Title : Say You Love Me

Author : Sherry Kim
Cast : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Other

Genre : Romance, Drama, Family, Sad, HQ, etc...

Rate : M
WARNING
Yaoi. Tidak suka jangan baca.
Alur tidak jelas typo bertebaran.

.. * ..

Yjskpresent.

.

Expresi wajah Yunho terlihat sangat tidak bersahabat. Wajah yang baru pertama kali para pelayan lihat ada pada paras tampan majikan mereka yang biasanya ramah itu.

Yang tentunya tidak ada satu pun dari puluhan penghuni dapur luas itu sukai.

Pria itu berjalan mengeliling ruangan, dari satu pelayan ke pelayan yang lain untuk menatap mereka satu persatu para pelayan yang berbaris rapi layaknya prajurit yang akan maju ke medan perang. Perbedaanya, mereka semua menunduk, tidak berani menatap wajah majikan mereka yang terlihat sedingin kutub utara karena menahan amarah.

Yunho telah memperintahkan semua pelayan berkumpul di sana, dapur itu penuh dengan puluhan pelayan namun sesunyi serta sedingin gua jaman purba. Tidak ada yang berani bersuara atau pun bergerak setelah mendengar apa yang baru saja kepala pelayan utama jabarkan ke pada mereka.

"Aku sangat membenci adanya pencuri di kastil ini, siapapun pencuri itu, tidak seharusnya dia berbuat bodoh dengan mengorbankan masa depannya sendiri hanya dengan mencuri, seharusnya dia tahu bahwa lambat laun semua orang akan tahu tindakan buruknya." Tidak ada yang bersuara selain helaan napas yang terdengar diam diam mereka hembuskan mendengar nada marah majikan mereka yang biasanya selalu tenang dan sabar.

"Masih tidak ada yang mengaku?" ulang Yunho.

Ruangan masih tetap hening meski mereka sudah berdiri di sana selama lebih dari empat puluh menit. Tidak ada yang mengaku ataupun melihat pencuri itu selain Changmin.

Yunho melirik Changmin yang berdiri tidak jauh darinya bersama Yihan, bocah itu terlihat ketakutan, bersembungi di belakang pengacara keluarganya itu memperhatikan puluhan pelayan yang berkumpul di ruang dapur.

"Tetap di sini." ujar Yunho kepada para pelayan. Pria itu memberi isyarat kepada Yihan, pria itu mengangguk sebelum meraih tangan Changmin lalu keluar dari dapur menuju lorong yang mengarah ke gudang penyimpanan.

Terdengar helaan napas serempak dari dapur setelah Yunho melewati ambang pintu. Jika ingin jujur, Yunho benci melihat wajah ketakutan mereka saat ia mengumumkan terjadinya pencurian tersebut kepada mereka semua. Hanya satu tersangka dari puluhan pelayan yang bersalah, ia tidak suka membuat pelayan pelayan lain yang tidak bersalah tertekan ataupun ketakutan.

Langkah Yunho terhenti, pria itu berputar menghadap adik tirinya yang terlihat sama tidak nyamanya dengan pelayan yang mereka tinggalkan di dapur sana. "Kau melihat pencurian itu bukan, bagaimana kejadiannya?"

Pandangan bocah itu menatap kakak tirinya bingung, bocah itu takut, Yunho memahami itu. Namun ia bangga saat melihat bibir mungil Changmin membuka.

Meski ketakutan, Changmin berusaha menjelaskan dengan berani. "Saat itu gelap," ia memulai. "aku baru akan keluar dari ruang penyimpanan makanan dengan sekantong biskuit yang aku curi dan sembunyikan di dalam saku... "

Yunho mengangkat tangan untuk menghentikan ucapan Changmin. "Kau mengambilnya. Bukan mencuri." ia meralat. "Sebanyak apapun yang kau inginkan Changmin, lain kali kau bisa meminta pelayan untuk mengmbilkannya untukmu, tidak usah mengendap endap di malam hari atau mengambilnya secara diam diam, rumah ini rumahku, dan kau adalah adikku. Ingat itu!."

Bocah itu mengangguk cepat. Bola mata itu berkaca kaca mendengar pengakuan lugas Yunho akan setatus mereka barusan. "Tapi aku tidak mengenali pencuri itu. Wajah mereka hampir sama dari satu dan yang lain." ujarnya malu.

"Tidak adakah ciri ciri lain yang kau lihat dari pencuri itu?" Changmin terlihat berpikir keras, baik Yunho maupun Yihan menunggu dengan sabar tanpa mendorong bocah itu, takut mengamburkan bayangan apapun yang sedang di pikirkan oleh Changmin.

Di lihat dari mata bocah itu yang membesar beberapa saat kemudian, Yunho tahu Changmin telah menemukan jawaban atas apa yang mereka cari. "Aku ingin melihat mereka berjalan."

Yihan menatap Yunho dwngan kwning bertaut, begitu juga sebaliknya. Mereka saling bertukar pertanyaan tanpa berucap dan Yunho bertanya tanya, apakah ia harus mempercayai adik tirinya itu. Akan tetapi, mereka tidak memiliki saksi lain, hanya Changmin dan tidak ada salahnya untuk mencoba, bukan. Mungkin saja Changmin mengenali bagaimana pencuri itu berjalan.

Mereka kembali masuk ke dapur, Jaejoong sudah berada di sana bersama Hankyung dan bibi Yuri. Yoochun masih mengawasi mereka dalam keheningan di sudut lain dapur, melihat adakah seseorang yang mencurigakan di antara pelayan yang hampir seratus orang tersebut.

Satu jam kemudian, semua pelayan sudah berjalan seperti yang apa di inginkan Changmin layaknya model tanpa ada hasil. Pelayan terakhir sudah kembali ke barisan dan keheningan pun kembali muncul.

"Ada yang kau ingat?" Yunho membelah keheningan.

"Ini terlihat menggelikan Yunho, meskipun aku tidak ingin percaya bahwa Changmin mengambil barang salah seorang pelayan, haruskah kau mempercayai bocah itu dengan memerintahkan mereka berjalan kesana kemari seperti audisi model?" Yang lebih menggelikan lagi, Yuri harus melihat pelayan istal yang sudah tua serta pekerja di kebun berjalan di hadapan mereka, dan semuanya terlihat tegang.

"Mungkin Bibi benar." Yihan menimpali. Changmin bisa saja salah mengenali pencuri itu sebagai pelayan yang menghuni kamar itu.

Suara Changmin yang keras menarik perhatian semua orang. "Aku tidak salah orang. Malam sebelumnya aku melihatnya masuk ke ruangan lain bersama dua pelayan lain. Dan malam itu aku melihatnya masuk ke kamar pelayan yang kehilangan kalung itu."

Dari kejauhan Jaejoong bertanya tanya, bagaimana Changmim dapat mengingat hal semacam itu ketika puluhan pelayan menghuni lorong itu.

"Kenapa kau tidak mengatakan kepadaku sebelumnya." ujar Yunho lelah.

Bocah itu mengedikan bahu layaknya pria dewasa dengan acuh, bahkan cara bicara Changmin begitu terpelajar seakan tinggal di yayasan selama dua tahun tidak membuat bocah itu tercemar oleh lingkungan sekitar. Bocah ini cerdas secerdas ayahnya.

"Aku tidak tahu dia pencuri. Dan dia tidak mungkin mengaku jika aku bertanya bukan?"

Pertanyaan itu menimbukkan tawa tertahan dia dapur luas itu. Bahkan Yunho sendiri juga tersenyum mendengar pengakuan konyol adik tirinya. "Jika kau tidak berbohong, katakan apa yang kau tahu Changmin, sebelum semua orang menganggapmu penipu."

"Aku bukan penipu!" Kata itu menggema cukup keras. "Aku melihat pencuri itu berjalan keluar dengan tertatih, dia pincang dan tidak ada pelayan di sini yang pincang, dia perempuan."

Suara napas tercekat para pelayan menarik perhatian Yunho, musang pria itu menatap mereka satu persatu dengan tatapan menyipit penuh penilaian. "Kalian tahu siapa dia?"

Kegelisan yang kentara di sana meyakinkan pertanyaan Yunho memiliki jawaban pasti. Pria itu kembali memasang wajah tegas dan menatap kepala pelayan bagian dapur yang berdiri paling depan, di ujung. "Katakan padaku Mrs. Kim, siapa dia?"

"Mr. Jung." pelayan yang kehilangan perhiasan itu berujar lirih. "Saya merelakan kalung itu. Biarlah saya kehilangan kalung pemberian Ibu saya, toh saya tidak pernah memiliki waktu untuk memakainya." Wajah wanita muda itu jauh berbeda dengan tatapan sebelumnya saat melaporkan padanya kalung itu hilang.

Mereka menyembunyikan sesuatu dan Yunho ingin tahu apa. "Kenapa? Kau tahu dengan begitu kau membiarkan pencuri itu akan mengulangi perbuatannya di suatu tempat dan waktu yang lain."

"Saya tahu, tapi... saya benar benar tidak menginginkan kalung itu kembali." Itu bohong. Yunho tahu hanya dengan melihat bola mata gadis itu yang berkaca kaca.

"Tapi aku akan tahu meskipun kalian semua tetap diam. Aku akan tahu cepat atau lambat dan jika aku tahu siapa dia, aku akan menyerahkan gadis ituke kantor polisi." Lagi, napas mereka terdengar tertahan, kegugupan para pelayan sangatlah kentara, mereka menyembunyikan sesuatu dan Yunho penasaran apa itu.

"Mr. Jung." Kepala pelayan maju. "Saya tahu siapa gadis itu... "

"Tidak!" Teriakan beberapa pelayan memotong ucapan Mrs. Kim, Yunho melempar tatapan tegas kearah mereka dan kembali kepada Mrs. Kim.

"Lanjutkan."

"Dia gadis dari estat seberang, saya memperkerjakannya karena dia butuh pekerjaan untuk menghidupi Ayah yang sakit serta kedua adiknya. Mr. Choi tidak bersedia membantu. Penghasilan ibunya sebagai pekerja serabutan tidak lah cukup untuk merawat ayah gadis itu yang sakit sakitan."

"Namanya?"

"Ayahnya Mr. Baek, dia tinggal tidak jauh dari perbatasan tanah Anda dan tanah Mr. Choi, di rumah kecil kaki bukit, tidak jauh dari sungai."

Penjelasan itu cukup bagi Yunho. Ia paham kenapa kepala pelayannya hanya menyebut marga gadis itu, karena jika ia mencari nama gadis itu dan bertanya kepada warga sekitar, gosip yang tidak tidak akan timbul tanpa di cegah. Berbeda jika ia berniat mencari ayah gadis itu.

Hal itu menambah kepercayaan Yunho akan kepala pelayan yang di perkerjakannya ini karena kebaikan kecil tentang mebolong gadis malang tersebut. "Terima kasih Bibi Kim."

Panggilan ramah itu membuat wanita tua itu terkejut. Namun tak ayal membuat senyum manita itu merekah. "Saya senang dapat membantu."

。。* 。。

"Kau akan pergi ke sana sendirian? Aku ingin ikut." Meraih kemeja yang di sodorkan istrinya, Yunho membuka tangan lebar lebar tanpa kata.

Jaejoong paham yang di maksud suaminya dan membantu pria itu mengenakan kemejanya, berputar kehadapan Yunho untuk mengancingkan kancing kemeja.

"Aku tidak akan lama, hanya untuk memastikan apakah gadis itu berada di rumah dan menanyakan sesuatu kepadanya."

"Kedatanganmu sudah akan membuat gadis malang itu terkejut. Beruntung jika gadis itu tidak jantungan."

Kening Yunho berkerut mendengar kata panggilan yang di ucapkan istrinya. "Kenapa kau menyebutnya gadis malang?"

Kancing terakhir telah terkait, Jaejoong mendongak menatap wajah suaminya yang tampan. "Aku pernah hidup kekurangan bersama keluargaku, bahkan tidak makan selama dua hari sampai rasanya aku akan mati. Akulah yang paling paham bagaimana rasanya hidup miskin"

"Ibumu tidak memberimu makan?" Yunho mengatakan itu dengan nada bercanda, namun ekspresi wajah Jaejoong tidak juga berubah. "Ibuku tidak bekerja, waktu itu kami berada di atas kapal dan... " kata itu terhenti.

Kapal.
Jaejoong menunduk mencoba mengingat sesuatu. Kapan ia pernah naik kapal, dan kemana dan dari mana tujuan mereka?

"Dan apa?"

Jaejoong menggeleng. Ia tidak ingat akan hal itu, tapi kenapa ia melihat sebagian kecil kehidupan di sana lalu kembali buram. Ia tidak ingat apa apa lagi.

Jaejoong menggelang, kembali menatap suaminya. "Aku memahami bagaimana hidup susah, bagaimana untuk bertahan hidup dan bagaimana rasanya di kucilkan warga."

"Aku tidak akan menyakitinya jika itu yang kau khawatirkan." Kedua tangan Yunho menangkup wajah Jaejoong

"Aku tahu, hanya saja aku ingin ikut bersamamu."

Menghela napas. Jemari telunjuk Yunho mengangkat dagu Jaejoong untuk menatap kearahnya. "Kau selalu mendapatkan keinginanmu, cepat ganti pakaian. Menyenangkan bukan."

Wajah berbinar bahagia istrinya membuat Yunho merasa lega ia tidak menolak keingunan Jaejoong. Pemuda itu tersenyum lebar dan melemparkan diri kearah Yunho lalu mencium pria itu dengan keras dan dalam.

"Aku mencintaimu." ujar Jaejoong ceria. Pemuda itu melompat ke ruang pakaian tanpa menyadari apa yang baru saja ia ucapkan. Akan tetapi Yunho menyadarinya, tubuh pria itu menegang, tertegun menatap pintu ruang pakaian di mana Jaejoong menghilang tadi.

Degub jantung Yunho berdebar tak karuan. Jaejoong mencintainya, ya Tuhan. Apa yang harus ia lakukan, dapatkan ia membalas cinta istrinya dan apakah ia mencintai Jaejoong melebihi cinta istrinya itu.

Jawabanya tentu saja, ya! Yunho mencintai Jaejoong sampai rela melakukan apapun untuk membahagiakan Jaejoong.

Sore itu masih terang ketika mobil pikap Yunho berhenti di pekarangan pondok di ujung desa. Pondok itu tidak lebih besar dari istal kuda yang ia milikki, bahkan istal miliknya jauh lebih besar dan terlihat lebih kokoh dari pada gubuk tua yang ada di hadapan mereka saat ini.

"Kau yakin ini rumahnya?"

Pintu rumah keluarga Baek tertutup, kedua sisi jendela tanpa kaca tertutup rapat dan tidak ada tanda tanda kehidupan di sana. Terdapat tumpukan barang tak terpakai di sebelah kiri rumah, di bawah pohon tua dengan daun yang lebat di atasnya.

Derit kayu terdengar dari tangga pertama saat Yunho menaiki undakan depan rumah, meski dua anak tangga berikutnya tidak terdengar lagi suara deritan kayu. Yunho bersyukur melihat knop pintu terlihat utuh ketika rumah itu sendiri terlihat sangat menyedihkan seakan akan tinggal menunggu hari untuk roboh.

Jaejoong mengetuk pintu sebelum Yunho menyadari apa yang di lakukan istrinya, tidak ada tanda tanda siapapun ada di dalam. Juga, tidak terdengar suara langkah kaki dari sana.

"Mungkin Mr. Dan Mrs. Baek pergi keluar."

"Setahuku tidak begitu."
Lima menit setelahnya masih juga tidak ada tanda tanda pondok itu berpenghuni. Tidak terdengar tanda tanda gerakan dari dalam untuk waktu yang lama setelahnya. "Mungkin kau benar." Yunho mengiyakan. "Kebetulan yang sangat menarik." Pria itu mendorong pintu terbuka.

"Yunho. Itu tidak sopan." pekik Jaejoong sebelum mengikuti suaminya masuk ke dalam. "Itu tidak sopan."

Ruang tamu itu kosong. Sepasang kursi tua menghuni kedua sudut dengan meja kecil di antara mereka.l juga kursi lain di seberang. Tidak ada perabotan lain selain barang barang yang Yunho atau pun Jaejoong tahu cara kegunaanya.

Jaejoong menahan lengan suaminya sambil berbisik. "Sebaiknya kita keluar, bagaimana jika rumah ini berpenghuni dan bukan Mr. Baek lah pemiliknya."

Mengabaikan istrinya, Yunho masuk lebih ke dalam dan menemukan dua kamar serta dapur yang lagi lagi di penuhi barang, namun, dapur itu terlihat rapi dan bersih, jauh dari apa yang tampak di luar.

Kamar sebelah kanan terbuka, kamar itu kosong. Ranjang tipis serta selimut tertata rapi menandakam siapapun yang tinggal di kamar tersebut menyukai kebersihan.

Yunho menuju kamar sebelahnya, kamar tertutup yang ia yakini berpenghuni karena terdengar gerakan samar dari dalam sana. Sebelum ia membuka pintu, terdengar suara terkesiap di belakang mereka, keduanya berbalik sama terkejutnya dengan dua orang di ambang pintu.

Cahaya senja di luar dan tiadanya lampu di dalam rumah menyulitkan Yunho serta Jaejoong mengamati siapa gerangan dua wanita yang berdiri di ambang pintu.

Gadis itu tidak begitu tinggi dengan siluet tubuh kurus yang di timbulkan bayangan senja dari luar, ketika gadis itu melangkah gamang melewati ambang pintu, langkah aneh gadis itu menyebutkan siapa gadis tersebut.

"Baek Eun ji." suara Yunho terdengar tenang di telinga Jaejoong. Ia paham suaminya tidak ingin mengejutkan gadis itu karena setelah melihat wajah pucat gadis malang itu membuat siapapun yang melihat wajah iu tidak akan tega berkata kasar terhadapnya.

"Mr. Jung." Suara itu juga terdengar bergetar. Ketakutan dari wajah serta gerak gerik Baek Eun Ji membawa Jaejoong maju menghalangi suaminya dari pandangan gadis yang sedang ketakutan itu. Meski mustahil untuk menyembunyikan tubuh tinggi serta tegap suaminya dari pandangan.

。。* 。。

Teh di hidangkan di atas meja kayu yang lagi lagi terlihat tak layak di gunakan di ruang tamu. Mrs. Baek menyajikan ubi rebus yang beliau tanam sendiri dari perkebunan sekeliling rumah dengan senyum hangat mengetahui kunjugan dari pemilik tanah sebelah yang tak lain majikan dari putrinya.

"Maafkan kami karena tidak bisa menyajikan hidangan yang lebih layak untuk Anda Mr. Jung. Tentunya Anda tidak terbiasa menikmati hidangan sederhana seperti ini, bukan." Yang baik Yunho atau pun Jaejoong tahu sangat berharga bagi keluarha mereka.

"Aku suka ubi." Mengupas ubi tersebur, Jaejoong memberikan miliknya untuk suaminya. Hal tersebut membuat senyum Mrs. Baek mengembang senang.

Yunho sendiri sibuk memikirian apa yang akan ia lakukan. Ia lebih suka menemukan gadis nakal yang mencuri kalung salah satu pelayan di kastil ketimbang gadis miskin yang menafkahi keluarganya. Ini tidak akan mudah, Yunho tidak ingin menghukum gadis itu karena jika ia menggunakan hukum lalu gadis itu di penjara, siapa yang akan menafkahi Mr. Baek yang sudah lanjut usia serta penyakitamln dan Mrs. Jung yang hanya buruh serabutan di desa.

Gadis itu masihlah muda. Lumayan cantik namun miskin untuk dapat menarik perhatian seorang pria menikahi gadis itu untuk membantu meringankan tanggung jawab keluarga. Memiliki adik laki laki yang bekerja di kota untuk membantu tidak dapat memperbaiki keuangan keluarga. Adik lain yang catat serta ayah yang sudah tidak mampu bekerja membuat keluarga ini terlihat menyedihkan.

Kecelakaan mengakibatkan tulang kaki gadis malang tersebut tidak dapat pulih, lagi lagi keuangan serta pengobatan yang seadanya mengakibatkan penyembuhan yang mustahil untuk mendapatkan kembali kaki sehatnya utuh.

Gadis itu tidak mengatakan sepatah katapun sejak Mrs. Baek menyerbu masuk dari belakangnya setelah menemukan dua orang penting dari estat sebelah di rumah mereka yang sempit. Sambutan hangat wanita tua itu menahan apapun yang akan Yunho ataupun Jaejoong katakan.

Beruntung Jaejoong sudah menyiapkan parsel berisi beberapa bongkahan roti madu serta beberapa bahan makanan lain yang ia minta deri pelayan, dan ketika mereka berkata mengadakan kunjungan, hal itu di percayai oleh Mrs. Baek begitu saja.

"Putriku selalu bercerita tentang istri Anda yang sangat baik ini. Saya terkejut mendapati dia sangat menawan setelah lima tahun tidak melihatnya lagi."

"Anda mengenalku?" Jaejoong berkata terkejut.

"Oh, Tentu saja nak. Mendiang ibumu pernah datang untuk mengobatiku saat aku terserang demam. Bahkan beliau tidak mau menerima upah yang seharusnya beliau dapatkan." Senyum hangat wanita itu mengatakan kejujuran. Satu dari segelintir orang yang bersimpati kepada Jaejoong ketika keluarganya di gembar gemborkan adalah keluarga penyihir dengan dua anak haram. Sayangnya, Jaejoong tidak mengingat pernah melihat keluarga ini sebelumnya karena ia tinggal di sisi lain bukit.

"Ibumu orang yang baik, begitu baik sampai membiarkan orang orang menyebarkan fitnah tanpa sanggahan." Melirik suami dari Jaejoong, wanita itu tersipu karena malu di perhatikan oleh Yunho.
"Mungkin ada beranggapan saya suka bergosip." Yunho membenarkan hal itu dalam hati.

"Namun dalam hati, saya sangat berhutang budi terhadap Heechul atas semua bantuannya."

"Sejak kapan kau mengenal keluarga istriku?" menerima cangkir teh yang di sodorkan istrinya, Yunho mengamati pinggiran cangkir yang mulai retak.

"Sejak mereka pindah ke sini. Saat itu Jaejoong baru berusia delapan atau sembilan tahu. Aku kurang pasti."

"Kau tahu dari mana mereka datang?" Jaejoong menatap suaminya mendengar pertanyaan tersebut. Apa yang ingin di ketahui Yunho.

"Saya tidak tahu." wanita itu mengamati wajah Jaejoong lesu. "Hanya saja gosip mengatakan mereka di usir dari rumah atau keluarga mereka lalu pindah kemari."

Yunho mengamati istrinya. Tatapan mata keduanya bertemu. "Aku tidak tahu itu." Atau tepatnya ia tidak ingat selain... Bayangan itu muncul di benak Jaejoong, teriakan, bau amis serta air, pelabuhan. "Yang aku tahu kami datang dengan kapal, lalu... " ia tidak ingat. "Aku tidak tahu dari mana kami datang. Bahkan aku tidak ingat jika pernah menaiki sebuah perahu, bukan, melainkan kapal. Kapal yang sangat besar." ujarnya melamun.

"Itu tidak penting lagi." nada cerita Mrs. Baek membuyarkan bayangan yang muncul di benak Jaejoong. "Apa yang membawa Anda kemari Mr. Jung, bukannya saya tidak senang, saya sangat senang, malah, hanya saja rumah kami tidak pernah kedatangan tamu sejak saya dapat mengingat."

Yunho kembali menatap Baek Eun Ji yang menyibukan diri dengan cankir teh di kedua tangan. "Kami hanya berkunjung, aku mendengar suami anda sakit." Jaejoong lah yang menjawab. Jawaban itu cukup konyol bagi Yunho, namun cukup memuaskan bagi Mrs. Baek tua yang dengan semangat kembali masuk ke dapur untuk mengisi kembali isi teko yang sudah kosong.

"Kau tidak usah takut." Yunho berkata. Ia tidak perlu menyebut nama gadis itu karena mereka semua tahu siapa yang pria itu maksud. "Aku tidak akan memberitahu ibumu jika kau menjawab bertanyaan kami dengan jujur."

Napas gadis itu tertahan. Seakan siap untuk di adili di di tiang gantungan. "Kau yang mencuri kalung itu?"

Gadis itu diam sejenak, menatap mata Jaejoong seakan meminta pertolongan. "Ya." cicitnya.

"Kenapa?"

"Karena aku membutuhkan uang untuk pengobatan ayahku. Penghasilan adikku di kota sama kecilnya dengan penghasilanku bekerja kepada Anda. Kami kekurangan karena pengakit ayah kambuh" Sebelum Yunho kembali berujar gadis itu mengimbuhkan. "Saya paham hal itu tidak bisa di jadikan alasan, saya juga sadar bahwa lambat laun saya akan ketahuan."

"Kau pernah mencuri sebelumnya?" tanya Jaejoong.

Rona malu serta kepala menunduk gadis itu mengatakan penyesalan dan rasa bersalah yang membuat Jaejoong sesak. "Di pasar, saat kami tidak memiliki uang dan adikku mengatakan ingin makan ikan."

Gadis yang malang. Kepada suaminya Jaejoong berkata. "Yun."

"Tidak! Dia akan tetap mendapatkan hukuman karena kesalahannya. Banyak cara untuk mendapatkan uang, tapi bukan dengan mencuri."

"Dia tidak berpendidikan. Tidak lulus sekolah dan di mana ia akan mendapatkan pekerjaan dengan gaji layak?"

"Tapi bukan dengan mencuri. Mencuri adalah tindakan bodoh tak termaafkan karena dia mengambil barang orang lain untuk kebutuhannya sendiri." kata itu di ucapkan Yunho dengan datar namun dingin. Jaejoong menalegang dan menatap gadis itu penuh penyesalan karena tidak mampu membantu.

"Saya sadar saya salah. Keadaan keluargaku yang miskin tidak pantas aku jadikan kedok untuk mencuri."

"Syukurlah kalau kau paham." Yunho menyahut. "Akan tetapi kau tetap akan mendapatkan hukuman."

Gadis itu semakin beringsut di kursi yang ia duduki. Desahan pasrah keluar dari bibir pucatnya yang bergetar. "Saya mengerti. Saya tidak bisa mengembalikan kalung itu karena sudah saya jual di kota."

"Di toko mana?" Dengan wajah merona malu Eun Ji menjelaskan di mana ia menjual kalung itu. "Aku akan menebusnya kembali. Kalung itu pemberian ibu gadis malang yang kau curi."

Rasa bersalah menohok perasaan Eun Ji. "Saya akan mencari waktu untuk bicara dengannya."

Jaejoong tetap mengunci mulut untuk tidak memperotes sampai mereka pamitan. Gadis malang itu sudah cukup menderita dan sekarang suaminya masih akan menghukum gadis itu atas tindakan yang di dorong oleh keputus asaan karena harus menghidupi keluarga.

"Aku tau apa yang kau pikirkan Jongie." ujar Yunho sesampainya mereka di dalam mobil. Pria itu memang sedikit pendiam setelah apa yang baru saja mereka ketahui dari sosok pencuri kecil dari kastil.

"Kau tidak tahu."

"Aku tahu." Tatapa Yunho menatap langsung ke dalam bola mata Jaejoong. "Aku melakukannya demi menyelamatkan gadis itu. Jika aku lepas tangan, itu akan menjadi contoh yang buruk bagi pelayan maupun pekerja lain. Mereka tidak akan mempercayaiku lagi, dan lagi, kemungkinan seseorang akan melaporkan masalah ini ke kantor polisi. Ini bukan masalah sepele, ini masalah pencurian pertama yang terjadi di kastil. Dan aku tidak ingin siapapun mengulangi kesalahan yang sama."

Jaejoong tidak memprotes. Ia merasa gemas karena sialnya, apa yang di katakan suaminya begitu masuk akal serta logis. "Baiklah." ia mengalah.

Yunho melajukan mobil menjauh dari kediaman keluar Baek yang berada jauh dari rumah rumah yang lainnya, jalan sempit yang hanya bisa di lalui satu mobil itu berlubang, menapung air hujan dan membentuk genangan di beberapa tempat.

Tanah itu begitu subur. Sayur sudah mulai di panen dengan banyaknya petani yang masih bekerja pada jam sore seperti saat ini.

Jaejoong membuka jendela kaca, mencongongkan wajah kedepan untuk membiarkan angin menyapa wajahnya dengan kesejukan awal musim dingin.

Mobil terhenti mendadak. Dengan heran Jaejoong menatap ke depan, di mana ada gerobak tua pengangkut sayur terhenti. Sebelum Jaejoong mencerna apa yang terjadi di depan sana, Yunho melepas jaket dan berjalan keluar. Jaejoong pun mengikuti suaminya itu yang berniat membantu mendorong gerobak yang ternyata setahan di salah satu lubang pada genangan.

"Tetap di sana Jongie. Aku tidak ingin kau kotor."

"Tapi aku ingin membantu." Mengabaikan peringatan suaminya Jaejoong melepas syal yang ia kenakan.

Pria tua itu tersenyum ramah menyambut bantuan mereka. "Terima kasih anak muda."

Butuh usaha keras untuk mendorong roda gerobak itu kaluar dari lubang. Yunho mengerahkan segenap kekuatan, mengerahkan dalam dorongan kuat beberapa kali sampai roda gerobak tersebut bergulir keluar dari lubang.

Jaejoong mengamati sepatu keduanya yang terlihat kotor, bahkan sampai celana mereka yang terkena noda lumpur dengan ngeri.

"Terima kasih banyak atas bantuan kalian."

"Sama sama."

"Kalau boleh tahu, kalian dari mana?" Pria tua itu menatap mobil pikup hitam Yunho di belakang. "Setahuku tidak ada apapun di sana, selain rumah Mr. Baek."

"Kami berkunjung untuk melihat Mr. Baek." Jaejoong menyahut cepat sebelum Yunho menjawab.

"Rumahku tidak jauh di depan sana, kalian bisa membersihkan diri karena pakaian serta sepatu kalian kotor setelah membantu pria tua ini." Tawar pria tua itu sepenuh hati.

"Terima kasih sebelumnya Paman, rumah kami di seberang perbatasan. Tidak jauh dari sini."

Wajah pria itu berbinar mendengarnya. "Kalian dari estat sebelah? Apa kalian mengenal Mr. Jung, aku dengar putranya kembali dan mengambil alih estat, aku dengar anak itu sudah menikah."

Yunho berdeham. Jaejoong merasa geli melihat tingkah suaminya itu. "Kebetulan sekali itu adalah saya."

Entah mengapa wajah pria tua itu terlihat sendu mendengar pengakuan Yunho. Pria tua itu mengamati Yunho lebih cermat dengan bantuan sisa cahaya senja samar yang mulai menggelap. "Senang melihatmu kembali, nak. Aku mengenal mendiang ayahmu, dia majikan yang baik serta ayah yang baik, tentunya sebelum ibumu pergi meninggalkan ayahmu bersama laki laki lain."

Pria itu terus saja bercerita tentang kisah ayah Yunho yang pemberani dan kebaikan pria itu, mengabaikan ketidak nyamanan Yunho karena mendengar kisah kebaikan ayah yang tidak di berikan ayahnya untuk Yunho.

"Aku tutur berduka atas kematian ayahmu, meski terlambat tapi kami sangat menyayangkan kematian ayahmu yang tiba tiba dengan cara mengakhiri hidupnya sendiri. Kau tahu, ayahmu adalah sahabat mendiang Mr. Choi Siwon yang paling baik, sering memberi bantuan kepada kami, rakyat miskin, meskipun kami bukan lah penyewa tanah beliau."

Baik Yunho maupun Jaejoong tertegun mendengar apa yang baru saja di ungkapkan oleh pria tua itu. Ia yakin telinganya tidak salah mendengar tentang apa yang baru saja pria itu jabarkan. Bunuh diri. Ya Tuhan.

Jaejoong mengamati wajah suaminya yang berubah pucat, tubuh suaminya itu berubah kaku dengan tatapan kosong menatap pria tua di hadapan mereka.

"Ayahku meninggal karena penyakit." itulah yang bibi Yuri katakan padanya. "Bagaimana bisa kau mengatakan dia bunuh diri."

Wajah pria tua itu berubah pucat. Bibir pucat itu membentuk segaris lurus dan berkata. "Saya minta maaf jika saya terlalu banyak bicara. Aku hanya pria tua yang sudah pikun. Tolong lupakan tentang apa yang baru saja aku katakan. Permisi."

Mengabaikan peria tua itu menjauh bersama gerobaknya, Jaejoong menyantuh lengan suaminya gusar. "Paman itu pasti salah."

"Atau Bibi Yuri membohongiku." Rahang pria itu berubah kaku. Jaejoong mendesah mendapati Yunho berbalik dengan marah menuju mobil mereka.

Oh, ia memang tidak tahu menahu dengan kehidupan keluarga suaminya di masa lalu. Namun bukan berarti ia tidak ingin tahu, tidak ada desas desus atau apapun yang mengungkit tentang ayah dari suaminya itu semenjak ia tinggal di kastil.

Seakan tidak ada yang berani mengungkit keburukan ayah mertua yang tidak ia kenali itu, pria itu begitu baik, penyakitan dan tidak ada lagi gosip buruk lainnya yang ia dengar.

Baik pelayan atau siapapun tidak akan bercerita panjang tentang Jung Il Woo, seakan akan seseorang memang sengaja melarang siapapun membicarakan pria itu terlebih tentang kematiannya. Tidak ada yang menjawab dengan pasti ketika Jaejoong bertanya kepada mereka tentang penyakit ayah mertuanya sebelum meninggal. Ada rahasia di sana.

-TBC-

Typo bertebaran. EYD tak beraturan dan amburadul.

Next end. Yang minta epilog bakal di usahakan ada.

Saya mau cetak ff ini jadi book buat koleksi pribadi. Dan kebetulan ada pihak lain yang minat. Jika kalian berminat juga, bisa hubungi Sherry via mana saja(?) kkk
Sekalian cetaknya.

Soal harga saya belum tahu. Karena ini belum end dan belum tanya ke percetakan.

Hanya untuk yang berminat.
Terima kasih masih setia mengikuti ff ini. See u all next chap.

#kabur
-kejar Yoochun sama Jaejoong.-