Chapter 2 :
Kenyataan
Elektrokardiograf berbunyi stabil, menandakan hidup empunya masih berdetak dalam jantung. Tudung menutup keping violet. Wajah nun ayu damai seakan mempunyai kunci surga, benar sekalipun dia tidak menjual apalagi memberi cuma-cuma. Pasien satu ini memang unik, bukan seragam rumah sakit melainkan jubah hitam. Cukup gila untuk dikenakan di musim panas. Terlalu aneh, mencolok dan mengundang prasangka buruk.
Bukannya staff rumah sakit menelantarkan–dia tidak punya kusta dan sebangsa lain. Seseorang khusus meminta ini, bahkan dokter yang berkuasa dibuat patuh bak anjing rumahan.
NGIETT….
CKLEK!
"Nihao,Mammon? Lagi-lagi kau mengabaikanku," candanya mengambil kursi samping nakas. Karamel teduh melafalkan doa minta diberi kesabaran. Jika bukan karena dia, meneteskan satu-dua air mata tidak masalah.
"Jelas saja. Viper masih koma. Presentase 'tidurnya' empat puluh persen. Meninggal dadakan lima puluh persen. Bangun tapi amnesia sepuluh persen. Terimalah kenyataan, Fon."
"Seharusnya kau sisakan satu persen untuk keajaiban." Pemikirkan optimis yang kadang kala memuakkan. Terlalu muluk dan membuat dahi seorang ilmuwan mengernyit. Satu kata itu sulit digambarkan dengan akal sehat–kurang rasional.
"Pemikirkan tersebut hanya menyakitimu. Menggantungkan harapan pada satu persen, aku tidak mungkin melakukannya." Senyum mengejek tersungging sempurna. Dia benci apa pun yang menentang sebuah kebenaran.
"Aku tidak meragukan analisismu, Verde. Tapi satu persen bisa menjadi titik balik terbesar." Entah idiot, fanatik atau bagaimana pun caranya menyebut, ia sekadar menghela napas–sangat pelan.
"Kita memang tak pernah cocok." Kacamata dinaikkan ke pangkal hidung. Manik rumput musim seminya mengalihkan pandangan ke objek di depan.
Hening menyelimuti kamar nomor 506, di mana dua pemuda bertamu menjingjing sekeranjang harapan–ralat untuk Verde yang memegang kukuh rasionalitas. Pria berparas oriental itu bergeming, sejak jarum berdetak dua puluh kali berturut-turut. Satu menit terlewat tanpa suara menginterupsi atmosfer. Hanya terekam satu aktivitas melalui lensa CCTV; sang kempoka takzim menyeruput segelas teh hijau. Harum menguar di langit-langit.
"Kau benar-benar menyukainya, ya." Kalimat pertama meluncur cepat. Verde memperhatikan gelas tanah liat yang mengepulkan asap putih, cairan hijau pekat tenang mengenangi.
"Dan Mammon paling membencinya. Aku harap dia bangun lalu marah seperti biasa, begitu lebih baik." Gelas diletakkan lembut. Haus di kerongkongan mendadak hilang dari kamus.
"Omong-omong, kau tahu caranya berkomunikasi menggunakan bawah sadar?"
"Semacam telekinesis, huh? Terlambat jika mempelajarinya sekarang. Enam bulan berlalu, nasi sudah menjadi bubur." Koma setengah tahun bukanlah sebentar. Dokter pun menyuruh Fon, para arcobaleno berpangku tangan.
"Kenapa sulit bagiku mendengar suaramu, Mammon?" Jemari lentik dieratkan pada tangan mungil yang memucat. Ia tak memerlukan telekinesis, ilmu gaib atau hal lain, cukup memegangnya saja, biarkan dewi fortuna bekerja, mereka berbicara lewat sentuhan.
"Lakukan sesukamu. Aku duluan."
Kursi terdorong pelan. Akal sehat Verde mana tahan menyaksikan semua itu. Pertama: irasional karena saraf pasien mati rasa, sia-sia melakukan kontak fisik. Kedua: sajian pemandangan menyebabkan mata perih. Ketiga: dia bosan terus mengulang percakapan serupa enam bulan terakhir. Harapan tak ada dalam istilah sains. Omong kosong. Sekadar dibuat-buat guna menghibur diri sendiri.
Fon erat memejamkan mata. Hatinya memanggil nama sang ilusionis yang senantiasa disebut dalam panjat doa. Andaikata diibaratkan kembang api, maka ratusan warna-warninya sudah menghias langit Namimori setengah tahun lalu. Tiada mampu ia lakukan selain memohon 'janji'.
Gelap.
Hitam menyapunya sejauh mata memandang.
Kosong. Menyedihkan. Warna itu mengikat sesak menjadi sumber kekuatan.
Tak ada suara apalagi nada. Benar-benar hampa menyisakannya seorang diri, yang kini berkelut mencari hakiki kebenaran. Kenyataan tanpa dusta semanis madu.
Keping violet meraba dingin permukaan. Membelah kasar 'malam abadi' tiada berujung, seakan pula bintang membenci dia, bulan menjauhinya sementara matahari pengecut bersembunyi.
Hanya satu petunjuk yang dimilikinya: terus berjalan.
Lihatlah, betapa malang nasib sang ilusionis, bahkan lebih parah dari delusi ciptaannya. Fon menjerembapkan diri memasuki kegelapan. 'Malam' tak berujung dengan dominasi kelam yang membutakan arah. Mammon di sana, sepatu mungil terdengar menghentak 'lantai' berirama. Bisa dispekulasikan ia berhasil. Bawah sadar si martial arts ikut tenggelam, ketika sepasang karamel fokus memantapkan tekad.
Sekarang Fon mampu mengatakannya, isi hati terdalam.
"Tidak perlu takut, Mammon." Setengah bulan terjebak di sini. Tersesat tanpa tahu arah pulang menuju kenyataan. Jelas mengerikan, Fon mengerti rasa tersebut–amat kecut dibanding sayur pare.
"Siapa di sana, muu? Tunjukkan dirimu!" Karamel manisnya membulat sempurna. Jarak mereka terpaut dekat. Fon berdiri di belakang, selalu mengikuti kemana pun Mammon melangkah. Mungkin aku harus pindah ke depan.
Namun sia-sia, sebanyak tangannya mengibas, mengeliminasi jarak, violet tidak pernah menemukan karamel, asa yang terpilin serta gurat pengharapan nan muluk. Sejenak Fon menundukkan kepala. Jujur dia kecewa, wujud ini hanya proyektor tiga dimensi–mustahil disentuh maupun diraba, bahkan dilihat jua. Mungkin itu bayaran untuk sebuah kunjungan terlarang. Jarak yang membentang adalah tembok pemisah antar mereka.
"Andai bisa pasti kulakukan! Maaf, Mammon. Namun…. Aku selalu berada di sisimu. Percayalah."
"M-muu? Bagaimana aku bisa percaya kalau kau tidak kelihatan?! Lagi pula ini di mana? Semuanya gelap, muu!" Tawa Fon mengudara tipis, cukup untuk ia dengar sendiri. Dia benar-benar Mammon, masih sempat marah walau seseorang di sini nampak bersedih.
"Waktu adalah uang dan aku benci membuangnya!"
"Hahaha … di mana pun kau berada Mammon tetaplah Mammon, pecinta uang. Sebutlah mimpi indah. Sudah saatnya mengakhiri ketakutanmu."
Kebohongan yang memilukan, palsu bertabur gula berlebih. Fon bergantung pada satu persen keajaiban. Ia mempercayainya dibanding siapa pun. Boleh jadi Verde mengatai gila. Reborn menyuruh pasrah–berhenti daripada melukai diri sendiri. Luce minta agar Mammon dilepaskan saja, jangan dibuat menderita, tapi … mereka tidak mengerti betapa menakutkan kehilangan. Kalau salah satu, entah keluarga, pacar atau siapa pun meninggal maka bagaimana?
Apa mereka kuasa mengatakannya? Tidak, mana mungkin! Fon tahu dia punya teman-teman yang baik.
"Luce benar. Kenapa aku mengharapkan ini? Dengan meninggalkan dunia…. Mammon pasti …" Bodoh. Fon mengutuk pesimistis yang menyusup. Kemana optimisme kebanggaan sang kempoka? Bahan celaan terbaik bagi ilusionis Varia?
"Setidaknya aku ingin mengenang dua hal penting."
Pikiran tersebut menjemput berjuta larik cahaya. Berpilin menjadi satu dan mengakhiri hitam pekat. Membawa mereka berteduh pada atap toko kelontong. Hujan mengguyur deras permukaan tanah. Mammon takzim mendengar tangis langit tanpa interupsi bariton. Begitu pun Fon, ia menikmati masa-masa ini–sewaktu takdir mempertemukan kedua insan itu di Namimori, kebetulan yang sangat menyenangkan.
"Hujan yang indah, bukan? Mengingatkanmu pada sesuatu?" Fon hafal mati luar-dalam. Percakapan mereka. Nada ketus Mammon. Lingkup sunyi nun menenangkan, ditambah dukungan rintik air.
"Menurutku sama saja. Hujan ya hujan, tidak ada yang menarik dari itu, muu,"
"Tapi bagi seseorang hujan kali ini amat spesial. Kalian bertemu setelah lama berpisah. Terjebak dalam hujan yang katamu menyebalkan karena membuang waktu." Siapa lagi kalau bukan dia? Lama-kelamaan gelar ahli bela diri bisa berganti menjadi 'tukang berharap'.
"Bertemu siapa maksudmu? Yang terakhir benar, siang itu aku dan Bel mampir ke Jepang. Dia pergi sebentar lalu meninggalkanku sangat lama. Tapi niatku minta ganti rugi menghilang, muu."
Ah, kalimat pertama sukses menohok hati. Mereka bertemu sejak lama, di sebuah pondok dengan keenam orang lain dan penguntit. Namun hanya satu yang menarik atensi pria kelahiran Cina itu–pemuda serba hitam, menyandang 'arcobaleno kabut', ahli ilusi, misterius pun…. Tsundere? Fon pikir Mammon bercanda, tapi benar kata Verde, kemungkinan ketiga menjadi kenyataan secepat peluru melesat dalam sepersekian detik.
Maka apa? Fakta memukulnya teramat kejam.
"Itu karena kau terlalu asyik bicara dengannya."
"Dengannya? Martial arts sialan?! Muu,aku tak habis pikir kenapa bertemu dia!" Syukurlah kau ingat, batin Fon menyimpul senyum. Ia mati-matian membantah ucapan Verde. Mammon pasti sadar dan ingat siapa dia, hubungan mereka!
"Mungkin rencana takdir. Kalian cocok, kok, menurutku." Apalagi saat mengatakan ini, senyumnya kian lebar bertabur bunga-bunga imajiner. Kalau ada kamera video, dia pasti meminta Skull merekam perjumpaan mereka.
"Jangan bercanda, muu! Lawakanmu sejelek Levi anggota kami, bahkan lebih parah, muu!" Gelagat Mammon berubah. Karamelnya menangkap semburat merah semanis buah cherry. Reborn sekali pun belum tentu mampu.
"Namun kau menikmatinya, bukan?" Atau tidak. Entahlah. Fon paham kalau Mammon bohong. Jujur bukan ciri khas pemilik netra ungu tersebut.
Hujan merupakan memori indah untuk dikenang, tapi dibanding momen itu, ada satu yang paling melekat. Favorit-nya sepanjang masa. Maka setelah mengingat janji masa lalu. Pertengkaran kecil dan sedikit adu mulut, mereka berpindah latar ke cafe di siang bolong, ketika musim semi menjemput kelopak sakura guna memeriahkan. Siluet dua pemuda terlihat dari jarak tiga meter. Mammon asli bersembunyi di balik semak sedangkan Fon berdiri di samping.
"Katakan apa maumu menemuiku, muu!" Menyenangkan sekali menontonnya kembali. Bukan sekadar divisualisasikan tanpa gambaran asli.
"Aku hanya ingin memandang wajahmu, tidak boleh?" Aku modus juga ternyata, meski ya…. Fon merasa itu makanan sehari-hari dia. Menggoda Mammon adalah rencana nomor satu usai tiba di Namimori.
Selanjutnya Mammon mencak-mencak merasa ditipu, sementara yang asli macam suporter bola meneraiki para pemain–semangat betul dia mendukung. Fon dalam keadaan berdiri tegak. Berhenti menyaksikan kenangan terindah dengan kepala menunduk. Dada sang martial arts berdentum hebat. Petir menyambar pilu diiring nyanyian hujan. Ia benci mengakui ini–namun Verde benar, sekarang pun pujaan hatinya sudah lupa.
CUP!
Film berakhir. Lamunan Fon pecah melihat Mammon menghampiri visualisasinya.
"Dengarkan aku. Jangan, ja–!" Tidak, kata siapa telah berakhir? Latar cafe retak menjadi kepingan-kepingan terkecil. Mammon terdiam mematung. Putus asa melanda.
"I-ilusi, kah, muu? Sebenarnya aku di mana? Cepat jawab pertanyaanku, sialan!" Mereka sama-sama kehabisan kata. Penjelasan untuk merangkai kebenaran dan perasaan jujur. Fon sedih mendengar teriakannya, tersurat penderitaan di situ!
"Bukan ilusi, melainkan kenangan berhargamu." Keegoisan, terang-terangan Fon menyuarakan. Ia mengigit bibir kesal. Merah menodai berbalut rasa sakit. Mammon lupa, cerita tersebut karangan baginya! Dusta. Omong kosong!
"Lalu siapa martial arts sialan? Bagaimana wajahnya?"
DEG!
Kalau tombak imajiner ini asli, hitam dan merah akan bersanding menciptakan keruhnya kolam darah. Benarkan lebih baik begini? Kukuh mempertahankan egoisme tersebut, yang semata-mata dibalut dalam sepatah kata menjanjikan cerah masa depan, optimis? Fon bimbang. Begitu sulit melepaskan–setiap menyingkirkan keinginan memiliki, suara lemah itu terbesit menyamai bising kereta listrik, memekik telinga, samar dan terlalu cepat, membuat siapa pun iba.
Menerima jua hatinya belum damai dengan kenyataan. Fon hilang kelapangdadaan untuk memeluk duri nasib.
"Sekarang bayar aku. Beritahu ini di mana dan bagaimana caranya keluar? Berterima kasihlah tak perlu mengeluarkan sepeser pun uang." Rentetan kalimat berlalu di persimpangan. Atensi Fon mengudara seiring debat mereka.
"Bayaran yang pantas adalah, aku akan mengeluarkanmu dari situ." Tanpa perlu direkam –cukup Fon saja mengetahui aksi tersebut, tangannya tembus pandang menyentuh sang ilusionis . Dari belakang atas kesadaran sepihak, merengkuh tubuh mungil nun rapuh itu.
"Lakukan dan jangan banyak omong, muu! Aku benci pembohong." Seakan mengecap kontak fisik di tubuhnya, Mammon berontak 'minta dilepaskan'. Menggeliat bak cacing kepanasan dibakar sinar mentari.
"Namun tidak sekarang. Bersabarlah sedikit lagi, kumohon." Pelukan dilepas berat. Sudah waktunya berpisah. Fon telah menghabiskan banyak waktu di sana, bersama Mammon, kenangan mereka.
Sunyi kembali melanda. Mammon tenggelam dalam penantian panjang, sendirian, kesepian.
Penyesalan terbesarku adalah 'saat itu'. Ketika cafe menjadi pelepas penat sekaligus rindu padamu. Kita memulai perdebatan bodoh yang lagi-lagi dimenangkan olehku. Seperti biasa, kau marah sambil menyinggung uang, menolak walau diberi satu truk sekalipun. Kadar bencimu terhadapku kian memuncak ibarat matahari di musim panas.
Ciuman pertama yang juga berlaku untukku. Singkat namun menyenangkan. Indah meski buruk bagimu. Kisah tersebut berhenti di sana, kau memilih melupakannya dibanding mengenang sebanyak dan sesering mungkin.
Kala semilir berhembus memainkan ujung suraimu. Angin menyampaikan pesan tersirat ini.
"Wo ai ni, Mammon."
Kalimat yang kusumpahi menjadi pertama sekaligus pun pertemuan kita, sebelum penyerangan terhadap Markas Milfiore dilaksanakan demi melindungimu–arcobaleno lain. Perkataanmu benar, aku hanya idiot dengan optimisme berlebih. Martial arts sialan karena 'mengejek' kemampuan ilusimu.
Pada akhirnya, dalam lintas petang di tengah perpaduan oranye, tubuhmu tergeletak mencium dingin lantai, di mana peluru membolongi perut yang memuntahkan darah segar. Dengan sisa tenaga kau memaki, mengataiku pengecut menyembunyikan rencana ini. Namun, saat aku berniat membantahmu–semakin menambah kesan dungu yang kutahu begitu, ucapanmu menghentikanku sepersekian detik. Waktu membeku.
"Dengarkan baik-baik, martial arts sialan! Aku melakukannya bukan karena mencintaimu, melainkan hutang budi. Berjanjilah untuk terus bertahan hidup. Kau mengharapkan orang yang salah, bodoh!"
Benci dan cinta bagai selembar kertas bagimu, bedanya tipis pun tidak berarti.
Aku menjanjikannya karena mencintaimu, demi menolongmu yang terpuruk, demi melihatmu bersemangat, kembali menemukan suatu tujuan. Dibencimu hanyalah ujian kecil, dibandingkan dengan keputusasaanmu kala itu.
Namun….
Andaikata aku tidak pernah mengatakannya. Kau tetap hidup. Kita bisa mencintai dan membenci di waktu bersamaan. Akan lebih baik perasaan ini terus dipendam, sehingga kamu tak perlu menggantikan penderitaanku.
Kalau pun kau tidak mau pulang. Menuruti permintaanku agar kembali. Biar aku yang menuntunmu kemari. Maaf telah mempertahankan keegoisan ini.
Ketahuilah, hidup tanpa keberadaanmu adalah hampa. Hampa adalah hidup tanpa keberadaanmu.
Jadi,
pulanglah sesegera mungkin. Aku menunggumu, selalu.
Bersambung….
Balasan review :
Profe Fest : Aku udah baca review-mu lewat email, tapi karena baru update sekarang jadi kubalas sekarang, hehehe. Pas baca review-mu aku gak tau mau ngomong apa, yang pasti 'senengnya di notice olehmu!'. Iya, bagiku review-mu itu notice, hehehe /apaansih. Jujur aja, aku suka FM itu sejak baca fanfic-mu dan cesi alias chesse-ssu. Meski termasuk crack pair aku pikir FM itu romantis, gak kalah sama yang canon dan terima kasih telah mewariskan kesukaanmu, wkwkw. Fanfic-nya ada 3 chap, semoga berkenan buat nunggu chap 3 yang bakalan lama dibikinnya.
Yang sang pemilik suara itu males italic-nya, harusnya emang di italic supaya gak bikin bingung. Dan kalo adegan kenangan itu, aku gak kepikiran lho harus di italic, kupikir gabung sama ceritanya gak apa-apa, ternyata ada yang bingung ya. Sarannya boleh dipertimbangkan, tapi belum tentu bisa dipenuhi sih, kalo tiba-tiba diubah kurang biasa aku-nya, hehehe. Tapi kuhargai kok juga review-mu yang telah mewarnai kotak review kosong belompong ini. Thx senior-ku /panggilannyagaje /abaikan
Oh iya, tolong dilanjut dong fanfic-fanficmu yang FM chapter, mau rate M atau T. Semangat ya! Ditunggu karya FM-mu yang lain.
