanya tenang, marah. "Apakah dia sudah sarapan?" ia bertanya. Mengabaikan delikan bibinya.
"Dia tidak menyentuh sarapannya sama sekali. Oh Yunho, aku menghawatirkan Jongie, dia tidak makan malam kemarin, juga tidak makan banyak kemarin siang."
Sejak kejadian dua hari lalu di toko alat musik, Jaejoong mendiamkan Yunho. Yunho membiarkan saja Jaejoong merajuk karena ia pikir esok hari saat piano baru yang ia pesan datang pemuda itu akan tersenyum kembali. Tapi pemuda itu tidak juga keluar kamar dua hari terakhir, hal itu membuatnya mulai merasa khawatir.
Tidak banyak kata dari Jaejoong setelah ia membawa paksa Jaejoong kembali dari kota. Dengan amarah yang baru Yunho tahu di milikki pemuda itu menerobos masuk kastil langsung menuju kamarnya untuk mengurung diri. Hal itu membuat Yunho geli mengingat Jaejoong merajuk karena tidak mendapatkan keinginanya. "Biarkan dia Bibi."
"Biarkan." Suara teriakan bibi Yuri terdengar sampai ke seluruh kastil, Yunho yakin itu. "Bagaimana bisa kau diam di sini sedangkan tunanganmu mengurung diri di kamar. "
"Apa yang harus aku lakukan. Jongie tidak membiarkan siapapun masuk kecuali Yoochun, bahkan tidak juga Junsu." Dan ia merasa cemburu kepada sekertaris itu karenanya. Yoochun tidak mengatakan apapun saat ia bertanya dan Yunho menyerah mencoba bertanya karena Jaejoong meminta pria itu untuk tidak memberitahunya.
"Lakukan sesuatu." pinta Yuri
Bersandar pada punggung kursi, Yunho menekuk kedua tangan di depan tubuhnya. Merenggangkan otot karena sudah berjam jam ia duduk di sana. Detak jarum jam menandakan waktu tengah hari, seharusnya ia mengatakan kepada bibinya apa yang di inginkan Jaejoong akan datang hari ini, tapi ia ingin mengejutkan semuanya. Dan semoga Tuhan menolongnya dengan hadiah ini, jika Jaejoong tidak menyukainya atau sudah tidak menyukainya lagi ia tidak tahu harus melakukan apa kepada tunangan yang baru ia ketahui sangat keras kepala itu.
Tepat saat itu terdengar suara ketukan pintu. Yuri menahan pertanyaan yang akan ia ucapkan melihat kepala pelayan lantai bawah masuk ke dalam.
"Maafkan saya jika saya menganggu Mr. Jung, ada kiriman barang dari kota untuk Anda yang membutuhkan kehadiran Anda di luar."
Serigai Yunho muncul perkiraanya benar, ia berdiri dengan tergesa. "Panggilkan Jaejoong, suruh dia turun. Katakan padanya jika dia tidak datang dalam waktu lima menit aku akan melakukan hal yang sama seperti dua hari lalu untuk membawanya turun."
Buru buru Yuri mengekor keponakannya itu keluar ruang kerja. "Kau merahasiakan sesuatu." Yunho hanya tertawa yang hanya membuat Yuri sebal setengah mati.
Sesampainya mereka di ruang depan, empat orang pria sedang berusaha memasukan sebuah benda besar tertutup kain hitam dengan susah payah. Yuri memandang mereka dengan terkejut dan melirik keponakannya penasaran. "Apa itu?"
"Benda yang di inginkan serta membuat Jongie kita mengurung diri dan mendiamkan kita semua. Taruh saja di sana, kami akan mengurusnya sendiri nanti." Yunho memberi perintah kepada mereka. Salah satu dari mereka menunjukan surat untuk Yunho tanda tangani.
Yuri memperhatikan keempat pria itu melewati pintu keluar sebelum memusatkan perhatiannya kembali pada benda berbungkus kain hitam tersebug. "Apa ini." Yuri sudah akan membuka penutup itu saat Yunho berkata. "Jangan. Aku ingin Jaejoong yang membukanya. Ini kejutan untuknya." Untuk pertama kalinya dalam dua hari ia melihat wajah keponakanya berbinar bahagia. Itu sudah cukup untuk membuat Yuri senang.
Dari lantai atas terdengar suara Jaejoong. "Jika sesuatu yang ingin kau tunjukan kepadaku itu bukan lah sesuatu yang aku pikir berguna, Yunho, aku akan mengigitmu."
Dua orang yang berdiri di lantai bawah menatap kearah tangga sebelah kiri, Jaejoong melangkah malad menuruni tangga, pemuda itu terlihat manis meski dalam keadaan berantakan seperti bangun tidur dengan rambut serta pakaian kumal. "Kemari lah Jongie."
"Aku sedang melakukannya."
"Dagingku sangat keras, aku mengasihani gigimu jika patah karena mencoba mengigitku."
"Aku akan menggunakan pisau terlebih dahulu." Jaejoong berhenti untuk melotot kearah Yunho.
"Baiklah. Aku akan diam saja dan tidak akan menjerit saat kau mengiris dagingku untuk kau makan."
Para pelayan yang entah sejak kapan berada di semua sudut, mengawasi, tertawa, mereka terlihat meninggalkan apapun yang mereka kerjakan untuk melihat apa yang majikan mereka beli untuk tunanganya. Sepertinya mereka semua juga penasaran dengan apa yang ada di balik kain hitam itu.
"Buka lah." Yunho menyingkir, membiarkan Jaejoong melihat benda besar di tengah ruangan itu. "Semoga kau menyukainya karena aku tidak mau dagingku kau iris."
Jaejoong mengabaikan Yunho, tatapannya fokus pada apa yang ada di hadapannya. Jantungnya berdebar tak karuan melihat benda familiar meski masih berbungkus kain hitam itu di sana, ia tahu itu apa. "Bagaimana kau... " ia menahan lidah. Suaranya terdengar lemah karena menahan tangis, haru.
"Tidak penting. Buka lah."
Tanpa menunggu perintah kedua kalinya, Jaejong melompat maju penuh semangat. Menarik tali pengikat kain sebelum menarik penutup itu perlahan. Pemuda itu menahan napas, piano itu bukan lah piano kemarin yang ia inginkan. Piano yang ini jauh lebih indah dan ia yakin harganya lebih mahal dari piano kemarin yang ia rebutkan. "Yun," suara Jaejoong tercekat.
Air mata menggenang di pelupuk mata Jaejoong saat ia berlari kearah Yunho, melemparkan tubuhnya kearah pria itu. Yunho terkejut, keduanya berbenturan cukup kerasa sampai Yunho terbatuk mendapat lemparan tubuh tunanganya itu. "Ya Tuhan, aku tidak bisa bernapas." Bukannya melonggarkan pelukannya pada leher Yunho, Jaejoong malah semakin memeluk erat pria itu. Hal itu membuat Yunho terbatuk beberapa kali.
"Kau akan membunuhku Jongie." dengan perlahan, lengan pemuda itu melonggar. Tubuh Jaejoong meluncur dalam dekapan lengan Yunho. Dan itu membuatnya merasa bergairah. Astaga. Haruskan saat ini pemuda itu merajuk, di hadapan bibinya juga puluhan mata pelayan yang memperhatikan mereka.
Ia berdeham, tidak berniat melepaskan Jaejoong dari dekapannya.
Yoochun yang berlari dari ruan kerjanya karena mendengar suara teriakan Jaejoong berhenti tidak jauh dari sana. Menyadari apa yang sedang terjadi, ia meneriakan perintah kepada pelayan dan mereka pun kembali kepada pekerjaan mereka yang tertunda.
"Terima kasih Yunho." entah Yunho harus bernapas lega atau frustasi saat Jaejoong menjauhkan tubuhnya. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa dirinya yang terbilang sulit tertarik kepada seseorang begitu mudah terangsan hanya dengan pelukan dari tunangannya ini. Belum lagi sapuan ringan tubuh pemuda itu di atas tubuhnya.
Otak Yunho membayangkan bagaimana jika mereka berdua berada di atas ranjang. Ya Tuhan, Yunho menggeleng.
"Kau menyukainya." ia menunjuk piano dengan dagu.
"Tentu saja! Ini sangat indah, lebih indah dari piano kemarin yang aku rebutkan." Mengehela napas dramatis ia menambahkan. "Pak tua kemarin itu pasti iri jika tahu aku memiliki piano terindah sepanjang masa." Meskipun itu berlebihan. Tidak ada alasan kenapa Yunho harus meralatnya, ia hanya membiarkan pikiran pemuda itu berpikir sepuasnya.
"Piano ini sangat indah." Bibi Yuri menarik perhatian Jaejoong. Pemuda itu melompat senang menghampiri wanita itu.
"Benar, bukan! Yunho membelikan ini untukku Bibi. Hebat bukan." kedua tangan pemuda itu bergerak ke sana kemari penuh semangat. Kebahagiaan yang terpancar dari wajah yang tadinya pucat itu seimbang dengan uang yang Yunho keluarkan untuk membeli piano terbaik itu.
"Kau bisa bermain piano? Aku tidak tahu itu itu." Yunho bertanya
Yoochun, yang berdiam diri mengamati piano itu juga terkejut. Sejak ia mengenal pemuda itu tidak pernah sekali pun ia mendengar Jaejoong mengatakan bisa bermain piano. "Aku juga tidak."
Dengan malu malu Jaejoong nyengir polos. Bibi Yuri tersenyum, melingkarkan lengan di atas bahu Jaejoong yang lebih tinggi darinya itu. "Jika tidak keberatan, maukan kau memainkan sebuah lagu untuk kami?"
Tiga pasang mata yang masih di sana menatap Jaejoong penuh harap. Hal itu membuat pemuda itu merona entah karena apa.
Menarik kursi, Yunho mempersilahkan Jaejoong untuk duduk. "Bibi benar, kau harus mencoba piano baru ini. Jika merasa ada yang tidak beres kita bisa menukarnya kembali."
Terdengar helaan napas Yoochun yang membuat Jaejoong menatap pria itu. Keningnya berkerut dengan bibir mencebil. Tidak butuh kata bagi Yoochun untuk memahami bahwa Jaejoong tidak bisa mememainkan piano itu.
"Aku tidak bisa memainkan piano." ia berkata polos.
Nada tinggi piano ulah jari Yunho menggema di aula kastil. Ketiga pasang mata lain menatap satu sama lain sebelum kembali menatap Jaejoong dengan sorot mata penuh pertanyaan.
"Kau bilang apa Jongie?" Yunho tidak yakin tentang apa yang baru saja ia dengar.
"Dia tidak bisa bermain piano, sudah aku duga." usai berkata, Yoochun menggumamkan sesuatu akan mengecek kembali pekerjaanya. Begitu juga bibi Yuri yang berniat menemui koki untuk membahas makan siang mereka.
Tinggalah dua orang itu di aula luas yang kemarin malam di penuhi ratusan tamu saat pesta.
Mengikat lengan di depan dada, Yunho bersandar pada piano itu santai. Kedua kakinya di silang satu sama lain. Helaan napas pasrah pria itu membuat rasa bersalah Jaejoong muncul. "Maaf."
Sebelah alis Yunho bergerak keatas. "Untuk apa?"
"Untuk semua ini." kedua tangan pemuda itu menyapu udara, menunjuk piano tanpa arah pasti. "Kau sudah mengeluarkan banyak uang untuk membelinya, sedangkan aku tidak bisa memainkannya."
Meskipun merasa geli, Yunho menahan serigai melihat wajah lucu Jaejoong saat merajuk. "Tidak masalah. Kau hanya perlu belajar dari Yoochun. Aku akan memintanya untuk mengajarimu."
Mengangkat pandangan, Jaejoong memberanikan diri menatap Yunho. Pria itu terlihat santai. Namun Jaejoong tetap waspada. "Oh tidak! Yoochun sudah sangat sibuk dengan pekerjaanya, aku tidak ingin merepotkannya lagi dengan meminta dia mengajariku piano."
"Aku akan menaikkan gajinya jika perlu."
"Kau akan melakukan itu demi aku?" ia bertanya terkejut. "Setelah apa yang aku lakukan dua hari tetakhir ini?" ia tidak percaya ini. Oh, betapa mulia tunanganya ini. Jaejoong tidak menyesali keputusanya untuk menikah dengan Yunho.
"Dan apa yang kau lakukan dua hari terakhir ini, Jongie?" ujar Yunho menggoda.
Jari telunjuk mungil Jaejoong menggaruk pelipis salah tingkah. "Bersikap buruk, mengurung diri dan tidak mematuhi perkatanmu."
"Apa kau menyesal?" kepala dengan rambut legam di hadapan Yunho itu mengangguk. "Kalau begitu kau harus menebusnya."
Memiringkan kepal, Jaejoong tidak paham dengan apa yang tunangan tampannya itu ocehkan. "Menebus?" Yunho mengangguk pasti.
"Caranya?"
Berdiri tegak, pria itu maju beberapa langkah sampai di hadapan Jaejoong. Tinggi tubuh mereka yang tidak sejajar memaksa Jaejoong mendongak. Ia benar benar iri dengan tinggi serta ketampanan Yunho yang jauh lebih unggul darinya itu.
Menunduk untuk berbisik. Yunho berkata lirih. "Beri aku sebuah ciuman."
Kening Jaejoong mengeryit aneh. "Hanya itu?"
"Ciuman indah dan... lama."
Memperhatikan sekeliling, kedua pipi pemuda itu merona. Memang tidak ada siapapun di sekeliling mereka, namun tetap saja itu membuatnya malu. "Tidak bisakah kita pindah? Di kamarmu, mungkin? Itu akan jauh lebih privasi."
Astaga. Apakah Jaejoong tahu apa yang ia tawarkan. Yunho menggeleng. Pemuda itu tidak tahu, Jaejoong terlalu polos untuk mengetahui hal intim sepasang kekasih, tapi Yunho tahu. Ia tidak akan puas dengan sebuah ciuman jika mereka berdua ada di kamarnya atau kamar manapun dengan pintu tertutup. Jaejoong pantas mendapatkan perilaku baik, dan Yunho akan menghormati pemuda kesayangannya ini sampai mereka menikah nanti.
Dengan keputusan yang sulit ia ambil, Yunho berkata. "Aku ingin di sini." Suara pria itu berubah serak.
Sekali lagi Jaejoong mengamati sekeliling berharap tidak ada siapapun lewat nantinya. "Baiklah." sebelum ia menarik napas mempersiapkan diri, Yunho menarik lengannya, menunduk untuk menagih kenikmatan yang telah ia janjikan.
Bibir pria itu bergerak lembut di atas bibi Jaejoong. Jaejoong terkejut mendapati dirinya begitu mudah larut dan menikmati ciuman ini. Dengan gerakan malu serta canggung, telapak tangan Jaejoong menyapu pundak menuju tengkuk Yunho, menikmati kekuatan di balik kulit pria itu yang keras.
Yunho menggeram, jemari Jaejoong menggelitik tengkuknya sampai ia kehilangan kendali. Melingkarkan lengan di pinggang Jaejoong, ia menyusuri tubuh yang jauh lebih mungil darinya itu, berhenti di bawah bokong kecil Jaejoong lalu mengangkat tubuh Jaejoong dengan mudah. Yunho berjalan menuju piano dengan Jaejoong bergelayut di pelukan, mendudukan kekasihnya itu di atas badan piano.
"Yun, kau... " ucapan Jaejoong terpotong dengan bibir Yunho kembali melumat bibirnya. Kali ini lebih rakus dari sebelumnya, menguasai, mencecap serta menikmati rasa Jaejoong yang memabukan.
Yunho menyelipkan kakinya di antara kedua kaki Jaejoong. Menarik kekasihnya merapat sampai ia berharap keduanya melebur bersama. Lengan pria itu memeluk tubuh mungil Jaejoong sedemikian rupa sampai ia takut akan mematahkan tulang kurus Jaejoong. Bibir Yunho meninggalkan bibir Jaejoong, membiarkan pemuda itu bernapas sepuasnya.
Bibir pria itu menjelajahi rahang lembut Jaejoong sampai membuat jantungnya berdebar tak karuan sampai ingin meledak. Yunho menggodanya, menemukan denyut nadi pada lekukan leher kekasihnya dengan detak terpacu. Lidah pria itu menggoda, bekerja sama dengan gigi pria itu untuk melumpuhkan Jaejoong serta dirinya sendiri.
Perasaan dengan di mana mereka berada atau akan ada orang yang melihat. Jaejoong lupa segalanya kecuali pria yang bercumbu denganya, ini terasa baru untuk Jaejoong. Ciuman ini melebihi ciuman kemarin yang pria itu berikan. Jaejoong memekik tertahan, segera saja bibir Yunho mebungkam bibirnya saat tangan kasar pria itu menangkup kedua sisi wajahnya.
Keduanya tersengal. Berlomba menarik napas selama keduanya menarik diri. Jaejoong membuka mata hanya untuk berhadapan dengan mata musang gelap Yunho. "Sialan Jongie. Aku mengingkanmu, sangat menginginkanmu." mendekap tubuh Jaejoong, Yunho merasakan tubuh dalam dekapannya itu bergetar. "Kita harus cepat menikah."
Yunho ragu dengan apa yang dirasakannya sendiri. Ia tidak mencintai pemuda ini bukan? Secepat inikah? Semudah inikah hatinya terikat pada Jaejoong?
Pertanyaan itu belum mampu ia jawab. Yang Yunho tahu, ia mengingikan Jaejoong. Sampai sakit rasanya membayangkan pernikahan masih lah beberapa minggu kedepan.
Keraguan itu juga membuatnya malu. Ia bodoh karena tidak begitu paham dengan perasaanya sendiri.
Menarik diri, Yunho menatap mata sayu Jaejoong, ia yakin bahwa Jaejoong juga mengingikannya. Pernikahan ini sempurna meski tanpa di landasi cinta. Suatu saat, mungkin mereka akan saling mencintai. Hal itu membuat Yunho takut, takut jika ia meninggalkan Jaejoong, yang hanya akan membuat pemuda itu terpuruk. Sama seperti ayahnya ketika ibunya pergi meninggalkan pria itu dan dirinya yang masih sangat kecil.
.
。。* 。。
.
Yuri tidak ada di manapun ketika Yunho mencari bibinya usai makan malam. Wanita itu sudah berkata akan berbicara pribadi saat mereka selesai makan malam tadi. Namun tidak juga kelihatan batang hidungnya bibi yang super cerewet itu di manapun.
"Yunho."
Yunho berputar. Melihat bibinya berjalan cepat kearahnya dari ujung lorong sayap kanan kastil. "Aku mencarimu."
"Aku juga mencarimu, Bibi."
"Ikuti aku."
Tanpa ada niat membantah. Yunho mengikuti bibinya menuju sayap kanan lantai dua, mereka memasuki ruangan terdekat yang bersebelahan dengan kamar bibinya.
Penutup pintu di belakang, Yunho mencari tempat duduk nyaman untuk ia duduki, tidak jauh dari sofa di mana bibinya telah mendudukan diri di sana. "Inilah alasanku membenci kastil ini. Rumah ini terlalu besar untuk kita tempati. Sangat mudah tersesat di rumahmu sendiri meskipun aku sudah tinggal di sini berbulan bulan."
Yunho tersenyum mendengar keluhan bibinya yang bukanlah pertama ia dengar. Yuri memang tidak menyukai kastil ini, Yunho paham, alasanya bukanlah yang di sebutkan bibinya tadi. "Aku mencarimu, tapi tak menemukanmu dimana mana, maaf membuatmu mencariku."
Yuri terlihat gusar di tempat duduknya. Wanita itu bermain main dengan cincin pemberian almarhum suaminya yang masih setia di jari manis bibi Yuri. Bahkan, Yunho belum pernah melihat bibinya tanpa cincin itu sebelumnya.
Ah, Yunho hampir saja lupa dengan cincin yang ia beli. Seharusnya ia sudah memberikan cincin itu kepada Jaejoong sepulang mereka dari kota dua hari lalu, andai Jaejoong tidak marah dan mengurung diri di dalam kamar selama dua hari ini. Ia sudahenyerahkan cincin pertunangan mereka.
"Katakan apa yang ingin kau katakan bibi. Aku siap mendengarkan."
Ragu ragu Yuri berkata. "Ini tentang pernikahanmu. Aku sudah bertanya untuk mencari hari baik."
Nada lambat serta ragu itu membuat Yunho tegang. "Lalu?" ia bertanya penuh harap. Ku mohon Tuhan. Ia berdoa dalam hati.
"Kau tidak bisa menikah minggu depan. Kalian bisa menikah tiga minggu dari sekarang." Yuri menambahkan.
Yunho memejamkan mata. Ia merasa begitu lega mendengar itu. Meski tidak dalam minggu ini setidaknya ia masih tetap akan menikah dengan Jaejoong. Bukan suatu yg buruk jika pernikahan di tunda.
"Bagus kalau begitu."
"Bagus?" Yuri mendelik terkejut. "Kau bilang bagus. Aku sudah menghawatirkan kau akan marah mengetahui pernikahan harus di tunda selama tiga minggu tapi kau hanya mengatakan bagus!"
Melihat bibinya berkata begitu keras Yunho meringis. "Apakah aku harus bersedih, menangis atau marah?"
"Owh tidak! Hanya saja jawabanmu di luar dugaan meningat kau ingin segera menikah."
"Tiga minggu waktu yang lama Bibi, selama itu pula kau bisa menyiapkan pesta terbesar seperti apa yang kau inginkan. Aku masih bisa menunggu." Mendengar itu Yuri kembali bersemangat.
"Kau benar. Aku harus menyiapkan resepsi yang hebat dalam sejarah keluarga Jung." wanita itu bangkit dari duduknya. Merapikan pakaian yang wanita itu kenalan sebelum berjalan menuju pintu. "Sebaiknya aku memulainya sekarang. Aku tidak ingin terburu buru pada waktunya nanti seperti pesta kemarin. Ya Tuhan, itu suatu keajaiban karena pesta berjalan cukup baik."
Langkah Yuri terhenti sebelum wanita itu menggapai pintu. "Satu lagi Yunho." memutar tubuh, Yuri menghela napas lalu berkata. "Mungkin ini terdengar aneh atau menggelikan. Aku tidak berniat mempercayai gosip yang ada. Hanya saja aku bertanya tanya... "
Yunho tetap diam menunggu bibinya menyelesaikan ucapanya. "Ayah dari Jaejoong, mungkinkah Choi Siwon?" melihat wajah keponakannya mengeras, buru buru Yuri menambahkan. "Itu hanya dugaanku. Di lihat dari sudut manapun almarhum Siwon memperlakukan ibu dan anak itu terlalu baik. Mungkin bukan anak haram seperti yang mereka semua pikirkan, tidak kah kau bertanya tanya bagaimana Siwon bisa menyayangi mereka begitu besar sampai melawan istrinya sendiri."
Tangan kasar Yunho mengusap wajah, kemungkinan itu bisa saja terjadi. Tidak ada orang yang tahu siapa ayah pemuda yang akan di nikahinya itu. "Aku akan bertanya kepada Jaejoong." ia menenangkan bibinya. Yunho sendiri tidak berani bertanya karena ia yakin Jaejong sendiri tahu jawabanya.
Setelah kepergian bibinya Yunho bangkit. Ia merindukan tunanganya itu dan ingin mendapatkan satu ciuman darinya sebelum menemui mandor perkebunan untuk membahas beberapa masalah. Ia juga harus bertanya tentang siapa ayah Jaejoong sebelum ia menikahi pemuda itu.
Pelayan lantai bawah sudah menunggu di luar pintu saat Yunho keluar ruangan. Pria itu membungkuk hormat. "Ada tamu dari kota Tuan muda."
"Tamu. Aku tidak merasa memiliki janji pada siapapun malam ini."
"Beliau pengacara, Mr. Kang."
Pengacara. Siapa?
Pengacara keluarga mereka bermarga Yoo, bukan Kang. "Aku akan menemuinya, di mana dia."
Ketika Yunho memasuki ruang tamu sayap kanan lantai dasar ia melihat seorang pria gemuk memiliki tinggi kira kira seratus tujuh puluh lima duduk di sana. Kancing jas pria itu terlihat tak mampu menahan perut besar pria itu.
"Selamat malam." Yunho menyapa.
Mata pria itu terbelalak terkejut di balik kaca mata di atas hidungnya. Pria itu terkejut mendapati Mr. Jung pemilik estat masih lah sangat muda. Jauh dari yang ia bayangkan "Selamat malam Mr. Jung, maafkan saya menganggu Anda malam malam begini."
Yunho mempersilahkan pengacara yang tidak ia kenal itu duduk. Ia sendiri duduk di seberang meja, mecoba bersikap santai meskipun perasaanya berkata lain. "Ada yang saya bisa bantu Mr. Kang?"
Dengan sikap tenang yang membuat Yunho kagum, pengacara itu membungkuk untuk meraih tas kerja yang ada di atas meja. Mengeluarkan selembar amplot bersegel yang pria itu berikan kepada Yunho. "Saya datang dari Seoul, pengacara pribadi Ms. Kwon."
Yunho menahan kembali tangan yang sudah menyentuh ujung amplop tersebut. Rahang pria itu mengeras mendengar nama yang sudah puluhan tahun tidak ia dengar. "Kembalilah Mr. Kang, Anda tidak di terima di sini." ujar Yunho datar.
Pengacara itu juga bangkit mengikuti Yunho. "Ini keadaan darurat Mr. Jung, beliau ingin bicara dengan Anda. Ms. Kwon sakit parah, dokter mengatakan beliau tidak akan hidup lama lagi."
"Itu bukan urusanku. Wanita itu sudah memutus hubungan kami sejak dua puluh tahun lalu. Katakan padanya untuk membusuk di neraka." Sebelum amarah yang ia pendam selama dua puluh tahun lamanya meledak, Yunho mengambil langkah.
Pintu terbuka bersamaan masuknya Yuri ke dalam ruangan. "Atas dasar apa wanita itu memintamu menemuinya. Lupakan dia bahwa dia sendiri lah yang tidak menginginkan putranya." berderap kearah pengacara yang berwajag pucat, Yuri melotot galak kearah pria yang saat ini berkeringat dingin itu. "Biarkan dia mati tanpa pernah melihat kami. Bukankah dia tidak menginginkan kami sebelumnya."
"Bibi." amarah yang tadinya menguasai Yunho lenyap seketika melihat amarah bibinya. "Aku bisa menangani ini sendiri."
"Tidak! Kau tidak bisa. Bukankah kau berniat keluar dari ruangan ini. Pergilah, biarkan aku berbicara dengan pengacara ini."
"Dia juga Ibuku." Yunho berkata pasrah. "Meskipun dia menelantarkanku dua puluh tahun silam untuk kau urus, bagaimana pun juga dia Ibuku." tenggorokan Yunho tercekat. Ia merasa kedua matanya panas mengingat kenangan yang tidak ia harapkan muncul kembali dalam ingatannya.
Yuri memalingkan wajah. Yunho tahu bibinya menahan tangis dan berharap ia tidak melihatnya. "Berapa lama lagi." ia bertanya kepada pengacara itu.
"Kanker beliau sudah memasuki stadium akhir. Hanya tinggal menunggu waktu."
"Oh Yoona." Yuri tertawa kaku. Wanita itu jatuh terduduk di lantai, nenangis tersedu.
Yunho ingin tertawa dan bersorak bahagia karena karma akhirnya mendatangi wanita yang telah menelantarkan dirinya itu. Tapi ia tidak bisa, ia tidak juga menangis. Ia tahu bibinya juga merasakan kehilangan yang tidak ingin ia akui ini. Kenyataan ini hanya membuatnya... entahlah.
"Besok pagi saya akan kembali ke Seoul. Tidak ada yang mengurus Ms. Yoona dan saya harus kembali secepatnya. Jika Anda berkenan Mr. Jung, kita bisa berangkat bersama pukul sepuluh pagi besok."
Seluruh tubuh Yunho mati rasa. Seharusnya ia merasa senang, bukan. Tapi kenapa ia merasa kekosongan dalam hatinya. Ia terlalu larut dalam pikiranya sampai tak menyadari pengacara ibunya keluar ruagan
Yunho mengabaikan bibinya yang masih menangis histeris. Berderap keluar ruangan dengan amarah tertahan, ia membutuhkan sesorang untuk berbagi. Dan ia membutuhkan Jaejoong.
-TBC-
Typo bertebaran. EYD tidak jelas dan berantakan. Menerima saran kritik yang membangun tentang ff ini.
Terima kasih yang sudah meninggalkan vote koment. Senang rasanya FF ku masih di minati meski slow update. Kamsamanida. -BOW-
