Title : Say You Love Me

Author : Sherry Kim
Cast : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Other

Genre : Romance, Drama, Family, Sad, HQ, etc...

Rate : M
WARNING
Yaoi. Tidak suka jangan baca.
Alur tidak jelas typo bertebaran.

.. * ..

Yjskpresent.

.

"Siapa yang mengatakan itu kepadamu?" wajah pucat Yuri membuat urat nadi leher Yunho semakin timbul karena menahan amarah.

Ketegangan wanita itu terlihat jelas yang tentunya dapat Yunho jadikan jawaban atas pertanyaan yang baru saja ia lemparkan kepada bibinya.

Tubuh Yuri terhuyung ke belakang, ia butuh pegangan sebelum terjatuh mendengar apa yang baru saja keponakannya itu katakan.

Ya Tuhan. Yuri tidak menyangka Yunho akan tahu tentang rahasia yang sudah susah payah ia tutupi selama belasan tahun terakhir. Begitu banyak usaha yang telah ia kerahkan untuk menutup mulut semua pelayan bahkan saksi agar merahasiakan kenangan buruk tentang kematian Jung Il Woo, ayah Yunho.

"Benarkah itu Bibi?" Suara Yunho menggema di ruang duduk. Pria itu sudah menahan amarah sepanjang perjalanan pulang hanya untuk mendapatkan satu jawaban pasti.

Perasaan hampa karena di bohongi oleh bibinya sendiri membuat Yunho semakin tak mampu mengendalikan emosi. Untuk pertama kalinya ia meragukan apa yang di katakan bibi yang selalu ia percaya sejak ia dapat mengingat, bahkan melebihi ibunya sendiri.

"Kenapa kau merahasiakan itu dariku, Bibi?" ujar Yunho putus asa. "Selama belasan tahun aku terbelenggu dalam kebohongan yang kau buat, mempercayai semua yang kau katakan tentang Ayah yang kau katakan tidak bisa menjaga serta melindungiku seperti yang seharusnya," Melangkah lebih ke dalam ruang duduk, Yunho berhenti di hadapan bibi Yuri. "Apakah semua itu bohong?"

Kedua mata wanita itu basah, jika biasanya Yunho akan menghibur Yuri dan menutup mulut rapat, tidak untuk kali ini. Ia butuh jawaban pasti. Tidak boleh ada belas kasih atau bibinya itu akan membohongi dirinya lagi.

"Jangan paksa aku untuk mengatakannya, Yunho, aku mohong." Pinta wanita itu dengan nada lemah, wajah pucat Yuri seakan kasat mata bagi Yunho karena pria itu maju dan meraih lengan bibinya kasar.

"Yun, jangan!" Jaejoong berlari menghampiri suaminya, menarik lengan pria itu dengan harapan mampu melepas cengkraman tangan suaminya yang kuat pada lengan bibi yang malang. "Kau akan menyakiti Bibi." Kata yang Jaejoong ucapkan dengan keras itu berhasil menyadarkan Yunho.

Meskipun enggan, pria itu melepas cengraman tangannya lalu mundur selangkah. Namun tidak sedikitpun mengalihkan pandangan dari bibinya.

"Jika kau tidak berniat menceritakan tentang Ayah padaku, aku akan mencari tahu, aku pasti akan tahu dengan atau tanpa kau memberitahuku." Musang pria itu menatap tajam mata sembab Yuri. "Dan jika aku tahu yang sesungguhnya, aku ataupun kau tidak akan tahu apa yang akan terjadi pada hubungan kita selanjutnya, Bibi." usai berkata, pria itu berbalik dengan langkah marah seperti pria itu datang.

Pintu tertutup di hadapan mereka dengan suara cukup keras, Jaejoong berbalik kearah Yuri dengan perasaan mencelos melihat wajah pucat wanita itu. "Duduk lah Bibi."

Dengan tubuh gemetar, Yuri membiarkan Jaejoong menuntunnya kembali duduk. "Aku belum pernah melihat Yunho seperti itu sebelumnya."

"Aku pun sama, aku juga tidak ingin melihat wajah itu lagi." Sudah cukup ia melihat amarah suaminya selama perjalanan mereka dari kediaman Mr, Baek petang ini.

Sepanjang perjalanan pulang yang seharusnya mereka nikmati, suaminya itu mengendarai mobil dengan ugal ugalan, jalan beraspal rusak pun tidak mampu menghalagi Yunho untuk mengemudikan mobilnya lebih lambat sampai Jaejoong harus mencari pegangan atau ia akan terlonjak kesana kemari. Sabuk pengaman tidak mampu menahan Jaejoong duduk di tempat sampai ia merasa pusing dan mual sepanjang perjalanan satu jam yang mengerikan.

Sesampainya di depan kastil, Yunho melopat dari balik kemudi tanpa mematikan mesin mobil dan membiarkan Jaejoong duduk linglung di sana setelah goncangan hebat selama perjalanan tadi. Hal itulah yang menyebabkan dirinya terlambat mengikuti Yunho masuk dan mencari Bibi untuk mencegah apa yang ia khawatirkan sebelumnya.

Dan benar tentang apa yang ia khawatirkan, Yunho memang menyakiti Bibi Yuri.

"Apa yang terjadi di kediaman Mr. Baek? Apa Mr. Baek yang membertahu kalian tentang penyakit yang di derita ayah Yunho?" Yuri masih terlalu shok untuk menyadari apa yang sudah keponakannya lakukan barusan, wanita itu masih memandangi pintu di mana keponakan yang sudah ia anggap putranya sendiri itu menghilang dengan tatapan cemas, "Yunho akan baik baik saja, buka?"

Jaejoong mengenggam tangan Yuri erat. "Dia akan baik baik saja. Yunho hanya marah karena Bibi merahasiakan rahasia besar tentang Ayah yang seharusnya ia ketahui."

Yuri memandang Jaejoong dengan tatapan sayu. "Itu demi Yunho, aku melakukan hal tersebut untuk melindungi perasaan serta mental anak itu."

"Aku paham niat Bibi baik. Hanya saja Yunho merasa dirinya berhak tahu tentang penyakit ayahnya dan bagaimana ayah meninggal. Bagaimanapun juga, pria itu adalah ayah Yunho, baik buruknya dia Yunho merasa bersalah karena tidak ada di samping beliau ketika Ayahnya meninggal." Senyum menenangkan Jaejoong tetap tidak mampu mengurangi kekhawatiran Yuri.

Jaejoong menambahkam dengansuara sendu yang menarik perhatian Yuri. "Aku tahu bagaimana perasaan Yunho, Bibi. Karena aku juga ingin melakukan hal yag sama terhadap ayahku andai saja aku tahu siapa dia. Baik buruknya Ayahku."

Yuri tergoda untuk menjelaskan bahwa pengawal pribadinya itu tahu masa lalu Jaejoong, namun ia tidak memiliki hak atas hal itu karena mungkin Hankyung juga memiliki suatu rahasia kenapa dan mengapa pria itu tetap diam sampai sekarang.

Yuri lebih suka memberi hak bagi Hankyung untuk menjelaskannya sendiri, dan memang begitupah seharusnya.

"Ceritakan kepadanya, Bibi. Ceritakan kepada Yunho penyakit apa yang membuat Ayah meninggal." senyum malu pemuda itu terlihat kaku letika menambahkan. "Karena aku juga ingin tahu bagaimana Ayah mertuaku meninggal."

Bunyi denging gelas beradu dengan meja terdengar nyaring di ruangan sunyi perpusakaan luas itu. Sebotol wisky kosong tergeletak di atasnya dengan gelas lain yang sama kosong tergeltak tak berguna di sana.

Dengan langkah pelan Yuri masuk keruang perpustakaan. Menutup pintu di belakang dan mengamati keponakan itu sesih. Belum pernah sebelum ini Yunho minum sebanyak itu dalam waktu beberapa menit saja.

"Gin?" Wanita itu terkejut mendapati sebotol minumam ganas itu kosong. "Kau ingin mencoba membuat dirimu terbunuh, seperti bagaimana ayahmu meninggal?" kata itu ia ucapkan dengan tercekat.

Meskipun Yuri tidak melihat langsung bagaimana ajal menjempul Jung Il Woo yang malang, ia tahu, tidak mudah hal itu terjadi seperti apa yang di ceritakan pelayan kepadanya setelah malam mengerikan itu terjadi.

Wanita itu menempatkan diri pada kursi di sebelah Yunho dengan ketenangan yang jelas palsu. Tidak ada pelayan di sana yang mengharuskan Yuri bangkit untuk mengambil sebotol wisky dari lemari penyimpanan anggur.

"Kau ingin minum?" Yunho tahu bibinya juga tidak menyukai minuman alcohol sama seperti dirinya, akan tetapi ia tetap diam setelah mendapatkan anggukam dari Bibi Yuri

Kembali ke tempat duduknya, ia berkata. "Aku membutuhkan ini sebelum menceritakan semuanya kepadamu. Semoga saja kau tidak membenciku setelahnya."

"Baagaimana mungkin aku bisa membencimu." gumam Yunho. "Aku hanya marah, merasa telah di bodohi oleh semua orang karena mereka tahu satu hal penting yang tidak aku ketahui," suara pria itu tercekat. "Terlebih tentang Ayahku sendiri."

Cairan merah itu Yuri teguk dalam satu tegukan hampa. Bukan itu alasan kenapa ia menyembunyikan rahasia terbesar keluarga Jung, ia sendiri juga merasa bersalah karena berbohong selama lebih dari dua puluh tahun. "Semuanya demi kau, kau tahu."

"Aku tidak tahu," Bentak Yunho, alcohol telah membuat pria itu kehilangan sebagian kendali diri. "yang aku tahu kau membohongiku. Dan mereka semua." Gin telah membuat Yunho mabuk sampai pria itu bicara tanpa berpikir. "Aku tidak suka kalian bohongi. Aku benar benar merasa bodoh, bibi."

"Aku minta maaf jika membuatmu merasa begitu. Kau tidak bodoh, kami tahu itu."

"Tetap saja." suara itu menggelegar.

Yuri kembali menyambar botol dan menuang isinya satu gelas penuh dalam satu kali tegukan, membuat Yuri tersedak.

Dua gelas terasa belum cukup bagi wanita itu untuk mengumpulkan keberanian mengungkap kenyataan yang mungkin akan merubah masa depan keponakannya. Bisakah ia memilih untuk menyimpan kembali rahasia itu, andai ia memiliki pilihan.

Bahkan Tuhan sekalipun tidak memberinya pilihan lain.

"Dalam sejarah keluarga Jung, laki laki dalam keluarga ini memang sering kali meninggal di usia muda," ia memulai. "Namun ada rahasia lain di balik kematian tragis sebagian keturunan Jung termasuk ayahmu."

Meski Yunho tidak menatap wajah Yuri, wanita itu tahu, pria itu mendengarkan apa yang ia katakan. "Begitu juga kakek serta kakek buyutmu, jika istri mereka yang meninggal lebih dulu, suami mereka akan sakit keras karena memikirkan istrinya. Begitu pula dengan ayahmu, nak."

Saat itulah Yunho menatap wajah Yuri dengan keryitan heran. "Ibu pergi meninggalkan Ayah, setahuku beliau tidak peduli akan hal itu dan mengurung diri di ruang kerjanya dengan tumpukan pekerjaan yang ia anggap lebih menarik dari pada mengurus sisa putranya yang masih membutuhkan kasih sayangnya." suara itu bsrgetar samar saat Yunho menambahkan. "Ayah lebih memilih pekerjaan serta semua anggur ini ketimbang mengurusku."

"Dengan harapan pria itu bisa melupakan wanita yang ia cintai yang menghianati dirinya. Ayahmu, dia menderita batin karena kepergian ibumu, nak." Imbuh wanita paruh baya itu. "Aayahmu terlalu mencintai ibumu sampai hampir gila setelah kepergian Kakaku bersama pria jahanam itu." Satu gelas lagi, dan wanita itu mendesah puas.

Yunho menggeleng tak paham. "Dan bagaimana dengan kata orang tentang Ayahku yang gila? Apakah itu benar? Dan selama ini tidak ada satu pun dari kalian yang memberitahuku akan hal itu." Botol kosong itu jatuh dengan bunyi keras, pecahan kaca bertebaran ke segala arah ketika Yunho menghempaskan botol tersebut.

Yuri menatap pecahan itu dengan sedih. "Demi kebaikanmu, nak. Kami terpaksa menjauhkan dirimu dan berbohomg demi melindungimu dari perasaan tertekan batin. Kamu melakukan itu karena ayahmu nyaris tidak pernah mengurusmu semenjak ibumu pergi bersama pria lain."

"Lalu kalian dengan teganya memisahkan ayah dan anak yang saling membutuhkan?" Amarah dalam suara Yunho dapat Yuri pahami, itulah mengapa ia lebih memilih untuk diam, membiarkan keponakannya itu mengumpat sesuka hati sebelum ia kembali melanjutkan rahasia yang akhirnya ia ungkap sendiri.

Penyesalan karena menganggap ayahnya sendiri tidak menyayanginya membuat Yunho membenci diri sendiri karena membenci ayahnya. Mungkinkah ayah tidak akan meninggal andai Yunho tetap tinggal bersama ayah, mencoba memahami perasaan pria itu tentang cinta dan menghibur pria malang itu. Yunho menyesal tidak mendampingi pria itu sebelumnya.

"Waktu ibumu pergi ayahmu masih sesekali menengokmu meski sudah menjadi pecandu berat alkohol," Yuri kembali memulai bercerita. "sesekali menengoku pada malam hari atau sekedar bertanya kondisi kesehatanmu serta bagaimana kau bertingkah setiap hari kepada pelayan pribadimu," Yunho tidak pernah tahu akan hal itu. "namun itu tidak bertahan lama. Satu tahun kemudian, Ayahmu mendengar kabar tentang ibumu yang di tinggalkan oleh kekasihnya."

Meskipun marah, Yunho tidak berniat menyela ucapan bibi karena rasa penasaran. Pria itu pun kembali duduk nyaman bersebelahan dengan Yuri.

"Ibumu terlalu malu untuk kembali, terlalu malu mengakui kesalahan yang telah ia lakukan karena meninggalkanmu serta ayahmu demi pria yang mendekatinya demi uang semata. Yoona, Kakakku yang bodoh itu mengatakan kepada ayahmu bahwa ia sudah tidak mencintai ayahmu lagi sejak kematian adikmu. Tapi aku tahu Kakakku bukan wanita seperti itu, dia tidak akan menelantarkan putranya begitu saja tanpa tanggung jawab serta orang orang yang menjaganya."

Meraih botol anggur lain, Yunho menuang setengah gelas untuk ia minum. "Dan meninggalkanku di kastil bersama puluhan pelayan serta ayah yang kaya." ujarnya getir. "Wanita bodoh itu berharap mereka semua menjagaku, yang tidak dia tahu aku membencinya karena hal itu."

"Karena dia bodoh, begitu saja percaya akan rayuan pemuda tampan bermulut manis yang tidak ia ketahui asal usulnya." sahut Yuri.

Tawa kaku itu terdengar mengerikan, Yuri merasa dirinya begitu kejam dengan menceritakan kenyataan pahit ini kepada keponakan yang ia anggap putranya itu. "Malam itu ayahmu kembali dalam keadaan terluka batin, ibumu tidak berniat kembali dan pergi keluar negeri. Ayahmu kehilangan jejak ibumu dan menjadi setengah gila, sering mengamuk dan bahkan pernah menyakimu, kau ingat." Jari dingin Yuri menyentuh ujung mata Yunho, di mana bekas luka samar pernah ada di sana.

"Mungkin aku tidak tinggal di sini, tapi aku tahu semua hal yang terjadi di dalam kastil karena aku selalu mengawasimu, selalu." suara wanita itu bergetar. "Aku menyayangimu Yunho, sungguh!"

Air mata Yunho tidak tertahan lagi, isakan tertahan pria itu mengiringi setiap tetes liquit bening menuruni pipinya. Ia juga menyayangi Yuri seperti ibunya, lebih dan lebih. "Waktu itu aku berniat memperlihatkan hasil nilai ulanganku kepada Ayah," ujar Yunho serak. "dia mabuk, pelayan sudah melarangku tapi aku berkeras dia harus melihat nilai terbaikku. Berharap dia bangga dan kembali memperhatikanku yang telah ia abaikan semenjak kepergian ibu dan kematiam adikku."

Yuri mengusap wajah keponakannya yang basah, wanita itu tidak mampu menahan kesedihan serta luka yang ia lihat ada di dalam mata keponakannya itu. "Ayah marah karena aku menganggu tidurnya, tapi dia sudah tidur sepanjang sian dan sore, tapi masih juga marah saat aku membangunkannya di malam hari." Yang tidak Yunho kecil ketahui bahwa ayahnya mabuk. "Pelayan datang menyerbu masuk saat mendengar pecahan kaca, aku tidak merasakan apa apa kecuali sakit di kening dan mereka segera menggendongku ketika melihat darah di wajahku serta pecahan botol di lantai." dengan kertas ulangan yang masih ia genggam erat.

"Ayahmu menyayangimu, begitu juga ibumu. Hanya saja mereka terlalu bodoh dan memilih cara yang salah. Dia tidak sengaja melukaimu." Itulah yang ingin di yakini Yunho, berharap ayahnya sedang tidak sehat dan akan meminta maaf kepadanya keesokan harinya.

Sayangnya hal itu tidak pernah terjadi. Ayahnya tidak pernah menemuinya sejak saat itu, mereka hanya berpasaan seperti orang asing setiap kali bertemu sebelum Jung Il Woo mengasingkan diri di filla keluarga tidak jauh dari kastil. "Lalu kau datang membawaku pergi."

"Saat aku membawamu pergi, Ayahmu sudah dalam pengawasan dokter." kata itu menarik perhatian Yunho, dengan wajah basah karena air mata, ia menatap bibinya terkejut. "Tidak ada yang memberitahuku."

"Karena kami tidak ingin kau tahu." akunya malu. "Kami berharap ayahmu akan sembuh, tapi nyatanya mustahil. Ayahmu terlalu larut dalam kesedihan karena memikirkan ibumu, bulan tahun sampai dia bunuh diri dengan minum obat tidur bercampur wiski."

"Dan dia tidak bangun lagi."

"Ya," wanita itu mendesah. "begitulah. Dan kami merahasiakan semuanya darimu demi kebaikanmu, bahkan, warga desa pun tidak banyak yang tahu, karena kami merahasikan semuanya dari publik."

"Tapi kenapa pria itu..."

"Pelayan yang pernah bekerja bersama ayahmu, dia sudah tidak ada di sana ketika aku kembali dan aku memang menyuruh beberapa orang untuk menutup mulut mereka." wanita itu mendesah. "Aku terlalu bodoh dengan berharap mereka semua akan lupa tetang masalah itu."

"Mereka tidak bersalah."

"Aku tahu."

Hening untuk beberapa saat. "Bukankah kau seharusnya bahagia."

Mencoba duduk tegak di atas kursi, namun gagal, Yunho mengamati bibinya. "Bahagia?"

"Karena sekarang kau percaya bahwa kutukan keluarga Jung yang meninggal di usia muda tidak pernah ada." Ah, Yunho lupa akan hal itu.

"Tapi aku akan mati jika Jajeoong meninggalkanku. Bukan begitu?"

"Dia bukan ibumu, dia tidak bodoh dan aku yakin Jajeoong akan bertahan di sisimu jika kau memperlakukannya lebih baik. Dia ketakutan setengah mati karena kau seperti orang gila sore ini."

"Karena dia mencintaiku. Jadi dia tidak akan pernah meninggalkanku."

"Dan kau mencintainya?"

Yunho tidak langsung menjawab. Pria itu diam sejenak dan berpikir. "Ya! Aku mencintainya." Akunya. Merebahkan kepalanya di atas meja, pria itu menutup mata. Yuri tersenyum mendengar pengakuan Yunho barusan karena ia juga bahagia mendengar pengakuan itu.

"Kau telah menemukan kebahagiaanmu nak, sekarang aku akan meninggalkan tempat ini dan kembali ke rumah dengan tenang," Jemari wanita itu mengusap wajah damai Yunho yang terlelap.

"Karena tidak hanya ayahmu yang gila setelah di tinggal pergi orang yang di cintainya, aku hampir gila, hanya saja aku bertahan karena ada kau, tidak ada orang lain yang akan menjagamu jika aku juga pergi dan sekarang, aku akan hidup tenang di Busan bersama kenangan suamiku."

。。* 。。

Hankyung menganati pondok peristirahatan di bawah bukit dengan tatapan tidak suka. Hampir setiap hari ia datang ke tempat ini, berdiri di sisi hutan sepanjang pagi bahkan tak jarang sampai matahari setinggi kepala hanya untuk mengamati pemandangan yang sama selama sebulan terakhir.

"Kau akan berdiri di sana berapa lama lagi, Jongie?"

Hembusan angin membawa helaian rambut berpotong rapi Jaejoong menari-nari. "Sampai aku melihatnya sekali lagi." ujarnya tanpa menoleh kearah Hankyung.

"Kita sudah berdiri di sini cukup lama, dan tidak juga melihat pria bodoh itu." Pria itu memberenggut. Hankyung tidak pernah menutup nutupi ketidak sukaannya tentang Yunho yang mengabaikan Jaejoong sejak malam di mana pria itu tahu masa lalu ayah pria itu. Tidak juga saat ini.

"Tidak baik bagi kesehatanmu, kau tau. Kau butuh duduk." Hankyung memberi saran. Ia tidak suka melihat wajah itu terlihat muram setiap kali mereka berada di sini. Lebih tidak suka terhadap pria yang tinggal di rumah di depan sana.

Senyum Jaejoong merekah saat ia menoleh. "Kalau aku duduk, aku tidak akan bisa melihatnya hari ini."

"Bukankah kita tahu bahwa dia baik baik saja. Yang terpenting adalah kesehatanmu. Kau lebih berguna ketimbang pria tak tahu diri yang kabur dari tanggung jawab serta mengabaikanmu itu."

Kembali menatap rumah di sisi danau di depan sana, ia berkata. "Yunho hanya butuh waktu untuk menerima kenyataan tentang Ayah, aku memahaminya. Dan tahu apa kau tahu apa tentang kesehatan?"

Butuh waktu beberapa saat untuk Hankyung berpikir sebelum menjawab. Pria itu kembali memperhatikan jendela besar di depan sana yang terbuka "Istriku seorang tabib. Sering kali aku tahu beberapa hal meski tidak ada yang memberitahuku."

Pandangan Jaejoong beralih ke pengawal pribadinya itu cepat. "Benarkah? Kau tidak pernah mengatakannya padaku."

"Kau tidak bertanya."

"Jika aku bertanya, apakah kau akan memberitahuku?"

Mengedikan bahu, Hankyung menjawab asal. "Mungin saja."

Jaejoong mendesah. Ia tidak pernah tahu atau tidak ingin tahu kehidupan pribadi pria yang entah dengan alasan apa ia sayangi ini. Hari ini ia ingin tahu, dan tidak tahu mengapa dorongan itu terasa begitu kuat untuk bertanya. "Ceritakan padaku tentang keluargamu Hyung."

Meski pandangan keduanya menatap jauh ke depan, mereka berdua tahu keberadaan masing masing dan melanjutkan. "Dia seseorang yang cukup baik untuk menjadi istri. Terlalu baik malah." ada jeda. "Lebih tua dariku enam tahun."

"Enam tahun?" ulang Jaejoong kaget. "Aku tidak pernah tahu ada hal yang seperti itu." Jari telunjuk Jaejoong menggaruk kening yang sebenarnya tidak gatal. "Maafkan aku, bukan berarti itu salah. Hanya saja wanita lebih tua enam tahun, itu jarak yang cukup... jauh."

Lagi. Kedigan acuh Hankyung menjawab ketidak berdayaannya menjawab sesuatu pertanyaan. "Buktinya kami menikah, meski pernikahan kami secara diam diam, jauh dari keluarga dan orang orang yang seharusnya ikut bahagia bersama kami."

"Bagaimana keluargamu?" Jaejoong bertanya sedih. Ia sudah mendengar tentang pria ini yang adalah pangeran buangan sebuah kerajaan besar China. Hanya saja ia terlalu enggan bertanya, atau lebih tepatnya tidak ingin mengungkit masa lalu pria itu yang berkemungkinan akan mengorek luka lama.

Alasan di balik pria itu di usir misalnya, pemberontakan atau kah hal hal lain yang tidak ingin Jaejoong dengar mencegahnya bertanya. Hanya saja, saat ini mereka sudah membahasnya, dan tidak ada salahnya jika ia bertanya lebih jauh bukan.

"Mereka tidak menyukai gagasan aku menikahinya." jawab Hankyung sedih.

Kesedihan dalam suara itu mencegah Jaejoong mengalihkan pandangan dari pria itu sampai tidak menyadari korden jendela di depan sana tersibak terbuka.

Hankyung melihatnya dan tetap diam menatap sosok pria yang berdiri di balik jendela kaca yang sepertinya juga mengawasi mereka.

"Di mana istrimu sekarang?"

"Sudah meninggal." Jawaban itu di ucapkan Hankyung tanpa ekspresi apapun yang di perlihatkan pria itu. Bertolak belakang dengan perasaan hampa serta penyesalan yang begitu dalam sampai Hankyung tidak mampu memaafkan diri sendiri karenanya.

Sudah bertahun tahun Hankyung melatih diri melakukan hal itu, menutupi kesedihan di balik topek kaku yang sering ia perlihatkan ketika seseorang bertanya tentang keluarga yang selama ini di carinya.

"Aku minta maaf." Jaejoong bergerak gelisah. Hankyung memperhatikan pemuda itu dengan tatapan khawatir yang nyata. "Kau perlu duduk."

"Aku tidak apa apa."

Sosok pria itu menghilang dari jendela depan sana dan Hankyung tidak terkejut melihat pria itu keluar dari rumah peristirahatan yang pria itu gunakan untuk bersembunyi selama lebih dari sebulan terakhir, ia tahu kemana arah yang pria itu tuju, akan tetapi memilih untuk tetap diam.

"Kapan kau akan mengatakannya kepada suamimu?"

"Mengatakan apa?"

"Kondisimu." Imbuh Hankyung acuh. Pria itu mengamati pakaian longgar yang di kenakan Jaejoong, kaos kebesaran yang ia tahu milik Yunho menyembunyikan rahasia yang pemuda itu sembunyikan dari semua orang.

"Aku tidak sakit. Aku baik baik saja!"

Memutar bola mata jenggah Hankyung mendengus. "Kau bisa membodohi semua orang, namun tidak bisa membohongiku."

Tidak ada gunannya mengelak lagi bukan, toh pria ini pernah belajar ilmu pengobatan dari istrinya. "Apa aku tidak merasa aneh?"

"Tentang?"

"Aku hamil hampir dua belas minggu, namun tidak menunjukan tanda tanda adanya bayi di dalam perutku." Pemuda itu menunduk mengamati kaos yang sebenarnya ia pakai karena merindukan suaminya. Bukan karena alasan kehamilan yang ia semunyikan.

Yunho mengabaikannya sudah cukup lama sejak suaminya itu bicara dengan bibi Yuri malam itu. Sejak itu pula Yunho mengindar darinya lalu memilih mengasingkan diri di rumah peristirahatan keluarga yang ia tahu pernah di tinggali mendiang ayah suaminya sebelum pria itu meninggal.

Awalnya Jaejoong menganggap hal itu wajar, Yunho butuh waktu untuk menerima apa yang baru saja pria itu ketahui dari masa lalu orang tua yang pria itu anggap mengabaikan dirinya. Kenyataan bahwa orang tuanya mencintai Yunho namun dengan bodoh memilih pergi membuat Yunho sedih.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu dan ia di abaikan serta malam malam yang ia habiskan di ranjang dingin di kastil seorang diri membuat Jaejoong gelisah, ia bertanya tanya, apakah suaminya tidak lagi menyukainya sampai mengabaikan dirinya selama itu dan memilih menghuni rumah lain milik keluarga, jauh dari Jaejoong.

"Masih terlalu dini untuk melihat hasilnya." Hankyung menarik kembali perhatian Jaejoong kearahnya. "Kita lanjutkan perbincangan kita lain kali, kau harus mengatakan kepada suamimu tentang kondisimu, sampai jumpa."

Sampai Jumpa?
Jaejoong mendelik kearah Hankyung, pria itu menyerigai sebelum berjalan menjauh dari tempat persembunyian mereka di sisi hutan, di bawah perlindungan pohon teduh favorite Jaejoong.

"Hyung." Menyadari kehadiran sosok lain di belakang, Jaejoong berputar dan berhadapan dengan wajah murka suami yang sudah lama tidak di lihatnya menatap tajam kearahnya.

"Apa yang kau lakukan di sini Jongie?"

Doe Jaejoong mengerjap mendapat pertanyaan tiba tiba dari suaminya itu. Sejak kapan pria itu berada di sana dan kenapa Hankyung tidak memberitahunya jika Yunho keluar rumah.

Jaejoong mencibir gemas.
Tentunya pria itu tahu Yunho keluar dari rumah dan berjalan ke arah mereka. Jembatan panjang itu tidak menutupi apapun atau menyembunyikan seseorang yang melintas dan ia tahu Hankyung sengaja melakukan hal itu.

Tunggu. Apa tadi yang suaminya itu tanyakan?
"Mencoba untuk melihatmu." jawabnya jujur.

"Sudah berapa lama kau berdiri di sini?"

"Sejak pagi di mana kau tidak ada di ranjang bersamaku." imbuhnya.

Alis Yunho bergerak aneh mendengar jawaban asal istrinya. "Tepatnya setiap hari, sejak pagi sampai siang aku selalu di sini sejak pagi di mana kau mengabaikan aku istrimu." Bodohnya Yunho. Pria itu tidak mungkin tidak pernah melihat Jaejoong di sana setiap hari bukan. Bahkan ketika hujan sekalipun.

"Selama itu?" Jawaban pendek Yunho membuat amarah dalam diri Jaejoong membara. Apakah suaminya ini sudah tidak lagi menyukainya sampai berkata sedingin itu.

Dan demi Tuhan. Apakah perasaan khawatir akan terjadi sesuatu pada suaminya terlihat konyol di mata Yunho. "Besok kau tidak akan melihatku lagi di sini." ujar Jaejoong ketus. "Minggir." bentak Jaejoong ketika Yunho menghalangi jalan.

Yunho tidak berkata kata untuk menyingkir, membiarkan Jaejoong pergi yang hanya membuat Jaejoong terkejut dan marah.

Ketika Jaejoong mengangkat pandangan kearah suaminya, melihat wajah datar suaminya yang menatapnya menantang membuat Jaejoong menahan gejolak untuk menendang tulang kering Yunho. Alih alih Jaejoong hanya menghentakan kaki kesal, melewati Yunho tanpa berkata apapun lagi.

Ketegangan dalam diri Yunho tidak juga berkurang melihat Jaejoong menuruni bukit mengikuti Hankyung pergi. Istrinya itu sangat marah, Yunho tahu. Hanya saja ia terlalu malu untuk melihat Jaejoong dan mengatakan hal yang sebenarnya meskipun ia sangat bahagia mengetahui ia akan bersama Jaejoong selamanya. Tanpa adanya kutukan yang selama ini takuti.

Ia sangat merindukan istrinya. Tapi menjauh darinya untuk sementara. Mencoba hidup jauh dari Jaejoong memang tidak mudah, tapi ia pasti bisa. "Aku mencintaimu." Kata itu seakan membeku setiap kali Yunho mencoba mengucapkannya.

Ia menjauhi Jaejoong untuk berpikir ulang. Pantaskah ia mendapatkan Jaejoong, mungkin kah Jaejoong akan meninggalkan dirinya jika tahu ayahnya tidak hanya mati bunuh diri, namun juga gila.

Yunho tidak ingin mengambil resiko Jaejoong tahu. Dan ia tidak suka menjadi gila jika istrinya itu pergi. Oleh sebab itu lah ia belajar hidup jauh dari istrinya. Belajar hidup tanpa Jaejoong jika suwaktu waktu Jaejoong tahu kenyataan itu dan pergi dari hidupnya.

-TBC-

Typo bertebaran EYD tidak jelas.

Yosh!
Mendekati endding. Semoga tidak seperti sinetron yang saya benci #plak

Hanya kabar kabar, ff ini sudah end di wattpad sampai chap 25, tinggal tunggu epilog. Penasaran ?

Silahkan mampir ke wattpat sherry.

suliskim aka Sherry Kim