Title : Say You Love Me

Author : Sherry Kim
Cast : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Other

Genre : Romance, Drama, Family, Sad, HQ, etc...

Rate : M
WARNING
Yaoi. Tidak suka jangan baca.
Alur tidak jelas typo bertebaran.

.. * ..

Tidak ada rasa terkejut sedikit pun bagi Hankyung melihat Jaejoong berada di lantai dasar penginapan yang tempati pada sepagi ini. Di luar masih gelap, bahkan mungkin sebagian yang berada di penginapan masih terlelap apalagi di musim dingin seperti ini berbeda dengan suasana di pelabuhan tidak jauh dari sana dimana aktifitas seakan tidak terhenti.

Hankyung penasaran, bagaimana Jaejoong bisa menemukannya di sini, di antara puluhan penginapan yang tersebar di penjuru pelabuhan.

Jaejoong berdiri dari kursi yang di dudukinya melihat Hankyung menuruni tangga. Ia sudah lelah serta putus asa untuk mencari pria itu ketika seseorang yang Yoochun tanyai mengetahui di mana pria dengan ciri ciri yang mereka sebutkan menginap, dan di sinilah mereka.

Aroma air laut bercampur ikan membuat perutnya bergejolak sejak pertama ia memasuki kawasan pelabuhan yang biasanya di gunagan sebagai tempat berhentinya kapal kapal dagang, baik lokal ataupun bukan. Perut Jaejoong memprotes udara yang ia hirup sampai ia sendiri merasa pusing karenanya, dadanya sesak karena seringnya menahan napas.

Ia beruntung bahwa Hankyung menginap di penginapan yang cukup bersih, setidaknya udara di sini tidak semengerikan di beberapa tempat penginapan yang sudah ia tanyai sejak dini hari di dekat dermaga.

Demi mendapatkan jawaban atas apa yang ia cari, Jaejoong rela menahan godaan untuk memuntahkan makanan yang ia santap kemarin malam, hanya untuk beberapa jam kedepan, itu pun jika perutnya mampu berkompromi dalam masalah ini karena sepertinya ia akan muntah sebentar lagi. Kepalanya juga terasa pusing. Oh, ia mungkin akan pingsan.

Menyadari wajah pucat Jaejoong, Hankyung melompat maju, menahan tubuh pemuda itu sebelum Jaejoong limbung tepat ketika ia meraih lengannya.

"Tidak seharusnya kau membawanya kemari Yoochun." Hankyung membentak. Sebelum pria malang itu menjelaskan, Hankyung sudah mengangkat tubuh Jaejoong dengan sangat mudahnya.

"Naiklah lebih dulu, lantai dua pintu ketiga sebelah kanan, itu kamarku."

Tanpa protes atau bertanya Yoochun mengangguk. Pria itu berlari menaiki tangga menuju kamar yang di maksud Hankyung tadi. Yoochun mendesah lega, setidaknya kamar ini cukup bersih untuk sebuah penginapan pinggiran pantai. Atau ia akan bersikeras untuk membawa Jaejoong ke hotel lain andai kamar iniengerikan.

Jaejong terbangun dengan perasaan jauh lebih baik dari sebelumnya. Tidak ada aroma asin atau aroma ikan lagi yang membuatnya mual, hanya ada aroma jeruk nipis bercampur aroma herbal yang membuat tubuhnya kembali rileks di atas ranjang. Kedua mata doe pemuda itu terbuka, menunjukan pemandangan terang dinding putih serta lampu panjang di atas sana.

"Kau butuh sesuatu?" Hankyung menghampiri ranjang dengan segelas air di tangan. Membantu pemuda itu untuk duduk dan mengulurkan segelas air untuk Jaejoong.

"Terima kasih." ujar pemuda itu. Tatapan Jaejoong mengamati kamar itu dengan kening berkerut aneh. "Kita di mana?"

"Kamar yang aku tempati. Pemilik penginapan dengan baik hati memberi kami beberapa jeruk nipis serta herbal untuk memperharum ruangan ketika melihat kau pingsan, kami mengatakan karena kau lelah dan Yoochun menambahkan, kondisi kandunganmu juga mempengaruhi kesehatanmu. Aku harap kau tidak lagi merasa pusing atau mual." Setelah memastikan Jaejoong cukup nyaman, pria itu kembali ke kursi yang sebelumnya ia duduki, tidak jauh dari kaki ranjang.

Tatapan keduan terkunci satu sama lain, tidak ada yang mengatakan apapun untuk beberapa lama sampai Jaejoong mengalihkan tatapannya pada selimut yang kusut di dalam genggaman tangannya. Ia tidak menyadari kedua tanganya menggenggam erat selimut itu. "Aku menemukan sesuatu." Jaejoong memulai.

Hankyung tidak mengatakan apapun selain menatap Jaejoong sendu, tersimpan banyak sekali perasaan di sana jika saja Jaejoong menatap mata pria itu, yang tidakpah Jaejoong lakukan. Pria itu lebih tertarik jika Jaejoong menjelaskan apa tujuannya datang kemari, tanpa penjelasan yang sesungguhnya ingin sekali ia jabarkan sebelum ia pergi.

"Sebuah lagu yang pernah aku dengar sebelumnya." Jaejoong melanjutkan. "Lagu itu pernah beberapa kali muncul dalam mimpiku akhir-akhir ini. Aku ingat dengan jelas nadanya."

Kedua tangan pria itu menggengam erat sandaran kursi sampai jari jarinya memutih. Hankyung tetap diam berusaha mengindahkan pernyataan Jaejoong. Karena tidak tahu harus berkata apa, ia hanya mengatakan. "Benarkah?"

Anggukan Jaejoong terlihat yakin. "Dalam mimpi itu kami bermain piano bersama. Ibuku dan saudaraku juga ada di sana. Sebelumnya aku tidak pernah melihat dengan jelas siapa sosok pria lain yang ada dalam mimpiku, sampai sore ini, ketika aku menemukan selembar lagu yang aku yakin adalah lagu dari mimpi itu." Hankyung menahan napas menunggu, apakah Jaejoong mengingat sesuatu.

"Dan pria itu adalah kau, tentunya dalam paras serta tubuh yang lebih muda mengingat aku masih kecil dalam mimpi itu." Hening untuk beberapa saat sebelum Jaejoong melanjutkan. "Tahukah kau sesuatu tentang mimpi itu Hyung? Mimpi tentang lagu dan tentang kita. Tahukah kau siapa pria itu, benarkah dia adalah... "Napas Jaejoong tercekat. Doe pemuda itu sudah memerah menahan air mata yang kapan saja bisa membasahi wajahnya. "apakah itu kau, ayahku?"

Terdengar suara tercekat dari ujung ruangan. Yoochun mendengarkan apa saja yang di ucapkan Jaejoong namun cukup bijak untuk tetap berdiam diri disana.

"Kau benar." Hankyung membenarkan. Sudah saatnya ia mengakui semuanya, sudah terlalu lama. Lima belas tahun bukanlah waktu yang singkat semejak mereka berpisah, bukan.

"Tapi kau tidak ingin mengatakannya padaku dan pergi begitu saja. Kenapa?" Tuduhan itu menohok hati Hankyung. Ketika Hankyung masih tetap diam Jaejoong kembali bertanya. "Apa kau tidak menginginkanku? Itukah alasanya kau tidak datang lebih awal dan mengabaikan aku yang adalah putramu?"

"Tidak!" Hankyung berdiri dari duduknya. Wajah pria itu berubah lembut saat menatap Jaejoong yang menangis di atas ranjang. "Aku sangat menginginkanmu. Sangat menginginkanmu memanggilku Ayah tapi aku tidak bisa mengatakannya."

"Tapi kenapa? Kenapa kau diam saja dan tidak menjelaskan apapun padaku sampai saat ini? Itupun karena aku mengingat sesuatu tentang kita."

"Aku tidak bisa. Aku tidak ingin merusak kehidupanmu yang sudah bahagia bersama suamimu dengan masalalu yang menahanku selama sepuluh tahun untuk datang mencari kalian." Tetapi, jika ia datang lebih awal, Heechul beserta kedua putra mereka tidak akan berakhir mengenaskan. Ia bisa mencegah warga setempat berpikiran buruk tentang istri dan keluarganya, sekaligus menjaga mereka semua dalam lindungannya. Hankyung menyesal sekaligus mengutuk diri sendiri karena ketidak berdayaanya selama ini.

Jaejoong masih bersikeras. "Kenapa kau kembali jika tidak ingin mengakuiku sebagai putramu?"

"Aku tidak mengatakan itu."

"Tapi kau memang tidak mengatakan kau adalah Ayahku. Kau ingin aku berpikir apa ketika kau tak menginginkan aku juga ibu dan saudaraku, bahkan tetap diam saja selama beberapa bulan kebersamaan kita." Napas Jaejoong tercekat. "Itukah yang kau sebut menginginkan?"

"Aku tidak bisa datang lebih awal untuk mencegah ibumu bunuh diri meskipun aku sangat ingin datang, bukannya aku tidak ingin. Andai aku bisa datang lebih awal aku tentu akan datang, ibu serta saudaramu tidak akan meninggal. Dan kau tidak akan menderita selama lima tahun sendirian di hutan." suara Hankyung menggema sampai Jaejoong yakin akan terdengar dari luar kamar.

Namun ia tidak gentar dengan suara pria itu yang meninggi, siapa dia, berani beraninya berkata kasar kepadanya. "Jelaskan padaku alasannya. Jelaskan juga bagaimana kau mengenal ibuku ketika kau sendiri seorang pangeran dari seberang lautan? Bukankah hal itu seharusnya menjamin kehidupan kami." Kata itu ia ucapkan lirih, namun seperti teriakan keras di telinga Hankyung sampai ia merasa pusing.

Apa yang Hankyung harapkan dari putranya ini setelah tahu kenyataan yang sesungguhnya. Jaejoong tidak tahu menahu tentang betapa sulitnya peraturan kerajaan serta hidup di balik tembok kekuasaan yang menjadikan tubuh serta kebebasan bukan lah milik Hankyung sendiri. Meski peraturan kerajaan moderen jauh lebih manusiawi ketimbang di masa lalu, tetap saja, hidup dalam sebuah kungkungan tidak menyenangkan. Seharusnya ia paham jika Jaejoong tidak akan begitu saja mengakui dirinya sebagai ayah tanpa tuntutan. Apapun alasan yang mencegah dirinya datang lebih awal. Toh, putranya itu memang tidak tahu menahu tentang masa lalunya.

"Baiklah." ia menyerah. "Aku akan menceritakan semuanya padamu. Sejak pertama kali kami bertemu lalu menikah dan bagaimana kita berpisah."

Jaejoong membisu. Tidak ingin merubah keputusan pria yang ia ketahui sebagai ayahnya untuk menjelaskan. Kemudian sesuatu terbayang dalam benaknya. "Aku hanya pernah ingat berada di pelabuhan. Terjadi pertarungan tapi aku tidak ingat bahwa aku pernah kesana. Tidak ada ingatan apapun sebelum itu."

"Wajar saja. Karena kau kehilangan ingatanmu saat pembunuh bayar itu mengejar kalian, berniat membunuh pewaris kerajaan yang tersisa demi menduduki tahta Raja. Kau akan mendengar cerita selengkapnya nanti Jongie." Kali ini Jaejoong benar benar menutup mulut. Tidak ingin menahan penjelasan pria itu lagi.

"Saat itu Raja sakit keras, tabib maupun dokter manapun tidak mampu mengobati beliau atau bahkan tahu apa penyebab penyakit lumpuh yang di alami Raja saat itu, Kakekmu. Ibumu adalah pengembara yang kebetulan melewati tanah kerajaan dalam perjalananya mengelilingi dunia, semua orang yang pernah di sembuhkan oleh ibumu tahu benar bahwa ibumu tabib yang hebat. Kami rakyat china lebih menganggap itu mukjizat serta keajaiban Tuhan. Bukan kutukan atau penyihir seperti julukan yang di tanamkan warga di sini." Kata terakhir itu lebih terdengar seperti sindiran kejam.

"Ibumu datang ke kerajaan menawarkan diri, dengan begitu rendahnya sampai menolak fasilitas apapun ketika dia tinggal di istana dan menjadi tabib pribadi Raja. Saat itulah kami Melihatnya." Kenangan itu membuat wajah Hankyung lebih enak di lihat, suaranya melembut serta wajah marah yang di tunjukan pria itu sebelumnya lenyap tanpa sisa.

"Kami?" Jaejoong tidak tahan untuk tidak bertanya tentang siapa yang di sebut ayahnya sebagai kami.

"Aku dan saudara kembarku, Hangeng, Pamanmu."

"Kalian juga kembar?"

"Sama sepertimu, bukan."

Jaejoong tidak bisa menahan senyumnya membayang ayahnya memiliki seseorang lain mirip dengannya. Meskipun ia sendiri juga memiliki saudara kembar. Sudah sangat lama sejak ia melihat wajah yang mirip denganya laksana pantulan kaca dalam wujud nyata ketika memandang Young Woon.

"Aku melihat kecantikan Ibumu yang juga di lihat oleh Kakakku, kami sama sama memuja Ibumu itu karena pantang menyerah dalam mengobati pasiennya, memiliki pendirian kuat dalam mengambil keputusan meskipun cara itu terbilang pengobatannya yang aneh, itu kata tabib kerajaan serta dokter kerajaan ketika ibumu mencoba menyembuhkan seorang dayang yang terkena racun ular. Aku belajar banyak hal dari ibumu, nak. Dan menurut kami Kim Heechul tidaklah aneh karena memiliki kelebihan melihat sesuatu yang tidak kita lihat, mendengar sesuatu yang tidak kita dengar dan merasakan sesuatu yang tidak mungkin kita rasakan."

Begitu banyak kenangan kebersamaan Yang berputar kembali dalam benak Hankyung. "Ketika aku mengatakan aku menyukainya, Ibumu tidak terkejut. Dia hanya mengatakan 'Aku tahu' dan tidak juga tertawa mengejek atau menjerit bahagia karena Pangeran berusia tiga belas tahun menyatakan perasaan kepadanya."

Jaejoong tersenyum mendengarnya. Itu terdengar menggelikan. Tapi ia akan terkejut jika mendengar ibunya menghina orang lain, bahkan jika orang itu membenci keluarganya sekalipun.

"Tidakkah kau bisa melihat sesuatu, atau mendengar sesuatu yang tidak dapat aku lihat, seperti Ibumu?"

"Tidak." Tapi saudaranya bisa. "Young Woon bisa. Dia pernah mengatakannya padaku bahwa ia melihat sesuatu tentang masa depan, dia memukulku karena marah ketika aku tidak mempercayainya." Jaejoong mulai mengenang. Bukannya ia tidak percaya ketika saudara kembarnya mengatakan 'Kau akan hidup dalam kesendirian dan kegelapan di masa depan, sampai seorang pangeran datang menyelamatkanmu' ia ketakutan, bukan menertawakan saudaranya itu. Karena jauh di lubuk hati, sebagian dalam dirinya percaya bahwa saudara serta ibunya akan pergi meninggalkan dirinya seorang diri.

Suara Hankyung membuyarkan lamunan Jaejoong tentang masa lalu. Ia kembali mendengarkan suara ayahnya saat beliau bercerita penuh kenang. "Ketika Ibumu berhasil menyembuhkan Raja, butuh waktu dua tahun untuk menyembuhkan Kakekmu secara menyeluruh. Raja sangat berutang budi kepada Ibumu dan mengatakan akan memberikannya hadiah, 'sebutkan satu permintaanmu' yang di sesali Raja kala Ibumu berkata satu ucapan yang mengejutkan semua orang. 'Aku ingin salah satu dari putra Anda menjadi suamiku'. Kata itu membungkam setiap orang, aku sendiri terkejut mendapati Ibumu memilihku ketimbang Kakakku, yang akan menjadi Raja selanjutnya."

Jangan heran, karena selama dua tahun ibumu tinggal di dalam istana, tidak sekalipun dia menunjukan ketertarikan lebih terhadapku, ibumu melakukan semua orang dengan tutur kata dan kedudukan yang sama, tanpa perbedaan."

"Apakah Kakek menerima permintaan Ibu setelahnya. Karena itukah kalian menikah?"

Wajah sedih Hankyung membuat Jaejoong kembali duduk tegak di atas ranjang. "Bagaimanapun juga dia adalah Raja. Mustahil jika beliau menarik kata-katanya karena semua orang akan menggapnya tidak menepati janji, rakyat akan memandang rendah serta membenci Raja yang tidak menepati janjinya, meski pada kenyataanya rakyat akan menerima jika Raja menolak permintaan aneh itu. Ibumu laki laki, lima tahun lebih tua dariku jika kau lupa."

"Kakek menolaknya?"

"Tidak. Dia hanya memberikan pilihan padaku untuk memilih menikah dengannya atau tetap menjadi Pangeran." Hankyung masih ingat dengan jelas bahwa kata itu sekali lagi membuat semua orang menutup mulut dan guasar di tempat mereka berdiri. "Dan aku memilih menikah dengan Ibumu, di usir dari kerajaan, meninggalkan kedudukan sebagai seorang Pangeran."

Ada kesedihan dalam suara ayahnya yang membuat Jaejoong sedih. "Kau menyesali keputusanmu, Ayah?"

"Demi Tuhan, tidak! Aku mencintai Ibumu, kami memang meninggalkan kerajaan hari itu juga, Raja tidak sekejam itu kepada putranya sendiri dan memberi kami tempat tinggal yang layak serta tanah yang lebih dari cukup untuk menghidupi kami setelahnya. Aku dan Ibumu menikah, dan satu tahun kemudian kalian lahir. Kami sangat bahagia, bahkan Raja dan Ratu datang berkunjung menjenguk tapi itu menjadi awal petaka di mulai."

"Apa yang terjadi?" Jaejoong bertanya tidak sabar. Pemuda itu duduk tegap di atas ranjang.

"Musuh Raja yang menginginkan kedudukan begitu banyak, Nak. Sampai kau akan takut jika hidup tanpa pengawal yang bersenjata. Musuh menggunakan kami sebagai sasaran pertama untuk menjatuhkan Raja. Kami pergi dan bersembunyi. Hidup dalam persembunyian tidaklah menyenangkan, tapi kita menjalani sampai kau berusia lima tahun, lalu kami di temukan kembali. Raja mengirimkan pasukan untuk membantu menyelundupkan kami keluar dari china, berharap kami akan aman di negeri kelahiran Ibumu. Beliau berpikir dengan naik kapal akan lebih aman, karena pesawat akan sangat mudah untuk di lacak."

Tanpa sadar Jaejoong berkata. "Tapi kami naik ke kapal tanpamu."

"Kau ingat?"

"Tidak. Tidak. Hanya saja aku tahu kau tidak naik bersama kami, kenapa?" Jaejoong berteriak.

Hankyung tetap tenang, pria itu kembali ke tempat duduknya lalu melanjutkan. "Aku terluka ketika mereka menukan kami. Ibumu memilih keputusan yang bijak ketika dia meninggalkanku terluka parah di dermaga. Di gang sepi yang akan melindungiku dari serbuan musuh. Ibumu tahu aku akan selamat karena dia berkata 'Aku melihatnya, kau akan datang menemukan Jaejoong'. Tapi aku datang terlambat untuk menyelamatkan kalian."

"Apa yang terjadi denganmu Ayah? Kenapa kau tidak menyusul kami lebih awal setelahnya."

"Aku ingin. Tapi tidak bisa ketika aku di kurung di penjara bawah tanah oleh pihak musuk." Dengan getir Hankyung menambahkan. "Selama lebih dari sepuluh tahun lamanya."

。。* 。。

Jaejoong tidak tahu ia menahan napas sampai ayahnya menghampirinya, duduk di sisi ranjang lalu menyentuh bahunya. "Kau tidak apa apa?" Hankyung terlihat khawatir.

"Di penjara?" Kata itu lebih tepat di sebut cicitan. "Apa yang mereka lakukan kepadamu Ayah?"

Hankyung tersenyum getir membayangkan penyiksaan yang di alaminya selama menjadi tahanan. "Dia hanya mengurungku, aku tahu mereka tidak akan membunuhku. Karena aku adalah aset berharga bagi mereka yang tidak lain adalah Pamanku sendiri, adik Raja. Beliau memiliki ambisi untuk merebut kekuasaan dan menghalalkan segala cara bahkan mengejar kalian sampai ke Korea."

"Aku ingat kami berlari menyelamatkan diri." Jaejoong memejamkan mata, bayangan itu samar terlihat di benaknya.

"Saat itulah kau hilang ingatan. Kau terluka parah sampai Siwon datang dan menyelamat kalian. Aku menulis surat sebelum kami berangkat kepada Siwon bahwa kami membutuhkan bantuan, dengan pengawal serta polisi yang di bawa Siwon. Mereka berhasil menyelamatkan kalian. Setelahnya, kau tahu sendiri."

"Bagaimana Ayah bisa tahu ketika ayah berada di penjara?"

"Waktu itu aku belum tertangkap, mereka semua mengira aku sudah meninggal karena luka yang aku alami terbilang parah. Aku berbaring tak berdaya selama beberapa bulan, seseorang menyelamatkanku. Ketika aku sudah membaik dan berusaha menyusul kalian, sendirian tanpa bantuan menyusup ke dalam kapal. Aku tertangkap, Pamanku mengawasi pelabuhan. Dia curiga aku masih hidup dan bertekat untuk menangkapku. Dan berhasil."

"Apa dia menyakitimu?"

"Dengan keadaanku yang baru sembuh." Hankyung mendengus. "Dia tidak akan membiarkanku mati, nak, tapi tidak akan membiarkanku lepas. Karena dia berusaha merebut keudukan dengan menggunakanku sebagai umpan. Dan gagal."

"Ibu tau kau tertangkap?"

"Ya." ujar Hankyung getir

"Dia menunggumu. Selalu. Aku tahu itu."

"Aku juga selalu memikirkannya. Dan enam tahun lalu, aku berusaha melarikan diri dengan bantuan pelayan pamanku yang adalah mata mata kerajaan yang di kirim Kakaku, dia curiga aku masih hidup dan di sembunyikan. Selama sepuluh tahun itu, pamanku tidak lelah untuk menyerang keluarga istana, dia cerdik karena menggunakan serangan pihak dalam. Aku berhasil bebas namun harus puas jatuh ke jurang dengan kedalaman seratus meter lebih. Di bawah sama memang sungai, sungai deras yang membawaku sampai ke ujung lain pegunungan. Dan aku di nyatakan tewas."

"Tapi kau masih hidup."

"Tuhan menyayangiku."

"Ibu tidak tahu kau masih hidup, dia tidak mampu lagi melihat masa depan, dan beliau menyesal karena salah dalam keputusannya meninggalkanku waktu itu di gang seorang diri. Dia merasa bersalah, putus asa dan patah hati lalu bunuh diri."

"Sungguh khas Ibumu. Sayangnya dia tidak tahu aku masih hidup." ia menyesali hal itu. "Lagi lagi aku di selamatkan seseorang dan terluka, baru beberapa bulan setelahnya mampu menggerakan tangan."

"Begitu juga aku yang selamat padahal ibu sudah menggorok leherku." Jemari Jaejoong menyentuh bekas luka panjang di lehernya. Ia tidak tahu bagaimana ia bisa selamat, yang ia tahu ia sadar dan berada di rumah sakit.

"Karena alasan itulah pamanmu pindah ke kota, membangun istana baru dengan pengawasan yang lebih memadai sampai Paman di tangkap."

"Karena itukah kau pulang. Dia sudah tertangkap?"

"Ya. Kakakku sakit, mereka baru saja kehilangan putri keduanya, karena ulah pamanku, jadi aku di butuhkan di istana. Hanya saja dia belum tahu aku masih hidup."

"Kau ingin memberinya kejutan. Berhatap dia akan sehat setelah tahu Ayah masih hidup."

"Tepat sekali."

"Kau pikir kau mau bawa kemana putriku Jung Jaejoong?"

Jaejoong terkejut mendengar pertanyaan menuntut yang suaminya itu tunjukan padanya. Sungguh, khas Yunho yang selalu seenaknya sendiri tanpa melihat keadaan sekeliling.

Hankyung menatap pria yang saat ini berjalan atau lebih tepatnya berlari menuju undakan kapal yang tidak lain suami dari putranya itu dengan kening berkerut. Kapal akan segera berangkat, sayangnya Jaejoong tidak ingin ikut bersamanya pergi ke china.

Apa kata terakhir pria itu tadi? "Putri?"

"Pria bodoh itu memanggil bayiku seakan akan bayi ini perempuan." ujar Jaejoong menjelaskan.

"Bayimu?" Yunho mendengus kasar saat pria itu berhasil mendekati istrinya. "Seakan kau bisa menghasilkan bayi sendirian."

Bukannya meladeni ocehan suaminya, Jaejoong berbalik kepada ayahnya yang sudah bersiap naik kapal. "Abaikan dia."

"Benarkah itu?"

"Aku tidak tahu. Dan aku tidak ingin mencaritahu jenis kelahin bayi ini sampai bayiku lahir." Ketika Yunho sudah akan memprotes, Jaejoong mengajukan pertanyaan. "Jika bayi ini laki-laki, apa kau tidak akan mengakuinya sebagai putraku?"

"Kau waras?" Alis pria itu bergerak keatas. "Tentu saja aku akan mengakuinya. Karena memang dia putraku." Yunho meralat. Kemudian pria itu menambahkan dengan kesal. "Ingin sekali aku memukul bokongmu agar kau belajar sopan santun juga tatakrama, terlebih jangan sekali-kali kabur dari kastil."

"Aku tidak kabur." Jaejoong membela diri. "Kau tidak ada di rumah dan aku tidak mau menunggumu pulang ketika kita tidak tahu kapan kau akan kembali. Saat itu bisa saja Ayahku sudah berlayar dan pergi."

"Ayahmu?" Suaminya itu menatap Hankyung. "Jadi, kau sudah mengakuinya Ayah mertua?"

"Sopanlah sedikit kepada mertuamu, nak."

"Sepertinya aku tidak pernah tidak sopan kepadamu."

Hankyung tertawa renyah. "Jaga putraku ketika aku pergi."

"Tanpa kau pinta pun aku akan menjaganya. Aku mencintainya, jika kau belum tahu itu."

"Aku tidak bodoh untuk mengetahuinya. Kau saja yang bodoh dan tidak berniat mengakui perasaanmu sendiri."

"Apa kau mengatakan aku bodoh, pak tua?"

"Astaga. Aku baru berusia tiga puluh lima tahun."

"Yang sudah memiliki putra berusia dua puluh tahun."

"Bisa kalian berhenti bertengkar." bentak Jaejoong kepada dua pria itu. Dan kepada suaminya ia berkata. "Ya. Dia Ayahku. Kau tidak boleh memarahinya atau membantahnya." Kepada mereka berdua ia menambahkan. "Kalian tidak boleh bertengkar."

Yunho memutar bola mata. "Kami tidak bertengkar."

"Bukan seperti itu yang baru saja aku dengar."

"Jadi apa yang kau ingin aku lakukan ketika kembali dan mendapati istriku tidak ada di rumah? Aku terlalu marah saat ini untuk bicara menuruti logikamu. Tahu kah kau bahwa aku ketakutan setengah mati jika saja aku terlambat menyusulmu, bisa saja kau pergi dengan kapal sialan itu."

Jaejoong beringsut mundur mendengar teriakan suaminya. Haruskah Yunho berkata sekeras itu padanya. Di sisi lain ia merasa senang Yunho begitu menghawatirkan dirinya dan takut bahwa pria itu akan kehilangan dirinya. "Aku minta maaf." Melempar diri kearah Yunho, Jaejoong memeluk Yunho dengan sangat erat.

"Aku tidak bisa tidak memaafkanmu ketika begitu dekat denganku." Keduanya tertawa.

"Tidak bisakah kalian menunggu aku pergi untuk melakukan apapun yang ingin kalian lakukan."

"Sial." Yunho mengumpat dengan Jaejoong merona karena melupakan keberadaan ayahnya. "Aku juga mencintaimu Ayah. Andai kau bisa tetap tinggal lebih lama."

Hankyung membiarkan Jaejoong memeluk tubuhnya. "Kita berdua tahu itu tidak mungkin. Meskipun aku bukan lagi Pangeran aku tetaplah saudara Raja yang sekarang. Dan dia memerlukan bantuanku."

"Semoga Paman Raja baik-baik saja." Panggilan itu membuat Hankyung tertawa cukup keras. "Kakakku akan tetawa mendengar panggilan keponakannya ini. Kau harus berkunjung kapan-kapan, tapi tanpa aku tentu saja. Aku tidak ingin memanggil musuh lain dan membawa mereka kembali memburumu."

"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi." Yunho menyahut dan Hankyung percaya itu.

Suara panggilan dari nahkoda kapal yang akan Hankyung tumpangi sudah memanggil untuk kedua kalinya. "Aku harus naik atau kapal akan berlayar tanpaku. Aku tidak ingin menunggu kapal berikutnya yang tidak tahu kapan dan belum tentu mereka menerima penumbang tambahan."

"Kenapa kau tidak baik pesawat. Akan lebih aman dan cepat."

"Jaejoong akan menjelaskan padamu alasannya Yunho. Akan lebih aman jika tidak ada orang yang tahu aku masih hidup. Meskipun sekarang keamanan jauh lebih memadai. Aku hanya tidak ingin mereka tahu aku masih hidup. Aku pergi."

Usai memeluk dan mengatakan kata agar ayahnya menjaga diri dan makan dengan baik, akhirnya Jaejoong melepaskan ayahnya pergi dengan berat hati.

Keduanya masih berada di sana sampai kapal dagang itu berlayar menjauh sampai tak terlihat. Barulah Jaejoong menatap suaminya yang sepertinya sudah tidak marah lagi kepadanya.

"Bagaimana kau menemukanku?"

"Aku menemukan Yoochun, atau tepatnya Yoochun yang menemukanku di jalan utama menuju pelabuhan, sepertinya pria itu tahu bahwa aku akan datang."

Terdengar teriakan riang dari kejauhan yang membuat kedua orang itu memandang kearah pesisir sungai. Changmim berlari kencang kearahnya dengan senyum lebar yang membuat Jaejoong tersenyum. "Nuna." panggilan itu membuat senyum Jaejoong lenyap.

"Haruskah bocah itu memanggilku seperti itu." grutunya.

Changmin berniat melemparkan diri kearah Jaejoong namun di tahan oleh Yunho. Pria itu menarik kerah leher kaos bagian belakang yang bocah itu kenakan, cukup untuk menahan Changmin melompat ke arah Jaejoong. "Aku ingatkan padamu sekali lagi, nak, jika masih juga tidak merubah kebiasaanmu dengan melempar dirimu sendiri kepada istriku. Aku melarangmu berdekatan dengan istriku dengan jarak lima meter."

"Aku minta maaf, aku akan mengubah kebiasaanku, Hyung, aku berjanji." Janji hanya omong kosong belaka karena setelah Yunho melepaskan cengkramannya pada kaos bocah itu. Changmin memekik senang dan berlari kearah istrinya.

Jaejoong hanya tertawa mendengar umpatan Yunho dan mengalihkan pandangan kepada adik tiri suaminya untuk bertanya. "Bagaimana kau bisa disini?"

"Jika bukan karena aku, Yunho Hyung berpikir kau telah di culik oleh Mr. Choi dan berniat menyerbu mansion beliau dengan sepasukan polisi."

"Kau terlalu melebih lebihkan, nak." Yunho menyahut.

"Itu benar." Junsu menyahut. Pemuda itu berdiri tidak jauh dari mereka bersama Yoochun yang menggandeng tangan pemuda itu. Dan mereka tahu adanya suatu hubungan di antara mereka.

"Aku menemukan selembar pesan itu ketika berniat membereskan ruang kerja Yoochun, dan meberitahu Tuan besar bahwa kau pergi ke Mokpo."

Dengan perasaan pahit Yunho menambahkan. "Dan kau mengancam tidak akan memberitahuku jika aku tidak mengajakmu ikut serta." Menatap Changmin yang saat itu juga menatapnya Yunho mendorong kening adik tirinya. "Juga anak nakal ini menyusup masuk ke dalam mobil sebelum kami berangkat."

"Aku menghawatirkanmu akan tersesat, aku berbaik hati menyusup untuk memperingatkanmu bahwa Jaejoong Nuna pergi ke pelabuhan. Aku tahu dia menyusul Hankyung Hyung, dan aku tahu Hankyung Hyung akan berlayar karena kemarin malam dia mengatakannya padaku."

"Aku sangat berterima kasih atas perhatianmu nak. Jadi, bisakah kalian menjauh dari istriku. Aku masih memiliki banyak urusan dengan istriku ini." Jaejoong tidak menunggu persetujuan dari mereka, ia menarik Jaejoong dan menggendong istrinya, mengabaikan tatapan penuh tawa dari sekeliling dan teriakan protes Jaejoong.

"Diamlah, atau kau akan membuat kita berdua terjatuh. Atau kau ingin memberi mereka semua hiburan lain dengan melakukan hal itu? Jujur saja."

Jaejoong berubah tenang dan memeluk suaminya gemas. "Aku mencintaimu." Ia berbisik

"Aku tahu. Bahkan jika anak ini laki-laki aku juga masih tetap mencintaimu, meski aku lebih suka bayi perempuan cantik dengan mata bulat seperti ibunya." Jaejoong tidak bisa menahan tawanya. Ia merapatkan diri kepada Yunho dan menyandarkan kepalanya di bahu bidang pria itu, menghirup aroma suaminya yang mampu membuat mualnya hilang seketika.

"Terima kasih. Kau telah menyelamatkanku," lalu ia menambahkan dengan suara yang sangat lirih. "Pangeranku."

-FIN-

4rb K persis. LOL
Kok bisa ya. Kkkk

Ada yang mau epilog atau cukup sampai di sini?

Gantung gitu endingnya biar makin seru.
-ngakak evil-

Ada yang minat cetak buat kenangan. Silahkan hubungi sherry. Karena tidak ada cetak kedua lagi. Dan tidak di jual di toko manapun.
Halah. Harga lumayan mahal, Rp 95.000 tebal, 450 halaman lebih soalnya, PDF di usahakan.

Tapi ff ini tidak akan di hapus. Sayang.

Bagi yang bilang epilog di book aja.
Maaf sebelumnya. Saya bisa di gorok reader kalau gitu. Jangan pilih kasih. Saya buat ff bukan untuk cari uang, adapun di kasih saya tidak nolak.
-goyang itik-