Title : Say You Love Me

Author : Sherry Kim
Cast : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Other

Genre : Romance, Drama, Family, Sad, HQ, etc...

Rate : M
WARNING
Yaoi. Tidak suka jangan baca.
Alur tidak jelas typo bertebaran.

.. * ..

Jarum jam menunjukan pukul sepuluh malam saat Yunho mengikuti kepala pelayan masuk ke mansion Choi yang megah. Mansion yang sekarang jauh lebih besar dari terakhir Yunho datang berkunjung ketika ia masih kecil.

Di kesempatan lain, mungkin Yunho akan mengagumi keindahan interior perabot dan lainnya yang memenuhi aula utama mansion yang memang di disain untuk memamerkan kekayaan serta kedudukan keluarga Choi kepada para tamu yang datang. Namun tidak untuk saat ini. Pria itu melangkah panjang menaiki tangga dengan tidak sabar.

Meskipun pada awalnya kepala pelayan tidak mengijinkan Yunho masuk tanpa persetujuan sang majikan, yaitu Choi Seung Hyun, kepala pelayan itu tidak memiliki pilihan lain ketika Yunho menunjukan wajah murka serta ancaman dan ia tidak memiliki kesabaran untuk menunggu, tidak jika keselamatan tunangannya di pertaruhkan di sini.

Setiap langkah yang ia ambil terasa semakin tidak sabar, ruangan yang mereka lewati seakan berjarak semakin menjauh dengan kesabaran Yunho yang benar benar di ambang batas. "Tuan besar baru saja kembali, saya harap Anda tidak keberatan menunggu di sini." Kepala pelayan tersebut berhenti di depan pintu sebuah ruangan.

Kedua tangan Yunho terkepal erat menahan emosi mendengar kata. 'kembali' "Dari mana tepatnya majikanmu pergi?"

"Saya tidak tahu Mr. Jung, yang saya tahu beliau terluka , dokter sedang memeriksa beliau dan maaf," kepala pelayan itu mengulurkan tangan, menahan Yunho melangkah maju. "Saya akan mendapatkan masalah jika mengijinkan Anda masuk tanpa memberi tahu Tuan besar terlebih dahulu."

Persetan dengan kemarahan pria itu nantinya. Dengan sekali sentak, Yunho mendorong pria paruh baya malang itu kesamping. Ia menendang pintu berukir indah itu sekuat tenaga sampai terbuka dan membentur dinding dengan suara keras yang tentunya terdengar ke seluruh penjuru mansion.

Choi Seung Hyun terlonjak duduk tegak di sofa mendengar suara hempasan pintu. Pria itu sudah akan membentak siapapun yang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu sampai melihat siapa gerangan tamu tak di undang yang menyerbu masuk.

Jika pria itu terkejut, Seung Hyun hanya memperlihatkannya sekejap lalu wajah pria itu berubah datar. Istrinya, Kwon BoA beserta dokter muda itu pun melonjak terkejut dengan kedatangan Yunho yang mengejutkan. Perban masih berada di tangan dokter itu juga tas kerja di atas meja.

"Kejutan yang menyenangkan. Apa yang membawamu datang berkunjung pada tengah malam seperti ini, teman?"

"Di mana Jaejoong?" Berhenti di hadapan Seung Hyun, kedua tangan Yunho terkepal erat di sisi tubuhnya yang tegang melihat darah di atas kain kasa yang terongok di tong sampah di bawah kaki sang dokter.

"Jaejoong?" Seung Hyun melambaikan tangan kepada kepala pelayan untuk mengantar dokter keluar. Mereka baru saja selesai saat mendengar keributan ketika Yunho datang.

Pintu tertutup di belakang dokter. "Akan aku buatkan teh untuk kalian." Setelah itu, Kwon BoA keluar ruang dengan wajah pucat. Bukan karena melihat luka yang di alami suaminya, melainkan amarah di wajah Jung Yunho.

"Apa kau berniat mengusir semua orang?"

Mengabaikan pertanyaan itu, Yunho berkata. "Katakan di mana Jaejoong? Kesabaranku ada batasnya Seung Hyun." Amarah dalam suara Yunho sedikit pun tidak membuat pria itu tersinggung. Malahan, pria itu menikmati pemandangan dimana Yunho murka.

"Apa kau akan percaya jika aku mengatakan tidak tahu?" Keduanya melirik berkas darah serta sisa obat di atas meja serta tong sampah. "Baiklah. Aku melihatnya." Ia mengakui.

Detik itu juga Yunho menerjang maju. Menarik kerah kemeja Seung Hyun dan menarik pria itu berdiri. "Katakan padaku di mana dia, apa yang kau lakukan kepadanya?" Lantai seakan bergetar saat Seung Hyun berdiri di atas kedua kakinya. Cengkraman pada lehernya membuat pria itu terbatuk, namun tidak membuat pria itu goyah.

"Apa yang aku lakukan kepadanya?" Seung Hyun mencibir. "Kau lihat apa yang dia lakukan kepadaku?" Tangan pria itu menyapu udara. "Dia menyerangku saat aku memergokinya berduaan bersama pria tidak dikenal di hutan... Uhuk." Seung Hyun kembali terbatuk. Cengkraman pada kerah kemeja pria itu semakin mengencang.

"Kau berbohong." Mendorong pria itu mundur. Keduanya meluncur dengan cepat sampai ke sudut rak buku. Yunho masih tidak melepaskan cengkraman tangannya dari leher Seung Hyun. Tidak, ia tidak akan melepaskannya. Setidaknya ia tidak akan membunuh pria itu jika ia masih memegang kendali di sini, Yunho sendiri tertarik untuk melempar tubuh Seung Hyun lalu menghajarnya sampai babak belur. Nanti, ia berjanji, setelah ia mendapat jawaban atas apa yang pria itu katakan tadi.

"Jelaskan." tuntutnya.

"Kau akan membunuhnya, Yunho. Demi Tuhan, lepaskan putraku."
Yunho melirik ke ambang pintu, di sana berdiri wanita tua yang Yunho kenali sebagai Mrs. Choi senior atau Kim Kibum.

Tatapan ketakutan wanita itu memaksa Yunho melepaskan cengkraman kedua tangannya. Ia tidak bisa mengabaikan tatapan memohon seorang ibu yang melihat putranya di sudutkan seperti itu. "Maafkan aku Bibi, aku membuat keributan dalam kunjungan ini."

Wanita itu melangkah menghampiri mereka. Yunho dapat melihat tubuh wanita itu bergetar karena ketakutan saat menghampiri putranya untuk memastikan putranya itu masih bernapas. Seung Hyun segera menghirup napas di antara suara batuk mengerikan pria itu. "Putraku sedang terluka, dan kau malah berniat menyakitinya." Yunho mengagumi keberanian wanita itu meski beliau ketakutan.

Mundur, Yunho memberikan diri sendiri waktu untuk bernapas serta menenangkan diri. Ia menjauh untuk berdiri di depan jendela yang terbuka. Langit tampak cerah dengan bintang berkelip di atas sana, tapi ia tidak menikmati itu sedikitpun. Bahkan dinginnya angin musim gugur yang akan segera berakhir tidak sedikitpun membuat Yunho mengigil.

"Jelaskan padaku, bagaimana bisa Jaejoong melukaimu?" Yunho tidak berputar untuk melihat Seung Hyun saat bertanya.

"Seperti yang aku katakan tadi." Seung Hyun menyahut, suaranya terdengar serak saat melanjutkan. "aku melihatnya bersama seorang pria di makam ibunya. di tanah kami. Aku menyapanya dan tentu saja mengingatkan anak haram itu tentang perjanjian yang dulu kita sepakati."

"Perjanjian apa?" Yunho berbalik. Menatap Seung Hyun penasaran sampai pria itu terlihat malu untuk melanjutkan.

"Mengijinkan ibunya di makam kan di tanah kami, asalkan Jaejoong tidak menginjakkan kakinya lagi di tanah kami sampai kapan pun."

"Brengsek." Sekuat tenaga Yunho menahan amarahnya sampai sakit rasanya merasakan otot di setiap tubuh menegang. "Kau melarang seorang anak berkunjung ke makam ibunya, kau benar benar bajingan."

"Janji adalah janji." Seung Hyun bersikeras. Kali ini pria itu sudah menemukan kembali kekuatan serta keberaniannya. Yunho dapat melihat itu dari tatapan tajam Seung Hyun yang pria itu lemparkan kearahnya.

"Tapi apa yang anak haram itu lakukan, dia menembakku dengan panah. Kau lihat," Musang Yunho melirik perban pada lengan pria itu ragu. "Aku terluka, dan kau menuduhku melukai anak haram yang sebentar lagi akan kau nikahi." pria itu tertawa.

Tawa yang membuat amarah Yunho kembali bangkit. "Kau ingin aku percaya bahwa Jaejoong yang melukaimu?" serigai mengerikan muncul di wajah Yunho. "Aku sangat bangga jika benar Jaejoong yang melakukan itu padamu. Dia hebat karena berhasil melukaimu."

Rahang Seung Hyun terkatup sampai otot pada lehernya timbul. "Kau tidak dengar apa yang aku katakan. Jaejoong bersama pria lain di tengah hutan sana. Bahkan saat aku meninggalkannya tadi mereka masih di sana dan entah hal gila apalagi yang sedang mereka lakukan dalam kegelapan." Yunho menerjang maju.

Mrs. Choi menghalangi kedua pria itu menggunakan tubuhnya. "Tidak Yunho, putraku sedang terluka. Dan itu akibat ulah anak haram itu."

Kali ini Yunho tidak dapat menoleransi apa yang sudah ia dengar. Cukup sudah! "Jika kalian berani memanggil calon istriku dengan sebutan anak haram sekali lagi. Aku bersumpah!" sorot mata tajam yang ia tunjukan kepada Mrs. Choi Kibum sangat meyakinkan sampai wanita itu mundur. "Aku tidak akan tinggal diam." Yunho berbalik untuk pergi, pria itu berhenti di tengah ruangan. "Aku penasaran dengan apa yang terjadi sepuluh tahun silam. Jika tidak keberatan Bibi, kau akan menjelaskan kepadaku suatu hari nanti. Pintu rumahku selalu terbuka untukmu, aku juga akan datang jika mendapat undangan darimu." pria itu terdiam. Melirik kedua ibu dan anak itu melalui bahu dengan sorot mata setajam belati. "Jika kau tidak bersedia mengatakan kenyataan yang ingin aku ketahui, tidak masalah. Aku akan menyewa detective untuk menyelidiki apa yang terjadi saat itu, bahkan jika aku harus mengorbankan semua kekayaanku untuk mendapatkan kenyataan tentang siapa yang menuduh serta menganiyaya keluarga Jaejoong sepuluh tahun silam, aku akan melakukanya."

Kali ini Yunho cukup sopan saat membuka dan menutup pintu. Amarahnya belum berkurang, belum. Kata kata terakhir Seung Hyun menghantuinya. Jaejoong bersama pria lain di hutan sana. Ya Tuhan, ia akan mencekik siapa pun pria itu jika berani menyentuh Jaejoongnya.

Tubuh Mrs. Choi terhuyung setelah kepergian Yunho. Wajah wanita itu sepucat mayat saat mengamati putranya yang masih membeku menatap kearah pintu dengan pandangan sama pucatnya.

"Kesalahan apalagi yang kali ini kau lakukan? Sepertinya kau belum belajar dari masa lalu." Wanita itu mendesah. "Kali ini, aku bahkan tidak dapat menolongmu. Jung Yunho bukanlah Kim Heechul atau Ayahmu yang akan dengan mudah aku atau pun kau ancam untuk melakukan apa yang kau inginkan."

.

。。* 。。

.

Aroma ikan bakar menggelitik hidung Jaejoong. Ia membuka mata sedikit, lalu mengeryit karena otot di sekujur tubuhnya terasa menyakitkan saat ia bergerak.

Pemuda itu berguling, melupakan bahwa ia tidur di atas dedaunan kering yang semalam ia tata asal sebagai ranjang. "Selamat pagi." ia menyapa sosok pria yang duduk di depan api unggun dengan suara serak khas bangun tidur.

"Selamat pagi."

Matahari baru menampakkan diri, menimbulkan aroma basah hutan bercampur dedaunan yang sangat Jaejoong sukai. Pemuda itu terdiam diri untuk beberapa saat sebelum bertanya. "Dari mana kau dapat ikan itu, Hyung?" Bangkit dari rebahan malasnya, Jaejoong melupakan keberadaannya di antara kedua makam. Kakinya membentur bebatuan dan ia pun terjatuh dengan sangat tidak elit bahkan sebelum sempat berdiri.

Suara tubuh serta jeritan Jaejoong mengusik burung burung yang masih tertidur di atas pohon. Pemuda itu mengaduh kesakitan bersamaan dengan pekikan burung yang terusik, dengan tangan mengusap keningnya akibat membentur tanah. "Oh tanah sialan." ia mengumpat.

Jika suara khawatir sosok pria yang duduk di sisi api unggun tidak membuat pemuda itu tersadar. Maka jatuh serta rasa sakitnya mampu membuat Jaejoong sadar sepenuhnya bahwa mereka tidak sendirian. Pria yang ia kira Hankyung sebelumnya bukanlan pria yang sama. Wajah serta pakaiannya pun tidak sama.

"Selamat pagi calon Nyonya besar." pria itu menyapa.

Doe Jaejoong mengerjap. Apakah ia masih berada di alam mimpi, atau sosok Hankyung yang ia kenal kemarin adalah siluman bunglon yang bisa berubah wujub dari pria berwajah tampan ke wajah tampan lainnya.
Ia menggeleng karena merasa bodoh dengan pikirannya sendiri.

Mengamati hutan sekeliling, hutan masih di selimuti kegelapan serta kabut. Ini nyata. Ia tidak bermimpi. Lalu siapa pria asing yang menyibukan diri di sana? Tenggorokan Jaejoong tercekat. Ketakutan menjalar angin musim dingin pada bulan desember membekukan tubuhnya. Dan di mana Hankyung?

Pandangan Jaejoong menangkap gerakan samar tidak jauh di belakang pria yang duduk di depan api unggun. Ia melirik sosok dalam keremangan bayangan pohon itu dengan mata menyipit, pria itu bersandar pada sebatang pohon. Meskipun Jaejoong tidak dapat melihat wajah pria itu dengan jelas, ia yakin, pria itu sedang mengamatinya cermat.

"Siapa?" peryanyaan itu begitu lirih seperti hembusan angin pagi.

Pria itu berdiri tegak dari sandaran malasnya, seakan mendengar pertanyaan yang Jaejoong lontarkan. Langkah kaki pria itu menjauhi pohon, berdiri di antara bayang bayang pohon serta sinar matahari yang mulai menyusup masuk di antara dahan pepohonan, sinarnya yang samar menyinari sosok tinggi itu dengan keajaiban cahaya yang membuat Jaejoong tercekat.

Ya Tuhan. Ia yakin dirinya masih berada di alam mimpi. Jika tidak, bagaimana mungkin Jung Yunho bisa berada di sini. Terlebih, Hankyung bukanlah Hankyung yang kemarin. Pria itu memakai pakaian rapi serta rambut berpotong rapi jauh sembilan puluh derajat dari Hankyung yang kemarin malam bersamanya. "Atau benturan tadi membuatku hilang ingatan." gumam Jaejoong.

"Akhirnya kau bangun juga putri tidur." itu suara Yunho. Ini bukan mimpi, dan sosok itu benar benar Jung Yunho. Ya Tuhan, bagaimana pria itu bisa berada di sini?

Jaejoong mendesah lega. Wajah pemuda itu berbinar senang, ia sudah akan berdiri untuk melemparkan tubuh ke arah pria itu andai tidak ingat kejadian dua minggu terakhir yang mengirimnya ke tempat ini seorang diri. "Yun... " ia kembali duduk di atas tanah.

Meskipun ia bahagia melihat sosok pria yang amat ia rindukan, ia juga ingat bagaimana pria itu meninggalkan dirinya selama enam belas hari. "Akhirnya kau ingat untuk pulang." ujarnya memberenggut.

Alis Yunho menggeryit aneh. Pria itu masih berdiri angkuh di sana dengan pakaian berantakan serta wajah letih karena kurang tidur, kantung mata pria itu terlihat dengan jelas, sepertinya Yunho juga lupa untuk bercukur yang entah mengapa membuat pria itu terlihat semakin tampan dengan bakal janggut di rahangnya yang menghitam.

Jaejoong menggeleng untuk mengusir pikiran itu. Ini bukanlah saat yang tepat untuk mengagumi ketampanan Yunho. "Kenapa kau di sini?"

"Kenapa kau di sini?" Yunho melempar kata kata Jaejoong kembali. Pria itu menyerbu maju dengan langkah lebar, tidak sabar. "Itukah sambutan yang kau berikan setelah perpisahan kita." berdiri menjulang di atas Jaejoong, Yunho berkacak pinggang mengamati kekasihnya.

Wajah lusuh dengan pakaian lusuh pemuda itu serta daun kering menempel di atas rambutnya tidak sedikit pun mengurangi pesona Kim Jaejoong. Tangan Yunho gatal untuk merapikan pakaian serta wajahnya, rambut pemuda itu juga terlihat sangat kusam. Yunho bersumpah akan membuang pakaian lama itu agar Jaejoong tidak mengenakan pakaian gelandangan itu lagi.

"Tahukah kau betapa kami menghawatirkanmu?" kata itu Yunho ucapkan tegas. Berlawanan dengan keinginanya untuk menarik lalu merengkuh Jaejoong ke dalam pelukannya. Demi Tuhan, ia sangat khawatir terjadi sesuatu hal buruk menimpa kekasihnya.

Jaejoong menggeleng. Doe bulat pemuda itu menatap Yunho tanpa rasa takut. Hal yang sungguh menakjubkan mengingat semua orang menghindarinya sejak kembalinya ia dari estat Choi ke kastil pada jam tengah malam.

Semua orang memberi jarak bahkan mereka tidak berani menatap wajah Yunho saat ia bertanya di mana Yoochun berada, tentu saja untuk bertanya tentang letak makam ibu serta saudara Jaejoong.

Dua jam kemudian, Yoochun menemuinya dan itu sebuah kesalahan karena membuat Yunho menunggu sampai ia hampir gila. "Aku pergi ke hutan, memastikan apakah Jaejoong kembali ke pondok itu atau... "

"Beritahu aku di mana letak makam ibu Jaejoong." tanya Yunho tidak sabar. Di antara semua orang, kenapa hanya Yoochun yang mengetahui jalan menuju makan itu yang memaksa Yunho menunggu berjam jam untuk dapat tahu di mana keberadaan Jaejoong.

"Estat Choi. Di salah satu bukit ujung gunung dekat air terjun berbatasan tanah Anda Tuan muda."

"Antar aku ke sana Yoochun. Sekarang!" Yoochun yang malang. Yunho tidak memberi waktu bagi pria itu untuk istirahat dan harus kembali mengantar majikan yang setengah gila kembali ke hutan, menyusuri gelapnya hutan pada jam dua pagi. Perjalanan itu tidak mudah bagi mereka. Gelapnya hutan mempersulit perjalanan mereka meskipun senter membantu menunjukan arah jalan.

Dan di sinilah Yunho. Menemukan Jaejoong tertidur nyaman di antara makam saudara serta ibunya.

"Biarkan dia tetap tidur." ujar Yihan yang mengusulkan diri ikut serta. Pria itu terlihat khawatir Yunho akan membunuh seseorang jika tidak segera menemukan Jaejoong. Yihan merasa kasihan dengan para pelayan yang ikut serta dalam pencarian. Setelah menemukan keberadaan makam dan memastikan Jaejoong dalam keadaan baik baik saja, ia menyuruh Yoochun dan yang lain kembali ke kastil untuk istirahat. Yunho tidak memprotes atau berkata apapun. Pria itu terus mengawasi Jaejoong tanpa mengalihkan pandangan.

Keheningan terasa mengigit di antara mereka. Suara hewan penghuni hutan saling membaur serta api membakar kayu terdengar keras ketika Jaejoong masih betah mengunci mulutnya. Yunho mendesah. Ia tidak bisa marah jika di hadapkan dengan tatapan memelas Jaejoong.

Sepanjang perjalanan mereka menyusuri hutan semalam dalam kegelapan serta kesunyian yang nyata, Yunho menemukan kenapa dirinya hampir gila saat mengetahui Jaejoong menghilang, mengapa ia sampai begitu marah mengetahui Jaejoong tidak sendirian di hutan sana. Ia cemburu. Ya Tuhan, ya, ia cemburu dan Yunho sadar dirinya telah jatuh cinta kepada calon istrinya. Ia mencintai Jaejoong. Kenyataan itu menikam dirinya sampai ia tidak tahu apa yang harus ia perbuat. Menyenangkan sekaligus mengerikan. Ia tidak tahu bagaimana memperlakukan seseorang yang di cintainya, terlebih ia tidak tahu apakah Jaejoong memiliki perasaan yang sama seperti dirinya.

"Yunho." Teriakan Jaejoong mengejutkan Yunho. Pria itu terlalu larut memikirkan banyak hal sampai mengabaikan apa yang baru saja Jaejoong katakan.

"Ya Jongie." suaranya berubah lembut. Ia berlutut di atas satu kaki, tangannya terulur, menarik daun kering dari helaian rambut pemuda itu sebelum merapikan helaian kusut menjadi sedikit rapi. "Kau tahu, kau terlihat jelek saat ini."

"Kau juga." balas Jaejoong sengit. Kening Yunho berkerut mendengar nada suara Jaejoong meninggi. Apa yang di ucapkan Bibinya semalam benar. Jaejoong bukan lah pemuda polos pendiam yang tiga minggu lalu ia temukan di hutan. Pemuda ini bisa sangat keras kepala susah di atur serta cerewet jika dia mau.

"Kau tahu kesalahan apa yang kau lakukan? Dan kali ini, kesalahanmu sungguh fatal." tegur Yunho.

"Apa kau akan membatalkan pernikahan kita karena itu? Apa kau menyesal mengenalku?"

Yihan menjatuhkan ikan yang ia bakar. Pria itu menatap Jaejoong terkejut lalu ke arah Yunho bergantian. Tidak ada lagi wajah membunuh atau pun kemarahan di sana, tidak sedikitpun. Yihan hanya menangkap wajah khawatir serta terkejut karena pertanyaan yang di ajukan Jaejoong. Sama seperti dirinya dan ia sadar bahwa Yunho telah jatuh cinta. Bukan perasaan melindungi seperti yang pria itu ungkapkan sebelumnya.

"Kenapa kau berpikir begitu." Yunho masih terdengar ramah. Yihan berani bertaruh, Yunho menahan diri untuk tidak mengguncang tubuh mungil Jaejoong karena kedua tangan pria itu terkepal di kedua sisi tubuhnya.

"Karena aku anak nakal. Aku kabur dari kastil, aku juga tidak pulang semalam untuk menyambut kepulangan Lord kita ini. Jadi Yunho," Jaejoong menahan air matanya saat berkata. "Kita tidak akan menikah. Kau tidak perlu merasa bersalah atas apa yang telah terjadi, aku sadar aku bukanlah orang yang pantas untuk menyandingmu. Banyak wanita lain yang lebih pantas untuk kau jadikan istri, termasuk adik dari temanmu itu, Ahra."

Menunduk, Yunho berdiri di atas lutut untuk menjajarkan tubuhnya dengan Jaejoong. "Apa yang kau katakan Jongie, dan kenapa kau membawa nama Ahra." Yunho terdiam. Otaknya mulai memikirkan apa yang di ceritakan Seung Hyun semalam.

Menghela napas dalam, Yunho menepis rasa sakit yang menghantam ulu hatinya saat ia lanjutkan. "Katakan padaku, apa yang di katakan Seung Hyun tidak benar? Dan siapa pria itu?"

Wajah Jaejoong memucat, keringat dingin muncul dari pori pori. Apa yang sudah Seung Hyun katakan kepada tunangannya. Pemuda itu berpaling, "Tidak ada." Iapun bangkit untuk menghindari Yunho.

Sebelum Jaejoong mampu berdiri, Yunho menahan pergelangan tangan pemuda itu. "Siapa pria itu? Benarkan kau dan dia...?" Yunho tidak menyelesaikan kata katanya.

"Apa yang dia katakan kepadamu? Apa dia pergi mencarimu, sehingga kau tahu di mana keberadaanku saat ini?" dan di mana Hankyung. Pertanyaan terakhir itu membuat Jaejoong gelisah. Apakah Yunho sudah menahan Hankyung? Ataukah Seung Hyun telah menyakitinya?

Tidak! Tenang Jongie. Ia tidak boleh salah langkah, tidak sebelum tahu apa yang telah terjadi kepada penolongnya, atau ia akan menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang sebelumnya tidak ada. Dan jika Yunho mempertanyakan keberadaan pria misterius itu. Kemungkinan besar Yunho tidak melihat Hankyung saat pria itu datang, mungkinkah Hankyung tahu Yunho akan datang, dan memilih pergi ketika ia tertidur.

Menghela napas, Jaejoong mencoba menahan amarah yang mulai bangkit dari sisi yang telah lama tertidur. Sangat jarang ia marah, bahkan dulu sekali. Nakal, mungkin ia. Dan berani beraninya Yunho meragukan dirinya dan memilih mempercayai orang lain ketimbang ia, tunangannya.

"Sebelum aku mencarimu kemari. Aku lebih dulu pergi menemuinya."

"Kau pergi ke estat Choi? Kenapa?" Jaejoong tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.

"Saat aku kembali dan semua orang mengatakan kau tidak ada di manapun, hal yang ada dalam benakku adalah Seung Hyun menculikmu. Hanya dia satu satunya orang yang menginginkan kau menderita." Pria pintar. Jaejoong mengagumi itu, hanya saja bodoh jika Yunho berpikir Seung Hyun membawanya ke estat beliau atau sebagainya. Tidakkah pria itu memikirkan ribuan tempat lain untuk membunuh Jaejoong.

Yunho melepaskan pergelangan tangan Jaejoong. Pria itu bangkit untuk berdiri di hadapan Jaejoong. "Aku tidak tahu lagi harus mencarimu ke mana. Itulah sebabnya aku mencarimu ke sana."

"Dan tidak menemukanku. Lalu dia mengatakan sesuatu yang buruk tentangku dan kau mempercayainya."

Gurat malu dalam wajah Yunho sudah menjawabnya. Pria itu meragukan Jaejoong. Ia tidak akan menyalahkan Yunho jika pria itu ragu terhadap dirinya. Mereka saling mengenal baru sebulan lamanya, hal itu dapat ia pahami.

"Kau tahu Yunho, kau benar benar bodoh. Aku ingin memikirkan kembali pernikahan ini, jika kau tidak mempercayaiku. Akan lebih bijaksana jika kita tidak menikah."

Kali ini Yunho membiarkan Jaejoong berjalan melewatinya. Musang pria itu terpejam. Tenang, masalah tidak akan terselesaikan jika emosi menguasai diri. Ia sudah belajar dari pengalaman sebelumnya, yang terpenting ia sudah memastikan bahwa pemuda itu baik baik saja. Mereka hanya butuh waktu untuk berpikir jernih, terutama dirinya yang telah di butakan oleh api cemburu.

"Kau tidak berniat mengejarku?"
Jaejoong berdiri di sana. Terbungkus cahaya matahari dengan kemilau yang menakjubkan.

"Apa kau ingin aku mengejarmu?"

Gerakan itu hanya seperkian detik. Yunho tidak memiliki waktu untuk menghidari sesuatu yang Jaejoong lempar ke arahnya. Yunho menahan pekikan kesakitan saat suatu benda keras mencium keningnya. Batu, benda itu mendarat di sebelah kakinya saat ia mengangkat tangan untuk menahan erangan. Ya Tuhan, ia tidak mempercayai ini. Jaejoong menimpuknya dengan batu.

Pemuda itu berjalan melewati Yihan yang tertawa terpingkal pingkal. Mengabaikan ikan yang pria itu bakar masuk ke dalam bara api. Jaejoong terus melangkah tanpa menoleh untuk sekedar memastikan. Ia dongkol setengah mati, sampai tidak sadar ia telah melukai Yunho sampai berdarah.

"Aku suka dia." ujar Yihan sambil menyeka air mata karena tawa. "Ya Tuhan, ini pertama kalinya aku melihatmu seperti ini Yunho."

Alis Yunho menggeryit. "Seperti apa?"

"Tidak memiliki kata untuk mendebat." Yihan kembali tertawa terpingkal. Yunho mengabaikan pria itu dan berjalan mengikuti kemana Jaejoong pergi. Jika Jaejoong berpikir dia sudah bebas tanpa hukuman, dia salah besar.

"Bawa barang barang Jaejoong Yihan, jangan lupa matikan api itu. Atau kau akan membakar hutan ini." tawa pria itu seketika lenyap. "Apa kau pikir aku pesuruhmu. Yah, Jung Yunho." teriakan Yihan menggema di hutan. Ia mengumpat sebelum mencari sesuatu untuk memadamkan api sebelum ia di tinggal semakin jauh oleh mereka semua.

Hey ia tidak tahu jalan pulang dan tidak ingin menginap di sini, lagi. Tidak akan pernah!

Tidak jauh dari sana, dari balik pohon di bukit yang lebih tinggi. Seseorang berjalan berlawanan arah dari arah yang mereka tuju, Hankyung memasukan kembali teropong miliknya ke dalam ransel miliknya. Senyum samar terpatri di bibirnya sebelum ia berlari menuju kuda miliknya yang ia ikat tidak jauh dari sana.

-TBC-

Typo bertebaran. EYD tak beraturan.
Terima kasih untuk semuanya. Sudah meluangkan waktu menunggu dan membaca cerita ini dan meninggalkan jejak. Aku senang ff ini masih banyak yang menikmati meskipun alurnya naik turun seperti jalan berbatu.

? terima kasih yang sudah memberi masukan serta saran. Sangat membantu. -BOW-