Title : Say You Love Me

Author : Sherry Kim
Cast : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Other

Genre : Romance, Drama, Family, Sad, HQ, etc...

Rate : M
WARNING
Yaoi. Tidak suka jangan baca.
Alur tidak jelas typo bertebaran.

。。* 。。

.

.

Mereka kembali ke kastil ketika matahari sudah cukup tinggi dengan panas yang mulai membakar bumi mereka terlilah lelah sesampainya di kastil. Semua orang menyambut kembalinya Jaejoong dengan wajah berbinar senang serta sambutan yang membuat Yunho terkejut.

Sepertinya selama ia meninggalkan Gwangju dua minggu terakhir telah membuat banyak perubahan, Yunho tidak akan heran jika semua pelayan lebih mengenal Jaejoong ketimbang dirinya.

Meskipun begitu, Yunho maupun Jaejoong terkejut mendapati semua pelayan menyambut mereka layaknya menyambut keluarga mereka sendiri. Bukan tidak suka, tentu saja bukan! Melainkan mereka merasa terharu karena mereka di perlakukan layaknya keluarga sendiri. Mereka tidak perlu mengatakan hal itu, terlihat jelas di bola mata setiap orang yang mereka lewati saat memperhatikan Jaejoong berjalan bersamanya memasuki halaman kastil.

Tidak heran jika mereka semua memiliki perasaan sayang terhadap Jaejoong, Yunho mendapati tunangannya itu mampu memahami mereka semua serta menghapal nama nama para pelayan yang jumlahnya melebihi lima puluh orang bahkan sampai penjaga gerbang maupun pekerja istal. Itu mengejutkan, Yunho sendiri hanya mengingat beberapa nama dari mereka.

Para pelayan segera bertanya apa yang Jaejoong butuhkan, beberapa dari mereka bahkan sudah berlari ke lantai atas, kamar Jaejoong untuk menyiapkan kebutuhan serta air hangat untuk pemuda itu mandi. Mereka begitu sangat perhatian sampai membuat kedua bola mata indah Jaejoong berkaca kaca. Perasaan ini terasa menyenangkan, seakan ia di sambut oleh keluarga besar meskipun mereka tidak memiliki ikatan darah. Seperti dulu ketika ia dan saudaranya pergi bermain terlalu lama dan kembali mendapati ibunya khawatir menunggu mereka di teras rumah.

Yunho berjanji akan memperlakukan mereka semua lebih baik dari sebelumnya, karena ia sadar, selama ini ia di perlakukan dengan sangat istimewa, terlepas ia majikan yang memberikan mereka gaji, mereka semua bersikap begitu tulus menjaga serta memenuhi kebutuhan Yunho.

"Biarkan dia istirahat." Kata itu meluncur sedikit lebih tegas. Bagaimanapun juga Yunho tidak tahan mereka semua mengerumuni Jaejoong seperti lebah mengerumuni madu. Dan jika boleh jujur ia cemburu dengan perhatian yang mereka semua berikan terhadap tunanganya.

Jaejoong sendiri merasa bersyukur atas itu. Seluruh tubuhnya terasa pegal, ia ingin segera pergi ke kamar untuk berendam air hangat sekarang juga. Namun perhatian semua orang membuatnya terharu, sampai pelupuk matanya terasa panas.

Bibi Yuri menyambut Jaejoong di pintu depan. Wajah wanita itu terlihat lelah meski senyum menghiasi wajahnya. Kekhawatiran terlihat jelas di sana setelah melihat penampilan Jaejoong yang berantakan.

"Jongie sayang." Dengan kata itu Jaejoong tahu, ia telah membuat kesalahan besar dengan membuat semua orang menghawatirkan dirinya, terutama bibi Yuri yang telah begitu baik kepadanya.

"Maafkan Jongie." Ia menunduk, merasa bersalah karena pergi tanpa pamit.

Wanita itu merengkuh Jaejoong ke dalam pelukan, membisikan kata 'tidak apa apa, semua baik-baik saja' yang membuat Jaejoomg ingin menangis tersedu. Oh, bibi Yuri membuatnya merindukan ibu.

Yunho membiarkan bibinya membimbing Jaejoong menaiki tangga untuk istirahat sebelum makan siang, atau lebih cocok di sebut makan siang lebih awal.

Ia juga butuh mandi dan istirahat setelah semalaman menjelajahi hutan untuk mencari Jaejoong. Otot tubuhnya terasa menyakitkan, ia baru menyadari itu. Sepertinya berendam air hangat terdengar menggiurkan.

Sebelum Jaejoong menaiki tangga, Yunho berkata. "Kita akan bicara setelahnya, Jongie, temui aku setelah kau membersihkan diri." Bibi Yuri sudah akan menyahut namun wanita itu urungkan setelah melihat tatapan tajam yang Yunho arahkan kepadanya.

Pemuda itu tidak berkata apa-apa selain mengangguk. Jaejoong membiarkan dirinya di seret oleh bibi Yuri menaiki tangga, berbelok ke lorong menuju kamarnya.

Sesampainya di kamar, ia terlalu lelah untuk menyadari para pelayan yang hilir mudik di kamarnya. Ia membiarkan Junsu dan pelayan lain membantunya menanggalkan pakaian serta menuntunya ke dalam kamar mandi, uap mengepul dari dalam bak, Jaejoong tidak sabar untuk berendam di sana.

Desahan lelah keluar dari bibirnya. Ia menutup mata dan membiarkan pelayan pria mengambil pakaian kotor dan meninggalkan ia sendirian di dalam bak mandi yang luas itu.

Satu jam kemudian, ia keluar dari kamar dengan wajah segar serta semangat yang menggebu. Ia sudah sangat lapar, sebelumnya ia tidak menyadarinya sampai Junsu mengingatkan tentang sarapan mereka yang tertunda.

Bibir Jaejoong mencebil saat pemuda itu mengingat Yunho ingin berbicara dengannya. Sambil menggerutu menuruni tangga menuju ke lantai dasar. Menyusuri koridor menuju sayap kanan kastil ruang kerja Yunho. Ia hampir saja lupa karena terlalu bersemangat untuk mencicipi resep baru koki yang sudah koki mereka janjikan sebelumnya.

Ketukan pelan terdengar dari arah pintu. Menarik perhatian Yunho dari kumbang taman serta bunga yang ia perhatikan di luar sana. "Masuk." sedikit pun Yunho tidak bergerak untuk melihat siapa.

Bersandar pada meja dan menatap keluar jendela sana, pria itu masih memunggungi pintu saat terdengar pintu terbuka lalu tertutup di belakang.

Langkah kaki yang tersamarkan oleh karpet masih terdengar samar. Langkah itu berhenti lalu di susul suara dehaman ringan yang Yunho kenal baik milik siapa.

Yunho tetap diam. Begitu juga Jaejoong. Keduanya saling membisu dalam ruangan yang hanya di isi suara lirih detak jarum jam sampai Jaejoong kembali berdeham untuk menarik perhatian Yunho.

"Aku datang." cicit suara lembut itu. Yunho menyadari suara Jaejoong sangat indah. Pagi ini ia tidak menyadari itu.

"Kau sudah merenungkan apa kesalahanmu?" Pria itu menjauh dari meja, berjalan kearah jendela untuk menyibak korden lebih terbuka, masih membelakangi Jaejoong.

"Ya." lagi lagi Jaejoong hanya berkata lirih.

"Apa kau menyesali apa yang sudah kau lakukan?" kali ini Yunho berputar menatap Jaejoong. Cahaya dari luar jendela membuat mata Jaejoong silau, yang hanya mampu melihat bayangan tubuh Yunho berjalan mendekat dengan begitu gagahnya.

"Aku tahu. Maafkan aku."

Mengitari meja, Yunho berhenti tidak jauh dari tempat Jaejoong berdiri. Pria itu kembali menjauh lalu duduk di sofa tunggal dan mengangguk kearah seberang meja. "Duduklah."

Jaejoong ragu sebelum menuruti. Sofa itu terasa keras sampai ia tidak merasakan kenyamanan saat mendaratkan bokongnya di sana.

"Tidak hanya aku yang butuh permintaan maafmu, kau tahu itu, bukan?"

Jaejoong hanya mengangguk. Pemuda itu tidak berani menatap Yunho meskipun pria itu tidak berkata kasar atau pun keras seperti pagi tadi daat marah. "Aku akan meminta maaf kepada bibi Yuri, pelayan serta yang lainnya. Apa itu cukup?" Akhir ia memberanikan diri menatap wajah tampan tunangannya.

Yunho mengamati Jaejoong dalam diam. Dua minggu perpisahan mereka telah membuat Jaejoong jauh berbeda. Kedua pipi tirus pemuda itu terlihat lebih menggemaskan serta tubuh berisi yang cukup indah di pandang. Yunho menyadari itu saat Jaejoong melihat untuk pertama kalinya pemuda itu berada di ruangan ini.

Petang tadi, ia tidak melihat kelebihan kekasihnya itu karena pakaian kedodoran yang Jaejoong kenakan. Beruntung Yunho telah meminta kepada pelayan untuk melenyapkan pakaian itu, berjaga jaga jika kekasih nakalnya ini berniat untuk kabur lagi, meskipun tanpa pakaian itu Jaejoong bisa saja tetap keluyuran kemana-mana.

"Kau membuat kami semua khawatir. Aku tidak melarangmu keluar Jongie, hanya saja kau tidak boleh sendirian. Kau butuh pengawalan ketat mengingat tidak jauh dari sini ada seseorang yang begitu ingin mencelakaimu." Tubuh Jaejoong berubah tegang, pemuda itu menatap Yunho dengan doe yang lebih lebar serta bola mata sehitam bulu burung gagak saat pemuda itu khawatir.

Mengehela napas, Yunho mencoba menenangkan diri. Ia tidak ingin membuat Jaejoong khawatir ataupun marah seperti tadi pagi, jika hal itu terjadi, keduanya tidak akan bisa berpikir jernih untuk mengatakan keinginan mereka satu sama lain. Yunho ingin Jaejoong terbuka atas apa yang pemuda rasakan dalam hal apapun.

"Aku ingin kau menceritakan apa yang membuatmu pergi tanpa pamit, aku menginginkan kejujuran Jongie. Dan jika kau berbohong, aku akan mengetahuinya." Jaejoong tidak meragukan itu. Entah bagaimanapun caranya Yunho selalu tahu saat ia berbohong.

"Aku lapar, bolehkan kita pergi makan terlebih dahulu." Agar ia bisa memikirkan kebohongan apa yang akan ia jelaskan kepada Yunho tentang Seung Hyun dan jati diri penolong tampannya.

"Aku tidak ingin kau mengalihkan topik yang sedang kita bahas." ujar Yunho lebih tegas.

Jaejoong beringsut di tempat duduknya. Pemuda itu menatap Yunho dengan tatapan memohon. "Aku hanya bosan, kau pergi terlalu lama dan aku tidak di ijinkan keluar kastil oleh mereka." Adunya dengan suara lirih. Yunho mengulum senyum melihat ketakutan bercampur merajuk dalam suara kekasihnya itu.

"Bahkan Paman Yoo tidak mengijinkanku bermain ke istal, itu sangat menyebalkan."

"Istal bukanlah tempat bermain, di sana tempat paman Yoo merawat kuda kuda, Jongie."

"Mereka selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Itu lebih menyebalkan Yunho." imbuh Jaejoong, mengadu owh.

"Aku yang memerintah mereka melakukan itu, dan lihatlah hasionya berkat kenakalanmu. Aku heran, bagaimana kau bisa bertahan di hutan selama lima tahun terakhir. "

Jaejoong memberenggut. Rona merah menghiasi wajahnya saat amarah kembali muncul mengingat bagaimana semua orang mengawasinya layaknya ia seorang tahanan. Berbeda dengan ia tinggal seorang diri di hutan. "Bahkan mereka tidak mengijinkan aku mendekati gerbang. Mereka pikir aku akan kabur."

Yunho memang memerintahkan penjaga untuk tidak mengijinkan Jaejoong mendekati pintu gerbang. Untuk mencegah suatu hal buruk terjadi, yang ternyata terjadi juga. "Aku minta maaf karena pergi terlalu lama. Aku juga minta maaf karena mengurungmu di dalam kastil, lain kali jika aku pergi tetaplah di kastil, dan jika kau ingin bepergian ajaklah seseorang yang aku tugaskan untuk mengawalmu. Apa kau paham?"

Meskipun enggan Jaejoong tetap mengangguk. Ia tidak ingin membuat masalah ini semakin besar hanya karena ia keras kepala. "Kau sudah memaafkanku?" ia bertanya penuh harap.

Yunho berdeham. Duduk lebih tegak di kursinya. "Kau harus mendapatkan hukuman." Doe Jaejoong mendelik horor. "Aku sudah meminta maaf, bukan." pekiknya.

Keterdiaman Yunho membuat Jaejoong semakin beringsut di sofa yang pemuda itu duduki. "Kemarilah Jongie." Yunho memberi perintah.

Wajah Jaejoong berubah horor. "Aku sudah meminta maaf." ketegasan dalam tatapan Yunho menarik Jaejoong untuk bangkit. Pemuda itu menggerang pelan. Wajahnya memucat saat bangkit dari sofa dan mengitari meja. "Yunnie." panggilan manja itu membuat alis Yunho bergerak gerak.

"Jangan merajuk." Meraih tangan Jaejoong mendekat, Yunho memutar tubuh kekasihnya dan menarik Jaejoong ke dalam pangkuannya dalam keadaan tengkurap. Memukul bokong Jaejoong tiga kali dengan pukulan keras yang tentunya menghasilkan pekikan terkejut pemuda itu.

"Ini hukuman yang pantas untuk kau terima. Jika ada lain kali, maka aku akan menyuruh penjaga istal untuk menggunakan cambuk saat memukulmu, dasar anak nakal."

.

。。* 。。

.

Isakan tangis pemuda itu belum juga berhenti. Musang pria yang duduk nyaman pada sofa memperhatikan pemuda yang masih menangis dalam diam. Kalau boleh jujur Yunho tidak suka menghukum Jaejoong, apalagi memukul pemuda itu. Akan tetapi Yunho harus melakukanya agar Jaejoong jera dan tidak mengulangi kesalahan pemuda itu lagi dan lagi. Atau lambat laun Jaejoong akan membahayakan nyawanya sendiri.

Rasanya seperti tikaman belati menyayat jantung saat membayangkan suatu hal buruk terjadi pada Jaejoong. Yunho tidak ingin hal itu terjadi, maka dari itu ia harus bertindak tegas dalam masalah ini. Sekarang, setelah mendengar cerita pemuda itu tentang apa yang telah di lakukan Seung Hyun terhadapnya membuat amarah Yunho kembali berkobar.

Berani beraninya Seung Hyun melukai kekasihnya, dan seandainya tidak ada seseorang yang lewat, Yunho tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi kepada Jaejoong. Jika ada kesempatan ia akan berterima kasih kepada penolong misterius itu.

Membayangkan hidup tanpa Jaejoong membuat Yunho mengigil, ia tidak ingin kehilangan lebih banyak lagi, sudah cukup ia kehilangan saudara ayah bahkan ibunya. Mengingatvakan lal itu hanya membuat ia semakin di landa kegelisahan jika suwaktu waktu ia tidak berada di sisi Jaejoong atau meninggalkan pemuda itu untuk urusan bisnis ke kota. Tidak mungkin bukan, bahwa ia harus membawa serta Jaejoong kemanapun ia pergi, dan meskipun itu ide yang cukup menarik, Yunho tidak yakin Jaejoong akan menyetujui keinginannya.

"Aku akan menyewa seseorang untuk menjagamu selama dua puluh empat jam." tatapan Jaejoong terangkat. Doe pemuda itu memerah sembab saat menatap Yunho. Hal itu membuat rasa bersalah mengelayuti pundak Yunho.

"Oh sayangku." beranjak dari sofa, Yunho menghampiri Jaejoong dan duduk di sisinya. "Aku minta maaf, aku tidak berniat menyakitimu, kau tahu itu." isakan Jaejoong semakin keras.

Perhatian yang di berikan Yunho hanya membuat pemuda itu semakin merasa bersalah. "Maafkan Jongie. Jongie janji tidak akan berbuat nakal." Menarik kekasihnya ke dalam pelukan. Lengan Yunho merengkuh tubuh kekasihnya, menghirup aroma sabun apel yang Jaejoong gunakan untuk berendam.

"Tidak apa apa." mendudukan kekasihnya di atas pangkuan, Yunho merogoh saku celananya. Mengeluarkan cincin yang ia beli sewaktu di kota. "Aku lupa memberimu cincin pertunangan, sebenarnya aku membelinya di Gwangju, hanya saja lupa memberikan ini sebelum aku pergi ke kota "

Cincin itu cukup sederhana. Bercorak emas indah di kedua sisi dengan warna silfer di tengah dengan ukiran rumit yang menakjubkan. "Apa ini mahal?" Jaejoong mengamati jari jarinya dengan takjub.

"Ya. Itu mahal." Yunho tidak dapat menahan senyum saat melihat doe pemuda itu melebar. "Kau tidak suka?"

Pemuda itu menggeleng. "Suka! Hanya saja aku takut menghilangkan benda mahal ini."

Tawa Yunho menarik sepenuhnya perhatian Jaejoong. Pemuda nakal ini telah membuat hidupnya jungkir balik dari ketenangan menjadi tak karuan. "Oh Jongie, aku sangat senang kau baik baik saja."

Pelukan itu terasa erat membungkus sisi tubuh Jaejoong. Jaejoong menyadari kasih sayang pria itu terhadapnya begitu sangat besar, itu membuat dirinya merasa bersalah karena membohongi Yunho dengan tidak mengatakan siapa pria yang menolong dirinya. Entah mengapa Jaejoong ingin merasahasiakan jati diri pria itu.

Dengan sikap malu malu ia mengalungkan kedua lengannya di leher Yunho. Menyurukan wajah pada lekukan leher pria itu dan berbisik. "Aku mencintaimu."

Jaejoong merasakan tubuh Yunho berubah kaku. Apakah pria itu terkejut mendapati dirinya telah mengatakan kata itu dengan mudahnya, dan apakah Yunho juga mencintainya.

"Jangan." bisik Jaejoong. Mengeratkan lenganya untuk memeluk Yunho. "Jangan jawab. Aku tidak ingin tahu apa yang kau rasakan." karena Jaejoong tentu paham, seseorang seperti Yunho tidak mungkin mencintai dirinya. Yunho terlalu jauh untuk ia raih, pernikahan ini hanya untuk membebaskan kutukan, ia paham. Dan ia tidak ingin membuat Yunho berpikir buruk tentang dirinya karena dengan lancang ia mencintai pria itu. Cukup dengan keberadaan pria itu di sisinya sudah sangat membuatnya bahagia.

Pernyataan Jaejoong membuat Yunho terkejut. Baru tadi pagi ia mengakui perasaanya sendiri terhadap Jaejoong, sekarang ia mengetahui perasaan kekasihnya terhadapnya. Mereka saling mencintai, ia merasa senang sekaligus takut karena ia berhatap pernikahan ini akan berjalan selamanya.

Harapan itu tidak berani Yunho rengkuh. Ia ingin hidup sampai tua bersama Jaejoong, tapi mungkikah. "Jadi kau ingin menikah denganku?"

Menarik diri, Jaejoong menatap pria itu terkejut. "Tentu saja!"

"Syukurlah. Karena tadi kau mengatakan tidak ingin menikah denganku."

Kepalan tangan Jaejoong memukul dada bidang Yunho. "Aku hanya bercanda."

"Cium aku." serigai nakal Yunho berhasil membuat rona wajah Jaejoong kembali muncul. "Cium aku dengan sepenuh hati. Beritahu aku betapa besar kau menciniku agar aku yakin kau mencintaiku." Jemari Yunho menyusup di tengkuk Jaejoong, menuntun pemuda itu kearahnya.

Jaejoong membuka diri. Mempertemukan bibir mereka dalam ciuman lembut yang berubah menuntut.

Kepolosan pemuda itu membuat Yunho ingin tertawa, bibir Jaejoong penuh semangat bergerak di atas bibirnya, menuntut gerakan lebih dari bibir Yunho yang di penuhi pria itu pada detik berikutnya.

Lumatan bibir Yunho mengagetkan Jaejoong. Pria itu begitu sangat menuntut untuk ciuman ini. Ini melebihi apa yang Jaejoong kehendaki karena ia merasa tidak akan pernah puas hanya dengan ciuman. Ia ingin lebih, namun ia tidak tahu apa yang ia inginkan.

"Yun." Jaejoong memekik saat Yunho mengangat tubuhnya lalu membaringkan Jaejoong di sofa. Pria itu menarik kaos Jaejoong ke atas, mempelihatkan perut rata Jaejoong yang selembut sutera di bawah tekanan jemari panah Yunho.

Yunho menekan tubuh Jaejoong dengan lembut, menyusuri denyut nadi pada leher jenjang Jaejoong dan menimbulkan pekikan tertahan Jaejoong. Ia ingin lebih, ia ingin kelembutan Jaejoong pada dirinya. Tapi tidak sekarang. Ciuman sederhana itu berubah cumbuan yang memabukan. Keduanya larut dalam kenikmatan surga dunia sampai keduanya melupakan waktu sudah betapa lama mereka di sana. Saling memberi menerima serta menuntut lebih.

Yang keduanya tahu adalah. Mereka menginginkan satu sama lain.

.

。。* 。。

.

Shim Changmin menatap hidangan di atas meja dengan tatapan lapar. Seumur hidup ia belum pernah melihat hidangan sebanyak serta semewah ini. Tidak juga saat ia masih hidup bersama ayahnya yang menurut ia kaya sebelum pria itu meninggal.

Pandangan bocah berusia tujuh tahun itu melirik sosok pemuda cantik yang duduk di seberang meja. Bersebelahan dengan pengacara kakak tirinya yang tampan. Calon istri kakaknya.

Pemuda itu sangat cocok dengan Yunho yang tampan. Ya, kakak tirinya, Jung Yunho memang tampan. Changmin mengakui itu saat melihat pria itu untuk pertama kalinya di yayasan.

"Siapa namanya?" terdengar suara dari seberang meja. Suara lembut yang langsung Changmin sukai, suara itu mengingatkan dirinya kepada almarhum ayahnya yang memanglah seorang penyanyi.

"Shim Changmin." Bibi Yuri yang duduk di sebelah Changmin menyahut. "Usianya baru tujuh tahun, mulai sekarang dia akan tinggal bersama kita."

"Dengan kalian, Bibi." Yihan menyahut. "Aku akan kembali ke Seoul setelah Yunho menikah."

"Kau yakin dia adikmu?" Jaejoong menatap Yunho dengan mata menyipit penuh selidik. "Bukan putramu?"

Hening untuk beberapa saat.
Bahkan semua orang tidak bergerak atau bernapas sampai seorang pelayan tanpa sengaja menjatuhkan piring di atas meja mendengar apa yang Jaejoong katakan. Pelayan wanita tersebut segera menunduk meminta maaf sebelum mundur kembali ke lorong menuju dapur.

Yuri menatap Yunho lalu Changmin. Yunho tahu apa yang di pikirkan bibinya saat ini. Mencari kemiripan di antara mereka. "Dia bukan putraku." kepada Jaejoong Yunho berkata. "Ya Tuhan, apa yang ada di dalam otak cantikmu itu Jongie." Jari telunjuk Yunho mendorong kepala Jaejoong sedikit lebih keras. "Jangan pernah berpikir aku bercinta dengan orang lain selain dirimu lalu meninggalkan wanita itu dalam keadaan hamil, meninggalkan putraku bersamanya tanpa tanggung jawab atas anak itu."

Dehaman Yihan menyadarkan Yunho tentang apa yang baru saja ia katakan. Pria itu melirik bibi Yuri yang melongo hebat menatap keponakannya lalu Jaejoong dengan pandangan yang susah Yunho artikan.

"Maksudku... Bibi, ini tidak seperti apa yang kau bayangkan."

Yuri menggeleng. Wanita itu tersenyum lebar dan mengedip kearah Jaejoong. "Tidak apa apa. Beberapa hari lagi kalian akan menikah, dan Jongie," wanita itu menyerigai senang. "Sekarang aku tahu dari mana kau mendapat tanda merah di lehermu. Tadinya aku sempat khawatir karena berpikir itu gigitan nyamuk saat kalian di hutan, sekarang aku tahu jika itu gigitan keponakan polosku. Dan sekarang aku anggap keponakanku itu tidak polos lagi."

"Demi Tuhan Bibi, ada anak kecil di sini."

"Kau yang memulainya bukan aku." Yuri membalas sengit.

"Tapi tidak seharusnya bibi berkata lebih dari itu, kau yang paling tua di sini." Yunho segera menutup bibir rapat menyadari sepatah kata yang paling di benci bibinya.

"Siapa yang kau anggap tua nak?" dengan senang hati Yuri mendaratkan sendok dalam ayunan sayang kearah kepala keponakannya.

Pertikaian pun terjadi. Jaejoong menghela napas melihat bibi serta Yunho bertengkar. Yunho benar benar telah melupakan kedudukan serta siapa ia jika sudah mulsi berdebat dengan bibinya.

Pandangan Jaejoong mengamati bocah itu, Changmin yang duduk di sebelah bibi Yuri dalam diam. Tatapan lapar bocah itu ke arah makanan yang terhidang membuat Jaejoong tersenyum.

"Aku lapar." Jaejoong menghentikan pertikaian keduanya hanya dengan dua kata.

"Kita makan." Yunho mengabaikan bibi Yuri sebenuhnya. Mengalihkan perhatian sepenuhnya kepada Jaejoong.

Senyum Jaejoong mengembang melihat helaan napas Changmin saat mendengar kata Yunho barusan. Bocah itu sudah mengangkat sumpit saat menyadari tatapan yang Jaejoong tunjukan. Jaejoong salah tingkah, ia tidak berniat membuat anak itu takut. Jaejoong menyesali tatapannya karena detik itu juga Changmin menaruh kembali sumpitnya.

"Oh tidak!" pekik Jaejoong. "Kau harus makan. Jangan salah karena aku memperhatikanmu. Aku hanya senang karena aku memiliki teman baru di sini."

Untuk pertama kalian setelah mereka masuk ke ruang makan. Yunho menatap Changmin, bocah itu menatap semua orang tanpa rasa takut. Hal itu telah menunjukan keberanian bocah itu, Yunho juga sadar tidak mudah untuk mendidik Changmin menjadi anak penurut setelah kehidupan bocah itu selama dua tahun di panti asuhan.

Yunho mencoba tersenyum untuk anak itu. Dan mendapai bocah itu terkejut karenanya. Kalau di ingat ingat, Yunho belum pernah bicara atau tersenyum ke arah Changmin, sebelum ini ia lebih suka memberi Yihan tanggung jawab untuk mengurus adik tirinya ini. Setelah kembalinya Yihan ke Seoul nanti, serta kepergian bibi Yuri ke Busan setelah pernikahan ini usai, Yunho harus mencari pelayan untuk menjaga anak itu sebelum Yunho memasukan anak itu ke sekolah.

Yunho tidak yakin Changmin menyukai Jaejoong karena tatapan bocah itu begitu tajam saat menatap calon istrinya. Ia merasa khawatir, ini tidak akan mudah. Terlebih akan ada dua bocah yang akan Yunho awasi mulai hari ini. Jaejoong dan Changmin.

Astaga, memikirkan keduanya sudah membuat kepalanya pening. Ia harus segera menyuruh Yoochun mencarikam pelayan pribadi untuk Jaejoong. Agar ada orang yang mengawasi calon istrinya itu selama dua puluh empat jam. Terlebih, mereka akan sibuk dan kedatangan banyak tamu menjelang hari pernikahan. Hal itu akan memberi banyak peluang bagi siapapun untuk menyakiti Jaejoong. Ia harus bertindak cepat.

-TBC-

Typo bertebaran, EYD tidak beraturan.
Terima kasih untuk kalian yang sudah ngasih masukan saran dan juga vote.

Semoga ff ini tidak membosankan.
Sherry selalu menerima masukan dari kalian. Silahkan tinggalkan komentar pada kotak pandora(?)