Hellooo~ saya datang lagi setelah sekian lama bertapa dibalik kerikil (?)
Ah, gomen gomen kalau tambahan chapternya bikin gimanaaa gitu XD
Tapi, seperti yang Amaya bilang, saya khilaf pak.. bu… karena udah terlanjur, ya saya lanjutin aja khilafnya*plak
Ansatsu Kyoushitsu adalah manga keren punya Matsui Yuusei ( saya berharap manganya ga cepet selesai biar bisa liat kelakuan kelas 3-E lebih lama T.T) dan fic ini jelas punya Amaya.. hehehe.
Fem Nagi, horror dan entahlah… selamat menikmati ^^/
Chapter 6
"Asano-kun?" Suara lirih Nagisa terdengar kaget. Tanpa Asano sadari, matanya menyipit sedikit. Tak suka dengan cara Nagisa memanggilnya. Terkesan bahwa gadis biru itu baru saja bertemu dengan hantu atau monster kelabang.
" Kau.. sedang apa?" Tanya Asano. Nagisa mengerjapkan matanya beberapa kali. Cara Asano bertanya benar-benar berbeda. Entahlah, cara bertanyanya terdengar.. normal. Tidak mengintimidasi seperti biasanya.
"Nagisa-kun?" Asano mencoba menarik gadis biru itu kealam sadar.
" Eh? Ah.. Gomen. Aku.. sedang menunggu seseorang." Jawab Nagisa. Asano bisa menebak siapa orang yang ditunggu Nagisa. Asano berjalan dan memposisikan dirinya disebelah Nagisa. Nagisa semakin heran dengan sikap Asano yang seperti itu. Ada apa dengan Asano sore itu? Apakah ia baru saja mengalami kecelakaan atau ia baru saja diberi asupan ide yang memaksanya bersikap baik pada Nagisa?
" Hei.. bolehkah aku bertanya padamu?" Tanya asano. Nagisa mengangguk.
" Kenapa gendermu bisa berubah?" Tanya Asano. Nagisa terdiam. Sekarang jawaban macam apa yang harus ia katakan?
" Ah.. hanya terjadi kecelakaan kecil yang menyebabkan aku berubah." Akhirnya jawaban itulah yang Nagisa gunakan. Asano merasa Nagisa tak ingin membahas itu lebih lama lagi. Jadi ia memutuskan untuk tak menanyakannya lagi.
" Fisik atau keseluruhan?" Tanya Asano lagi.
" Eh?" Nagisa menaikkan alisnya tak mengerti.
" Yang berubah. Hanya fisikmu, atau seluruhnya? Apa kau juga berfikiran layakanya fikiran para wanita?" Jelas Asano. Nagisa menunduk. Ia sungguh tak mengerti. Pertanyaan Asano secara otomatis juga membuatnya berfikir. Sebelumnya ia tak pernah memikirkan hal itu. Asano melirik gadis disampingnya.
" Kau juga tidak tau." Asano menjawab pertanyaannya sendiri. Nagisa tersenyum.
" Ya.. aku fikir aku tak banyak berubah selain fisikku. Teman-temanku tak ada yang mengeluhkan sikapku. Menurut mereka, aku yang sekarang dan aku yang dulu sama saja. Tak ada yang berbeda." Nagisa mengangkat wajahnya menatap kumpulan awan putih yang berarak dihiasi cahaya senja. Kemudian ia tersenyum.
" Lagipula.. aku tetap saja aku.. aku tak akan bisa menjadi orang lain. Karena kehidupanku adalah permainanku. Bahkan orang lain tak akan bisa memainkan permainanku." Ucap Nagisa. Saat itulah Asano yakin pipinya memanas. Wajah Nagisa saat itu bagaikan lukisan. Dengan terpaan sinar senja yang membuatnya terlihat nampak luar biasa. Asano masih tak berkedip beberapa saat ketika ia mendengar suara pintu bergeser.
" Nagisa, aku sudah sele…. hee~ apa kau mau memata-matai kami, Asano-kun?" Tatapan Karma langsung berubah saat melihat Asano. Asano langsung tersadar dan menatap Karma dengan tatapan normalnya.
" huh, aku tak perlu memata-matai kalian." Jawabnya.
" Jadi? Kalau begitu kenapa kau kesini?" Tanya Karma santai. Asano terdiam. Kenapa ia disana? Ia hanya kebetulan melihat Nagisa dan entahlah. Kemudian matanya beralih ke gadis biru yang juga menatapnya penasaran. Lalu tanpa izinnya, otak Asano menampilkan kembali gambar Nagisa yang tanpa ia sadari sudah tersimpan dengan baik di memorinya. Gambar Nagisa saat tersenyum dengan bermandikan cahaya senja tadi. Seketika ia merasa pipinya memanas. Kemudian ia berbalik.
" aku hanya tak sengaja lewat dan melihat teman birumu itu. Jadi jangan salah sangka." Jawabnya kemudian berjalan meninggalkan Nagisa dan Karma. Karma menaikkan alisnya heran melihat tingkah Asano yang tidak seperti biasanya.
" Apa dia mengatakan sesuatu padamu, Nagisa?" Tanya Karma. Nagisa menatap punggung Asano yang menjauh kemudian menggeleng.
" Tidak ada yang penting. Dia tak mengatakan hal-hal yang aneh." Aku Nagisa. Meskipun harus Nagisa akui sikap Asano sore itulah yang aneh.
" Hmm… Ah sou.. lihat Nagisa, Aku membelikannya untukmu. Apa ini cukup?" Karma mengeluarkan sesuatu dari tas plastic bawaannya. Sebuah pembalut.
" KARMA-KUN! JANGAN MENGELUARKAN BENDA SEPERTI ITU SEMBARANGAN!" Nagisa dengan panic merampas tas plastic Karma dan segera memasukkan benda laknat itu kedalam tas. Karma hanya tersenyum ala Koro sensei melihat tingkah Nagisa. Saat ia tengah menikmati omelan Nagisa, ia merasakan getaran disaku bajunya. Ia mengeluarkan handphonenya dan mengangkat alisnya. Kemudian ibu jarinya menggeser-geser layar handphonenya. Setelah membaca pesan masuk itu, ia tersenyum misterius.
" Ok." Gumamnya sambil mengetikkan kata itu di layar handphonenya.
Message send.
" dan itu bisa membongkar kedokku. Kau mendengar, Karma-kun?" Tanya Nagisa.
" Hm? Ya. Aku mendengarmu." Jawab Karma lengkap dengan senyumnya. Nagisa menatap Karma curiga.
" Haaah… melelahkan. Sebaiknya kita cepat pulang, Nagisa. Kau bisa memasak kare ini kan?" Karma berjalan mendahului Nagisa. Nagisa yang masih heran, cepat-cepat menyusul langkah Karma.
99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
Nagisa menatap dua piring kare dimeja makan. Keduanya belum tersentuh sedikitpun. Kemudian Nagisa mendengus mengingat Karma. Setelah menyuruh Nagisa memasak kare malam itu, ia justru pergi tanpa mengatakan apapun pada Nagisa.
" setidaknya kalau memang ada janji makan diluar, dia bisa bilang kan? jadi aku tak perlu memasak untuk dua orang." Rutuk Nagisa. Rumah itu jadi sangat sepi sekarang. Nagisa memutuskan untuk tak memakan karenya lebih dulu. Ia mengambil plastic pembungkus makanan dan melapisi piring itu dengan plastic. Kemudian ia berjalan kedepan televise dan menyalakannya. Dipencetnya remote untuk mendapatkan channel yang menarik. Namun Nagisa tak menemukan satu acarapun yang menarik perhatiannya malam itu. Nagisa akhirnya memutuskan untuk mematikan televisi dan kembali duduk di meja makan. Ia mengeluarkan handphonenya dan menggeser-geser layarnya tanpa tujuan. Akhirnya ia hanya bisa menghela nafas dan berdoa agar teman merahnya itu bisa cepat pulang.
99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
Karma tersenyum 'penuh arti' kepada sosok oranye didepannya. 'penuh arti' milik Karma benar-benar penuh dengan arti. Bahkan asano bisa merasakan bahaya dari senyuman milik Karma. Namun ia adalah seorang Asano Gakushu. Dan menjadi lemah hanya karena senyuman sadis milik Karma bukanlah gayanya.
" Jadi, apa hal penting yang ingin kau beritahukan padaku?" Tanya Karma.
" Kenapa Nagisa bisa berubah menjadi perempuan?" Tanya Asano to the point.
" Kenapa kau ingin tau?" Karma balik bertanya. Asano menatap Karma tajam. Karma tersenyum santai.
" Hanya kecelakaan kecil.." Jawab Karma. Asano mendecak pelan.. jawaban yang sama dengan Nagisa.
" Kau hanya ingin menanyakan hal itu?" Tanya Karma. Asano terdiam. Ya.. ia ingin menanyakan hal itu. Tapi ada satu pertanyaan lagi yang ingin dilontarkannya.
Apa kau menyukai Nagisa? Itulah yang Asano pikirkan sekarang. Tapi Asano tidak tau apakah menanyakanannya pilihan yang tepat atau tidak. ia menatap Karma yang tanpa ia sadari kini tengah menatap Asano heran.
" Kenapa kau.. menanyakan hal itu?" Tanya Karma. Asano balik menatap Karma heran. Bertanya? Dirinya?
" Tentang perubahan gender Nagisa?" Asano mencoba menebak. Ia sudah kehilangan arah pembicaraan karena otak errornya. Karma menggeleng.
" Tentang apakah aku menyukai Nagisa atau tidak." Jawab Karma. Asano melebarkan matanya. Ia sudah menyuarakan pikirannya! Terkutuklah otaknya hari ini. ia benar-benar kehilangan konsentrasi karena gadis itu. Kemudian setelah menenangkan diri beberapa saat, Asano memutuskan untuk menjawab.
" Apakah ada kemungkinan ia bisa kembali kewjud semula?" Tanyanya. Karma mengangkat bahunya.
" Entahlah.. aku juga tak tau. Dan kau belum menjawab pertanyaanku, Asano-kun." Ujar Karma.
" Baiklah.. aku menyukainya." Jawab Asano.
" Hm?" Karma mengernyit.
" Nagisa.. aku menyukainya."
99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
Butuh tiga detik untuk Karma bereaksi karena pengakuan Asano.
" Hee~ jadi?" Tanya Karma. Asano menghela nafas.
" tentu saja, aku tak suka melihatnya tersenyum atau tersipu karena ucapanmu." Jawab Asano lagi. Kali ini Karma mengangkat alisnya. Nagisa? Tersipu karenanya?
" Lantas?" Karma sengaja menanyakannya dengan intonasi yang membuat Asano naik darah.
" Aku ingin mengganti tujuan persaingan ini." Tawar Asano. Karma menegakkan punggungnya.
" Katakan." Asano tersenyum sinis.
" Tujuan utama bukan lagi untuk melindungi identitasnya." Asano menatap tajam pemuda merah didepannya. Karma sendiri sudah bisa menebak tujuan utama yang dimaksud.
" Tujuan utamanya, siapapun yang kalah.. menjauh dari Nagisa." Karma tersenyum. Tebakannya benar.
" Hee~ menarik.. jadi kalau aku benar, kau akan menghilang dari kehidupan kami. Iya kan?" Asano mengangguk. Kemudian ia menatap Karma.
" Kau.. apa kau juga menyukainya?" giliran Karma yang terdiam. Namun ia segera tersenyum tenang. Kemudian tanpa menjawab ia bangkit dari duduknya dan menatap Asano santai.
" Aku tidak membencinya. Jaa.. " Karma berjalan meninggalkan Asano sedangkan Asano menatap punggung Karma.
" Tak akan kubiarkan kau memilikinya, akabane!" Sumpah Asano dalam hati. Meskipun ia tak bisa menebak apa maksud jawaban Karma, ia merasa harus bersumpah demikian. Karena jawaban itu masih tak jelas baginya. Sedangkan Karma? Ia berjalan sambil menatap lalu lalang didepannya. Bibirnya tersenyum.
" Baakaa~ dia membocorkan kelemahannya pada lawan. Kau berubah polos hanya karena cinta, Asano. Mungkin aku harus memberi Nagisa hadiah karena telah membuat Asano jatuh cinta padanya. Tapi tenang saja, Nagisa.. dia tak akan semudah itu mendapatkanmu." Gumam Karma. Kemudian senyumannya berubah menjadi seringaian. Membuat beberapa anak kecil yang tengah mengantri membeli es krim berlari menghindarkan mata mereka dari wajah yang bisa merusak mimpi indah mereka malam nanti.
99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
" Tadaima!" Karma melepas sepatunya dan memakai sandal kain berwarna putih. Telinganya menunggu jawaban dari Nagisa. Namun ia tak juga mendengarnya. Kemudian hidungnya mencium aroma Kare. Ia bergegas menuju ruang makan. Kemudian ia terdiam dan tersenyum. Di meja makan, Nagisa menempelkan kepalanya ke meja. Matanya terpejam, rambutnya terurai. Karma mendekati gadis biru itu.
" Kau bisa masuk angina kalau tidur di tempat seperti ini, Nagisa." Karma menepuk pundak Nagisa. Tak ada respon. Gadis itu tetap terlelap. Karma membungkuk sedikit untuk memastikan gadis itu benar-benar tertidur pulas. Kemudian ia menghela nafas dan dengan pelan dirangkulkan tangan nagisa kebahunya kemudian sehalus mungkin Karma menariknya dalam sebuah pelukan. Karma menatap wajah Nagisa sambil berjalan. Nagisa nampak tak terganggu sedikitpun. Ia nampak nyaman tidur dalam gendongan Karma.
" Kau ringan sekali. Pantas saja dulu banyak yang menyangkamu perempuan. Kau sangat kecil, Nagisa." Karma terkekeh. Kemudian ia membuka pintu kamar Nagisa dengan kakinya lalu berjalan kea rah tempat tidur. Dengan pelan Karma membungkuk dan membaringkan Nagisa.
" Hh.. padahal aku belum makan malam. Kau juga sepertinya belum memakan bagianmu." Karma berkacak pinggang melihat sahabatnya. Kemudian pikirannya kembali pada pengakuan Asano. Ia sedikit heran dengan perubahan perasaan Asano yang tiba-tiba itu. Karma yakin wajah Nagisa masih tetap sama dengan sebelumnya. Lantas kenapa Asano baru menyadari perasaannya sekarang? Nagisa memang harus diberi penghargaan karena berhasil membuat Asano bertekuk lutut untuknya. Tunggu.. penghargaan? Tiba-tiba sekelebat pikiran nista melintas diotak Karma. Karma tersenyum kearah Nagisa. Rencana brilliant itu akan menguntungkan Karma. Selain ia bisa memberi penghargaan pada Nagisa, Karma juga secara tidak langsung telah membuat senjata untuk berperang. Sambil tersenyum, Karma meraih pipi Nagisa.
" Arigatou, Nagisa." Ucapnya. Kemudian ia melangkah pergi dari kamar Nagisa setelah sebelumnya menutup jendela dan mematikan lampu kamar Nagisa.
99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
Suasana pagi yang sibuk dijalanan kota. Kendaraan lalu lalang mengejar waktu agar tak terlambat. Karma dan Nagisa melangkah beriringan. Sesekali Karma menguap. Sejak Nagisa tinggal dirumahnya, Karma memang selalu bangun – dibangunkan dan dipaksa oleh Nagisa- pagi. Sedangkan disebelahnya, Nagisa berjalan sambil menunduk. Dipandangi sepatu hitamnya dalam diam. Sampai secara tiba-tiba ia merasa kerah bajunya ditarik dari belakang. Ia menoleh dan mendapati Karma tengah memegangi kerah bajunya sambil menatapnya . Nagisa menatap Karma. Seakan ia bertanya 'apa?' pada Karma.
" Kau bisa melanjutkan acara tak memperhatikan sekelilingmu di bukit sekolah nanti. Kau mau diprotes karena menyebrang sebelum waktunya?" Nagisa menoleh dan melihat sekeliling. Kendaraan masih lalu lalang tanpa henti. Sedangkan para pejalan kaki yang akan menyebrang jalan masih berdiri ditepian menunggu giliran untuk berjalan. Nagisa meraih tangan Karma dan melepaskannya dari kerah bajunya.
" Gomen. Hehehe.." Nagisa mengusap kepalanya. Kemudian lampu penyebrangan memberi tanda untuk pejalan kaki menyebrang. Mereka bergegas menyebrangi jalanan besar tersebut. Setelah berjalan beberapa lama, sampailah mereka dikompleks sekolahan. Bisa dilihat dari banyaknya remaja yang berseragam sama dengan mereka. Tentu saja yang membedakan hanya kenyataan bahwa mereka adalah murid gedung utama. Masih dalam diam, mereka berjalan. Karma melirik Nagisa sekilas. Memperhatikan gadis yang melanjutkan lamunannya itu.
" Memikirkan sesuatu?" Tanya Karma. Nagisa menggeleng.
" Betsuni.. aku hanya memikirkan Asano." Jawab Nagisa. Karma menghentikan langkahnya. Membuat Nagisa menoleh.
" Asano? Kenapa kau memikirkannya? Maksudku, apa dia benar-benar mengatakan sesuatu kemarin sore?" Tanya Karma. Nagisa terdiam beberapa saat kemudian ia menggeleng.
" Kami memang berbicara. Tapi tidak ada yang penting. Hanya saja.." Nagisa melanjutkan langkahnya. Karma bergegas mengejar.
" Hanya saja?" Nagisa menoleh kearah Karma.
" Cara bicaranya aneh. Tidak terdengar mengintimidasi seperti biasanya. Bahkan aku tidak merasa perlu waspada seperti biasanya jika ia mulai berbicara." Jawab Nagisa.
" Heh.. tentu saja, dia sedang jatuh cinta Nagisaaa~" Pikir Karma.
" Menakutkan." Gumam Nagisa.
" Hm?"
" Menakutkan. Berubah secara tiba-tiba seperti itu benar-benar menakutkan. Aku tak bisa berhenti berfikir kalau sesungguhnya ia tengah merencanakan sesuatu." Ujar Nagisa. Karma tersenyum kemudian merogoh saku bajunya.
" Jadi, apa menurutmu aku harus mencegahnya bertindak bodoh dengan ini?" Nagisa menoleh dan swetdrop melihat tanduk milik Karma keluar lengkap dengan senyuman iblisnya. Tangannya memegang sebuah benda yang diduga keras sebagai wasabi dan cabai.
" Tidak..tidak perlu, Karma-kun -_-" Nagisa menggeleng.
" Hee? Nande? Bukankah ini akan menyenangkan, Nagisa-chan~? Kita bisa menyusup ke gedung utama sekarang." Usul Karma.
" Karma-kun, kau hanya mencari-cari alasan untuk mengajakku bolos. Lupakan saja percakapan ini." Nagisa meraih tangan Karma yang tengah menatap gedung utama penuh minat, dan bergegas menariknya untuk menjauh. Tepat saat itu Karma melihat Asano yang tengah berjalan bersama para buntutnya menoleh kearahnya dan Nagisa. Mau bagaimana lagi? Karma dan Nagisa pasti lebih mencolok dibanding siswa gedung utama. Karma tersenyum samar dan membiarkan dirinya ditarik. Kali ini ia menahan dirinya untuk berbuat lebih. Kemudian ia menatap surai biru didepannya dan tersenyum
" Nice timing, Nagisa!" Ujarnya kemudian menepuk kepala Nagisa. Nagisa otomatis berhenti dan menoleh heran. Karma tangan Karma masih diatas surai lembut Nagisa.
" Ah, kita bisa terlambat kalau terlalu lama mengulur waktu seperti ini. ayo!" Kali ini ganti Karma yang menarik tangan Nagisa.
" Eh? Karma-kun, apanya yang nice timing?" Tanya Nagisa sambil ikut melangkah. Karma hanya tersenyum. Senyum penuh kemenangan yang membuat Nagisa heran bercampur curiga. Tapi Nagisa memilih diam dan terus berjalan disamping sahabat merahnya yang masih menarik tangannya. Meninggalkan Asano yang memang berwajah datar namun tangannya jelas mengepal erat.
9999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
Kelas berjalan normal hari itu. Koro sensei saat ini tengah menerangkan tentang system pernafasan saat Karma membuka handphonennya dan mengetik diastasnya. Dalam satu tekanan, pesan itu terkirim. Dibangku lainnya, Nakamura merasakan handphonenya bergetar disaku sweaternya. Ia meraih handphonenya dan mengangkat alis saat melihat nama yang tertera. Ia membuka pesan tanpa menoleh kearah Karma. Kemudian mengetik beberapa kata dan tersenyum penuh minat.
" Karma-kun! Apa yang sedang kau lakukan?" Tany Koro-sensei dari depan kelas. Karma mendongak dan mengangkat handphonennya sambil tersenyum santai.
" Menjawab pesan, sensei." Jawabnya.
" tidak menjawab pesan selama pelajaran berlangsung!" Wajah Koro sensei langsung berubah ungu dengan tanda silang berwarna gelap di wajahnya.
" Sebagai hukumannya, kau maju dan jelaskan tentang system pernafasan kepada semua temanmu sampai mereka mengerti!"
" hmm? Ok~" Karma bengkit dari bangkunya dan maju. Kemudian ia mulai menjelaskan apa yang tadi dijelaskan oleh Koro sensei.
" Nah, apa kalian mengerti? Are, Terasaka-kun, kau boleh bertanya kalau kau sama sekali tidak mengerti." Karma tersenyum Ikemen.
" AKU MENGERTI!" Terasaka membela dirinya. Koro sensei sudah akan menyuruh Karma duduk saat sebuah tangan terangkat.
" Ano, Karma-kun.. sebetulnya ada yang tidak kumengerti. Bukankah bernafas itu membutuhkan oksigen? Tapi kenapa jika ada yang pingsan kita justru memberi nafas buatan sedangkan kita sendiri tak menghasilkan oksigen? Justru kita menghasilkan karbon dioksida. Bukankah itu akan membahayakan korban?" Tanya Nakamura. Semua mata menoleh. Tidak mungkin si jenius itu tak mengerti. Karma tersenyum.
" Hmm.. secara logika sepertinya memang membahayakan dan tidak menolong.. tapi secara tehnis terbukti menolong. Kau mau buktinya?" Tawar Karma. Koro sensei terlihat sedikit panic.
" Ettoo.. biar aku yang menjelaskan, Karma-kun. Kau bisa duduk." Potong Koro sensei. Ia bisa menduga apa yang akan dilakukan Karma.
" Hee? Tapi kau bilang sampai mereka semua mengerti, sensei. Dan Nakamura juga belum mengerti." Jawab Karma.
" Nyunya~" Keringat Koro sensei menderas. Siapa yang akan jadi korban?
" Iya sensei.. biarkan saja. Aku juga tak mengerti." Kali ini suara Okajima. Nakamura langsung melirik Okajima.
Kalau kau semua tau alasannya, pervert!
Karma berjalan kearah bangku Nagisa. Kemudian ia menarik tengkuk Nagisa sehingga kepalanya mendongak. mata mereka bertemu. Wajah Karma semakin mendekat. Semua murid menahan nafas melihat adegan itu. Detik berikutnya, Karma sudah menghilang dari wajah Nagisa dan Nagisa bisa mendengar suara tawa Karma dibangkunya sendiri.
" Kau terlalu panic, Koro sensei.." Ujar Karma disela tawanya.
" Tentu saja! Tidak ditengah kelas, Karma-kun!" Jawab guru guritanya.
" Hee~ jadi diluar kelas boleh?" tantang Karma. Nakamura menahan tawa sedangkan semua orang bertekad untuk melindungi Nagisa dari keiblisan Karma. Kecuali Nakamura dan Okajima, mungkin.
99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
" Jadi, apa rencanamu?" Tanya Nakamura. Karma mengangkat bahunya kemudian menyedot susu kotaknya. Saat itu adalah jam makan siang.
" kalau kau bertanya tentang rencana, tentu saja aku punya segudang rencana. Tapi masalahnya adalah bagaimana caranya agar rencanaku ini bisa berjalan dengan sukses." Ujar Karma.
" Hm? Kau pesimis dengan idemu? Tak seperti biasanya." Ledek Nakamura.
" Saa… aku sudah berencana membuat asano cemburu di berbagai kesempatan."
" Ugh.. yang tadi dikelas tidak termasuk rencanamu bukan?" Tanya Nakamura. Lagipula bagaimana asano bisa melihat adegan saat jam pelajaran?
" Hmm… sepertinya aku harus mengajak Nagisa untuk sering-sering kencan." Jawab Karma.
" Ugh.. percuma saja kalau kalian bertindak seperti sepasang kekasih tapi tidak didepan Asano." Jawab Nakamura.
" Atau aku harus membuat Nagisa selalu tersipu jika bersamaku? Asano bilang dia tak suka itu." Usul Karma.
" Tidak, Karma-kun. Hentikan ide konyolmu itu." Keduanya kini terdiam.
" Demoo… aku tak menyangka Asano bisa sepolos itu untuk mengatakan kelemahannya dihadapan musuh." Nakamura meminum jus apelnya. Kemudian ia menoleh kearah Karma.
" Jadi, rencana awalmu?" Tanya Nakamura lagi.
" membuat Nagisa menjadi primadona kelas?" Karma mengusulkan ide bejatnya. Nakamura terdiam sejenak kemudian tersenyum penuh arti.
" Aku ada ide." Karma menoleh menatap partner in timenya dengan senyuman.
" Baiklah, aku ikut." Jawab Karma. Nakamura tersenyum kemudian ia menoleh dan wajahnya berubah serius.
" Ne, Karma-kun.. apa kau melakukan hal ini hanya untuk membuat Asano cemburu?" Tanya Nakamura. Karma sukses terdiam.
" Tentu saja." Jawab Karma. " Aku tak akan membiarkan Asano mendekati Nagisa semudah itu. Lagipula, Nagisa adalah sahabat yang harus dilindungi." Jawab Karma.
" Hahaha.. kau membuat Nagisa terdengar seperti hewan peliharaan, Karma-kun. Tapi, kau yakin tak lebih dari itu? Mungkin kau melakukan ini karena…. Dirimu sendiri yang memaksa?"
99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
" Mungkin kau melakukan ini karena … dirimu sendiri yang memaksa?" Karma mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian tertawa.
" Ayolah Nakamura-san. Apa pula maksudmu dengan perkataan dramatis itu?" Tanya Karma tak mengerti. Nakamua mendecak kesal.
" Maksudku, kau melakukan itu karena hatimu benar-benar tidak rela kalau Nagisa harus berjalan dijalan yang sama dengan Asano. Kau tau, seperti mungkin kau membenci kemungkinan Nagisa akan bisa ditaklukkan hatiny oleh asano?" Karma memikirkan kata-kata Rio.
" Bagaimana kau bisa berfikir seperti itu?" Tanya Karma. Nakamura tersenyum.
" Ne, Karma-kun… bahkan aku, Nakamura Rio tidak harus menjadi jenius sepertimu untuk bisa mengerti semua ini." Jawab Nakamura.
" Hahaha… lupakan saja pertanyaan konyolmu itu. Aku bingung mendengarnya. Nagisa sahabatku dan sudah tugasku untuk melindunginya sementara ini." Jawab Karma sembari bangkit dan meninggalkan Nakamura Rio yang tengah tersenyum.
" Baiklah… rencanaku akan membuatmu berfikir dua kali dengan tujuanmu, akabane Karma."
99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
" Hmm… hhmmm…." Sugino memegangujung dagunya. Nampak berusaha menimbang-nimbang sesuatu.
" Ayolah, Sugino-kun… kau tak perlu seserius itu!" Kurahashi menepuk punggung Sugino keras.
" Ittai, Kurahashi-san… bukan begitu, maksudku.. apa Nagisa mau diperlakukan seperti itu? Selama ini identitasnya kan masih dirahasiakan." Jawab Sugino. Semua diruangan itu mengangguk setuju.
" Karena itulah kami butuh bantuan kalian!" Jawab Nakamura. Yang lain menatap gadis pirang itu tertarik.
" Kalau kalian setuju dengan rencana ini, kita akan bicarakan rencana selanjutnya." Tawar Nakamura. Semua terdiam beberapa saat.
" Hhh.. kalau ini memang bisa membuat Nagisa selamat dari ancaman Asano, baiklah. Aku ikut." Isogai sang ketua kelas mengacungkan tangannya. Kemudian para murid. coret Nagisa. Dia sudah diungsikan oleh Koro sensei setelah mendapatkan laporan dari Nakamura –yang tentu saja bohong- bahwa Nagisa terlihat kurang sehat sepulang sekolah itu.
" Yosh! Pertama, akan kuberitahu kabar yang mengejutkan. Dan kuharap kalian semua bisa menjaga mulut kalian agar Nagisa tak tahu tentang hal ini." Nakamura mengedipkan matanya. Semua menatap gadis pirang itu penasaran.
" Ano ne… Asano, dia mengatakan dengan sangat jelas didepan Karma –kun bahwa dia menyukai Nagisa-chan!" Pekik Nakamura.
1….
" NANI?" Respon para lelaki.
" KYAAAAAAAA." Respon para wanita.
" Khuhuhu… bagaimana?" Nakamura kini terlihat bagaikan ibu-ibu yang suka bergosip.
" Tidak.. tidak… itu salah!" Isogai menggeleng-gelengkan kepalanya. Disebelahnya, Maehara mengangguk.
" Ya. Sangat berbahaya kalau Nagisa harus menjalin hubungan dengannya. Lebih baik Nagisa menjalin hubungan denganku daripada dengannya." Timpal Maehara.
" ITU YANG KAU PIKIRKAN?" Teriak Mimura.
" Hmm… Asano dan Nagisa? Tidak.. tentu saja tidak… kita tak bisa membiarkan Nagisa jatuh ketangan yang salah!" Sugino berapi-api.
" A..ano.. apa diantara kalian ada yang berfikir bahwa harusnya hubungan itu tak normal?" Isogai mengeluarkan suaranya. Kemudian ia terdorong kebelakang saat Fuwa dengan semangat mengangkat tangannya. Bahkan omongan Isogai dianggap angina lalu oleh para murid.
" Tidak bisa! Kita harus membuat Nagisa jatuh cinta dengan seseorang sebelum hatinya diambil oleh Asano dengan jurus hasutan dari ayahnya!" Usul Fuwa. Seluruh murid – kecuali Isogai yang masih shock dengan pola pikir teman-temannya yang mulai lupa gender asli Nagisa- mengangguk setuju.
" fufufu…. Baiklah, kita akan buat rencananya. Hari minggu nanti, kita akan pergi ke taman bermain yang baru dibuka didaerah beika. Semuanya! Kita akan mengawasi Nagisa untuk kencan! Hohoho~" Nakamura mulai aneh.
" demo… kau bilang ini kencan.. bagaimana caranya kita memaksa Nagisa untuk berkencan? Maksudku, apa dia mau pergi berkencan dengan laki-laki?" Tanya Okuda bingung.
" Um.. Okuda benar." Isogai setuju. Nakamura menggoyangkan jari telunjuknya.
" Ck..ck..ck.. kita akan membuat Nagisa mendapat perlakuan istimewa dari semua anak laki-laki. Jadi tugas kalian para lelaki adalah tunjukkan pada Asano seberapa protektifnya kalian sehingga ia berfikir bahwa mendekati Nagisa bukanlah hal yang mudah! Kalian akan diberi kesempatan untuk berdua dengan Nagisa dalam setiap wahana yang memungkinkan untuk dilihat. Beberapa mungkin saat Nagisa tengah istirahat atau makan siang. Bagaimana?"
" Aku setuju! Kecuali okajima dan terasaka!" Kayano mengajukan masukannya yang langsung mendapat tanggapan ' kenapa aku tak boleh?' dari Okajima dan ' apa maksudmu dengan syarat itu?' dari Terasaka.
" Hmm..hmm.. baiklah." Nakamura kini mencatat semua usulan.
" ano.. tugas kita apa?" Tanya Kanzaki. Nakamura menoleh kearah Kanzaki dan tersenyum.
" Tugas kita? Tentu saja membuat Nagisa tampil menarik sampai taka da yang sadar bahwa itu Nagisa!" Jawab Nakamura. Para wanita mengangguk.
" Nah, Hazama-san.. mungkin kau bisa membuat plot dramanya?" Tunjuk Yada.
" Err.. maksudmu jadwal kencan Nagisa, bukan?" Hayami mengoreksi.
" Tapi, tetap saja harus ada diantara para pria yang memainkan peran lebih dominan untuk membuat Asano cemburu, Nakamura-san. Kalau semua bertingkah sama, Asano akan berfikir bahwa Nagisa hanyalah manusia yang dilindungi oleh teman-temannya yang overprotective, namun tak mempunyai kekasih." Hara berkomentar.
" Kalau begitu, kurasa itu tugas Karma-kun!" Tunjuk Megu.
" Hm?" Karma yang sedari tadi diam mendongak saat namanya disebut.
" Tidak. kali ini tugas itu tak jatuh pada Karma." Nakamura menatap teman-temannya dan tersenyum. Sekilas matanya melirik kearah Karma yang menatap Nakamura penasaran. ' siapa yang akan maju untuk peran itu?' begitulah arti tatapannya. Kemudian Nakamura menghamparkan selembar kertas hvs didepan teman-temannya. Mereka membaca kertas berisi struktur panitia yang dibuat Nakamura untuk mensukseskan rencana mereka. Kemudian mata mereka melebar saat melihat nama peran 'kekasih' Nagisa. Mereka menoleh kearah sang tersangka yang menatap mereka datar. Nakamura tersenyum puas dan melirik Karma yang juga tengah menatap sang tersangka dengan tatapan aneh.
" Hmm… Setelah acara ini, akan kubuat kau menyadarinya.. Akabane Karma!"
99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
Kyaaaaa entahlah apa ini XD
Tapi amaya tetap menikmati tulisan ini * padahal tulisan sendiri XD
CrazywithKaruNagi-san: Yup! Nagisa is so kawaaai :3. The fight will begin :D I hope you like it.
Kurohashi y-kun: ayo kepo terus kepo terus biar baca lagi XD*plak
Zee cielova: ya saya juga menciumnya. Baunya tajem banget*plak. Karma selalu nekat mah.. dia muka tembok kalo begituan XD Arigatou.. stay tune ya ^^/
Minna Arigatou sudah membaca mengikuti dan mereview. Kritik dan saran masih saya tunggu.
Jaa mata ne!
