Title : Say You Love Me
Author : Sherry Kim
Cast : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Other
Genre : Romance, Drama, Family, Sad, HQ, etc...
Rate : M
WARNING
Yaoi. Tidak suka jangan baca.
Alur tidak jelas typo bertebaran.
.
.
.
Yuri membutuhkan waktu untuk mencerna apa yang baru ia dengar. Bulu mata lentik wanita itu yang tak lekang di makan waktu mengerjap beberapa kali. Pasti ada yang salah di sini. Pangeran?
Apa yang wanita itu bicarakan. Bagaimana bisa Hankyung menjadi seorang Pengeran?
Yuri terlalu paham untuk tidak menyuarakan isi hatinya secara terang terangan. Ia tidak yakin Kibum akan bersedia mengungkapkan jati diri pria itu andai ia menuntut penjelasan lebih lanjut.
"Kau tidak mengenalnya? Apakah keponakanmu mengenalkan pria itu dengan kedudukan lain, Raja?" Kibum sama terkejutnya dengan Yuri karena nyonya rumah itu tidak menunjukan tanda tanda mengenal pangeran Hankyung. "Kedudukan yang sepertinya sudah pria itu warisi sepenuhnya sejak Raja sebelumnya meninggal beberapa tahun lalu."
Mengehala napas kesal. Yuri menahan diri untuk tidak membentak Kibum karena bicara dengan kata kata yang tidak ia pahami. "Jelaskan padaku. Bagaimana Hankyung bisa menjadi seorang pangeran, karena yang ku tahu dia... " Kata itu terhenti, Yuri memang selalu bertanya tanya dari mana asal pria itu. Bahkan ia mengira Hankyung adalah pembunuh bayaran yang kemungkinan di sewa oleh Choi Seung Hyun.
Di tilik dari apa yang di katakan Kibum, semuanya terdengar aneh.
Jika Hankyung adalah pria yang di kenal wanita itu sebagai jati diri lain, kemungkinan Hankyung memiliki motif tersembunyi.
Lalu kenapa pria itu menyembunyikan jati dirinya dari mereka semua? Apa yang pria itu cari di tempat ini seandainya benar Hankyung adalah seorang Pangeran atau Raja.
"Sudahlah." Yuri menyadari ia tidak akan mendapat jawaban apapun dari Kibum. "Dia kenalan keponakanku, aku tidak enak hati bertanya lebih lanjut. Jika kau tidak keberatan jelaskan padaku siapa dia. Dengan begitu aku akan memperlakukan pria itu dengan lebih baik."
Mrs. Choi jelas terkejut dengan kata kata itu. Bagaimana mungkin Yunho tidak mengenalkan seorang Pangeran dengan kedudukan yang seharusnya. "Aku mengenalnya, lebih tepatnya pernah mengenalnya." Ia meralat setelah melihat geryitan kening Yuri.
"Pengaran Hangeng. Itu yang ku kenal dua puluh tahun lalu. Sahabat suamiku, dan aku perlu mengerahkan segenap godaan untuk bisa meyakinkan suamiku berkenan membawaku ke Cina, karena aku ingin bertemu dengannya." wanita itu terdiam. "Sebenarnya waktu itu pengeran Hangeng baru berusia lima belas atau enam belas tahun. Saat suamiku berkunjung ke Cina untuk suatu bisnis dan kami baru satu tahun menikah."
Tentunya seorang Pangeran tidak bepergian seorang diri bukan? Tidak jika pangeran itu tidak pergi secara diam diam terlebih tanpa pengawalan. "Dia Hankyung, bukan Hangeng." Yuri meralat. "Itukah alasanya kau datang kemari?" Ia harus mengalihkan pembicaraan, kalau tidak, Yuri tidak akan mampu menahan diri untuk bertanya banyak hal tentang siapa pria itu.
Astaga, sekarang pun ia sudah sangat penasaran.
"Tidakkah kau sadar Hankyung dan Hangeng itu satu nama." Melirik mantan sahabat baiknya Kibum menambahkan. "Aku kemari ingin bicara dengan Jaejoong." Raut muka wanita itu berubah pucat. Kedua tangan Kibum yang sedari tadi berada di depan tubuhnya bergerak gelisah.
"Jaejoong? Untuk apa kau bicara padanya, aku tidak yakin Yunho akan mengijinkan istrinya menemuimu. Bahkan jika saat ini keponakanku itu tahu dia tidak akan tinggal diam apalagi mempersilahkan kau menginjakan kaki di kastil kami." Kibum tahu Yuri tidak bicara mengada ada. Ia yakin Yunho akan mengusirnya tanpa mencoba melihat atau pun mendengarkan apa yang akan ia katakan.
"Tapi ini sangat penting."
"Kau bisa mengatakannya padaku."
"Tidak! Aku hanya ingin bicara dengan Jaejoong, sebentar. Lima menit, aku ingin bertanya sesuatu setelah itu aku akan pergi." Melihat wajah Yuri yang tetap kosong Kibum menambahkan. "Aku mohon, ini menyangkut nyawa putraku."
Amarah yang coba yuri simpan semenjak ia tahu apa yang telah di lakukan Seung Hyun beberapa waktu silam kepada Jaejoong muncul kembali "Persetan dengan nyawa anakmu. Aku tidak akan membiarkan penjahat itu mendekati menantuku." Yuri berdiri tegak. Wanita itu mendelik tajam kearah Kibum.
"Aku tahu putraku bersalah dalam hal itu. Aku telah memarahinya dan aku berjanji akan mengawasi putraku untuk tidak datang atau pun mencoba untuk melukai siapapun lagi termasuk Jaejoong asalkan kau mengijinkan aku bicara kepadanya. Hanya lima menit, aku mohon." Wanita itu berjalan mendekat kearah Yuri. Secara sengaja Yuri menghinar.
Bagaimana pun Juga Kibum adalah sahabat baiknya di masa lalu, ia tidak tega membiarkan wanita itu memohon kepadanya dengan wajah memelas yang sekarang pun sudah membuatnya luluh. "Kau tinggal mengatakan masalahmu padaku, aku akan menyampaikan setiap kata yang kau ucapkan kepada Jaejoong besok pagi."
"Tidak ada waktu." Frustasi membuat suara Kibum mrninggi. "Nyawa putraku di pertaruhkan di sini."
"Kalau begitu katakan. Apa yang dapat Jaejoong lakukan untuk membuat nyawa putramu tertolong. Dan kenapa harus Jaejoong?"
Mrs. Choi ragu. Kedua mata wanita itu berkaca kaca menahan tangis serta kesedihan.
Yuri pun menyadari mata wanita itu sedikit sembab seakan bebetapa saat lalu Mrs. Choi yang terhormat dan terkenal angkuh ini menangis. "Putraku terkena racun. Dokter tidak tahu racun apa itu karena rumah sakit manapun tidak dapat mengetahui jenis racun tersebut."
"Lalu apa hubunganya dengan Jaejoong kami?"
Mau tak mau pandangan Yuri teralihkan kepada kedua tangan Kibum yang meremas satu sama lain semakin kuat. "Karena hanya dia yang tahu siapa orang yang melukai putraku ketika dia... dia, mencoba menyentuh Jaejoong si hutan." Kibum menyelesaikan kata itu dengan ragu.
"Menyentuh?" Kata itu menggema di ruang perpustakaan luas itu.
Yuri menerjang maju kearah Kibum sampai wanita itu mundur selangkah. "Dia berniat membunuh Jaejoong, dan kau mengatakan menyentuh. Demi Tuhan, apa yang telah merasuki kalian sampai tega menyakiti orang lain bahkan sampai membunuh ibu serta saudara Jaejoong."
"Kami tidak membunuhnya. Heechul bunuh diri, semua orang tahu itu."
Berhenti tepat di hadapan Mrs. Choi, tatapan Yuri menusuk langsung ke dalam mata Kibum. "Karena kalian menyudutkan mereka sampai putus asa tanpa memberi mereka pilihan. Membusuklah di neraka putramu itu, kami tidak peduli."
Kedua bola mata Kibum mendelik terkejut mendengar kata kata Yuri. "Ku mohon Yuri, tolong ijinkan aku bertemu dengan Jaejoong. Aku hanya ingin bertanya kepadanya siapa yang melukai putraku, dokter mengatakan panah itu beracun dan tidak ada obat untuk dapat menyebuhkan putraku. Jika dia biarkan, racun itu akan membunuh Seung Hyun secara perlahan. Dokter mentakan jika sampi besok pagi kami tidak mendapatkan obatnya... Seung Hyun harus merelakan lengan kanannya untuk di amputasi agar mencegah racun semakin meyebar."
Separah itu kah?
Yuri tidak sekejam itu untuk menahan Kibum. Meski ia ingin melihat keluarga itu menderita karena telah membuat hidup Jaejoong seperti di neraka, hatinya tetap saja tergugah untuk membantu. "Hanya satu pertanyaan. Setelah itu kau boleh pergi."
Pernyataan itu membuat Mrs. Choi mendesah lega, kedua tangan wanita itu menangkup tangan Yuri dengan erat. "Terima kasih. Terima kasih banyak."
"Sayangnya aku tidak akan mengijinkan Anda Mrs. Choi." Sebuah suara menarik perhatian kedua wanita yang berada di dalam perpustakaan.
Hankyung berdiri santai dengan bersandar pada bingkai pintu. Entah sejak kapan pria itu berada di sana dan mengawasi.
"Kebetulan sekali aku di tugaskan untuk menjauhkan siapapun yang bermarga Choi dari Jaejoong. Bahkan tidak mengijinkan siapa pun dari kelurga Anda berada dalam jarak seratus meter darinya."
"Mr. Han, sungguh lancang kau menguping pembicaaan kami." Bibi Yuri menegur.
Kedikan bahu pria itu terlihat santai. "Aku melupakan sesuatu. Dan berniat mengambilnya ketika aku mendengar kalian menyebut namaku."
Hening.
Tidak ada yang bersuara dari ketiga penghuni perpustakaan luas itu.
Hanya terdengar suara langkah kaki Hankyung yang berjalan menuju meja tidak jauh dari rak buku. "Aku hanya mengambil ini, aku pergi."
"Apa itu benar?"
Langkah Hankyung terhenti. Pria itu berputar menatap kedua wanita yang juga menatap kearahnya menunggu jawaban. "Apa?"
"Bahwa kau seorang Pangeran."
"Siapa kau sebenarnya. Hankyung atau Hangeng?" Mrs. Choi bertanya.
Pria itu tertawa keras sebelum menjawab pertanyaan dua wanita itu. "Aku sangat berharap itu sungguhan agar aku tidak perlu berkelana kesana kemari atau bekerja serabutan untuk mendapatkan uang dan melanjutkan perjalananku lagi."
Pria itu tidak menjawab pertanyaan yang mereka tunjukan, namun tidak juga mengelak.
Dengan tenang, Yuri bertanya. "Katakan padaku apa tujuanmu berada di sini?"
"Bekerja untuk melindungi Jaejoong." jawab Hankyung santai. Tatapan pria itu berpindah kearah Mrs. Choi. "Aku akan ikut denganmu Nyonya, karena akulah pria yang telah melukai putramu." Senyum pria itu terlihat lepas pada suasana yang tidak tepat. "Lagi pula aku tidak akan membiarkan siapapun merusak malam pengantin Jaejoong. Tidak juga Anda."
.
。。 * 。。
.
"Sudah waktunya kita istirahat." Jemari lentik Yunho menyibak poni nakal yang menutupi kening istrinya, Jaejoong terlihat lelah setelah tiga dansa yang Yunho paksakan terhadap istrinya itu.
"Itu salahmu, aku tidak pandai berdansa, dan kau memaksaku untuk berdansa mengikutimu."
"Benarkah?" Alis Yunho naik keatas beberapa inci. "Kau terlihat pandai berdansa untuk orang yang tidak pernah berdansa sebelumnya."
Dengan senyuman jail, Jaejoong berkata. "Siapa yang mengatakan aku tidak pernah berdansa. Hanya saja itu dulu sekali, dan saat ini siapa dulu pasangan dansaku. Aku tidak perlu melakukan apapun selain memasrahkan diri dalam pelukanmu, dan kau yang membawaku kesana kemari dalam langkah langkah yang aku sendiri tidak hapal."
"Aku lebih suka kau pasrah di atas ranjang," ucapan blak blakan Yunho menimbulkan semburat merah pada wajah Jaejoong, membuat Yunho gemas untuk tidak mencium pipi istrinya. "Jadi istriku sayang, sudah saatnya kita masuk ke kamar untuk istirahat."
"Untuk apa?" ujar Jaejoong sok polos. Berbeda dengan serigai yang pemuda itu pelajari dari suaminya ini. "Aku lebih suka di sini, lebih ramai dan... aman."
"Akan aku tunjukan apa arti dari kata aman yang sesungguhnya." Tanpa memberi istrinya kesempatan, Yunho menunduk, menyelipkan lengan di belakang lutut Jaejoong dan mengangkat istrinya itu dengan sangat mudah.
Kepada para tamu Yunho mengangguk, berpamitan dalam beberapa kata yang semua tamu pahami dengan sangat jelas. "Istriku dan aku akan beristirahat. Selamat malam semuanya."
"Yun." Jaejoong menggeliat dalam dekapan kuat suaminya. Ia malu sekaligus senang karena Yunho menunjukan rasa sayangnya di muka umum tanpa rasa malu. Tapi tetap saja, ia tak enak hati mendengar tawa serta bisik bisik para tamu saat Yunho membawa dirinya melangkah menaiki tangga.
Yuri mendekati keduanya sebelum Yunho naik lebih jauh. "Yunho, kita harus bicara, aku... "
"Besok Bibi, sudah cukup untuk hari ini, kami lelah." Yunho memotong ucapan bibi Yuri tanpa menatap wajah wanita itu. Andai saja ia tahu telah melewatkan wajah cemas yang bibinya itu perlihatkan, tentunya Yunho tidak akan mengabaikan bibinya.
Di pintu utama. Yuri melihat Hankyung menatap kearah ujung tangga, di mana kedua mempelai pengantin baru itu menghilang sebelum keluar mengikuti Mrs. Choi.
Kegelisahan itu tidak juga berkurang meski Hankyung dan Mrs. Choi meyakinkan mereka akan baik baik saja. Apakah ini pilihan yang tepat dengan mengijinkan Kibum membawa Hankyung pergi, Yuri tidak tahu.
.
。。 * 。。
.
Yunho memasuki kamar pengantin yang telah di hias dengan berbagai karangan bunga serta kain sutra berenda bermanik yang sangat indah berwarna putih dengan bunga mengelikingi setiap sudut kamar.
Pria itu membawa istrinya memasuki kamar lebih jauh untuk membaringkan Jaejoong si atas ranjang yag penuh dengan bungga. Kelopak mawar merah bertebaran di atas ranjang, menguarkan aroma harum yang membuat senyum Jaejoong mengembang.
"Aku suka wangi ini."
"Aku lebih suka wangi tubuhmu." Yunho berlutut di pinggiran ranjang, menanggalkan sepatu Jaejoong beserta kaos kaki istrinya, lalu bangkit untuk mencium kening Jaejoong penuh perasaan. "Tidurlah." bisiknya.
Tidur?
Jaejoong bertumpu pada kedua siku menatap suaminya tidak percaya. Tidur dia bilang?
Demi Tuhan, ini adalah malam pertama mereka dan Yunho menyuruhnya tidur.
Pintu kamar mandi tertutup. Jaejoong mendengar suara gemericik air dari dalam sana. Ia menghela napas karena ia tahu Yunho butuh mandi. Pria itu tentunya berkeringat karena Jaejoong juga merasakan hal yang sama setelah berdansa dengan semangat cukup lama.
Ia mendesah dramatis. Tidur di malam pengantinya. Itu terdengar konyol. Mungkin ia memang hanya pemuda polos tanpa pengalaman asmara sebelumnya. Bahkan ciuman pertamanya pun untuk suaminya, namun bukan berarti ia bodoh dan buta akan hubungan suami istri yang di lakukan mereka pada malam pertama.
Dulu sekali ia pernah mendengar sahabatnya membicarakan hal itu. Ketika semua orang belum mengucilkan keluarganya, tentu saja. Bahkan beberapa dari teman lamanya pernah melakukan hubungan itu dengan kekasihnya yang tentunya mereka ceritakan kepada Jaejoong dan sahabatnya yang lain. Senyum Jaejoong mengembang mengingat kenakalan ia dan saudara kembarnya di masa lalu.
Kalau di ingat ingat lagi, Ibunya, Heechul juga pernah membahas masalah itu kepada Jaejoong. Membatasi pergaulan serta mengawasi hubungan asmara sejak tetangga desa menyatakan cinta kepadanya yang tentu saja ia tolak.
Ibunya pernah berkata.
"Simpanlah yang pertama dan terbaik untuk suamimu"
Itu adalah kata kata Ibu yang di ingat Jaejoong. Seluruhnya ia lupa, bahkan jika tidak mengingat kembali ia tidak akan sanggup mengingatnya.
Pintu kamar mandi terbuka. Yunho tersenyum tanpa dosa dari balik pintu itu. Menyadarkan Jaejoong ke dunia nyata tentang malam pertama mereka.
"Mau bergabung bersamaku."
Jika ia berkaca. Jaejoong tentu akan melihat wajahnya sendiri semerah buah tomat matang. "Kau mengajakku?" kata itu terdengar konyol. Tentu saja Yunho mengajak dirinya, siapa lagi penghuni di kamar ini selain mereka.
"Kemarilah, atau kau ingin aku menggendongmu. Sayangnya kau akan terkejut melihatku telanjang." Tawa tidak tahu malu pria itu semakin menghangatkan wajah Jaejoong. Ia takut dirinya akan demam sebelum menjalani malam pertama mereka yang sepertinya akan tertunda.
"Kau menggodaku." Helaan napas kecewa keluar dari bibir Jaejoong karena Yunho muncul dengan pakaian lengkap di tubuhnya.
"Maaf membuatmu kecewa sayangku, aku akan menebusnya sebentar lagi." Jaejoong memasrahkan dirinya kepada Yunho saat pria itu mengangkat tubuhnya dengan mudah.
Otot di balik lengan pria itu bergerak saat Yunho mendudukan Jaejoong di meja konter. Mulai menarik dasi serta menanggalkan kancing kemeja satu persatu.
Suara air memenuhi bak mandi terdengar sumbang, karena Jaejoong tidak mendengar apapun kecuali degub jantungnya sendiri yang semakin lama semakin menggila.
Jaejoong membiarkan jemari Yunho menyusup ke dalam ikat pinggangnya, lalu dengan satu tarikan ringan melepaskan kemeja dari sana sebelum bergabung dengan jas serta dasi mereka di ranjang pakaian kotor.
Kemanapun asal tidak melihat wajah Yunho, Jaejoong mencoba memperhatikan air yang meluber dari bak mandi raksasa itu. Bibirnya sudah membuka untuk berkata saat Yunho membuka resleting celananya dengan gerakan santai yang menggelisahkan bagi Jaejoong.
Jaejoong merasakan lantai itu dingin di bawah telapak kedua kakinya. Ia membiarkan Yunho menelanjangi dirinya lalu menggendognya lagi untuk masuk ke dalam bak mandi.
Air itu hangat, tapi tubuh Jaejoong mengigil entah karena apa. Suara gemericik air menyapa lantai terdengar semakin samar dan terkalahkan oleh degub jantungnya yang menggila.
Jaejoong meringkuk di dalam bak mandi tanpa menatap Yunho yang menjulang di sisi bak untuk menanggalkan sisa pakaiannya pria itu.
Ya Tuhan. Apakah pria itu berniat mandi bersamanya. Seumur hidup Jaejoong tidak pernah mandi dengan siapapun kecuali dengan saudara kembarnya. Itupun sudah sangat lama dan meskipun ia mencoba menenangkan diri, Jaejoong tak sanggup menghentikan semburat malu di sekujur tubuhnya.
Kran di putar menutup. Yunho bergabung bersama Jaejoong dalam bak mandi, menempatkan diri dengan nyaman melingkupi tubuh Jaejoong. "Kau kedinginan?"
"Tidak!" Jawaban itu terdengar lebih lantang dari yang Jaejoong inginkan.
Senyum pria itu mengembang mengamati wajah malu malu istrinya. Demi segala keindahan yang pernah ia lihat, Yunho bersumpah, Jaejoong lah yang terindah, terlebih dalam ketelanjangan pemuda itu di hadapannya saat ini.
"Lihat aku Jongie." Perlahan tapi pasti, pemuda itu menoleh kearah Yunho tepat ketika ia menyipratkan segenggam air kewajah merah padam istrinya.
Wajah terkejut Jaejoong membuat tawa Yunho lepas. Ia hanya mencoba membuat istrinya itu santai sebelum menyentuh Jaejoong. Yunho tidak ingin menyakiti Jaejoong atau membuat istrinya itu tak nyaman di malam pertama mereka.
Itulah yang mendorong Yunho memperlakukan Jaejoong dengan sangat hati hati karena sungguh, ia tidak ingin membuat malam pengantin mereka terasa buruk bagi Jaejoong yang tentunya akan berpengaruh bagi hubungan mereka ke depannya .
Sesuai yang di inginkan Yunho, Jaejoong memekik terkejut dan membalas apa yang telah ia lakukan. Ketika ia mentupi wajah karena istrinya itu tidak segan segan membalas tindakannya berkali lipat tawa Jaejoong meledak.
Sekuat tenaga Yunho menahan hasrat yang ia pendam sejak mereka memasuki kamar pengantin. Yunho menahan diri untuk tidak merobek kemeja kekasihnya saat menyingkap pakaian tipis itu dan memperlihatkan kulit putih bak pualam dan selembut sutra saat tanpa sengaja jemarinya menggesek kulit tersembunyi Jaejoong.
Ketelanjangan Jaejoong membuatnya frustasi. Butuh segenap jiwa bagi Yunho menahan diri agar istrinya tida terkejut dengan gairah yang sudah ia pendam sekian lama.
Tawa Jaejoong masih menggema. Yunho menarik lengan istrinya untuk mencium Jaejoong dengan segenap perasaan sampai tubuh istrinya itu pasrah dalam dekapan lengannya.
Yunho tidak tahu desahan siapa yang memenuhi kamar mandi. Ia menarik Jaejoong lebih dekat lagi dan menangkup wajah istrinya untuk memperdalam ciuman mereka. Ia menggoda lalu menyusup masuk ketika mendapat respon istrinya.
Ini gila. Yunho tidak sabar ingin menyatukan tubuh mereka dan merasakan kelembutan Jaejoong melingkupi dirinya. Ia menempatkan diri dan menarik Jaejoong untuk duduk di pangkuannya.
Bak mandi yang luas memberikan mereka ruang lebih untuk bergerak kesana kemari, akan tetapi Yunho cukup menggunakan sudut bak mandi sebagai tempat mereka berdua bercinta nantinya.
Desahan Jaejoong terdengar serak, pemuda itu melingkarkan lengan di sekeliling leher Yunho, menarik pria itu untuk lebih mendekat lagi dan lagi.
Menarik diri, Yunho menatap wajah merona istrinya. Hidung merah dan bibir bengkak karena ciuman mereka hanya membuat Yunho semakin gila. "Manis, kau sangat nakal." Lengan Yunho menyusup di antara tubuh mereka, mencari dan menggoda.
Doe Jaejoong mendelik lebar. Pemuda itu mencoba menarik diri namun tertahan oleh lengan lain Yunho yang menahan Jaejoong tetap di sana.
Segenap diri Jaejoong menahan desahan yang akhirnya gagal ia tahan akibat ulah tangan lihai suaminya itu. Desahan pun terdengar lebih nyaring dari sebelumnya.
Menunduk, bibir Yunho membungkam desahan dari bibir kekasihnya, menelan erangan kenikmatan Jaejoong saat ia melepas kejantanan mungil Jaejoong di bawah sana.
"Bukalah dirimu untukku manis." Menarik kedua kaki Jaejoong. Yunho menempatkan istrinya di atas pangkuan, menyandarkan diri pada sisi bak mandi mencari kenyamanan.
Jemari Jaejoong mencengkeram otot lengan suaminya sampai ia yakin telah melukai Yunho. Ia tidak peduli karena konsentrasi mereka teralihkan dari apapun terhadap penyatuan mereka yang perlahan di bawah sana.
Jaejoong tidak terkejut mendapati suaminya sangat berhasrat, karena ia juga meradakan hal yang sama. Hanya mengetahui Yunho sangat berhati hati demi bercinta dengannya membuat Jaejoong lebih bahagia. Tidak ada kata menyesal karena sepenuh hati ia telah menyerahkan jiwa dan raga untuk suaminya. Ia mencintai Yunho dan ini adalah kewajibannya.
Dengan gerakan pelan, Jaejoong membenamkan diri lebih dalam. Yunho menahan erangan kenikmatan sekuat dengan membenamkan wajahnya pada lekukan leher istrinya. Ia tidak ingin menyakiti Jaejoong dan berusaha sebaik mungkin mengurangi rasa sakit yang akan di timbulkan. Hal inilah yang mendorong Yunho untuk bercinta di dalam bak mandi kali pertama hubungan mereka.
Ketika kedua tubuh itu menyatu seutuhnya, Yunho menghela napas. Napas keduanya saling memburu dalam keheningan nyaman yang tidak ingin mereka akhiri.
Saat ini keduanya merasa di sinilah seharusnya mereka berada. Mengisi satu sama lain dengan sangat sempurna. "Apa aku menyakitimu sayangku?"
Lengan Jaejoong membekap leher suaminya lebih erat, ia hanya mengangguk untuk meyakinkan Yunho dan detik berikutnya ia merasa frustasi karena Yunho menarik diri.
"Jangan. Aku mohon." Pemikiran bahwa Yunho akan menjauh membuat Jaejoong gila. Ia berharap lebih namun tidak tahu apa yang ia harapkan dari suaminya. Dengan suara putus asa yang kental itu berkata. "Yunho."
Permohonan dalam kata yang tidak mampu Jaejoong ucapkan tertangkap jelas oleh Yunho. Pria itu paham jika istrinya ini tidak tahu harus berbuat apa. Jadi, dengan perlahan Yunho menghujam maju, mengejutkan Jaejoong dalam gerakan gerakan selanjutnya yang membuat istrinya itu memekik tak karuang.
Genangan air bergerak di sekeliling mereka, meluber keluar di setiap getakan menghentak yang keduanya lakukan dalam irama penuh.
Jaejoong menutup mata. Merasakan sesuatu yang tidak tahu ia sebut apa ingin meledak di dalam dirinya. Yunho begitu besar, lengan pria itu begitu kuat menahan tubuh Jaejoong ketika keduanya bergerak berirama kurun waktu yang tidaklah singkat.
Suara serak suaminya membisikan kata menenangkan membuat Jaejoong semakin frustasi. Ia menahan wajah suaminya untuk memberikan ciuman dalam putus yang ia bisa. Ia mengigit bibir bawah Yunho saat gelombang kenikmatan mengaburkan semua yang ada di sekeliling mereka.
Untuk sesaat Jaejoong merasa dirina terhempas ke surga. Di mana hanya ada keindahan serta ratusan bintang dan bunga mengeliling seisi ruangan saat ia melayang bersama Yunho dalam dekapan kuat lengan pria itu.
Samar samar Jaejoong mendengar suara Yunho memanggil namanya sebelum pria itu menarik Jaejoong lebih dekat, kedua lengan pria itu memeluknya sedemikian kuat sampai Jaejoong merasa dirinya akan remuk dalam pelukan Yunho.
Kemudia pria berhenti bergerak, bahkan Jaejoong tidak mendengar napas pria itu untuk beberapa saat sampai dada bidang Yunho bergerak dalam gerakan kuat saat pria itu menarik napas dalam.
Jaejoong terlalu lelah untuk bergerak. Ia menutup mata dan merebahkan diri pada lekukan bahu suaminya. Ia tetap diam ketika beberapa saat setelahnya Yunho mengangkat tubuh telanjangnya menuju pancuran, membersikan tubuh mereka dan menyelimuti tubuh Jaejoong dengan handuk lalu membawanya ke ranjang.
Ranjang terasa nyaman di bawah tubuh Jaejoong. Aroma mawar menyadarkan Jaejoong pada kelopak mawah di sekeliling tubuhnya yang terasa sia sia karena ia begitu lelah untuk menikmati keindahan itu.
Beberapa saat kemudian Yunho bergabung dengannya di atas ranjang menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua dan mendekap tubuh Jaejoong.
Yunho membiarkan istrinya beristirahat untuk beberapa waktu meski ia ingin sekali lagi bercinta dengan Jaejoong. Ini adalah malam pertama mereka dan Yunho tidak mengijinkan dirinya untuk tidur meski barang sejenak.
Tubuh Jaejoong terasa pas di dalam dekapan Yunho. Kulit halus Jaejoong terasa memabukan dan hanya membayangkan keduanya telanjang dan kulit lembut Jaejoong di bawah dekapan tubuhnya mampu membangkitkan gairah Yunho dengan mudah.
Persetan.
Dengan gerakan sedikit kasar, Yunho menarik tubuh Jaejoong menghadap kearahnya, menyingkap selimut yang menutupi tubuh telanjang istrinya dan memaparkan kulit selembut sutra Jaejoong untuk ia belai.
Tatapan sayu Jaejoong tak mampu menghentikan Yunho. Pria itu menyambar bibir menggoda Jaejoong yang tentunya mengejutkan istrinya itu. Jaejoong tidak melawan, istrinya itu bahkan tidak menghindar saat ia sekali lagi menggoda dan menyatukan tubuh mereka kembali. Astaga, ini gila. Yunho takut dirinya akan mati karena gairah yang tak terpuaskan bersama istrinya. Dan ia sendiri terkejut mendapati gairahnya begitu mudah tersulut oleh gerakan polos Jaejoong di bawah tubuhnya.
Jaejoong memeluk tubuh telanjang Yunho di atas tubuhnya. Pria itu begitu maskulin dengan tubuh indah yang membuat dirinya iri. Gairah pria itu sungguh membuatnya kuwalahan dan pria itu juga sangat pandai menggoda sampai Jaejoong menginginkan Yunho lagi dan lagi
Sekali lagi, Yunho berjanji. Bercinta sekali lagi tidak akan menyakiti Jaejoong yang pada kenyataanya tidak pernah cukup bagi mereka perdua andai kantuk tidak memenangkan pertempuran.
-TBC-
Typo bertebaran. EYD berantakan.
Terima kasih untuk yang sudah meninggalkan vote dan memberi saran.
Tak terasa sudah sampai bab 17. Semoga tidak pada bosan dan bilang ff ini kaya sinetron.
Dan sudah saatnya ff ini harus di akhiri hanya saja susah sekali mencari waktu untuk mengungkap beberapa mistery(?) di ff ini.
Hah, lap keringat.
Fighting. Semoga saya tidak kehilangan ide dan mogok di jalan semacam mobil tua kurang bensin.
#Plak
