Title : Say You Love Me

Author : Sherry Kim
Cast : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Other

Genre : Romance, Drama, Family, Sad, HQ, etc...

Rate : M
WARNING
Yaoi. Tidak suka jangan baca.
Alur tidak jelas typo bertebaran.

.. * ..

Yjskpresent.

.

.

Bingkai foto pernikahan yang cukup indah terpasang di dinding aula utama kastil. Hankyung mendapati hal itulah yang menarik perhatiannya saat ia melewati pintu. Foto itu begitu besar tergantung pada dinding diantara kedua tangga yang melengkung menuju lantai atas, sungguh indah.

Melangkah lebih ke dalam, Hankyung mengagumi foto pernikahan yang sangat besar itu. Tingginya menyamai dinding sampai pada lantai dua dengan lebar setengah dari jarak antara tangga satu menuju tangga lain. Jemari pria itu menyusuri bingkai berukir emas pada sekeliling frame dengan ukiran unik yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Saat ia mendongak, Hankyung melupakan fakta bahwa semua itu sangat mengagumkan kala manik mata pria itu melihat senyum malu malu Jaejoong dalam foto ketika Yunho mencium pipinya.

Foto itu menggambarkan kemesraan antara keduaanya, dengan jas putih serja kemeja merah muda yang sama seperti yang di pakai Jaejoong di hari pernikahan. Yunho berdiri agak kebelakang di sisi kiri Jaejoong dengan sebelah tangan pria itu di atas pundak Jaejoong. Yunho sendiri memakai jas hitam dengan kemeja putih, dasi hitam tersimpul sempurna menambah ketampanan pria itu. Betapa serasi keduanya sampai membuat Hankyung terharu.

Air mata bergulir tanpa permisi melewati pipi berdebu Hankyung akibat perjalanan. Betapa Hankyung sangat merindukan Jaejoong sejak pertemuan terakhir mereka. Empat belas tahun.

Han Jaejoong. Han Yeongwoon.
Kedua bocah keturunan Han yang hanya pernah beberapa kali ia temui saat mereka balita. Yeongwoon yang malang, Heechul yang malang.
Keluarga kecil yang seharusnya bahagia mengalami penderitaan sampai harus mengakhiri kehidupan mereka dengan cara bunuh diri. Beruntung Jaejoong masih bisa di selamatkan.

"Mr. Han?"

Memalingkan wajah. Hankyung mengusap sudut mata yang basah sebelum menghadap wanita paruh baya yang telah berbaik hati menawarkan perlindungan baginya ataupun Jaejoong.

Bibi Yuri berhenti tidak jauh dari tangga terbawah. Wanita itu sibuk berdiskusi tentang pengeluaran bulan ini bersama kepala pelayan dapur saat mendengar salah seorang pelayan mengabarkan Hankyung telah kembali.

Satu minggu. Selama itu pula pria ini tidak kembali dari kediaman Mrs. Choi, setelah kepergiannya bersama wanita itu usai pesta dan hanya mengirim selembar kabar setelahnya lalu seakan lenyap di telan bumi. "Senang melihatmu kembali." Yuri menyapa.

Meskipun ia sedikit waspada sekembalinya Hankyung dari estat Choi, tetap saja ia merasa senang melihat pria itu kembali dengan selamat tanpa sedikit pun luka yang pernah ia pikirkan akan pria itu terima sebagai pembalasan dendam dari keluarga Choi karena melukai Choi Seung Hyun.

"Aku tidak tahu apakah aku masih di perlukan di sini, setelah pergi tanpa kabar selama seminggu."

"Omong kosong. Tentu saja kau masih di butuhkan." ujar Yuri tertahan. Rasanya seperti menelan bara api ketika ia tidak dapat atau tidak boleh melontarkan pertanyaan yang ingin wanita itu lontarkan. Tenggorokan Yuri gatal ingin bertanya namun demi kesopanan ia menahan diri untuk tidak melemparkan pertanyaan yang hanya akan membuat Hankyung lari terbirit birit setelahnya.

Baiklah, itu perumpamaan yang berlebih.

"Aku senang masih di butuhkan di sini. Aku sempat berpikir Mr. Jung akan memecatku setelah menghilang selama satu minggu penuh tanpa meminta ijin terlebih dahulu."

"Itu bukan salahmu, juga bukan karena kehendak pribadi kau meninggalkan kastil." Yuri mengibaskan tangan acuh. Dengan nada yang lebih serius wanita itu bertanya. "Bagaimana keadaan Mr. Choi, apakah dia... "Yuri berdeham. "sudah lebih baik."

"Sebaik yang dapat aku harapkan." Meski sebenarnya Hankyung berharap racun itu memberi efek lain yang lebih mematikan terhadap manusia, meskipun mustahil tentu saja. Racun itu biasanya ia gunakan untuk berburu, membunuh mangsa secara perlahan sebelum mati. Sayangnya racun itu hanya mampu membuat manusia menjadi lumpuh dan pembusukan pada daging. Dan Tuhan berkehendak lain, orang jahat memang sulit untuk mati.

"Aku senang mendengarnya." Desahan aneh keluar dari napas Yuri. "Aku takut Mr. Choi meninggal dan polisi akan menangkapmu, itu sangat tidak di inginkan bukan?"

"Tentu saja!"

Keduanya tidak berbicara. Baik Yuri maupun Hankyung mencari arah perbincangan yang aman dan nyaman. Keduanya tidak begitu akrab sebelum ini dan wajar jika Hankyung maupun bibi Yuri terlihat kesulitan mencari arah pembicaraan selanjutnya.

"Kapan Jaejoong akan kembali?" Tatapan Yuri terarah ke wajah Hankyung mendengar pertanyaan itu. "Aku dengar mereka pergi bulan madu." imbuh pria itu.

"Ah. Ya." ujar Yuri gagap. "Seharusnya mereka sudah kembali sore ini. Ada sedikit masalah yang memperlambat kepulangan mereka dari jadwal yang seharusnya. Mungkin sebentar lagi."

"Kalau Anda tidak keberatan. Aku ingin membersihkan diri sebelum menyambut kepulangan mereka. Serta meneruskan pekerjaanku, jika Mr. Jung masih membutuhkan jasa atau menginginkanku bekerja di sini, tentu saja."

"Aku yakinkan kau, Yunho akan mempertahankanmu. Asal kau tahu, Jaejoong sangat marah sebelum pergi bulan madu karena tidak menemukanmu di kastil." Mendengar itu membuat Hankyung tersenyum. Jaejoong sangat lucu ketika sedang marah dan ia menyukai wajah pemuda itu ketika berpikir keras.

Yuri berdiri dengan gelisah di sana, bertumpu pada satu kaki ke kaki yang lain, melirik Hankyung sesekali yang hanya membuat Hankyung merasa geli karena ia tahu apa yang membuat wanita itu gelisah. "Katakan apa yang ingin kau katakan Bibi, atau pertanyaan yang ingin kau tanyakan."

Terdengar helaan napas lemah dari Yuri. Wanita itu tersenyum canggung menatapnya. "Maaf sebelumnya karena aku bertanya sesuatu yang pribadi." Wanita itu beringsut lebih dekat, sangat dekat sampai hanya mereka berdua yang mampu mendengar apa yang wanita itu bisikkan. "Benarkah kau seorang Raja?"

Tidak ada apapun yang di tunjukan oleh wajah datar Hankyung, pria itu tidak menunjukan tanda tanda terkejut atau yang lainnya mendengar pertanyaan tidak sopan yang Yuri lontarkan.

"Jika aku adalah Raja. Tidak mungkin aku berada di sini bukan."

Itu bukanlah jawaban. Tapi bukan juga sanggahan. "Jadi?" Yuri menunggu dengan gelisah. Bertanya tanya apakah pria itu akan berkata jujur kepadanya.

Hankyung tersenyum kepada bibi Yuri seakan tidak mendengar pertanyaan yang membuat jantung Yuri berdebar menunggu jawaban.

Memiringkan kepala santai pria itu berkata. "Maaf membuatmu kecewa Bibi, sayangnya aku bukanlah Raja, meski aku memiliki hubungan dengan Raja saat ini serta kerajaan, sayangnya posisi itu bukan lah untukku."

Apakah ia harus bahagia, atau sedih mendengar penjelasan ini. Yur tidak tahu. Dan apakah pria itu berkata jujur?
"Jadi Mrs. Choi salah mengenalimu?"

"Ya." Pria itu membenarkan. "Tapi kami memang pernah bertemu sebelumnya, itu sudah sangat lama ketika kami berkunjung ke Istana yang jarang di kunjungi sekarang ini." Mundur selangkah, Hankyung tidak lagi merendahkan suaranya saat menjelaskan. "Anggota kerajaan sudah tidak lagi tinggal di istana sejak Raja sebelumnya meninggal. Kami hanya berkunjung ke tempat itu sesekali. Raja saat ini lebih suka tinggal di ibu kota negara." Hankyung menjelaskan.

"Kau bukan Raja, juga bukan pangeran. Lalu siap kau?"

"Aku memang bukan Raja, tapi aku memang seorang Pangeran."

Pernyataan santai itu membuat Yuri menahan napas. Wanita itu terlalu terkejut untuk menyadari wajahnya memucat dan hampir kehilangan keseimbangan. "Pangeran?"

"Pangeran yang di buang lebih tepatnya." ujar Hankyung getir. Pria itu siaga melihat tubuh bibi Yuri yang bergerak gerak aneh, takut wanita itu terjatuh kapan saja.

"Aku tidak lagi memiliki hak ataupun wewenang untuk mengklaim akul seorang Pangeran, karena tidak akan ada nama Pangeran Hankyung dalam buku sejarah kerajaan cina, atau di manapun." Kepahitan dalam setiap kata terdengar begitu jelas. Hanya orang yang pernah memiliki perjalanan hidup menyakitkan lah yang mampu mengatakan kata itu dengan sangat datar. Yuri yakin akan hal itu. Seakan Hankyung memang tidak pernah merasakan kemewahan hidup di dalam istana.

Perasaan menyesal menikam dada Yuri karena sudah lancang melontarkan pertanyaan itu, akan tetapi wanita itu tidak bisa menahan perasaan penasaran ataupun menyembunyikan keterkejutannya saat bertanya. "Kau penjahat?"

Hankyung tertawa mendengar pertanyaan itu. "Penjahat memiliki banyak arti, Bibi, aku tidak tahu jahat dalam arti apa. Tapi aku bersumpah demi almarhum Raja cina, Ayahku, bahwa aku tidak akan melukai Jaejoong seperti yang kau takutkan. Aku akan melaksanakan pekerjaanku dengan baik dan pergi sesuai keinginan Mr. Jung. Jadi kau bisa tenang karena aku bukan lah pembunuh bayaran seperti yang kau pikirkan."

Dari mana pria itu tahu apa yang di pikirkan olehnya. Apakah Hankyung mampu membaca pikirannya? Batin Yuri.

"Aku tidak mampu membaca pikiran orang." Hankyung berkata geli melihat keterkejutan wajah bibi Yuri yang semakin pucat mendengar pengakuannya.

"Kau yakin?"

"Sangat yakin."

"Baiklah. Aku butuh waktu, ini terlalu mengejutkan bagiku. Ya Tuhan," wanita itu mendesah dramatis. "Kau seorang Pangeran."

"Mantan Pangeran. Sekarang aku bukan lagi seorang Pangeran." Hankyung meralat. "Aku tidak lagi memiliki wewenang ataupun kehormatan untuk menyandang status tinggi itu."

"Ya Tuhan."

"Semoga Tuhan menolong kita semua." Hankyung menepuk pundak bibi Yuri lancang. "Sekarang bolehkah aku istirahat Bibi?"

"Satu pertanyaan lagi."

"Silahkan."

"Yihan mengirim foto Raja Cina yang memimpin negara saat ini, pria itu sangat mirip denganmu, aku pikir bisa saja kau membohongi kami dan kau adalah... "

"Dia Kakakku," Hankyung meralat. Pria itu tersenyum getir. "Namanya Hangeng dan kami kembar."

Napas tercekat Yuri terdengar mengerikan. Wanita itu pasti akan jatuh andai Hankyung tidak meraih tubuh wanita yang lebih tua darinya itu cepat. "Aku butuh duduk."

"Aku akan meminta pelayan membawamu ke kamar, sepertinya kau lah yang membutuhkan istrirahat Bibi. Bukan aku."

Tentu saja! Siapa yang akan bisa berdiri tegak setelah mengetahui kenyataan bahwa pengawal pribadi di rumahnya adalah seorang Pangeran serta saudara kembar seorang Raja.

。。* 。。

"Aku mendengar seseorang mengatakan bahwa kau seorang Pangeran."

"Kau tidak mendengarnya dari seseorang. Tapi kau mendengarnya dariku." Mengalihkan tatapan dari piano, Hankyung menatap bocah yang masuk ke ruang music pribadi Jaejoong beberapa menit lalu secara diam diam.

Hankyung mengagumi langkah pelan bocah itu karena ia sendiri nyaris tidak menyadari suara apapun andai ia tidak melihat bayangan Changmin pada badan piano.

Changmin berdiri tegak di sisi kursi besar yang berukuran lebih tinggi dari ukuran tinggi tubuhnya. Kedua kaki berbalut sepatu anak itu kotor oleh tanah basah yang pastinya akan membuat para pelayan menggeram marah.

"Aku tidak menguping."

"Aku tidak mengatakan kau menguping."

Bocah itu mengabaikan Hankyung dan berjalan mendekat. "Jadi benar kau seorang Pangeran?" Kedua mata Bambi anak itu menatap Hankyung penasaran.

"Seperti yang kau dengar sebelumnya. Mantan! Mantan pangeran, nak."

"Kenapa?"

"Kenapa?"

Dengan gemas Changmin melambaikan kedua tangan di udara. "Kenapa kau di usir dari istana. Maksudku rumah Raja, di manapun itu. Kenapa kau tidak lagi menjadi Pangeran?"

Mengalihkan perhatian sepenuhnya dari piano, Hankyung menatap Changmin penuh pertimbangan. Ia tahu betapa cerdasanya anak itu karena ia memperhatikan Changmin sejak ia tinggal di dalam kastil. "Banyak hal yang tidak dapat kau dapatkan di dunia ini. Termasuk jawaban atas pertanyaanmu."

"Kenapa?"

"Karena aku tidak ingin."

"Kenapa kau tidak ingin?"

"Tidak ada alasan untuk menyebarkan keburukan diri sendiri. Terlebih kepada anak ingusan sepertimu." jawab Hankyung geram.

Changmin mendengus layaknya pria dewasa. "Aku tidak ingusan."

"Kau benar." Hankyung membenarkan. "Kau terlalu bersih dan tidak ingusan."

Mendekat lebih kearah Hankyung, bocah itu berusaha naik lalu duduk di sebelah pria itu menghadap ke arah piano. "Kau bisa memainkan piano?" Hankyung bertanya.

"Tidak. Tapi aku bisa bermain ini." Anak itu mengeluarkan harmonika dari kantong celananya. "Ayah memberiku hadiah ini sebelum dia meninggal."

"Apa kau merindukannya?"

Changmin menggeleng. "Dia tidak ingin aku merindukan dirinya."

"Dan kau tidak merindukannya?"

Bocah itu terdiam sejenak. Lalu menjawab. "Sedikit."

"Bagaimana kalau kita bermain bersama. Kau dengan harmonikamu dan aku dengan piano. Atau kau ingin bermain dengan anak anak lain di luar sana."

"Aku tidak memiliki teman. Tidak banyak anak pelayan atau pekerja di kastil ini dan desa terlalu jauh dari gerbang. Kau tidak mungkin memintaku jalan kaki ke desa bukan?"

Hankyung membenarkan itu. Anak cerdas. "Kau benar. Lebih baik kita memainkan sebuah lagu, tunggu, kita bisa menciptakan sebuah lagu baru untuk menyambut Jaejoong pulang."

Wajah berbinar Changmin memberi tahu Hankyung sesuatu. Anak itu menyukai Jaejoong. "Baik. Aku senang mereka kembali, kau kembali karena kastil terasa sunyi tanpa kehadiran kalian."

Mereka asik berkolaborasi setelahnya sampai tidak medengar suara mobil berhenti di depan mansion. Jaejoong mengintip dari jendela pintu memperhatikan sekeliling.

"Aku merindukan mereka semua. Rasa rasanya sudah sangat lama kita pergi." Mobil belum sepenuhnya berhenti sewaktu Jaejoong membuka pintu.

Yunho mengumpat kasar, berteriak kepada sopir malang itu untuk segera menginjak rem. Mobil mendadak berhenti tepat saat Jaejoong melompat turun. "Astaga Jongie." Yunho berteriak.

Mengabaikan suaminya yang marah, Jaejoong berlari menghampiri bibi Yuri yang sudah menyambut mereka di halaman depan kastil. "Apakah Hankyung Hyung sudah kembali?"

Pertanyaan mendadak itu sempat membuat Yuri terkejut. Satu minggu di Jeju membuat Jaejoong semakin tembam dari sebelumnya, yang hanya menambah kadar ketampanan Jaejoong sendiri.

Wanita itu melirik Yunho yang menyusul Jaejoong di belakang. Keponakannya itu terlihat marah dengan langkah lebar menghampiri mereka dan bersiap menyembur siapapun yang menghalangi jalan.

"Senang melihatmu masih di sini Bibi." kepada Jaejoong pria itu berkata. "Jika kau berani melompat dari mobil lagi Jongie, aku bersumpah tidak akan mengijinkanmu naik mobil lagi."

Wajah polos Jaejoong menatap suaminya suaminya. "Kenapa?"

"Kenapa?" Bentak Yunho. "Kau bisa saja mematahkan lehermu andai sopir tidak menginjak rem. Dan kau bertanya mengapa?"

Jaejoong beringsut ketakutan melihat amarah suaminya. Ada apa dengan Yunho, bukankah mereka baik baik saja bahkan bisa di bilang sangat baik selama perjalanan bulan madu mereka. Lalu mengapa pria itu marah marah ketika mereka baru saja menginjakan kaki di halaman kastil. "Yunnie, apa aku berbuat salah?"

Yuri menahan senyuman saat melihat bahu Yunho terkulai. Kemarahan keponakannya itu tidak dapat menandingi kepolosan Jaejoong, karena pemuda itu tidak menyadari kesalahan yang baru saja di buatnya. "Yunho hanya menghawatirkanmu Jongie." Wanita itu menyahut.

"Kenapa? Jongie baik baik saja."

"Kau turun dari mobil sebelum mobil berhenti. Itu bisa membuatmu cedera."

Tatapan Jaejoong menatap wajah suaminya yang masih menunjukan sisa sisa amarah di sana. Pemuda itu menghampiri Yunho untuk menyentuh lengan pria itu. "Oh Yunnie, aku minta maaf. Jongie hanya bahagia karena melihat rumah. Maaf." Berjinjit, Jaejoong mendaratkan ciuman tanpa rasa malu di atas bibir suaminya.

Para pelayan yang berderet menyambut kepulangan mereka mereka terkikik geli. Wajah Yunho seketika berubah hanya dengan kata kata manja serta ciuman dari istrinya itu. "Jangan di ulangi."

"Janji." Kepada Yuri Jaejoong bertanya. "Di mana Hankyung Hyung."

Salah seorang pelayan di belakang menyahut. "Saya melihat Mr. Han berada di ruang musik bersama tuan muda Changmin." Segera setelah kata itu terucap Jaejoong melesat maju. Bukan dengan langkah kaki anggun ataupun cepat, melainkan berlari memasuki kastil sambil mengucapkan salam kepada para pelayan.

Geraman Yunho membuat Yuri tertawa karena keponakannya itu sangat menghawatirkan Jaejoong sampai bisa di bilang posesive terhadap istrinya.

"Kau harus bersabar menghadapi istrimu."

"Aku sudah melakukannya selama seminggu. Ta Tuhan, Bibi, kau tidak akan percaya perubahan sifat serta sikap Jaejoong jika aku menjabarkan semuanya."

Kepala Yuri meneleng ke sisi lain. "Kau menyesal?"

"Ya." Pria itu tersenyum. "Menyesal karena tidak menemukannya lebih cepat. Dan menyesal karena tidak menikahi Jaejoong lebih cepat." Pria itu memeluk bibi penuh sayang. Mengumamkan kata beristirahat dan masuk ke dalam.

Suara musik terdengar samar saat Yunho melewati ambang pintu. Hal itu mengejutkannya karena denting piano itu terdengar merdu. Siap yang bermain piano? Yunho tidak yakin Yoochun berani menggunakan piano kesayangan istrinya ketika mereka tidak di rumah. Dan di mana sekertaris pribadinya itu sekarang?

Ia sudah memberi kabar akan pulang hari ini dan menyuruh sekertarisnya itu menyiapkan laporan perkebunan, pabrik dan yang lainnya.

Pintu ruang piano terbuka, Jaejoong berdiri tidak jauh dari pintu mengamati kedua laki laki berbeda gemarati itu berkolaborasi. Musik mengalun indah, ruangan itu seakan hidup hanya dengan musik di sana.

Angin membawa tirai beledu putih itu berkibar, cahaya menyinari ruangan dengan sangat indah, memantulkan cahaya samar matahari ke dalam ruangan.

Kedua pria berbeda usia itu terlalu larut dalam musik yang mereka mainkan sampai tidak menyadari seseorang masuk.

Melangkah maju, Yunho mendapati wajah Jaejoong seakan kosong. Pemuda itu seakan tidak berada pada tempatnya meski ia sudah mencoba memanggil nama istrinya beberapa kali. "Jongie, sayang." Khawatir melanda Yunho, ia menarik Jaejong ke dalam pelukan dan mendapati tubuh istrinya masihlah kaku.

"Jongie." melepaskan Jaejoong, ia melihat senyum istrinya menatap Yunho lebar.

"Indah bukan." Pernyataan itu membuat Yunho tertegun. Jaejoong berujar seakan pemuda itu tidak mengalami apapun sebelumnya. Ada apa dengan istrinya tadi?

Musik berhenti. Jaejoong menarik diri untuk menyerbu maju dan bergabung dengan kedua laki laki di depan sana. "Kami pulang."

Baik Changmin ataupun Hankyung menengok mendengar suara riang Jaejoong menggema. Seperti mendapat aba aba senyum mereka merekah di saat bersamaan dengan sampainya Jaejoong di hadapan mereka.

"Nuna." Melompat turun dari kursi, Changmin melompat kearah Jaejoong. "Nuna cantik sudah kembali." seru bocah berusia delapan tahun itu.

"Nuna cantik?" Seru Jaejoong histeris. "Kau memanggilku Nuna cantik?" ulang Jaejoong. "Aku laki laki, panggil aku Hyung."

Bocah itu menggeleng. "Nuna menjadi istri kakakku, jadi Nuna adalah kakak iparku. Nuna cantik."

Meski menggumamkan kata tidak suka dengan panggilan aneh itu, Jaejoong tidak menarik diri atau menjauh. Pemuda itu justru membalas pelukan Changmin dengan sama antusiasnya. "Kami punya hadiah untukmu. Yunho Hyung akan menunjukannya padamu."

Changmin berseru senang dan berlari menghampiri kakaknya. Senyum bocah itu menghilang kala melihat wajah datar Yunho yang menatap Changmin dengan kening berkerut. "Nuna bilang... Hyung... " suara bocah itu menghilang. Rasa bersalah menghampiri Yunho karena sambutan bocah itu berbeda dari sambutan yag Jaejoong dapatkan karena kemungkinan besar sikapnya yang dingin terhadap adik tirinya itu.

"Pelayan sedang membawa hadiahnya ke kamar. Mau ikut denganku membongkar hadiahnya?" Setidaknya kata itu membuat senyum malu malu Changmin muncul. Yunho mengulurkan tangan dan mendapati tangan Changmin begitu mungil di dalam genggaman tanganya.

Untuk pertama kalinya mereka bersentuhan dari hati ke hati sejak mereka bertemu. Bodohnya ia karena membenci serta mengabaikan Changmin, yang ia benci adalah ibunya, Yoona, kenapa ia melimpahkan kebencian terhadap wanita itu kepada bocah malang tak tahu apa apa ini.

Sebelum mereka keluar, Yunho melirik kebelakang, Jaejoong seakan lupa dengan keberadaan mereka karena istrinya itu begitu antusias menceritkan bulan madu mereka ke pulau Jeju kepada Hankyung.

Yunho bertanya tanya, mengapa istrinya begitu menyukai Hankyung. Keduanya terlihat begitu mudah berbaur bahkan lebih akrab ketimbang hubungan Jaejoong dan Yoochun, yang bisa di bilang mengenal pemuda itu sejak mereka masih kecil.

。。* 。。

Hari hari berikutnya Yunho di sibukan oleh pekerjaan yang menumpuk. Begitu banyak yang harus di periksa sampai membuatnya kehilangan waktu kebersamaan dengan Jaejoong. Kecuali pada malam hari, terkadang ia masih harus menyibukan diri di ruang kerja lalu naik ke lantai atas saat Jaejoong sudah tertidur.

Tentu saja itu tidak akan mempengaruhi percintaan mereka karena Jaejoong sendiri begitu antusias menyambut Yunho pada waktu malam ketika pemuda itu mampu memiliki Yunho sepenuhnya.

Bibir Yunho melengkung keatas membayangkan gairah istrinya yang tidak pernah surut. Bahkan ia mampu mendengar tawa Jaejoong setiap kali ia menutup mata seperti saat ini. Yunho menggeleng, ia sudah di buat takluk pada istrinya, Jaejoong membuatnya jatuh cinta dan mengajari Yunho cara memandang dunia dari sisi lain yang berbeda.

Jika dulu dirinya lebih fokus pada kematian akan kutukan, saat ini ia bahkan lupa akan hal itu ketika bersama kekasih hatinya itu. Begitu banyak impian serta angan, ribuan agenda tentang apa dan kemana ia akan membawa pernikahan ini melangkah membuat Yunho ingin tetap hidup.

Tawa itu kembali terdengar, Yunho mengamati sekeliling ruang kerjanya yang di terangi lampu meski pada waktu siang hari. Jendela terbuka lebar dan di sanalah Jaejoong, lagi lagi bersama Hankyung. Bodoh, tentu saja! Pria itu adalah pengawal pribadi istrinya yang jika boleh jujur Yunho merasa cemburu pada kedekatan mereka berdua.

Astaga, ia melupakan pria itu. Sudah berhari hari sejak kembalinya ia dan Jaejoong dari bulan madu dan Yunho belum bicara dengan pria itu secara pribadi. Begitu banyak yang ingin ia ketahui tentang masa lalu Hankyung.

Meskipun bibi Yuri sudah memastikan Hankyung bukan pria berbahaya atau pembunuh pria bayaran yang di sewa Seung Hyun, Yunho tetap harus memastikan demi keselamatan istrinya.

Menekan no pada telefon di atas meja, ia berkata. "Yoochun, panggilkan Mr. Han kemari." Kursi berputar menghadap ke luar jendela.

Jaejoong sedang memetik bunga dengan Hankyung berjalan di belakang istrinya, keranjang bunga pada kedua tangan pria itu sudah mulai penuh. Hal itu membuat Yunho mengulum senyum karena geli. Sadarkan kedua laki laki itu karena mereka terlihat menggelikan jika seperti itu.

Tetap saja pikiran tentang bagaimana mungkin pria bebas seperti Hankyung bersedia menjadi pengawal Jaejoong menghantui Yunho. Kursi kembali berputar menghadap meja, Ia harus berpikir bagaimana cara membuat pria itu untuk berkata yang sesungguhnya.

Beberapa saat setelahnya terdengar ketukan pintu. Yunho menyuruh Hankyung masuk dan menunjuk kursi di depan meja kerja. "Sudah hampir satu bulan kau bekerja pada kami."

Hankyung mengerutkan kening, pria itu duduk dan menyamankan diri sebelum menjawab. "Ya."

Yunho tidak suka berbasa basi jadi ia langsung mengarah ke inti masalah yang akan mereka bahas. "Dari mana kau berasal Mr. Han, aku tahu kau seorang pengembara tanpa rumah, bukan berarti aku tidak memiliki tempat tinggal sebelumnya bukan?"

"Apakah Bibi Yuri tidak mengatakan sesuatu pada Anda?"

"Sudah. Aku ingin mendengarnya sendiri darimu."

"Cina, hanya saja aku sudah tidak menganggap negara itu negara tempat kelahiranku." Yunho mencoba duduk nyaman meski ia berubah tegak.

"Kenapa?"

"Haruskah aku memberitahu alasannya? Meski aku tidak ingin."

Yunho mencoba untuk duduk nyaman di kursi yang ia duduki. "Jika menyangkut keselamatan istriku, maka jawabannya adalah, ya."

"Adakah hubungannya masa laluku dengan istri Anda?" Wajah keduanya datar, namun mengandung kekukuhan antara keduanya tentang apa yang mereka inginkan dari pertanyaan serta pernyataan tersebut. "Dan jika aku tidak memberitahu Anda. Apakah aku akan di pecat?"

_TBC_

Typo bertebaran EYD tidak jelas dan berantakan.

Semoga hasilnya tidak mengecewakan karena entah mengapa saya sudah bosan dengan FF ini. #plak.

Sudah terlalu panjang dan perlu di akhiri. Dan misteri sudah akan terbongkar(?) satu persatu.

Kemarin ada yang Request ff tentang dinasti Joseon. Siapapun itu bolehkah menghubungiku secara pribadi. Karena banyak pertanyaan yang akan saya ajukan untuk proses(?) FF tersebut.
-mumpung sherry lagi baik hati dan memang berminat buat FF dinasti lagi-
Terima kasih.