Title : Say You Love Me

Author : Sherry Kim
Cast : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Other

Genre : Romance, Drama, Family, Sad, HQ, etc...

Rate : M
WARNING
Yaoi. Tidak suka jangan baca.
Alur tidak jelas typo bertebaran.

.. * ..

。。* 。。

Melirik makam yang bersebelakan dengan kakinya, Jaejoong tidak yakin pria yang menaruh bunga serta membersihkam makam ibu serta saudara kembarnya adalah pria itu. Kebencian Seung Hyun kepada keluarganya terlalu besar sampai mustahil untuk menutupi sorot mata benci yang di arahkan pria itu kepadanya.

Lalu siapa gerangan yang membersihkan makam? Jaejoong tidak sempat bertanya karena ia keburu di sudutkan oleh pria itu di antara tubuh tinggi Seung Hyun dengan batu di belakang punggung Jaejoong.

"Berani beraninya kau menginjakan kaki di tanahku. Kau melanggar sumpah yang kau buat sendiri anak haram." dari jarak sedekat ini, Jaejoong menyadari otot pada tubuh pria itu berubah tegang karena marah. "Jangan salahkan aku jika kau tidak dapat menikah akhir minggu ini, karena sesuai janji yang kau langgar, kau akan mati di tanganku."

"Kau tidak akan membununuhku." ucapan itu Jaejoong katakan dengan nada tidak yakin, Seung Hyun mampu membunuhnya dengan mudah di tengah hutan ini tanpa ada siapapun yang tahu, bahkan tidak juga Yunho. Tidak ada yang tahu Jaejoong kemari, itu mempermudah Seung Hyun untuk lepas tari tuduhan apapun ketika dirinya menghilang nantinya. Bahkan, Yunho tidak akan menemukan mayatnya jika pria yang saat ini terlihat berang di hadapanya itu menguburnya di suatu tempat.

Membayangkan tidak akan pernah bertemu dengan Yunho, memunculkan keberanian yang belum pernah Jaejoong rasakan sebelumnya. Begitu tiba tiba, kekuatan itu menguatkan dirinya untuk berkata dengan nada tenang. "Yunho akan membunuhmu jika tahu kau menyakitiku, tidak hanya Yunho, tapi semua orang akan mencarimu dan membunuhmu untuk membalas dendam."

Tawa Seung Hyun membahana di antara rimbunan pepohonan pinus di sekitar mereka. Tawa itu menggema sebelum menghilang di kejauhan, terdengar mengerikan. "Bagaimana kau bisa begitu yakin mereka akan membalas dendam, mereka akan berterima kasih kepadaku karena melenyapkanmu, penyihir kecil. Yunho akan kembali mengundangku ke kastilnya yang indah, aku akan menawarkan adik iparku kepadanya sebagai ganti mempelainya yang kabur sebelum hari pernikahan." Serigai pria itu memberitahu Jaejoong bahwa Seung Hyun tidak bercanda dengan ucapannya.

Jemari Jaejoong mengepal di kedua sisi tubuh menahan kengerian, pria ini pasti sudah teropsesi dengan harta atau begitu membencinya sampai berpikir sejauh itu. "Yunho akan melupakanmu begitu dia menikahi Ahra, dan kedua estat akan kembali akur seperti sebelum kau datang menghancurkan semuanya."

"Kau sendiri yang menghancurkan kepercayaan Yunho, kau salah Seung Hyun, aku bukan putra ayahmu, aku tidak tahu siapa ayahku dan aku tidak berniat merebut harta yang sudah paman Siwon janjikan akan beliau berikan kepadaku... " punggung Jaejoong membentur batu dengan bunyi cukup keras, Seung Hyun menyudutkan dirinya lebih ke belakang. Jaejoong terbatuk saat jari jari Seung Hyun menangkap rahang Jaejoong untuk membuat pemuda itu diam.

"Aku beritahu kau anak haram, Ayahku tidak pernah menjanjikan uang apapun untukmu atau Ibumu." pria itu meludah di atas tanah.

Meskipun ia telah mencoba, Jaejoong tidak dapat membebaskan diri dari cengkraman pria yang jauh lebih besar dan kuat yang mencekiknya itu. Dengan nada kebencian yang lebih kental, Seung Hyun menambahkan "Ayahku penghianat. Kekayaan keluarga Choi hanya untukku, kau tidak akan mendapatkan sepeser pun uang dari warisan Ayahku. Tidak akan pernah!"

Cengkraman jemari Seung Hyun mengerat pada rahang Jaejoong, pemuda itu hampir kehilangan pijakan saat Seung Hyun mengerahkan kekuatanya untuk mendorong pemuda itu lebih tinggi ke atas batu besar di belakang Jaejoong. "Jangan khawatir. Aku akan menguburmu di sini, bukan kah aku begitu baik. Memberi tempat di tanahku, terlebih kau akan menyusul kedua penyihir lain itu ke neraka."

Kedua kaki Jaejoong menendang untuk mendapatkan pijakan, pemuda itu hampir kehabisan napas. Samar, ia mendengar tawa Seung Hyun di antara dengungan keras yang menghamburkan pendengarannya. "Kalau bukan karena ibuku yang baik hati, aku sudah akan menggali mayat ibu serta saudaramu dan menenggelamkan tulang belulang mereka ke sungai, hanya janjiku padanya serta rasa bersalah ibuku yang menahanku melakukannya. Ibuku benar, kau tidak berhak atas kekayaan apapun, tidak juga tentang uang serta rumah yang Ayahku janjikan. Kini tidak ada gunanya kita mengungkit masalah itu lagi, karena kau tidak akan melihat matahari terbit esok hari."

Ia akan mati. Jaejoong yakin itu, pria itu akan membunuhnya sekarang, dan Yunho tidak akan tahu ia telah di bunuh. Pria itu akan berpikir Jaejoong meninggalkan pria itu tanpa pamit, dan Yunho akan mati karena kutukan itu. Kedua bola mata Jaejoong mendelik seiring paru parunya yang kehabisan udara, tenggrokannya terasa sakit akibat cengkraman jari jari pria itu di sana. Ia terbatuk sampai dadanya terasa sakit.

Samar, Jaejoong melihat sekelebat bayangan tidak jauh dari mereka berdiri, suara melejit ringan lalu sesuatu menghantam Seung Hyung, memaksa pria itu melepaskan cengkraman tangan itu dari lehernya. Kemudian, suara jeritan pria itu membahana di hutan yang sepi.

Jaejoong tidak tahu apa yang terjadi, yang ia tahu tubuhnya melayang sebelum terhempas ke lantai. Dadanya mengembang dengan kesejukan udara yang mampu ia ambil, ia kembali bernapas. Dadanya terasa panas, tenggorokannya terasa menyakitkan. Butuh waktu lama bagi Jaejoong untuk menyadari ia tergeletak di atas makam saudara kembarnya, dan ia masih hidup. Ya Tuhan, terima kasih.

Teriakan kesakitan Seung Hyun menarik perhatian Jaejoong, ia berusaha membuka mata di antara kengerian serta batuk yang di alaminya dan menyadari seseorang telah menyelamatkan dirinya.

Bayangan hitam, sosok pria berdiri di antara Jaejoong dan Seung Hyun. "Kau tahu Choi Seung Hyun, kau adalah manusia paling hina yang pernah aku temui. Betapa liciknya kau menyerah mahluk yang tidak berdaya seperti pemuda itu."

Seung Hyun menggeram kesakitan. Anak panah masih menancap di lengan kanannya dan itu adalah perbuatan pria asing di sana. "Berani beraninya kau menyerangku di tanahku sendiri." Darah mengalir deras saat Seung Hyun mencoba menggerakan tangan kiri untuk mencabut panah yang menembus daging pada lengan kanan pria itu.

Pria di hadapanya itu terlihat asing baginya karena Seung Hyun belum pernah melihat pria itu sebelumnya. Apakah pria itu pengawal yang di tugaskan Yunho untuk menjaga calon istrinya? Sial. Is sudah mengabiskan banyak uang serta waktu untuk menyewa seseorang mengawasi Jaejoong, menunggu sampai pemuda itu sendirian tanpa pengawasan sampai kesempatan ini muncul. Ia berpikir akan mampu membalas dendam atas penderitaan yang telah ibunya derita dari keluarga Jaejoong yang ternyata gagal.

"Kau akan mati kehabisan darah sebelum sampai di rumahmu jika mencabut panah itu sekarang," Pria asing itu memperingatkan. "tapi akan lain ceritanya jika kau kembali kerumahmu sekarang, menangislah dan cari ibumu untuk kau pintai pertolongan." Tatapan tajam Seung Hyun di abaikan pria itu.

Sepertinya pria asing itu tahu tentang Seung Hyun, tahu lebih banyak dari apa yang telah ia dengar atau duga. Ataukah pria itu memang kenalan lama atau warga desa yaag tinggal jauh di ujung estat. Seung Hyun tidak dapat melihat wajah pria itu dengan jelas, saat pria itu membungkuk untuk membantu Jaejoong duduk. Pakaian pria itu terlihat kumal namun bersih, rambut hitam sebahu di ikat asal sebagaian di atas tengkuk dengan tali berantakan.

"Kau tidak apa apa?" suara pria itu terdengar lembut di telinga Jaejoong, jemari dingin pria itu memeriksa leher serta wajah pemuda itu dengan teliti. Tangan pria itu begitu sejuk di atas kulitnya. "Hanya memar, tidak ada luka yang serius." Pria itu melepaskan Jaejoong sampai pemuda itu kembali terjungkal ke tanah, menarik anak panah di balik punggung serta mengayunkan panah kearah berlawanan.

Seung Hyun telah bangkit dengan pisau di tangannya yang tidak terluka bersiap untuk menyerang. Jaejoong tidak melihat atau mendengar pergerakan Seung Hyun sebelumnya, namun tidak dengan pria asing yang telah menyelamatkan nyawanya itu. Pria itu membelakangi Seung Hyun, akan tetapi mampu membaca pergerakan pria itu seakan pria asing ini memiliki mata di belakang kepala. "Pergilah," bentak suara serak daei pria sing itu. Pria itu marah. "sebelum aku menembakkan anak panahku tepat di jantungmu."

Setelah mendapatkan kembali kesadarannya, Jaejoong paham, suara berdesir yang sempat ia dengar sebelumnya adalah suara anak panah yang pria asing itu arahkan ke pada Seun Hyun, Jaejoong juga menyadari anak panah itu masih berada di atas lengan Seung Hyun saat pria itu mencoba naik ke atas punggung kuda dengan susah payah.

"Kalian akan akan mendapatkan pembalasan atas apa yang kalian lakukan padaku hari ini." ujar Seung Hyun. Setelah pria itu berhasil naik ke punggung kuda, kuda itu berderap menjauh, meninggalkan Jaejoong bersama pria asing yang tidak ia tahu siapa, belum.

"Terima kasih." suara serak Jaejoong terdengar mengerikan, ia kembali terbatuk dan pria itu berbalik kearahnya, menyimpan kembali busur serta anak panah itu di balik punggungnya sebelum menyerahkan sebotol air. "Minumlah, itu ramuan herbal yang ku campur madu murni yang sering aku minum setiap hari." Pria itu duduk di sebelah Jaejoong, merapikan bebatuan makam yang berantakan dengan sangat hati hati.

Jaejoong menegung cairan aneh bercampur manis itu dengan hati hati, ia merasa lebih baik setelah menghabiskan seluruh isi botol, pria itu melempar senyum ke arahnya. Waktu seakan berhenti, ia terpesona, pria itu begitu tampan dengan garis wajah halus hidung mancung dengan sepasang mata hitam jernih saat menatapnya, sampai membuat Jaejoong kebingungan untuk berkata.

Keheningan terasa menyenangkan saat keduanya larut dalam pikiran masing masing. Makam ibunya kembali rapi seperti sebelum mereka merusaknya, menyadarkan Jaejoong tentang apa yang menganggu pikirannya sebelum Seung Hyun muncul. "Kau yang membersihan makam Ibuku?"

Pria itu kembali menatap Jaejoong, tersenyum, senyum yang membuat napas Jaejoong tercekat dan sesuatu di dalam tubuhnya terasa berbeda saat ia menatap mata sayu pria asing itu. "Aku seorang pengembara, di mana aku tinggal di sana lah rumahku, tanpa sengaja aku menemukan makam ini beberapa hari lalu dan, ya, aku yang merawat makam ini."

"Dan siapa kau?"

Bunga terakhir kembali di atas makam yang telah di rapikan, pria itu tidak lagi menatap Jaejoong saat memikirkan sesuatu, sepertinya pria asing itu tidak yakin dengan apa yang akan ia katakan. Tapi pria itu tetap berkata. "Hankyung, itu namaku."

。。* 。。

Hankyung, Jaejoong mengingat dalam hati nama itu. Bibirnya tertarik ke atas memperhatikan pria yang saat ini duduk di hadapannya. Pria itu sibuk membuat api unggun, senja telah datang mengaburkan pandangan, rimbum pepohonan menghalangi sinarnya menerobos lebih ke dalam untuk memberi penerangan.

Pria itu seorang pengembara. Ya Tuhan, pengembara di tahun yang sudah sangat moderen seperti ini. Ini terdengar menakjubkan karena pria itu tidak memiliki rumah atau pun tempat tujuan sama seperti Jaejoong dulu, sebelum Yunho menemukannya dan membawanya ke kastil pria itu.

"Mau ikan bakar?" pria itu menawari. Jaejoong tidak menyadari ia telah melamun, ia juga tidak melihat keranjang ayaman telah berada di dekat api unggun jika saja pria bernama Hankyung itu tidak menunjukannya. "Aku menangkapnya sendiri." nada sombong dalam suara pria itu membuat Jaejoong mendengus.

"Aku jauh lebih pandai darimu dalam hal menangkap ikan. Dulu aku tinggal di hutan seberang, estat Jung. Di sana jauh lebih nyaman dengan tumpukan makanan di hutan yang tidak akan pernah ada habisnya." menyadari sesuatu Jaejoong beringsut mendekat kearah pria itu. "Hyung, kenapa kau berada di sini?"

"Tidakkah aku terlalu muda untuk kau panggil Hyung."

Jaejoong mengamati wajah tampan pria itu serta tubuhnya yang kekar. "Kau terlalu tua untukku panggil Paman. Berapa umurmu?"

Hankyung mendengus. "Kau tahu, tidak sopan menanyakan usia seseorang." ujar Hankyung. Namun ia tetapenjawab. "Tiga puluh lima ."

Jaejoong mendesah kecewa. Tiga puluh tujuh lima. Pria ini terlalu muda untuk menjadi ayahnya. Ia tadinya berharap bahwa pria tampan ini adala ayahnya. Sepertinya bukan. Ataukah pria ini paman dari pihak ayahnya? "Bagaimana kau bisa menemukan tempat ini?" ia bertanya penuh harap.

"Aku seorang pengembara. Kemanapun kakiku melangkah di sanalah tujuanku, aku pergi dan menetap sesuka hati, tentunya tidak dapat aku jelaskan kenapa dan mengapa?"

"Kenapa kau membersihkan makam ibu serta saudarakau." Jaejoong mendesak.

"Ah. Jadi itu alasanmu datang kemari, untuk menjenguk."

Jaejoong mengangguk. "Jadi kenapa?"

"Kenapa apa?"

Mendengus tak sabar Jaejoong berkata. "Kenapa kau membersihkan makam Ibuku?"

Kedikan bahu pria itu terlihat acuh. "Karena aku ingin. Tadinya aku berpikir malangnya nasip mereka tanpa adanya sanak saudara yang menjenguk untuk sekedar membersihkan rumput yang tumbuh di atas tubuh mereka." pria itu terkekeh. Tawa lembut yang terasa nyaman di dengar oleh telinga Jaejoong. "Dan kenapa kau tidak pernah datang menjenguk mereka?"

Menghela napas. Jaejoong menerima ikan yang telah matang dari pria itu. Ikan itu terlihat mengiurkan mengingat ia belum makan apapun sejak meninggalkan kastil. "Ceritanya panjang." Jaejoong teringat akan ransel miliknya, Hankyung telah mengambil dan meletakkan ransel Jaejoong di sisi lain api unggun dan ia mengambilnya.

"Aku punya roti dan susu. Aku rasa kau akan menyukainya." meraih ransel miliknya ia mengeluarkan semua benda yang ada di dalamnya.

"Apa kau berniat menginap di sini dengan bekal sebanyak itu?"

"Ya." jawaban sederhana itu membuat Hankyung menjatuhkan roti yang baru saja Jaejoong berikan untuknya. "Sungguh?" ujarnya tak percaya.

"Apa aku terlihat bercanda?" Hankyung menggeleng melihat tatapan mata Jaejoong. "Sebentar lagi aku akan menikah. Aku berniat menginap di sini untuk semalam. Mungkin... " tangan Jaejoong berhenti membuka tutup botol susu. "aku ingin memberitahu Ibuku. Bahwa aku baik baik saja dan akan segera menikah. Berharap ibuku akan tenang di surga sana."

Hankyung membelakangi Jaejoong. Kembali sibuk membalik ikan bakar yang pria itu bakar di atas api. "Ibumu pasti akan mengerti. Pastinya dia akan bahagia atas kebahagiaan yang telah kau temukan."

"Benarkah begitu?"

"Ya." Hankyung meyakinkan. "Mungkin dari suatu tempat Ibu dan saudaramu selalu mengawasimu. Dan ngomong-ngomong di mana calonmu? Kenapa dia membiarkanmu datang sendirian ke tempat berbahaya seperti ini?"

Mengingat akan Yunho yang masih berada di seoul membuat amarah Jaejoong bangkit. Lelah serta keram pada lehernya tiba tiba sirna mengingat kenapa ia bisa di sini sendirian dan hampir saja terbunuh oleh musuh bebuyutannya. "Pria kurang ajar itu. Aku marah padanya dan jangan ungkit-ungkit nama Jung Yunho di depanku."

"Jadi namanya Jung Yunho." Hankyung tersenyum. Meski pria itu membelakangi Jaejoong, entah bagaimana Jaejoong tahu bahwa pria itu menertawakan dirinya.

"Jangan menyebut namanya." Jaejoong membentak.

"Aku tidak menyebut namanya. Setidaknya, sebelum kau menyebut nama pria itu, kalau tidak, bagaimana aku bisa tahu jika namanya adalah Jung Yunho."

Melompat berdiri, Jaejoong mendelik kearah Hankyung. "Lihat. Kau menertawakanku dan kau juga menyebut nama Jung Yunho." pemuda itu berputar, menjauh dari Hankyung untuk kembali ke sisi makan saudaranya.

Hankyung tertawa melihah tingkah ajaib Jaejoong. Oh pemuda itu sangat lucu. Ia memtuskan menyukai Jaejoong, baik buruknya pemuda itu, ia menyukainya. "Kemarilah, nikmati ikan bakar kita selagi hangat."

"Aku tidak lapar." ia berbohong. "Semua ini gara gara Jung Yunho." Teriaknya frustasi. Bunyi gemuruh perut Jajeoong berkata lain, pemuda itu menghela napas lelah sebelum kembali menghampiri api unggun untuk menikmati makan sore mereka. Senja menerobos masuk melewati sela-sela dedauan rimbun. Memberi ribuan titik cahaya indah berwarna jingga yang sudah sangat lama tidak Jaejoong lihat.

Duduk berdampingan menghadap ke arah barat, keduanya larut dalam keheningan saat keduanya menikmati santapan sederhana mereka. Anehnya Jaejoong merasa nyaman duduk bersama penolongnya. "Ajari aku bermain panah."

"Tidak. Kau akan merusak busur kesayanganku."

Bibir Jaejoong mencebil sengit. "Dasar pelit."

Bahu Hankyung mengedik acuh. Hal itu membuat Jaejoong berang setengah mati. "Ajari aku. Setidaknya aku bisa menjaga diri jika menguasai panah. Untuk berjaga jaga jika Seung Hyun menyergapku di suatu tempat lain waktu."

Hankyung membisu, pria itu hanya menatap Jaejoong dengan bola mata tenang. Mata ini, Jaejoong belum pernah melihat mata seseorang sedalam serta setenang tatapan Hankyung. Bola mata hitam itu begitu tenang laksana permukaan danau ketika senja tiba. Dalam dan menghanyutkan.

"Aku akan mempertimbangkan ide untuk mengajarimu."

。。* 。。

Hari sudah sangat larut ketika mobil Yunho sampai di depan pintu gerbang kastil. Pulang, ia tidak menduga akan merasakan kelegaan sebesar ini kembali ke kastil yang ia ingat ia benci sepanjang ia dapat mengingat. Itu semua berkat Jaejoong, Yunho merindukan kekasihnya itu.

Lima belas hari seperti seumur hidup karena ia harus berjauhan dengan kekasihnya. Yunho tidak menduga urusan kunjungan yang ia prediksi singkat menjadi berkepanjangan. Ia berniat mengunjungi ibunya untuk mendengar apa yang akan di katakan wanita itu.

Wanita kejam itu. Sedikitpun ibunya tidak menyesal karena meninggalkan Yunho bersama ayahnya yang menyerahkan Yunho dalam pengawasan kakaknya, Yuri. Wanita itu terlihat bangga melihat perubahan besar pada putra yang tidak di inginkannya dulu. "Kau tampan seperti Ayahmu ketika muda dulu." ucap ibunya Yoona, sesaat setelah memperhatikan Yunho dengan mata sayu yang terlihat berbinar saat menyadari siapa yang berdiri di sisi ranjang rawat wanita tua itu. Yoona terlihat tua dan rapuh, berbaring tak bergerak di atas ranjang, jauh dari bayangan wanita cantik yang Yunho kagumi dulu.

Perumpamaan yang di ucapkan ibunya itu tidak Yunho sukai. Ia tidak bisa mengelak kemiripan yang Ayahnya turunkan padanya, hanya saja haruskah ibu yang tidak menginginkan dirinya itu mengungkitnya.

Musang Yunho terpejam mengingat kembali saat malam keduanya di Seoul. Ia berniat kembali ke Gwangju keesokan harinya andai saja masalah lain tidak muncul. Pengacara ibunya menelfon di pagi buta, mengabarkan ibunya sekarat yang tentunya mengusik Yunho untuk tetap di sana. Hari berikutnya ibunya meninggal dunia. Yunho tidak berduka. Wanita itu tidak pantas mendapatkan air matanya setelah menolak ia di masa lalu.

Mengurus pemakaman yang layak bukanlah hal yang mudah. Pengacara ibunya telah mengambil alih tugas Yunho, sepertinya Yoona sudah menduga bahwa Yunho tidak akan bersedia mengurus segalanya meski untuk terakhir kalinya.

Wanita itu benar, andai Yunho di paksa sekalipun, ia tidak akan bersedia mengurus pemakam ibunya yang menahan Yunho lebih lama di sana. Bibi Yuri hanya mengijinkan Yunho melihat Ayah Yunho sekilas saat pria itu meninggal. Setelahnya ia di suruh masuk ke kamar tanpa melakukan apapun, jadi, atas dasar apa wanita itu mendapatkan perhatian lebih darinya. Tidak. Yunho hanya datang di hari pemakaman dan kembali ke hotel.

Hari berikutnya ia sudah akan berniat kembali yang sekali lagi harus gagal karena surat wasiat ibunya. Mantan suami wanita itu meninggalkan banyak kekayaan, malangnya Yoona karena sekarat di usia yang terbilang muda tanpa dapat menghabiskan harta yang yelah wanita itu curi dari suaminya yang lain. Wanita itu meninggalkan sejumlah uang, dan Yunho berniat menolak andai pengacara Yoona tidak membocorkan suatu rahasia kepadanya.

Rahang Yunho menegang. Gigi rahangnya bergemelutuk menahan emosi yang sudah akan meledak. Ia memejamkan mata, menarik napas dalam sambil menghitung satu sampai sepuluh dalam benaknya. Amarahnya perlahan sirna membayangkan wajah bahagia Jaejoong saat menyambut kedatangannya nanti.

Seulas senyum menarik ujung bibir Yunho, ia tahu Jaejoong akan marah karena ia pergi terlalu lama. Ia sudah menyiapkan sesuatu untuk memenangkan hati kekasihnya itu nanti.

Mobil melaju mulus melewati pintu gerbang menuju kastil. Dereta pohon di kedua sisi jalan terasa tidak asing bagi Yunho. Anehnya, ia benar benar nyaman dan merindukan kastilnya. Untuk sejenak ia melupakan masalah yang masih mengganggu hatinya.

Cahaya di sisi jalan menerangi bagian dalam mobil dengan bayangan datang dan pergi. Yunho telah menempatkan banyak sekali lampu di sepanjang jalan untuk penerangan. Hal itu semakin memperindah pemandangan kastil di malam hari dengan keajaiban cahaya.

"Itu rumahku." ujar Yunho kepada sosok bocah yang duduk tenang di sebelahnya.

Bocah itu hanya menatap lurus di kejauhan sana. Di mana kastil bersinar terang laksana negeri dongeng di setiap cerita pangeran yang bocah itu lihat di tv. Kastil itu di terangi lampu lampu indah yang membuat Yunho bangga memperlihatkan rumahnya kepada bocah itu. Juga rumah baru bagi bocah itu. "Aku harap kau akan betah tinggal di sini."

Bocah itu masih mengunci mulutnya. Yunho hanya pernah mendengar bocah itu berkata satu dua kali sejak ia menjemput bocah itu dari panti asuhan terburuk yang pernah ia lihat seminggu yang lalu. Ya Tuhan, panti asuhan itu lebih cocok di sebut rumah pembuangan dari pada rumah penampungan anak. Gedung yang tidak terawat dengan perabot tua yang ada di dalamnya yang sudah tua. Cat dinding mengelupas serta tangga menuju lantai atas yang sudah lapuk.

Masih terpatri dengan jelas dalam benak Yunho saat pertama kali menginjakan kaki di sana. Wajah wajah kumal serta tubuh kurus bocah bocah di bawah umur dengan mata cekung kekurangan gizi. Umpatan tertahan membuat Yunho berniat merobohkan panti asuhan tersebut andai saja ia dapat melakukannya.

Bagaimana bisa pemerintah mengabaikan panti asuhan yang berada di dekat pelabuhan incheon itu terabaikan. Meskipun tempat itu memang hanya di tinggali mereka yang berada di bawah kehidupan rata rata, tidakkah ada warga dermawan yang mau memberi bantuan dana untuk mencukupi panti asuhan itu.

Ketidak sabaran Yunho semakin bertambah saat pengacara ibunya muncul bersama seorang bocah bewajah kumal dan tubuh kurus seperti bocah bocah lain. Ya Tuhan. Bocah itu mengingatkan Yunho akan masa lalu Yunho ketika wanita itu meninggalkan Yunho berzama ayahnya.

Ibunya itu benar benar bajingam karena membuang semua anak yang wanita itu lahirkan. Ia bertanya tanya berapa lagi korban yang telah wanita itu sakiti. "Masih ada lagi?" Yunho tidak berniat membentak pengacara Yoona saat bertanya.

Pengacara itu terlihat tenang menghadapi ketidak sabarannya dan menjawab. "Tidak." malam itu juga, Yunho membawa putra lain dari ibunya bersamanya dengan harapan ia bisa segera kembali ke Gwangju yang ternyata salah. Yunho harus mengurus surat adopsi serta surat lain tentang bocah itu. Yang juga memakan waktu beberapa hari. Dan dengan terpaksa ia tinggal di seoul selama lima belas hari.

Mobil berhenti di antara mobil pekerja yang masih tersisa. Yunho tidak terkejut mendapati kastilnya dalam keadaan yang tidak bisa di bilang rapi mengingat hari pernikahan yang tidak lama lagi.

Langkah kaki Yunho sudah akan meninggalkan taman depan andai pengacara pribadinya tidak menghengikan dirinya. "Kastil ini masih sama indahnya seperti terakhir kali aku datang."

Jin Yihan. Satu satunya teman lama Yunho dari Oxford sekaligus pengacara pribadinya. "Kau urus anak itu. Aku perlu mandi sebelum menemui tunanganku. Aku yakin dia tidak senang melihatku berantakan." untuk pertama kalinya selama lima belas hari kebersamaan mereka, Yihan melihat Yunho tersenyum. Pria itu sudah memasuki kastil saat ia sadar telah di tinggalkan begitu saja.

"Kita tamu di sini." ia berteriak. Percuma saja.

"Baiklah nak. Turunlah." Yihan membuka pintu lebih lebar. Bocah itu mengamati sekeliling dengan sikap waspada yang sangat kentara.

"Kastil ini sangat besar bukan?" Bocah itu tidak menjawab. "Aku harap kau menyukai tempat ini Changmin, karena di sinilah kau akan tinggal."

Yihan tidak berharap bocah itu akan menjawab. Dan ia sudah terbiasa dengan keterdiaman bocah itu. Baru saja mereka memasuki aula saat mendengar suara murka Yunho membahana. Changmin melompat kebelakang tubuh Yihan untuk bersemunyi.

Tidak jauh di depan sana. Yunho berkacak pinggang dengan bibi serta beberapa orang yang Yihan duga sebagai kepala pelayan. Semuanya menunduk, Yunho kembali berteriak. "Bagaimana mungkin Jaejoong tidak ada." Tidak ada jawaban.

"Yoochun, berapa banyak orang yang bekerja kepada kita?"

"Kurang lebih seratus Tuan muda. Belum termasuk pekerja pabrik dan perkebunan teh." jawab Yoochun bingung.

"Aku ingin kau mengumkan pada mereka semua untuk mencari Jaejoong. Katakan kepada mereka akan mendapatkan hadiah besar bagi siapapun yang berhasil membawa Jaejoong selamat tanpa luka sedikitpun." dengan suara yang di yakini semua orang dapat merobohkan rumah biasa, Yunho berkata. "Sekarang."

"Kau mau kemana?" bibi Yuri menghentikan langkah Yunho.

"Berkunjung ke rumah Choi Seung Hyun." tanpa berkata apapun lagi, Yunho seperti berlari menyeberangi aula, berhenti di sisi Yihan. "Aku ingin kau memanggil polisi." lagi lagi tanpa memberikan Yihan kesempatan bicara Yunho meninggalkan pria malang itu.

"Kita baru saja menempuh perjalanan berpuluh puluh kilometer. Tidak adakah segelas air untukku?"

Suara membahana Yunho kembali terdengar dari teras depan. "Tidak sampai Jongieku di temukan."

Untuk pertama kalinya Changmin berkata. Kata yang tidak sepantasnya di ucapkan oleh bocah seusia Changmin. "Hyung itu menakutkan, dia pasti akan membunuh siapapun itu yang bernama Seung Hyun."

Yihan tertawa. Bocah ini di besarkan dengan cara yang salah. Ia menyayangkan itu. "Jika kau nakal, bocah. Yunho juga akan menendang bokongmu keluar dari rumah ini."

-TBC-

Typo bertebaran. EYD makin tidak jelas. Chap ini super panjang... Fiuh-lap keringat-

Semoga tidak mengecewakan dan tidak membosankan. Terima kasih untuk vote dan ripiunya.

Aku sangat senang ada yang memberiku suntikan penyemangat dengan vote dan ripiu kalian semua. Cium satu satu... See u next chap... Lambai tangan.

Masihkan ada yang mau po book kami. Masih tersedia. Cuma ongkir gx free ya. ≥.≤