Title : Say You Love Me
Author : Sherry Kim
Cast : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Other
Genre : Romance, Drama, Family, Sad, HQ, etc...
Rate : M
WARNING
Yaoi. Tidak suka jangan baca.
Alur tidak jelas typo bertebaran.
.
"Selamat pagi." sapa Junsu saat memasuki kamar Jaejoong dengan wajah bersinar seperti mentari pagi. "Bagaimana keadanmu hari ini Jongie. Apakah gugup karena besok kau akan menikah?" pemuda yang telah Yunho tunjuk untuk menjadi pelayan pribadi Jaejoog itu menutup pintu. Mengamati calon nyonya besar Jung dengan mata menyipit.
Jaejoong sendiri masih berada di atas ranjang, bergelung nyaman dengan mata tertutup rapat saat bertanya. "Apa sudah pagi?"
Pertanyaan itu terdengar konyol mengingat cahaya dari jendela mulai menerobos masuk ketika Junsu menyibak korden itu kearah yang berlawanan. Menerangi penjuru kamar dengan sinar keemasan yang mengagumkan.
"Matahari sudah di atas kepala Nyonya besar. Turunlah, Tuan muda memiliki kejutan untukmu di ruang kerja beliau."
Doe Jaejoong melebar sempurna. Pemuda itu beranjak duduk untuk mengamati Junsu yang menyibukan diri bersama dua pelayan lain yang mulai menyiapkan kebutuhan Jaejoong di pagi hari seperti biasa.
"Kejutan apa?" Wajah kusut serta rambut berantakan Jaejoong membuat Junsu tertawa. "Mandilah terlebih dahulu. Setelah itu turun sendiri untuk melihat kejutan apa yang Tuan muda siapkan." Junsu mulai menarik selimut untuk di rapikan. Memaksa Jaejoong berguling ke sisi lain ranjang. Kembali bermalas malasan.
"Kau tahu Jongie. Tadi ketika aku menuju kamari berpapasan dengan pelayan tuan muda Changmin, dia mengatakan menemukan rempah makanan di balik selimut anak itu." Junsu mendesah dramatis lalu terkikik. "Pelayan itu menggerutu karena harus mengganti seprai kembali setelah pagi ini menemukan hal yang sama di ranjang Tuan muda Changmin. Aku bertanya tanya, apakah tuan muda makan dengan toples kue di balik selimutnya." Jaejoong juga terkikik membayangkan hal konyol itu.
"Itu kebiasaan yang buruk, aku akan memberitahu Yunho nanti untuk menegurnya. Bisa bisa anak itu akan di datangi tikus ketika tidur." grutu Jaejoong.
Kedua pelayan lain mendongak dari kesibukan yang mereka lakukan. Mengamati sekeliling mendengar apa yang baru saja di ucapkan calon istri majikan mereka.
Sebelum Jaejoong bangkit menuju kamar mandi, ia mendengar mereka berbisik. "Apa mungkin di kastil seindah ini ada tikus?" Ia menahan senyum yang mungkin akan meledakan tawa.
Tikus tidak memilih tempat untuk mereka tinggali, bukan. Mereka akan tidur dimana saja ketika tidak ada orang yang mengusik keberadaan mereka.
Jaejoong masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, memgabaikan ketakutan pelayan tentang tikus yang tidak mereka ketahui benar adanya.
Ketika ia keluar, Junsu bersama dua pelayan lain sudah membereskan kamar dan menaruh pakaian bersih untuk Jaejoong kenakan di atas ranjang. Kebiasaan ini mulai membuat dirinya jadi pemalas, mungkin ia tidak dapat melakukan apapun untuk suaminya ketika mereka menikah nanti. Karena semua pelayan sudah memenuhi kebutuhan mereka semua dengan sangat baik.
Hal itu membuat dirinya kecewa. Jauh di dalam benak Jaejoong, ia menginginkan kehidupan sederhana dalam pondok kayu sebagai rumah, bangun dengan kesibukan menyiapkan sarapan serta melayani suaminya sebelum bekerja sepanjang hari.
Di sini ia mendapatkan segalanya bahkan sebelum bicara. Bukannya ia tidak suka, ini sebuah keajaiban karena siapa yang mengira seorang Kim Jaejoong yang di benci sebagian warga estat sebelah karena asal usulnya yang tidak jelas menjadi calon istri pemilik estat Jung.
Ia sangat bersyukur karena pria setampan Yunho mau menerima dirinya apa adanya.
"Di mana Yunho?" usai mengenakan pakaian santai, ia berjalan kearah kaca setinggi badan untuk mengamati penampilan dirinya.
Sempurna. Ia terlihat rapi sekarang.
"Beliau menunggu di ruang kerja bersama Yoochun dan kejutan lain untukmu Jongie." lagi, wajah Junsu berbinar bahagia.
Jaejoong penasaran, apakah kebahagiaan di mata Junsu itu karena kejutan yang akan ia lihat dari Yunho atau karena menyebut nama Yoochun.
Bodoh jika Jaejoong tidak menyadari ketertarikan Junsu terhadap pria itu terhadap Yoochun, yang naasnya tidak di sadari oleh pria dengan jidat di atas rata rata tersebut. "Aku akan menemuinya sebelum sarapan. Apakah Yunho sudah sarapan?"
"Sudah. Tuan muda baru saja kembali dari rumah mandor kebun teh, beliau ingin memastikan semua baik baik saja sebelum pernikahan kalian besok." Sepanjang perjalanan mereka menuju ruang kerja Yunho, Jaejoong bertanya tanya. Apa yang tidak di ketahui pelayan di rumah ini karena mereka nyaris tahu segalanya tentang kebiasaan serta pikiran Yunho yang bahkan tidak Jaejoong ketahui.
Pintu ruang kerja dalam keadaan terbuka sedikit. Jaejoong mengamati pintu kayu yang terbuat dari kayu mahoni berdisain indah itu dengan alis mengeryit.
Tidak biasanya Yunho membiarkan pintu terbuka ketika dia di dalam.
"Selamat pagi Yunho, selamat pagi Yoochun." Jaejoong memberi salam, melenggang masuk seakan ruangan itu adalah ruangan pribadinya sendiri.
Berjalan menuju ke tempat duduk Yunho. Pemuda itu tidak menyadari keterkjutan Yoochun dan wajah pria itu yang sedikit lebih pucat dari hari ke hari kalau saja Bibi Yuri tidak menegur pria itu di hadapan mereka.
"Kau butuh liburan Yoochun." Pelayan yang datang bersama bibi Yuri menaruh teh di meja untuk mereka. Mengangguk kearah Jaejoong sebelum menghadap kearah sosok pria lain yang berdiri di samping pria itu, bibi Yuri menambahkan. "Jadi, dia yang akan kau tugaskan untuk menjaga Jaejoong." Pria tampan dengan tinggi serta tubuh profesional. Lebih tinggi dari Yoochun namun Yuri yakin tidak lebih tinggi dari keponakannya, Yunho.
"Pria yang tampan. Berapa usiamu?"
"Tiga puluh lima." Jawab pria itu sopan.
Suara itu menarik perhatian Jaejoong yang sibuk bertatapan muka dengan Yunho. Doe pemuda itu mengerjap untuk meyakinkan diri bahwa pria itu memiliki wajah yang sama dengan penolongnya yang membuat ia penasaran dengan meninggalkan dirinya di pagi hari di hutan.
"Hyung." teriak Jaejoong, pemuda itu menyerbu kearah Hankyung.
Semua mata menatap terkejut kearah Jaejoong dan pria asing yang akan Yunho tugaskan untuk menjaga Jaejoong dua puluh empat jam itu dengan penasaran.
"Kau mengenalnya Jongie?" Yunho bertanya. Kedua lengan pria itu bersedekap di depan dada angkuh melihat kedua tangan Jaejoong dan Hankyung yang saling bertautan.
"Ya!" Jaejoong mengoyangkan tangan mereka yang masih bertautan kesana kemari sambil melompat kecil karena senang. Mengabaikan tatapan membunuh yang di arahkan Yunho kepada mereka.
"Namanya Hankyung, dialah yang menyelamatkanku di hutan ketika Seung Hyun mencekik leherku."
Cangkir dalam genggaman Yuri jatuh ke lantai, teredam karpet meski cairan teh itu menodai karpet dan harus segera di cuci. "Seung Hyun?"
Yunho menggeram.
Jaejoong menahan napas menatap Yunho karena merasa salah bicara. Ia dan Yunho sudah sepakat untuk tidak mengatakan kejadian yang ia alami di hutan kepada siapapun agar tidak menjadi masalah dan lihatlah apa yang di lakukan pemuda itu ketika senang?
Melihat wajah bibi Yuri memucat, Yunho segera menambahkan. "Untung lah Hankyung datang dan menyelamatkan Jaejoong, sehingga Jaejoong baik baik saja dan tidak mengalami luka yang lebih parah." Ia menjelaskan. Mencoba menenangkan bibinya itu yang gagal.
Tatapan Yuri mengamati Jaejoong lebih seksama. Sekarang ia sadar. Tanda merah pada leher Jaejoong semakin parah dengan bentuk yang aneh, sepasang jari atau cengkraman pada rahang bagian atas terlihat jelas jika ia mengamati lebih seksama.
Yuri menahan napas. Ya Tuhan, itu bukanlah hasil cumbuan nakal keponakannya seperti yang ia bayangkan dua hari terakhir. Bodohnya ia karena tertipu muslihat keponakannya itu. "Aku ingin kau lapor polisi Yunho. Ini penganiyayaan dan menyangkut nyawa calon menantuku." Yuri berdiri kaku, wajah wanita itu mengeras dengan bola mata mendelik karena murka.
"Bibi." Yunho berkata lembut. Pria itu bangkit dari kursinya untuk mengampiri bibinya yang berdiri tidak jauh dari meja. "Aku sudah memperingatkan keluarga Choi untuk menjauhi Jaejoong, peringatan itu bukan main-main dan lagi pula Jaejoong baik-baik saja."
Saat Yuri ingin angkat bicara Jaejoong menambahkan dengan cepat. "Aku yang meminta Yunho untuk tidak memberitahu yang lain, lagi pula aku baik baik saja. Lihatlah." Pemuda itu merentangkan kedua tangan. "Dan itu semua berkat Hankyung Hyung." Jaejoong kembali menarik narik lengan Hankyung, pemuda itu begitu sangat bahagia melihat pria itu sampai Yunho harus berdeham beberapa kali untuk menarik perhatian kekasihnya.
"Bisa kau lepaskan tanganmu Jongie." Yunho tidak perlu berkata dua kali karena detik itu juga Jaejoong memucat mendapatkan delikan galak darinya. "Pergilah sarapan. Aku masih harus bicara dengan Mr. Han."
"Tidakkah aku boleh mendengarnya? Untuk apa bertanya kepadanya lagi, aku ingin Hankyung Hyung menjadi pengawalku. Dan jika kau menolaknya Yunho, lupakan tentang pernikahan kita besok." Itu hanya ancaman, semua orang tahu itu.
Tapi jelas Yunho tidak suka kata itu keluar dari bibir indah Jaejoong yang menggodanya sejak pemuda itu memasuki ruangan.
"Jika kau mengatakan hal itu sekali lagi Kim Jaejoong. Aku akan menciummu setelahnya tidak perduli di manapun kita berada." Tatapan membunuh itu membuat Jaejoong bergidik. Ia mundur selangkah dan bergumam 'aku lapar' sebelum melesat keluar ruangan di ikuti Junsu.
Melihat amarah keponakannya membuat Yuri menarik diri, jika mereka ingin mengabaikan masalah ini apa hak dirinya untuk menentang. "Baiklah. Lupakan masalah di hutan. Aku harus melihat persiapan pernikahan besok. Aku ingin segalanya sempurna dan sore ini akan ada lebih banyak keluarga jauh kita yang akan datang untuk menginap." Yuri pun undur diri bersama Yoochun mengekor di belakang wanita itu.
Yunho berdeham. Menatap Hankyung dengan tatapan tegas seperti sebelum Jaejoong memasuki ruangan beberapa saat lalu.
"Aku berutang kata terima kasih karena kau telah menolong calon istriku. Aku tidak membayangkan jika... "
"Tidak masalah. Aku hanya tidak sengaja lewat dan menemukan Mr. Choi berada di sana sedang melakukan tindakan yang sungguh tidak manusiawi. Lupakan masalah itu, aku bersedia menjaga Jaejoong sampai kau merasa dia aman dan kapanpun kau ingin memberhentikanku aku akan pergi."
"Kenapa?"
"Apa." Hankyung menatap Yunho bingung.
"Kenapa kau bersedia menolong Jaejoong? Kau tahu siapa Seung Hyun, pria berkuasa yang mungkin akan mencarimu untuk balas dendam." Tidak ada apapun di wajah Hankyung yang dapat memberi tanda atas apa yang pria itu pikirkan. Pria itu menyembunyikan perasaanya dengan sangat baik.
"Aku mengerti jalan pikiran Anda Mr. Jung. Tapi aku yakinkan Anda bahwa aku tidak menganal Seung Hyun dengan baik sampai harus takut kepadanya. Aku pria bebas, pengemabara, suka kekebabasan yang melangkah kemanapun aku ingin."
"Dan sekarang kau ingin menetap? Di sini?" Yunho bersandar pada punggung kursi, mengamati pria itu dengan musang yang tajam. "Jangan salahkan aku jika aku mencurigaimu Mr. Han, ini menyangkut keselamatan calon istriku, Jaejoong, aku akan melakukan apapun untuk melindunginya dari bahaya, bahkan jika harus dengan nyawaku sendiripun, aku akan melakukannya."
Hankyung terdiam. Pria itu hanya menatap Yunho tenang seperti sebelumnya. "Aku mengerti. Aku juga akan melakukan hal yang sama jika mendapat kepercayaan Anda atas keselamatan Jaejoong."
"Apa aku punya pilihan?" Wajah tenang Yunho berubah khawatir. "Meskipun aku tidak mempercayaimu sepenuhnya bahwa kau tidak memiliki hubungan apapun dengan Seung Hyun, aku tidak yakin Jaejoong akan melepasku begitu saja seandainya aku menolakmu. Yoochun juga telah memilihmu, jika tidak, kaki tanganku itu tidak akan membawamu kemari."
"Aku tersanjung. Terima kasih. Aku berjanji akan menjaga Jaejoong dengan nyawaku sendiri sebagai taruhanya."
Menghela napas dengan frustasi, Yunho menggeram. Ia benci kepada siapapun yang memperlakukan dirinya dengan begitu sopan. "Kau tidak usah terlalu sopan, santailah. Aku lebih suka kau bersikap sebagai teman ketimbang atasan dan bawahan mengingat kita akan sering sekali bertemu. Aku menyerahkan keselamatan Jaejoong untuk kau jaga. Hari ini akan ada banyak sekali tamu dan juga besok. Berhati hatilah."
Keduanya berjabat tangan. Menyepakati kerja sama mereka dalam satu hal. Menjaga Jaejoong.
Meski dalam hati Yunho masih meragukan Hankyung, ia tidak berani menolak atau ia akan berhadapan dengan kemurkaan Jaejoong.
。。* 。。
"Siapa yang akan menjadi walimu?"
Jaejoong mengalihkan perhatiannya dari piano. Wali. Ya Tuhan, bagaimana bisa ia melupakan siapa yang akan menjadi walinya. "Apakah harus pihak keluarga? Bibi tau aku tidak tahu siapa Ayahku." Itu benar. Jaejoong memang tidak tahu siapa ayahnya.
"Apa kau tidak memiliki seseorang untuk menjadi walimu, kerabat jauh atau seseorang yang ingin kau jadikan wali?"
"Seandainya Paman Siwon masih hidup, beliau tentu akan dengan senang hati menjadi waliku." Jaejoong merenung. Tidak ada sanak saudara yang ia milikki untuk ia jadikan sebagai wali. "Bagaimana dengan Yoochun, dialah orang paling baik sedunia." tentunya setelah Yunho.
Semenjak keluarganya meninggal dan hidup sebatang kara di hutan selama lima tahun, Yoochun lah yang selalu menjenguk serta membawakan makanan serta kebutuhan lainnya jika pria itu memiliki kesempatan berkunjung. Meskipun tidak setiap hari, pria itulah yang paling berjasa dalam kelangsungan hidup Jaejoong ketika pemuda itu putus asa untuk bertahan hidup.
Yuri menggeleng. "Tidak! Yunho tidak setuju, begitu pula aku."
"Kenapa? Yoochun adalah pilihan terakhirku. Tidak ada orang lain yang ku kenal selain dia. Tentu saja kecuali Seung Hyun, dan aku tidak yakin pria itu akan bersedia." baik Jaejoong maupun bibi Yuri bergidik ngeri membayangkan pria itu menjadi wali Jaejoong.
Tuhan pun tahu keduanya tidak akur, bukannya membawa Jaejoong ke altar, pria itu akan dengan senang hati menculik Jaejoong seandainya memiliki kesempatan.
"Itu mengerikan. Jangan bercanda nak."
"Kalau begitu Yoochun." Jaejoong bersikeras. "Aku akan meminta dia untuk jadi waliku."
Yuri buru buru menghadang langkah Jaejoong. "Tidak! Kau harus merundingkan ini dengan Yunho. Aku juga tidak yakin Yoochun akan bersedia menjadi walimu."
Bagaimana mungkin pria itu bersedia menyerahkan Jaejoong kepada pria lain untuk di nikahi. Ketika pria itu sendiri mengingikan Jaejoong untuk dirinya sendiri jika di beri kesempatan.
Baik Yunho maupun Yuri tidak buta untuk melihat ketertarikan Yoochun kepada calon istri Yunho ini, namun tidak untuk Jaejoong. Pemuda itu terlalu polos untuk menyadari ketertarikan Yoochun serta pengorbanan pria itu selama menjaga serta melindungi Jaejoong dari dunia luar. Dari pihak Jaejoong,l sendiri, pemuda itu menganggap Yoochun sebagai keluarganya sendiri.
Yuri mendesah. Ia tidak setega itu untuk meminta Yoochun menjadi wali Jaejoong. Itu sama saja dengan membubuhkan garam di atas luka yang masih berdarah.
"Bibi tahu di mana Yunho?"
"Di mana lagi kalau bukan ruang kerjanya. Dia sedang bicara dengan para pelayan, memastikan mereka melakukan tugas mereka dengan baik selama pesta resepsi pernikahan, padahal aku sudah memberitahunya bahwa itu adalah tugasku, namun calon suamimu itu ingin memastikannya sendiri."
"Kalau begitu aku akan mencarinya." Detik itu juga Jaejoong melesat pergi keruang kerja Yunho yang bersebelahan dengan ruang duduknya.
Hankyung mengikuti pemuda itu dengan setia. Menjaga jarak meski tidak terlalu jauh untuk memastikan keselamatan Jaejoong, tidak peduli jika mereka berada di dalam kastil sekalipun pria itu sangat berhati hati.
Jaejoong mengintip dari pintu yang terbuka sediki untuk melihat keadaan di dalam. Pelayan yang bibi katakan tadi telah pergi, hanya ada Yunho bersama Yihan serta Changmin, si bocah kecil yang mendengarkan nasehat Yihan mengenai sekolah yang akan bocah itu ikuti setelah pesta pernikahan ini.
"Kau paham nak. Jadi tentukan pilihanmu." Yihan memperingatkan.
"Aku tidak suka asrama. Aku ingin belajar bersama anak-anak lain di desa ini."
Jaejoong melangkah masuk tanpa suara. Mengamati tiga penghuni lain di ruangan itu yang tidak menyadari kehadirannya.
"Aku lebih suka anak ini tinggal di asrama. Pelajaran di sana lebih berbobot serta ajaran sopan santun yang tentunya akan mendidik anak ini untuk menjadi jati diri yang lebih baik."
Changmin tidak mengatakan apa apa selain menunduk. Jaejoong merasakan bocah itu gelisah karena kedua kaki bocah itu bergoyang kesana kemari dengan tidak nyaman.
"Apapun yang Changmin inginkan, maka itu yang akan ia dapatkan. Aku juga bersekolah di desa ini kalau kau ingat itu, Yihan. Dan itu terjadi sebelum bibi membawaku ke Busan dan memasukanku ke asrama, lalu mengirimku ke inggris di usiaku delapan belas tahun."
"Tapi Yunho... "
"Itulah yang akan Changmin dapatkan Yihan, aku tidak ingin memaksa Changmin jika dia tidak ingin pergi ke asrama. Aku juga tidak ingin bocah itu berpikir bahwa aku tidak menginginkanya seperti ibu kami tidak menginginkan kami. Jadi, dia akan sekolah di desa bersama anak-anak lain."
Dari keterkejutan yang di lihat Yunho pada wajah Changmin, bocah itu sepertinya memikirkan jawaban yang sama ketika Yunho memberinya pilihan antara asrama atau sekolah biasa. Anak itu tentu berpikir Yunho tidak menginginkannya karena berniat mengirim anak itu jauh jauh dari kastil. "Apa kau setuju Changmin?"
Bocah itu mengangguk kelewat bersemangat. "Ya. Aku ingin sekolah di sini." Sorot mata terimakasih di tunjukan bocah itu tanpa kata. Yunho melihat dirinya dalam diri bocah itu ketika ia seumuran dengan Changmin, ketika ibu yang ia anggap sebagai malaikat dari surga meninggalkan dirinya bersama ayahnya.
"Boleh Jongie gabung."
Semua mata beralih kearah Jaejoong. Pemuda itu sudah berdiri melewati pintu dan tersenyum lebar kearah Yunho. "Pintu tidak di tutup rapat, jadi aku masuk." Ia menghampiri meja kerja Yunho, di mana Yihan duduk sedangkan Changmin berdiri di sama mengamati Jaejoong dengan tatapan yang tidak dapat Jaejoong baca.
"Hai Changmin, apa kau betah di sini?" Alis tipis bocah itu bergerak aneh mendengar sapaan akrab Jaejoong yang di tunjukan kearahnya.
"Lumayan." jawabnya malu.
Jaejoong berdecak. "Jujurlah, kau lebih suka di sini ketimbang di tempatmu yang dulu, bukan?" yang di jawab anggukan antusias bocah itu.
"Kau membandingkan neraka dan surga Jongie." Jaejoong melirik kearah Yihan yang menyahut. Pria itu mengedipkan mata kearahnya dengan senyum lebar yang mengerikan. Jaejoong mengabaikan pria itu untuk kembali menatap Changmin.
Ia merasa kasihan kepada bocah ini, tapi tidak tahu bagaimana caranya untuk dapat mengakrabkan diri bersama bocah yang selalu menghindarinya. "Aku merasa kau terlalu tinggi untuk anak seusiamu. Kau juga terlalu kurus. Apa yang kau makan?"
Mata bambi Changmin menyipit, menatap Jaejoong tersingung. "Aku tidak terlalu tinggi, aku hanya tumbuh lebih cepat dari yang seharusnya. Dan karena itu berat badanku tidak dapat mengimbangi pertumbuhanku yang cepat."
"Kau yakin, karena aku melihatmu makan hanya sedikit."
"Aku akan makan lebih banyak saat kita makan malam nanti." Bocah itu menjawab tanpa rasa takut.
Baik Yihan maupun Yunho menghela napas dalam, ini tidak akan mudah ketika Changmin akan tinggal di kastil yang sama dengan istrinya itu. Keduanya akan selalu cekcok dan Yunho sebagai penengah.
Yihan mencoba melerai. "Anak-anak, tenanglah."
"Aku bukan anak-anak," Jaejoong menyahut. Menunjuk Changmin ia berkata. "Dialah yang anak-anak."
"Aku sudah tumbuh lebih tinggi, aku juga bukan anak-anak lagi." Changmin tidak mau kalah.
Yihan mengatupkan bibir. Ia tidak ingin menyahut lagi karena hanya akan mendapat masalah.
Yunho sendiri menggeleng lemah, memijat pangkal hidungnya lelah menyaksikan keributan itu. "Jongie sayang, katakan padaku apa tujuanmu datang kemari?"
Pertanyaan itu menghentikan Jaejoong untuk kembali mendebat Changmin. Jaejoong menatap pria yang besok akan menikah dengannya itu beberapa detik dalam keheningan. "Untuk apa aku kemari?" ia mengulang pertanyaan itu. "Aku ingin membahas siapa yang akan menjadi waliku. Kau tidak mengijinkan Yoochun untuk menjadi waliku, kenapa?"
Tudingan itu hanya membuat alis Yunho bergerak ke atas. Ia tidak ingin menjawab pertanyaan itu, namun ia juga tahu Jaejoong akan terus merajuk jika ia tidak menjawabnya. Jadi ia berkata. "Pilihlah orang lain, seseorang yang mungkin begitu berarti bagimu serta kau sayangi." Ia memberi saran.
Keterdiaman Jaejoong menyibukan pikiran pemuda itu. Jaejoong terliat berpikir keras untuk menemukan siapapun selain Yoochun. "Kau." ia menunjuk Yunho. "Aku tidak yakin kau bersedia meninggalkan setatusmu sebagai calon suamiku dan berganti wali."
Tubuh Yunho menegang, pria itu duduk tegak dan mendelik kearah Jaejoong. "Jangan bercanda!" Ingin rasanya Yunho memberikan jitakan sayang kepada kekasihnya itu karena selalu bicara seenaknya sendiri.
"Kalau begitu hanya Yoochun yang memiliki kandidat terkuat."
"Tidak adakah pria lain yang berarti bagimi, pernah menolongmu, menyelamatkan nyawamu dan... " Yunho terdiam.
Musang pria itu menatap sosok pria yang berdiri di sisi pintu. Jaejoong pun menatap kearah yang sama dengan tatapan berbinar yang sama setelah menemukan subyek yang tepat.
Ketenangan dalam ruangan yang tiba tiba menarik perhatian Hankyung. Pria itu sibuk mengamati buku yang memenuhi lemari yang menyatu dengan dinding sampai ke atap sebelum terusik oleh sesuatu yang terasa mengganjal.
Ia menoleh kearah kerumunan itu dan mendapati tatapan Yunho serta Jaejoong mengamatinya. "Ada yang salah?"
Kedua tangan Jaejoong terangkat dan bergoyang kesana kemari. Senyum pada bibir semerah cherry itu membuat Hankyung tidak nyaman karena Tuan muda Yunho juga mengamatinya dengan serigai yang ia tahu bukanlah pemandangan yang indah ketika di tunjukan kepada seorang pria seperti dirinya.
"Hyung." Jaejoong menerjang maju menangkap lengan Hankyung untuk menggoyangkannya antusias. "Mau kah kau menjadi waliku besok?"
"Tidak!" Hankyung menjawab cepat serta lantang. "Kenapa harus aku. Kau tahu aku bukan ayahmu."
"Aku tidak punya Ayah, dan aku pun tidak tahu di mana Ayahku berada. Aku bahkan tidak tahu beliau masih hidup atau sudah meninggal." Jaejoong merasakan otot dalam lengan Hankyung mengeras. Ia mengabaikan perasaan aneh itu untuk kembali memohon. "Ayolah Hyung. Kau adalah penyelamatku. Jika bukan karena kau aku sudah pasti akan... "
"Baiklah." Hankyung memotong ucapan Jaejoong. "Setelah ini kita impas. Jangan meminta yang aneh aneh karena aku hanya ingin bekerja di sini dan mendapatkan uang. Tidak lebih."
Gerakan reflek. Jaejoong memeluk pria itu erat sampai membuat Hankyung kuwalahan. Pria itu membiarkan dirinya di peluk sedemikian rupa karena tidak memiliki cara untuk lepas diri dari Jaejoong.
Ya Tuhan.
Suara dehaman Yunho menyadarkan Jaejoong bahwa mereka tidak sendirian. Tatapan membunuh pria itu yang di layangkan kearah Hankyung membuat Jaejoong melepaskan diri dari Hankyung lalu menjauh. "Dia sudah setuju, jadi kita sudah menemukan wali untukku. Aku harus memberi tahu bibi Yuri."
Usai Jaejoong melesat keluar. Hankyung masih berdiam diri di sana. Menatap langsung kearah musang Yunho yang mengamatinya tajam. "Ku harap kau tidak melupakan tugasmu di sini. Jangan berharap lebih karena aku tidak akan diam saja." ujar Yunho tegas.
Hankyung tahu bahwa ia tidak memiliki hak untuk bicara. Ia tetap diam tanpa kata sebelum menunduk memberi salam sebelum menyusul Jaejoong yang entah sudah berada di mana.
Jung Yunho, pria itu terlihat mengerikan jika sedang cemburu. Hankyung harus berhati-hati untuk tidak membuat pria itu cemburu terhadapnya. Meskipun susah ketika Jaejoong akan selalu berada di sisinya sepanjang hari berlalu.
-TBC-
Next Yunjae nikahan.
Yang mau ikutan yumbang, sini kirim ke nomer rec Sherry kkk...
.
.
Typo bertebaran, EYD tak beraturan dan tidak jelas.
Menerima kritik dan saran yang masih bersangkutan dengan FF ini.
No Bash.
Thanks too yang sudah meninggalkan jejak dan vote.
