Title : Say You Love Me
Author : Sherry Kim
Cast : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Other
Genre : Romance, Drama, Family, Sad, HQ, etc...
Rate : M
WARNING
Yaoi. Tidak suka jangan baca.
Alur tidak jelas typo bertebaran.
.
.
.
Ikatan dasi pada leher pria yang saat ini berdiri di luar pintu gereja sangatlah rapi. Jauh dari apa yang biasanya pria itu kenakan setiap harinya.
Meskipun merasa tidak nyaman dengan pakaian yang ia kenakan, Hankyung mencoba tetap tenang. Entah karena cuaca yang tidak tepat atauvapa, sekujur tubuhnya terasa lembab karena keringat.
Ia merasa hari ini cukup panas meski bulan oktober sudah akan berlalu, ataukah karena alasan lain, misalnya, sebentar lagi ia akan mengantar Jaejoong kepelaminan, menyerahkan Jaejoong kepada Yunho dan mengucap janji suci pernikahan.
Hankyung mondar mandir, gelisah.
Apakah ini keputusan yang tepat, ia tidak pernah berpikir akan mendapat kehormatan dengan menjadi wali bagi pemuda manis itu hari ini. Bahkan ia tidak membayangkan akan menjadi wali bagi siapapun sebelumnya. Terlebih, Jaejoong.
Jas lengkap dengan dasi serta sepatu mengkilap yang Mr. Jung belikan untuk pria itu terlihat pas di tubuh tinggi Hankyung, mengubah pria urakan itu menjadi pria tampan yang di lirik dua kali oleh para tamu undangan yang secara tidak langsung melewati pria itu beberapa menit lalu.
Hankyung berdeham, mencoba menghilangkan kegugupan yang ia rasakan. Pria itu tertegun, menahan napas melihat Jaejoong turun dari mobil pengantin yang membawa pemuda itu datang ke gereja keluarga Jung yang di dirikan tidak jauh dari pusat desa setepat.
Yuri beserta pelayan lain mengikuti Jaejoong menghampirinya. Pemuda itu terlihat semakin menawan dalam balutas jas putih tulang serta kemeja softpink serta dasi tersimpul rapi di leher. Tidak ada hiasan apapun di atas kepala seperti yang Hankyung bayangkan. Namun tak mengurangi pesona pemuda itu dalam kepolosan yang indah.
Cahaya matahari menyinari pemuda itu dengan tidak adil. Bagaimana Jaejoong bisa begitu bersinar dalam pakaian itu ketika orang lain belum tentu mendapatkan pencahayaan yang sama. Lagi, Hankyung berdeham saat rombongan kecil mempelai itu sampai pada undakan pertama gereja.
"Kau sangat tampan Hyung." ujar Jaejoong memuji Hankyung sebelum pria itu sempat menyapa Jaejoong.
Baik bibi Yuri serta yang lain memandang pria itu dengan sorot mata takjub yang sama terangnya dengan manik Jaejoong. Hanya saja Hankyung tidak memperdulikan yang lain selain pemuda ini.
Jaejoong sendiri mengamati Hankyung dengan tatapan kagum. Pria itu jauh lebih tampan dalam balutan jas hitam serta rambut yang di pangkas rapi. Jauh dari rambut panjang berantakan khas pria itu.
"Kau jauh lebih menawan Jongie." Hankyung mengulurkan tangan, menyambut tangan Jaejoong untuk bersiap memasuki gereja.
"Kau siap?" Jaejoong hanya mengangguk singkat. Hankyung menemukan pemuda itu gemetar di bawah sentuhan tangannya meskipun Jaejoong mencoba terlihat tenang saat dirinya menempatkan lengan pemuda itu pada lekukan lenganya sendiri.
Hal yang wajar jika Jaejoong gugup, bagaimana pun juga ini adalah hari penting bagi pemuda itu. Hari pernikahan yang akan mengubah kehidupan Jaejoong untuk selamanya.
Pintu gereja terbuka, mengirim cahaya baru memalui pintu tinggi itu sampai ke seluruh ruangan. Gereja yang sudah menjadi saksi pernikahan seluruh anggota keluarga Jung itu memiliki interior yang sama menakjubkan, dengan tiang tinggi serta kokoh menyangga langit langit, jendela jendela tinggi di kedua sisi memberikan pemandangan indah lain saat menyinari seisi ruang yang cukup besar untuk ukuran gereja sebuah desa.
Dengan langkah anggun keduanya berjalan beriringan, melewati tamu tamu penting yang tidak satu pun Jaejoong kenali, tidak sedikit pula warga desa setempat yang hadir memenuhi bangku untuk menyaksikan pernikahan pria yang sangat mereka hormati di daerah ini. Mereka tersenyum lebar ketika mempelai melangkah memasuki gereja lebih dalam diiringi suara tepuk tangan tamu serta musik.
Jaejoong tidak memperhatikan sekeliling lagi. Pandanganya jatuh kepada pria tampan yang berdiri di depan sana dengan setelah jas putih serta kemeja softblue, menunggunya.
Jung Yunho terlihat sangat tampan dengan pakaian apapun, namun, kali ini berbeda karena pria itu terlihat lebih menawan dari biasanya. Jaejoong hampir menangis bangga menyadari pria itu akan menjadi miliknya tak lama lagi. Suaminya.
Langkah demi langkah membawa Jaejoong ke hadapan Yunho, pria itu tersenyum kearah Jaejoong lalu berpindah menatap Hankyung, mengulurkan tangan untuk menyambut mempelai yang akan menjadi istrinya beberapa saat lagi dengan senyum mengembang sempurna.
Hankyung ragu sejenak. Melirik Jaejoong yang juga menatapnya dengan geryitan samar di kening karena tidak segera menyerahkan pemuda itu kepada mempelai pria.
"Berbahagia lah, Jongie." Kedua mata pria itu berkaca kaca.
Jaejoong berpikir jika ayah menjadi wali dalam pernikahannya ini, berdiri di hadapannya saat ini sama seperti Hankyung, apakah ayah akan menghawatirkan hal yang mungkin sama dengan yang di katakan Hankyung? Memintanya untuk berbahagia serta menangis saat Yunho mengambil alih tempat serta tempat pria itu sebelum menghadap pendeta.
Jaejoong melirik ke belakang sebelum sepenuhnya menghadap kearah pendeta. Ia melihat Hankyung berjalan pergi keluar gereja, meninggalkan dirinya dengan perasaan aneh yang ia sendiri tidak tahu mengapa.
Kenapa pria itu menangis?
"Kau gugup?" pertanyaan Yunho menarik perhatian Jaejoong kearah pria itu. Sekali lagi Jaejoong terpesona, cahaya dari kedua sisi jendela menyinari tubuh Yunho, membuatnya dapat melihat dengan jelas rahang pria itu yang tercukur rapi serta pantulan cahaya yang bermain dengan mata teduh saat menunduk kearahnya.
Pendeta memulai dengan membaca doa pembukaan, upacara pun di mulai. Para tamu mendengarkan dengan kidmat saat pendeta bertanya kepada mempelai untuk mengucapkan janji pernikahan di hadapan Tuhan.
Mereka semua seakan menahan napas saat Yunho serta Jaejoong menyatakan sumpah setia seumur hidup dengan suara yang lebih dari cukup untuk mereka dengar. Begitulah, merekapun menjadi pasangan suami istri.
"Silahkan cium mempelai... " Yunho tidak membiarkan pendeta menyelesaikan ucapannya karena pria itu segera mencium bibir menggoda Jaejoong.
Ia sudah sangat menginginkan bibir itu sampai tergoda untuk menarik Jaejoong ke dalam ruangan lain, lalu menghujani pemuda itu dengan ciuman ciuman memabukan lainnya tanpa memedulikan sekeliling andai saja ia tidak menahan diri.
Tawa di sekeliling mereka menyadarkan Yunho bahwa ia terlalu berlebihan mencium istrinya. Tubuh Jaejoong meluncur ke lantai, berpijak di atas kedua kakinya sendiri setelah Yunho melepaskan dekapan hangat pria itu yang membuat Jaejoong merasa kehilangan kehangatan dari tubuh suaminya.
Ucapan selamat menyertai mereka. Bunga bunga bertaburan menghujani kedua mempelai kala keduanya berjalan keluar gereja. Kedua tangan pasangan pengantin baru itu saling bertautan erat. Jaejoong menatap tangan mereka yang bertaut, memperhatikan cincin indah yang Yunho sematkan beberapa saat lalu dengan bangga. Cincin pernikahan mereka.
Jalan menuju penyelamatan Yunho tentang kutukan itu tinggal selangkah lagi. Ia harus membuat dirinya hamil dan mendapatkan keturunan sebelum Yunho berusia tiga puluh tahun. Dengan begitu mereka akan bahagia bersama selamanya.
Karena ia mencintai suaminya. Ya, ia mencintai Yunho.
Jaejoong tersipu membayangkan perasaan yang entah sejak kapan ada untuk suaminya ini. Ia tidak tahu kapan tepatnya ia mencintai Yunho, yang ia tahu ia sudah begitu saja mencintai pria itu dengan seribu satu alasan. Perasaan itu sungguh indah sampai Jaejoong merasa melayang ke surga kala mengucapkan janji setia di hadapan Tuhan dan memiliki Yunho seutuhnya.
.
。。* 。。
.
Resepsi di adakan di kastil Jung, sesuai tradisi turun temurun keluarga Jung dari era dinasti Jeoson.
Pesta kali ini lebih meriah dari pesta bulan lalu, dengan tamu lebih banyak dari kalangan berada.
Seperti biasanya, keluarga Jung selalu mengundang penduduk desa serta penduduk sebelah bahkan sampai kota. Hanya saja pesta kali ini tidak bersifat umum bagi luar daerah seperti pesta sambutan bagi Yunho sebelumnya.
Para penduduk sekitar berdatangan dengan mengenakan pakaian terbaik mereka. Semuanya terlihat memesona dengan pakaian warna warni memenuhi aula kastil.
Orkestra yang bibi Yuri datangkan langsung dari inggris mengalunkan musik indah untuk mereka yang berniat berdansa. Yunho mengamati para tamu di lantai dansa dengan tatapan iri. Ia ingin mengajak Jaejoong berdansa andai istrinya itu tidak kelelahan setelah upacara pernikahan serta menerima ucapan selamat yang amat panjang dari ratusan tamu.
Istrinya.
Kebanggan karena memiliki Jaejoong sebagai istri menyesakan dada Yunho. Jaejoong telah menjadi istrinya. Ya Tuhan. Hal itu membuat kedua sisi bibir Yunho tertarik ke atas.
Musang pria menatap bangga sekaligus sedih kearah Jaejoong, pemuda itu begitu mempesona malam ini. Tidak. Jaejoong selalu memesona setiap saat, tidak peduli apa yang pemuda itu kenakan.
Perasaan nyeri yang ia tepis kembali berbisik melihat senyum indah istrinya. Ia ingin melihat senyum itu selalu di sana, andai ia mampu.
Membayangkan kehidupan mereka yang tidak mungkin lama sampai kutukan itu datang, membuat Yunho merasa bersalah. Kutukan itu, untuk pertama kali dalam hidupnya, Yunho membenci kutukan itu. Ia menginginkan Jaejoong untuk dirinya sendiri sampai sakit membayangkan ia akan meninggalkan Jaejoong suatu hari nanti. Yunho takut jika ia pergi siapa yang akan menjaga Jaejoong nantinya.
Yunho ingin membuat istrinya nyaman serta bahagia meskipun harus mengorbankan kebahagiaanya sendiri. Akan tetapi, akankah Jaejoong bahagia tanpa dirinya ketika istrinya itu tua seorang diri. Akankah Jaejoong bahagia jika ia meninggalkan istrinya?
Yang ia yakini, Yunho tidak ingin mati. Tidak untuk saat ini. Ia akan melakukan segala cara agar mampu bertahan hidup lebih lama, apapun, demi Jaejoong. Jika perlu ia akan bertanya kepada dokter atau orang pintar, bahkan kaum gipsi jika masih ada dan ia akan mencari ke belahan dunia mana pun untuk dapat bertahan hidup serta menghilangkan kutukan.
Pasti ada obat untuk sebuah kutukan, ia harus tetap bertahan. Karena Yunho ingin hidup bersama dengan Jaejoong sampai mereka tua, jika Tuhan berbaik hati, mungkin juga bersama anak-anak mereka sampai ajal memisahkan mereka.
"Kau melamun." Tangan Jaejoong terangkat. Membelai wajah pucat suaminya dengan lembut.
Pria itu diam tanpa kata sejak sepuluh menit lalu. "Kau kelihatan lelah, bagaimana kalau kita beristirahat?" Jaejoong menatap cemas suaminya.
Kehangatan yang terasa dari tangan Jaejoong membuat Yunho tenang. Sebegitu mudah Jaejoong membuatnya nyaman hanya dengan sentuhan ringan. "Mau berdansa denganku?" Lupakan bahwa mereka lelah setelah hari panjang ini. Yunho ingin bersenang senang selama sisa hidupnya serta membuat istrinya lebih dan lebih bahagia. "Berdansa lah denganku. Kalau perlu sampai pagi." Jaejoong tertawa, membiarkan dirinya di seret suaminya ke lantai dansa.
Beberapa tamu menghentikan dansa mereka, memberikan ruangan lebih untuk pasangan baru itu berdansa dengan bebas di lantai dansa. Keduanya bergerak canggung sebelum Yunho menguasai diri dan membimbing Jaejoong dalam langkah langkah anggun, lengan pria itu merengkuh tubuh istrinya yang terlalu posesif. Memberikan bahan gosip baru untuk di sebar ke seluruh kota yang dapat terjangkau untuk beberapa hari kedepan.
"Aku merasa kita terlalu dekat Yunho." Jaejoong bergerak tak nyaman dalam pelukan suaminya. Pria itu menempelkan tubuh mereka dari paha sampai dada dengan sikap tenang. Tanpa memberi udara sekalipun untuk lewat di antara mereka.
"Aku ingin memberi tahu kepada mereka semua bahwa kau adalah milikku."
"Semua orang sudah tahu itu." Jaejoong meralat.
"Kalau begitu untuk mengingatkan mereka."
Jaejoong tertawa. Tawa renyang yang membuat dada Yunho terasa sesak. Yunho pasti sudah gila, karena baru siang tadi mereka menikah dan sudah sangat kelewatan dalam menjaga istrinya dari mata mata para tamu lain yang melirik Jaejoongnya yang manis.
Terutama beberapa pria yang datang dari Seoul. Pria pria berpangkat serta pria kaya yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari Yunho sendiri. Jika boleh jujur, ia merasa khawatir jika Jaejoong tertarik kepada pria pria tampan itu. Bukannya tidak mungkin jika Jaejoongnya yang polos tertarik kepada mereka, semua tamu melirik kearah Jaejoong setiap saat. Bahkan beberapa tamu yang ia nilai cukup tampan, termasuk para gadis yang datang bersama keluarga mereka dari berbagai kota juga menatap istrinya itu penuh minat. Tanpa menyadari dirinya sendiri juga tampan.
Meskipun sebagian dari para tamu tidak Yunho kenali. Mau tak mau ia harus mulai mengenal mereka. Nenek moyang Yunho adalah pahlawan perang, tak heran jika keluarga Jung kedatangan para tamu dari kalangan tokoh tokoh masyarakat yang hanya sebagian orang pernah lihat di televisi.
"Kau melamun lagi."
Pandangan Yunho kembali ke wajah Jaejoong. Pemuda itu menatapnya dengan mata bulatnya yang indah. "Memikirkanmu." Ia menunduk. Menggesekan hidung pada hidung Jaejoong bersamaan dengan langkah dansa yang membentuk puntaran.
"Katakan padaku. Apa yang kau pikirkan?" bisik Jaejoong.
Serigai Yunho terlihat. Pria itu mengedip nakal lalu berbisik. "Berpikir berapa lama waktu yang aku butuhkan untuk menangalkan pakaianmu itu jika kita sudah berdua di kamar." Rona merah itu muncul dengan sangat tiba tiba. Membuat Yunho tertawa cukup keras sampai beberapa orang di sekeliking mereka menghentikan dansa mereka.
"Yun." Dengan sikap malu malu yang belum pernah Yunho lihat, pemuda itu menyurukan wajahnya pada lekukan leher suaminya. "Kau nakal."
"Yakinlah. Hanya denganmu." Musik pun berhenti. Bersaman dengan bibir Yunho mendarat di atas bibir ranum istrinya.
.
。。* 。。
.
Pasangan pengantin baru itu berhasil membuat iri puluhan mata baik gadis maupun pria lajang. Keduanya berputar mengikuti alunan musik, mengeliling lantai dansa dengan langkah langkah indah kebersamaan yang serasi. Kebahagiaan terpancar jelas di wajah mereka, mengirim perasaan iri bagi wanita maupun laki laki yang belum menikah untuk segera menemukan pasangan hidup secepatnya.
Termasuk Yoochun, satu di antara puluhan pasang mata yang mengamati kedua ingsan yang terlihat jatuh cinta satu sama lain itu dengan perasaan iri.
Dari tempat pria itu berdiri, Yoochun melirik pasangan baru yang berjalan menjauh dari lantai dansa dengan sikap acuh palsu. Ia meneguk wiski dengan sekali teguk. Menghabiskan gelas ketiga dalam hitungan beberapa menit saja.
"Aku yakin kau akan mabuk sebelum tengah malam lewat." Junsu meraih gelas kosong dari tangan Yoochun, meletakkan gelas itu di meja prasmanan tidak jauh dari mereka.
Yoochun meraih gelas lain dari pelayan yang lewat dan meneguknya dalam sekali teguk, lagi. Berharap cairan itu mampu membuat sesak di dada yang ia rasakan sedikit berkurang, ia tidak tahu mengapa ia kesulitan untuk sekedar bernapas. Sebelumnya tidak seperti ini, tidak pernah.
Memikirkan ia tidak akan pernah lagi mendapat kesempatan untuk memiliki pemuda itu, benar benar membuat semangat hidupnya redup!
Selama ini ia terlalu bodoh dengan berdiam diri, mengabaikan perasaanya terhadap pemuda yang telah ia kagumi sejak bertahun tahun lalu. Ia pikir cukup dengan tahu dia bahagia dirinya juga akan merasa bahagia, kenyataanya tidak demikian. Jantungnya seakan ingin meledak, Yoochun takut perasaan ini akan membawanya dalam kematian.
"Ya Tuhan, kau pasti sudah gila, Hyung."
"Sepertinya begitu." Yoochun membenarkan. Pria itu menatap Junsu dengan tatapan sendu, maju selangkah untuk menarik lengan pemuda itu mendekat kearahnya. "Kau menyukaiku bukan?" Ia pasti mabuk. Kalau tidak, bagaimana bisa ia bertanya tentang hal menggelikan seperti itu kepada Junsu.
Semburat merah muda yang muncul pada wajah Junsu terlihat lucu, Yoochun tertawa lalu melepas cengkraman tangannya begitu saja, meninggalkan jejak panas pada lengan Junsu yang kehilangan.
"Kau mabuk." Junsu kembali berkata. "Lebih baik kau beristirahat, atau kau akan mempermalukan dirimu sendiri di hadapan tamu tamu lain."
Yoochun hanya tertawa, membiarkan dirinya di seret pemuda seumuran Jaejoong itu menuju sayap kiri kastil yang sepi. Menyusuri lorong menuju deretan kamar pelayan. Di ujung lorong, terdapat tangga menuju kamar pelayan yang memiliki kedudukan lebih tinggi daribpelayan lainnya. Di mana kamar Yoochun berada. Pintu ke tiga dari kamar ibu Junsu, itulah kamar Yoochun.
Junsu membuka pintu sebelum mendorong pria itu masuk ke dalam. "Beristirahatlah. Aku akan memberitahu bibi Yuri bahwa kau tidak enak badan."
Mata pria itu terlihat sayu mengamati sekeliling. Lalu beralih mengawasi pergerakam Junsu yang kesana kemari. Pemuda itu menarik selimut ke satu sisi ranjang sebelum menarik Yoochun untuk duduk di atasnya. "Aku akan membawakan obat agar besok kau tidak sakit kepala." Apakah Junsu mengira ia benar benar mabuk. Mungkin sedikit, Yoochun yakin itu.
Pintu sudah akan tertutup saat telinga Junsu mendengar kata yang di ucapkan Yoochun. Pemuda itu membeku di ambang pintu.
"Sudah berakhir. Tidak ada alasan lain bagiku untuk tetap tinggal di sini."
Tanpa berpikir panjang, Junsu berbalik dan berkata. "Bagaimana denganku. Kau pengecut jika pergi hanya karena Jaejoong menikah dengan majikan kita. Kau mampu mendapatkan siapapun yang kau inginkan jika kau mau, Hyung."
"Tapi bukan Jaejoong."
Junsu terdiam karena itu benar adanya. Yoochun selalu benar. Tentu saja bukan Jaejoong. Tapi bagaimana dengan dirinya. "Kau tahu aku menyukaimu, bukan?"
Pandangan Yoochun tertuju kepada Junsu. Pemuda itu menatap pria itu dengan tatapan berkaca kaca sebelum memalingkan wajah untuk menyembunyikan air matanya dari pria itu. "Aku akan segera kembali membawa obat untukmu." Pintu tertutup.
Yoochun menatap pintu itu dengan tatapan sendu. Ia tahu Junsu menyukainya. Kejam rasanya jika ia mengabaikan pemuda itu dan berpura pura tidak tahu apapun tentang perasaan suka yang Junsu coba sembunyikan darinya.
Yoochun sendiri paham bagaimana perasaan Junsu saat ini. Karena ia juga mengalami hal yang sama. Hanya saja karena alasan yang berbeda. Hal itulah yang mendorong dirinya menghargai perasaan sayang Junsu terhadapnya, andai saja ia bisa mencoba. Dan apakah dirinya mampu?
.
。。* 。。
.
Yuri mengamati Yunho dan Jaejoong bangga. Tugasnya sudah selesai. Keponakan tampannya sudah menikah, bukankah seharusnya ia bahagia, namun air mata menggenang di pelupuk mata membayangkan ia harus berpisah tidak lama lagi dengan pasangan pengantin baru itu setelah mereka kembali dari bulan madu.
Dua tiga minggu mungkin sudah lebih dari cukup baginya untuk memberi pengarahan kepada Jaejoong. Pemuda itu cukup cerdas, Yuri melihat itu dalam setiap pekerjaan apapun yang di pelajari pemuda itu.
Andai ia tidak memiliki urusan lain di Busan. Tentu ia akan sangat senang untuk tetap tinggal lebih lama lagi, hanya saja pengacara mendiang suaminya sudah menghubunginya berkali kali. Meminta Yuri segera kembali.
Sekarang ia cukup puas melihat pasangan yang saat ini berbaur bersama kerumunan. Yunho membimbing Jaejoong ke seberang lain ruangan, memperkenalkan Jaejoong dari satu kepada tamu yang lain.
Keponakan nakalnya itu, sepertinya Yunho melupakan segalanya jika Jaejoong berada di sisinya. Bahkan sampai melupakan dansa yang telah Yunho janjikan untuk Yuri sebelumnya.
"Anak nakal." gumamnya. Yuri berniat menghampiri Yunho, mengingatkan akan dansa mereka dan memperkenalkan keponakannya itu kepada beberapa tamu yang belum pernah Yunho temui sebelumnya.
Kerumunan tidak sedikit pun berkurang meski malam telah larut. Mereka terlihat menikmati pesta yang penuh dengan hidangan serta sampanye yang tidak pernah habis.
Dengan susah payah Yuri mencoba menerobos kerumunan itu. Ia sudah berada tidak jauh dari tempat Yunho serta Jaejoong ketika salah seorang pelayan memanggil dirinya sebelum sampai di sana.
"Bibi Yuri." pelayan itu berusaha menerobos kerumunan yang mereka pikir semakin sesak.
Langkah kaki Yuri terhenti. Ia menunggu pelayan itu berjalan kearahnya dengan kerutan di kening melihat pelayan berseragam yang bertugas di bagian luar kastil.
"Maaf menganggu Anda. Seorang wanita ingin bertemu dengan Mr. Jung, beliau menunggu Tuan muda, maksud saya Tuan besar di luar, wanita itu menolak ketika saya mempersilahkan beliau untuk bergabung dalam pesta."
"Wanita? Siapa?"
"Mrs. Choi. Beliu mengatakan ingin berbicara dengan Mr. Jung secara pribadi, namun saat ini... " Yuri mengikuti pandangan pelayan muda itu. Yunho telah membawa Jaejoong kembali ke lantai dansa.
"Di mana dia?" Entah mengapa Yuri merasakan sesuatu akan terjadi. Bukan sesuatu yang buruk, tapi semacamnya. Atau entahlah. Ia sendiri ragu. Yang ia tahu dirinya tidak menyukai kunjungan dari nyonya besar estat sebelah. Yang ia tahu penyebar gosip serta penyebab menantunya terdampar di hutan selama lima tahun lamanya seorang diri.
Memikirkan hal itu membuat Yuri meredam amarah. Demi Tuhan, bagaimana seorang wanita yang juga seorang ibu bisa menyebarkan gosip sedemikian rupa. Membuat keluarga Jaejoong menderita lalu bunuh diri, berniat membawa kedua putranya bersama yang untungnya Jaejoong terselamatkan.
"Persilahkan dia ke ruang duduk. Tidak, perpustakaan, di sana jauh dari keramaian. Minta pelayan membawakan teh. Aku akan segera menyusul." Meskipun ingin rasanya Yuri menendang wanita itu keluar kastil sekarang juga. Yuri menahan diri, rasa ingin tahu menang dan ia penasaran, apa yang membawa wanita itu datang kemari.
Ia tidak percaya jika wanita itu berniat mengucapkan selamat atas pernikahan keponakannya dengan pemuda yang di benci oleh anggota keluarga Choi.
.
。。* 。。
.
Satu satunya tempat yang nyaman di kastil adalah perpustakaan. Hankyung menemukan kenyamanan itu di sana. Jauh dari hinggar bingar musik serta tawa para tamu yang hampir memenuhi setiap ruangan. Ia lebih suka sendiri di tempat yang sepi ketimbang pesta.
Sudah berjam jam ia duduk di sana. Membaca buku sejarah Jeoson, dan menemukan siapa gerangan nenek moyang Yunho yang begitu berjasa dalam perang terakhir sebelum era modern. Membawa keluarga Jung pada kejayaan secara turun temurun dengan tanah yang di berikan oleh negara.
Tidak banyak lagi yang pria itu temukan. Hal itu tidak membuat Hankyung putus asa.
Menutup buku bersampul kulit yang ia yakini memiliki umur ratusan tahun, Hankyung mendesah. Seharusnya ia berada di pesta untuk mengawasi Jaejoong. Namun ia tidak menyukai keramaian, ia benci aroma tajam parfum para wanita di sana. Bahkan tidak sedikit pria yang memakai parfum sama tajamnya seperti gadis centil atau wanita dari kota.
Terlebih, ia tidak ingin seseorang mengenali atau mencurigai siapa ia sebenarnya. Tidak di hadapan Jaejoong. Tidak saat ini, meski ingin rasanya ia memperkenalkan diri sebagai siapa ia yang sesungguhnya kepada pemuda itu.
Pintu perpustakaan terbuka. Hankyung menghela napas karena tempat persembunyianya sudah tidak lagi terasa aman. Pria itu bangkit tepat ketika pelayan pria masuk, di ikuti seorang wanita memasuki ruangan.
"Ah, maaf menganggu Anda Mr. Han, bibi Yuri memintaku mempersilahkan Mrs. Choi menunggu beliau di sini, jika Anda tidak keberatan... "
"Kebetulan aku sudah akan pergi." Pria itu menyelipkan buku di antara buku buku yang tertata rapi pada rak.
Pelayan mempersilahkan Mrs. Choi duduk lalu keluar tanpa mengucapkan sepatah kata apapun lagi.
Mrs. Choi mengamati ruangan indah itu penuh kagum. Wanita itu belum pernah berkunjung ke kediaman keluar Jung sebelumnya.
Benar apa yang di katakan menantunya tentang kastil yang telah di renofasi sejak kedatangan pewaris estat beberapa bulan lalu, kastil ini sungguh menakjubkan.
Pandangan wanita itu terarah pada sosok pria yang berjalan menuju arah pintu. Pria yang di panggil sebagai Mr. Han oleh pelayan tadi.
Sungguh tidak sopan, siapa pun pria itu, seharusnya mengucapkan satu atau dua patah kata sebelum pergi dari ruangan demi kesopanan.
Seakan pria itu tahu apa yang di pikirkannya. Pria itu berbalik. "Selamat malam Nyonya." Anggukan kecil menyertai pria itu.
Mrs. Choi bangkit dari duduknya, menatap wajah itu lekat. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" ia bertanya sopan.
Pria itu. Berhenti di ambang pintu dengan tubuh setegak papan, meski pria itu tidak menoleh kearahnya. Kim Kibum merasa mereka pernah saling mengenal.
"Mungkin. Aku juga lupa. Saya permisi." Tanpa menoleh, pria itu pergi tanpa menutup pintu.
Suara angkuh yang sama pernah ia dengar dari seseorang. Di suatu tempat nan jauh , sudah sangat lama. Seseorang yang tidak akan pernah ia lupakan karena butuh kerja keras bagi Kibum untuk bisa bertemu dengan orang itu.
A
h, ia ingat wajah itu. Suaminya juga memiliki lembar potret di laci meja kerja sebelum putranya membakar foto foto itu ketika Siwon meninggal. Tapi, apa yang di lakukan pria itu di sini. Apakah Mr. Jung mengundang pria itu untuk datang.
"Maaf membuat Anda menunggu Mrs. Choi." Suara Yuri mengagetkan Kibum.
Wanita itu masih terlihat cantik di usia yang tidak lagi muda. Mereka tentu saja saling mengenal, hanya saja, sejak kapan kedua sahabat itu menjadi sangat kaku satu sama lain.
"Kau masih lah secantik yang aku ingat." Kibum berkata.
Yuri tersenyum kaku menanggapi sambutan teman lamanya itu. "Kau pun demikian. Meski aku sedikit menemukan uban di antara rambut hitammu."
Kibum mengabaikan kata kata itu. "Boleh aku bertanya. Pria itu, bagaimana beliau ada di sini?"
Yuri berhenti di seberang meja. Masih berdiri sambil menelengkan kepala heran. "Pria itu?"
"Pria yang beberapa menit lalu keluar sebelum kau datang."
Yuri hanya berpapasan dengan pengawal Jaejoong. Mungkinkah Kibum mengenal pria itu. "Mr. Han?"
"Begitulah pelayanmu memanggilnya."
Senyum meremehkan Yuri membuat Kibum menahan gejolak untuk meralat apapun yang di pikirkan mantan sahabatnya itu. Ia kenal tatapan itu dengan sangat baik.
"Kau masih menyukai daun muda ternyata. Pria itu memang tampan."
"Ya, aku tidak akan mengatakan tidak. Bagaimana beliau ada di sini?"
"Hankyung. Kau mengenalnya? Atau karena dia kau datang kemari?"
Kibum mengedikkan bahu acuh, hal yang sangat jauh berbeda dari apa yang ia inginkan. "Aku hanya penasaran. Bagaimana kau atau keponakanmu itu mengenal dan mengundang seorang Pangeran untuk datang, bahkan sampai beliau berkenan hadir ketika kesibukan menghalangi Pangeran untuk bepergian?"
"Pangeran?" Yuri tertawa. "Kau pasti bercanda."
"Apa aku terlihat seperti itu. Kau bahkan tahu jika lima belas tahun lalu aku pernah berkunjung ke Cina untuk menemui seorang Raja kenalan suamiku. Apakah kau lupa?" Wajah itu sangat serius.
Sialnya Yuri tidak pernah lupa. Kejadian itu akan selalu ia ingat karena ia sendiri merasa iri kepada Kibum. Tapi tunggu?
"Hankyung seorang Pangeran?"
-TBC-
Harap di baca!
WAJIB?
Mungkin jika kalian lebih teliti beberapa pertanyaan telah di jawab di chap chap sebelumnya. Hanya kalian lupa atau malas untuk membaca ulang.
Bahkan aku sudah menjabarkan banyak hal dengan sangat jelas. Dan tentang jatil diri seseorang memang saya lebih suka untuk menjabarkan pelan pelan. Tidak secara langsung, bagi saya itu akan memberi nilai lebih bagi cerita itu sendiri. Bukan berniat membuat anda marah dan mencari perhatian atau mempermainkan pembaca.
Yang bioang tentang ploot serta alur cerita di sini yang lambat atau berbelit.
Itulah khas sherry. Aku menulis sesuai perasaan dan imajinasi. Tidak bisa lebih cepat atau lambat karena ini adalah jalan ceritaku. Jika kalian tidak suka jalan cerita yang lambat, atau seperti yang anda bilang bertele tele saya tidak bisa memaksa anda untuk menyukai tulisan abal saya. Sama seperti jika saya menulis sesuai keinginan anda. Saya tidak akan pernah bisa.
Jika sherry mengikuti ide beberapa dari kalian mungkin ploot dan sebagainya akan jauh bebeda.
Bukannya aku tidak menghargai, hanya saja aku melihat bagaimana harus mengungkapkan suatu kejadian. Tidak bisa langsung atau sesuai dengan selera kalian.
Maaf sebelumnya akan hal itu.
Trima kasih atas sarannya.
Typo bertebaran EYD tidak jelas dan berantakan.
