Chapter 3 :
Cinta
"Mammon…." Bisik lirihnya diterbangkan semilir angin, menghilang tanpa jejak, menyisakan hampa dalam kamar 506. Nama itu tertinggal sangat jauh, tinggal alphabet yang terkubur pada liang tanah.
Selalu begitu enam bulan terakhir. Namun hari ini, ketika musim menggugurkan daun-daunnya, anak-anak dari ribuan pohon, ia melihat pemandangan selain keputusasaan. Kala jari mereka menaut, dengan syair harapan serta keyakinan, Fon menemukan sebuah titik, sangat gelap, sulit ditebus pun dalam, Mammon di sana macam orang linglung, terjebak begitu lama, melupakan seorang martial arts sialan, kenangan-kenangan … itu.
Pemandangan tersebut menohoknya. Lebih mengerikan dibanding thriller, horor maupun gore. Lagi pula bangsa-bangsa itu hanyalah film, rekayasa semata! Ini kenyataan. Hidup sesungguhnya!
"Berjanji pun aku tidak jamin bisa membawamu. Maaf, Mammon." Kristal bening-nya beranak pinak, meluas dan jatuh menyentuh pualam. Untuk hari ini, enam bulan menahan rasa sakit, biarkan Fon menangis, meratap penuh penyesalan.
"Jika aku melepasmu, kau tidak perlu menderita seperti tadi, tersesat dalam labirin itu."
"Sekali lagi maaf. Aku tak pantas menggenggam tanganmu." Dengan berat hati Fon melepas pegangan mereka. Beranjak meninggalkan rumah sakit. Melupakan optimisme bodohnya.
"Sudah kuduga kau masih di sini." Seseorang menghalau akses jalannya, memaksa Fon berhenti dengan raut bertanya-tanya. Namun tak perlu menit untuk berpikir, ia tahu jawaban yang tepat.
"Kau ingat, 'kan, hari ini adalah 'penentuannya'."
"Mana mungkin aku lupa, Verde. Melepas atau terus mempertahankannya, keputusanku bulat sekarang." Ujung bibir Fon membentuk senyum simpul. Menyembunyikan gurat sedih atas keterpaksaan, mengambil pilihan ini.
"Kami melalui banyak hal bersama, membuat kenangan indah, berbagi cerita dan suka-duka. Aku masih ingin melakukannya, jadi…."
WHUSHH!
Angin membanting keras jendela, seakan berteriak, meraung di tengah selimut hening. Verde menaikkan sedikit kacamata-nya. Menilik sifat Fon, dia pasti bersikukuh mempertahankan Mammon. Semua karena cinta merenggut akal sehat, mengacak-acak jalan pikirnya, membutakan pandangan dengan anggapan, 'tanpa orang ini apa arti hidup?'. Konyol sekali, bukan? Karena itu ia memilih sains, manusia tidak akan dikhianati kebenaran!
"Aku merelakan Mammon, tanpa syarat apapun," ucap Fon mendahului Verde. Sengaja menepuk pundaknya yang mendadak tegang, dia serius melebihi perkiraan!
"Mengejutkan. Hipotesis-ku salah besar."
"Jangan menggantungkan perasaan seseorang pada logika. 'Mereka' mudah berubah, seperti air yang mengalir." Telunjuknya diacungkan ke atas. Sambil tersenyum, Fon menasihati fanatisme Verde akan sains.
"Tergantung situasi dan kondisi maksudmu, huh? Baiklah. Kucatat perkataanmu baik-baik."
Pertemuan mereka diakhiri sangat cepat. Verde telah menunaikan tugas, untuk apalagi ia berdiam di samping ranjang, menatap iba raga tanpa jiwa tersebut? Fon keluar dari rumah sakit, tersenyum ramah seperti biasa, menarik perhatian wanita bahkan burung-burung di langit senja. Karamel itu menengadah ke atas, awan siris membentuk lengkungan pita di langit, berwarna oranye cerah, ditemani matahari yang hampir tumbang.
"Sebaiknya aku ke toko kelontong sebelum gelap." Yang jelas untuk membeli keperluan sehari-hari sekaligus jajan kecil-kecilan. Mumpung ia ke Namimori sebelum pulang lusa besok.
Toko kelontong di perempatan jalan tak berubah sejak dulu. Atapnya masih teduh dengan lampu remang-remang. Hujan selalu menakjubkan dipandang dari sana. Sementara Fon asyik berbelanja, seorang kakek baya tengah bersantai menyantap mie, baru menyadari kehadirannya usai disuguhi dua potong onigiri, sebotol air dan kotak teh siap seduh.
"Ah, Fon -kun ternyata." Hitam-kelabunya menatap lurus ke depan. Memandang pintu tanpa seorang pun berdiri atau mengucapkan salam.
"Kakek aku di depanmu," candanya mengibaskan tangan, meminta perhatian dari penjaga toko yang terhenyak, segera memasang kacamata barulah membulatkan bibir, dia bisa melihat Fon.
"Hahaha … kakek tahu, kok. Tapi…. Rasanya ada yang kurang." Sesendok kuah dicicip kembali. Enak, tidak asin maupun pedas. Gelagat beliau memecah tawa Fon pada langit-langit bangunan tua. Jika digunakan majas hiperbola, maka kalimatnya, 'menggelegar sampai runtuh!'
"Bukan mie-nya ya? Ah, kakek ingat, mana pacarmu?" Renyah tawa digantikan peot cemberut. Namun ekspresi Fon bagai pariwara semata, penjepretan kilat yang fotonya hilang dibawa angin, terlalu klise, aneh bin ajaib.
"Pacar? Maksud kakek Mammon?"
"Kalau tidak salah, iya. Dia yang suka membeli susu stroberi itu, lho, sama memarahi Fon-kun." Kakek bercerita dengan polosnya. Mengurangi kadar masam dalam ekspresi serta hati sang kempoka.
"Mammon sedang di luar kota. Kapan-kapan kuajak dia kemari, sekalian mengunjungi kakek." Dua lembar uang disodorkan cepat. Fon mengangkat tangan singkat. Pergi begitu saja mendekap barang belanjaannya.
"Hati-hati di jalan! Kau tidak mau kantong plastik?"
"Terima kasih, tapi tidak perlu."
Bergegas atau dirinya terlanjur merasa bersalah, telah menciptakan dusta yang mengkhianati keputusan sendiri. Fon tak kuasa berkata-kata, berhenti sejenak di pelataran café, bermandikan lampu merkuri sepanjang aspal menggelar. Karamel itu menoleh pada cahaya redup dari sebatang lilin. Mungkin perayaan ulang tahun atau entahlah, yang jelas di luar sepi, hanya sepasang pria dan wanita dengan kotak beludru, cincin … pertunangan?
"Will you marry me?" Baritonnya lantang mengudara di angkasa malam. Mengejutkan Fon maupun sang wanita. Bulan saja setuju dengan berkamuflase di balik awan.
"U-uhm…. Tentu!" Pria itu beranjak dari posisinya. Memasangkan cincin emas dan saat itu juga, kasih mereka berpadu di bawah terang bintang. Angin menjadi saksi bisu, termasuk Fon yang refleks menutup wajah.
PROK! PROK! PROK!
"Selamat! Kebahagiaan senantiasa menyertai kalian." Tepuk tangan meriah bergema di tengah senyap kebahagiaan, menjadi iringan yang lebih merdu dari piano sekalipun.
"Terima kasih banyak atas doanya. Nanti giliran kalian, oke? Jangan lupa kirim undangan."
Hiruk-pikuk kegembiraan lenyap dari pendengaran, Fon malah asyik dengan kerangka delusi, , membayangkan kisah bahagianya bersama Mammon, melamar, mencium, disaksikan orang-orang sekitar, kurang manis apalagi? Meski ya…. Terdapat kesalahan dalam skenario tersebut. Akan lebih tepat jika diceritakan begini:
Kotak beludru disodorkan. Cahaya purnama membuat ikatan kasih mereka berkelap-kelip, senada bintang pada dirgantara malam, seakan calon mempelai memetiknya langsung dari langit. Fon melantukan kalimat ini, 'will you marry me?', dengan ketulusan milik merpati. Sang objek, yakni Mammon tersipu malu, menjawab patah-patah diseling bergumam marah, 'lama sekali, muu, martial arts bodoh!'.
Fon tertawa memimpikannya. Mengundang perhatian pemuda-pemudi di teras café.
"Orang luar pun tertarik menontonmu! Yo. Tolong doakan kebahagaiaan sahabatku, ya. Semoga juga kamu cepat menikah! Tuhan memberkati selalu."
"Su-sudahlah, jangan sembarangan! Maafkan sahabatku. Ayo masuk. Kita rayakan di dalam."
Tergugu di tempat, Fon menjatuhkan persediaan minyak gorengnya, berlari membelah jalan yang mulai tertidur, sepi tanpa seorang pun kecuali lampu-lampu merkuri. Berlokasi di sebuah toko perhiasan, manik itu terpaku oleh cincin perak dalam etalase, terus memandang dan mengandaikannya, macam bocah lima tahun menginginkan boneka beruang madu.
KRING!
"Silakan masuk dan melihat-lihat, tuan. Atau Anda tertarik dengan cincin perak itu? Karena tak kunjung laku, saya bisa memberi diskon." Tawaran menggiurkan yang mengalihkan pandangan Fon. Karamelnya berbinar mendengar ucapan pemilik toko.
"Hahaha … dasar anak muda! Masuklah, di luar dingin bukan?"
Dengan harga cuci gudang Fon mendapatkannya, lingkaran kecil bersinar gemilang, menyamai bintang sirius di langit malam. Mungkin akan dia simpan beberapa waktu ke depan. Menunggu pengganti Mammon entah sampai kapan, mewanti-wanti sesosok wanita atau pria lagi? Bisa iya, bisa tidak, tergantung bagaimana hati berkehendak.
Namun khusus untuk besok, jodohnya akan dilupakan barang sejenak. Terakhir kali mengantar kepergian Mammon, dengan ikhlas, tanpa sakit maupun keberatan. Karena Fon mencintai dia, alasan yang sederhana, bukan?
Keesokan harinya….
Siang hari tepat pukul dua belas, 'acara penutup' segera dilaksanakan, mengingat sibuknya para dokter dan suster pada jam-jam tersebut. Fon nampak apik dengan kemeja putih, berbalut jas hitam polos yang biasa dia gunakan, dalam acara formal. Sambil mengenggam sebuah benda, pantofel hitamnya mantap memasuki rumah sakit. Satu per satu menaiki tangga. Mengunjungi kamar 506 yang dipenuhi para arcobaleno.
"Bintang utamanya sudah datang ternyata." Topi fedora menutup onyx yang tersenyum. Mereka membuat perjanjian kemarin sore, siapapun harus mengantar Mammon dengan kebahagiaan.
"Selamat siang, Fon. Dokter memberikanmu kesempatan. Bercakaplah sebentar dengan Mammon. Katakan semuanya." Wanita berperawakan menyenangkan itu, Luce, tersenyum lembut menyambut sang badai.
"Xie xie, Luce." Mereka menjauh dari ranjang. Memberikan ruang seluas dan senyaman mungkin bagi Fon, tokoh utama siang itu, pangeran berkuda putih milik Mammon.
"Nihao, Mammon? Ingat? Aku sering menyapamu seperti itu. Kau sampai bosan dan bilang, 'jauh-jauh dariku.'" Drama monolog dimulai. Lima menit dalam sunyi, Fon akan merangkai kenangan terindah mereka.
"Terakhir kalinya enam bulan lalu, ya? Sudah sangat lama. Aku takut kamu melupakannya. Tapi … tidak apa-apa. Jika dengan itu bisa membuatmu bahagia, pasti kulakukan."
Hening. Fon berdeham dan mengeluarkannya, kotak beludru berisikan cincin perak, lingkaran kecil yang dapat mengikat janji masa depan.
"Saat melihatnya, aku yakin cincin ini akan kau lempar, berkata, 'untuk apa?', 'jangan main-main denganku', lucu sekali membayangkanmu."
"Kemarin, aku menyaksikan acara lamaran di sebuah café, karena itulah cincin ini kubeli, dengan harapan dapat melupakanmu, mengikat janji baru entah bersama siapa. Tetapi…."
GREP!
"Aku sadar, mustahil melakukannya. Cinta itu jatuh terlalu dalam. Tak nampak ujungnya. Tenggelam, tenggelam dan terus tenggelam, entah kapan mencapai dasar." Jemari mungil Mammon digenggam erat, sedikit diangkat lalu dicium lembut, sebagai tanda kasih sayang.
"Tahu begini, terlebih dahulu akan kuikat jari manismu. Meski akhirnya kita batal menikah, kau tetap koma dan bertahan setengah tahun, penyesalanku bisa melebur bersama impianku."
"Melepaskanmu adalah kenangan paling indah. Sebagai bukti bahwa aku pernah mengenal, bangga bertemu denganmu di pondok itu. Terima kasih untuk semuanya. Bencilah diriku sebanyak yang kau mau, oke?"
Dan terakhir, bibir ranumnya mencium lembut ilusionis Varia. Membisikkan, 'wo ai ni' yang selalu ingin dia ungkapkan, katakan sebanyak apapun, berapapun kesempatan di depan mata. Kini giliran dokter mengambil alih, hendak melepas selang infus jika keajaiban itu tidak terjadi, sungguh, betapa baik dewi fortuna yang meluangkan waktu, berbagi 'sedikit' kejutan untuk mengagetkan mereka semua. Sebutlah hadiah terbaik bagi pemeran utama.
"Ughh…. Ini di mana, muu?"
"Mammon?" Fon mana mempercayai nasib baiknya. Keberuntungan yang terlalu kebetulan ini! Verde si maniak teori pun terkejut setengah mati. Luce mengajak mereka keluar, membiarkan badai dan kabut arcobaleno berbicara empat mata.
"Sial. Aku tidak punya banyak waktu untuk meladenimu!" Gerangan apa Mammon terburu-buru begini? Fon berusaha menghentikannya. Minta agar dia tenang dan bercerita.
"Muu, aku harus mencari martial arts sialan! Dia malah meninggalkanku dan pergi begitu saja."
JLEB!
"Kau bisa mencarinya kapan-kapan. Setelah memulihkan diri." Situasi dibaca secepat angin menerbangkan halaman buku. Fon menepuk pundak pasien, merangkap pujaan hati sekaligus kabut yang membutakan.
"Lagi pula siapa kau, muu? Aku tak perlu nasihat dari orang asing!"
"Omong-omong soal martial arts yang kau sebut barusan, dia menitipkan ini padaku." Cincin perak disematkannya pada jari manis, Mammon kian heran dengan tubuh mungil meronta-ronta, minta dilepaskan, berhenti disentuh!
"Hah….? Apa maksudnya ini, muu?! Sembarangan memegang jariku, kau harus membayar sangat mahal, muu! Satu koper, tidak, truk bahkan serumah pun kutolak mentah-mentah!"
"Hahaha … terserah apa katamu, Mammon."
"Dan lagi, kenapa kau memakai jas hitam? Menyangka aku sudah mati? Hanya tertidur, kok. Untung martial arts sialan membangunkanku kemarin."
"Bagus bukan? Jadinya kalian bisa bertemu. Kudoakan yang terbaik, jadi berjuanglah!"
"Jangan katakan seperti aku mencintainya, muu! Martial arts sialan itu orang nomor satu yang paling kubenci!" Tegas Mammon berkacak pinggang. Dialog mereka mengalir begitu saja, seakan lawan bicara tak pernah divonis, koma setengah tahun.
"Maka katanya, 'Mammon adalah orang nomor satu yang paling kucintai.'"
Enam bulan Fon mengingatnya. Setengah tahun penuh perjuangan itu, Mammon melupakannya semudah membalik telapak tangan.
Jadi, kenapa? Fon selalu di sisinya. Mereka akan membuat kenangan dan cerita baru. Tanpa mempedulikan masa lalu. Bersama menatap cerah dan gemilang masa depan.
"Syukurlah, Mammon."
Tamat.
Balasan review :
Profe Fest : Hahaha, lebih enak langsung di fanfic-nya aja. Omong-omong maaf banget karena update-nya lama, aku lupa mulu mau bikin, keteteran sama update fic di FT. Prof semangat yak lanjutin fic-nya, aku selalu tunggu lho. Gpp deh yang baca sedikit, asal aku sama pembaca happy aja hahaha. Kalo prof bukan senior-ku maka disebutnya apa? Teman sekapal kah? XD Thx lho udah review sampai chap ini. Semoga suka dengan chap terakhirnya, rencananya aku bakal bikin FM dalam waktu dekat ini.
