Title : Say You Love Me
Author : Sherry Kim
Cast : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Other
Genre : Romance, Drama, Family, Sad, HQ, etc...
Rate : M
WARNING
Yaoi. Tidak suka jangan baca.
Alur tidak jelas typo bertebaran.
.. * ..
.
.
Untuk seorang pelajar baru yang belum pernah bermain piano, Jaejoong terlalu cepat menghapal serta memahami detail permainan notasi piano.
Yoochun terkejut mendapati Jaejoong sudah menghapal nots piano, pelajaran dasar bermain piano kurun waktu dua jam. Mungkin benar apa yang di katakan pemuda itu sebelumnya bahwa Jaejoong pernah memainkan alat musik tersebut di masa lalu yang membuat pemuda itu dengan mudah menghapal nots.
Mungkin sesuatu dalam pikiran Jaejoong menghambat ingatannya untuk mengingat kejadian lebih detail dari masa lalu. Jaejoong hanya mengatakan kepadanya bahwa ia pernah memainkan piano bersama saudara kembarnya, Youngwoon, juga ibunya sebelum mereka datang ke estat keluarga Choi. Pemuda itu tidak tahu lahir di mana, sepanjang ingatan Jaejong, atau apa yang di katakan Jaejoong, pemuda itu tumbuh di Gwangju, yang Yoochun ketahui dengan sangat jelas pemuda itu tidak lahir di sana.
Asal pemuda itu masih sebuah misteri. Yoochun sendiri tidak pernah mengira bahwa suatu hari ia akan meragukan asal serta tempat kelahiran Jaejoong, itu tidak penting. Namun bohong jika ia tidak penasaran karena kehidupan pemuda itu penuh teka teki, tentunya selain penderitaan yang telah ia lihat dengan mata kepalanya sendiri selama di Gwangju.
Nada piano yang salah menyadarkan Yoochun dari pikiran yang berkecamuk. Bibir Jaejoong mencebil saat pemuda itu merasakan nada yang ia dengar terdengar salah. "Aku melakukan kesalahan, bukan?"
Anggukan Yoochun hanya membuat bahu Jaejoong merosot. "Aku sudah mencoba menghapal setiap detail nots ini. Tapi masih saja aku melakukan kesalahan." Andai Jaejoong belum pernah belajar sebelumnya, akan memakan waktu lama untuk menghapal setiap nots.
"Cukup untuk malam ini." Yoochun menyudahi latihan mereka. "Jika aku sampai membuatmu terlalu lelah Tuan muda akan memarahiku." Itu benar. Kondisi Jaejoong sudah mulai membaik sejak terakhir kali pemuda itu terluka. Lula hati lebih tepatnya.
"Aku tidak lelah." Ia berkata. Jemarinya menyusuri badan piano, membelainya dengan perlahan. "Justru aku ingin segera bisa untuk dapat bermain dengan benar. Aku sangat ingin dapat memainkan piano ini."
"Tidak cukup hanya semalam agar kau menguasai permainan piano, Jongie. Jika kau tidak lelah, aku lelah." hembusan napas Yoochun terdengar lemah. Menarik perhatian Jaejoong dari catatan yang ia buat tentang latihan dasar yang ia pelajari malam ini.
Jaejoong menutup mulutnya sendiri karena tidak enak hati, se0ertinya ia memang sudah menyita waktu Yoochun terlalu lama. "Maafkan aku. Kau benar. Kau sudah bekerja sepanjang hari dan aku masih saja merepotkanmu dengan meminta menjadi guru pianoku. Maafkan aku Hyung."
Mengabaikan permintaan maaf Jaejoong, Yoochun sibuk memasukan lembaran kertas pelajaranan mereka ke dalam tas kulit tipis berwarna hitam miliknya. Itu adalah catatan lama ketika dulu ia mulai belajar. "Kau bisa belajar sendiri tentang apa saja yang sudah kita pelajari malam ini. Aku yakin kau mampu melakukannya dengan cukup baik meski tanpa pengawasanku."
"Aku tidak yakin." Jaejoong berkata ragu. Bibirnya terkatup rapat saat menyadari Yoochun mengumpulkan barang barangnya dengan tergesa. Seakan pria itu ingin segera pergi darinya. Apakah ia telah melakukan kesalahan? Kesalahan yang Jaejoong sendiri tak menyadarinya.
Alih alih bertanya, Jaejoong memasang wajah penuh senyum palsu yang berhasil ia sempurnakan. "Itu ide bagus." Senyum lebar Jaejoong tidak mampu membuat Yoochun tersenyum. Hari ini pria itu terlihat aneh, Yoochun tidak tersenyum untuknya barang sedikitpun. Tidak juga bercanda seperti Yoochun yang biasanya ia jumpai,l.
Jaejoong yakin ada sesuatu yang salah. "Apa aku berbuat salah?" ia bertanya saat Yoochum bangkit dari kursi.
Menarik tas ke atas bahu, Yoochun menatap Jaejoong dengan tatapan sedikit terkejut. Apakah pikiran yang menghantuinya terbaca sejelas itu?
"Hari ini kau bersikap aneh padaku. Kau juga mengabaikan ku. Tidak bicara banyak padaku sejak pagi tadi. Bahkan kau juga menjauhiku."
"Tidak. Aku tidak marah padamu. Aku hanya lelah." menepuk puncak kepala Jaejoong, Yoochun berbalik lalu berjalan keluar dari ruang musik tanpa ada kata lagi.
Jaejoong menatap pintu tertutup di belakang Yoochun saat pria itu pergi tanpa menoleh kearahnya. Pria itu berbeda, ia tidak mengenal Yoochun yang ini.
Mendudukan diri kembali, Jaejoong mengamati ruangan yang tadinya kosong itu telah menjadi ruangan pribadi milik Jaejoong sejak piano tersebut bertempat di sana. Berada di sebelah lain ruang kerja pribadi Yunho, di sebelah lain ruang kerja pribadi Yoochun.
Senyum Jaejoong kembali bersemi mengingat suatu hari ia akan memainkan sebuah lagu untuk tunangannya. Yunho akan mendengar ia berlarih setiap hari dari ruang sebelah, atau jika tidak sibuk, pria itu akan menemaninya berlarih.
Jaejoong menggeleng. Itu terlalu muluk. Yunho memiliki pekerjaan lain yang harus pria itu urus. Ratusan hektar tanah untuk di awasi, ratusan pekerja di kebun teh, ratusan pekerja pabrik dan puluhan pelayan yang harus pria itu beri gaji.
Gaji!
Hal itu mengingatkan Jaejoong akan pekerjaan yang Yunho janjikan. Setelah ia berada di rumah ini lebih dari satu minggu, sudah sewajarnya jika ia harus membantu untuk membayar tempat tinggal serta uang makan yang ia habiskan selama beberapa hari terakhir. Belum lagi piano ini. Astaga. Ia lupa bertanya berapa harga piano ini kepada Yunho karena terlalu senang.
Meskipun pria itu mengatakan cukup dengan ciuman, itu tidak sebanding dengan piano seindah ini, setidaknya itulah menurut Jaejoong. Dan hal yang dapat ia lakukan untuk membayar semua utang ini adalah dengan bekerja, besok pagi ia akan bertanya kepada Yunho.
.
。。* 。。
.
"Kau hanya menyiksa diri dengan bersikap seperti itu."
Yoochun berhenti melangkah saat mendengar suara seseorang. Baru saja ia menutup pintu sudah di hentikan oleh Junsu. "Apa yang kau katakan?"
Pemuda yang tidak hanya memiliki tinggi kurang lebih seperti Jaejoong, namun juga seumuran dengan Jaejoong itu meninggalkan dinding yang tadinya Junsu gunakan untuk bersandar, melangkah mendekati Yoochun untuk menatap langsung ke wajah pria yang lebih tinggi darinya itu. "Kau menyukai Jongie. Tidak usah menyangkal itu. Aku mengetahuinya sejak pertama kali Tuan muda membawanya kembali bersama kalian. Kau memperlakukan Jaejoong dengan sangat baik ketika kau sendiri begitu kaku kepada para pelayan serta penghuni lain di kastil ini. Bahkan, biasanya kau juga akan tersenyum dan menggoda Jaejoong."
Yoochun mengabaikan Junsu dan bejalan melewati pemuda itu sambil lalu, melangkah cepat menjauhi pintu, takut Jaejoong akan mendengar setiap ucapan yang di katakan Junsu tadi karena semua itu benar adanya. "Jangan sembarangan bicara, Junsu." ujarnya berbohong. "Aku tidak menyukai Jaejoong. Dia tunangan Tuan muda kita."
Junsu mengikuti langkah lebar Yoochun sambil berlari. Pemuda itu tidak patah semangat meski sudah mendapat delikan marah dari pria yang lebih tua darinya beberapa tahun itu karena mengejarnya menyusuri lorong yang di terangi bola bola lampu di kedua sisi. "Aku mengatakan kebenaran tentang apa yang kau rasakan. Malam ini kau bersikap tidak adil kepada Jaejoong karena kau cemburu."
Langkah Yoochun terhenti. Junsu hampir saja terpeleset karena berhenti tiba tiba di sisi pria itu. Memutar ke hadapan Yoochun, ia menambahkan. "Kau melihatnya bukan? Siang tadi, saat Tuan muda mencium Jongie. Itulah alasanya kau marah."
Jika tatapan tajam Yoochun mampu membunuh, Junsu sudah yakin ia akan mati detik di mana mata hitam setajam laser itu menatapnya. Ia mundur selangkah karena takut melihat tatapan pria yang ia kagumi secara diam diam itu. "Mereka akan menikah tiga minggu lagi, bibi Yuri mengatakan pada Ibuku siang tadi. Tidak ada kesempatan untukmu, Hyung."
Kedua tangan Yoochun terkepal erat di kedua sisi tubuhnya. "Aku tahu!" kata itu berhasil Yoochun ucapkan dengan lancar.
"Kau tidak tahu. Kalau kau tahu kau tidak akan menderita karena dia." emosi membuat Junsu berkata lebih keras dari yang pemuda itu inginkan.
"Kau tahu apa yang kau ucapkan, Junsu, ini di luar pekerjaanmu atau pekerjaanku di kastil ini dan pembicaraan ini di luar kepantasan yang seharusnya kita bicarakan."
Junsu sudah membuka mulut untuk berbebat saat sebuah suara menyadarkan mereka bahwa keduanya berdiri di tengah lorong. Di mana siapapun dapat mendengar apa yang baru saja mereka bicarakan.
"Maaf aku menganggu kalian."
Kedua pasang mata itu berputar kearah datangnya suara. Tuan muda Yunho berdiri tidak jauh dari mereka dengan bibir tersenyum kaku. "Kalau kalian ingin bertengkar, cari lah tempat yang lebih pribadi. Ini lorong yang kapan pun ada orang lewat dan akan mendengar apapun yang kalian debatkan."
"Kami minta maaf." Yoochun menunduk. Tanpa menunggu perintah atau ijin dari Yunho ia berjalan melewati Tuan muda mereka dengan langkah lebar. Junsu mengikuti pria itu setelah menunduk undur diri kepada Yunho.
"Apakah mereka berkencan?" gumam Yunho, memperhatikan keduanya menghilang di tikungan kearah ruang tengah. Mengedikan bahu ia kembali menelusuri lorong. Ia harus bertemu dengan Jaejoong untuk mengatakan sesuatu hal yang penting.
Yunho menemukan Jaejoong masih sibuk berlatih di ruang pribadi pemuda itu. Tempat itu masih terlihat kosong dengan lemari besar menyatu dengan dinding di satu sisi serta perabotan seadanya dan hanya ada piano itu di tengah ruangan. Yunho sudah memberikan ruangan ini untuk Jaejoong, ia hanya bisa beharap pemuda itu mau mendekorasi ruang ini dengan selera yang diinginkannya.
Nada piano itu terdengar aneh. Jemari Jaejoong masih terlihat kaku saat menekan nots piano. "Aku merindukanmu." Yunho berhasil mencuri satu ciuman di sisi leher Jaejoong.
"Yun." tubuh Jaejoong menegang untuk beberapa saat, setelahnya pemuda itu merasa rileks karena tahu Yunho lah yang sedang memeluknya.
Memutar tubuh, ia menemukan wajah sayu tunangannya itu menatap kearahnya. Yunho tidak tersenyum seperti terakhir kali ia melihat pria itu siang tadi. Sejak ciuman manis mereka sebelum makan siang, Yunho tersenyum sepanjang hari setelahnya. Bahkan sampai makan malam pun pria itu masih tersenyum penuh arti saat menatapnya. Senyum itu telah lenyap tanpa bekas, di gantikan kerutan samar di kening serta sudut bibir pria itu yang memberitahu Jaejoong bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi.
Jaejoong menyurukan wajahnya di atas pinggang Yunho. Pria itu menunduk untuk menarik Jaejoong berdiri, duduk di kursi yang tadi pemuda itu duduki dan mendudukan Jaejoong di atas pangkuannya. Jaejoong membiarkan dirinya di peluk oleh Yunho, berharap pria itu menemukan ketenangan saat bersamanya. "Kita akan menikah tiga minggu lagi." itukah yang membuat Yunho sedih. Tapi kenapa?
Menarik diri, Jaejoong menatap wajah pria itu. "Kau tidak menyukainya?" Yunho menggeleng. Hal itu mengirimkan tikaman kasat mata ke ulu hatinya. Sebelum Jaejoong memahami apa yang Yunho pikirkan adalah salah, pria itu berkata. "Jika bisa, besok aku ingin menikahimu. Namun itu mustahil."
Lalu apa yang membuatmu terlihat begitu murung? Tanpa sadar Jaejoong pengungkapkan pertanyaan itu.
Ujung bibir Yunho tertarik keatas meski hanya sedikit. Pria itu terlihat senang karena Jaejoong memahami dirinya dengan baik. "Aku harus pergi ke Seoul. Ada sedikit masalah yang harus aku selesaikan di sana." jemari Yunho mengusuri pinggang ramping Jaejoong. Menarik pemuda itu agar lebih dekat kearahnya, agar ia bisa mendaratkan ciuman ringan di atas hidung mungil Jaejoong.
"Apa kau ingin aku ikut denganmu?"
"Tidak." Menghindari tatapan sedih yang mungkin muncul di wajah Jaejoong, Yunho memeluk pemuda itu, membenamkan wajahnya di leher Jaejoong, menghirup wangi tubuh Jaejoong yang akan ia rindukan. "Aku akan merindukanmu."
"Berapa lama?" Gesekan rambut pria itu saat menggeleng membuat Jaejoong merinding. Apakah pria itu akan meninggalkan dirinya sendirian menghadapi persiapan pernikahan yang hanya tiga minggu lagi.
"Aku tidak tahu." ia berkata jujur. "Secepatnya aku akan kembali. Semoga masalah itu cepat terselesaikan."
"Masalah apa?" Pelukan Yunho mengerat di sekeliling tubuh Jaejoong. Ia merasa sesak namun tetap diam. "Jangan katakan padaku jika kau tidak ingin mengatakannya." ia menambahkan.
"Terima kasih."
"Untuk apa?" Jaejoong mencoba menarik diri. Yunho menahan kepalanya tetap di tempat saat ia kembali menenggelamkan wajahnya lebih dalam pada lekukan pundak Jaejoong. Ia menemukan denyut nadi di sana berdetak tak menentu. Ia menyukai aroma Jaejoong, Yunho berjanji akan membelikan wewangian mandi dari Seoul untuk Jaejoong mengingat betapa senangnya pemuda itu berendam saat mandi.
"Untuk kau yang datang di hidupku." ucapan itu mungkin tidak ada artinya bagi Yunho. Bagi Jaejoong itu adalah segalanya, napasnya untuk tetap bertahan hidup. Sudah sangat lama ia tidak berbuat sesuatu yang berguna bagi orang lain, tidak ada yang berguna tepatnya meskipun ia berusaha. Mengingat bagaimana semua orang tidak menyukai keberadaan Jaejoong yang di anggap sebagai benalu.
"Terima kasih juga karena kau memberiku satu kesempatan lagi untuk membuktikan pada dunia bahwa aku tidak terlahir sia sia."
Akhirnya, Yunho menarik diri. Menangkup wajah Jaejoong untuk ia amati dengan teliti. Hidung bagir, mata bulat serta alis mata lembut saat jemarinya menyusuri bulu bulu halus itu meyakinkan Yunho bahwa inilah takdirnya. "Aku akan kembali secepatnya."
"Aku menunggumu." ia berbisik "Kapan kau akan pergi?"
Jemari Yunho mengusap ujung bibir Jaejoong, menariknya ke salah satu sudut yang membuat pemuda itu terlihat lucu. "Besok pagi." menunduk, ia memejam mata saat bibir mereka bertemu. "Aku akan menelfonmu." bisiknya di atas bibir Jaejoong sebelum bibir itu merekah untuk ciuman panjang selanjutnya.
.
。。* 。。
.
Pagi berikutnya Jaejoong turun saat makan siang di umukan. Ia tidak bisa tidur semalam, bahkan saat Yunho berpamitan dari balik pintu kamarnya pagi ini, ia belum juga tidur meskipun ia menginginkan tidur agar tidak tergoda untuk melihat pria itu pergi. Jaejoong membenci perpisahan, meskipun hanya beberapa hari ke depan.
Yunho tidak memaksa untuk melihat wajah Jaejoong pagi ini sebelum pria itu pergi. Akan tetapi Jaejoong tahu pria itu kecewa hanya dengan mendengar suara putus asa Yunho di balik pintu kamarnya. Suara mobil Yunho yang melaju pergi menggoda Jaejoong untuk berlari kearah jendela, ia tidak melakukanya karena tidak ingin di hantui bayangan Yunho menjauh darinya. Tidak! Hal itu mengingatkannya akan rasa kehilangan seseorang yang ia sayangi. Ibu serta adik juga paman Siwon yang ia anggap sebagai ayah kedua.
"Selamat siang calon nyonya besar. Apa tidurmu nyenyak?"
Jaejoong mengabaikan panggilan menggoda itu. "Lumayan." nada lesu dari suara Jaejoong membuat pelayan wanita itu mengeryitkan kening. "Mau minum sup terlebih dahulu, kau terlihat kurang tidur Jongie, lihatlah lingkaran hitam di bawah matamu."
Jaejoong mengangkat tangan, menyentuh wajahnya. Apakah terlihat seburuk itu? "Aku baik baik saja." Ia memandang kursi kosong si sisi lain meja, "Di mana Bibi Yuri?"
"Beliau kurang sehat sejak semalam dan beristirahat di kamar." pelayan itu menyajikan sarapan yang biasanya membuat Jaejoong meneteskan air liur, namun tidak pagi ini. Ia merasa perutnya penuh hanya dengan melihat.
"Aku akan menlihat Bibi. Apakah beliau sudah sarapan?"
Kepala pelayan bagian dapur memasuki ruang dengan langkah cepat seperti biasanya. "Beliau tidak ingin di ganggu, Jongie. Kami sudah mengirim makanan ke kamar Beliau. Jangan kau cemaskan beliau karena kami akan merawatnya dengan baik." pelayan wanita itu tersenyum mendengar Mrs. Kim berkata tegas tak terbantahkan.
Berdiri tidak jauh dari sisi Jaejoong. Mrs. Kim, kepala pelayan bagian dapur membalik piring dan mengambi beberapa potongan sandwich untuk Jaejoong. "Yang harus kau lakukan sayangku, mengisi perutmu atau Tuan muda akan menghukum kami semua karena membiarkanmu kelaparan selama beliau tidak ada di rumah."
"Yunho meminta kau melakukanya?" anggukan Mrs. Kim membuat senyum Jaejoong mengembang. Pria itu tidak melepaskan pengawasan meski ia tidak berada di tempat di mana Yunho bisa mengawasi.
Tersenyum malu, Jaejoong membuat Mrs. Kim melempar senyum keibuan. Ia menyukai calon istri Tuan mudanya ini. Semua pelayan sempat menghawatirkan siapa wanita yang akan berhasil menjerat Tuan muda mereka saat pesta beberapa hari lalu.
Ketika Tuan muda Yunho terlihat akrab dengan wanita muda Kwon Ahra, adik dari istri Mr. Choi membuat semua pelayan gelisah.
Sudah menjadi rahasia umum bagaimana keluarga Kwon selalu ikut campur urusan salah satu dari anggota keluarganya. Mr. Kwon, ayah dari BoA dan Ahra itu adalah salah seorang pejabat negara penggila harta yang selalu memandang tinggi kedudukannya, pria sombong yang suka menindas rakyat yang lebih kecil.
Pemerintah seakan buta mengingat Mr. Kwon yang pandai bersilat lidah. Seluruh pelayan akan terpaksa merendah kepada keluarga Mr. Kwon yang mereka benci andai Tuan muda mereka memilih wanita itu. Beruntung karena Tuan muda Yunho memilih Jaejoong sebagai calon istri serta nyonya besar yang akan menjadi majikan mereka.
"Baiklah." tanpa menunggu pelayan menarik kursi untuknya, Jaejoong melakukannya sendiri. Nafsu makan Jaejoong telah kembali, menyadari tentang Yunho yang tidak mengabaikan dieinya selama pria itu pergi ke Seoul membuatnya senang. Yunho peduli padanya dan Jaejoong tidak dapat menahan rasa bahagia yang meletup letup seperti gunung berapi yang memuntahkan lahar.
Hari itu berjalan cukup menyenangkan, Jaejoong menghabiskan sepanjang hari bersama pianonya di ruang pribadi yang ia beri nama ruang Lily.
Yunho mengatakan ia boleh mendisain ruang sesuai seleranya, dan ia berniat melakukanya dengan bantuan dua pelayan yang Yunho tugaskan untuk membantunya.
Hari berikutnya mereka pergi ke kota untuk membeli apapun yang Jaejoong butuhkan, tidak mudah menemukan kertas dinding bercorak bunga bunga Lily yang Jaejoong cari sampai kedua pelayan muda itu harus mencarinya ke kota lain.
Sofa berbulu putih gading dengan bantalan besar di atasnya telah mengisi kiri ruangan, piano ia tempatkan tidak jauh dari jendela lebar yang memiliki tinggi sampai ke ke langit langit dengar korden berwarna senada menjuntai indah ketika angin mengibaskan korden berenda itu. Bibi Yuri memanggil seseorang untuk membuatkan khusus sesuai keinginanya.
"Yunho menginginkannya." kata itu cukup untuk membuat Jaejoong berhenti mendebat tentang ke ikut sertaan Yuri menawarkan di mana dan kepada siapa ia akan menemukan benda yang ia cari di jual. Dan kurang dari seminggu ia telah menyulap ruangan itu menjadi ruangan indah yang membuat siapapun memuji keahlian Jaejoong dalam mendisain ruangan.
Suatu hari Yuri berkata. "Aku tidak akan kecewa menyerahkan tanggung jawab kastil ini ketanganmu setelah melihat berubahan besar pada ruangan pribadimu." Minggu pertama itu terasa menyenangkan untuk Jaejoong.
Namun tidak pada minggu kedua, minggu itu berlalu dengan sangat lamban. Yunho belum juga kembali dan ia sangat merindukan pria itu. Tadinya Jaejoong berpikir ia menyukai perhatian Yunho dengan meminta semua pelayan mengawasinya selama pria itu pergi. Genap dua minggu sudah cukup membuatnya muak karena semua orang mengawasinya seperti induk ayam mengawasi anak anaknya.
Tidak peduli di manapun ia berada semua mata akan memastikan Jaejoong masih berada di tempat itu atau jika tidak menemukan Jaejoong di sana semua orang akan akan mencarinya. Hal itu membuatnya frustasi.
Yunho hanya menelfon dan bertanya apakah ia baik baik saja, apakah ia nyaman dan apakah ia ini dan itu. Yunho belum bisa memastikan kapan pria itu kembali karena masalah yang ia urus belum juga selesai.
Dengan hari pernikahan semakin dekat tanpa mempelai pria di sisinya membuat Jaejoong seakan di abaikan. Ia tidak yakin seminggu lagi ia akan menikah karena rasanya hari hari tidak ada bedanya tanpa kehadiran Yunho. Tujuh hari dari sekarang ia akan menjadi Mrs. Jung, yang meskipun tidak begitu ia sukai karena ia tidak yakin dirinya mampu menanggung tugas serta tanggung jawab istri dari Jung Yunho akan terjadi.
Terkurung dalam kastil selama empat belas hari membuatnya hampir meledak. Semua mata mengawasinya dan melarang Jaejoong meninggalkan kastil meski hanya untuk berjalan jalan di sungai. "Ini permintaan Tuan muda." setelah mendengar kata itu ratusan kali, menurut versi Jaejoong, ia tidak sanggup untuk berdiam diri di tempat.
Semakin dekatnya hari pernikahan semakin membuatnya gelisah. Saat Jaejoong menanyakan kapan Yunho akan pulang kepada bibi Yuri, wanita itu hanya tersenyum menangkan. Hari ini, ia memutuskan. Pernikahan hanya tinggal lima hari dari sekarang, dan ia berniat mengunjungi makam ibu dan saudaranya pagi ini, dengan atau tanpa ijin bibi Yuri.
Sudah sangat lama sejak Jaejoong berkunjung ke makam ibu serta saudara kembarnya. Tidak ada orang yang merawat makam itu sejak lama. Dulu, Yoochun akan menemaninya datang berkunjung sesekali, untuk meyakinkan makan itu di bersihkan oleh Yoochun, bukan dirinya. Satu yang membuat Jaejoong ragu untuk berkunjung hari ini, makam itu berada di tanah keluarga Choi. Bertempat di salah satu bukit jauh dari warga serta makan keluarga Choi lainnya, sekitar lima ratus meter jarak antara perbatasan estat Jung dengan estat Choi.
Tidak mudah menyelinap keluar gerbang kastil tanpa sepengetahuan semua orang. Beruntung mobil mobil pengangkut keperluan resepsi yang di adakan di kastil membantunya menyelinap meski ia harus berpakaian ala pelayan untuk mendapat ijin sopir agar memberinya tumpangan. Setelah melewati gerbang, ia berpura pura suatu barang tertinggal dan turun tidak jauh cari gerbang utama. Meskipun Jaejoong harus berjalan memutar kearah utara untuk kembali ke hutan, Jaejoong tidak merasa lelah meskipun berjalan berkilo kilo meter sebelum mendaki bukit menuju ke arah makan.
Keberuntungan bepihak kepada Jaejoong, ia tidak berpapasan dengan siapapun sepanjang perjalanan kemari. Ia mendaki bukit di tanah keluarga Jung untuk berjaga jaga. Setidaknya ia aman jika tetap berada di sana dan hanya menyebrangi sungai untuk menyusuri jalan setapak kasat mata yang ia tandai sendiri menuju makam.
Hutan terasa tidak menyenangkan setelah tinggal di kastil mewah selama hampir satu bulan dengan pelayan yang memenuhi kebutuhan Jaejoong, meskipun udara bersih memanjakan paru paru, ia lebih menyukai kenyamanan ranjang ketimbang rerumputan lembab karena hujan. Jaejoong merasa kesulitan karena sepatu yang ia pakai bukanlah sepatu mendaki. Sehingga ia menanggalkan sepatu itu, berjalan dengan hanya berbalut kaos kaki, ia mengabaikan ilalang serta suatu tajam lain yang melukai kakinya. Ia sudah terbiasa dulu namun terasa asing dan tidak nyaman saat ini.
Makam ibu serta saudaranya terlihat saat Jaejoong berhenti untuk mengawasi sekeliling. Makam itu berada di bukit yang tidak terlalu tinggi namun berada di tempat yang aman saat adanya hujan badai. Berdiri di abpit antara dua pohon besar, di bawah bebatuan besar yang teduh.
Melempar ransel berisi perbekalan, Jaejoong terkejut mendapati makam itu dalam keadaan bersih. Tidak ada ilalang atau satupun rumput liar di antara dua batu nisan serta gundukan batu yang mengeliling makam. Jaejoong membawa batu batu itu dari sungai untuk melindungi makam dulu sekali. Dan makam itu terlihat sama terawatnya seperti terakhir kali ia berkunjung. Seikat bunga liar berwarna warni masih segar berada di atas gundukan batu kedua makam.
Jaejoong mengamati sekeliling, seseorang berada di sana beberapa saat lalu, tapi siapa? Yang pasti bukanlah Yoochun. Pria itu terlalu sibuk untuk berkunjung kemari.
Mengusir pekiran buruk serta kecurigaan, satu orang yang mungkin berkunjung kemari. Tidak mungkin orang itu datang jauh jauh dari estat Choi ke sini bukan? Mrs. Choi memang memberi ijin Jaejoong untuk mengubur ibu serta adiknya di tanah beliau, dengan syarat jauh dari estat dan ia harus pergi dari tanah beliau setelahnua. Seung Hyun menentang, namun Mrs. Choi bersikeras dan di sinilah makam ibu serta saudaranya.
"Akhirnya kau keluar juga dari kandangmu."
Perasaan dingin menjalari punggung Jaejoong mendengar suara pria yang kenali. "Aku penasaran, siapa yang membersihkan makam penyihir itu dan menaruh bunga di sana akhir akhir ini. Dan ternyata, itu kau."
Jaejoong berdiri dengan tergesa. Berputar untuk menatap pria yang berdiri tidak jauh darinya bersama kuda pria itu. Choi Sung Hyun.
Mendengar apa yang di katakan pria itu barusan. Ia tahu, bukan Seung Hyun lah orang yang membersihkan makam keluarganya.
-TBC-
Typo bertebaran. EYD tidak jelas dan berantakan. Menerima kritik saran yang masih berhubungan dengan ff ini. No bash.
Terima kasih untuk yang sudah vote dan meninggalkan komentar. Trimakasih full untuk yang sudah memberitahu kesalahan typo dan memberi masukan serta saran. -BOW-
Kecup satu satu # diTendang. -kabur-
