Minna san ^^/
Hari ini Amaya update loh!* udah tau –"
Nah, di chapter dua ini, Nagisa sudah mulai menjalani hidupnya sebagai seorang putri yang jelita hohohoho* ketawa bareng Karma.
Yosh, sebelum membaca Amaya ingatkan kembali bahwa Ansatsu Kyoushitsu yang ketje ini milik Om Yusei Matsui. Jadi yang anda baca sudah dipastikan penuh kehororan :3. Mengandung racun dan berbahaya bagi janin*plak
Yosh, Enjoy it!
Chapter: 2
Girl's Time
Nagisa menatap kosong kaca jendela di kamar putih tersebut. Makanan yang sudah disiapkan oleh perawat belum ia sentuh sedikitpun. Pikirannya sedang kusut. Ia baru saja bertemu dengan Otou-sannya. Beliau nampak terkejut melihat anak semata wayangnya terbaring dengan infus ditangannya. Setelah berbincang-bincang sejenak, - basa-basi tepatnya- sang ayah mulai menanyakan penyebab Nagisa bisa sampai collapse seperti itu. Jika sudah seperti itu, Nagisa tidak akan bisa mengelak. Ia hanya tersenyum dan berkata itu salahnya. Nagisa berusaha untuk tidak mengungkit tentang sang Ibu. Karena Nagisa tau itu hanya akan merusak situasi. Namun seperti biasanya, Nagisa tidak bisa menyembunyikan apapun dari ayahnya itu.
" Otou-san, kau mau kemana?" Nagisa menaikkan alisnya saat melihat ayahnya beranjak dari duduknya.
" Ah, Tou-chan mau kebawah dulu. Mau menelpon." Jawab Ayahnya.
" Menelpon? Siapa?" Ayahnya menoleh dan tersenyum. Kemudian mengacak rambut Nagisa.
" Tenang, Ayah belum punya pacar baru. Ayah hanya akan menghubungi ibumu. Sepertinya Karma-kun belum menghubungi ibumu kan?" Jawab Ayahnya. Mata Nagisa melebar. Dengan cepat, ditariknya ujung kemeja ayahnya. Kepalanya menunduk. Nagisa tidak ingin ibunya tau. Dan lagi menurut Karma, Pihak sekolah memberitahu Ibu Nagisa bahwa Nagisa dan teman-temannya tengah mengadakan camping studi sehingga ia dan yang lainnya akan menginap disekolah. Ayah Nagisa sendiri mengernyit heran melihat tingkah anaknya itu. Ia bisa melihat Nagisa memegang ujung kemejanya dengan sangat erat. Seakan tak ingin ayahnya pergi kemanapun meski hanya sekedar menelpon ibu Nagisa. Kemudian sang Ayah menghela nafas dan kembali duduk.
" Tou-chan tau. Tou-chan tidak akan memberitahu Kaa-san mu jika kau tidak ingin." Ujar ayahnya. Nagisa mendongak.
" Hontou?" Tanya Nagisa. Sang ayah hanya tersenyum sambil meletakkan tangannya diatas surai biru lembut milik Nagisa. Matanya menelusuri raut wajah anaknya yang terlihat cantik untuk ukuran pria. Rambut birunya yang sudah memanjang. Ia tak habis pikir kenapa mantan istrinya itu memperlakukan anak lelakinya seperti ini. dan yang lebih membuatnya penasaran, seberapa tabahnya anak laki-laki didepannya menghadapi wanita itu. Sampai kapan Nagisa akan menjadi bonekanya?
" Nagisa, katakan dengan jujur.. kau seperti ini karena Kaa-sanmu bukan?" Tuntut ayahnya. Wajah sumringah Nagisa memudar. Berganti dengan wajah pucatnya yang kini lebih memucat. Ia menunduk. Tak berani menatap mata ayahnya.
" Ano.. aku hanya melewatkan beberapa jam makanku saja. Ini salahku." Jawab Nagisa.
" Ya. Dan Tou-chan yakin kau melewatkan jam makanmu karena kau enggan melakukan permintaan aneh Kaa-sanmu. Benar?" Tanya ayahnya. Tepat sasaran! Nagisa hanya diam mematung. Ayah Nagisa menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Ia tak butuh jawaban dari bibir Nagisa. Karena ia bisa mengetahui jawabannya dari tingkah Nagisa.
" Dengar, Nagisa. Kalau kau memang tidak suka, katakan saja pada Okaa-sanmu itu. Kau tidak harus menderita hanya untuk memuaskannya." Ujar Ayahnya. Nagisa hanya diam tak bergeming.
" Hh… kalau begini.. biar Tou-chan saja yang bilang pada Kaa-sanmu.
" Tidak! Kumohon Tou-chan. Jangan katakan apapun pada Kaa-san." Pinta Nagisa. Ayahnya hanya menatap Nagisa ragu. Mereka terdiam beberapa saat.
" Hhh.. baiklah. Terserah padamu, Nagisa. Lagipula, aku tak bisa seenaknya saja mengambil keputusan. Gomenne?" Sang Ayah tersenyum lembut. Nagisa hanya tersenyum tipis. Kemudian mereka mencari topic ringan untuk dibicarakan sebelum akhirnya ayahnya pamit untuk pulang.
" Gomen ne, Nagisa. Tou-chan belum bisa menjadi ayah yang baik untukmu. Tapi Tou-chan bangga." Ayahnya tersenyum lembut. Menatap mata Nagisa dalam. Tatapan yang belum pernah Nagisa dapat sebelumnya. " Karena Anak Tou-chan ternyata lebih kuat dari Tou-chan yang menyerah ditengah jalan ini." Lanjutnya. Nagisa terdiam sejenak. Kemudian ia tersenyum.
" mm.. Arigatou, Tou-chan."
Nagisa kembali menghela nafas.
" Mungkin sebaiknya aku mengatakan tentang perubahan bentuk tubuhku pada Tou-chan tadi." Pikirnya.
" Tidak, kau tidak boleh mengatakannya. Kita sudah sepakat tentang ini tadi malam bukan?" Sebuah suara yang amat dikenalnya terdengar jelas. Nagisa tersentak dan menoleh. Ia mendapati Karma tengah mengupas apel disebelahnya. Tanpa sadar Nagisa sudah menyuarakan pikirannya. Tunggu. Kapan ia masuk ke kamar ini?
" Yo! Kau terlalu asyik melamun tadi. Aku jadi tidak enak mau mengganggu lamunanmu." Karma menjawab keheranan Nagisa. " Dan selagi kau melamun dengan rambut terurai seperti itu, aku sudah mengambil beberapa potretmu. Lihat, efek sinarnya juga tepat." Lanjut karma sambil memamerkan foto Nagisa.
" JANGAN MENGAMBIL FOTO SEMBARANGAN!" Nagisa mengerang putus asa. Sahabatnya ini memang benar-benar usil.
" Ne, kau sudah bertemu dengan Otou-san mu kan? Bagaimana?" Tanya Karma. Nagisa mengerjapkan matanya.
" Bagaimana? Hmm… baik-baik saja. Kami hanya berbincang-bincang seperti yang biasa kami lakukan jika kami bertemu." Jawab Nagisa sambil berusaha meraih potongan apel di piring. Karma merampas piring tersebut dan menjauhkannya dari Nagisa.
" Tidak boleh! Kita harus tanyakan dulu apakah buah apel aman untuk lambungmu yang kau lukai itu! Jadi, apa beliau tidak bertanya kenapa kau bisa sampai sakit seperti ini?" Tanya Karma. Nagisa yang sudah akan protes karena tak diperbolehkan memakan apel, seketika terdiam. Itu topic yang ingin ia hindari.
" Mm.. Tou-chan bertanya. Dan.. yah, aku tidak bisa berbohong pada beliau." Jawab Nagisa. Karma menggigit potongan apel sambil mengangkat alisnya.
" Lalu? Apa dia menghubungi ibumu?" Tanya Karma lagi. Nagisa tersenyum dan menggeleng.
" Tidak. Aku meminta Tou-chan untuk tdak memberitahu kaa-san. Dan tou-chan setuju." Jawab Nagisa lagi.
" Hee.. kau sepertinya bertambah akrab dengan tou-san mu. Bahkan seingatku, kau selalu memanggilnya Tou-san. Dan sekarang kau sudah memanggilnya Tou-chan." Ujar Karma. Nagisa tertegun. Karma benar. Tanpa ia sadari mulutnya memanggil ayahnya seperti itu. Nagisa tersenyum. Karma yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum tipis.
" Hei Nagisa-chaaaan!" sebuah suara riang terdengar dari arah pintu. Nagisa melongok dan mendapati sosok teman-teman wanitanya.
" Kami datang menjengukmu, Nagisa-chan!" Ujar Yada. Nagisa hanya tersenyum.
" Dan kau, Karma-kun… enyah dari kamar ini karena sekarang adalah waktunya para Gadis!" Nakamura menunjuk wajah Karma. Karma mengangkat bahunya cuek kemudian beranjak pergi meninggalkan kamar yang langsung dipenuhi dengan suara para gadis. Nagisa hendak mengucapkan terimakasih karena mengira Karma akan pulang ketika matanya menangkap tas karma yang tergeletak di atas sofa. Karma belum akan pulang. Nagisa tersenyum lembut.
" KYAAAAAA~~~ KAWAIIII." Seketika Nagisa merasa telinganya bisa tuli mendadak.
" Kalian kenapa?" Tanya Nagisa polos.
" Kau tersenyum seperti malaikat, Nagisa-chan!" seru Kayano. Nagisa hanya bisa melongo.
" Hei.. hei… kami membawakan sesuatu untukmu. Tapi karena kami tidak tau berapa ukuranmu, jadi kami membelikanmu yang seukuran dengan Kayano-chan. Riocchi yakin sekali kalau ini akan pas denganmu." Ujar Hara bersemangat. Kemudian ia mengeluarkan sebuah bungkusan. Nagisa menerimanya dengan raut heran. Ia membuka bungkusan itu dengan hati-hati dan detik berikutnya, wajah Nagisa memucat. Ia menoleh dengan tatapan 'apa maksudnya ini?' kepada teman-teman gadisnya itu. Nakamura mengambil isi bungkusan itu.
" Nah, sudah pasti cocok denganmu!" Ujarnya bangga.
" T-Tunggu dulu, Nakamura-san! Kenapa kalian memberiku seragam itu?" Tanya Nagisa.
" He? Sudah jelas kan? saat kau sudah masuk sekolah nanti, kau akan memakainya! Ingat Nagisa-chan, kau sekarang seorang gadis!" Jawab Nakamura. " Dan kau boleh memanggilku Riocchi!" Tambahnya. Nagisa Sweatdrop.
" Etto.. Arigatou.. tapi mungkin aku akan tetap bertingkah seperti laki-laki. Jadi, seragam ini sepertinya tidak dibutuhkan." Ucap Nagisa.
" Ee? Tidak! Kau harus memakainya, Nagisa-chan~" Nakamura memohon.
" Ah, tidak hanya itu, kami juga membawakanmu ini!" Yada mengulurkan sebuah tas plastic. Nagisa menerimanya dan membuka tas plastic itu. Kemudian ia tersedak.
" Y..Yada-san! Apa ini?" Tanya Nagisa lagi.
" Hmm? Itu? Masa kau tak tau, Nagisa-chan?" Yada balik bertanya. Nagisa menggeleng pelan.
" Aku tau. Maksudku, kenapa kau memberiku..ini?" Tanya Nagisa.
" Kau harus memakainya. Kau kan perempuan sekarang!" Kayano menjawab.
" d..demo… "
" Sudah! Untuk yang ini kau tak boleh menolak, Nagisa-chan! Kau harus memakainya! Semua wanita juga memakainya!" Tegas Nakamura.
" Bukan itu!" Nakamura menangkat alisnya. " A..aku tidak tau bagaimana..caranya ini.." Nagisa menunduk. Mukanya semerah rambut Karma. Menatap segumpal pakaian dalam wanita ditangannya. Nakamura dan yang lainnya melongo. Kemudian mereka tertawa. Nagisa semakin menguur wajahnya kelututnya sendiri.
" Ok.. ok.. kami akan mengajarinya tenang saja!" kedip Hara.
" Arigatou." Nagisa tersenyum malu.
" Oh iya, kami juga membawakanmu beberapa pakaian wanita. Lihat!" Kayano mengeluarkan isi tas coklatnya. Nagisa tertawa datar melihat betapa niatnya teman-teman wanitanya itu.
99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
Nagisa menghela nafas pelan. Hari yang melelahkan. Teman-temannya bergantian menjenguknya. Setelah para gadis – yang sudah puas membuat Nagisa berdandan habis-habisan- pulang, para teman laki- lakinya yang ganti menjenguknya. Mereka bercanda seperti biasanya. Dan berakhir dengan mereka yang harus mengangkut Okajima yang pingsan karena dipukul tengkuknya oleh Karma ( " Salahkan Okajima yang hentai itu.").
" Ne, Karma-kun.. kapan aku bisa keluar dari sini? Aku bosan." Ujarnya. Karma yang tengah membaca majalah mengangkat wajahnya. Menatap Nagisa yang matanya menerawang keluar jendela. Kemudian ia kembali menumpukan pandangannya pada deretan kalimat dimajalah yang dipegangnya.
" Akan kutanyakan pada Karasuma sensei. Lagipula memang mencurigakan jika kau tak pulang-pulang juga menemui ibumu. Bisa-bisa ibumu nekat datang kesekolah." Nagisa mengangguk setuju. Hal itulah yang ia takutkan. Nagisa merebahkan tubuhnya. Pikirannya melayang. Matanya memberat. Ia lelah. Ia ingin istirahat.
" Ne, Nagisa kun. Tadi apa yang Nakamura lakukan pada..-" Karma menghentikan ucapannya. Matanya menatap paras cantik itu tertidur. Dengkuran halus menusuk pendengarannya. Karma tersenyum tipis.
" Hh.. Oyasumi, Nagisa-kun!" Ucapnya. Kemudian ia kembali meraih majalah dan membacanya.
99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
Hari ini adalah hari pertama Nagisa masuk sekolah. Sehari sebelumnya, ia kembali kerumahnya untuk meyakinkan sang ibu bahwa ia benar-benar baru menjalani camp studi bersama teman-temannya. Dan Hari ini, dia berdiri didepan gedung kelas 3-E yang memang terasing dari kelas lainnya. Kelas 3-E SMP Kunigaoka memang kelas yang special. Yang pertama, disaat kelas yang lainnya hanya mendapatkan satu ruang kelas untuk menjadi daerah kekuasaan mereka, Kelas 3-E mendapatkan satu gedung yang setara dengan kurang lebih 3 ruang kelas lengkap dengan halaman seluas gunung itu sendiri. Yang Kedua, Kelas 3-E memang tidak diperbolehkan mengikuti ekskul apapun yang diselenggarakan di gedung utama. Namun, ada ekskul khusus yang hanya diketahui oleh penghuni kelas 3-E dan tak bisa diikuti oleh kelas lainnya. Ekskul Ansatsu. Yang ketiga, Kelas 3-E memiliki guru-guru yang tak biasa. Sang gurita jenius berkecepatan 20 mach, Koro Sensei. Sang pelatih ekskul Ansatsu dan juga mampu membuat gadis-gadis gedung utama iri pada gadis kelas 3-E, Karasuma Sensei. Dan Sang 'Bitch' yang mengajarkan bahasa asing. Bitch milik kelas 3-E seorang, Irina Sensei. Yah, Nagisa baru benar-benar mensyukuri keadaannya sebagai murid kelas 3-E beberapa hari terakhir ini. ia sadar banyaknya hal yang diberikan oleh tuhan kepada murid kelas 3-E alih-alih murid gedung utama.
Nagisa tersenyum tipis memikirkan hal itu. Tanpa sadar kakinya sudah melangkah sampai ke depan pintu kelasnya. Nagisa menggeser pintu kelas. Masih belum ada orang. Nagisa memang selalu datang awal. Nagisa melangkah dan meletakkan tasnya diatas meja. Kemudian ia melihat sebuah mobil terparkir dikejauhan. Nagisa segera meninggalkan kelas. Ia hendak menemui Karasuma sensei.
" Ohayou, Karasuma sensei." Sapa Nagisa.
" Ohayou. Bagaimana keadaanmu?" Tanyanya. Nagisa tersenyum dan menggeleng pelan.
" Daijobu. Ah, arigatou sensei. Karena sudah mengurus semuanya. Dan, Tou-chan bertanya tentang biaya pengobatannya." Ujar Nagisa.
" Iie. Tak usah dipikirkan. Itu adalah kecelakaan dari usaha pembunuhan. Dan untuk situasi seperti itu, pemerintah sudah menyiapkan dana kecelakaan. Jadi, tak usah kau fikirkan." Jawab Karasuma.
" Demo.. Karasuma sensei. Aku masuk rumah sakit karena sakit. Bukan karena racun itu." Elak Nagisa. Karasuma menoleh dan menatap tajam pada Nagisa.
" Tapi kau juga mengalami kerugian karena racun itu bukan? Jadi anggap saja itu sama." Tolak Karasuma. Nagisa menghela nafas. Ia mengangguk tak enak.
" Kalau begitu, jagalah kesehatanmu. Jangan sampai hal ini terulang." Ujar Karasuma yang lebih mirip gumaman. Nagisa tertegun kemudian tersenyum. Ia menganggukkan kepalanya.
" Hai', sensei." Jawab Nagisa. Karasuma hanya melambaikan sebelah tangannya sambil terus berjalan menuju gedung kelas.
" Nagisa-kun!" Nagisa menoleh dan mendapati sang ikemen, Isogai, berlari kearahnya.
" Isogai-kun! Ohayou!" Sapa Nagisa.
" Ohayou! Haaah.. akhirnya kelas akan lengkap kembali." Sang ketua kelas menghela nafas lega. Nagisa tersenyum. Isogai memang ketua kelas yang dapat dihandalkan. Akan panic jika kelasnya tak lengkap. Baginya, kelas itu bagaikan keluarga yang harus dilindungi. Kecuali Karma, Isogai biasanya akan mencari detail kenapa temannya menghilang jika ia tidak menemukan mereka di ruang kelas saat jam pelajaran. Rasa tanggung jawab yang terlalu tinggi untuk anak berumur 15 tahun.
" Yosh! Hari ini, kalau kau merasa belum sehat betul, jangan memaksakan diri untuk ikut kelas ansatsu nanti." Isogai merangkul Nagisa. Nagisa tersenyum dan mengangguk. Kemudian mereka berjalan menuju ruang kelas.
" Sou.. Nagisa-kun, apa kau sudah menerima catatan dari Karma-kun?" Tanya Isogai.
" Catatan?" Nagisa balik bertanya.
" Um. Catatan pelajaran selama kau tidak masuk." Nagisa menggeleng. Ia sama sekali tak ingat pernah menerima catatan pelajaran dari Karma.
" Biar nanti aku tanyakan. Apa kau yang mencatatkannya, Isogai-kun?" Tanya Nagisa. Isogai menggeleng.
" Sebenarnya aku sudah akan mencatatnya untukmu. Tapi, Karma melarangku."
" Eh? Nande?" Tanya Nagisa. Isogai tersenyum.
" Dia bilang, dia yangakan mencatatkannya untukmu." Jawab Isogai. Nagisa bagaikan ditimpa batu. Karma mencatat pelajaran? Untuknya? Apa yang sebenarnya terjadi pada iblis berambut merah itu? Dan lagi, seingat Nagisa Karma tak pernah benar-benar mencatat. Pernah sekal Nagisa meminjam buku catatan Karma dan mendapati catatan itu tak lebih dari catatan berantakan tentang inti yang dikatakan sang guru. Dan Karma mau mencatat untuk Nagisa? Nagisa bukan orang secerdas Karma yang akan mengerti dengan model catatan seperti milik Karma.
" Err.. sepertinya, aku akan meminjam catatan milik Kanzaki-san saja." Jawab Nagisa lemas.
" Hmm? Kenapa?" giliran Isogai yang heran.
" Kau tau kalau catatan Karma biasanya sangat sedikit. Jadi, mustahil aku bisa mengerti catatannya dengan otak seperti ini." Jawab Nagisa datar.
" hmm.." Isogai menggeser ruang kelas dan mendaratkan tasnya diatas meja. Kemudian ia membuka laci meja guru dan menarik keluar sebuah buku bersampul kuning.
" Ne, Nagisa-kun. Aku akan keruang staff dulu. Aku harus mengambil absen baru." Pamit Isogai. Nagisa hanya tersenyum dan mengangguk. Dari jendela kelas tersebut, Nagisa bisa melihat beberapa murid mulai berdatangan. Saling menyapa satu sama lain. Kemudian matanya menangkap sosok Nakamura Rio. Nagisa langsung sweatdrop mencoba menerka bagaimana reaksinya saat melihat Nagisa tetap memakai seragam laki-lakinya. Nagisa menghela nafas. Biarkan saja.
99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
TENG TONG TENG TONG
Bel sekolah berbunyi. Menandakan waktunya periode keempat dimulai. Semua anak bergegas berdiri. Hendak mengganti pakaian mereka dengan pakaian khusus kelas Anstasu. Seragam yang dihadiahkan pemerintah kepada mereka. Nagisa berdiri dari kursinya dan berjalan mengikuti Maehara. Kemudian ia merasa lengannya ditarik. Ia menoleh dan mendapati Nakamura dan yang lainnya tengah menariknya.
" Kau mau kemana, Nagisa-chan?" Tanya Nakamura.
" Tentu saja ganti pakaian, Nakamura-san." Jawab Nagisa heran.
" Hoo.. kau berniat ganti pakaian didepan para laki-laki itu? Mau memamerkan pakaian dalam barumu?" Tanya Nakamura tanpa mengecilkan suaranya. Didepan mereka, beberapa anak laki-laki tersedak dan menoleh kearah para gadis. Nagisa terperangah. Wajahnya langsung memerah. Nakamura Rio tersenyum lebar.
" Nah, Nagisa-chan.. mulai sekarang, kau harus berjalan kearah sini kalau kau mau ganti pakaian." Tarik Nakamura. Nagisa hanya bisa pasrah. Dibelakangnya,
" Nagisa-kun curaaaang! Aku juga mau ikut denganmu!" Seru Okajima.
" Jadi, Nagisa-kun sudah benar-benar jadi perempuan?" Gumam Maehara. Itona mengangkat sebuah remote.
" Apa perlu kita meluncurkan yang terbaru? Itona X. " Itona juga mengacungkan sebuah benda seperti lalat.
" Whuaaa hebat Itona! Ini pasti akan menjadi alat mujarab!" Okajima menggenggam tangan Itona. Itona hanya mengangguk dengan datar.
" Kalau begitu, mari kita luncurkan!" Seru Okajima.
" Ou!" Seru yang lain semangat. Namun belum juga mereka menggerakkan jari untuk membuat alat itu bergerak kearah ruang ganti wanita, sebuah tangan mencomot benda itu.
" Apa yang akan kalian lakukan?" Tanya surai merah tersebut.
" Ah, Karma-kun! Kami ingin melihat bukti apakah Nagisa-kun benar-benar memiliki apa yang dimiliki perempuan." Jawab Okajima tanpa sungkan.
" Mattaku… kalian ini. untuk apa kalian melihatnya?" Tanya Sugaya.
" Tentu saja kami ingin bukti!" Jawab Okajima bersemangat. Karma menghela nafas. Kemudian sebuah tentakel kuning mengambil benda itu dari tangan Karma. Semua mata membulat.
" Okajima-kun, Itona-kun, Maehara-kun. Apa yang sedang kalian rencanakan?" Tanya si gurita kuning yang memerah.
" I..ie.. sensei.. kami hanya ingin mengecek keselamatan para gadis." Jawab Okajima tercicit.
" Apa? Telinga sensei tak bisa mendengarnya!" Ujar Koro sensei.
" Kami bahkan tak bisa melihat telingamu dimanapun." Pikir para pemuda itu frustasi.
99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
"Na..nakamura-san! Ini memalukan!" Ujar Nagisa yang masih bersembunyi dibalik pintu.
" Hee? Kenapa? Kau sangat cantik, Nagisa-chan." Nakamura mengedipkan matanya. Wajah Nagisa kembali memerah. Warna yang kontras dengan rambut birunya itu.
" Hei! Apa yang kalian lakukan? Ayo cepat!' Teriak Isogai.
" Haaai! Kami akan segera turun!" Kataoka balas berteriak. Kemudian tangannya meraih lengan Nagisa dan menariknya keluar. Semua mata dilapangan terpana. Nagisa memakai pakaian ansatsu versi perempuan. Rambutnya diurai dan berjalan dengan malu.
" Nyehehe.. bagaimana karya baruku?" Nakamura tersenyum bangga. Para lelaki mengangguk-angguk.
" Bagus! Sangat cocok, Nakamura-san! Kerja bagus!" Nakamura mengibaskan rambut pirangnya. Wajah Nagisa semakin memerah.
" Hee.. ada apa ini?" Sebuah suara familiar terdengar. Nagisa menoleh dengan cepat.
" Karma-kun! Bantu aku untuk..-"
" CKREK!"
" Dapat satu!" Seru Karma dengan cengiran khas Koro sensei yang tengah meremehkan murid-muridnya. Nagisa mendengus. Ia merutuki dirinya yang percaya bahwa Karma sebagai sahabatnya akan membelanya dan menyelamatkannya dari ajang crossdressing ini. ia lupa bahwa sahabatnya adalah iblis merah. Partner dari iblis pirang wanita, Nakamura Rio.
" Baiklah, kita mulai dengan lari mengelilingi gunung ini! mulai!" Perintah Karasuma. Mereka semua mulai bergerak dengan lincah. Melewati bebatuan, memanjat tebing, sungai-sungai kecil, meloncat dari satu pohon ke pohon lainnya. Mereka melakukan itu seperti tengh berjalan-jalan di hari libur yang cerah di jalan datar tanpa halangan. Bagi para murid, gunung itu adalah halaman sekolah yang amat mereka kenal. Tak heran jika mereka melaluinya dengan mudah. Nagisa bergantung didahan pohon. Disebelahnya, Karma melompat naik kedahan pohon tersebut. Mencoba menjangkau jarak dengan teman-temannya.
" Tidak jauh, Nagisa kita harus lewat jalur kiri." Ujar Karma. Nagisa mengangguk pelan. Kemudian keduanya mendarat diatas bebatuan tanpa kesulitan sedikitpun.
" Mm.. Karma-kun, bisakah kita istirahat sebentar?" Pinta Nagisa. Karma menoleh kearahnya. Nagisa nampak pucat. Tidak biasanya ia tak mampu menaklukkan gunung ini. kemudian teringat sesuatu, Karma menghela nafas. Ia lupa bahwa Nagisa belum sembuh benar. Nagisa seharusnya dirawat selama dua minggu dirumah sakit. Namun berkat bantuan Karasuma sensei, Nagisa hanya bermalam tiga malam saja. Tentu saja kondisinya belum pulih betul. Karma mengangguk dan menyenderkan punggungnya ke batang pohon. Disebelahnya, Nagisa nampak terengah. Ia meraih botol minumnya dan menegaknya.
" Harusnya kau tidak usah ikut kelas ini kalau belum pulih." Ujar Karma. Nagisa menggeleng pelan.
" Aku hanya tidak ingin melewatkan kelas ini." Jawabnya. Ia menekuk kakinya dan memeluk lututnya. Karma menengadahkan wajahnya. Matanya terpejam. Sedangkan Nagisa menunduk. Suasana menjadi hening.
" Karma-kun."
" Nagisa."
Keduanya terdiam sejenak. Dalam waktu yang bersamaan, keduanya saling memanggil.
" Kau dulu." Kata Karma.
" Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" Tanya Nagisa. Karma mengangkat alisnya heran.
" Tidak. Kenapa?" Jawabnya setelah berfikir beberapa saat. Nagisa menggeleng kemudian tersenyum.
" Mungkin hanya perasaanku, tapi Karma-kun terlihat lebih pendiam dari sebelumnya." Jawab Nagisa. Karma mengerjapkan matanya. Kemudian tertawa kecil.
" Kau semakin mirip dengan wanita, Nagisa!" Ujar Karma. Nagisa mendengus kesal.
" Mungkin aku hanya.. masih belum terbiasa." Ujar Karma lagi.
" Belum terbiasa? Dari?" Nagisa menoleh heran. Karma mengangkat bahunya.
" Saa.. lupakan saja. Jadi, bagaimana rasanya jadi wanita?" tanya Karma iseng.
" Kalau kau mau tau, sebaiknya kau minta tolong Okuda-san untuk membuatkan ramuan yang sama dan minumlah!" Jawab Nagisa. Karma tertawa.
" Hei, kau masih marah?"
" Aku tidak marah, Karma-kun. Tidak padamu, dan tidak pada Okuda-san. Aku sudah memberitahu beberapa kali mengenai hal ini bukan?" Nagisa meraih rambutnya dan mengesampingkannya.
" Yah.. kau tau, Okuda-san sangat sibuk sekarang. Ia tenggelam dengan buku-buku Kimia itu dan terus berusaha mencari formula untuk mengembalikanmu." Celetuk Karma. Nagisa tersenyum tak enak.
" Dia.. tak perlu berusaha sekeras itu." Gumam Nagisa. Karma menoleh.
" Jadi, kau lebih suka jadi wanita sekarang?" Tanyanya. Nagisa membelalak.
" Tentu saja tidak!" Karma terkekeh. Kemudian ia bangkit. Tangannya terulur. Nagisa menatap uluran tangan Karma heran.
" Kita bergerak lagi. Tapi karena kau masih lelah dan aku yakin kau belum makan, kau akan kugendong." Jawab Karma.
" Eh? Karma-kun, tak perlu. Itu.." Karma menarik tangan Nagisa dan menggendongnya di belakang.
" Nah, Nagisa pegangan yang erat. Kalau kau terjatuh, bisa repot." Ujar Karma. Karma mulai berlari dengan Nagisa dipunggungnya. Rona merah menjalar cepat di pipi Nagisa.
" Ne, Karma-kun.. kau mau bertanya apa tadi?" seakan baru ingat, Nagisa menanyakannya pada Karma.
" hmm? Ah, itu? Tidak. Aku hanya bingung aku harus memanggilmu seperti apa. Nagisa-kun, atau Nagisa-chan." Jawab Karma enteng. Nagisa melongo kemudian tertawa.
" Kau bisa memanggilmu seperti sekarang!" Ujar Nagisa. Karma tersenyum.
" Nagisa?"
" Um. Itu tak masalah. Kalau kau kebingungan, itu pilihan yang tepat bukan?" Jawab Nagisa. Karma hanya terdiam. Kemudian ia melihat surai biru itu terjuntai melewati bahunya. Nagisa tersenyum menatap si rambut merah yang terus berlari itu. Dan tanpa Nagisa tau, pipi milik sang rambut merah itu menampakkan semburat tipisnya.
99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
-TBC
Uwaaaaa Minna san… maafkan Amaya… hehehe..
Semoga fic ini bisa menghibur kalian. Meskipun abal-abal dan ga jelas XD
Arigatou untuk kalian yang menyempatkan diri singgah dan membaca karya ini.
Little Snowdrop: Apa genre FF ini? apa ya?*plak. Amaya masih.. mempertimbangkannya * padahal kayanya keliatan banget gitu genrenya :D. terimakasih sudah dinanti. Dan, semoga tidak mengecewakan, ne. Arigatou sudah mampir ^^/
Akiyama Yuki: wkwkwk iya ga ngefek. Karena itulah sekalian saya jadikan dia perempuan terimut dikelas nurufufufufu~ Arigatou sudah membaca ^^
Invhayrani: eh? Benarkah? Saya harap saya bisa meningkatkan kemampuan saya*eh*. Yoroshiku! Semoga tidak mengecewakan :D
Amaya masih belajar. Jadi, Amaya mohon bantuannya untuk semua yang membaca fic ini. jika ada salah atau hal-hal yang tak berkenan, tegur saja, ne? boleh direview, boleh di pm. Amaya sangat mengharap saran dan kritik dari kalian ^^/
Jaa mata ne! :D
