Title : Say You Love Me

Author : Sherry Kim
Cast : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Other

Genre : Romance, Drama, Family, Sad, HQ, etc...

Rate : M
WARNING
Yaoi. Tidak suka jangan baca.
Alur tidak jelas typo bertebaran.

.. * ..

YJskPresent.
。。* 。。

.

.

Pemaksaan tidak akan menyelesaikan masalah. Yunho paham akan hal itu, hanya saja, haruskah ia mempercayai apa yang sudah di janjikan pria ini akan keselamatan istrinya ketika jati diri pria itu sendiri masih di ragukan.

Yunho tidak ragu akan apa yang sudah bibi Yuri ceritakan padanya. Terlebih setelah melihat selembar foto Raja Cina yang Yihan kirimkan padanya sangatlah mirip dengan wajah serta perawakan Hankyung, yang lebih membuatnya gelisah adalah, mereka kembar, Raja dan Pangeran. Sama seperti istrinya yang memiliki saudara kembar.

Kesamaan itu tidak dapat Yunho abaikan begitu saja. "Aku tidak akan mengungkit apapun. Tapi kau harus menjawab satu pertanyaan."

Hankyung mengedikkan bahu acuh. "Aku tidak berjanji akan menjawab, tapi akan aku jawab jika itu tidak menyingung tentang hal pribadi."

"Apakah kau ayah dari istriku?" pertanyaan itu keluar begitu saja. Yunho tidak melihat keterkejutan dari pengawal pribadi istrinya itu meskipun hanya sekilas. Seakan Hankyung sudah menduga sebelumnya alasan serta pertanyaan apa yang akan ia lontarkan ketika Yunho memanggil pria itu ke ruang kerja.

Pria itu terlalu pandai menyembunyikan perasaan apapun yang di rasakannya, seakan akan Hankyung sudah terbiasa melakukan hal itu.

Mengetahui kelebihan pria itu dalam menjaga wajahnya tetap tenan menambah kecurigaan serta meyakinkan Yunho untuk tidak mempercayai apapun yang di ucapkan oleh Hankyung begitu saja.

"Bukan." jawab Hankyung sama datarnya.

Yunho pandai membaca wajah seseorang, ia juga akan tahu jika seseorang itu berbohong hanya dengan menatap wajar serta membaca gerak gerik siapapun yang ia curigai. Akan tetapi, ia tidak mampu membaca wajah Hankyung karena pria itu terlihat biasa saja seakan pria itu berkata jujur. Atau memang pria itu berkata jujur? Sungguh, Yunho tidak tahu.

"Kau yakin?" Ia meyakinkan.

Kedigan bahu acuh Hankyung begitu lemah. "Aku berharap demikian, aku berharap Jaejoong adalah putraku, dia begitu sangat baik dan manis, akan tetapi kenyataan berkata lain. Dia bukan putraku." Bodoh. Pikir Hankyung. Ia bisa saja berbohong tidak mengenal Jaejoong. Tidak mengenal siapapun di korea andai saja Mrs. Choi tidak mengenali dirinya. Hal itu membuat rencananya berantakan, hal yang ingin ia sembunyikan bisa saja terbongkar dan nama baik keluarga kerajaan bisa saja tercemar karena kecerobohannya ini.

Kenyataan bahwa ia berkata jujur kepada Yunho sendiri tidak dapat Hankyung cegah. Sesuatu dalam diri Yunho atau sesuatu yang ia rasakan tentang kepercayaan pria itu memaksa Hankyung untuk berkata jujur, bahkan ia juga tidak menduga akan berkata jujur atas pertanyaan Bibi Yuri.

Ia benci perasaan terikat seperti ini karena ia telah belajar dari pengalaman, dan ia merasa telah terikat kepada Jaejoong. Ini di luar rencana, sebuah hubungan akan mengakibatkan bencana dan ia harus pergi setelah memastikan Jaejoong berada di tempat yang aman.

Hankyung sendiri yakin Yunho dapat menjaga pemuda itu dengan sangat baik, namun ia tidak yakin Seung Hyun akan menepati janjinya untuk tidak menyentuh Jaejoong atau menyakiti pemuda itu setelah pria itu tahu jati diri Jaejoong yang sebenarnya.

Hankyung tidak berniat mengatakan hal itu andai Mrs. Choi Kibum tidak mengungkit masalah ibu dari pemuda kembar itu, Heechul. Serta hubungan mereka di masa lalu.

Dalam hal itu Hankyung memuji daya ingat Mrs. Choi, hanya pertemuan dua kali selama mereka berada di Cina memberi kenangan yang mendalam bagi wanita paruh baya itu. Dan siapa pula yang tidak mengingat tragedi masa lalu di istana ketika melibatkan saudara kembar yang tidak lain adalah putra mahkota, putra Raja.

Hankyung tidak mengelak. Terpaksa ia mengatakan hal yang sesungguhnya karena ia yakin Seung Hyun tidak akan melepaskan Jaejoong begitu saja setelah apa yang ia dan Jaejoong lakukan terhadap pria itu. Atau itulah yang di lihat dari sudut pandang Seung Hyun akan luka yang di alaminya.

Pria itu memang tidak mati karena racun duri landak bercampur racun ular yang ia racik sendiri, racun yang ia pelajari dari buku perpustakaan di istana. Hanya nyaris mati, racun tersebut menghambat sel serta melemahkan otot pria itu sampai pembusukan pada daging. Beruntung ia mambawa penawar racun dan menangani pria itu meski ia sendiri enggan. Dokter bisa saja memberi penawar, itu hanya akan memperlambat kerja racun yang menyebar ke seluruh tubuh korban tanpa hasil pasti karena racun itu akan tetap ada di sana sampai penawar aslinya di kosumsi.

Dan selama seminggu pula ia berada di estat Choi, melihat foto Mrs. Choi Siwon mengingatkan dirinya akan ia Heechul. Kenangan yang tidak pernah ingin ia ingat namun tidak dapat ia singkirkan.

"Tapi kau tahu siapa ayah dari istriku?" Hankyung terdiam yang hanya meyakinkan Yunho bahwa pria itu tahu.

Berusaha terlihat santai, Yunho bersandar pada punggung kursi, menyilang kedua tangan di atas pangkuan dan menatap pria yang duduk di seberang meja tanpa berkedip. "Katakan padaku siapa dia?"

"Aku tidak bisa mengatakannya."

"Kenapa?"

"Karena aku sudah berjanji."

Meski Yunho berusaha terlihat tenang, pria itu duduk lebih tegak di kursi dengan wajah marah karena merasa di permainkan. "Berarti kau tahu siapa ayah dari isrtiku."

"Ya."

Pengakuan santai serta blak blakan Hankyung meredakan amarah Yunho. Pria itu mengetuk ngetukkan jari di atas meja memikirkan suatu cara untuk membuat Hankyung mengatakan siapa ayah dari istrinya. Ia memiliki firasat namun tak berani berharap. Demi Tuhan, mungkinkah...

"Apakah dia orang Korea?"
Hankyung terdiam. Yunho kembali tegang.

"Apakah dia seorang penjahat? Itukah alasannya mengapa kau merahasiakan jati diri laki laki itu untuk melindungi Jaejoong?"

"Ya Tuhan. Bukan!"

"Apa Jaejoong mengenalnya?"

"Kau bilang satu pertanyaan. Ini melebihi satu pertanyaan, Mr. Jung"

Yunho sudah membuka mulut untuk berkata ketika pintu terhempas terbuka membentur dinding dengan suara yang cukup keras.

Kedua pria itu terkejut menatap pintu besar yang terbuat dari kayu mahoni itu ngeri. Pintu itu cukup besar dengan tinggi sampai langit langit, tentunya siapapun yang berhasil menghempaskan pintu besar tersebut mengeluarkan kekuatan yang tidaklah sedikit.

Kedua pria itu menahan napas melihat wajah merah padam Jaejoong ketika pemuda itu menyerbu masuk lalu berkata. "Aku tidak mempercayai ini, dia bukan pencuri. Aku yakin ada yang salah, pasti pencuri itu bukanlah anak itu." Suara Jaejoong membahana, marah.

Baik Yunho maupun Hankyung menatap Jaejoong dengan wajah penuh pertanyaan namun tetap bijak untuk diam dan mendengarkan apa yang di ocehkan pemuda cantik itu.

"Yunho, kau harus bertindak. Aku tidak yakin dia mencuri perhiasan pelayan wanita itu. Ada yang salah di sini dan kau harus mencari tahu."

Memejamkan mata. Yunho menghitung sampai sepuluh sebelum membuka mata lalu menatap istrinya itu dengan gemas. "Aku akan menyelesaikan masalah apa yang sedang kau ocehkan itu, sayangku, tapi, maukah kau berbaik hati menjelaskan apa yang sedang kau ocehkan dan siapa yang membuatmu marah?"

Doe Jaejoong mengerjap. Apakah ia belum memberi tahu mereka atau kedua pria itu dungu dan tidak mendangar apa yang ia katakan. "Aku bilang dia bukan pencuri."

Rahang Yunho berubah kaku menahan geram. Dan saat pria itu berkata di sela sela giginya yang bergemelutuk ingin rasanya Hankyung tertawa melihat itu.

Jaejoong datang di waktu yang tepat, ketika ia tidak ingin membahas masalah pribadi dengan Yunho. Hankyung bersyukur akan itu.

"Siapa." desisnya. Oh Tuhan, beri ia kesabaran dalam menghadapi kekasihnya ini. "Siapa 'dia' yang kau maksud?"

"Changmin." Jaejoong berkata dengan gemas. "Mereka menuduh bocah itu mencuri perhiasan salah seorang pelayan wanita."

Baik Yunho maupun Hankyung menatap Jaejoong dengan mata terbelalak. Itu terdengar konyol, untuk apa bocah di usia Changmin mencuri perhiasan seorang pelayan.

。。* 。。

Bocah itu tidak menangis. Bahkan tidak ada tanda tanda bahwa bocah itu merasa takut ataupun menyesal. Tatapan bocah itu kosong menatap lurus ke depan mendengar perdebatan para orang dewasa di rungan tersebut yang melibatkan dirinya. Atau lebih tepatnya karena dirinya lah mereka berdebat.

Sorot mata itu tidak seharusnya muncul pada tatapan bocah seusia Changmin, sorot mata dingin yang seharusnya di miliki pria dewasa yang telah merasakan pahit manis serta kejamnya dunia.

Yunho mendengarkan dalam diam penjelasan pelayan yang memergoki bocah itu semalam di lorong dapur. Kamar pelayan wanita berada di sayap kiri belakang tidak jauh dari dapur, hanya di batasi gudang penyimpanan barang serta kulkas besar penyimpan makanan.

Tidak mudah menyelidiki seorang pencuri, Yunho tidak pernah belajar tentang hukum karena sebelum ini kastil Jung tidak pernah menemui kasus pencurian. Dan jika pun ada tidak sampai ke telinganya.

Perhiasan, demi Tuhan. Itu terdengar menggelikan, apa yang akan Changmin lakukan dengan perhiasan tersebut jika benar bocah itu mencurinya.

Jika uang masih dapat di pertimbangkan karena bocah itu dapat menggunakannya sewaktu waktu, tapi perhiasan, Yunho ragu Changmin mampu menjual perhiasan tersebut. Meskipun bocah itu menemukan toko emas di kota, Yunho tidak yakin penjaga toko berani membelinya atau malah melaporkan Changmin ke kantor polisi atas tuduhan pencurian.

Tuduhan yang di tunjukan kepada bocah itu begitu kuat karena Changmin memang sering terlihat berkeliaran di dapur pada malam hari semenjak bocah itu datang. Beberapa pelayan pernah melihat bocah itu mengendap endap dalam kegelapan namun mereka abaikan karena merasa bocah itu tidak mencurigakan atau ada sesuatu yang hilang keesokan paginya.

"Apa pembelaanmu Changmin?"

Mereka duduk di ruang kerja Yunho dengan Yunho duduk di balik meja kebesaran, pria itu terlihat tenang. Jaejoong bersama bibi Yuri berdiri di sisi kanan meja kerja Yunho menghadap pelayan wanita yang kehilangan perhiasannya serta pelayan lain yang melihat Changmin berkeliaran di dapur, semalam.

Park Yoochun dan Jin Yihan berdiri mendengarkan dengan seksama setiap detail lalu mencatatnya. Kebetulan sekali karena Yihan datang berkunjung di saat masalah datang. Pengacara itu mungkin saja bisa menemukan kejanggalan atau kenyataan yang di sembunyikan dalam masalah ini, karena Yunho sendiri tidak begitu paham akan hukum.

Changmin duduk di kursi seberang meja kerja, menatap kosong meja besar mengkilap yang hanya ada komputer dan telepon duduk di atasnya.

"Tidak ada. Aku tidak mencurinya." ujar bocah itu datar.

Yunho ingin mempercayainya. Ingin mengatakan kepada adik tirinya itu bahwa tidak mungkin dia mencuri. Namun bagaimana jika benar bocah itu melakukan tindakan seburuk itu, Yunho tidak boleh gegabah meskipun tuduhan itu di tunjukan pada adik tirinya yang masih berusia delapan tahun.

Di besarkan di kawasan kumuh Incheon bisa saja membuat bocah itu terpengaruh pada pergaulan serta kehidupan sekitar. Dari apa yang pernah di katakan kepala yayasan, wanita itu juga pernah menghukum Changmin karena mencuri.

"Lalu apa yang kau lakukan di dapur tengah malam Changmin.?Ketika semua orang seharusnya berada di atas ranjang mereka yang nyaman?"

Keterdiaman bocah itu membuat semua orang gelisah. Yunho menatap pengacara pribadinya untuk mendapatkan penjelasan apa yang telah ia tangkap. Yihan adalah pengacara, tentunya pria itu mampu membaca gerak gerik seorang pencuri bukan.

"Bukti kurang kuat meski memang mengarah kepada Changmin. Pelayan yang aku tugaskan untuk menggeledah kamar Changmin pun tidak menemukam apapun di sana."

"Bisa saja dia menyembunyikan di suatu tempat." sahut salah satubpelayan. "Saya pikir, pencuri tidak akan bertindak sebodoh itu." Kata kata pelayan itu benar. Changmin tentunya tidak sebodoh itu jiks benar bocah itu melakukan pencurian.

"Kalian boleh keluar. Aku akan bicara empat mata dengan Changmin."

"Tapi Yunho." Jaejoong menyahut.

"Keluarlah. Kau sudah berjanji akan diam tanpa menyela jika aku mengijikanmu berada di dalam ruang sidang ini, Jongie."

Bibir pemuda itu bergerak memberengggut namun tidak mengatakan apa apa. Ia memang berjanji.

Semua orang berjalan keluar ruangan dan Jaejoon berhenti sebelum menutup pintu untuk melemparkan kata kepada suaminya. "Aku percaya Changmin tidak mungkin mencuri." Pintu tertutup. Meninggalkan Yunho bersama Changmin di dalam ruangan yang tiba tiba terasa sepi.

Menekuk kedua tangan di atas meja, Yunho menatap Changmin dengan tatapan tenang. "Kenapa kau tidak membela diri?"

Akhirnya Yunho mendapatkan perhatian bocah itu sepenuhnya. "Untuk apa. Toh kalian akan tetap menghukumku meskipun aku mengatakan aku tidak mencurinya." Kata itu di ucapkan dengan nada putus asa seorang bocah yang mampu menggetarkan hati. Sangat berbeda dengan wajah datar yang di perlihatkan oleh Changmin.

Topeng.
Yunho tertegun melihat bocah seusia Changmin mampu melakukan hal itu.

"Aku tidak akan menghukummu jika kau berkata jujur, dan terbukti tidak persalah."

"Mengapa? Bukankah dengan menghukumku semua masalah akan selesai?" Rahang Yunho berubah kaku melihat sekilas tatapan ketakutan pada mata adik tirinya itu sebelum kembali menunjukan sikap berani yang gagal. Bibir bocah itu bergetar samar menahan ketakutan yang tentu saja di rasakan bocah seusianya ketika terlibat masalah. Atau tuduhan.

"Dan membiarkan pencuri yang asli bebas berkeliaran," imbuh Yunho. "itukah yang kau mau?" Bocah itu mendelik terkejut, seakan mengatakan bahwa Changmin tidak memikirkan hal tersebut.

Berdiri, Yunho mengitari meja, melangkah ke hadapan Changmin. Menyandarkan pinggulnya pada pinggiran meja agar dapat menatap langsung kearah bocah itu. "Aku pemimpin estat. Ratusan hektar tanah perkebunan serta ladang serta pabrik dalam pengawasanku. Meskipun aku belum memahami cara menjalankan estat ini dengan baik, nak, aku harus bertindak bijaksana serta tegas agar mendapatkan kepercayaan ratusan pekerja. Dan aku yakinkan kau hal itu tidak mudah."

"Maka dari itu. Seperti yang aku bilang tadi. Hukum saja aku dan masalah ini selesai. Kau bisa memikirkan masalah yang lainnya besok." Kata itu di ucapkan dengan lirih, seakan Changmin sendiri tidak yakin.

Yunho menunduk. Berdiri dengan satu lutut di lantai untuk menatap wajah Changmin lalu berkata. "Dan hukuman seperti apa yang kau maksud itu?"

Yunho bersumpah baru saja melihat sorot mata ketakutan itu lagi pada mata bocah itu sebelum Changmin menunduk. Putus asa atau apapun itu yang membuat adik tirinya berkata serampangan membuktikan bahwa Changmin ketakutan. Akan tetapi, pada apa?

"Memukulku dengan kayu atau mengurungku di ruang bawah tanah dan tidak memberiku makan. Biasanya itulah hukuman yang aku dapatkan di yayasan ketika mereka menuduhku melakukan kesalahan." akunya putus asa.

Yunho menatap dua mata bulat itu kini berkaca kaca menahan tangis yang dengan susah payah bocah itu tahan.

Menuduh! Itu dia.
"Yang sesungguhnya tidak kau lakukan?" Changmin mengangguk lemah.

Rahang Yunho terkatup sampai terasa menyakitkan. Kepala yayasan macam apa yang tega menghukum anak anak seberat itu tanpa penyelidikan lebih lanjut terhadap anak di bawah umur yang melakukan tindakan yang belum tentu di lakukan oleh mereka. "Ada lagi?"

Changmin menggeleng lalu Yunho menambahkan. "Apa yang di lakukan kepala yayasan terhadapmu, terhadap anak anak lain serta apa yang dia lakukan jika kalian berbuat nakal dan tidak mendengarkan perintahnya?"

Wajah tenang Changmin lenyap seketika. Di gantikan wajah pucat ketakutan yang membuat Yunho berdiri dengan tiba tiba, menggeram marah.

Demi Tuhan, ia begitu bodoh tidak menyadari adanya keanehan pada kepala yayasan. Tidak heran jika hampir semua anak anak terlihat ketakutan saat kali pertama melihat Yunho dan tubuh kurus kering mereka... Sial.

"Yihan." ia berteriak. Yunho tahu mereka masih di luar sana, menunggu.

Yunho menyesal menyerahkan sebagian warisan Changmin pada yayasan tersebut, dan ia bertanya tanya, apakah kepala yayasan menggunakan uang itu dengan bijak atau memilih mengantongi sebagian uang itu sendiri.

Yunho bersumpah akan menarik kembali dana yang ia janjikan akan ia berikan sebagai tambahan jika kepala yayasan atau siapapun yang terlibat di baliknya tidak segera di amankan. Ia akan meminta Yihan untuk mengurusnya saat pria itu kembali ke Seoul nantinya.

Untuk sekarang, ia harus menyelesaikan masalah ini secepatnya. "Aku mengerti, aku tidak marah padamu." ujarnya kepada Changmin.

Yihan masuk dan menatap wajah sahabatnya dengan kening berkerut. Yunho berkata. "Segera minta seseorang kalau perlu detective, selidiki yayasan tempat Changmin di tampung. Aku yakin ada yang tidak beres di sana mengenai dana serta cara kepala yayasan mengatur pemasukan untuk anak anak."

"Mereka pasti tidak akan diam saja."

Yunho menatap terkejut Changmin. "Mereka?"

Anggukan bocah itu terkihat ragu sebelum mengangguk antusian. "Tidak hanya kepala yayasan?" Bocah itu mengangguk lagi.

Sialan. Yunho mengumpat kasar, tidak peduli dengan adanya Changmim di sana memperhatikan dirinya.
"Segera Yihan, kalau perlu sekarang juga kau selidiki. Ya Tuhan, berapa banyak mereka menyakiti anak anak tak berdaya itu dan berapa lama mereka melakukan tindakan keji mengatas namakan kebajikan."

Melihat amarah yang belum pernah di lihatnya ada pada sahabat baiknya itu Yihan tertegun. Tanpa mencoba bertanya lebih jauh pengacara itu menyahut. "Baik." Yihan menatap Changmin sekilas sebelum keluar ruangan.

Tidak mudah menahan amarah bagi Yunho. Namun ia harus tetap tenang agar adiknya itu percaya kepadanya dan berkata jujur. "Kita kembali ke masalah pencurian perhisan itu."

Mengusap air mata dengan punggung tangan, Changmin mengangguk.

"Gwangju memiliki hukum berbeda. Di kastil ini, siapapun yang melakukan tindakan pencurian akan aku kirim ke kantor polisi. Biarkan mereka menghukum penjahat, siappaun itu, dan jika kau tidak jujur Changmin, kau akan mendekam di balik jeruji selama dua atau tiga tahun."

Gertakan itu membuat wajah bocah itu memucat. Yunho menelan rasa bersalahnya dan menambahkan. "Jadi katakan yang sejujurnya padaku. Katakan apa yang kau lakukan di dapur pada jam tengah malam. Agar aku bisa membantumu menyelesaikan masalah ini tanpa perlu mengikut sertakan polisi. Kau tahu, mereka bertampang galak dengan pistol di ikat pinggang mereka yang akan mereka gunakan ketika ada penjahat yang tidak mengakui kesalahan mereka."

Anak kecil tetaplah anak kecil. Setegar apapun mereka saat mendapatkan masalah akan merasa ketakutan. Terlebih setelah mendengar gertakan Yunho.

Itulah yang di lakukan Changmin, bocah itu ketakutan dengan wajah kembali berlinang air mata. "Aku tidak mencurinya. Kau harus menolongku, Hyung. Aku tidak ingin di penjara." Air mata itu jatuh beriringan dengan suara sesegukan bocah itu, lagi.

Yunho mengulum senyum dan mengulurukan tangan. "Aku adalah Kakakmu, ingat itu. Apapun yang kau butuhkan atau kau inginkan, kita bisa berunding untuk mendapatkanya kau paham?" Anggukan bocah itu terlihat bersemangat.

"Kau akan menyelamatkanku kan Hyung. Kau tidak akan memanggil polisi bukan? Karena aku tidak mencurinya."

"Kalau begitu katakan padaku apa yang kau lakukan di dapur. Apakah kau melihat pencuri yang sebenarnya?"

"Ini sangat memalukan." Bocah itu menggerang. "Aku... "

。。* 。。

"Mencari apa?" Jaejoong mengerjap mendengar apa yang baru saja di ucapkan pengawal pribadinya itu.

Ia tidak salah dengar bukan.
"Makanan." ulang Hankyung santai.

"Tapi kenapa?"

Pria itu baru saja mendengarkan semua semburan Jaejoong tentang apa yang terjadi di dalam ruang kerja, yang Jaejoong curahkan dengan penuh semangat tentang tuduhan konyol yang di tuduhkan kepada Changmin.

Jaejoong mengatai Yunho dungu bodoh dan banyak lagi karena tidak bertindak lebih cepat dari yang seharusnya. Hankyung hanya menunggu, duduk di ruang pribadi Jaejoong sejak rapat itu di buka.

"Aku tidak tahu." Hankyung berkata jujur. "Kau ingin Yunho melakukan apa? Tidak ada bukti ataupun pembelaan, Yunho tidak bisa berbuat sesuka hati meskipun dia majikan disini. Jika hal itu terjadi, semua orang tidak akan mempercayainya lagi."

Ucapan Hankyung ada benarnya. Semua orang akan menganggap Yunho tidak adil dan kejam. Sama seperti julukan untuk Mr. Choi tuan tanah seberang karena bertindak sesuka hatinya. Batin Jaejoong. "Kau benar." ia mengakui. "Lalu kenapa kau bisa berpikir bahwa bocah itu mencuri makanan dari dapur?"

"Aku mendengar beberapa bisikan dari pelayan bahwa mereka membicarakan mengganti seprai setiap pagi serta bocah itu yang keluyuran hampir setiap malam, anehnya setiap kali seseorang memergoki Changmin, bocah itu berada di dapur atau sekitarnya."

Jaejoong merenungi apa yang Hankyung katakan. "Masuk akal." Dan ia tidak tahu kalau Hankyung juga suka bergosip, atau menguping seperti wanita.

"Aku selalu benar." ujar Hankyung bangga. Pria itu menatap Jaejoong dengan wajah ceria yang tidak pada waktu dan tempat yang tepat.

"Ya ya... kau selalu benar. Tapi bagaimana kita harus membuktikan bahwa Changmin tidak mencuri?"

"Tidak mudah mengingat kastil memiliki puluhan pelayan koki dan lainnya."

"Tapi ada cara." Jaejoong menatap Hankyung penuh harap.

"Selalu ada cara dalam memecahkan masalah." Kata itu di ucapkan Hankyung dengan ketenangan yang mengagumkan. Jaejoong bertanya tanya apakah memang bawaan sejak lahir sikap pria itu tenang atau karena Hankyung terbiasa menghadapi masalah seperti ini.

"Sepertinya kau sudah terbiasa menangani masalah seperti ini, Hyung?"

Senyuman pria tampan itu membuat napas Jaejoong tercekat. Sial. Apa ini? Ia merasa memiliki perasaan lain kepada Hankyung. Tapi berbeda dengan apa yang ia rasakan terhadap Yunho. Memang sejak pertama mereka bertemu ia merasa memiliki suatu ikatan pada pria yang jauh lebih tua darinya itu.

Suara Hankyung menghapus kesunyian. "Aku seorang pengembara. Hampir setiap hari menghadapi masalah dalam perjalanan saat aku keliling dunia." Itu bukanlah penjelasan yang meyakinkan untuk Jaejoong. Tapi ia diam saja karena tidak ada gunanya bertanya lebih lanjut.

"Bagaimana cara kita menemukan pencuri yang sesungguhnya?"

"Pertanyaan yang bagus. Aku rasa Changmin tahu jawabanya." ujar Hankyung santai.

Jaejoong mengerjap. "Hyung. Kadang kau memang cerdas tapi bertanya kepada Changmin... itu terdengar tidak masuk akal."

"Hampir setiap malam bocah itu keluyuran di dapur. Kamar pelayan berada tidak jauh dari sana dan jika yang di tuju bocah itu hanya dapur Changmin tidak akan melihat apapun. Tapi berbeda jika tujuan bocah itu ke gudang makanan." Seperti yang di katakan Hankyung tadi. Untuk mencari makanan.

Itu terdengar konyol. "Tunggu... " Jaejoomg membeku. Ia ingat pernah melewati lorong itu ketika tinggal di kamar para pelayan, gudang penyimpanan dan lemari makanan berada di seberang kamar para pelayan untuk memudahkan mereka mengambil apapun jika tengah malam majikan mereka menghubungi mereka atau menginginkan sesuatu. "Ya Tuhan!" Pria itu terdengar masuk akal.

"Tujuan Changmin bukan dapur. Tapi gudang makanan."

"Tepat!"

Jaejoong bangkit dari kursi piano miliknya dengan semangat baru. "Aku harus memberitahu Yunho."

"Jika Yunho cerdas, Mungkin pria itu sudah tahu bagaimana cara membujuk Changmin untuk berkata jujur, atau mengatakan siapa pencurinya." Jaejoong mengabaikan pengawal barunya itu dan berlari keluar ruangan, mau tak mau Hankyung mengikuti Jaejoong karena itu adalah tugasnya.

Ruang kerja pria itu kosong. Tidak ada siapapun di dalam atau pun di luar. "Pria cerdas. Penilaianku tentang suamimu sebelumnya meleset. Aku sempat tidak setuju kau menikah dengannya." Itu bohong, tapi Hankyung ingin menggoda pemuda itu.

"Dan kenapa aku harus meminta persetujuanmu untuk itu." Senyum Hankyung terlihat lebar sampai memperliatkan gigi rapi pria itu. "Kau benar. Untuk apa kau mendengarkan ucapanku." Senyum itu semakin aneh dan membuat Jaejoong merasa ada yang salah dengan dieinya.

Ia merasa senyum itu sangat familiar dan kenapa hari ini pria itu begitu sering tersenyum kepadanya. Jaejoong menggelengkan kepala, lagi lagi ia berpikiran aneh.

Jaejoong menghentikan seorang pelayan yang baru saja keluar dari ruang seberang, bertanya apakah wanita muda itu melihat suaminya.

"Tuan muda bersama tuan muda Changmin menuju dapur."

Tanpa mengatakan apapun Jaejoong melesat cepat di ikuti Hankyung yang berjalan tenang di belakang pemuda itu.

Hankyung mengamati langkah Jaejoong, setiap gerakan sampai senyum pemuda itu akan ia ingat dalam benaknya, ia akan menggunakan waktu kebersamaan mereka yang tersisa sebaik baiknya, memberi beberapa petunjuk dan berharap apakah Jaejoong mengingat sesuatu di masa lalu sebelum pemuda itu menemukan kembali ingatannya yang hilang.

Ingat atau tidak, Hankyung tetap akan pergi tidak lama lagi, dengan atau tanpa Jaejoong bersama dengannya.

-TBC-

Typo bertebarn. EYD tidak jelas.
Menerima kritik dan saran.

Terima kasih sudah meninggalkan jejak dan vote.
-

Soal racun dan penawarnya. Sherry hanya mengarang. Mohon jangan di protes-
*kibas rambut*

Tidak mudah untuk mengungkap misteri kedua keluarga ternyata.
Aku pikir akan tamat dalam dua atau tiga chap lagi tapi sepertinya akan lebih panjang.

Maaf jika kalian bosan dengan ff ini yang makin tidak jelas dan panjang. Karena sherry tidak ingin merasa ff ini terlalu di paksa untuk segera end. Sherry ingin mencari konflik yg tepat untuk membawa satu persatu misteri kedua keluarga terungkap ke permukaan tapi tidak ingin berasa terlalu di paksa dan tidak terlalu di ulur ulur.
Semoga tidak membosankan.