Title : Say You Love Me
Author : Sherry Kim
Cast : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Other
Genre : Romance, Drama, Family, Sad, HQ, etc...
Rate : M
WARNING
Yaoi. Tidak suka jangan baca.
Alur tidak jelas typo bertebaran.
.. * ..
Yjskpresent.
.
.
Suara teriakan bahagia terdengar dari luar jendela, suara tawa bocah serta wanita menganggu tidur nyenyak Yunho yang sangat ia butuhkan setelah malam panjang yang ia habiskan dengan minum minum sepanjang malam tadi.
Yunho menahan erangan saat merasakan dampak dari anggur yang ia tegug kemarin malam. Ini tidak sepadan dengan tidur sepanjang malam karena ia memang tidak ingat bagaimana bisa ia berada di kamarnya.
Bahkan Yunho tidak ingat ia masuk ke kamar setelah menghabiskan beberapa botol anggur semalam bersama pria yang meminta, atau lebih tepatnya menyeret Yunho kembali ke kastil.
Yang Yunho ingat ia menegug habis beberapa botol karena frustasi, istrinya mendiamkan Yunho sepanjang hari sekembalinya ia dari Villa keluarga kemarin. Jaejoong begitu menjaga sikap serta kata kata saat berbicara maupun berdekatan dengannya. Bahkan, ciuman selamat datang dari istrinya terasa hambar meskipun senyum lebar menghiasi bibir mungil Jaejoong yang ingin sekali Yunho lahap detik itu juga.
Memang bukan kehendak Yunho ia kembali, Hankyung lah yang menarik Yunho kembali setelah mengatakan pria itu akan pergi tak lama lagi. Dan iapun kembali, namun menyesali keputusannya sendiri setelah melihat istrinya yang cantik, dan iapun tergoda untuk menyentuh Jaejoong, menarik istrinya itu ke kamar mereka dan mengunci mereka berdua di sana sepanjang sisa hari itu.
Sepanjang malam yang dapat ia ingat, Yunho menegug anggur dan membayangkan bercinta dengan istrinya, Jaejoong terlihat semakin mengoda dari terakhir kali ia lihat. Jaejoong begitu mungil berbaring di sisi lain ranjang, menggoda Yunho untuk menyentuh kekasihnya dan bercinta dengannya.
Demi keselamatan jantung yang berdetak tak karuan setiap kali mendengar deru napas teratur Jaejoong, Yunho keluar ruangan dan menghabiskan malam dengan mabuk mabukan bersama Hankyung yang pada saat itu masih berada di ruang piano.
Tawa bahagia serta pekikan penuh semangat dari luar kembali terdengar. Memaksa Yunho untuk segera bangun.
Bangkit dengan linglung, Yunho mencoba mencari tahu gerangan apa yang membuat tawa istrinya menggema sampai ke kamarnya.
Korden sudah tersibak ke dua sisi, membiarkan sinar mentari menyinari sebagian ruangan dengan cahaya terang keemasan.
Melongok ke luar jendela, Yunho mendapati istrinya berlari dengan Changmin mengikuti pemuda itu di belakang. Keduanya seakan berlomba untuk dapat sampai di ujung taman bunga tersebut pertama kali dan memenangkan sesuatu taruhan.
Beberapa pelayan berdiri di sisi taman tertawa terpingkal pingkal entah karena alasan apa. Mengedarkan pandangan, Yunho tidak melihat Hankyung di antara pelayan laki-laki dan wanita di sana. Di mana pria itu? Kenapa pengawal pribadi istrinya membiarkan Jaejoong berlari di lapangan yang tentu saja akan sangat berbahaya bagi istrinya.
Bagaimana jika Jaejoong terjatuh dan sebagainya.
Yunho berdiri di sana untuk beberapa saat, mengawasi. Changmin berhasil mendahului Jaejoong yang ia tahu istrinya segaja mengalah agar bocah itu menang.
Di garis finis, Changmim meloncat bahagia melihat wajah kesal Jaejoong yang di buat buat membuat bibir Yunho tertarik ke atas. Betapa manis istrinya itu ketika mengedip kearah pelayan penuh sekongkol. Mereka semua tahu, namun tidak dengan Changmin. Bocah itu masih tertawa bahagia dengan wajah bulatnya yang mirip dengan ibu mereka.
Yunho tertegun. Ia tidak menyadari ini sebelumnya, ada kesamaan dalam diri mereka dan ia tidak merasa menyesal membawa bocah itu kembali. Ia juga tidak menyesal memutuskan menemui ibunya ketika wanita itu sakit sebelum menjelang ajal.
Hanya saja ia menyesal tidak berada di sisi ayahnya untuk menamani ayahn ketika pria itu terabaikan dan menderita seorang diri. Ayah yang malang.
Menjauh dari jendela, ia berjalan dengan langkah limbung menuju kamar mandi. Banyak pekerjaan dan urusan yang harus ia kerjakan termasuk mencari tahu di mana pelayan pribadi istrinya itu berada.
Pertama tama, ia harus mandi dan bicara dengan Jaejoong. Bertanya di mana pelayan pribadinya itu berada dan tahukah dia bahwa Hankyung berniat mengundurkan diri sebelum waktu perjanjian habis.
.
。。* 。。
.
"Kau memanggilku?"
Yunho memberi isyarat kepada istrinya masuk untuk duduk di sisi lain meja.
"Kau tahu ke mana Hankyung pergi? Aku tidak melihatnya pagi ini." suara Yunho serak, kepalanya masih pusing karena mabuk semalam. Dan karena itulah ia melihat Jaejoong begitu cantik siang ini. Batin Yunho mencoba membohongi diri sendiri.
"Aku tidak tahu. Pagi ini dia meminta ijin untuk pergi ke suatu tempat." menolak untuk duduk, Jaejoong memutari meja, berhenti di sisi kursi kebesaran yang Yunho duduki.
"Kau baik baik saja?" Kesejukan serta kelembutan tangan Jaejoong mengejutkan Yunho saat istrinya itu menyentuhkan tangan pada keningnya. "Aku menghawatirkanmu. Kau menyendiri terkalu lama." Kekhawatiran dalam suara Jaejoong terdengar nyata, hal itu menjadi pukulan telak bagi Yunho karena merasa telah begitu bodoh dengan mencoba mengabaikan Jaejoong.
Istrinya itu begitu baik, penyayang, dan jika ada seseorang yang paham tentang rasa kesepian yang di rasakan oleh Yunho, itu adalah istrinya.
Kesadaran itu mengejutkan Yunho. Mengapa tidak ia saja yang mengatakan tentang masa lalu keluarganya, setidaknya ia mampu membujuk istrinya jika saja Jaejoong ngeri atau jijik terhadap masa lalu keluarganya. Toh, istrinya sudah mengetahui sebagian masa lalu keluarga Jung dan tidak ada salahnya jila ia memberitahu rahasia yang lain.
Di tilik dari pengalaman Jaejoong sendiri, serta masa lalu keluarga Jaejoong tidak jauh lebih baik dari keluarga Jung, ia berharap, sangat berharap Jaejoong mau memahami hal itu karena sungguh, ia tidak mampu berjauhan dengan istrinya lebih lama lagi.
Memutar kursi, Yunho menghadap langsung kearah istrinya yang menjulan di hadapannya. Membuat pemuda itu mundur sebelum ia meraih Jaejoong.
Tubuh Jaejoong limbung oleh ulang suaminya. Berbentuan dengan tubuh Yunho yang menarik Jaejoong ke dalam dekapan pria itu. "Yun, kenapa? Apa yang terjadi."
Membenamkan wajah pada dada lembut istrinya, Yunho berkata. "Maafkan aku." Suara Yunho tersamarkan oleh dada Jaejoong.
Permintaan maaf itu tidak mengejutkan Jaejoong, malah, ia merasa geli dengan tingkah suaminya ini. "Katakan padaku, kenapa kau meminta maaf?"
Menarik diri, kedua telapak tangan Jaejoong menahan sisi wajah Yunho dengan sentuhan lembut. Ibu jari Jaejoong mengusap bibir bawah pria itu yang sangat ingin ia cium dan ia pun menunduk untuk mempertemukan bibir mereka.
Sebelum Yunho menyadari apa yang di lakukan istrinya, Jaejoong menarik diri. Yunho menyurukan wajah pada kelembutan tangan istrinya yang masih di sana mencari kenyamanan.
Bodohnya ia telah mengabaikan istrinya hanya karena ketakutan yang tidak jelas itu. Bodohnya ia karena meragukan perasaan istrinya. Bodoh! Rutuk Yunhobpada diri sendiri.
"Janji untuk tidak marah?"
Senyum Jaejoong masih disana saat pemuda itu berkata. "Aku tidak bisa." goda Jaejoong dengan wajah polos. "Bagaimana jika sesuatu yang harus aku maafkan adalah kesalahan besar, kau berbuat afair atau sesuatu yang tidak masuk akal selama di villa persembunyianmu, misalnya."
Mata musang Yunho menyipit mendengar kecurigaan yang tak masuk akal itu. "Demi Tuhan, tidak! Dan kau tahu aku tidak melakukan itu ketika semua pelayan memata mataiku atas permintaanmu."
Jaejoong terkejut mendengar suaminya tahu akan hal itu. "Bagaimana kau bisa mengetahuinya?"
"Kau pikir aku tidak paham dengan tatapan para pelayan yang selalu mengikutiku kemanapun aku pergi." Yunho mendengus. "Sekembalinya Bibi Yuri ke Busan, hanya tinggal kau lah satu satunya orang yang menghawatirkan... " kata kata Yunho menggantung si udara. Oh Tuhan, bukankah ia sudah tahu jawaban apa yang ia cari sejak dulu. Bahwa pastinya Jaejoong menyayanginya sampai bersedia mengawasi Yunho selama di pengasingan.
Bodoh.
Yunho merutuk diri sendiri. "Aku benar benar minta maaf." Pelukan pria itu mengerat sampai membuat Jaejoong kesulitan bernapas, namun ia hanya diam, tidak ingin membuat keintiman mereka yang sudah sangat lama tidak ia rasakan ini hilang.
"Aku mengakuinya." ujar Jaejoong jujur. "Aku memang mengawasimu lewat pelayan."
"Dan kau sendiri datang setiap pagi untuk melihatku." Jaejoong mengangguk mengiyakan. "Kenapa?"
"Karena aku ingin melihatmu, itu saja." Juga bayi kita. Kata terakhir itu tidak ia ucapkan. Jaejoong merasa ini bukan saat yang tepat untuk mengatakan bahwa ia mengandung.
Bukti dari dokter akan di kirim sore ini, dan saat itulah ia akan memberitahu Yunho bahwa ia hamil. Yunho tentu tidak akan meragukan kehamilannya, bukan.
Sudah jelas bahwa tidak ada kutukan apapun yang akan menghancurkan pernikahan mereka, jadi, tidak ada hal yang perlu mereka berfua takuti atau hindari. Tentu saja, kecuali perasaan suaminya yang tidak juga Jaejoong ketahui apa.
Apakah Yunho mencintainya, sama seperti ia mencintai pria itu. Atau kah hanya perasaan kasihan yang mengikat Yunho di sisinya? Hal itu masih membuat Jaejoong cemas.
Jaejoong tidak tahu. Dan sampai saat itu tiba, ia akan merahasiakan kehamilan ini. Dan ia berniat menunda memberitahu Yunho tentang kehamilannya sore ini. Belum saatnya.
"Kenapa kau menjauh dariku?"
Mata musang Yunho tertutup rapat. Ia semakin menyurukan wajah pada dada lembut Jaejoong sebelum menjawab dengan suara terendam kain lembut pakaian istrinya. "Karena aku takut jika kau tahu kenyataan yang sesungguhnya kau akan membenciku."
Jaejoong masih tetap diam, tidak tahu apa yang harus ia katakan dengan kata yang di jabarkan suaminya.
"Berjanjilah Jongie, berjanjilah padaku kau tidak akan pergi meninggalkanku seandainya kau tahu masa lalu keluargaku."
"Aku berjanji." Jemari Jaejoong mengusap rambut kasar suaminya. Entah berapa lama pria itu tidak merawat rambutnya sendiri, Yunho perlu memangkas rambutnya karena Jaejoong merasa rambut suaminya sudah cukup panjang, ia akan membahasnya nanti.
Melepaskan pelukan pada pinggang Jaejoong, Yunho tidak membiarkan Jaejoong lepas karena detik berikutnya ia menarik istrinya agar duduk di atas pangkuan. "Akan aku ceritakan semuanya, tentang kenapa Ayahku bunuh diri dan bagaimana Ibuku mengabaikan Ayah yang malang."
Jaejoong tidak menyela, tidak juga berpaling dari wajah sedih suaminya kala Yunho menceritakan masa lalu yang membuat suaminya itu terpaksa di jauhkan dari ayah kandungnya sendiri.
Penyesalan itu dapat Jaejoong pahami, karena ia juga merasakan perasaan yang sama karena tidak berusaha untuk menjadi lebih baik bagi keluarga di masa lalu.
Sekarang, tidak ada kata andai ataupun jika. Semua itu hanya haraoan semu belaka, ia paham itu dengan sangat baik.
"Cukup." bisik Jaejoong menghentikan cerita Yunho.
Pemuda itu merangkul leher Yunho untuk memberikan ciuman lembut yang berubah dalam dan penuh tuntutan. Ketika bibir mereka berpisah, napas mereka memburu dengan wajah merona Jaejoong serta bola mata hitam Yunho yang di penuhi gairah.
"Kenapa kau baru mengatakan hal itu sekarang. Kau tahu aku tidak akan meninggalkanmu hanya karena alasan kecil itu, bukan."
Kata itu menghantam Yunho lagi dan lagi. Ia merasa sangat bodoh dan menyesali apa yang telah ia lakukan. Mengabaikan istrinya selama lebih dari satu bulan membuatnya frustasi.
Semakin ia mencoba, semakin sering pula hasrat untuk melihat dan memeluk istrinya itu timbul ketika mereka berjauhan.
"Aku minta maaf karena meragukan hal itu." Yunho menunduk, pelukan pria itu pada pinggang Jaejoong melonggar sebelum terjatuh di kedua sisi tubuhnya. "Aku tidak ingin kau meninggalkanku andai kau tahu Ayahku bunuh diri karena dia gila."
Jaejoong tidak dapat menutupi kekecewaan yang ia rasakan saat menjawab. "Kau bodoh Yunho, kau tahu?" ada jeda. "Ketika kau menerima diriku apa adanya beserta masa lalu keluargaku yang tidak jelas asal usulnya, mungkinkah aku akan meragukanmu. Dan juga, mengapa kau meragukan perasaanku? Padahal kau tahu aku mencintaimu."
"Oh Jongieku, sayang."
Jaejoong menangkis lengan Yunho yang berniat memeluknya lagi. Iapun bangkit agar bisa memberi jarak bagi ia dan suami yang telah meragukan perasaan cinta yang telah ia berikan dengan segenap jiwa. "Cinta tidak memandang apapun, aku mencintaimu, kau tahu itu dan kau masih meragukanku?"
Yang membuat Yunho khawatir adalah nada suara Jaejoong yang datar. Kemarahan akan lebih mudah untuk di tangani ketimbang istrinya yang seperti ini. Wajah dingin serta mata yang mendelik kepadanya itu membuat Yunho semakin gelisah.
"Kau sudah janji untuk tidak marah." Yunho mengingatkan.
"Aku tidak marah!" sangahnya. "Aku hanya kecewa karena kau meragukan perasaanku, kau meragukan cintaku... " ketika Yunho akan membuka suara, Ia meninggikan nada suaranya. "...kau tidak mempercayaiku sebagai mana aku mempercayaimu Yun. Itu yang membuatku marah padamu."
Air mata sialan yang mengalir turun dari manik indah Jaejoong membuat Yunho merasa dirinya adalah iblis yang sangat kejam. Ia tidak meragukan perasaan cinta Jaejoong, hanya saja ia meragukan istrinya akan menatapnya dengan perasaan cinta yang sama seandainya Jaejoong tahu ayahnya gila sebelum pria itu bunuh diri.
Ia ketakutan setengah mati andai saja perasaan cinta itu perlahan tergantikan oleh perasaan jijik. Itu lah yang Yunho takutkan. Dan saat ini, mata itu menatapnya sadis. Namun ia sadar, itu juga bukan benci.
Apakah ia masih memiliki harapan?
"Jongie." Yunho bangkit dari duduknya.
"Diam di sana Yunho. Atau aku akan menghajarmu." kata itu membuat Yunho geli, namun ia tidak berani tertawa melihat tatapan tajam dari istrinya. Jaejoong marah, sangat marah!
"Aku minta maaf."
"Tapi kau masih meragukan perasaanku, bukan?"
"Tidak!"
"Namun sebelumnya kau meragukanku." suara Jaejoong bergetar saat menambahkan. "Katakan padaku Yunho. Apakah kau mencintaiku?"
'Aku mencintaimu'
Alih-alin Yunho berkata. "Kau sudah berjanji tidak akan menuntut cinta dariku bukan? Itulah perjanjian kita sebelum kita menikah."
Air mata itu mengalir semakin deras. Jaejoong tidak sanggup lagi tetap berdiri disana meski hanya untuk beberapa detik. "Baiklah." iapun berbalik dan pergi.
.
。。 * 。。
.
Hankyung di kejutkan oleh suara pintu kamar yang terbuka secara tiba tiba. Lebih tepat terhempas dengan tidak elitnya. Bunyi keras pintu malang menghantam tembok membuatnya meringis. Pria itu menutup mata sejenak menahan desahan yang mungkin akan ia keluarkan, atau bisa jadi amarah.
Ketika ia berbalik, pemandangan di hadapannya membuat Hankyung mengumpat. Jaejoong berdiri di sana dengan wajah basah oleh air mata. Kedua mata indah pemuda itu sembab karena menangis entah sudah berapa lama.
"Beritahu aku, bajingan mana yang membuatmu menangis. Aku akan mematahkan tangan serta kaki bajingan itu jika itu bisa membuatmu tersenyum lagi." Nada datar dari suara Hankyung menandakan pria itu tidak main main.
Jaejoong berhambur kearah pria itu, memeluknya. Tubuh mereka berbenturan cukup keras sampai membuat Hankyung meringis karenanya. "Ya Tuhan, jika kau tidak memikirkan dirimu sendiri, pikirkan bayimu, Jongie."
Jaejoong lupa akan hal itu. Ia pun mundur beberapa senti, memberi ruang bagi tubuh mereka namun tidak melepaskan pelukannya pada Hankyung. Iapun kembali menangis.
Hankyung mengangkat tangan, membalas pelukan Jaejoong dengan sama lembutnya. Betapa ia sangat ingin memeluk pemuda ini sejak lama. Bersandar pada tubuh mungil Jaejoong serta menghirup aroma manis khas pemuda itu dalam.
Keduanya hanya terdiam untuk beberapa saat dalam posisi itu beberapa lama, Hankyung membiarkan Jaejoong mengerahkan kekesalan serta tangisan sampai pemuda itu puas.
Ketika tangisan itu mulai mereda, ia mendorong Jaejoong agar dapat melihat wajah sembab pemuda itu, menghapus liquit bening yang ia benci berada di sana. "Sudah lebih baik?" gelengan Jaejoong membuat Hankyung tersenyum.
"Mau mengatakannya padaku? Kenapa kau menangis."
Membenturkan wajah pada dada Hankyung, Jaejoong mengusapkan wajahnya di sana, tak peduli jika hal itu membuat kemeja pria itu basah ataupun kotor. "Aku mmebenci Yunho. Dia tahu aku mencintainya, tapi tetap saja meragukan perasaanku dan berpikir bahwa aku akan meninggalkan dirinya jika aku tahu penyebab ayahnya meninggal?"
"Keberatan jika kau beritahu aku mengapa?" bujuk Hankyung.
Jaejoong mendongak, menatap wajah Hankyung yang tampan sambil mencebilkan bibirnya lucu. "Karena Ayah Jung gila, Ayah yang malang itu bunuh diri karena di tinggal pergi oleh Ibu Yunho. Hal itu membuat Yunho takut andai aku tahu dan dia akan melakukan hal yang sama pada dirinya sendiri jika aku pergi." Tarikan napas Jaejoong terdengar kasar, tentunya tidak mudah bagi Jaejoong untuk bernapas mengingat pemuda itu sudah menangis cukup lama.
"Aku merasa sakit hati karena dia meragukan perasaanku, jika dia bisa menerima keburukan masalalu keluargaku, mengapa ia tidak berpikir aku juga bisa. Tidak terpikir kah olehnya bahwa tindakannya itu sungguh konyol, tentu saja juga menyakitiku."
Sudut bibir Hankyung terangkat mendengar keluhan Jaejoong yang tiada akhir. Ia memahami bagaimana perasaan Jaejoong, dan tahu perasaan Yunho jauh dari apa yang mereka perlihatkan. Itulah sebabnya mengapa ia meminta Yunho kembali ke kastil. Meski dengan cara ia harus pergi dari tempat ini. Itulah satu satunya cara agar Yunho kembali dan mengawasi Jaejoong setelah kepergian dirinya.
"Kenapa kau menangis?" Akhirnya ia bertanya setelah keterdiaman mereka tadi. "Tidak seharusnya kau menangis karena hal itu."
Dengusan Jaejoong terdengar mengerikan. "Yunho menghawatirkan suatu hal yang tidak perlu, tentu saja aku sedih!"
"Kenapa kau harus sedih?"
"Ya Tuhan." Jaejoong mundur selangkah. Melepaskan pelukannya hanya untuk melotot kearah pria itu. "Kau sama menyebalkannya seperti suamiku."
Senyum Hankyung tetap tidak pudar. Pria itu mengangkat tangan mengusap sisa basah pada ujung kelopak mata Jaejoong. "Seharusnya kau senang, bukankah itu berarti Yunho takut kau meninggalkan dirinya." Apa yang pria itu ocehkan. Jaejoong benar benar tidak paham.
"Yunho berusaha menghapus perasaan apapun yang dia rasakan untukmu, kami tidak buta Jongie, seharusnya kau pun bisa melihatnya juga."
"Melihat apa?"
"Suamimu mencintaimu."
Lagi. Jaejoong mendengus kasar. "Jika dia mencintaiku, dia tidak akan meninggalkanku selama sebulan hanya untuk mengurung siri di Villa mengerikan itu."
"Karena dia ingin mencoba hidup tanpa dirimu. Yunho mencoba belajar melupakan perasaan yang akan membunuhnya jika dia bergantung padamu, yaitu perasaan cinta yang mengikat Yunho padamu. Yang sayangnya gagal dan pria itu kembali, bukan." keterdiaman Jaejoong membuat Hankyung menambahkan. "Yunho mencintaimu, Jongie, hanya saja pria itu menolak mengakuinya karena trauma dengan pengalaman ayahnya tentang cinta."
"Bukan itu alasanya." Kata itu Jaejoong ucapkan dengan ragu. Ia sendiri tidak tahu harus mencari alasan apa. Ia hanya tidak ingin mempercayai apa yang di katakan Hankyung barusan, bagaimana jika hal itu hanya menurut pendapat mereka saja, bukan kah itu hanya akan membuatnya sakit hati seandainya Yunho tidak mencintainya.
Hankyung mengamati Jaejoong lebih lekat, pria itu tidak suka meninggalkan Jaejoong ketika pemuda itu di landa dilema. Ia juga tidak bisa tetap tinggal. Yunho perlu di beri pelajaran untuk menghargai apa yang telah di miliki pria itu, bukan mengabaikan apa yang telah ia milikki.
Dengan keputusan sesaat ia menawarkan suatu hal yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. "Ikutlah denganku."
Tidak Hanya Jaejoong, Hankyung sendiri pun terkejut dengan kata yang ia lontarkan, hanya saja ia lebih dulu mampu menguasai diri untuk menambahkan. "Ikut denganku. Aku akan menjagamu beserta bayi itu."
Untuk sesaat Jaejoong tak mampu berkata kata, hanya diam mencerna apa yang baru saja Hankyung tawarkan. Baru ketika ia menatap kamar sempit pengawal pribadinya itu ia menyadari pria itu sedang berkemas. "Kau akan pergi?" kecemasan dalam suara Jaejoong tidak di pungkiri. "Kenapa? Dan kemana kau akan pergi?"
"Kembali ke Cina." Pria itu menelengkan kepalanya. "Ada urusan yang memanggilku, meskipun aku adalah pangeran yang terbuang. Tetap saja ada seseorang yang membutuhkanku di sana."
"Jangan pergi." Kedua tangan Jaejoong menangkup lengan Hankyung. "Jika kau pergi bagaimana denganku? Bibi Yuri telah pulang ke Busan, dan aku tidak memiliki sahabat lain selain kau, Hyung."
"Ikutlah denganku." Hankyung kembali berkata. "Aku bersumpah akan membuatmu bahagia selama kau hidup bersamaku."
Pilihan ini sangat sulit untuk Jaejoong, akan tetapi ia di wajibkan untuk memilih. "Kapan kau akan pergi?"
"Sore ini. Jika kau ingin ikut denganku, kemasi barangmu sekarang juga."
"Aku tidak tahu. Aku tidak tahu." gumamnya. "Jika aku pergi, bagaimana dengan Yunho?"
Hankyung mengedikan bahu acuh. "Bukankah suamimu telah belajar bagaimana cara hidup tanpamu selama sebulan terakhir?"
Jaejoong benci di ingatkan lagi akan hal itu. Pilihan yang sulit, ia tidak bisa meninggalkan Yunho begitu saja tanpa pamit. Terlebih ini sangat mendadak. "Jika aku pergi, bukankah aku sama saja dengan ibu Yunho."
"Bedanya kau pergi dengan pengawal pribadimu. Bukan selingkuhanmu. Lebih berbeda lagi karena Yunho tidak mencintaimu, bukankah itu yang suamimu katakan padamu?" ada nada geli dalam suara itu yang membuat Jaejoong menatap pria itu. "Dia perlu di ingatkan akan rasa kehilangan dan menyesal. Ini adalah satu satunya jalan, Jongie"
Jaejoong menggeleng, menolak. "Aku tidak bisa. Bagaimanapun juga aku adalah istrinya." Ia pasti akan merindukan Hankyung jika pria itu pergi. "Tidak bisakah kau tetap tinggal. Aku akan merindukanmu."
"Tidak." Senyum itu lenyap. "Jika kau berubah pikiran, temui aku segera. Dan jika besok kau berubah pikiran, aku berada di pelabuhan di kota Mokpo. Tiga jam berjalanan dengan kereta. Aku akan tetap disana sampai besok sore." Pria itu menjelaskan tanpa di minta. "Aku lebih menyukai perjalanan laut. Terlebih lagi. Keluagaku tidak akan tahu aku kembali ke China jika menempuh jarak lautan. Mereka tahu aku membenci laut. Hanya saja mereka tidak tahu bahwa semua itu telah berubah."
Hankyung berbalik untuk kembali mengemas pakaian. Jaejoong hanya bisa mengawasi pria itu tanpa ada niat untuk membantu. Satu lagi orang yang ia sayangi pergi, dan bodohnya ia tetap tinggal hanya untuk pria yang tidak mencintainya.
Tidak! Ia tidak bodoh. Ia akan melakukan suatu hal yang masuk akal, misalnya meninggalkan, bukan di tinggalkan.
Menarik napas dengan keputusan baru, ia berujar. "Aku ikut denganmu, Hyung"
-TBC-
Typo typo... Maaf jika masih banyak typo bertebaran.
Yuhu mendekati end. 2 chap lagi. Semoga.
Di geplak karena leda lede(?)
Semoga hasilnya tidak mengecewakan.
Thanks untuk yang sudah meninggalkan jejak vote dan ripiu. Senang mengetahui ff ini masih ada peminatnya karena lama update.
-BOW-
