O-Ha-You!* entah kapanpun kalian baca.
Hiks, amaya terharu fic ini ada yang baca. Semoga kalian baik-baik saja, reader-san XD
Kali ini, Amaya akan update chapter 3! Hohohohoho~
Sebelum membaca, Amaya tidak bosan mengingatkan kita betapa Ansatsu Kyoushitsu ini adalah hasil peluh Yusei Matsui sensei. Bukan punya Amaya kawaai * diculik Karma* dibakar readers
Jangan lupa berdoa karena ini fic horror. Semoga yang muncul dimimpi kalian adalah wajah ganteng karma bukan wajah horror author XD*plak
Chapter: 3
Punishment time
Hari ini adalah hari yang melelahkan bagi Shiota Nagisa. Gadis itu jelas ingat bahwa cuaca baik-baik saja. Matahari bersinar cerah, awan berarak pelan, angin bertiup lembut, burung berkicau, dan kelas 3-E masih membunuh ( Baca: berusaha). Tapi sungguh, ini hari yang melelahkan. Dimulai dari para gadis di kelas 3-E yang mendadak termotivasi oleh hasutan sang iblis pirang untuk mendandaninya habis-habisan, para teman lelakinya yang berusaha meluncurkan aksi pembuktian gendernya yang berubah, sampai akhirnya ditutup oleh serbuan, sorakan, dan sindiran-sindiran penuh arti dari para teman-temannya. Yang terakhir adalah yang membuat Nagisa paling merutuki dirinya sendiri. Setelah pelajaran Ansatsu berakhir, para penghuni kelas 3-E sadar bahwa mereka kehilangan dua orang penghuni kelas. Tidak, sebenarnya mereka hanya mencemaskan satu orang saja. Tentu saja Karma adalah orang yang bahkan terkadang dilupakan statusnya sebagai penghuni tetap kelas 3-E berkat kebiasaan membolosnya. Tapi Nagisa? Ayolah, pemuda ramah yang selalu terlihat tanpa beban itu adalah mascot berharga bagi kelas 3-E. tanpa Nagisa, Kayano akan kesepian. Tanpa Nagisa, Nakamura tak akan menemukan hiburan. Tanpa Nagisa, Isogai tak akan menemukan teman berdiskusi untuk membunuh. Tanpa Nagisa, Kelas 3-E tidak akan bisa membunuh Koro sensei dengan sempurna! Tanpa Karma? Kelas 3-E akan….. entahlah. Tapi yang pasti kelas 3-E membutuhkan keduanya untuk mendukung kinerja dalam kelas mereka. Setelah heboh selama beberapa menit, tiba-tiba mereka melihat dari semak belukar, melompatlah sosok berambut merah yang tengah memikiul beban. Beban itu bersurai biru indah. Ya, Nagisa mengutuk dirinya sendiri yang muncul dalam keadaan tertidur di punggung Karma. Nagisa langsung kelabakan saat mendapati teman-temannya menatap mereka berdua penuh arti. ( Semacam: " Tidak, ini tidak seperti yang kalian pikirkan!") lupakan betapa malangnya nasib Nagisa, tapi ia benar-benar butuh pertolongan. Dan ia menoleh. Berharap sang sosok berambut merah akan membelanya karena status mereka sama-sama tersangka. Tapi, Nagisa justru semakin tersudut. Karena Karma dengan senyuman iblisnya malah memamerkan foto Nagisa yang tengah tertidur di punggungnya itu. Koro sensei semakin bersemangat dan membentuk tim reality show bersama para clonenya. Karma yang awalnya berstatus sebagai tersangka, kini malah ikut membantu temannya dan berganti status menjadi wartawan.
" Nah, Jangan lupa kerjakan PR dari sensei. Sampai jumpa besok, Anak-anak." Koro sensei menutup kegiatan belajar mereka hari itu. Para murid segera membereskan meja masing-masing. Nagisa menghela nafas dan menempelkan kepalanya ke meja.
" Are? Nagisa-chan, kau tidak pulang?" Tanya Kayano.
" Hmm? Kayano-chan duluan saja. Aku masih ingin disini sebentar." Jawab Nagisa.
" Sendirian? Perlu kutemani?" Kayano menawarkan diri. Nagisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.
" Tidak perlu. Aku juga tidak akan lama kok. Kayano-chan pulang saja." Jawabnya. Kayano terdiam sejenak. Merasa ragu untuk meninggalkan sahabatnya. Tapi kemudian ia tersenyum.
" Baiklah kalau begitu. Tapi jangan terlalu lama! Bisa-bisa Nagisa-chan pulang terlalu malam." Kayano mengedipkan matanya. " Jaa mata ne!" Kayano berlari sambil melambaikan tangannya. Nagisa balas melambaikan tangannya sambil tersenyum. Kemudian ia kembali menghela nafas dan menempelkan kepalanya. Diseberang bangkunya, seorang gadis pirang memperhatikan sosok bersurai biru itu. Ada sesuatu yang mengganggunya. Sesuatu yang sangat ingin sekali ia tanyakan kepada gadis jadi-jadian itu. Tapi ia cukup cerdas untuk menyimpulkan, ia tak akan mendapatkan apapun darinya. Karena itulah ekor matanya melirik ke satu arah. Mencari seseorang yang bisa membantunya. Kemudian ia terdiam.
" ah sou.. dia sudah tidak ada di bangku itu sejak periode ke 6. -_-". Nakamura pun segera meninggalkan kelas. Kakinya melangkah menuju satu tempat yang ia yakini sebagai secret base partner in crimenya itu. Setelah sampai, ia menengadahkan wajahnya. Dan.. yup! Surai merah itu masih terbaring disana.
" Karma-kun!" Teriak Nakamura. Karma mengangkat kepalanya dan menoleh.
" Mm? Nakamura-san.. doushite?" Tanyanya dengan nada malas. Nakamura memberi isyarat agar Karma segera turun. Karma mengernyit tak senang karena istirahatnya terganggu. Tapi ia tetap bengkit dan melompat turun.
" Ada apa?" Karma mengulang pertanyaannya. Nakamura menatap Karma serius.
" Aku.. ingin bertanya sesuatu." Karma mengangkat alisnya. Ada apa dengan pirang ini?
" Kenapa.. Orang tua Nagisa-chan tidak boleh tau tentang perubahan Gendernya?" Tanya Nakamura.
99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
KARMA POV
" Kenapa.. Orang tua Nagisa-chan tidak boleh tau tentang perubahan Gendernya?"
Ugh. Itu pertanyaan sulit. Dan lagi, Nakamura-san bukan tipe yang akan melepaskan sesuatu dengan alasan konyol yang tak memuaskan. Saa.. sekarang aku harus menjawab apa?
" Kenapa kau tak tanya langsung pada Nagisa?" Aku memilih melempar pertanyaan. Dan jelas sekali Nakamura terlihat kesal.
" Karma-kun. Jika aku bisa menanyakannya langsung pada Nagisa-chan, aku tidak akan mencarimu!"
" Hee… jadi kau tidak berani bertanya langsung kepadanya?" Ledekku.
" Karma-kun! Bukan itu maksudku! Kau tau kan, Nagisa itu selalu terlihat tanpa beban jika sedang berkumpul dengan yang lain. Tapi jika sudah ditinggal sendirian, dia akan nampak murung. Jadi, aku hanya tidak yakin dia adalah type orang yang akan berbagi perasaannya dengan orang lain." Jelas Nakamura.
" Tepat!" aku hanya bisa tersenyum mendengar alasan Nakamura-san. Ternyata kemampuan observasinya lumayan juga.
" Karena itulah aku ingin kau menjawabkannya untukku, Karma-kun. Aku yakin Nagisa pasti bercerita banyak tentangmu. Dan aku yakin itu.. masalah keluarga kan?" Tebak Nakamura.
" Tepat lagi!" Aku menggaruk rambut merahku. Sekarang apa?
" sebelum itu, darimana kau menyimpulkan kalau masalah ini adalah masalah keluarga?" Nakamura tersenyum.
" Menurut pengamatan Fuwa-chan. Menurutnya, Nagisa tampak semangat disekolah. Itu berarti dia tak punya konflik apapun disekolah. Dan saat jam pulang, Nagisa akan lebih lambat dari yang lainnya. Seakan memohon pada waktu agar bisa membiarkannya lebih lama lagi disekolah. Itu berarti ada sesuatu yang membuatnya tak ingin cepat-cepat pulang." Jelas Nakamura. Aku tersenyum lagi.
" Nurufufufufu~ mungkin akan lebih menarik jika kita melihat langsung ada apa dirumahnya?"
END KARMA POV
" Nurufufufufu~ mungkin akan lebih menarik jika kita melihat langsung ada apa dirumahnya?" Sebuah suara yang lengkap dengan tentakelnya terdengar di belakang mereka. Nakamura dan Karma serentak menoleh. Mereka menatap datar sensei mereka yang berpenampilan layaknya seorang SPY.
" Sensei.. kau hanya ingin memuaskan nafsu bergosipmu kan?" Tuduh Nakamura dengan wajah dingin.
" Nyunya?! Nakamura-san, sensei tidak sehina itu!" Protes Koro sensei.
" Memata-matai kehidupan muridnya, kemudian mencatatnya untuk dibicarakan. Menganggap apa yang dialami para murid itu adalah hal biasa yang jika diumbar tidak akan menampilkan efek apapun. Sensei, kami salah menilaimu." Lanjut Nakamura dengan gaya yang dramatis.
" Nyaaaa!" Koro sensei berteriak histeris. Kemudian ia mengeluarkan sapu tangan handalannya, dan memulai drama melankolisnya.
" Hiks.. sensei tidak pernah berfikir seperti itu.. sensei.. hiks.. sangat mengkhawatirkan kalian.. hiks.." Koro sensei terus berkicau tak jelas. Sedangkan kedua murid durhakanya tengah tersenyum iblis dibelakangnya.
" Ne, Koro sensei.." Panggil Nakamura. Koro sensei segera menoleh dan menyimpan sapu tangannya. Nakamura menatap senseinya datar.
" Apa kau tau sesuatu tentang Nagisa?" Tanya Nakamura.
" Kurasa Karma-kun lebih tau." Jawab Koro sensei.
" Tidak juga." Jawab Karma. Karma benar. Ia tidak pernah tau apa yang benar-benar terjadi dirumah Nagisa. Ia hanya mendapat sedikit cerita dari mulut Nagisa. Ia hanya tau bahwa Nagisa mempunyai ibu yang terobsesi oleh Nagisa yang berpakaian wanita. Dan ibunya selalu membelikan Nagisa pakaian wanita yang akan dicobanya dirumah nanti. Karma tau bahwa Nagisa tak suka itu. Nagisa pernah bercanda bahwa jika ia adalah anak perempuan, pasti ibunya akan memilih mendandaninya sepanjang hari daripada pergi bekerja. Karena cerita itulah Karma dapat menarik kesimpulan tempo hari. Mendengar jawaban ogah-ogahan dari mulut Karma, Nakamura dan Koro sensei menatap sengit pada rambut menghela nafas sambil tersenyum kecut.
" Ok..ok.. " Karma mengangkat tangannya menyerah. " Orang tua Nagisa sudah berpisah sejak Nagisa sd. Hanya itu Informasi yang bisa kuberikan pada kalian. Kalau kalian penasaran tentang cerita lainnya, kalian bisa cari tahu sendiri." Lanjutnya.
" Hoo.. kau lebih memilih temanmu ini kesusahan?" Tanya Nakamura.
" Bukan begitu.. aku hanya memberikan informasi yang aku ketahui tanpa Nagisa menceritakannya. Kalau apa yang Nagisa ceritakan padaku, maaf aku tidak berfikir bahwa Nagisa akan senang jika aku menceritakannya pada kalian." Jelas Karma.
" Tapi, kau justru menyuruh kami menyelidiki ini semua sendiri? Ne, Karma-kun. Itu kan sama saja kau menyuruh kami membngkar rahasia Nagisa? Apa itu baik-baik saja?" Tanya Nakamura lagi. Karma mengangkat bahunya.
" Setidaknya, Mulutku tetap terbungkam tentang masalahnya. Informasi apapun yang kalian dapat bukan dari mulutku." Ujarnya.
" Nah, sudah diputuskan, kalau begitu mari kita berangkat!" Dalam kedipan mata, Koro sensei memasukkan mereka kedalam sebuah tas super besar.
" Se..sensei! kita mau kemana?" Tanya Nakamura.
" Kerumah Nagisa-kun-chan." Jawab Koro sensei.
" demo.. sensei! Nagisa masih disekolah!" Nakamura mengingatkan. Koro sensei menggeleng.
" Nagisa sudah sensei antar kerumahnya sebelum sensei menemui kalian." Jawab Koro sensei. Dua detik. itu yang dibutuhkan untuk mereka sampai kerumah Nagisa.
99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
Sudah lima menit sejak Koro sensei mengantarkannya pulang. Sebenarnya Nagisa enggan untuk pulang secepat itu. Koro sensei hanya membutuhkan waktu dua detik untuk membawanya pulang. Sedangkan perjalanan biasanya akan memakan waktu 20 menit. Ah, jujur Nagisa lebih suka perjalanan normalnya. Tapi demi melihat wajah senseinya yang panic, ( " Kau masih harus banyak istirahat, Nagisa- kun-chan!") Nagisa pun menuruti keinginan senseinya. Dan setelah lima menit itu, Nagisa masih bergeming didepan pint utumahnya. Kemudian ia menghela nafas dan memutar tuas pintu tersebut.
" Tadaima." Ujarnya lesu. Kemudian ia melepas sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu. Terdengar suara tapak kaki mendekat.
" Ah, Okaeri! Hari ini ibu sengaja pulang awal, Nagisa! Ibu memasak untuk makan malam kita." Ujar sang ibu. Nagisa tersenyum kepada ibunya.
" Arigatou, Kaa-san. Kalau begitu aku akan ganti baju dulu." Pamit Nagisa.
" Ah, sou.. kita makan saja dulu. Ada yang ingin Kaa-san bicarakan denganmu." Ajak Ibunya. Nagisa kembali tersenyum sopan.
" Hai'." Nagisa berjalan membuntuti ibunya. Jujur saja, saat ibunya harus memasak banyak dan memaksanya untuk makan terlebih dahulu sebelum berganti pakaian adalah moment yang paling tidak ia tunggu kedatangannya. Karena Nagisa yakin akan ada sesuatu yang terjadi. Dan entah kenapa, ia tak pernah menyukai sesuatu yang terjadi setelah acara makan malam tersebut. Sedangkan diluar ruangan itu, tanpa Nagisa dan ibunya sadari, 3 buah(?) kepala nampak timbul tenggelam mengintai setiap keadaan dan kejadian.
" Hei, aku tak melihat ada yang aneh. Ibu Nagisa sepertinya sangat menyayangi Nagisa." Nakamura bergumam pelan smabil melihat adegan anak ibu yang terlihat sangat baik-baik saja itu.
" Hmm..Hmm.. Sensei setuju. Sepertinya masakan ibu Nagisa memang enak." Koro sensei bergumam. Namun benar-benar out of topic. Nakamura melirik kesal pada senseinya. Sedangkan Karma, hanya menatap Nagisa ambigu. Matanya datar seperti biasanya. Namun penuh dengan maksud yang tak bisa diungkapkan. Ibu Nagisa mulai berbicara. Dan Nagisa menanggapinya dengan senyuman.
" Ah, aku tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan!" Nakamura berdesis kesal. Kemudian sebuah tentakel menelusup ke telinganya.
" Sensei sudah meletakkan alat penyadap yang sensei buat. Dan itu terhubung dengan tentakel sensei. Nurufufufufufu~" Nakamura dan Karma melirik kearah Koro sensei.
" Dia benar-benar niat bergosip!" Pikir keduanya. Kemudian sayup-sayup mereka mendengar percakapan kedua insan yang tengah menikmati makan malam itu.
" Jadi, apa Nagisa-chan masih bertemu dengan ayahmu?" Tanya Ibunya. Nagisa tampak tertegun lantas tersenyum.
" Um. Kami bertemu beberapa kali." Jawab Nagisa. Sang ibu nampak menghela nafas.
" Kaa-chan sudah bilang kan? tak baik kau terus menemuinya. Ayahmu itu yang memilih meninggalkan kita, Nagisa-chan." Ujar sang ibu. Nagisa hanya tersenyum gugup. Kemudian mereka melanjutkan makan malam dalam hening. Hingga akhirnya mereka selesai menyantap makan malamnya, barula ibu Nagisa mulai membuka mulut kembali.
" Ah, Nagisa.. mulai besok kau tidak perlu datang kesekolahmu lagi." Ujar ibunya. Hal itu sontak membuat Nagisa beserta Koro sensei dan Nakamura terbelalak. Karma? Tetap datar.
" Maksud Kaa-san? Kenapa aku tak perlu kembali kesekolah?" Tanya Nagisa. Sang ibu tersenyum penuh arti. Nagisa merasakan wajah ibunya menggelap meski tersenyum. Kemudian sang ibu bangkitnya dan mengisyaratkan agar Nagisa mengikutinya. Nagisa menggigit bibirnya dan berjalan mengikuti ibunya.
" Mereka pindah lokasi! Dan apa maksudnya itu? Karma-kun! Kenapa kau sesantai itu?" Nakamura mulai mengeluarkan protesnya. Karma hanya meliriknya sekilas.
" Kalau begitu ayo kita memutar!" ajak Koro sensei. Mereka segera mencari lokasi pengupingan berikutnya. Dan ternyata lokasi berikutnya adalah kamar Nagisa sendiri. Disana, sang ibu nampak tengah mengeluarkan beberapa buntelan kain.
" Nah, Nagisa-chan.. ibu sudah membeli beberapa baju yang pasti cocok untuk Nagisa-chan. Dan coba tebak? Teman ibu bilang, kau bisa menjadi model desain baju yang ia rancang mulai besok! Karena itu, ibu akan mendatangkan guru private agar kau tidak perlu pergi kesekolah." Ujar ibunya bersemangat. Berbeda dengan Nagisa yang memucat. Di luar jendela, Nakamura melebarkan matanya. Ia tahu baju itu! Desainernya memang sedang naik daun saat ini. dan Nagisa akan menjadi model untuk baju desainnya? Itu memang hebat menurut Nakamura. Tapi, Nakamura ingat sesuatu. Dan itu bukanlah hal yang wajar. Ibu Nagisa tidak tau tentang perubahan gender Nagisa. Dan Nakamura sangat yakin bahwa, Hayasaka Yukine, adalah desainer produk wanita.
" Nah, Nagisa-chan, ayo kita coba baju-baju ini!" sang ibu mulai membuka buntelan-buntelan itu. Menampakkan beberapa mode baju wanita terbaru. Nagisa hanya bisa diam. Hatinya berteriak memberontak. Tapi mulutnya enggan terbuka. Sang ibu mulai melepaskan ikatan rambut Nagisa. Kemudian Nagisa tersentak. Ia baru ingat bahwa sekarang ia adalah perempuan. Dan ibunya tak tau tentang itu. Sontak Nagisa segera menangkap pergelangan tangan ibunya saat sang ibu akan membuka kemeja Nagisa. Sang Ibu hanya menatapnya penuh tanda tanya.
" Ada apa, Nagisa-chan?" Tanya ibunya. Nagisa menelan ludah. Sekarang apa yang harus ia katakan?
" Ah.. ibu.. mungkin, aku.. ingin agar aku tetap berangkat kesekolah saja." Jawab Nagisa. Sang ibu terdiam sebentar. Kemudian tangannya dengan dingin menampar pipi Nagisa. Nagisa terjengkang dan terduduk diatas kasurnya sendiri. Tangannya meraba pipinya yang memerah. Telinganya berdenging. Sedangkan ketiga pengintip melebarkan matanya. Nagisa menunduk. Mustahil. Jika sudah seperti ini, ia tak akan bisa melawan sang ibu.
" Ah, coba lihat.. aku memukulmu, Nagisa-chan.. wajahmu merona karena pukulanku. Lihat.. kalau kau memakai baju ini, pasti akan nampak sempurna." Nagisa menggigit bibirnya.
" Psst.. Karma-kun! Kalau kau tahu ini yang biasanya terjadi pada Nagisa, harusnya kau memberitahu kami lebih awal!" Nakamura menatap Karma tajam. Karma masih terdiam. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia tahu bahwa sang ibu selalu memaksa Nagisa memakai pakaian wanita. Namun ia tak pernah tau bahwa ibu Nagisa segila itu.
" Aku.. aku baru tahu.." Jawab Karma. Nakamura terdiam mendengar pengakuan Karma.
" Nah, lihat? Kau cocok sekali.. meskipun kemeja ini terlihat mengganggu." Suara Ibu Nagisa mengalihkan perhatian Nakamura. Ia kembali menoleh dan melihat sang ibu tengah mencoba pakaiannya kepada Nagisa yang sudah kembali berdiri didepan cermin.
" Nah, kalau begitu.. yang lain bisa kau coba juga. Kaa-san akan membereskan meja makan. Nagisa-chan, kau bisa menjadi model terkenal dalam waktu singkat. Kau juga bisa pintar tanpa harus pergi kesekolah. Guru private yang akan Kaa-san datangkan, sudah terbukti kualitasnya. Jadi, turuti apa kata Kaa-san. Dan saat kau sudah terkenal nanti, Kaa-san harap kau tidak lagi menemui ayahmu. Dia hanya akan meraup keuntungan darimu, Nagisa-chan." Sang ibu meraih rambut lembut Nagisa dan merabanya. Tangan Nagisa terkepal. Tubuhnya bergetar. Kemudian mulutnya terbuka.
" Kaa-san salah.. kaa-san tidak akan bisa membuatku cerdas hanya karena guru private itu. Dan Kaa-san salah besar tentang Tou-chan! Tou-chan bukan orang seperti itu!" Gumam Nagisa. Suaranya bergetar. Sang ibu terdiam sejenak, kemudian matanya mulai menggelap. Tangannya meraih rambut Nagisa dan menariknya keras. Mengguncang-guncangkan tubuh Nagisa keras.
" KAU PIKIR KAA-SAN SALAH? HAH? GURU ITU AKAN MEMBANTUMU KELUAR DARI KELAS TERKUTUK ITU! KAU PIKIR, KAA-SAN BISA SALAH? KENAPA KAU MULAI BRANI MEMBANTAH KAA-SAN, HMM?" Sang Ibu mulai lepas kendali. Ia menggenggam erat rambut Nagisa. Membuat Nagisa meringis kesakitan. Nagisa sadar bahwa ia sudah melakukan kesalahan.
" Go..gomenn.. okaa-san.. gomen.. ugh.." Nagisa merintih. Diluar, ketiga orang itu masih tak sanggup mengatakan apapun.
" Gomen?" Sang ibu melepaskan genggamannya dari rambut Nagisa. Kemudian ia berjalan kearah sebuah lemari kecil. Kemudian dari kantong bajunya, ia mengeluarkan sebuah kunci dan menyeringai kearah Nagisa. Nagisa menatap ngeri pada ibunya dan lemari kecil itu.
" Nagisa-chan… wajahmu sangat manis.. wajah ketakutan itu.. tapi maafkan kaa-san.. kau tetap harus dihukum karena sudah berani mengatakan bahwa kaa-san salah. Kaa-san tak pernah salah dalam mendidikmu." Sang ibu nampak memilih-milih sesuatu. Kemudian tangannya mengambil sesuatu. Ia menarik kelua sebuah tongkat kayu tipis. Nagisa menunduk.
" Saa~.. mana tanganmu?" Nagisa diam. Kemudian dengan tak sabaran, sang ibu mengayunkan tongkat tersebut kedada Nagisa. Nagisa mengernyitkan matanya. Menahan sakit.
" Kau masih membantah ibu? Ah, ibu tahu.. pasti ayahmu yang menyuruhmu bukan? Kau bahkan memanggilnya tou-chan? Hahahaha… kalian bersekongkol untuk mengalahkanku? Tidak akan pernah, Nagisa chan ku sayang.. anakku yang cantik.." Nagisa merasa tangannya terangkat dan mendapatkan pukulan menyakitkan disana. Sang ibu kemudian memulai siksaannya. Tongkat itu mulai mengayun tak tentu arah. Sedangkan Nagisa hanya bisa menggigit bibirnya. Menahan sakit yang mendera sekujur tubuhnya. Nakamura merasa nafasnya sesak. Kemudian ekor matanya melirik pemuda bersuari merah itu. Wajahnya tak lagi datar. Alisnya bertaut.. matanya menyipit.. kepalanya menunduk.. Akabane Karma marah! Karma menepalkan tangannya. Ia sudah akan melompat masuk saat terdengar suara bel rumah yang dibunyikan berkali-kali. Ibu Nagisa menghentikan ayunan tongkatnya.
" Ck.. siapa yang berani mengganggu kesenanganku dengan anakku tersayang?" Sang ibu meletakkan tongkat diatas meja dan menoleh kearah Nagisa. Kemudian ia tersenyum.
" Nagisa-chan, Ibu akan kedepan sebentar.. dan hukumanmu belum selesai. Sampai kau menyetujui perkataan ibu tadi. Ne?" Sang ibu menutup pintu kamar Nagisa. Nagisa terduduk. Rasanya masih sangat sakit. Kemudian ia merasakan sesuatu membungkus tubuhnya. Kemudian ia merasakan bahwa ia tengah tertiup angina yang kencang. Dan detik berikutnya, ia sudah berada ditempat lain. Bukan kamarnya yang penuh bencana itu. Mata biru Nagisa mengerjap bingung. Kemudian ia baru sadar bahwa ia tidak sendirian. Nagisa melihat kedua pasangan iblis dan senseinya.
" Nagisa-kun-chan, kau hanya perlu meminta padaku. Pasti sensei akan menolongmu." Ujar Koro sensei. Kemudian matanya bertemu dengan manik biru Nakamura. Nakamura tengah menatapnya khawatir. Tentu saja khawatir jika melihat keadaan temanmu yang penuh dengan bekas pukulan.
" Nagisa-chan.. " Nakamura tidak tau apa yang harus ia katakan. Kamudian Nagisa menatap Karma yang menundukkan keplanya. Nagisa hanya bisa tersenyum lemah..
" Gomenne, aku merepotkan kalian." Ucapnya.
" Iie.. justru sensei senang kau.. baik-baik saja." Sang Gurita berkata ragu. Melihat keadaan Nagisa, ia tak tau apa itu pantas disebut baik-baik saja. Nagisa tersenyum ramah dan mengangguk.
"um. Jadi, apa yang membunyikan bel rumahku adalah Koro sensei?" Tanya Nagisa.
" Tentu saja.. sensei rasa, itu cukup untuk membawamu kemari." Jawab Koro sensei. Nagisa tertawa renyah. Nakamura masih menatapnya khawatir. Dalam hati ia bertanya.. apakah ini yang harusnya ia nampakkan? Berwajah cerah seperti biasanya padahal ia baru saja mengalami hal mengerikan macam itu. Kemudian matanya kembali melirik Karma. Entah apa yang dirasakan karma saat ini, Nakamura Rio hanya mengerti satu hal. Karma sedang mengutuk dirinya sendiri!
" Nah, Sensei rasa, kau harus mengobati luka itu. Tentu saja tidak dirumahmu. Mau sensei antar ke rumah ayahmu?" Nagisa dengan cepat menggeleng.
" Tidak sensei.. itu bukan pilihan bagus.
" ah, kalau begitu bagaimana kalau kau menginap dirumahku malam ini?" Tawar Nakamura.
" Rumahku." Gumaman Karma terdengar sebelum Nagisa sempat merespon tawaran Nakamura.
" Kau.. bisa bermalam dirumahku. Selain itu, ada yang ingin kubicarakan denganmu." Lanjut Karma. Nada suaranya dingin.
" Hei..hei.. Nagisa butuh istirahat. Lagipula Nagisa kan perempuan! Apa kau lupa?" Nakamura mengingatkan. Kemudian ia meras atepukan hangat dipundaknya. Nagisa menggeleng pelan dan tersenyum.
" Tidak apa-apa, Nakamura-san. Sensei, aku akan menginap dirumah Karma-kun malam ini." Ujar Nagisa.
" demo.."
" Baiklah.. kalau begitu sekarang sensei akan mengantar kalian pulang." Koro sensei langsung membawa mereka pergi dari tempat itu.
99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
-TBC
Kyaaaa amaya tau ini ooc sangat XD
Tapi entah kenapa Amaya ingin sang ibu Nagisa jadi psikopat*plak
Amaya tetap berharap fic ini bisa menghibur minna sekalian.. Karena itulah amaya disini (?)
Qiessa-san: Halo ^^/ wah bertemu anda disini sangat menyenangkan XD. Hehehe… Amaya sedang syndrome AnK XD. Arigatou sudah mampir.. terus beri saya kritik dan saran ya, senpai! ^.~
Ranachi: arigatou sudah mau membaca fic ini ^^/ Yoroshiku ne…
Hehehe… ga perlu muluk-muluk kalau bayangin. Karena Nagisa ga berubah pun udah nampak wanita :D. doakan saya selalu penuh ide horror XD
Kurohasi Yoga-kun:Arigatou hehehe… syukurlah jika fic ini bisa menghibur. Genrenya? Masih absurd. Wkwkwk..
Little Snowdrop-san: nyehehehe… Karma mulai lapar*plak* Ah, catatan itu? Belom.. belom.. Karma sama Nagisa saking sibuknya bikin Gosip sampai Karma belum ngasih itu catatan. Amaya akan berusaha agar fic ini bisa terus menghibur ^^. Arigatou .
Wako: hehehe… entahlah.. author dilanda kegalauan XD*plak* Arigatou sudah mampir ^^/
Dan untuk Kalian yang sudah membaca karya absurd ini, Arigatou Gozaimasu ^^.
Dan semoga chapter ini juga bisa mendapatkan masukan dari reders sekalian. Baik melalui review atau PM langsung. Saya terima dengan senang hati ^^/
Jaa!
