Title : Say You Love Me

Author : Sherry Kim
Cast : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Other

Genre : Romance, Drama, Family, Sad, HQ, etc...

Rate : M
WARNING
Yaoi. Tidak suka jangan baca.
Alur tidak jelas typo bertebaran.

.. * ..

.

.

.

Mungkin inilah yang di namakan penyesalan. Suatu perasaan lain yang belum pernah Yunho rasakan seebelumnya. Yunho membenci perasaan ini lebih dari membenci apapun di dunia.

Sebegitu berartikah Jaejoong baginya, sampai ia merasa dadanya sesak, sulit bernapas setelah melihat istrinya itu menangis usai perdebatan mereka tadi. Sungguh, ia tidak berniat melukai Jaejoong karena ia rela melakukan apapun agar melihat senyum istrinya. Hanya saja, ia belum siap untuk mengungkapkan peradaanya kepada Jaejoong untuk saat ini.

Yunho melupakan makan siangnya, sengaja menghindari kastil hanya untuk mengelak dari kenyataan bahwa Jaejoong mencintai dirinya melebihi apapun juga, bahkan melebihi perasaannya sendiri. Atau begitulah menurut pendapatnya.

"Jika kau mampu menerima aku beserta masa lalu keluargaku, kenapa aku tidak!"

Jaejoong mengatakan itu dengan sungguh sungguh, Yunho yakin akan hal itu. Hanya saja ia tidak tahu bagaimana menghadapi masalah yang baginya rumit ini. Anggap ia lari dari kenyataan, lari dari seseorang yang begitu menyayanginya karena trauma dari masa lalu.

"Berapa lama lagi kau akan di sini, Hyung?"

Yunho menoleh hanya untuk menemukan Changmin berdiri bekacak pinggang di tengah-tengah pintu. Wajah bocah itu terlihat galak sampai Yunho bertanya tanya, gerangan apa yang membuat Changmim marah jika biasanya bocah itu terlihat tenang.

"Kenapa kau ada di sini?" Napas bocah itu tersenggal, seakan baru saja berlari dan menerobos masuk ke dalam loteng yang Yunho gunakan sebagai tempat mengurung diri sejak siang tadi.

Aroma jemari serta pakan kuda tercium dari bawah tangga, di mana gudang peralatan serta pakan ternak tertimbun. Loteng itu tidak begitu terang yang menunjukan bahwa tempat itu tidaklah kosong. Beberapa perabot tua tertata rapi di salah satu sudut, dengan salah satu sofa panjang tua di duduki oleh Yunho.

"Bagaimana kau bisa menemukanku?"

Changmin melangkah maju. Kaki kurusnya menghentak kesal menuju kearah di mana kakak tirinya bersandar malas. "Aku mengikutimu kesini tadi, hanya saja aku pergi karena kau, Hyungku yang aneh, lari dari masalah yang sesungguhnya bukanlah suatu masalah besar."

Alis Yunho mengeryit mendengar kata sok dewasa adik tiri yang masih di bawah umur itu. "Dan masalah apa itu?" Menyelonjorkan kedua kaki malas, Yunho membiarkan otot kakinya yang kaku mendapatkan kemewahan untuk sejenak. Ia tidak tahu sudah berapa lama ia duduk di sana, melamunkan sesuatu yang tidak pasti sampai merasa tubuhnya mati rasa.

"Jongie Nuna akan pergi." pekik Changmin kesal. "Dan itu karena kau, Hyungku yang bodoh."

"Ada masalah dengan itu?" Salah satu alis Yunho menukik naik lebih tinggi. "Kau boleh ikut kemanapun istriku pergi jika itu yang kau inginkan Changmin. Dan jangan ganggu aku, pergilah." Mata musang Yunho kembali tertutup hanya untuk mendelik lebar mendengar kata yang di jabarkan adik tirinya.
Bocah itu mengatakan apa?

Meloncat maju, Changmin berdiri di hadapan kakaknya sambil berteriak marah, mengulang kata yang baru saja ia jabarkan. "Jongie Nuna tidak akan kembali. Dia bilang ingin pergi bersama Paman Hankyung ke China."

Yunho mengerjap untuk mencerna kata kata yang di teriakan Changmin padanya. Bocah itu tidak mengada-ada hanya untuk mendapatkan perhatian bukan.

Sorot mata tajam bocah itu menjawab segalanya. "Sialan." Changmin hampir saja terjatuh karena terkejut saat Yunho melompat berdiri. Pria itu terjatuh ke lantai loteng karena terburu buru sebelum kembali berdiri dan hanya mendapatkan benturan keras pada kepalanya dengan langit langit yang tidak telalu tinggi.

Dada kecil Changmin bergerak naik turun saat bocah itu menghela napas melihat tingkah ajaib kakaknya. Apakah semua orang dewasa sebodoh itu. Atau hanya kakaknya yang bodoh karena bertindak ketika seseorang itu berniat menjauh pergi.

Tidak.
Changmin mengelak dalam hati. Ibunya juga bodoh karena mencoba menjauhkan Changmin darinya, berharap ibunya mampu melupakan ayah Changmim beserta kenangan mereka yang menurut ibu menyakitkan.

Yoona adalah ibu yang baik, Changmin tahu itu. Hanya saja wanita itu terlalu bodoh untuk menyadari kesalahan yang telah beliau lakukan lebih awal, ketika wanita itu menyadarinya, semuanya sudah terlambat. Yang sayangnya sifat itu menurun kepada putra wanita itu, Yunho.

Wanita itu menitipkan Changmin pada salah satu panti asuhan dengan dana yang lumayan besar untuk menghidupi changmin yang mengalir setiap bulannya, juga jaminan sekolah tentu saja. Hanya saja ibunya itu tidak tahu bahwa pengacara pribadinya yang licik mengambil sebagian dana itu dan menitipkan Changmin pada yayasan yang sama kejamnya seperti pengacara itu.

Bodohnya ibu. Batin Changmin.
Changmin tidak bodoh, ia tahu dan ia mendengar apa yang di lakukan pengacara ibunya dengan dana perwaliannya. Ia juga pernah berkata kepada pengacara gendut itu untuk mempertemukan dirinya dengan Ibunya, yang hanya di jawab. "Ibumu tidak menginginkanmu. Bahkan Yoona tidak ingin melihatmu lagi, dia jijik melihatmu karena mengingatkan mendiang suaminya." Changmin tahu itu bohong. Changmin tahu itu hanya alasan pengacara tersebut untuk mencegah keduanya bertemu.

Ketika ia mencoba kabur dari yayasan, mencuri uang salah satu pekerja di yayasan, baik kepala yayasan maupun yang lain menghukumnya dengan mengurung Changmin di ruang bawah tanah yang dingin. Loteng ini juga dingin. Mengingatkan Changmin pada ruangan mengerikan di yayasan yang pernahvia tempati.

Langkah kaki bocah itu terlihat lincah saat menuruni tangga. Ia tidak suka sendirian, tidak suka dengan kamarnya yang dingin dan tidak suka kakaknya yang plin olan itu menjadi sama gilanya karena kehilangan seseorang yang di cintai ibu mereka.

Karena itulah ia menerima kesepakatan dengan bibi Yuri untuk mengawasi mereka selama bibi kembali ke Busan. Dan bertindak sesuai keinginan bibinya untuk membatu menyadarkan Yunho tentang perasaan cintanya terhadap Jaejoong. Karena di sinilah ia menemukan apa itu yang di namakan keluarga. Bersama kakak tiri serta kakak ipar yang ia sayangi. Changmim tidak ingin hidup sendirin, tidak!

"Tunggu Hyung, kau harus melihat ini."

Yunho berhenti di luar pintu dengan erangan marah. "Apalagi nak, aku terburu buru."

Changmin berhasil menyusul Yunho sebelum pria itu pergi terlalu jauh untuk menyerahkan selembar surat bersegel. "Apa ini? Aku tidak punya waktu untuk membacanya."

"Kau harus membacanya. Sebelum kau pergi menemui Jaejoong Nuna."

Meskipun enggan dan tidak sabaran, Yunho merobek surat tersebut tanpa membaca label pada sisi amplop. Mata musang pria itu membesar setelah membaca apa yang tertulis di dalam sana sebelum kembali mengumpat dan berlari menuju kastil seperti orang gila.

Changmin mendesah lega. Semoga saja belum terlambat untuk mencegah Jaejoong pergi. Ia sudah sangat menyukai kakak iparnya itu. Dan jika Jaejoong tetap akan pergi, ia lebih memilih untuk ikut dengan kakak iparnya menjadi pengembara seperti paman Hankyung. Ya, ia telah memutuskan.

。。* 。。

Yunho menemukan Jaejoong mengemasi barang barangnya dalam tas ransel yang tidak begitu besar saat ia mendorong pintu kamar terbuka. Seorang pelayan berdiri di sana bersama Junsu dengan wajah sembab yang tidak perlu Yunho tanyakan mengapa, menatap Yunho terkejut lalu berubah lega melihat ke datangan pria itu.

"Keluar dari sini."

Pelayan tidak menunggu perintah dua kali untuk pergi. Detik itu juga meninggalkan kamar majikan mereka dengan langkah tenang dan menutup pintu.

Jaejoong mengabaikan suaminya. Pemuda itu kembali mengenasi pakaian yang tidak seberapa untuk di bawa selama perjalanan mereka ke china. Ia akan meninggalkan pakaian baru yang Yunho belikan untuknya dan hanya membawa beberapa potong pakaian sederhana. Meski sangat di sayangkan, ia tidak mungkin mengambil terlalu banyak barang dari suaminya itu secara percuma. Dan ia tidak memiliki uang.

"Kau pikir kemana kau akan pergi Jongie?" Suara dingin Yunho membuat tulang punggung Jaejoong berubah tegang. Terdengar langkah kaki menuju karahnya sebelum pria itu berhenti di belakang Jaejoong. Kehangatan tubuh pria itu dapat Jaejoong rasakan di punggungnya, kehadiran Yunho begitu menganggu syarafnya dan tidak butuh kedekatan untuk melumpuhkan Jaejoong hanya dengan mengetahui keberadaan Yunho.

Dengan sisa kekuatan yang ia milikki, ia berkata. "Kemana saja. Asalkan jauh dari pria menyebalkan seperti dirimu."

Yunho menahan tangan Jaejoong saat pemuda itu berputar dan berjalan melewatinya menuju lemari. "Aku tidak mengijinkanmu pergi."

"Apa hakmu." ujar Jaejoong lirih.

"Kau istriku." Rasa nyeri karena mengelak kenyataan itu membuat Yunho sedih. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan di abaikan selama lebih dari sebulan oleh orang yang di cintainya.

"Yang tidak kau inginkan." bantah Jaejoong lirih. Pemuda itu tidak menjauh, juga tidak menatap wajah Yunho saat menambahkan. "Ayolah Yun, kita akhiri semua penderitaan ini. Kita berdua tahu kebersamaan ini hanya akan menyiksaku. Kau tidak mencintaiku dan akan tetap seperti itu sampai kau membuka hatimu. Yang kenyataanya tidak akan pernah terjadi." Sekuat tenaga Jaejoong menahan tikaman pada jantungnya. Pelupuk matanya terasa panas namun ia tetap mencoba tegar. Air mata hanya akan membuat dirinya terlihat lemah. Dan ia benci di kasihani, tidak lagi.

"Apa kau menderita selama hidup bersamaku?" Cengkraman tangan itu melonggar. Namun tidak terlepas. "Jika aku mengatakan aku mencintaimu... " Baik Jaejoong maupun Yunho tercekat. "Apakah kau akan tetap tinggal?"

"Tidak!"

"Bukankah itu yang kau inginkan." Yunho membentak. Membalik tubuh istrinya menghadap kearahnya. Kedua tangan pria itu mengguncang tubuh istrinya beberapa kali sampai ia sadar hal itu dapat menyakiti Jaejoong. "Kau ingin aku mencintaimu, dan karena aku tidak mengatakannya kau berniat pergi dariku. Kau sama saja seperti ibuku."

"Kau tahu kita berbeda. Kau hanya menggunakan masa lalu mereka sebagai tameng kemunafikanmu serta perasaan bodoh yang kau sebut trauma." sanggah Jaejoong. "Ayahmu mencintai ibumu, itulah sebabnya beliau sakit sakitan setelahnya. Tapi kau berbeda. Kau akan baik baik saja dan menemukan wanita yang akan membuatmu jatuh cinta, pada saat itu, kau akan benar-benar bahagia. Tapi tidak denganku, dan aku puas dengan akhir seperti ini." setiap kata yang Jaejoong ucapkan semakin melemah, hal yang menyatakan dengan jelas bahwa pemuda itu berbohong.

"Aku tidak menginginkan alkhir seperti itu." Kedua tangan Yunho mencengkeram pundak Jaejoong lagi. "Aku menginginkanmu Kim Jaejoong. Hanya kau seorang."

"Tapi itu bukan cinta."

"Lalu apa. Aku tidak tahu perasaan apa ini, dan tolong beritahu aku." Wajah keras Yunho membuat dada Jaejoong nyeri. Pria itu terlihat kesakitan sampai terlihat jelas di wajahnya yang tirus. Yunho kehilangan banyak berat badannya akhir akhir ini, dan semua ini di sebabkan karena kesalahan Jaejoong juga.

Yunho melanjutkan. "Aku merindukanmu selama sebulan perpisahan kita, aku berniat kembali namun takut membuatmu menghindar, begitu sangat ingin melihatmu sampai aku rela mati karenanya. Namun juga takut aku jatuh hati padamu lebih dalam. Beritahu aku perasaan apa itu."

"Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal."

"Karena aku takut."

"Lagi lagi tentang aku yang akan meninggalkanmu." Sindir Jaejoong sinis.

Keterdiaman Yunho menjawab semuanya. "Bodohnya kau Yunho. Aku tetap akan pergi jika kau tidak mengatakan perasaanmu padaku. Kenapa kau begitu sangat hodoh dan membohongi dirimu sendiri dan menyakitiku."

"Aku tidak tahu aku telah menyakitimu." Tangan besar Yunho menangkup wajah Jaejoong. Menarik istrinya untuk mendekat lebih kearahnya.

"Kau menyakitiku. Kau tidak mencintaiku."

"Bodoh. Semua itu tidak benar, Jongie. Aku mencintaimu. Tetaplah tinggal atau aku bisa gila seperti Ayah yang gila lalu... ." Jaejoong tidak membiarkan suaminya menyelesaikan kata katanya. Ia membungkam bibir Yunho untuk menenangkan suaminya yang ketakutan sampai tubuh pria itu bergetar. Perasaan itu begitu kental, Yunho ketakutan setengah mati. Ia pun merasakan keakutan suaminya itu karenanya.

Menarik diri, Yunho menyurukan wajahnya pada lekukan leher istrinya. "Aku mencintaimu. Oh Jongieku. Aku mencintaimu." Pelukan itu begitu erat. Namun Jaejoong tak mengeluh karena ia juga merindukan suaminya ini.

Sudah sangat lama sejak terakhir kali mereka bersama. Sentuhan fisik itu membangkitkan gairah mereka yang lama terpendam seperti kobaran api. "Aku begitu bodoh karena mengabaikan ini semua selama sebulan." Jemari Yunho dengan cekatan melepaskan kancing celana jins istrinya. Melonggarkan ikat pinggang lalu menyusupkan tangan kebelakang untuk meraih bokong sintal Jaejoong yang pas dalam genggaman tanganya yang besar. Bibir Yunho memagut bibir Jaejoong, melangkah maju dan menarik tubuh istrinya untuk bersandar sepenuhnya kearahnya.

Dengan patuh lengan Jaejoong melingkari bahu Yunho, menempatkan kedua kaki pada pinggang suaminya yang tanpa ia sadari membawa Jaejoong ke ranjang. Membaringkan tubuh mereka yang saling bertautan di atas seprai lembut berwarna putih itu.

Jaejoong tidak berdiam diri, ia membantu Yunho menanggalkan kaos longgar yang ia kenakan dengan kecepatan yang mencenggangkan, memperlihatkan tubuh polosnya di hadapan suaminya yang sudah sangat bergairah.

"Katakan kau menginginkan ini?" suara Yunho terdengar serak akan gairah.

"Aku menginginkanmu, Yunho, sekarang!" Suara serak Jaejoong hanya membuat api gairah di antara met semakin berkobar. Pria itu menjauh hanya untuk menanggalkan sisa pakaian yang ia kenakan sebelum bergabung dengan istrinya kembali di ranjang.

Bibir Yunho mendarat di atas perut rata Jaejoong, menimbulkan pekikan terkejut merasakan lidah dingin pria itu bermain main di sana. "Di sini, akan tumbuh putri kita."

Tubuh Jaejoong menegang. Kesadarannya kembali dan ia berusaha bangkit dengan menopang tubuh pada kedua siku untuk memperhatikan suaminya. "Kau tahu?"

"Ya. Dan maaf telah mengabaikanmu selama ini." Jaejoong tidak di beri kesempatan untuk menjawab. Yunho mencondongkan tubuh untuk mencium bibir Jaejoong lagi. Lebih dalam dan menuntut.

Jaejoong hanya pasrah di bawah kungkungan suaminya dan mendesah lega. Fakta bahwa Yunho mencintainya membuatnya tersenyum senang. Iapun menarik suaminya agar lebih dekat lagi kearahnya. "Katakan kau mencintaiku."

"Aku mencintaimu."

"Lagi."

"Nanti. Jika kita sudah selesai dengan ini." Yunho berjanji.

Pekikan Jaejoong menggema di kamar luas itu. Yunho menggulingkan tubuh agar Jaejoong berada di atas tubuhnya, takut menyakiti bayi mereka dan membimbing Jaejoong untuk memimpin percintaan mereka kali ini.

Di depan pintu, Hankyung menghentikan tangannya sebelum memutar knop pintu karena keheningan yang mencurigakan. Baik Junsu ataupun Changmin memintanya datang untuk memastikan mereka berdua baik baik saja di dalam sana. Hanya saja ia tidak mendengar suara apapun setelah pekikan Jaejoong barusan yang lumayan keras, kemudian hening.

"Cepat buka pintu itu. Bagaimana jika Tuan muda menyakiti Jaejoongie kita yang manis." ujar Junsu tak sabar di sebelah Hankyung.

Pria itu menarik kembali tangannya dan berbalik untuk menatap Changmim dan Junsu bergantian. "Aku tidak yakin Yunho akan menyakiti Jaejoong, terlebih setelah Yunho tahu Jongie hamil."

Setelah melihat Yunho berlari seperti orang kesetanan memasuki kastil setelah di beritahu bahwa Jaejoong akan ikut dengannya pergi. Hankyung tidak yakin dengan apa yang mereka lakukan di dalam sana. Dan ia tidak ingin mengambil resiko menunjukan suatu pemandangan lain bagi anak kecil seusia Changmin. "Mereka akan baik baik saja."

"Mereka tidak baik-baik saja." sanggah Changmin tepat ketika suara samar pekikan lain Jaejoong terdengar dari dalam kamar. Hankyung tahu apa yang mereka lakukan, hanya saja tidak mungkin ia menjelaskan kepada mereka, bukan.

Hankyung meringis melihat dua pasang mata mendelik horor di hadapannya. Ia menahan Changmin dan entah dari mana Yoochun datang berhasil menangkap Junsu sebelum pemuda itu menerobos masuk dan membuat mereka semua malu dengan apa yang akan mereka saksikan.

Astaga, wajar jika keduanya berpikir yang tidak tidak terjadi di dalam sana. Yunho berhasil membuat Jaejoong gila. Meski memang telah terjadi suatu hal yang tidak tidak bagi telinga mereka.

Hankyung mengangkat tubuh Changmin karena bocah itu memberontak lebih kuay. "Tidak, nak. Mereka tidak akan suka jika kita mengganggu." Dengan mudah Hankyung mengangkat bocah itu di bawah satu lengan dan melenggang pergi. Meninggalkan Yoochun yang mencoba menenangkan Junsu tidak jauh di sana.

"Lepaskan aku Hyung, tidak kah kau dengar, Tuan besar menyakiti Jongie."

"Tidak. Mereka akan baik baik saja." Pemuda itu tetap tidak bisa diam, Yoochun mengamati sekeliling dan tidak melihat siapapun di sekitar mereka sehingga ia bisa dengan leluasa mencium Junsu hanya untuk membuat pemuda itu terdiam.

Benar saja. Ciuman itu mampu mendiamkan Junsu karena pemuda itu sama terkejutnya dengan Yoochun sendiri.

。。* 。。

Makan malam terasa menyenangkan bagi penghuni lain, namun tidak bagi Jaejoong. Bukan karena kondisi kehamilan yang membuat pemuda itu sedih dan murung sepanjang makan malam.

Bahkan Jaejoong hampir tak menyentuh santapan makan malam yang sengaja di pesan khusus untuk Jaejoong. Yunho menghawatirkan Jaejoong, hanya saja Jaejoong tidak ingin membuat pria itu khawatir dan menyantap makan malam sebisa ia makan.

Perutnya bergejolak. Iapun undur diri dan mengatakan pada suaminya tidak ingin di ganggu siapapun di ruang musik yang biasanya mampu menenangkan hatinya. Sayangnya tidak untuk kali ini. Ruangan itu hanya menimbulkan kenangan bersama Hankyung kembali muncul, di mana sebagian besar mereka lewatkan di ruangan itu sepanjang hari.

Hankyung telah pergi. Bahkan tanpa kata kata perpisahan atau sekedar tatapan wajah sekilas, pria itu meninggalkan kastil sore tadi tanpa memberitahunya.

Pandangan Jaejoong menatap keluar jendela, gelapnya malam terlihat seperti biasanya, hanya saja ia merasa kesepian meski kastil ramai oleh teriakan Changmin yang menolak mandi saat pelayan berniat membantu bocah itu mandi.

Apakah Hankyung sudah makan malam. Atau masih dalam perjalanan menuju pelabuhan dan kembali ke china. Jaejoong mendesah. Ia bahagia di sini, sangat! Terlebih setelah ia dan suaminya meluruskan masalah mereka dan berjanji akan saling terbuka di masa mendatang.

Namun dadanya terasa sesak seperginya pengawal pribadinya itu, perasaan nyaman selama keberadaan Hankyung kini sirna sudah, tergantikan perasa kosong pada sisi jiwanya yang lain. Ia tidak tahu kenapa.

Mungkin dengan bermain piano akan memulihkan kebimbangan perasaan yang ia rasakan. Musik selalu mampu membuat Jaejoong tenang dan ia berharap kali ini juga sama bergunanya.

Selembar kertas yang tidak Jaejoong kenali terjatuh di bawah kursi saat ia membuka penutup piano. Ia membungkuk untuk memungut selembar kertas yang terlipat rapi namun kusam-seakan kertas itu sering di buka dan di lipat kembali- lalu membacanya.

Itu adalah sebuah lagu. Terdapat intruksi piano di sana sehingga Jaejoong tergoda untuk mencobanya. Ia tidak pernah melihat lagu ini sebelumnya, mungkin milik seseorang yang dan lupa mbawa kertas itu pergi. Iapun duduk. Menjempit kertas itu di antara kertas lagu lainnya sebelum jari jarinya bermain lincah di atas Not.

Lagu itu tidak Jaejoong kenali. Namun tidak terdengar asing di telinga meski ia hanya mendengarnya sebagian dsri lagu. Jemarinya berhenti menekan not piano, ia pernah mendengar lagu ini, namun tidak ingat di mana. Samar, ia tahu.

Sekali lagi Jaejoong memainkan lagu itu, dua kali sampai berkali kali hanya untuk mencoba mengingat di mana ia pernah mendengar lagu itu di mainkan.

Mata doe pemuda itu tertutup meresapi, ia melihat bayangan itu lagi. Suara tawa, sebuah nada yang sama terdengar riang, bayangan sesosok pria yang ia pernah lihat dalam mimpi, samar samar.

Jari jari Jaejoong bermain lebih cepat, seakan itu adalah gerakan menggali ingatan yang tidak pernah ia tahu ada sebelumnya dalam benaknya.

Kali ini, bayangan itu terlihat nyata dengan kemeja hitam rapi. Sesosok tubuh pria. Pria itu masih sangat muda, lebih cocok di panggil seorang pemuda karena menurut Jaejoong pria itu tidak lebih tua darinya.

Sosok bayangan bocah muncul disana. Bergabung dengan ketiga penghuni ruangan itu yang Jaejoong kenali sebagai dirinya dari masa lalu. Wajah bulat serta kaki gembal itu mirip sekali dengan dirinya, ketika bocah itu tersenyum dan menunjukan gigi ompong di bagian bawah, Jaejoong mengenali bocah itu sebagai saudara kembarannya, Young Woon.

Piano terhenti. Napas Jaejoong tercekat, iapun menyandarkan kening pada badan piano untuk kembali mengingat.

Ya Tuhan, bagaimana bisa ia melupakan kenangan itu. Pria lain itu adalah ibunya. Dan ketika ia kembali menutup mata, muncul bayangan lain dan sinar dari lampu ruangan menyinari sosok pria muda lain itu, napas Jaejoong tertahan. Pria itu tidak asing, dia adalah Hankyung versi muda.

Apa yang di lakukan pengawal pribadinya itu bersama ia dan saudara serta ibunya?

Bunyi dentam kursi membentur lantai terdengar keras saat Jaejoong melonjak karena terkejut. Ya Tuhan, Hankyung adalah bagian dari masa lalu yang tidak ia ketakui siapa. Tentunya pria itu tidak sengaja berada di makam ibu serta saudranaya bebera bulan lalu ketika Jaejoong menemukan pria itu disana.

Kesadaran itu menampar Jaejoong. Bodohnya ia tidak menyadari ini, kenapa ia tidak mengingat apapun dari masa lalu keluarganya. Setidaknya tentang bayangan kapal dan teriakan ibu serta saudaranya yang ia ingat samar.

Dadak Jaejoong bergerak naik turun untuk mengambil napas. Pemuda itu mundur beberapa langkah, dentuman di kepala serta debaran jantung yang menggila membuat keringat dingin bercucuran di kening. Apa yang terjadi di masa lalunya, dan siapa Hankyung sebenarnya.
Mungkinkah?

Memikirkan hal itu membuat Jaejoong senang sekaligus ngeri. Pria itu pergi dan tidak akan pernah kembali. Ia harus mencarinya, mencegah pria itu untuk pergi.

Dengan langkah limbung serta napas tak beraturan Jaejoong berjalan menuju pintu. Ia harus mencari tahu tentang masa lalu yang tidak dapat ia ingat, hanya satu orang yang tahu jawaban atas pertanyaan yang menganggunya. Dan ia tidak memiliki banyak waktu sebelum Hankyung pergi.

Tepat ketika Jaejoong membuka pintu, Yoochun berdiri di sana dengan setumpuk berkas di sebelah tangan. Pria itu terkejut melihat wajah pucat Jaejoong yang berjalan sambil gemetaran di sisi pintu.

"Jongie, apa yang terjadi?"

Tangan Jaejoong mencengkeram lengan Yoochun saat pria itu menjaga tubuhnya untuk tetap tegak. "Antar aku ke suatu tempat, Hyung. Sekarang, tidak ada waktu lagi."

"Tapi Mr. Jung... "

"Sekarang Yoochun. Aku tidak punya waktu dan persetan dengan Yunho. Dia pergi ke kota dan aku tidak tahu kapan dia akan kembali."

Yoochun ragu ragu saat menjawab. "Suamimu akan marah jika aku membawamu kemanapun tempat yang akan kau tuju tanpa seijin beliau."

Mencoba berdiri di atas kakinya sendiri, Jaejoong menangkis tangan Yoochun yang berniat membantunya. "Jika kau tidak ingin mengantarku. Aku akan pergi sendiri."

Yoochun menggeram. Ia tidak memiliki pilihan lain di sini, bukan. "Baiklah." Ia menyerah. "Tunggu aku sebentar, kunci mobil ada di meja kerjaku. Jika tidak keberatan, beritahu aku kemana kita akan pergi?"

"Mokpo."

"Aku mengerti." Langkah lebar pria itu membawanya kembali masuk ke ruangan kedua setelah ruang kerja Yunho. Pria itu melempar berkas ke atas meja asal lalu membuka laci untuk meraih kunci mobil di dalam sana.

Memutari meja. Yoochun merobek selembar kertas dan meraih bolpoin menulis beberapa patah kata di atasnya. "Semoga Mr. Jung tidak memecatku setelah ini." gumamnya.

-TBC-

Typo bertebaran. EYD tak beraturan dan amburadul.

Next end. Yang minta epilog bakal di usahakan ada.

Saya mau cetak ff ini jadi book buat koleksi pribadi. Dan kebetulan ada pihak lain yang minat. Jika kalian berminat juga, bisa hubungi Sherry via mana saja(?) kkk
Sekalian cetaknya.

Soal harga saya belum tahu. Karena ini belum end dan belum tanya ke percetakan.

Hanya untuk yang berminat.
Terima kasih masih setia mengikuti ff ini. See u all next chap.

#kabur
-kejar Yoochun sama Jaejoong.-