Title : Say You Love Me
Author : Sherry Kim
Cast : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Other
Genre : Romance, Drama, Family, Sad, HQ, etc...
Rate : M
WARNING
Yaoi. Tidak suka jangan baca.
Alur tidak jelas typo bertebaran.
.. * ..
Suara itu seperti bisikan kecil di antara keheningan luasnya aula kastil Jung. Suara seseorang yang berbisik, atau lebih tepatnya memerintah dengan tegas seorang lain untuk tidak bicara terlalu keras, lalu di susul suara langkah kaki terdengar samar.
Jaejoong meletakkan buku yang baru ia baca di atas meja, penasaran dengan suara yang sangat ia kenali milik siapa dan kejahilan apa lagi yang di lakukan adik tiri dari suaminya itu, semoga saja, ia berharap, Changmin tidak mengajak serta keponakan bocah yang mulai beranjak remaja itu. Ia pun keluar dari ruang duduk untuk memeriksa.
Betapa terkejutnya Jaejoong menemukan hal yang tak ingin ia lihat sampai kapan pun. "Tetap di situ Jung Changmin." suara itu menggelegar di aula luas kastil yang baru saja di dekorasi ulang itu.
Tiga sosok kecil di antara perabot besar ruang aula kastil mewah itu membeku di tempat mendengar suara yang mereka kenali dengan baik, bahkan yang mereka coba hindari mengingat kondisi mereka yang bisa di bilang mengerikan. Tiga pasang kaki bernoda lumpur membeku di tempat, bukan karena mereka takut mengotori lantai marmer indah tersebut, bukan. Melainkan takut mendengar amarah dalam suara sang nyonya rumah ketika berteriak beberapa detik lalu.
Kim Jaejoong berkacak pinggang di antara pintu ruang duduk, doe bulat pria manis itu mendelik galak, yang mampu membuat sekujur tubuh Changmin merinding ngeri karenanya Ini bencana. Batin Changmin.
Changmin sendiri tidak berniat mengajak keponakannya itu bermain, tapi mereka lah yang menemukan Changmin di istal bersama putra pengurus kuda sebelum hujan turun dengan lebatnya lalu petaka ini pun di mulai. Ia sendiri bertanya tanya bagaimana keponakannya itu lolos dari pengamatan pengasuh mereka.
"Mama." cicitan lirih suara gadis kecil yang tak lain adalah putri Jaejoong membawa tatapan pria manis itu untuk menelusuri tubuh putrinya.
"Ya Tuhanku, apa yang terjadi dengan kalian?" Dengan langkah lebar, pria manis itu menghampiri mereka. Wajah-wajah mendelik ketakutan itu tak sedikitpun membuat amarah Jaejoong reda. "Lihatlah apa yang kalian lakukan dengan pakaian kalian?" ulangnya dengan sama galaknya.
Tiga pasang mata itu menunduk mengamati tubuh mereka sendiri. Sepatu kotor dan pakaian kotor yang lebih dari sekedar kotor, tepatnya mengerikan.
Tatapan tajam Jaejoong menghunus Changmin, karena bocah nakal itulah yang cukup dewasa di antara mereka bertiga. "Apa penjelasanmu Changmin?"
"Kami minta maaf." Suara cadel menarik perhatian Jaejoong, memaksa tatapan sang nyonya rumah untuk beralih ke arah dua gadis kecil berumur empat tahun yang berdiri tegak di belakang Changmin. Menyembunyikan diri mereka dari kemurkaan sang ibu.
"Jangan salahkan Minie Samcon, kami yang memaksa Samcon bermain bersama kami."
Jung Jaejoong melangkah lebih dekat, berdiri menjulang tinggi di hadapan mereka, tubuh Jaejoong yang tinggi memaksa dua gadis kecil yang ia lahirkan itu mendongak agar dapat menatap wajah cantik ibu melahirkan mereka empat tahun lalu.
"Kalian mengakui kesalahan kalian, atau hanya ingin melindungi Paman kalian yang sama nakalnya seperti kalian?" lirikan sadis penuh teguran menohok Changmin sampai bocah laki-laki berusia tiga belas tahun itu beringsut di tempatnya berdiri.
"Yolie tidak membela Paman kecil."
"Tapi kita memang membelanya." Putri pertama Jung Yunho serta Jung Jaejoong menyahut.
"Jadi Jung Ji Young, apa penjelasanmu selain pembelaan yang kau lakukan. Demi Tuhan, lihatlah baju kalian, penuh dengan lumpur dan di mana kalian mendapatkan lumpur untuk bermain." seingat Jaejoong tidak ada genangan lumpur atau sejenisnya di antara ratusan meter taman yang mengelilingi kastil. Itu sebelum hujan tentu saja. Tidak juga di sungai di mana mereka bertiga pernah berniat menaiki perahu tanpa adanya pengawasan orang dewasa.
Astaga. Hanya mengingat hari itu membuat jantung Jaejoong seakan berhenti berdetak. Beruntung saat kedua putri kembarnya bersama Paman kecil mereka yang nakal sampai di dermaga buatan sisi sungai jauh di sebelah kiri kastil, mereka ke pergok oleh tukang kebun yang kebetulan ingin memeriksa saluran air yang mereka gunakan menyiram di taman.
Bertapa terkejutnya Jaejoong saat melihat tukang kebun mereka mengiring masuk putri kembarnya bersama paman kecil mereka ke kastil utama dan memarahi mereka habis habisan. Jaejoong memahami amarah tukang kebun yang sudah mengabdi di keluarga Jung selama puluhan tahun itu karena kasih sayang. Iapun hanya diam saja melihat pria tua yang sudah beruban itu memarahi mereka dengan sangat kejam. Dan mengimbuhi omelan panjang lain kepada mereka setelahnya.
Yang lebih menggelikan atau yang membuat amarah Jaejoong maupun Yunho semakin berkobar. Tiga hocah nakal itu mengikat pelayan yang di tugasnya untuk menjaga anak-anak di kamar Changmin dan memberitahu mereka ide siapa berlayar di sungai itu. Demi Tuhan, itu hanya segelintir kenakalan lain yang anak-anak nakal itu lakukan bersama paman mereka.
Jaejoong berdeham untuk menghilangkan kenangan mengerikan sekaligus menggelikan itu. Sejak saat itu Yunho memerintahkan semua mata mengawasi mereka, pelayan anak-anak bertambah bahkan ketika siang hari. Akan tetapi hari ini dua dsri mereka Jaejoong liburkan. Mengingat adanya salah satu dari teman mereka yang menikah dan ia menyesali hal itu.
"Kalian sudah berjanji akan bermain di kamar dan tidak akan turun sampai makan malam. Kenapa kalian melanggar janji?"
Helaan napas kasar Changmin lagi lagi menarik perhatian Jaejoong. Pemuda itu tidak melihat tatapan Jaejoong karena sibuk mendelik ke arah dua keponakan cantiknya.
Senyum Jaejoong melebar, senyum yang tidak cukup indah ketika pria itu sedang marah. "Kita lihat apa yang akan di lakukan Kakakmu seandainya tahu hal ini, Changmin. Kenakalan kali ini tidak akan lepas begitu saja seperti sebelumnya." sungguh, Jaejoong yakin ini bukanlah kenakalan yang pertama dan terakhir, ia yakin itu. Bocah nakal ini selalu saja membuat masalah jika gadis kecil mereka mengikutinya.
"Tahu apa? Apa yang kalian bicarakan?"
Empat pasang mata beralih ke ambang pintu, di mana Yunho baru saja pulang sore itu dan menanggalkan sepatu serta jas hujan yang basah. "Hallo putri Papa. Tidakkah kalian ingin menyambut Papa dengan sebuah ciuman serta pelukan." Tidak perlu menunggu perintah dua kali bagi si kembar, kedua gadis kecil itu berlari cepat kearah ayah mereka yang sudah merentangkan kedua lengan.
Jung Yunho terlambat menyadari apa yang membuat istri cantiknya itu murka, pria itu mendelik terkejut mendapati kedua putrinya melemparkan tubuh mereka kuat-kuat, plus bonus lumpur yang menyertai keduanya dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Ya Tuhan, apa yang kalian lakukan dengan wajah kalian yang manis?" Yunho menggeryit ngeri melihat wajah mereka nyaris tak terlihat oleh masker alami tersebut. Hanya dua mata besar itulah yang terlihat jernih di antara wajah kotor penuh noda. "Papa tidak yakin ibu kalian akan senang melihat kemeja Papa juga terkena noda." Dan ia menyesal tidak mencari tahu itu sebelumnya. Bahkan, Yunho tidak berani menatap sang istri yang pastinya semakin murka.
Tawa cekikikan kedua putri kembarnya mengalahkan ketakutan Yunho terhadap omelan sang istri. Pria itu mengangkat keduanya dalam sekali gendongan di kedua lengan, lalu mulai berjalan melintasi ruangan. "Aku akan memandikan mereka, kau Changmin, bersihkan noda lumpur itu beserta lantainya dan temui aku setelahnya, jangan coba menghindar, nak, itu hanya akan membuat hukumanmu semakin berat." Yunho tidak menoleh saat mengatakan itu, pria itu berjalan menaiki tangga dan sibuk menggoda putrinya mengabaikan kemarahan wajah si manis Jaejoong.
Ia akan mengurus suaminya itu nanti. Batin Jaejoong.
Jaejoong menatap Changmin dengan senyuman puas. "Lain kali jangan bawa puriku jika kau ingin berbuat nakal ataupun bermain di luar sana. Kau tahu, mereka masih terlalu kecil untuk menemani kenakalanmu Minnie. Bersikaplah layaknya Paman yang baik, atau aku bisa saja meminta Yunho untuk menyekolahkanmu di asrama, dimana tidak ada hari libur untuk kau kembali melihat kedua keponakanmu yang lucu itu."
Itu adalah hal terakhir yang di inginkan Changmin akan terjadi. Hey, mereka adalah keponakan tersayangnya, ia rela memberikan jatah permen berharga miliknya secara diam-diam untuk membuat mereka senang setiap malam usai makam malam. "Aku berjanji tidak akan nakal." ujar pemuda itu penuh keyakinan.
"Aku harap kau serius nak, karena aku tidak akan menoleransi tindakan apapun yang membahayakan putriku." Anggukan cepat Changmin cukup untuk meyakinkan Jaejoong. "Pergilah, kau butuh mandi. Tentu saja setelahnya kau harus membersihkan kekacauan yang kau buat pada lantai marmer ini." Jaejoong melengganh pergibke arah dapur tanpa menoleh ke belakang.
Changmin meringis melihat noda lumpur di lantai, ia melupakan kenyataan bahwa noda itu akan sangat merepotkan. Semoga Tuhan menolongnya, hukuman yang kakaknya berikan bukanlah mengepel lantai ruang tamu ini, bukan?
Ini mengerikan. Tanpa bantuan untuk membersihkan lantai yang luasnya tidak terkira. Changmin mendesah ngeri menatap tiga pasang kaki mengotori lantai itu. Ya Tuhan, ia benar-benar menyesal. Setidaknya untuk kenakalan mereka kali ini.
。。* 。。
Jung Ji Young dan Jung Jiyol, dua gadis manis yang di lahirkan Jaejoong empat tahun lalu itu duduk di tengah ranjang kamar orang tua mereka. Kedua gadis kecil itu sudah selesai mandi, dengan jubah mandi membungkus tubuh mungil mereka ketika Jaejoong memasuki kamar.
Jaejoong tersenyum mengamati kedua inetraksi gadis kecilnya sibuk bercanda satu sama lain, baik Jiyol maupun Ji Young membuat Jaejoong bangga karena melahirkan mereka dengan selamat meski harus menjalani operasi caesar, semua terbayar sudah dengan melihat kedua putrinya tumbuh sehat dan semakin cantik dari hari ke hari.
Suaminya masih berada kamar mandi, seperti biasanya Yunho selalu membereskan kekacauan yang baru saja medua putrinya lakukan ketika mereka mandi. Jaejoong sudah terbiasa membiarkan suaminya itu memandikan putri mereka, bahkan suaminya itu terbilang memanjakan keduanya sampai tingkat kelewat batas.
"Kau lihat. Apa yang aku katakan sebelumnya. Gadis-gadis kecilku telah lahir." ujar Yunho sombong suatu hari kepada Jaejoong. Pria itu begitu menyayangi Jiyol dan Ji Young sampai sering kali membuat Jaejoong iri.
Masih hangat dalam ingatan Jaejoong ketika mereka masih kecil, Yunho sering kali terbangun di tengah malam ketika putri mereka menangis, tanpa membangunkan Jaejoong, suaminya itu menuju kamar anak-anak yang berada di seberang kamar mereka, kamar yang dulunya menjadi kamar Jaejoong sebelum mereka menikah. Pelayan sudah terbiasa dengan kehadiran Yunho di kamar itu, hal yang sangat jarang di lakukan oleh orang sekaya Yunho kepada putri mereka, toh, pria itu sudah memperkejakan pelayan untuk mejaga anak-anak.
Sampai saat ini pun bisa di bilang sebagian besar kebutuhan putri kembar mereka Yunho lah yang mengurusnya. Jaejoong hanya membantu ketika pria itu tidak memiliki waktu ataupun tidak berada di rumah yang bisa di bilang sangat jarang.
"Aku berpikir bahwa kaulah ibu mereka." ujar Jaejoong suatu hari saat melihat suaminya itu menggendong mereka di kedua lenganya. Yunho berkali kali lebih tampamln jika di lihat dslam pose seperti itu.
Suaminya itu tersenyum lebar dan berkata. "Kenyataanya manis, kaulah yang mengandung mereka."
"Lain kali cobalah kau yang hamil."
"Sungguh konyol. Tidak akan berhasil." Pria itu mmeberenggut marah meskipun senyum samar terlihat di bibir hati yang sangat Jaejoong sukai.
Jaejoong melangkah mendekati ranjang, di mana kedua putrinya tersenyum menyambutnya lalu di susul serentetan kata cadel yang sebagian tidak ia pahami keluar dari mulut mungil mereka. "Mama, kami sudah mandi."
"Mama tidak marah lagi, bukan?"
"Mama tidak boleh menghukum Paman Changmin."
"Kami yang mengikutinya."
"Paman tidak berniat mengajak kami bermain di istal. Yolie nakal dengan kabur dari pelayan untuk mengejar Paman Changmin."
"Lalu Yongie terjatuh." Putri pertama Yunho itu mengakui. "Yolie berniat membantu Yongie tapi kami berdua jatuh dan kotor." Jaejoong menahan senyum melihat dua pasang mata menatap memohon kearahnya. Jika suaminya yang di hadapkan dengan kedua putrinya, kesalahan apapun itu pasti termaafkan. Namun tidak bagi Jaejoong, ia tidak ingin putrinya terlalu di manja tanpa tahu mana yang baik dan salah.
"Paman Changmin mencoba menolong kami." Putri keduanya melanjutkan. "Yolie nakal dan melempar lumpur ke tubuh Paman kecil."
Sedikitpun Jaejoong tidak mengubah ekspresi wajah mendengar penjelasan panjang kali lebar dari kedua putrinya. Kedua gadis itu begitu sangat bersemangat menjelaskan masalah itu bahwa paman kecil mereka tidak bersalah.
"Lalu?" Kedua lengan Jaejoong terikat di depan dada. Sedikit mendelik kearah putrinya karena ia tahu keduanya takut jika ia melakukan hal itu. "Kalian berniat mengambil alih hukuman yang Paman kecil kalian dapatkan?"
Kedua kepala gadis kecil itu menggeleng serempak. Jaejoong tidak mampu lagi menahan senyum dan membuat kedua gadisnya ikut tersenyum lebar. "Jangan tersenyum. Mama serius dalam hal ini anak-anak."
"Jangan terlalu keras kepada mereka Sayangku."
Jaejoong mendelik kearah suaminya, mengabaikan tubuh sexy Yunho yang hanya mengenakan handuk di ikat di atas pinggangnya asal, berjalan santai menuju kamar ganti. "Jangan membela mereka Jung. Aku ingin mereka tahu kesalahan mereka. Dan kalian," Jaejoong kembali memutar tubuh menghadap dua putrinya. "Kalian tahu di mana kesalahan kalian?"
Keduanya mengangguk kompak, tidak berniat membuat amarah ibu mereka kembali berkobar. Sungguh, baik Ji Young ataupun Jiyol tidak menyukai amarah ibunya yang tentunya akan membuat ayah mereka terkena dampaknya. "Kami minta maaf Mama."
"Yolie tidak akan mengulanginya lagi."
"Kami berjanji." Rambut panjang si kembar menyembul keluar dari handuk saat keduanya mengangguk dan menggeleng. Jaejoong tersenyum lebar sebelum menyadari buliran air menetes menuruni ujung rambut panjang mereka.
Berbalik kearah suaminya yang sudah berpakaian, Jaejoong menatap tajam suaminya yang baru keluar dari kamar ganti itu. "Berapa kali aku mengatakan padamu untuk segera mengeringkan rambut mereka usai mandi, Jung, mereka bisa saja sakit." Buru-buru Jaejoong mengambil hairdrayer di dalam laci tidak jauh dari pintu kamar mandi.
"Aku baru akan mengeringkan rambut mereka mungil. Sebelum kau masuk dan berceramah panjang lebar. Hanya saja aku perlu mengganti pakaianku yang basah sebelum melakukanya." Yunho menggerling kearah istrinya dan menambahkan. "Atau kau lebih suka melihatku basah kuyup dan menatap tubuh indahku di balik kemeja basah yang menempel... Aow, sakit sayang." Yunho berteriak keras mendapatkan cubitan sayang dari Jaejoong.
"Kita tidak sendirian di sini. Kau ingin menodai telinga suci putriku."
"Putri kita." Yunho meralat. Serigai menyebalkan pria itu masih di sana sebelum Jaejoong kembali menghampiri si kembar untuk membantu mereka mengeringkan rambut.
"Jangan hanya berdiri disana, ambil hairdrayer lain, dan keringkan rambut Yolie."
Kedua putri mereka terkikik riang mendengar perdebatan kedua orang tuanya. Tidak ingin membuat istri cantiknya marah, Yunho segera melakukan perintah istrinya. Dua puluh menit kemudian, keduanya sudah berpakaian rapi serta rambut di ikat dua di kedua sisi dengan poni mereka menjuntai indah di atas mata dengan gaun berenda yang membuat keduanya seperti peri-peri kecil.
"Lihatlah putri manis siapa ini." Jaejoong berkata bangga.
"Putri Mama dan Papa." ujar keduanya serempak.
"Tentu saja putriku.." Yunho menyahut.
"Dia juga putriku." Jaejoong tidak mau kalah.
Terdengar ketukan di pintu beberapa kali, tidak ada yang mendengar ketukan itu karena kamar kembali ribut dengan tingah kedua suami istri itu dalam perdebatan lain. Si kembar hanya menatap wajah orang tua mereka dari wajah satu ke wajah lain.
"Mama."
"Tidak sekarang Yongie." Jaejoong menyahut. Lalu kembali mendebat suaminya.
"Papa."
"Tunggu sebentar Yolie. Papa belum selesai dengan Mama kalian."
Kedua gadis kecil itu mengamati sosok pria yang berdiri di ambang pintu dengan senyum lebar. Pria itu tidak perlu menunggu untuk di persilahkan masuk karena ia mendengar suara perdebatan mereka dari luar pintu. Hal yang sudah sangat biasa ia dengar.
"Kebiasaam kalian sepertinya harus di ubah. Aku kebih menyukai kau tidak mendebat istrimu, Jung. Kau tahu itu hanya akan membuat Jongie semakin cerewet saat melawanmu."
"Itulah tujuanku." sahut Yunho sambil lalu dengan serigai lebar.
Hankyung melangkah santai menyebrangi jarak di antara dirinya dan kedua cucunya. Baik Jiyol maupun Ji Young mengulurkan tangan ingin di gendong kearah pria itu tanpa mempedulikan orang tua mereka.
"Kita biarkan mereka berdebat Kakek."
Hankyung tidak berniat mengulurkan tangan untuk menyambut kedua cucunya. Ia tahu hal itu akan membuat cucunya itu marah dan ia suka sekali melihat wajah merajuk mereka ketika marah. "Tidak!"
"Kakek." Rengek keduanya.
"Terakhir kali Kakek menggendong kalian. Kakek mengalami sakit puggung. Aku ingat, salah satu dari kalian membuat Kakek kehilangan keseimbangan dan hampir saja terjatuh."
"Kali ini Yolie tidak akan nakal."
"Yongie akan diam saja jika Kakek berbuat nakal atau menggoda para pelayan sexy itu. Kami juga Tidak akan membiarkan Nenek tahu akan hal itu."
"Sexy?" Teriak Yunho dan Jaejoong di saat yang bersamaan. "Kalian dengar dari mana kata-kata itu?"
Jaejoong menatap ayahnya memberenggut sebelum kembali menatap putrinya penuh tuntutan.
"Papa sering memanggil Jongie sexy atau Mama sexy." jawab salah satu dari si kembar.
"Istriku yang sangat sexy dan juga... ." Yunho tidak tahan lagi mendengar penjelasan putri pertamanya, pria itu membekap mulut mungil putrinya dan mendaratkan ciuman di sana. "Diamlah mungil."
Keduanya mengangguk serempak. Mengabaikan ibu mereka yang mendelik kesal kepadz ayah mereka.
"Jadi Kakek, maukah Kakek membawa kami kabur lagi."
"Tidak!" lagi-lagi kedua suami istri itu berteriak. Pernah sekali Hankyung menculik kedua cucunya ketika mereka berusia dua tahun. Hanya meninggalkan selembar surat di atas meja kerja Yunho yang memberitahu mereka bahwa Hankyung membawa cucu kesayagan mereka untuk menyebrangi lautan menuju China.
Astaga. Tidak lagi.
Meskipun Jaejoong menyukai ide berkunjung ke china, di mana kerabat ayahnya tinggal dan melihat tempat tinggal saudara kembar ayahnya itu, ia tidak menyukai ide berkunjung dengan cara seperti itu. "Paman Raja akan menghukummu lagi jika kau membawa kabur mereka. Dan jangan bertingkah seperti anak kecil Papa. Mereka sudah besar dan paham dengan apa yang kau lakukan."
"Tidak. Aku paham akan hal itu. Aku hanya akan membawanya turun untuk makan malam." ujar Hankyung pasrah. Meski menculik mereka terdengar menyenangkan agar Yunho maupun Jaejoong bisa fokus untuk mendapatkan putra atau putri lain. Oh, ia tak sabar mendapatkan cucu-cucu lain yang imut dan lucu.
"Kami menunggumu Kakek. Jika tidak Yolie akan mengatakan pada Nenek kalau Kakek suka menggoda pelayan cantik itu."
"Jadi. Kalian mengancam Kakek?"
"Tidak." keduanya menggeleng polos.
"Lalu. Apa kalian melihat Nenek kalian?"
"Dia di belakang Kakek. Nenek selalu mengikuti kemanapun Kakek pergi." Hankyung tersenyum mendengarnya.
"Nenek juga akan tertawa ketika Yolie ataupun Yongie berbuat nakal."
"Katakan kepada Nenek kalau Kakek mencintainya." Hankyung mengulurkan tangan untuk menyambut mereka. Mengabaikan Jaejoong serta Yunho yang berkacak pinggang di sana dan membawa cucunya keluar dari kamar. "Silahkan lanjutkan perdebatan kalian. Kami tidak akan menunggu kalian untuk makan malam, kami janji. Jadi lakukanlah apapun yang akan kalian lakukan, tapi aku lebih suka kalian memberiku bayi mungil yang lain."
Wajah Jaejoong merona hebat menyadari apa yang di maksud oleh ayahnya. Yunho sendiri juga merona, hanya saja dengan alasan yang berbeda.
Langkah Hankyung terlihat tegap menjauh dari kamar kedua orang tua dari cucunya. Pria itu menatap Jung Ji Young dan Jung Jiyol bergantian.
"Jadi. Bagaimana dengan Nenek kalian?"
Keduanya diam sejenak. Mengamati lorong kosong di belakang mereka saat Kakek Han menggendong keduanya menjauh dari kamar orang tua mereka. "Nenek bilang dia selalu tahu."
Ji Young menabahkan. "Nenek juga mencintai kita semua."
"Aku tahu itu."
Langkah Hankyung tidak goyah menuruni tangga meski dengan kedua cucunya di kedua lengan. Pria itu tersenyum lebar melihat Changmin dan lap basahnya membungkuk di lantai yang sama basahnya seperti kondisi bocah nakal itu.
Mendengar adanya seseorang yang mendekat Changmin mendongak. "Aku senang Mama kalian tidak menghukum kalian. Lihatlah apa yang Nuna cantik itu lakukan padaku." menghela napas, Changmin melempar kain basah itu ke dalam ember. Mengamati kerja kerasnya mengepel lantai. "Ini terakhir kalinya aku mengajak kalian bermain. Aku kapok."
"Tapi Paman tahu kami bisa mengajak Paman bermain."
"Dan mengganggu Paman kecil." Serigai tiga bocah nakal itu membuat Hankyung tertawa. Astaga, Jaejoong akan memukul anak-anak ini andai putranya itu tahu mereka sedang menyusun kenakalan lain. Tapi ia menikmati kenakalan mereka sebagaimana Jaejoong menyukai sikap mandiri anak-anak yang tidak pada tepatnya meski Yunho memanjakan kedua putri mereka. Dan keduanya memiliki kelebihan yang di turunkan dari nenek mereka yang tidak di milikki oleh Jaejoong.
Di dalam kamar di lantai atas. Yunho menatap pintu tertutup di belakang ayah mertuanya dengan senyuman lebar. Pria itu merenungi apa yang akan ia lakukan terhadap istrinya yang pembangkang, dan memutuskan untuk mengabaikan istrinya yang masih juga merajuk tentang memperlakukan putri mereka, tanpa menunggu istrinya terdiam, Yunho membungkam bibir Jaejoong dengan bibirnya.
Benar saja, Jaejoong terdiam sebelum membalas ciuman suaminya dengan sama antusiasnya sebagaimana ia mencium Jaejoong. "Aku akan meghukumu karena selalu melawan dan mendebatku."
"Aku akan menerima apapun hukuman yang kau berikan padaku." itu adalah sebuah ijin yang menggoda untuk di abaikan. Lengan Yunho merengkuh pinggang istrinya dan membawa langkahnya menuju ranjang. "Kali ini aku akan membuatmu memberiku pewaris yang sesungguhnya. Dan aku ingin dua bayi kembar laki-laki."
"Dan jika aku melahirkan bayi perempuan lagi."
"Tidak buruk juga, bagus, karena kita bisa melanjutkan usaha kita untuk mendapatkan pewaris sampai kita bisa mendapatkanya. Dan aku berjanji kepadamu bahwa kita akan menikmati usaha keras kita, mungil." Tawa Jaejoong menggema di kamar luas itu. Ia merasakan lembutnya selimut di punggung saat Yunho merebahkan tubuhnya di sana. "Apapun untukmu." ia pun menarik suaminya menunduk agar dapat ia cium sesuka hati.
Selesai!
Terima kasih masih setia menunggu ff ini dan semoga hasilnya tidak mengecewakan.
Maaf membuat kalian menunggu lama.
See u Next FF.
Baca juga FF Sherry lainnya ya.
Kecup satu satu.
-Di tendang.-
BUKA PO.
SAY YOU LOVE ME
Harga. Rp. 95.000
450 lebih halaman. Super tebal.
Berminat silahkan PM sherry.
Via FB atau Via BBM atau Line dan wattpad.
Tutup po sampai tgl 15 bulan depan.
Terimakasih.
