Yo Minna, Kunudon desu!*plak
Amaya disini ^^/
Setelah sampai tiga chapter yang menegangkan * tidak sama sekaliiii*, kini kita sudah menginjak chapter 4. Hiks.. hiks.. terharu. Saya bisa sejauh ini karena kalian * lambaikan tangan
Nah, mempersingkat waktu, Amaya ingatkan, ansatsu Kyoushitsu hanya milik Yuusei Matsui seorang. Jangan diambil ambil yaaa… kalau Karma dan Nagisa milik saya*plak.
Mengandung banyak kehororan, ketidak jelasan dan ketegangan (?)
Selamat membaca ^^/
Chapter: 4
Free time ?
Nagisa memasuki rumah Karma. Kemudian berjalan membuntuti Karma. Rumah Karma tegolong mewah. Namun Kurapika tidak merasakan adanya orang lain dirumah semewah itu.
" Ng.. Karma-kun, kemana paman dan bibi?" Tanya Nagisa.
" Hmm? Mereka sedang pergi ke New York untuk menghadiri acara pelelangan barang antic." Jawab Karma sambil melepas cardigan hitamnya.
" Hmm…" Nagisa mengangguk-angguk mengerti. Kemudian matanya kembali asyik melihat-lihat interior rumah Karma. Dalam hati ia bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya ingin Karma bicarakan dengannya? Sikap Karma sudah tidak sedingin tadi. Nagisa bisa melihat garis detak jantungnya yang stabil. Tidak ada masalah sejauh ini. Karma bersikap sangat biasa. Seakan-akan Nagisa memang sengaja datang untuk menginap dirumahnya malam itu.
" Ne, Nagisa.. aku akan mandi dulu. Kau tidak keberatan jika harus menunggu sebentar bukan? Kau bisa menunggu dikamarku kalau kau mau." Tawar Karma. Nagisa mengangguk setuju dan berjalan mengikuti karma. Karma membuka pintu kamarnya. Kemudian ia berjalan kearah lemari dan mengeluarkan pakaian dari dalam lemari.
" Ini. mungkin sedikit longgar untukmu. Tapi, itu lebih baik dari pakaianmu sekarang." Karma melemparkan baju itu kepada Nagisa. Nagisa menangkap baju itu dan menatap Karma bimbang.
" Ano.. Karma-kun,-"
" Nanti." Jawab Karma tanpa menoleh kearahnya. " Kita bicarakan nanti." Lanjutnya. Nagisa terdiam mendengar kedinginan dalam suara itu. Ia memilih mengangguk dan membiarkan Karma melangkah memasuki kamar mandi. Sahabatnya memang berubah sedikit aneh akhir-akhir ini. Mungkin Nagisa harus menyebutkannya sebagai, sedikit protektif? Biasanya ia tidak akan memaksa meskipun Karma pada dasarnya memang secara tidak langsung akan mengkhawatirkan Nagisa jika ia terlibat bahaya. Tapi ia tak pernah memaksa. Baru kali ini ia melihat Karma yang memaksanya tidak menghadapi 'bahaya'.
" Mungkin karena sekarang aku adalah wanita?" Pikirnya. Ia duduk di tepi kasur milik Karma. Ia tak tau. Memikirkan hal itu membuat Nagisa sedikit bingung. Akhirnya ia memutuskan untuk menunggu saja. Ia yakin Karma akan memberitahunya jika ia menanyakannya. Kemudian ia beranjak untuk mandi setelah Karma mengatakan bahwa air hangat untuk Nagisa sudah siap.
Skip time..
" Ugh.. Karma-kun,pelan pelan!" Nagisa merintih menahan sakit. Karma menghentikan gerakan tangannya.
" Hmm.. Kau harus menahannya, Nagisa~" Karma tersenyum jahil dan malah bersemangat mengoleskan obat kesetiap lebam di lengan Nagisa.
" Ittai! Karma-kun!" Nagisa menoleh dan menatap kesal kearah sahabatnya yang justru sudah tersenyum ala Koro sensei.
" Hee.. Kau benar-benar sudah menjadi wanita seutuhnya ya, Nagisaa.. kau bahkan merengek seperti yang biasa dilakukan para gadis." Goda Karma.
" Aku tidak merengek. Dan aku laki-laki!" Protes Nagisa.
" Hmm… aku ragu.." Karma menarik tangan Nagisa dan menangkupkan wajah mungil Nagisa diantara kedua telapak tangannya. Matanya menatap tepat ke manik biru cemerlang milik Nagisa. Wajahnya Innocent dan senyumnya masih sama. Senyum santai. Nagisa membeku ditempat mendapat perlakuan aneh dari Karma. Sahabatnya memang sudah aneh. Ia dan Karma memang terbiasa mengobrol berdua. Tapi Nagisa ingat betul bahwa wajah mereka tak pernah sedekat itu. Nagisa mulai kebingungan. Apa yang harus dilakukannya? Dan wajahnya bereaksi tanpa peringatan.
" BLUSH" semburat merah berjalan cepat diwajah Nagisa. Karma yang melihat itu hanya mengerjapkan matanya. Itu.. Karma segera membalikkan badan Nagisa dan menyibak rambut biru Nagisa. Kemudian dengan hati-hati tangannya mengoleskan obat ke tengkuk Nagisa. Nagisa hanya bisa mengerjapkan matanya bingung dengan apa yang sudah terjadi.
" Ka..karma-kun?" Panggil Nagisa ragu. Karma tidak menjawab. Nagisa sudah akan menoleh saat tangan Karma menahan kepala Nagisa.
" Jangan menoleh. Kau akan membuatku kesusahan mengoleskan obat ini." ujar Karma. Nagisa bisa mendengar nada santai seperti biasanya. Kemudian ia tersenyum kecil. Ia lega ternyata sahabatnya hanya sedang jahil seperti biasanya. Kemudian wajah Nagisa berubah saat memutar kembali kejadian beberapa detik yang lalu.
" Hahaha.. jadi apa ini jenis candaannya kepada sahabatnya yang berubah jenis menjadi perempuan? Ugh.. aku harus lebih hati-hati dengannya." Sumpah Nagisa dalam hati. Sedangkan dibelakangnya, Karma mengoles obat ke lebam Nagisa dengan usaha konsentrasi yang tinggi. Wajahnya masih memerah.
99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
Makan malam yang hening keduanya duduk didepan televisi sambil menikmati pizza yang dipesan oleh Karma setengah jam yang lalu. Karma nampak asyik menonton acara didepannya. Sedangkan Nagisa berkali-kali melirik gelisah kearah Karma. Sungguh, Nagisa sudah penasaran setengah mati dengan apa yang sebenarnya ingin dibicarakan oleh Karma. Tapi nampaknya Karma masih tak berminat membicarakannya. Nagisa menghela nafas dan berdiri. Membuat Karma harus mendongak menatap teman birunya itu heran.
" Aku.. aku rasa aku akan tidur lebih dulu, Karma-kun." Pamit Nagisa. Karma terdiam kemudian meraih remote tv dan mematikannya. Nagisa menatapnya bingung. Kemudian Karma menepuk nepuk permukaan sofa yang tengah didudukinya. Mengisyaratkan agar Nagisa duduk disebelahnya. Nagisa mengerti. Mungkin Karma akan membicarakannya sekarang. Nagisa segera menempatkan diri disebelah Karma.
" Ne, Nagisa." Panggil Karma.
" Hm?" Nagisa melihat Karma menggenggam tangannya sendiri.
" Aku ingin tau." Ucap Karma. Nagisa mengernyit bingung.
" Apa.. yang ingin kau tau, Karma-kun?" Tanyanya. Karma menoleh.
" Semuanya. Semua yang sebenarnya terjadi antara dirimu dan ibumu." Ujar Karma dengan wajah santai. Nagisa menelan ludah. Ia tau meskipun ekspresi Karma yang kelewat santai seperti itu, Karma sedang menuntut jawaban yang jelas. Bukan sekedar tidak ada yang terjadi atau semisalnya.
" Apa hal seperti tadi terjadi setiap hari?" Tanya Karma lagi. Nagisa terdiam kemudian menggeleng.
" Tidak.. terkadang, aku pulang lebih dulu dari beliau. Dan biasanya aku sudah tidur saat beliau lembur." Jawab Nagisa.
" Jadi, kau ingin mengatakan bahwa itu tidak terjadi jika ibumu tak sempat bertemu denganmu. Dengan kata lain, setiap kali kau harus pulang lebih lambat dari ibumu, hal itu akan terjadi..begitu?" Jelas Karma. Nagisa tertegun. Kemudian menggeleng.
" Tidak juga.. " Jawabnya ragu. Karma melirik sahabatnya itu.
" Hmm.. apa lagi yang kau tanggung sendiri seperti itu, Nagisa?" Gumam Karma. Nagisa bisa menangkap nada kesal dalam suaranya. Meskipun itu benar-benar samar. Keduanya terdiam beberapa saat.
" Ne, apa.. kau tak pernah berfikir untuk tinggal bersama ayahmu saja?" Tanya Karma.
" Aku.. entahlah.. yang jelas, aku tau bahwa Kaa-san membutuhkanku."
" Dan membiarkanmu menjadi bonekanya?" Balas Karma cepat. Nagisa terdiam.
" Ne, Nagisa.. kau tidak harus menahan diri selama itu. Kau bisa katakan apa yang kau mau bukan? Apa ibumu terlalu tak berperasaan sampai tak mau mendengarmu sekali saja?" Tanya Karma. Sebenarnya ia ragu dengan kalimatnya sendiri. Setelah melihat perlakuan ibu Nagisa tadi, tanpa ditanyapun, Karma mengerti bahwa ibunya tak berperasaan. Nagisa menundukkan kepalanya. Ia sudah mengatakan berkali-kali bahwa ia tak ingin ibunya menganggap Nagisa sebagai anak perempuan. Baiklah, ia perempuan sekarang. Tapi setidaknya dulu ia laki-laki.
" Ng, Gomen kalau kalimatku terlalu kasar. Tapi.. kau harus melawannya, Nagisa. Mungkin kau menyayanginya dan tak ingin membuatnya kecewa. Tapi.." Karma menghadapkan dirinya kearah Nagisa. Kemudian ia menepuk kepala Nagisa.
" Bukan berarti kau harus menghancurkan dirimu sendiri untuk membuat orang lain bahagia." Lanjutnya. Kemudian ia mengacak rambut Nagisa dengan berlebihan. Lalu dengan wajah tak berdosa ia beranjak meninggalkan Nagisa.
" Karma-kun! Apa yang kau lakukan?" Protes Nagisa. Sedangkan Karma kini tengah berjalan dengan ekor dan tanduk iblisnya. Nagisa dengan langkah kesal menyusul Karma. Namun kemudian bibirnya tersenyum.
" Bukan berarti kau harus menghancurkan dirimu sendiri untuk membuat orang lain bahagia." Entah kenapa perkataan Karma barusan membuat hatinya hangat.
" Ne, Karma-kun.." Panggil Nagisa. Karma menghentikan langkahnya dan menoleh.
" Arigatou." Kata Nagisa. Karma hanya tersenyum dan melambaikan tangannya.
9999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
" Nyunyanyunyanyunyanyunya.." Koro sensei berjalan dengan gelisah. Sedangkan para murid hanya menatap sensei mereka bingung.
" Ano.. Nagisa-chan, kenapa kau mengurai rambutmu?" Tanya Kayano.
" Eh? Aku hanya terlambat bangun dan tak sempat menguncirnya." Jawab Nagisa. Kayano mengangguk-angguk.
" Lalu, tidak biasanya kau membiarkan lengan kemejamu panjang. Biasanya kau melipatnya sampai siku bukan?" Tanya Kayano lagi.
" I..ie.. tidak apa kan kalau aku tidak melipatnya?" Nagisa berusaha mengelak. Disebelah kanan Nagisa, Nakamura menatap Nagisa dan tersenyum kecil. Hanya dia dan Karma lah yang tahu alasan Nagisa membiarkan rambutnya terurai. Untuk menutupi luka dan lebam di tubuhnya.
" Hmm.. sepertinya aku harus menyelamatkannya." Ujar Nakamura dalam hati.
" demo..-"
" Kayano-chan, kau bisa membantuku pulang sekolah nanti?" Bisik Nakamura. Kayano menoleh
" eh? Ada apa, Nakamura-chan?" Tanya Kayano.
" Aku ingin membelikan pudding yang enak untuk ibuku. Tapi aku tidak tau toko yang menjual pudding dengan kualitas yang bagus, ne? onegai.." Pinta Nakamura. Mata Kayano langsung berbinar. Kemudian ia mengangguk dengan semangat. Pertanyaannya pun terlupakan jika sudah dialihkan dengan kata pudding. Nagisa menoleh kearah Nakamur dan tersenyum. Nakamura mengedipkan matanya.
" Arigatou." Nagisa menggerakkan bibirnya tanpa suara.
" Na.. Nagisa-kun, chotto, ada yang ingin bertemu denganmu." Suara Bitch sensei terdengar dari pintu. Koro- sensei ikut menoleh dan mulai berkeringat dingin.
" Etto.. irina sensei, siapa yang ingin bertemu dengan Nagisa-kun?" Tanyanya.
" Hmm? itu.. dia bilang dia i.."
" Mohon anda bersabar, Shiota-san." Terdengar suara Karasuma sensei dari arah ruang staff. Bitch sensei melebarkan matanya dan segera melotot kearah Koro-sensei.
" Sembunyikan dirimu!" Perintahnya. Koro sensei segera melesat entah kemana. Sedangkan Nagisa membeku di tempat duduknya. Shiota..san?
GREEK
Dan benar saja. Sosok ibu Nagisa kini berdiri diambang pintu. Matanya menatap sekeliling dan berhenti tepat disurai biru sang anak satu-satunya. Kemudian dengan langkah cepat, ia berjalan lalu
"PLAK"
Nagisa memegang pipinya yang memanas. Semua anak terhenyak. Seorang Nagisa Shiota mendapat pukulan dari ibunya sendiri? bukankah Nagisa adalah anak penurut?
" Nagisa shiota." Panggil ibunya geram. Kemudian seakan tak ada yang melihat, sang ibu menarik surai biru Nagisa kasar.
" Ugh." Nagisa memegang kepalanya.
" Berdiri!" Bentaknya. Teman-teman Nagisa yang duduk di bangku belakang Nagisa terhenyak melihat leher yang biasanya putih tanpa bercak apapun, kini dipenuhi lebam. Kayano menatap ngeri. Karena itu Nagisa mengurai rambutnya?
" Ikut Kaa-san keluar, sekarang!" Nagisa berjalan terseok-seok. Rambutnya masih berada dalam genggaman kasar sang Ibu. Kemudian kelas hening saat Nagisa dan ibunya sudah menghilang dari kelas. Lalu mulailah suara-suara bermunculan.
" a..apa-apaan itu?" Suara Maehara yang pertama kali terdengar. Nakamura menoleh kearah Karma. Tunggu, kemana makhluk merah itu?
" Masaka.." Nakamura bergumam khawatir kemudian memutuskan untuk mengikuti Nagisa. Tak menghiraukan teriakan Karasuma sensei. Semua Murid saling menoleh dan mengangguk. Kemudian mereka mulai berhamburan keluar tanpa satupun yang mau mendengar perintah Karasuma sensei untuk tetap dikelas. Bahkan Kataoka dan Isogai ikut berlari dibelakang teman-temannya. Bukan untuk mengingatkan seperti biasanya. Namun lebih karena mereka berdua tak kalah khawatir akan nasib Nagisa. Karasuma hanya bisa menghela nafas dan berjalan menyusul para muridnya.
Ditempat Nagisa..
" Katakan, kenapa kau berani meninggalkan ruanganmu tadi malam? Hm?" Tanya Ibu Nagisa masih menjambak rambut Nagisa. Nagisa yakin rambut birunya sudah rontok banyak di tangan ibunya.
" Go..gomennasai.." Ujar Nagisa lirih. Ia tidak tahu harus menjelaskan apa pada ibunya. Memberitahu fakta bahwa ia diculik oleh gurita berkecepatan 20 mach jelas bukan pilihan bagus.
" Gomennasai? Kau meminta maaf pada Kaa-san, sayang? Kau tau Kaa-sanmu ini pemaaf, ne?" Nagisa melirik sekilas kearah ibunya.. gelap.. ibunya akan memulai aksi penyiksaan sebentar lagi. Terkadang Nagisa harus bersyukur dengan skill yang dia dapat saat melawan hitman dengan code name shinigami itu. Berkat tepukan Nekodamashi dari hitman itulah, Nagisa bisa merasakan emosi seseorang. ( lihat chapter…* lupa XD)
" Saa.. Nagisa-chanku yang berharga.. kau tau cara yang tepat agar Kaa-sanmu ini mau memaafkanmu.." Ibu Nagisa mengayunkan Kepala Nagisa dan membenturkannya ke tanah dengan Keras. Nagisa merasa Kepalanya sakit.
" Atau perlu Kaa-san lanjutkan hukumanmu tadi malam? Kau tau, Kaa san sangat mengkhawatirkan Nagisa-chan." Sang Ibu mengangkat wajah Nagisa. Kemudian mengusap cairan merah dari dahi Nagisa.
" Hmm? Kau berdarah.. lihat.. warna merah yang cantik.." sang ibu tersenyum senang. Nagisa menunduk. Ia pasrah.. ia bingung.. tentu saja ia tak mungkin menyalahkan takdir karena dilahirkan dari seorang wanita yang mungkin jika diperiksakan sudah mengidap psikopat itu.
" Apa Nagisa-chan tidur nyyak tadi malam? Kaa-san sama sekali belum tidur. Kaa-san mengkhawatirkan Nagisa-chan.. apalagi Nagisa-chan anak yang manis dan cantik.. Kaa-san khawatir kau akan digoda oleh laki-laki jahat." Sang ibu memeluk Nagisa. Kemudian ia menarik kepala Nagisa dengan kasar.
" Tapi tenang, Nagisa-chan.. hanya Kaa-san yang boleh menghukum Nagisa-chan.. bukan orang lain. Ne?" Nagisa masih menunduk. Ia akhirnya tau.. untuk inilah ia hidup. Menjadi pelampiasan jiwa sang ibu yang menurutnya mengalami gangguan. Menjadi mainan untuk ibunya dan membahagiakan sang ibu dengan semua luka dan rasa sakit. Ya, dia hidup untuk itu.
" Bukan berarti kau harus menghancurkan dirimu sendiri untuk membuat orang lain bahagia." Nagisa tersentak. Perkataan Karma entah kenapa kembali melintas dipikirannya. Nagisa mengangkat wajahnya saat mendengarkan langkah kaki yang mendekat.
" Karma-kun.." Panggil Nagisa. Ibu Nagisa menoleh dan mendapati Karma yang tengah berdiri mematung.
" Ah, Karma-kun.. lama tak bertemu." Sapa Ibu Nagisa dengan nada yang benar-benar wajar. Karma menatap anak dan ibu itu bergantian. Kemudian menggaruk kepalanya melihat tingkah ibu Nagisa.
" Wanita ini benar-benar sudah terganggu pikirannya." Pikir Karma. Ekspresi wajahnya biasa saja.
" Apa yang anda lakukan pada Nagisa?" Tanya Karma sopan.
" ah, ini.. aku hanya menghukumnya. Semalam ia sangat nakal. Kemudian ia kabur. Jadi aku tak sempat menghukumnya semalam." Jawab Ibu Nagisa dengan senyum. Tepat saat itu para siswa kelas 3-E mulai berdatangan. Mereka mendengar cara Ibu Nagisa menjawab pertanyaan Karma. Benar-benar terlampau normal untuk seseorang yang tengah melakukan kekerasan.
" Ah, mereka teman-temanmu, Nagisa-chan?" Tanya ibunya. Nagisa hanya mengangguk.
" Nagisa-chan." Pekik Kayano saat melihat darah yang megalir dari dahi Nagisa.
" Oh, kau mempunyai banyak teman ne, Nagisa-chan." Ujar ibunya lagi. seluruh murid mulai memasang ekspresi ' apa-apaan ini? dia tidak normal.'
" Ano sa~ bibi bilang, akan belum sempat menghukumnya? Tapi tadi malam aku mengobati banyak luka. Apa, itu belum termasuk hukuman?" Tanya Karma. Kali ini entah bisa dibilang sopan atau tidak. senyum menyebalkan miliknya sudah terpasang disana. Nagisa hanya bisa berdoa semoga Karma tak berbuat bodoh. Meskipun Nagisa tau temannya itu akan tetap berbuat bodoh. Ibu Nagisa terdiam. Kemudian ia menoleh kearah Nagisa.
" He.. Nagisa-chan menginap ditempat Karma-kun? Ternyata selera Nagisa-chan bagus ya? Kenapa tak pernah mengatakan kepada Okaa-san?" Sang ibu menarik rambut Nagisa. Nagisa meringis. Tapi dalam hati ia berteriak.
" KAMI TIDAK SEPERTI YANG KAA-SAAN DUGAA!" Karma hanya mengerutkan alisnya mendengar pernyataan Ibu Nagisa. Sedang para murid kelas 3-E nampak sweatdrop. Mereka ingat betul bahwa ibu Nagisa tak tau bahwa Nagisa sudah berubah menjadi perempuan tulen.
" Sabar, Nagisa.. Maafkan kami, tapi ibumu tidak normal." Pikir mereka.
" Ah, Nagisa-chan.. Ibu sudah menyiapkan sesuatu untukmu dirumah. Jadi bagaimana kalau kita pulang saja, ne?" Tanya sang ibu. Nagisa tau tidak ada jawban yang harus dia pilih. Dia hanya harus menjawab iya.
" Sumimasen, Shiota-san.. tapi Nagisa masih harus mengikuti kelas. Jadi..-"
" Tak apa.. aku akan mengurus semuanya. Nagisa tidak akan datang kesekolah lagi setelah ini. ne, Nagisa?" Sang ibu meminta persetujuan. Kemudian tanpa menunggu jawaban Nagisa, ia menarik tangan Nagisa. Tepat saat itulah tangan Karma meraih pergelangan tangan Nagisa yang bebas. Ibu Nagisa berhenti berjalan dan menoleh. Ia mendapati tatapan marah dari para murid kelas 3-E, dan tatapan datar dari seorang Akabane Karma.
" Maaf mengganggu perjalanan anda, tapi.. apa kau tau bahwa akulah yang datang menculik PUTRAMU tadi malam?" Tanya Karma. Ia menekankan kata Putera untuk melihat ekspresi sang ibu. Nagisa menatap Karma panic.
" Kau bilang.. apa?" Tanya Ibu Nagisa.
" He… harusnya yang daya pendengarannya menurun itu Nagisa-kun! Seingatku, kau yang sering memukulinya bukan? Jadi kenapa kau yang tanpa cedera justru berubah tuli seperti ini?" Tanya Karma santai sambil tersenyum. Di depannya, Nagisa mulai brekspresi aneh.
" Ugh.. Karma-kun.. kau sangat hobi menyelam dalam masalah.-_-" Pikir Nagisa. Ibu Nagisa menggertakkan giginya. Namun bukan pada Karma, ia justru menoleh pada Nagisa. Menatap marah sang anak. Kemudian tanpa aba-aba sang ibu melepas pegangannya pada Nagisa dengan kesar dan membuka tasnya dengan cepat. Ia mengeluarkan tongkat kayu tipis yang Karma ingat digunakan untuk memukul Nagisa malam sebelumnya.
" Kalau begitu, sebaiknya kau kuhukum disini saja, ne.. Nagisa-chan.." Sang ibu mengayunkan tongkatnya. Namun bersamaan dengan pekikan para gadis kelas 3-E, tangan itu berhenti ditengah jalan. Sebuah tangan lain menggenggam pergelangan tangannya erat. Nagisa yang memejamkan matanya memberanikan diri untuk membuka mata. Kemudian matanya melebar.
" Otou..chan?"
99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
" Apa yang kau pikirkan, Hiromi?" Suara rendah ayah Nagisa terdengar. Melihat hal itu, Karasuma segera mengusir para murid kekelas. Karena menurutnya, ini adalah masalah keluarga. Namun baru setengah jalan mereka hendak kembali, mereka melihat gundukan kuning yang tengah asyik mengintai. Seakan ia tengah menonton dorama yang menayangkan puncak konflik. Jadilah para murid mengikuti jejak Koro sensei dengan mengintip dibalik tubuh kuningnya itu. Kecuali Karma yang saat itu masih berada di TKP. Ia membantu Nagisa berdiri. Sedangkan Ayah dan Ibu Nagisa nampak melakukan perang tatapan.
" Hiromi, kita perlu bicara." Ujar sang Ayah. Ibu Nagisa menyentak tangannya.
" Kau pikir siapa kau?" Jawabnya ketus.
" Hiromi, kau baru saja melukai Nagisa!" Ayah Nagisa berusaha mengingatkan.
" Melukai? Aku sangat menyayanginya. Jadi tidak mungkin aku melukainya. Aku hanya memberinya sedikit pelajaran. Iya kan, Nagisa-chan?" Tanya Ibunya. Nagisa hanya diam.
" Berhenti memanggilnya seperti ia adalah anak perempuan. Dia laki-laki, Hiromi!" Nagisa membelalak ngeri pada ayahnya. Nagisa tau pasti apa yang akan terjadi jika ibunya diingatkan dengan cara seperti itu.
" Kau.." suara Ibu Nagisa bergetar. " Enyah dari hadapanku!" Ibu Nagisa mengayunkan tongkatnya bukan kearah ayahnya. Tapi kearah Nagisa. Dengan sigap, sang ayah menarik tangan Sang Ibu.
" Nagisa-chan.. katakana pada laki-laki ini.. katakana bahwa kau senang bersama Kaa-san. Ne?" sang ibu tersenyum aneh. Nagisa menunduk. Disebelahnya, Karma menunggu apa yang akan diucapkan Nagisa. Tangannya menepuk pelan bahu Nagisa. Nagisa merasakan tangan hangat Karma di bahunya.
" Bukan berarti kau harus menghancurkan dirimu sendiri untuk membuat orang lain bahagia."
Perkataan itu lagi. Perkataan bijak yang langka. Karena Karma tak setiap hari akan berkata sebijak itu.
" Okaa-san.." Bibir Nagisa mulai membuka. Kemudian ia menatap manik hitam sang ibu. Tatapan yang menyiratkan ketegasan namun menyimpan kelembutan dibaliknya.
" Kaa-san.. aku menyayangimu." Ucap Nagisa. Sang ibu menyeringai.
" Tapi, aku ingin Kaa-san mencintaiku.. sebagai anak.." Lanjut Nagisa. Sang ibu mengernyit tak mengerti. " Bukan sebagai boneka." Tambah Nagisa. Sang ibu terhenyak..
" Kaa-san, aku ingin menjadi anakmu.. bukan menjadi bonekamu. Rambut ini.. aku memanjangkannya untukmu. Tapi aku tak bisa selamanya memilikinya.. akan ada waktu dimana aku harus memotongnya. Sama seperti waktu ini.. saat ini.. aku ingin berhenti, menjadi bonekamu." Ujar Nagisa. Sang ibu hanya bisa terdiam mendengarnya.
" Kaa-san, maafkan aku.. tapi, aku benar-benar ingin menjadi diriku sendiri. Memutuskan apa yang aku mau sebagai diriku. Bukan sebagai mainanmu. Kaa-san kumohon, berhentilah bermain denganku." Pinta Nagisa. Ia membungkuk. Karma tersenyum mendengar rentetan kalimat dari Nagisa. Kemudian ia ikut membungkuk. Ikut memohon. Disebelahnya, Nagisa melirik surai merah yang ikut membungkuk itu. Karma tersenyum kearahnya.
" Hiromi, sampai kapan kau akan hidup dalam imajinasimu.. kau harus bangun sekarang, Hiromi. Nagisa sudah harus kita lepas untuk mulai belajar memiliki kehidupannya sendiri. Sang Ibu tak bergeming. Kemudian sang ayah tersenyum kearah Nagisa. Nagisa yang sudah menegakkan badannya balas tersenyum.
" Tou-chan akan mengantar ibumu kesalah satu kenalan Tou-chan. Tou-chan harap ibumu bisa.. sembuh." Nagisa mengangguk.
" Arigatou, Tou-chan." Ucap Nagisa. Ayah Nagisa menggeleng.
" Kau harus berterimakasih pada mereka." Ayah Nagisa menunjuk belakang Nagisa. Disana ia melihat seluruh siswa kelas 3-E tengah membungkuk kearah Ibu Nagisa. Nagisa terperangah. Ayah Nagisa balas membungkuk.
" Terimakasih karena sudah berteman dengan anakku." Ujar ayah Nagisa lembut. Para siswa itu bangkit dari bungkukannya. Dan menatap penuh terimakasih pada ayah Nagisa yang sudah menyelamatkan teman mereka.
" Jadi, Nagisa.. mungkin Kaa-san tidak akan tinggal dirumah untuk sementara. Tapi tempat Tou-chan juga tidak bisa kalau harus ditambah orang lagi.."
" Mm.." Nagisa menggeleng pelan " Aku akan baik-baik saja tinggal sendirian di..-"
" Nagisa-kun, kau bisa tinggal dirumahku untuk sementara." Tawar Karma. Nagisa terbelalak. Ayah Nagisa menoleh.
" Oh.. benarkah? Kalau begitu, kutitipkan anakku padamu." Ucap Ayah Nagisa. Nagisa masih speechless.
" Kalau begitu.." Ayah Nagisa menarik Nagisa kepelukannya. " Gomen.. Kau pasti selalu kesakitan seperti ini ya?" Tanya ayahnya lirih. Nagisa tersenyum dan menggeleng pelan. Kemudian mereka melepas pelukannya.
" Sampaikan rasa terimakasihku pada guru guritamu itu." Bisik ayahnya. Sou.. Nagisa tau sekarang. Koro sensei pasti langsung menuju rumah ayahnya saat tau ibu Nagisa datang kesekolah. Ayah Nagisa membawa ibu Nagisa yang masih terlalu kaget dengan kenyataan yang dibawakan Nagisa. Setelah mobil sang ayah tak terlihat lagi, Nagisa tersenyum lega. Entah mengapa bebannya benar-benar terangkat. Ia melirik Karma sekilas. Kemudian tanpa peringatan, Karma menoleh kearahnya.
" Ada apa, Nagisa? Apa sekarang kau mulai suka padaku?' Tanya Karma jahil. Wajah Nagisa memerah.
" Baka! Aku hanya…" Nagisa tersenyum sejenak. Karma mengangkat alisnya heran.
" Arigatou, Karma-kun." Gumam Nagisa. Karma hanya tersenyum.
" NAGISAAAAA." Nagisa menoleh dan mendapati teman-temannya berlari kearahnya. Bahkan beberapa orang seperti Sugaya, Maehara dan Okajima melompat hendak memeluk Nagisa. Kemudian mereka bertiga mendapatkan pukulan telak dari Kataoka yang dengan tegas mengingatkan gender Nagisa. Sedangkan Okajima mendapatkan pukulan khusus dari para wanita karena mereka sudah terlanjur curiga dengan niat Okajima. Nagisa menatap langit biru diatasnya. Kemudian tersenyum. Hari-harinya, mungkin akan terasa ringan sekarang. Nagisa menoleh mendapati guru guritanya yang tengah berdiri tak jauh darinya. Nagisa menghampiri Koro sensei.
" sensei.." Panggilnya.
" Nyunya?"
" Arigatou." Ucap Nagisa dengan senyum. Koro sensei hanya mengangguk dengan senyuman khasnya. Hari itu, satu masalah terselesaikan.
99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
-TBC
Nah.. nah.. gimana? Sinetron sangat ya? Wkwkwk.. saya bingung gimana sih orang psycho itu? Jadilah ibu Nagisa bersikap tak wajar macam itu XD
Kurohashi Yoga-kun: Karma ga ngapa-ngapain.. dia masih.. ehm.. masih.. kecil XD. Arigatou sudah membaca.. ini amaya lanjutkan sudah :D
Little Snowdrop: Yokatta kalau begitu ^^. Hahaha bisa dibilang curhat gak ya? * lirik tulisan diatas. Entahlah.. Arigatou untuk mampirnya :D
Chintya Rosita: hiks iya.. Nagisa Kasihan.. hiks * Nangis bareng koro sensei XD. Sip.. semoga menghibur ^^/
Wako: hehehe… author ga berani kasih genre. Soalnya author suka berbelok kejalan yang salah*plak. Tapi arigatou usulannya. Mungkinbisa jadi bahan pertimbangan. Hahaha.. saya udah baca manganya dan.. fic ini nyerempet dikitlah*banyak woi* tapi ya..* bingung takut kasih spoiler* fic ini pastinya lebih parah dari yang aseli XD. Arigatou, Wako-san ^^
Untuk Minna yang sudah membaca, Arigatou.. semoga diberi kesehatan dan jodoh*plak
At last, semoga menghibur dan.. review please ^^
