Yo Minna, Genki desuka?

Saya kembali lagi setelah sekian lama tak bersua (?)

Arigatou Gozaimasu buat semua yang sudah membaca fic ini. saya terharu.. hiks..

Thanks for Matsui Yusei sensei yang sudah memberikan cerita ini kepada kita semua. Dan saya sampai sekarang takut mau baca manganya.. gam au semua ini berakhir XD*plak

Yosh, Minna! Hajimari Hajimari! ^0^9

Chapter: 5

Confuse time

Insiden Nagisa yang terjadi beberapa waktu yang lalu merupakan insiden yang membuat seisi kelas 3-E mengalami shock ringan. Mereka tidak pernah menyangka bahwa penampilan feminine – saat masih berwujud laki-laki- Nagisa memiliki factor yang sangat menyeramkan. Bagaimanapun, paksaan dari seorang ibu yang menunjukkan rasa kasih sayangnya dengan cara hukuman fisik macam itu benar-benar menyeramkan bukan? Karena itulah, para murid kelas 3-E, langsung membungkuk meminta maaf pada Nagisa karena pernah meragukan gendernya dengan cara menjadikan hal itu lelucon. Yah, meskipun Nagisa sama sekali tidak sakit hati sedikitpun, seluruh murid – coret Karma yang mengatakan bahwa ia tak merasa bersalah karena Nagisa tak tersinggung- meminta maaf kepada Nagisa. Dan karena insiden itu pula, Nagisa harus bingung antara menyesal atau bersyukur dengan sikap teman-temannya yang semakin protektif. Terlepas dari itu semua, kelegaan nampak nyata pada wajah yang berbingkai surai sebiru langit itu. Siang itu, para murid kelas 3-E tengah asyik berbincang sembari menyantap bekal makan siang mereka. Nagisa, Kayano dan Sugino tampak asyik bercanda saat tanpa peringatan, sebungkus tas plastic terlempar kearah Nagisa. Nagisa menangkapnya dan menatap tas plastic itu bingung. Kemudian ia mengangkat wajahnya untuk menemukan siapa pelaku pelemparan tersebut.

" Karma-kun, ini untuk apa?" Tanya Nagisa. Karma berjalan santai dan menarik bangku kemudian bergabung dengan kelompok Nagisa.

" Hmm? makan siangmu. Aku membelinya saat bolos jam pelajaran bahasa jepang tadi." Ujar Karma. Kemudian ia menyedot kotak susu strawberrynya. Nagisa membuka tas plastic tersebut. Sebuah roti coklat, sebotol air mineral, dan susu strawberry yang sama dengan milik Karma.

" Aku tidak tau kau suka minuman apa. Jadi kubelikan yang sama denganku. Kau tidak keberatan kan, Nagisa?" Tanya Karma. Nagisa menggeleng dan tersenyum.

" Arigatou. Tapi kenapa kau membelikanku dua macam minuman? Kurasa satu saja cukup, Karma-kun." Ujar Nagisa sambil melihat isi plastic tersebut.

" Hmm.. karena aku yakin Nagisa tidak akan kuat untuk mengikuti kelas assassin nanti kalau tidak kubelikan minuman extra." Jawab Karma tanpa sungkan.

" Ergh.. Arigatou atas perhatiannya -_-." Ujar Nagisa. Kemudian ia mengambil bungkusan rotinya dan membukanya.

" Ne, Nagisa. Kau sekarang tinggal dirumah Karma. Beritahu kami seperti apa ayah dan ibunya!" Pinta Sugino bersemangat. Karma melirik sekilas.

" He~ kau mulai tertarik denganku sekarang, Sugino?" Tanya Karma.

" Eh? Tentu saja tidak! aku masih normal!" Protes Sugino sambil melirik kearah Kanzaki yang tengah berbincang dengan Kurahashi tepat disamping mereka. Karma tersenyum jahil. Mungkin ia sudah akan melanjutkan aksinya kalau saja Nagisa tidak mengambil alih percakapan dalam kelompok itu. Merekapun mulai membicarakan hal-hal ringan. Sesekali mereka membahas anak-anak dari gedung utama. Dan percakapan itu terhenti tepat saat bel masuk terdengar. Seluruh murid segera membereskan bekal mereka.

" Ne, Nagisa. Hari ini sebelum pulang, kita mampir ke suatu tempat." Ujar Karma. Nagisa mendongak.

" Hm? Kemana?" Tanya Nagisa.

" Aku ingin membeli beberapa kebutuhan. Tadi pagi ibuku menelpon dan mengomeliku karena aku bilang selama ibu pergi aku hanya memesan makanan cepat saji." Jawab Karma. Nagisa tertawa kecil kemudian menatap Karma bersalah.

" Gomen. Aku pasti membuatmu repot." Ucap Nagisa sambil tersenyum kecil. Bagaimanapun, tinggal dirumah Karma bukan gagasannya. Itu ide dari Karma sendiri yang langsung disetujui oleh ayahnya yang belum tahu menahu tentang perubahan gender Nagisa.

" Hm? Tak masalah. Ibu senang sekali saat tau kau mau tinggal dirumah untuk sementara. Bibi itu justru bercerita habis-habisan tentang rasa penyesalannya karena tak bisa segera kembali saat kau harus tinggal dirumah. Sepertinya dia khawatir aku tak bisa merawatmu dengan baik." Ucap Karma dengan nada tak peduli seperti biasanya. Nagisa hanya tertawa datar mendengar kata 'merawat'.

" Hmm.. sudah kubilang, lebih baik kau tinggal dengan mama, nak." Suara Nakamura menyela percakapan mereka. Nagisa swetdrop mendengarnya. Karma hanya tersenyum santai.

" Jadi, kau mau belanja untuk makan malam?" Tanya Nakamura kemudian.

" um. Lagipula sudah lama aku tak memasak." Ujar Karma. Seisi kelas mendadak hening mendengar pernyataan Karma.

" KAU BISA MEMASAK?!" Teriak mereka tak percaya.

" Tentu saja~ aku bukan Terasaka yang akan meledakkan dapur karena mencoba menggoreng telur." Jawab Karma. Semua menoleh kearah Terasaka.

" URUSEI! Kenapa pula kau bisa tahu apa yang kulakukan dirumah?" Teriak Terasaka. Karma hanya menjulurkan lidahnya tak peduli. Sedangkan seluruh kelas hanya menatap Terasaka dengan tatapan prihatin.

" Jadi dia benar-benar meledakkan dapur karena menggoreng telur?" pikir mereka.

" Nah. Kau mau apa untuk makan malam, Nagisa?" Tanya Karma.

" Er.. terserah kau saja, Karma-kun." Jawab Nagisa.

" Hm? Ok!" Jawab Karma. Kemudian matanya terpaku pada sesuatu yang aneh. Dibalik jendela belakang Nagisa, sebuah surai biru lainnya nampak menyembul.

" Naruhodo..naruhodo… Mereka akan pergi belanja berdua, kemudian akan memasak bersama, makan malam berdua dan oh tuhan.. mereka tinggal berdua.. Nurufufufufu~." Koro sensei – yang mencoba menyamar menjadi Nagisa lengkap dengan wig berwarna birunya- mencatat hasil observasinya. Layaknya Nagisa yang tengah mencatat kelemahan Koro sensei. Seluruh kelas menatap horror sosok Nagisa jadi-jadian tersebut. Detik kemudian, pisau anti sensei – dan wasabi milik Karma- sukses menghujani Koro sensei.

" JANGAN BERGAYA SEPERTI NAGISA, KAU GURITA TOLOL MESUM!" Teriak mereka.

" Nyunya! Kalian mengenali sensei! Padahal sensei yakin penyamaran ini sudah sangat sempurna. Lihat, bahkan sensei sengaja menculik pembuat wig terhebat untuk membuatkan yang mirip dengan milik Nagisa." Koro sensei menunjukkan surat kabar berisi headline news tentang tindakan kriminalnya barusan.

" DIA BENAR-BENAR MELAKUKANNYA!" Teriak Maehara Frustasi dengan tingkah senseinya. Sedangkan Nagisa hanya menatap keributan itu dengan tatapan anehnya. Kemudian ia memutuskan untuk mengganti pakaian untuk kelas Ansatsu.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

" Eh? Wisata PE?" Tanya para murid. Karasuma sensei mengangguk.

" Tidak benar-benar wisata. Karena dalam wisata itu, akan diadakan ujian PE." Jelas Karasuma sensei.

" Demo… setiap pelajaran PE kita hanya melatih tehnik membunuh saja bukan. Jadi, apa yang akan diujikan dari kami?" Tanya Kimura. Serentak para murid membayangkan mereka akan diuji dengan tehnik-tehnik membunuh didepan para murid kelas 3 gedung utama.

" Mereka memberikan 2 pilihan tempat. Masing-masing tempat memiliki dua kategori untuk diuji." Karasuma sensei menyodorkan selebaran kearah Isogai. Isogai segera bangkit dan mengambilnya. Ia membaca selebaran itu sebelum akhirnya menatap teman-temannya.

" Minna, coba dengar. Ada dua tempat. Yang pertama pantai pulau Okinawa.."

" Itu sudah pernah!" Maehara mengingatkan.

" Dengarkan dulu, Maehara. Kita memilih jenis ujiannya. Bukan tempatnya!" Tegur Kataoka. Maehara hanya meringis mendapatkan teguran dari wakil ketua kelas yang tegas itu. Kemudian Kataoka mengerling kearah Isogai.

" Lanjutkan, Isogai-kun." Ujarnya. Isogai hanya tersenyum kemudian kembali menatap teman-temannya.

" Nah, di pantai Okinawa, jenis ujiannya berupa berenang dan voli. Kemudian pilihan kedua, adalah daerah Kitanosawa di distrik Niigata. Jenis ujiannya adalah ski dan ice skating." Lanjut Isogai. Para murid saling berpandangan.

" Ice skating? Kenapa harus kesana kalau hanya ice skating? Kurasa didekat sini juga ada." Celetuk Takebayashi.

" argh! Ayo kita pergi ke Okinawa lagi! Aku belum sempat bertemu dengan para gadis yang menggunakan bikininya!" Teriak Okajima semangat. Yang lain langsung menolak mentah-mentah. Memilih mengacuhkan pikiran si mesum kelas 3-e itu.

" Ne, Sensei.. apa kelas 3 di gedung utama sudah memilih tujuan mereka?" Tanya Karma. Semua menoleh. Tidak biasanya si merah itu peduli dengan hal-hal macam ini. Karasuma sensei mengangguk.

" Kelas 3 B dan D memilih ke Okinawa. Sedangkan kelas 3 A memilih menuju Niigata." Jawabnya.

" Ha? Kukira mereka akan memilih tempat yang sama." Gumam Kayano. Yang lain mengangguk setuju.

" Nah, jadi apa keputusannya? Kita akan pergi mengikuti tes yang mana?" Tanya Isogai. Kelas 3 E mulai berdengung. Membicarakan pendapat masing-masing dengan teman disebelahnya.

" Ne, Nagisa. Kau pilih yang mana?" Tanya sugaya.

" Ergh… entahlah.. aku tidak begitu bagus di ski dan ice skating. Tapi Okinawa terlalu banyak peserta kalau aku memilih kesana." Ucap Nagisa bingung. Kemudian ia melihat Karma yang hanya menatap datar teman-temannya yang sibuk berdiskusi.

" Kalau Karma-kun? Kau memilih yang mana?" Tanya Nagisa.

" Hm? Aku memilih ski dan ice skating." Jawabnya tanpa ragu.

" Wah, pilihan yang tegas. Aku penasaran seberapa ahli kau di dua permainan itu." Kata Terasaka. Karma melirik sekilas kemudian tersenyum meremehkan.

" Yang jelas tak seburuk dirimu." Jawabnya santai. Terasaka langsung mendapat pertolongan teman-temannya karena mendadak meledak ditempat karena ucapan Karma yang menyebalkan.

" Jadi, kenapa kau memilih kesana, Karma-kun?" Tanya Isogai. Semua menoleh dan melihat kearah Karma.

" Hmm? sudah jelas bukan? Disana ada sekelompok orang yang lebih menjanjikan untuk diajak bermain." Jawab Karma. Semua menatap Karma horror

" Bilang saja ini masalah pribadimu dengan Asano!" Pikir mereka.

" Demo.. Karma benar. Akan lebih menyenangkan jika kita bermain dengan kelas 3 A dibanding dua kelas lainnya." Ucap Nakamura.

" Sou..sou… selama ini juga kita selalu bersaing dengan mereka! Mereka punya Asano si peringkat pertama, dan kita punya Karma yang peringkat kedua. Dan lagi, kita sempat mengalahkan mereka dalam beberapa kesempatan. Pasti wisata kita akan lebih menyenangkan jika kita harus bersaing dengan mereka!" Kali ini suara Kurahashi. Isogai tersenyum melihat teman-temannya yang mulai dibakar semangat.

" Yosh! Diputuskan, kita akan pergi bersama dengan kelas 3 A ke niigita." Isogai mengetuk palu. Seluruh murid berseru setuju atas keputusan yang sudah disetujui tersebut.

" Baiklah, sensei akan melaporkannya nanti. TAPI.." seluruh murid hening. " Kalian sudah hafal betul apa yang akan terjadi dalam setiap perjalanan kelas bukan? Kalian tetap memiliki tugas tambahan." Karasuma sensei mengingatkan.

" Hai' hai'.. kita harus tetap memburu Koro sensei kan?" Karasuma sensei mengangguk.

" Baiklah, pengumuman hari ini hanya itu, silahkan kalian sendiri yang menentukan kelompoknya. Dan tentukan strategi yang cocok didaerah bersalju untuk membunuhnya. Kalau ada yang diperlukan, diharapkan untuk melaporkan paling tidak dua hari sebelum keberangkatan. Sekarang, kalian bisa kembali ke kelas." Karasuma sensei menutup pertemuan mereka. Seluruh murid mengangguk dan membubarkan diri sendiri.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

Surai Oranye itu berjalan di sepanjang pertokoan. Langkahnya tidak terburu- buru namun tegas. Kemudian ia berbelok kearah sebuah café. Ia memilih kursi yang jauh dari jendela. Sebuah posisi yang pas untuk mendukung apa yang akan dilakukannya sore itu. Setelah mengatakan pesanannya kepada pelayan café, ia mengeluarkan sebuah buku tebal dan sebuah kotak pensil dari dalam tasnya. Kemudian ia mulai menggoreskan pensilnya diatas kertas. Sesekali gerakan tanganya terhenti. Menandakan sang pemilik tengah berfikir. Pesanannya datang. Sebuah earl ginger tea dan sebuah cake hazelnut. Ia menghentikan aktivitasnya dan menyeruput teh panasnya. Telinganya menangkap hiruk pikuk jalanan sore itu. Beberapa percakapan dari meja-meja disekitarnyapun tak luput dari telinganya.

" Um! Aku setuju! Muffin ini sangat enak!"

" Ah, pasti pertandingan berikutnya akan dimenangkan klub Osaka!"

" Ugh… guru matematika itu benar-benar menyebalkan!"

" Berhenti mengambil gambar sembarangan, Karma-kun!"

Tunggu. Siapa tadi? Asano Gakushuu menoleh kearah suara yang ia dengar. Kemudian matanya menemukan sosok berambut merah dan biru yang ia kenal, terlihat baru saja memasuki café itu. Tangan mereka memegang beberapa tas plastic. Mereka memilih meja yang berjarak 5 meja dari meja Asano. Dan mereka sama sekali tak menyadari keberadaan Asano. Karma duduk membelakangi Asano. Sedangkan didepannya, Nagisa nampak tengah mengajukan protes terhadap entah apa yang dilakukan Karma kepadanya. Seorang pelayan mendatangi mereka dan Karma menyebutkan pesanannya dengan cepat. Kemudian Asano bisa melihatnya tertawa.

" Demo, Nagisa.. lihat, kau cantik dengan makeup itu! Harusnya make up itu tak kau hapus!"Karma terlihat menyodorkan handphonenya. Membuat sang surai biru melebarkan matanya.

" JANGAN MENJADIKANNYA WALLPAPER!" Protes Nagisa. Ia terlihat frustasi dengan sikap Karma yang justru tersenyum santai menghadapi Nagisa yang berusaha merebut handphone Karma. Asano memperhatikan keduanya. Kemudian matanya berhenti pada sosok Nagisa. Entah mengapa ia merasa ada yang berbeda dengan sosok Nagisa kali ini. Asano ingin sekali mencekik lehernya sendiri karena sudah berfikiran seperti itu. Tapi sungguh, Nagisa entah mengapa terlihat lebih cantik – well, pada dasarnya ia memang cantik meskipun ia laki-laki- dari pada biasanya. Kemudian ia melihat Karma dengan tangan jahilnya menepuk-nepuk kepala Nagisa. Nagisa mengibaskan tangannya untuk mengusir tangan Karma. Karma tertawa sedangkan Nagisa menunduk malu. Tunggu, apa-apaan ekspresi Nagisa barusan? Kenapa pula ia harus blushing karena sikap Karma? Asano mulai berfikir yang aneh-aneh. Dan ia bersumpah pada dirinya untuk menjauhi keduanya jika benar mereka sudah tidak normal lagi. Tapi entah mengapa otaknya terus-terusan mengajak matanya untuk menatap Nagisa.

" Ne, Karma… apa kau… bisa bermain ski dan ice skating?" Tanya Nagisa sambil menyuap sepotong blue cake kemulutnya.

" Hmm~ saat umurku 11 tahun, aku pernah hilang karena terlalu asyik meluncur diatas salju." Jawabnya.

" erghh… itu bukan jawaban yang menjelaskan semuanya." Jawab Nagisa.

" Sou.. kudengar ujian nanti akan diadakan berpasangan." Ujar Karma. Nagisa mengerutkan dahinya.

" Berpasangan? Maksudmu?"

" Kau ingat dengan ujian keberanian di Okinawa? Yah, semacam itulah." Jawab Karma sambil mengambil potongan strawberry di cake milik Nagisa.

" Ugh.. pasti itu kerjaan Koro-sensei." Karma mengangguk setuju.

" Hhh..gurita itu tak akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang ia inginkan. Bahkan gurita itu sudah meberikan nama gadis yang harus kami ajak berpasangan tadi." Jawab Karma.

" Eh? Benarkah? Aku tidak ingat Koro sensei memberikannya padaku." Nagisa mengusap dagunya. Mencoba mengingat.

" He? Apa yang kau maksud, Nagisa? Tentu saja kau tak mendapatkannya. Kau gadis sekarang!" Karma mengingatkan. Kemudian ia mengeluarkan sebuah amplop berwarna pink. Nagisa melihat amplop itu dengan heran. Karma mengulurkannya kearah Nagisa. Nagisa menerimanya dan membuka amplop itu. Kemudian ia menatap kertas didepannya dengan tatapan aneh.

" Lihat? Dia sungguh berniat menjodohkan seisi kelas. Sampai dia rela menuliskan surat cinta untuk ajakan berpasangan dalam ujian nanti." Ucap Karma. Nagisa tertawa dan melipat kertas ditangannya. Setelah memasukkannya kedalam amplop, ia menyodorkannya kepada Karma.

" Ja, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Karma. Nagisa menatapnya bingung.

" Apa?" Tanyanya. Karma menunjuk amplop dimeja dengan dagunya.

" Kau mau berpasangan denganku?" Tanya Karma.

" Eh?" Nagisa memandang amplop pink itu dan Karma bergantian.

" Mmaksudmu?" Tanya Nagisa.

" Koro sensei bilang, surat itu harus kuserahkan untukmu." Jawab Karma. Nagisa terdiam sesaat.

" Etto.. Karma-kun tak perlu memaksakan diri. Karma-kun bisa pergi dengan yang lain kalau mau." Ujar Nagisa sambil mengibas- kibaskan tangannya. Karma meminum cappucinonya kemudian menatap Nagisa tajam. Nagisa balas menatap Karma bingung. Kemudian Karma menghela nafas.

" Hh… kau pikir aku harus pergi dengan siapa lagi, Nagisa.." Ucap Karma. Nagisa mengerjapkan matanya.

" Okuda-san?" Usul Nagisa.

" Kupikir awalnya juga aku akan dipasangkan dengan Okuda. Tapi.. Koro sensei menyuruhku berpasangan denganmu." Jawab Karma. Nagisa merasa Karma masih akan melanjutkan ucapannya. Jadi ia diam saja menunggu kalimat dari bibir Karma. Karma tersenyum seperti biasanya kemudian ia menopang wajahnya dengan kedua tangannya. Matanya menatap langsung kedalam manik biru Nagisa.

" Tapi, Kurasa aku lebih suka dipasangkan denganmu, Nagisa." Jawab Karma. Nagisa memerah untuk yang kesekian kali. Ia sudah akan meneriaki Karma jika saja matanya tak menangkap sosok yang ia kenal tengah berdiri dibelakang Karma. Karma mengangkat alisnya melihat ekspresi Nagisa.

" Asano-kun?" mendengar itu, Karma menoleh dan mendapati asano tengah menatapnya dengan tatapan tajamnya. Karma tersenyum santai dan berdiri.

" Hee~ apa yang kau lakukan disini? Kau tidak sedang berniat menusukku dari belakang bukan, Asano-kun~.." Itulah sapaan Karma untuk Asano. Asano meliriknya tak suka. Namun kemudian ia tersenyum.

" Tak kusangka kalian berkencan disini." Ujar Asano. Nagisa melebarkan matanya.

" Tidak.. kau salah, Asano-kun. Kami tidak.-"

" Apa hal itu terlalu mengganggumu?" Nagisa menghentikan ucapannya saat mendapati Karma merangkulnya.

" Jangan dengarkan Karma-kun. Lagipula, kami laki-laki. Kenapa kau bisa berfikiran seperti itu?" Tanya Nagisa. Asano mengangkat alisnya dan tersenyum tipis.

" Oh, kukira salah satu guru kalian menyuruh kalian menjadi pasangan dalam ujian nanti. Dan kipikir Nagisa-kun – atau harus kupanggil Nagisa-chan sekarang- tidak mendapatkan amplop berisi surat karena entah mengapa ia berubah menjadi seorang gadis?" Ucap Asano. Nagisa terhenyak. Asano mendengar percakapan mereka! Karma memperhatikan wajah gadis biru disebelahnya memucat. Kemudian ia kembali tersenyum dan menatap tajam Asano.

" Jadi, kau datang kemari setelah mendengar pernyataan itu pasti kau punya rencana bukan? Karena jika tidak, aku yakin kau sudah berlari keluar café dan bergosip dengan para temanmu itu." Asano mendengus setengah tertawa.

" aku bukan type orang yang suka bergosip, Karma. Dan kau benar.. data Nagisa pasti masih menunjukkan dia laki-laki. Tapi jika terbukti dia adalah wanita, maka Nagisa bisa dituduh melakukan penipuan terhadap pihak sekolah. Dengan begitu, orang tua Nagisa akan dipanggil dan.. entahlah apa yang akan terjadi." Ujar Asano.

" Jadi, apa maumu,hm?" Karma masih tersenyum sambil mengangkat dagunya.

" Tentu saja Kompetisi. Kudengar kalian juga memilih tempat yang sama dengan kami, bukan? Kita akan lihat antara aku dan kau, Nagisa.. siapa yang mendapat point paling tinggi dalam kedua ujian. Kalau kau menang, aku tidak akan membocorkannya." Ujar Asano. Karma mengernyit.

" Hei, tapi bagaimana caranya? Semua orang akan bingung jika tau Nagisa berpasangan denganku. Dan lagi, sepertinya kelasmu tak melakukannya dengan berpasangan." Tanya Karma. Asano tersenyum.

"Tenang saja, aku juga tidak mau melakukan kompetisi dengan orang yang terlalu banyak. Akan kuatur waktu khusus agar kita bisa bertanding dengan nyaman. Dan aku tidak akan mengajak satu orangpun dari kelas A. Kau boleh mengajak seluruh kelas E karena kupikir mereka semua tau tentang perubahanmu bukan? Dan untuk pasangan, aku akan mengusulkannya. Bagaimana?" Tantang Asano. Nagisa hanya diam. Ia tidak tau harus bagaimana. Karma kembali merangkul pundak Nagisa.

" Ok~ kami tunggu." Jawab Karma santai. Asano tersenyum sinis dan berbalik meninggalkan mereka. Karma dan Nagisa masih berdiri sampai punggung Asano lenyap saat keluar dari café tersebut. Kemudian Nagisa terduduk.

" Sekarang bagaimana?" Gumam Nagisa. Karma menoleh.

" Hm? Apanya yang bagaimana?" Tanya Karma.

" Aku tak terlalu bagus di kedua bidang itu, Karma-kun!" Ucap Nagisa khawatir. Karma tersenyum dan menepuk kepala Nagisa.

" Karena itu akulah pasanganmu." Jawab Karma. Nagisa mendongak.

" Tapi, kau harus berlatih keras, Nagisa~" Kali ini senyuman itu berubah menjadi seringaian. Nagisa menelan ludah melihat aura Karma yang tiba-tiba berubah keunguan.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

" Naru hodo.. jadi, Asano akan membocorkan rahasia itu pada seluruh sekolah kalau kalian kalah?" Gurita kuning itu tersenyum.

" Kalau begitu, kau harus menang, Nagisa!" Sugaya menepuk pundak Nagisa yang sedang duduk dikelilingi teman-temannya.

" Masalahnya, aku tidak pandai bermain ski dan ice skating." Gumam Nagisa khawatir.

" Dan, sebenarnya ada satu hal yang kupikirkan… apa kira-kira rencana asano-kun dengan perlombaan itu? Di pertandingan boutasi sebelumnya, ia bahkan mendatangkan murid-murid dari Negara asing." Isogai mengusap dagunya. Nakamura mengangguk setuju.

" Mungkin kali ini ia akan mendatangkan bule cantik dengan kemampuan luar biasa." Ujarnya.

" Kenapa harus bule cantik?" Tanya Kurahashi.

" Eh? Karena menurutku, anak kelas 3-A tidak ada yang rupanya bisa dibanggakan. Bahkan mereka semua kalah cantik dengan Nagisa." Jawab Nakamura.

" Hahaha… terimakasih atas pujianmu, Nakamura-san." Nagisa menjawab datar.

" Hmm.. itu kemungkinan yang bagus, Nakamura-san. Kalau begitu, kita harus melatih mereka berdua. Dan sensei yakin tidak akan terlalu sulit mengingat latihan kalian dengan Karasuma sensei. Nah, kalau begitu.." seketika anak-kelas E diterpa oleh angin kencang. Kemudian mereka menyipitkan mata untuk melihat Koro sensei sudah membawa tas super besarnya yang digunakan untuk menculik (?) orang.

" Nah, Nagisa-kun-chan, Karma-kun, Hinata-chan dan Maehara-kun.. bisa ikut sensei sebentar?" Koro sensei bertanya sambil mengangkat mereka kedalam tas.

" Eh? Nande?" tanya Hinata.

" Sensei ingin kau mengajarkan gerakan-gerakan dasar dalam kegiatan atletik untuk Nagisa. Dan Maehara, kau bisa membantu Hinata untuk demonya bukan?" Ujar Koro-sensei. Meskipun nampak jelas bahwa ia sedang ingin menjodohkan murid-muridnya, para penghuni 3-E tau bahwa sensei mereka itu memiliki tujuan utama agar Nagisa dan Karma bisa memenangkan pertarungan itu.

" ahh Naru hodo! Yosh! Serahkan pada kami!" Ujar Maehara.

" Ano.. sensei.. tapi untuk apa tas besar itu?" Tanya Nagisa. Koro sensei menatap tas besar itu. Kemudian ia mengangkat keempat muridnya dan meletakkannya kedalam tas.

" Kita akan berangkat! Nah, Minna.. Ittekimasu!" Kemudian angin kembali membentur para murid kelas 3-E. dan saat mereka membuka mata, Koro sensei dan keempat remaja itu telah lenyap dari hadapan mereka.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

Hari ini aneh. Ya, hari ini jelas aneh bagi Asano Gakushuu. Ia merasa moodnya memburuk saat lagi-lagi memergoki Nagisa dan Karma berjalan berdua menuju sekolah mereka. Dan adegannya juga sama. Entah apa yang dilakukan si iblis merah itu, Nagisa kembali memprotes sesuatu kepada temannya. Kemudian Karma mengucapkan sesuatu yang membuat si biru langit mengerjapkan matanya beberapa kali. Lalu tanpa peringatan wajahnya memerah. Dan si biru langit kembali protes. Asano merasa.. ia tidak suka melihat kedua 'saingannya' itu terlihat dimatanya. Ya. Itulah yang asano rasakan.

Awalnya.

Kemudian peristiwa itu masih berputar bahkan saat didalam kelas. Mengalahkan konsentrasinya pada pelajaran yang sebelumnya tak pernah teralihkan oleh peristiwa apapun. Namun yang mengganggunya bukan seluruh kejadian tersebut. Yang mengganggunya adalah bayangan wajah Nagisa yang memerah. Entah kenapa ia tidak suka! Ia tidak suka dengan kenyataan, wajah Nagisa memerah karena Karma. Ya.. ia tidak suka. Tunggu. Apa itu berarti ia sedang.. cemburu? Asano menggelengkan kepalanya. Mencoba menetralkan otaknya dari pikiran konyol yang menyerangnya. Namun kemudian hatinya kembali mengatakan hal yang sama.

Kau cemburu, Asano.

Asano terdiam memikirkan hal itu. Kemudian ia mengingat fakta bahwa Nagisa sebenarnya laki-laki. Dan tak mungkin ia menyukainya bukan? Ya. Jadi sudah pasti itu bukan alasannya. Kemudian hati dan otaknya kembali berperang.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

Koro sensei tidak bercanda saat ia bilang akan mengajak mereka ke daerah pegunungan alpen untuk latihan. Namun Koro sensei melupakan sesuatu. Mereka sama sekali belum melakukan persiapan untuk pergi ke daerah bersalju. Jadilah mereka – kecuali Karma- pulang dalam keadaan nyaris membeku karena baru saja berlatih didaerah bersalju tanpa menggunakan baju hangat.

" Hatchi! Hatchi!" Nagisa kembali bersin. Sepanjang perjalanan pulang, ia sudah bersin berkali-kali. Disebelahnya, Karma melirik Nagisa yang sibuk menutup hidungnya.

" Kau tidak tahan dingin, Nagisa?" Tanya Karma. Nagisa menoleh sekilas kemudian kembali menutup hidungnya, menahan bersin.

" Kau saja yang terlalu kuat, Karma-kun. Kami bertiga bahkan hampir membeku dengan suhu seperti itu." Ujar Nagisa.

" he~ kufikir, itu tidak ada apa-apanya loh. Sama seperti suhu ruang bioskop saat kita pergi menonton sonic ninja di hawai. Kau ingat?" Nagisa memasang poker face. Kenapa Karma bisa menyamakan suhu pegunungan dengan ruang bioskop? Itu jelas-jelas berbeda!

" Hei, bagaimana kalau kita membeli kare untuk makan malam kita? Aku bisa menambahkan cabai bubuk extra pedas milikku agar kau tidak kedinginan lagi. Lihat!" Karma mengeluarkan sebotol cabai bubuk dari tas ' penyelamat' miliknya.

" Ugh.. tidak terimakasih untuk cabai bubuknya. Hatchi!" Jawab Nagisa disertai bersin. Siapa pula yang rela memakan cabai bubuk buatan Karma? Selain berbahaya bagi kesehatan tubuh, Nagisa yakin cabai bubuk buatan Karma bisa membuat pencicipnya menderita gangguan jiwa. Bahkan Nagisa berani bertaruh akan hal itu.

" Hmm.. tapi aku rasa aku akan tetap membelinya. Bagaimana kalau kau tunggu dulu disini dan aku akan membeli kare instan di minimarket itu? Aku bisa membeli beberapa obat untukmu." Ujar Karma.

" Beberapa obat?" Tanya Nagisa bingung. Karma mengangguk dengan wajah polos.

" Um. Seperti obat flu, obat peninggi badan, obat hmm.. menurut Nakamura, aku harus menyediakan pembalut." Ujar Karma santai. Nagisa melebarkan matanya.

" KALIAN MEMBICARAKAN ITU?" Tanya Nagisa histeris. Bagaimana mungkin Karma mengatakan hal itu dengan santai? Dan untuk apa pembalut itu?

" Jadi, tunggu sebentar. Aku akan membelikanmu pembalut." Karma melambaikan tangannya. Ingin rasanya Nagisa melemparkan tas kekepala Karma saat itu juga. Akhirnya Nagisa hanya pasrah dan memposisikan dirinya disalah satu bangku di pinggir toko. Ia menggosokkan tangannya untuk mencari kehangatan saat pintu toko dibelakangnya terbuka. Nagisa menoleh dan matanya melebar. Orang yang berdiri diambang pintu pun tak kalah kaget melihat kehadiran si rambut biru yang mengacaukan pikirannya seharian ini.

" Asano-kun?" Nagisa bergumam pelan. Namun Asano bisa menangkap nada horror didalam suara itu. Dan untuk pertama kalinya dalam hari itu, otak dan hatinya setuju bahwa ia tak menyukai nada bicara dan ekspresi Nagisa sore itu.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

-tbc

Huwaaaa saya khilaf XD.

Saya sempat bingung apa yang harus saya lakukan untuk kelanjutan fic ini. tapi, karena saya menyuruh otak saya untuk terus melanjutkan fic ini, jadilah ada lanjutan yang entah ini. daaan… untuk kalian semua yang masih membaca fic ini, I love yuuu so much! :')

Kitsune 857: yah drama kehidupan yang pilu.. terimakasih sudah mampir ^^ ditunggu mampirnya lagi yaaaa

Kurohashi Yoga-kun: wkwkwkwk… nggak..nggaak… mereka masih kecil XD nah, mana? Mana pika-chan? Arigatou ^^

Aqizakura: iyaa… dia kawaiii…. Yosh! Arigatou reviewnya.. semoga kerasan dengan fic ini XD

Mel: udah muncul! Yeee udah muncul!

Akiyama yuki: Hisashiburi ^^/ hahaha… entah focus kea pa XD tapi mungkin iya(?) Arigatou sudah mampir

Fallynne DJ: Yoroshiku! Ito Nagi? Wah… pair yang jarang yaaa Amaya ga bias janji tapi akan amaya usahakan selipin nanti ^^/ Arigtaou.

Dan untuk semua… arigatou sudah mampir.. semoga fic ini berkenan dihati kalian ^^

At, last.. saya masih nunggu review hahahaha

Jaa mata ne!