Title : Say You Love Me
Author : Sherry Kim
Cast : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Other
Genre : Romance, Drama, Family, Sad, HQ, etc...
Rate : M
WARNING
Yaoi. Tidak suka jangan baca.
Alur tidak jelas typo bertebaran.
.. * ..
YJskPresent.
。。* 。。
.
.
.
"Selamat pagi." Yunho menyahut sapaan para pelayan.
Hari sudah cukup siang saat pengantin baru itu turun untuk menikmati sarapan. Langkah Yunho seperti biasa tegap penuh wibawa berjalan menuju ruang makan.
Pintu ruang makan terbuka, beberapa tamu yang tak lain kerabat jauh keluarga Jung masih tinggal dan akan pulang siang ini menyapa Yunho ketika menyadari kehadiran pria itu.
"Selamat pagi semuanya." Sapa Yunho balik, syara pria itu terdengar riang. Beberapa pasang mata mengedip jahil kearah Yunho. Beberapa lainnya tersenyum dan mengangguk sopan.
Mengambil tempat duduk di kepala meja, ia berkata salah seorang pelayan. "Beritahu Junsu untuk membawakan sarapan istriku satu jam lagi ke kamar."
Beralih ke sebelah kiri meja, Yunho tersenyum kearah bibi Yuri. "Apa yang ingin kau katakan semalam Bibiku sayang?" Meraih piring penuh makanan yang di sodorkan Bibi Yuri, Yunho mulai melahap sarapan yang entah mengapa terasa lebih nikmat dari hari sebelumnya.
"Kita akan bicara usai sarapan." Wajah gusar Yuri tidak membuat Yunho khawatir. Kemungkinan pria itu tidak memperhatikan sekeliling selain makanan yang ada di hadapannya saat ini. Tatapan Yunho terlihat menerawang dengan senyum bodoh menghiasi wajahnya yang tentu saja di alami semua pengantin baru.
Yuri tidak menghabiskan sarapannya. Wanita itu diam diam melirik Yunho lalu para tamu dengan tidak sabar. Entah kenapa ia merasa waktu berlalu begitu lambat sejak kemarin dan saat ini, detik demi detik yang berlalu semakin menganggunya.
Semalam, tidurnya pun terganggu. Pagi pagi sekali Yuri terbangun dan berharap menemukan Hankyung kembali yang ternyata pria itu belum juga kelihatan di manapun. Kekhawatiran yang ia rasakan memang terasa ganjil ketika Yuri sendiri meragukan jati diri pria itu.
Hankyung pria penuh misteri yang perlu di pecahkan, pria itu menyembunyikan sesuatu yang amat sangat besar dalam jati dirinya dan datang kemari. Tentunya bukan masalah sederhana yang mengharuskan seorang pangeran atau pun Raja bertandang seorang diri kesuatu negara tanpa sebuah pengawalan.
Apakah ini ada hubunganya dengan menantu barunya? Yuri tidak tahu. Tapi ia harus segera mencari tahu.
Merasa gerah karena menunggu Yunho yang belum juga selesai menyantap sarapan, Yuri bangkit untuk berpamitan. "Permisi, ada beberapa urusan yang harus aku tangani." kepada Yunho wanita itu berkata. "Temui aku di ruang pribadi. Segera setelah kau selesai."
Yunho hanya mengangguk singkat. Pria itu mengamati bibi dengan kening berkerut dan menyadari ada yang tidak beres dengan sikap bibinya. Bibi ingin bicara dengannya. Itu pun sejak semalam dan Yunho mengabaikan bibinya itu karena tentu saja malam oertama sangatlah penting bagi semua pengantin baru. Akan tetapi pagi ini, ia pun menyadari bahwa bibi terlihat aneh.
Dengan perasaan gelisah Yunhopun bangkit. Mengumamkan sesuatu yang ia sendiri tidak pahami apa dan terkejut mendapati semua tamu tertawa karenanya.
Biarlah mereka berpikir ia pergi mencari Jaejoong meskipun Yunho sendiri sangat ingin menemui istrinya itu sekarang juga.
Perasaan tidak enak mengganjal Yunho. Apakah sesuatu hal buruk terjadi di sini semalam.
Seperti yang sudah di katakan bibi, wanita itu berada di ruang pribadi lantai atas. Yunho masuk setelah mengetuk pintu tanpa menunggu intruksi bibi karena ia tahu wanita itu sudah menunggunya. "Bibi... "
"Apa kau tahu bahwa Hankyung adalah seorang Pangeran?" Yuri memotong kata kata Yunho dengan pertanyaan yang membuat keponakannya itu mematung di tempat.
"Bibi, apa kau sadar dengan apa yang kau katakan?"
"Tentu saja! Aku bertanya padamu apa kau tahu bahwa Hankyung seorang pangeran. Pangeran Cina yang sebentar lagi, bukan bukan," Yuri meralat. "Yang mungkin sudah menjadi Raja Cina saat ini."
Maju menghampiri Yuri, tangan Yunho menyentuh kening bibi untuk memastikan kesehatan bibinya itu. Yuri menangkis tangan Yunho kasar. "Aku tidak demam. Aku serius. Mrs. Choi datang kemari kemarin malam dan mengatakan bahwa Hankyung adalah pangeran dari cina."
"Dan kenapa kau tidak memberitahuku ketika Mrs. Choi datang. Bibi lupa bahwa aku melarang siapapun dari keluarga Choi untuk menginjakan kaki di sini?" Yunho tidak percaya bahwa wanita itu datang dengan niat baik baik, dan untuk alasan apa?
"Astaga aku tahu kau akan seperti ini. Kau sibuk berdansa dengan istrimu, aku tidak ingin menganggu kalian, itulah sebabnya aku tidak memberitahumu." Yuri mencoba menjelaskan.
Wanita itu mendelik kearah Yunho sampai membuat keponakannya itu kehabisan kata. "Saat itulah Mrs. Choi melihat Hankyung dan mengenalinya sebagai kenalan lama. Hubungan almarhum suaminya dengan pangeran Cina itu cukup baik atau itulah yang di ceritakan Mrs. Choi dulu kepadaku."
Cerita tentang perbincangan mereka semalam pun mengalir dengan lancar. Bibi Yuri menceritakan semuanya tanpa ada kata yang tertinggal sepatah pun. "Aku curiga Hankyung ada hubunganya dengan istrimu." wanita itu menjabarkan penilainnya.
Hening.
Cerita itu sungguh tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang pengembara seperti Hankyung adalah seorang pangeran. "Kita harus menyelidiki ini lebih jauh. Aku akan meminta Yihan mencari tahu sesampainya pengacaraku itu ke seoul besok. Di sana tentu akan ada banyak peluang untuk mencari tahu siapa Hankyung sebenarnya. Atau jika perlu aku akan menyewa seseorang untuk menyelidiki Pangeran Cina yang Mrs. Choi maksud, kita tidak boleh mengabaikan kemungkinan persamaan wajah di antara keduanya. Mungkin saja hanya mirip, tidak lebih"
Jika kecurigaan bibinya tentang Hankyung tidak benar bagaimana. Jika ternyata Hankyung adalah pembunuh yang di kirim Seung Hyun untuk menyakiti Jaejoong lalu Mrs. Choi datang dengan berbagai alasan dan membawa pria itu pergi lalu mengenali pria itu. Mungkinkah ini skenario yang mereka mainkan, atau pada dasarnya mereka saling mengenal. Yunho harus mencari tahu. Ia tidak boleh gegabah. Ini menyangkut keselamatan istrinya, ia tidak akan membiarkan siapapun melukai Jaejoong.
"Mungkinkah Hankyung adalah ayah Jaejoong?"
"Bagaimana mungkin." ujar Yunho kasar. Dari mana bibi mendapatkan pikiran konyol itu. "Hankyung baru berusia tiga puluh lima tahun. Bibi sendiri yang memastikan umur Hankyung bukan?"
"Bisa saja dia berbohong. Tidak ada identitas atau petunjuk lain yang mengatakan usia pria itu yang sebenarnya." Sialnya bibi benar. Yunho terlalu ceroboh dengan tidak meminta identitas pria itu sebelum menerima Hankyung sebagai pengawal yang ia tugaskan untuk Jaejoong karena istrinya begitu bahagia mendapat pengawal yang tidak asing baginya.
Tuhan. Apakah ia membayar pembunuh bayaran untuk menjaga istrinya. Memikirkan kemungkinan tersebut membuat Yunho ngeri, bagaimana jika kenyataan yang sebenarnya adalah hal yang takut ia bayangkan.
"Usia Jaejoong baru menginjak dua puluh tahun." Yuri menarik Yunho kembali ke masalah yang mereka bahas.
"Masih beberapa waktu lagi."
"Nah. Itu lebih memungkinkan. Coba kau pikir. Seorang pria bisa menghasilkan putra di usianya yang lima belas tahun. Mungkin di usianya itulah Hankyung bertemu dengan Heechul."
Kemungkinan yang menurut Yunho konyol. "Tidak mungkin." ia menyangkal. "Jika pun benar. Ibu Jaejoong lebih desawa lima sampai enam tahun. Terlebih mungkinkah seorang Pangeran Cina berhubungan dengan pria yang penduduk sebelah katakan penyihir dari Korea?"
"Kau benar." Yuri menggerang. Wanita itu kembali berjalan mondar mandir di ruangan luas itu untuk beberapa saat dalam keheningan.
Swlama keterdiaman itu Yunho memikirkan ulang semua apa yang baru saja mereka bahas.
"Tapi aku yakin. Mr. Choi dan istrinya, Hankyung dan Heechul memiliki hubungan. Entah itu apa yang pasti kita harus mencari tahu."
"Aku akan mencari tahu. Bibi urus masalah bibi sendiri dan bantu aku mengawasi pelayan baik pelayan baru atau lama. Kastil sudah tidak aman lagi untuk istriku dan setelah pesta ini selesai, aku berniat mengecek ulang identitas para pelayan dan pekerja. Aku tidak ingin memperkerjakan penjahat yang suwaktu waktu berniat membunuh istriku."
Ya benar! Yunho harus bertindak lebih waspada. Keselamatan istrinya di pertaruhkan di sini. "Aku akan bicara pada Jaejoong nanti. Dan kau Bibi, jangan mengatakan masalah ini kepada istriku."
Yuri mengangguk setuju. "Tidak. Aku tidak akan memberitahunya." Ragu ragu dia menambahkan. "Tapi aku tidak yakin istrimu akan diam saja jika kau memecat Hankyung tanpa alasan yang memberatkan pria itu."
"Aku akan memikirkannya." Pria itu berbalik dan keluar ruangan.
Itulah masalah sebenarnya di sini. Hankyung telah berhasil mendapatkan kepercayaan Jaejoong dan mengenggam hatinya. Istrinya itu tidak akan suka jika Yunho memecat pria yang menurut Jaejoong adalah penolong serta kesatria berbaju zirah miliknya. Yunho harus siap di benci Jaejoong tapi ia juga tidak bisa tinggal diam membiarkan pria itu tanpa pengawasan berkeliling kastil terlebih mengikuti Jaejoong kemanapun istrinya itu pergi.
Memikirkan istrinya tersakiti membuat Yunho ngeri.
。。* 。。
"Bibi mengatakan padaku Hankyung Hyung pergi. Kemana dan kapan? Kenapa tidak berpamitan kepadaku?" Jaejoong menerobos masuk keruang kerja Yunho siang itu.
Mengalihkan pandangan dari komputer, Yunho menatap istri cantiknya itu dengan senyum tenang. Meski hanya berpakaian sederhana, pengantinnya mampu mempesona Yunho lagi dan lagi. "Dia hanya pergi untuk beberapa hari."
"Hankyung Hyung adalah pengawalku, seharusnya dia minta ijin padaku sebelum pergi." Merajuk oh. Yunho mengulurkan tangan menyambut istirnya.
Hal yang tidak dapat Yunho hindari adalah rajukan serta amarah istrinya yang sering naik turun. "Aku akan menghubunginya untuk segera kembali." Tanpa bangkut dari duduknya, Yunho menarik Jaejoong kearah tubuhnya, kedua paha Yunho menyunci tubuh istrinya tetap di tempat.
Godaan itu tidak berpengaruh terhadap Jaejoong, pemuda itu mencoba lepas dari kukungan kedua kaki suaminya namun gagal. "Bagaimana caramu menghubunginya. Dia tidak punya rumah yang dapat kau tuju."
"Aku akan menemukan cara untuk menemukannya. Dia pergi dari tugas dan menelantarkanmu begitu saja, meskipun kita akan pergi bulan madu sore ini, tidak seharusnya pengawal nakalmu itu kabur begitu saja tanpa pamit, benar begitu?"
Anggukan Jaejoong membuat Yunho gemas. Pria itu menarik leher istrinya menunduk kearahnya, mencium bibir menggoda Jaejoong yang mengerucut karena merajuk.
Biarlah istrinya berpikir sesuka hati tentang Hankyung, Yunho tidak akan menjabarkan kecurigaan yang ia rasakan karena ia sadar, hal itu hanya akan membuat Jaejoong murka karena ia menuduh tanpa bukti.
"Kau tidak bisa menggodaku. Apa yang kau lakukan di sini ketika para tamu berpamitan pergi?"
"Memastikan hotel di Jeju siap saat kita sampai di sana sore ini." Dengan dagu Yunho menunjuk komputer miliknya. "Kau lihat."
Jaejoong hanya melirik sekilas benda kotak di atas meja. Ia memang belum memiliki komputer pribadi atau ponsel, namun bukan berarti ia tidak tahu benda apa itu serta kegunaanya. Terkurung lima tahun di hutan memang membatasi pergaulan Jaejoong, dan pengetahuan, namun tidak membuatnya bodoh meski ia sedikit ketinggalan sebagian info perkembangan dunia.
"Kapan kita akan berangkat?"
"Sore ini." Meski tidak rela, Yunho melepaskan Jaejoong, membiarkan istrinya bersandar pada sisi meja menatap layar komputer.
"Pelayan sudah menyiapkan semuanya. Usai makan siang kita hanya perlu menyiapkan diri dan berangkat."
"Aku belum pernah naik pesawat sebelumnya. Apalagi pesawat jet pribadi." Pengakuan jujur Jaejoong membuat Yunho geli. "Pasti harganya sangat mahal bukan?"
Yunho mengangguk. "Ya. Tapi itu sepadan dengan keperluan bisnis yang harus aku urus di luar kota bahkan pulau. Kami memiliki beberapa tanah dari pulau pulau tersebut untuk kami himbau setiap bulannya. Pesawat mempersingkat perjalanan."
Keterdiaman Jaejoong menarik perhatian Yunho. Pria itu bangkit dari kursi kebesaran yang ia duduki dan memeluk Jaejoong dari belakang. "Apa kau menyukai kamar yang aku pesan?" ia berbisik, menyurukan wajah ke sisi leher istrinya.
Desahan lolos dari bibi Jaejoong. Pemuda itu bersandar ke belakang, sepenuhnya menyerahkan diri pada kekuatan lengan Yunho yang melingkupi tubuhnya. "Apakah di sana ada... " napas Jaejoong tercekat. Lidah serta gigi Yunho ikut serta menganggu konsentrasinya akan apa yang ingin ia ungkapkan. "...ada hiburan lainnya?" kata terakhir itu di ucapkan dengan desahan.
Yunho membalik tubuh istrinya, menopang tubuh Jaejoong pada satu lengan dan lengan lain menarik kaos pemuda itu sampai terbuka. "Hiburan yang tentunya akan kau sukai." Menunduk, Yunho menyurukan wajah pada leher jenjang Jaejoong. Mengekspos serta menggoda kulit seputih pualam kekasihnya sampai merona. "Akan aku berikan hiburan apapun yang kau inginkan." Menarik tubuh Jaejoong kembali tegap ia membawa Jaejoong ke kursi kebesaran yang baru beberapa menit tadi ia tinggalkan. Duduk di sana dan mengangkat tubuh istrinya dengan begitu mudahnya.
Gairah menyala di mata Jaejoong saat musang Yunho mengamati wajahnya dalam diam, serigai menggoda yang pria itu tunjukan membuat kekasihnya tersipu malu.
Yunho merasa sangat bangga pada diri sendiri karena mampu memberikan efek dasyat seperti yang Jaejoong timbulkan padanya. Kenyataan bahwa ia begitu sangat menginginkan Jaejoong membuatnya hampir tidak bisa bernapas.
"Aku menginginkanmu istriku, sekarang, di sini." Menarik tubuh istrinya ke atas tubuhnya, Yunho membiarkan Jaejoong mencari tempat ternyaman bagi pemuda itu.
Jaejoong tidak banyak bergerak. Kursi itu memberi mereka ruang gerak sempit yang membuatnya frustasi. "Bawa aku ke sofa Yunho."
Kata perintah itu di ucapkan Jaejoong dengan sangat lantang. Yunho menangkap nada emosi di sana dan membuat tertawa. " Jaejoongieku yang manis." Meraih tubuh mungil istrinya, Yunho bangkit bersama Jaejoong dalam dekapan lenganya yang kuat.
Takut jatuh, Jaejoong mengaitkan kedua kaki pada pinggang Yunho, kedua lengan merangkul leher suaminya erat. Kedua tidak membiarkan waktu terlewatkan barang sedetik pun. Tanpa melepaskan tautan bibir mereka Yunho berjalan menuju sofa yang lebih luas. Menjatuhkan tubuh mereka di sana dengan suara yang cukup nyaring.
Jaejoong menggeliat di bawah tekanan tubuh suaminya, mencoba menarik lepas kemeja Yunho tanpa melepaskan satu pun kancing dari tempatnya. "Sabar sayangku." kata itu terdengar parau. Yunho membantu istrinya menanggalkan pakaian mereka satu persatu sampai hanya tersisa celana Yunho yang menutupi tubuh maskulin pria itu.
"Aku menginginkan anak."
Kata itu bagaikan guyuran air dingin pada gairah Yunho yang membaran. Pria itu menarik diri, bertumpu pada kedua siku di sekeliling pinggang Jaejoong. "Haruskah kau mengatakan itu pada hari kedua kita menjadi suami istri?"
"Apa sebaiknya sebelum kita menikah?" Pertanyaan konyol itu mau tak mau membuat Yunho tertawa. Tawa lantang yang membuat tubuh pria itu menjauh dari atas tubuh Jaejoong. Alhasil pemuda itu mendesah kecewa merasa kehilangan kehangatan tubuh suaminya.
Duduk di sisi lain sofa. Tangan Yunho terlur, menarik kekasihnya untuk bersandar pada bahu. Lengan pria itu melingkupi bahu serta pinggang Jaejoong, mendorong tubuh telanjang istrinya tanpa memberi jarak sesikit pun bagi udara untuk lewat. "Katakan padaku alasannya."
Ciuman ringan Yunho curahkan pada setiap bagian tubuh Jaejoong yang mampu bibirnya raih. Sekali lagi api gairah dalam tubuhnya menyala hanya dengan gesekan malu malu tubuh istrinya. Lidah pria itu menggoda, menjilat, gigi Yunho menemukan daun telinga istrinya untuk ia gigit.
Jaejoong memekik geli. Mendorong dada bidang Yunho menjauh agar dapat menatap wajah tampan Yunho yang sepertinya sedikit lebih berisi. "Karena jika aku tidak hamil aku takut aku akan kehilanganmu."
"Kau tidak akan kehilangan aku. Aku bersumpah!"
"Tapi takdir dan Tuhan tidak menjanjikan itu."
"Kenapa kau menyebut nama Tuhan."
"Karena Tuhan akan mengambilmu dariku jika kita tidak segera memiliki bayi."
Hening. Yunho membiarkan tangan Jaejoong mendorong tubuhnya menjauh untuk melihat wajah istrinya dengan lebih cermat. Apakah Jaejoong tahu akan kutukan keluarga yang mungkin akan datang kapan saja Tuhan menginginkan nyawanya?
"Katakan padaku kenapa Tuhan harus mengambil dan apa alasannya?" Pertanyaan konyol. Manusia akan mati pada saatnya tiba. Maut adalah rahasia Tuhan dan Yunho tidak mengingkari atau mengelak bahwa ia juga akan mati.
Akan tetapi kutukan keluarga membuat dirinya benar benar benci di lahirkan dalam keluarga Jung karena ia harus meninggalkan istri yang di cintainya tanpa memberi kesempata bagi mereka untuk bahagia lebih lama.
Cinta. Cinta yang akan ia tinggalkan begitu saja ketika baru saja ia temukan. "Apapun akan aku berikan untukmu Jongie. Jangan kan seorang anak, berapa pun anak yang kau inginkan akan aku turuti jika itu membutmu bahagia." Dengan begitu istrinya tidak akan kesepian ketika Yunho pergi. Jaejoong akan sangat sibuk mengurus mereka sampai tidak ada waktu untuk memikirkan Yunho.
Tapi kenapa ia bersedih, kenapa perasaan hampa menyelubungi hatinya memikirkan Jaejoong tidak akan merindukan dirinya dan kemungkinan istrinya akan menemukan pria lain yang mengagumi serta mencintai Jaejoong membuat dadanya sesak.
Jaejoong hanya miliknya seorang, tidak boleh ada orang lain yang menyentuh Jaejoong seperti bagaimana ia menyentuh dan memuja istrinya. Hanya dia yang boleh mencium dan membelai tubuh istrinya di tempat tempat rahasia.
Tanpa sadar, cengraman lengan Yunho pada pinggang Jaejoong mengerat. "Yun kau menyakitiku."
"Aku tidak akan meninggalkanmu, kau dengar. Kau hanya milikku dan tidak akan aku bagi untuk orang lain." Ciuman berikutnya lebih kasar. Lebih menuntut dan putus asa.
"Tentu saja aku milikmu." Jaejoong membiarkan Yunho menggeser tubuhnya keatas pangkuan pria itu, membiarkan Yunho menyentuh membelai dan menciumnya seperti kehendak Yunho sendiri tanpa perlawanan, tampa protes ia pun membuka diri. Membiarkan Yunho menjadi bagian dari dirinya sekehendak pria itu.
Percintaan kali ini lebih kasar, lebih menuntut dan putus asa. Bahkan Yunho tidak memberi Jaejoong kesempatan bagi istrinya untuk berpartisipasi dalam percintaan mereka.
Saat keduanya menemukan kembali nyawa serta napas mereka usai menggapai tempat tertinggi surga dunia, Jaejoong terkulai lemas di atas tubuh suminya dengan napas memburu. Ia mencium kulit berkeringat Yunho dan menghirup aroma percintaan mereka yang memenuhi ruangan.
"Bibi mengatakan kau akan meninggalkanku saat kau berusia tiga puluh tahun." ia berkata serak.
Jaejoong merasakan tubuh suaminya berubah tegang di bawah tubuhnya. Namun ia tetap melanjutkan. "Jika kita tidak segera memiliki anak, Yunho, aku takut kau akan meninggalkanku seperti kutukan yang Bibi Yuri jabarkan."
Keterkejutan dari apa yang di perlihatkan Yunho membuat Jaejoong putus asa. Ia berharap apa yang di katakan bibi adalah bohong, namun sepertinya itu benar.
"Aku ingin memiliki bayi secepatnya. Sebelum kau berusia tiga puluh tahun dan kutukan itu datang menjemputmu."
。。* 。。
Keterdiaman Yunho yang mendadak membuat Jaejoong gelisah. Suaminya itu tidak mengatakan apapun lagi sejak ia menjabarkan apa yang bibi katakan kepadanya beberapa menit lalu. Apakah suaminya itu marah kepadanya? Apakah Jaejoong salah bicara atau melakukan kesalahan lain yang ia sendiri tidak tahu atau pun sengaja. Ia tidak tahu itu.
Setelah memungut kembali pakaian mereka, Yunho mengenakan kemeja dan sisa pakaiannya dalam kesunyian, ia membantu istrinya membersihkan tubuh dari sisa sisa percintaan mereka dan membantu Jaejoong berpakaian, mengambilkan segelas air untuk Jaejoong sebelum duduk di seberang meja, jauh dari tempat di mana Jaejoong duduk.
Jaejoong tidak menyukai posisi mereka saat ini. Ia lebih suka duduk di pangkuan Yunho atau di sebelah pria itu saat keduanya terdiam tanpa kata memecahkan keheningan yang entah mengapa terasa mencengkam. Kalau pun mereka ingin mengobrol tidak seharusnya pria itu menjaga jarak bukan.
Musang Yunho mengamati Jaejoong cukup lama. Dengan posisi pria itu membelakangi jendela, tatapan pria itu tidak dapat Jaejoong baca, tersamarkan oleh pendar cahaya yang menyelimuti sekeliling tubuh pria itu.
"Kau marah padaku?"
Terdengar helaan napas dalam Yunho sebelum pria itu menjawab. "Tidak."
"Apa aku berbuat salah dan mengatakan sesuatu yang tidak ingin kau dengar." Keterdiaman Yunho membuat Jaejoong was was. Punggung pemuda itu sejajar dengan sandaran sofa saat mengamati suaminya. Tanpa kata pun ia tahu suaminya marah. pria itu menjauhinya ia sadar betul akan hal itu.
"Katakan padaku, mengapa kau bersedia menikah denganku?" Doe Jaejoong mengerjap, seakan terkejut dengan pertanyaan yang Yunho lemparkan.
Pertanyaan itu tidak pernah terpikirkan oleh Yunho sebelumnya, seharusnya ia bertanya sebelumnya, jauh hari sebelum mereka menikah dan bukannya saat mereka sudah menikah.
Yunho paham kenapa pernikahan ini terjadi, demi menyelamatkan Jaejoong dari fitnah penduduk desa seberang dan menjamin kehidupan Jaejoong di masa depan. Meskipun hatinya ikut andil setelahnya itu tidak termasuk rencana karena Yunho tidak ingin mencintai Jaejoong jika akhirnya ia akan meninggalkan kekasihnya ini.
"Karena kau melamarku. Bukan kah kau ingin menikahiku dan aku juga ingin menjadi istrimu." Bukan ini yang inin Yunho dengar, tidak adakah perasaan istimewa yang di rasakan Jaejoong kepadanya, sayang, kasihan yang lebih muluk lagi adalah cinta.
"Hanya itu?"
Apakah Yunho mampu membaca pikiranya Jaejoong, Jaejoong tidak tahu itu.
Pemuda itu duduk dengan gelisah, kedua tangan di atas pangkuan Jaejoong meremas satu sama lain yang memberi tahu Yunho bahwa Jaejoong berbohong. "Katakan yang sejujurnya, Jongie, Kau tahu aku akan mengetahuinya lambat laun jika kau menikah denganku karena alasan lain."
"Karena aku menyangimu, karena kau melamarku dan kau begitu baik." Ada jeda. "Tidak ada orang lain yang memperlakukan diriku begitu baik sebelumnya, kecuali Yoochun tentu saja. Tapi ini berbeda."
"Tepatnya apa itu, sesuatu yang berbeda?"
"Dan kenapa kau melamarku? Bukankah banyak wanita lain yang menginginkan kau menikahi mereka dan kau malah memilihku yang bukan siapa siapa, tanpa keluarga serta asal usul yang jelas."
"Kau mengabaikan pertanyaanku."
"Kau harus menjawab pertanyaanku." Jaejoong tidak tahu mengapa ia begitu keras kepala, ia hanya tahu dirinya juga ingin tahu hal yang sebaliknya.
Mengapa Yunho meragukan pernikahan mereka setelah kemarin mereka menikah dan bukan sebelumnya. Apakah pria itu menyesal, apakah Jaejoong tidak mampu memuskan hasrat pria itu. "Aku membuatmu kecewa?" ujar Jaejoong lemah.
"Demi Tuhan, tidak!"
"Lalu kenapa." Air mata mengaburkan pandangan Jaejoong, tanpa memedulikan situasi ia menangis, lalu menambahkan. "Kau kecewa menikahiku, itu sebabnya kau bertanya mengapa aku bersedia menikah denganmu."
Yunho menyesali pertanyaan yang telah ia lontarkan, ia tidak bermaksud meragukan perasaan sayang Jaejoong, hanya saja ia penasaran kenapa pemuda itu menerima lamaranya dengan begitu terbuka hanya dalam perkenalan mereka yang begitu singkat. Meski Yunho sudah menjabarkan pernikahan ini di dasari rasa sayang serta memastikan kesejahteraan Jaejoong selamanya. Sekarang ia penasaran.
"Aku akan jujur." Kali ini Yunho lah yang berubah tegang.
Pria itu duduk lebih tegak dari sebelumnya dan menunggu dengan perasaan was was.
"Aku menikahimu karena aku memang menginginkan menikah denganmu, aku menyayangimu lebih dari siapapun, bahkan saudara kembarku sendiri, kau memberiku kenyamanan serta kedamaian yang belum pernah aku dapatkan dari siapapun selama lima tahun terakhir, aku tertarik padamu itu jawaban pertama."
Jawaban pertama? apakah jaejoong masih memiliki jawaban lain.
Senyum Yunho pudar melihat air mata Jaejoong kembali membasahi wajah cantiknya.
Pria itu bangkit menghampiri istrinya dan menangkup wajah basah Jaejoong. "Aku minta maaf, jangan katakan jika kau tidak ingin menjelaskan. Sudah cukup bagiku bahwa kau memiliki rasa meski itu hanya sekedar sayang, karena rasa sayang adalah awal yang cukup menjanjikan untuk sebuah hubungan." Terlebih gairah di antara mereka yang menggelora. Yunho tidak mengatakan itu karena ia paham ini bukanlah waktu yang tepat.
Menangkis tangan suaminya Jaejoong bersikeras. "Aku harus mengatakannya atau kau akan bertanya lagi di lain waktu, aku tidak ingin kau meragukanku meski kau berhak meragukan perasaanku padamu."
Tangan Yunho terangkat berniat mengahapus air mata istrinya namun urung, Jaejoong benar, tidak ada salahnya ia mendengarkan. Kecuali jawaban itu adalah jawaban lain yang tidak ingin Yunho dengar.
"Bibi Yuri mengatakan semuanya padaku."
"Mengatakan apa?" Yunho memiringkan kepala geli melihat istrinya mengusap hidung sembabnya kasar.
"Tentang kutukan dan anak sebelum kau berumur tiga puluh tahun."
Musang Yunho mengerjap. Ia yakin tidak salah mendengar apa yang di jabarkan istrinya tapi apa yang di maksud Jaejoong ia tidak paham. "Jelaskan." ia meminta.
"Bibi Yuri mengatakan padaku bahwa keturunan Jung harus menikah dan memiliki bayi sebelum berumur tiga puluh tahun, itu dua tahun lagi, jadi Yunho kita harus segera memiliki bayi agar aku bisa menyelamatkanmu."
Butuh waktu bagi Yunho menyerap apa yang di jabarkan istrinya. Saat ia memahai setiap kata, pria itu tidak mampu menahan tawa yang keluar dari bibirnya. Tawa yang menggema di ruang kerja sampai Yunho yakin meja pun bergetar karenanya. "Aku akan mencekik Bibi karena ini."
Kedua tangan Yunho kembali menangkup wajah istrinya, kali ini Jaejoong membiarkan Yunho melakukan yang di inginkan pria itu bahkan saat Yunho menarik dan melahap bibirnya penuh nafsu.
Sesaat kemudian ia mendorong tubuh Yunho, ia bertanya. "Kenapa kau tertawa, ini serius Yunho."
"Aku tahu." menarik istrinya ke dalam pelukan, Yunho berkata. "Terima kasih karena kau berbaik hati mencoba untuk menolongku, tapi sayangku," menarik Jaejoong menjauh, pria itu mengamati setiap gurat wajah sedih di wajah Jaejoong. "kutukan itu tidak benar. aku tidak akan mati meski tidak memiliki anak seumur hidup sekalipun." Tidak, kecuali kutukan keluarga lain yang memang menghantui Yunho.
Ia tidak perlu mengatakan ataupun menjelaskan kepada Jajeoong karena pada saatnya nanti ia akan meninggal secara wajar seperti ayahnya meninggal karena penyakit.
"Apa maksudmu tidak benar?" Kedua mata indah Jaejoong mengerjap. "Kau tidak akan mati? Tidak ada kutukan?" Anggukan kepala Yunho membuat Jaejoong menangis histeris.
"Kenapa? Bukankah seharusnya kau bahagia."
"Aku bahagia, tapi aku ingin menangis."
"Ya Tuhan, kau akan membunuhku jika terus menerus menangis karena aku menghawatirkanmu, kau tahu?"
"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu meninggal karena khawatir. Aku tidak senakal itu, kau tahu." Yunho tidak mampu menahan tawanya lahi, menarik istrinya ke dalam pelukan dan mengacak rambut berpotong pendek kekasihnya dengan gemas. "Kau tidak nakal."
"Aku senang kita tidak akan terpisahkan sampai tua, aku takut sebelumnya bahwa kau akan meninggalkanku beberapa tahun lagi seandainya kita tidak segera memiliki anak."
"Kita akan mengusahakan itu, jadi sayangku, mengapa kau tidak pergi bersiap siap, kita akan berangkat bulan madu dua jam lagi, aku akan bicara kepada Bibi sebelum kita pergi."
"Baiklah." Melepaskan diri, Jaejoong melompat dari sofa, mencari sepatu yang entah ada di mana sebelum berlari keluar dari ruang kerja Yunho. "Jangan lama lama Yunho, dan jangan memarahi bibi karena membohongiku agar aku bersedia menikah denganmu."
"Tidak akan." Bahkan Yunho akan berterima kasih pada bibinya akan hal itu.
"Jongie." Langkah Jaejoong terhenti di ambang pintu.
"Ya."
"Kau tahu siapa Ayahmu?"
Pemuda itu terlihat ragu sejenak. Yunho berharap istrinya tahu sesuatu tentang masa lalu keluarganya meski hanya sedikit saja.
"Hal yang sangat ingin aku ketahui adalah siapa Ayahku. Bahkan jika aku harus membayar dengan nyawa untuk mengetahui siapa dia, aku akan memberikan nyawaku dengan suka rela. Tapi tidak ada yang tahu, dan aku tidak ingat apa apa." Jaejoong berbalik dan pergi.
-TBC-
Typo bertebaran. EYD tidak jelas dan berantakan.
Ff ini HQ versi korea bahkan di chap awal sudah di beri penjelasan panjang lebar kenapa tidak di baca. Saya heran, anda bacanya dari mana, bagaimana atau lupa.
-tepuk jidat Yoochun-
Beberapa kesalahan di chap sebelumnya. JJ itu namja. Sudah ada tulisan Yaoi kan.
Padahal aku sudah edit ulang tapi tidak tahu kenapa saat di publis bagian itu tidak juga berubah. Bahkan sebagian typo lainnya juga.
Saya nulis di hp pada draf Watty, hp sherry layar sentuh jadi meski mau edit berkali kali kadang sering mengalami masalah typo lagi dan lagi. Padahal sudah di pantengi dengan jeli satu satu. Tapi mau bagaimana lagi. Mohon di maklumi. #Alasan. Plak.
Buat yang tanya nulis di hp dan publis lewat hp bisa gak?
Bisa. Gak masalah.
Tapi aku pribadi sering menemukan beberapa bagian yang aku edit ulang setelah di publis tidak juga berubah.
Wajar tidaknya saya tidak tahu. Berbeda jika publis atau ngetik di lappy.
Semoga menjawab pertanyaan anda. Terima kasih.
