Hi everyone ^^/

Ah, Amaya bersyukur karena fic ini bisa sampai chapter 7 ^^

Gomen ne, kalau ceritanya tambah aneh. yah, tingkat keanehan saya juga lagi naik sih*plak

Well, Gak bosen saya ingatkan Ansatsu Kyoushitsu milik Yuusei Matsui yang akan selalu menghibur meskipun entahlah… sudah… ( spoiler ini XD)

Nah, minna.. hajimari!

Chapter 7

Girl?

" Eh? Kita akan mengunjungi taman bermain yang baru itu?" Tanya Nagisa sambil melipat baju miliknya dan milik Karma. Karma mengangguk.

" Nakamura bilang disana ada tempat untuk ice skating yang bagus. Jadi kita sepakat untuk berlatih disana." Jawab Karma.

" Hmm… ok." Jawab Nagisa singkat. Karma memperhatikan surai biru yang kini membawa tumpukan baju dan memasukkannya kedalam lemari.

" Hey Nagisa.." Panggil Karma. Nagisa menoleh. Karma menatap Nagisa beberapa saat kemudian ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

" Tidak apa-apa." Jawabnya. Nagisa menaikkan alisnya bingung. Karma melangkah meninggalkan Nagisa. Ia menuju ke ruang keluarga dan menyalakan televisinya.

" Karma-kun, aku membeli popcorn tadi. Kau mau aku membuatnya?" Suara Nagisa terdengar dari arah dapur. Karma tersenyum.

" Boleh." Jawabnya. Kemudian ia kembali asyik menonton televisinya. Beberapa menit kemudian, Nagisa datang dengan membawa semangkuk popcorn dan dua gelas susu hangat.

" Kau bisa meminta bantuanku kalau harus membawa sebanyak ini." Karma membantu Nagisa meletakkan gelas susunya. Nagisa tersenyum dan menggeleng pelan.

" Taka pa.. aku sudah biasa dengan hal seperti ini." Jawab Nagisa. Kemudian ia duduk disebelah Karma. Matanya menatap lurus ke layar televisi. Mereka kemudian asyik menonton acara yang ditayangkan. Sesekali Karma melirik Nagisa.

" Ne, Nagisa.. aku ingin menanyakan sesuatu." Ucapnya. Nagisa mengangguk tanpa menoleh.

" Apa yang kau rasakan sekarang?" Tanya Karma. Kali ini Nagisa menoleh dan menatap sahabatnya heran.

" Yang kurasakan? Karma-kun, kenapa kau bertanya seperti itu? Dan apa maksudnya?" Nagisa balik bertanya. Karma mengangkat bahunya.

" Kau tau, secara fisik kau berubah menjadi perempuan. Aku jadi ingin tau apakah perubahan itu hanya terdapat pada fisikmu saja? Apa tidak berpengaruh dengan kepribadianmu?" Tanya Karma. Nagisa termangu. Karma mengatakan pendapatnya yang sama dengan pertanyaan Asano.

" Menurutmu?" Karma menoleh. " Bagaimana menurutmu? Kalaupun kepribadianku berubah, kau pasti menyadarinya bukan, Karma-kun?" Karma menggeleng.

" Bukan itu maksudku.. kalau tentang kepribadian yang itu, kau jelas masih sama dengan yang dulu. Maksudku, tentang perasaan." Karma kini duduk menghadap Nagisa. Gadis itu menaikkan alisnya.

" Perasaan?" Ulangnya. Karma kembali mengangguk.

" Ne, saat kau masih laki-laki, apa kau pernah tertarik dengan anak perempuan dikelas kita? Atau gadis manapun?" Tanya Karma sambil tersenyum. Nagisa melebarkan matanya. Tak menyangka bahwa Karma akan menanyakan hal itu.

" P..pertanyaan apa itu?!" Seru Nagisa. Wajahnya memerah.

" Sudahlah.. jawab saja!" Tuntut Karma tak sabar. Nagisa mendengus namun memilih untuk memikirkannya.

" Kalau kuingat sejauh ini.. aku tidak memiliki hal yang terlalu special… demo, kalau itu tentang kagum yang dimiliki hampir setiap pria, mungkin aku pernah. Seperti kalau kau mendapat sapaan dari gadis cantik popular. Kau tau kan, setiap pria akan merasa bangga karena hal itu." Jawab Nagisa.

" Aku tidak." Ujar Karma cepat.

" Urgh.. kau memang tidak normal, karma-kun." Gumamnya.

" Jadi, kau tidak memiiki perasaan istimewa? Seperti merasa nyaman jika kau dekat dengannya? Ayolah.. kau pasti punya orang terdekat bukan?" Karma tersenyum menggoda. Nagisa mengusap dagunya. Mencoba mencari orang dengan kriteria yang dikatakan Karma. Kemudian ia menoeh dan menatap Karma.

" Apa?" Tanya Karma tak mengerti.

" Demo Karma-kun, selama ini orang terdekatku adaah Karma-kun, deshou?"

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

" Demo Karma-kun, selama ini orang terdekatku adaah Karma-kun, deshou?" Karma mengerjapkan matanya beberapa kai sebeum akhirnya tertawa.

" Kau mau mengatakan kalau kau menyukaiku, hm?" Tanya Karma. Nagisa memerah.

" Bu..bukan seperti itu! Maksudku, kau bertanya apakah aku memiliki orang terdekat.. jadi kujawab saja. Aku tidak salah kan?" Nagisa membela diri.

" Heee~ bukankah kau lebih sering bersama Sugino?" Entah kenapa Karma ingin mengatakannya.

" Um.. aku memang sering berbincang dengan Sugino. Tapi kalau menurutmu definisi orang terdekat adalah orang yang bisa membuat kita nyaman, berarti kau orangnya Karma-kun." Jawab Nagisa.

" Te..tentu saja aku tak bermaksud apapun dengan mengatakan hal ini." Imbuh Nagisa cepat-cepat. Wajahnya sudah memerah. Karma tercengang melihat ekspresi Nagisa. Tersipu? Karma tertawa. Kemudian menepuk kepala Nagisa.

" Jadi, kau merasa nyaman denganku,hm? Bagaimana kalau kau kuajak kencan sekarang?" Goda Karma.

" Ka..Karma-kun! Aku laki-laki!" Elak Nagisa.

" Oh ya? Kau selalu lupa kalau kau wanita sekarang, Nagisa-chan~" Karma bangkit dari duduknya.

" Ayo cepat siap-siap!" Ujar Karma. Nagisa menoleh bingung.

" Untuk apa?" Tanyanya. Karma menoleh dan tersenyum jahil.

" Kencan." Jawabnya sambil meninggakan Nagisa yang melongo.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

Karma tidak bercanda saat ia bilang akan mengajak Nagisa 'kencan' malam itu. Mereka tengah duduk dia bangku taman sambil menyaksikan pertunjukan para pemusik jalanan.

" Eng.. Karma-kun, seharusnya kau tak peru membelikanku sepatu ice skating ini.. aku bisa mengambilnya dirumahku." Nagisa memperhatikan tas sepatunya. Karma menegak sodanya dan menoleh.

" Rumahmu jauh. Lagipula besok kita akan latihan. Jadi tidak akan sempat kalau kita mengambinya dirumahmu." Jawab Karma. Para pemusik jalanan itu selesai memainkan satu lagunya. Para penonton bertepuk tangan. Nagisa dan Karma terjebak dalam keheningan. Kemudian telinga mereka menangkap suara dentingan piano. Rupanya salah seorang dari kelompok pemusik itu akan bermain solo. Karma menaikkan alisnya. Kepalanya seketika dipenuhi ide saat mendengar kunci-kunci yang dimainkan sang pemusik.

" Nagisa, ikut aku sebentar." Karma menarik Nagisa tanpa peringatan.

" Eh? Matte.. " Nagisa tertarik dengan mudahnya. Kemudian mereka sudah berdiri di bagian taman yang sepi. Disebelah sebuah air mancur. Hari itu bukanlah weekend. Jadi tak banyak orang yang datang ke taman. Dan saat ini hampir seluruh pengunjung taman memfokuskan diri pada pertunjukan pemusik jalanan. Nagisa berdiri didepan Karma sambil menatap Karma heran.

" Karma-kun, mau apa kita di.." KAlimatnya berhenti saat Karma meraih tangan kanan Nagisa dan menempatkannya di bahu Karma. Kemudian ia merasakan tangan kiri Karma menyelinap kepinggangnya. Tubuh Nagisa menegang.

" K..Karma-kun!"

" Sssttt.." Karma memberi isyarat agar Nagisa merendahkan suaranya.

" demo… kalau ada yang melihat…" Nagisa menunduk sedikit. Wajahnya memerah. Kemudian Karma meraih tangan kiri Nagisa dan menggenggamnya.

"Taka da yang melihat." Karma mulai melangkah. Membuat Nagisa harus mengikuti gerakannya.

" Karma-kun.. kenapa kita.. melakukan ini?" Tanya Nagisa. Karma tersenyum.

" Latihan." Jawabnya singkat.

" Nagisa, kepalamu harus diangkat. Kau harus melihatku. Itu tehnik dasar agar kau bisa berdansa dengan baik." Karma menasihatinya. Nagisa dengan ragu mengangkat wajahnya dan menatap Karma. Karma menatap Nagisa tepat dimanik birunya. Membuat Nagisa tak bisa bereaksi. Mata Karma terasa dalam. Menarik Nagisa untuk terus menelusurinya. Tunggu… kenapa dengan otaknya? Bukankah sebelumnya otaknya tak sepuitis itu saat ia harus menumpuk pandangannya dengan Karma? Kemudian Karma melepaskan pegangannya. Saat itulah Nagisa sadar bahwa music telah selesai dimainkan.

" Hmm… lumayan! Sudah kubilang bukan, kau hanya perlu menatap pasanganmu untuk membuatmu bisa berdansa dengan baik." Ujar Karma. Nagisa mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya menoleh kearah lain.

" Um… sebaiknya kita pulang sekarang, Karma-kun." Ajak Nagisa.

" tentu." Jawab Karma. Mereka berjalan meninggalkan air mancur taman itu. Namun belum juga mereka keluar dari taman, Nagisa meringis sambil memegang perutnya. Karma menyadari nafas Nagisa memberat. Ia menoleh dan menemukan wajah pucat Nagisa.

" Oi, Nagisa.. daijobu?" Tanya Karma. Nagisa menggigit bibirnya.

" Daijobu." Jawabnya. Karma menatapnya tajam. Jelas ia sedang tidak baik-baik saja! Ditatap seperti itu, Nagisa tersenyum canggung.

" Perutku.. sakit." Jawab Nagisa sebelum akhirnya ia terjatuh.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

Karma ingat bahwa taman itu berada tak jauh dari rumah Nakamura Rio. Setelah meihat Nagisa yang terduduk lemas sambil memegang perutnya, ia langsung menggendong sahabat birunya dan berlari menuju rumah Rio. Dan disinilah ia sekarang. Di ruang tamu Rio. Sedangkan Nagisa tengah mendapat perawatan dari teman pirangnya itu. Beberapa menit berlalu ketika akhirnya Nakamura Rio membuka pintu kamarnya dan menghampiri Karma.

" Bagaimana?" Tanya Karma. Nakamura tersenyum.

" Tidak usah khawatir, Nagisa baik-baik saja." Jawabnya.

" Benar dia baik-baik saja? Keihatannya tidak begitu tadi." Karma memastikan.

" Um! Dia hanya… sedang mengalami masanya." Jawab Nakamura. Karma mengangkat alisnya heran.

" Ah sudahlah.. yang penting, nanti sampai dirumah tanyakan padanya apa perutnya masih sakit atau tidak. kalau iya, kompres dengan air hangat dan berikan the manis hangat padanya." Intruksi Nakamura. Tepat setelah Nakamura menutup mulutnya, Nagisa muncul dengan wajah pucatnya.

" Nagisa. Daijobu?" Tanya Karma. Nagisa mengangguk dan tersenyum.

" Karma-kun.. sebaiknya kita pulang saja. Sudah selarut ini." Ujar Nagisa lirih.

" Kau yakin? Kau masih terlihat pucat." Jawab Karma. Nagisa tersenyum.

" Aku baik-baik saja. Nakamura-san, Arigatou." Nagisa membungkuk kearah Nakamura.

" Tentu. Kalau ada yang ingin kau tanyakan tentang hal itu, kau bisa menghubungiku kapan saja, Nagisa-chan." Jawab Nakamura. Karma semakin menatap kedua orang didepannya bingung. Kemudian ia memutuskan untuk bangkit dan berpamitan. Setelah mengucapkan terimakasih pada Nakamura, mereka kembali berjalan menuju stasiun.

" Nagisa, kalau masih sakit kita bisa pulang dengan taxi. Bagaimana?" Tawar Karma. Nagisa menoleh dan mengangguk. Ia tak menyangkal kalau perutnya masih terasa sakit. Setelah menunggu beberapa saat, Karma melambaikan tangannya untuk menghentikan taxi. Karma menyebutkan alamatnya dan menyendenkan punggungnya. Ia melirik Nagisa yang sesekali meringis menahan sakit. Nagisa nampak tak nyaman dengan posisinya. Ia terlihat bergerak-gerak gelisah. Melihat itu, Karma menarik tangan Nagisa sampai kepala Nagisa membentur bahu Karma. Dengan cepat Karma menahan kepala Nagisa di bahunya.

" Karma-kun!"

" Ssshhh… diam dan tidurlah!" Perintah Karma. Nagisa terdiam kemudian memilih untuk mencoba tidur. Karma tersenyum tipis saat melihat gadis biru itu tak protes sedikitpun. Jalanan kota Tokyo masih terlihat ramai di tengah malam seperti itu. Beberapa masih terlihat lengkap dengan seragam sekolahnya. Setelah perjalanan selama 20 menit, mereka sampai didepan rumah Karma. Karma menyodorkan uang kepada sang supir kemudian melirik gadis yang masih terpejam itu. Ia sudah akan memutuskan untuk menggendongnya saat Nagisa membuka matanya.

" Mm? sudah sampai ya, Karma-kun?" Nagisa mengernyitkan matanya.

" Um. Kau bisa turun?" Tanya Karma. Nagisa mengangguk dan perlahan turun dari mobil. Kemudian mereka berjalan memasuki rumah Karma.

" Apa perutmu masih sakit?" Tanya Karma. Nagisa menoleh dan tersenyum.

" Tidak perlu khawatir. Aku.."

" apa masih sakit?" Tanya Karma lagi. Nagisa terdiam kemudian mengangguk. Mereka kemudian berjalan kearah kamar Nagisa. Setelah memastikan Nagisa memasuki kamarnya tanpa cacat sedikitpun, Karma menyuruhnya untuk istirahat.

" aku akan membawakan air hangat untuk mengompres perutmu. Dan teh hangat, atau coklat hangat?" Nagisa tertawa kecil.

" Kau tak perlu serepot itu, Karma-kun.. sungguh! Tapi terimakasih." Jawab Nagisa.

" Ck.. aku tidak mengharapkan jawaban seperti itu. Aku bertanya teh atau coklat hangat?" Tanyanya sekali lagi. Nagisa tersenyum.

" Teh saja." Jawabnya. Karma tersenyum.

" Ok, kau bisa berbaring selagi aku membuatkanmu te.."

" Karma-kun." Karma yang sudah akan membalikkan badannya, mengurungkan niatnya saat mendengar panggilan lirih Nagisa. Ia melempar tatapan 'apa?' pada Nagisa. Didepannya, Nagisa nampak berdebat dengan sesuatu dalam hatinya. Bahkan wajah Nagisa sedikit memerah.

" Etto… dimana.. kau meletakkan pembalut yang kau beli waktu itu?" Tanyanya pelan. Karma tercengang. Apa katanya tadi? Nagisa menunduk. Tak berani menatap wajah sahabatnya. Ia sudah terlanjur menebak ekspresi apa yang akan dikeluarkan temannya itu. Karma tersenyum jahil saat melihat wajah Nagisa yang memerah.

" Hee~ kau tanya apa tadi? Suaramu sangat pelan.. aku tak bisa mendengarnya, Nagisa~" Jawab Karma.

" USO! Dengan intonasi mengejekmu, sudah pasti kau mendengarnya bukan?" Rutuk Nagisa dalam hati. Namun ia tau bahwa Karma tak akan menjawabnya jika ia tak mengulanginya.

" Dimana.. pembalutnya?" Tanya Nagisa. Karma tersenyum.

" Hmm~ Kupikir kau tak membutuhkannya… jadi sudah kubuang!" Jawab Karma. Nagisa mendongak dan wajahnya memucat. Bagaimanapun, Nagisa membutuhkan benda itu sekarang! Melihat ekspresi terkejut diwajah Nagisa, Karma tertawa.

" Hahaha…. Bercanda.. Gotcha! Aku letakkan dilaci bawah lemari pakaianmu, Nagisa. Nah, aku akan membuat tehmu dulu. Jaa~" Karma melambaikan tangannya meninggalkan Nagisa yang masih memerah. Karma berjalan menuju dapur sambil tersenyum.

" dia mengalami masanya? Ternyata dia juga harus mengalaminya. Mengalami apa yang biasa dialami para wanita. Jadi, dia benar-benar wanita sekarang, hm?" Karma bersenandung kecil. Entah kenapa kenyataan itu membuatnya terus tersenyum.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

Karma duduk santai didepan meja belajar milik- setidaknya sekarang- Nagisa. Tangannya memegang sebuah buku dengan tulisan berbahasa inggris didalamnya. Telinganya tertutup sebuah earphone berwarna hitam. Dengan cepat ia membalik halaman-halaman berbahasa inggris itu. Setengah jam kemudian, buku itu sudah selesai dibacanya. Bosan, ia mencoba memilah-milah buku diatas meja belajar milik Nagisa. Kemudian tangannya mengambil sebuah buku bertuliskan matematika. Karma membukanya dan melihat-lihat hasil pekerjaan Nagisa yang dipenuhi gambar gurita atau tentakel. Dihalaman terakhir, ia melihat bahwa Nagisa sudah selesai mengerjakan tugas rumah dari Koro sensei. Karma meraih pensil di tempat pensil kemudian mencoret- coret buku Nagisa. Membenarkan beberapa jawaban yang salah dengan beberapa catatan khusus untuk Nagisa. Semacam rumus agar ia bisa mengingatnya dengan mudah. Kemudian matanya terarah pada gadis biru yang tengah terlelap di ranjang sebelahnya. Ia bangkit dan menatap Nagisa yang tengah tertidur. Ia mengingat telpon Nakamura satu jam yang lalu.

" Ingat Karma, kendala wanita saat mengalami hal itu bukan hanya sakit perut. Dia bisa juga mengalami sakit kepala karena tekanannya mungkin turun. Nah, kalau sudah begitu.. beri dia susu hangat dan makanan yang bisa menaikkan tekanan darahnya. Atau mungkin disekitar punggung dan pinggangnya sakit. Ah, kau harus lebih menahan diri untuk menjahilinya. Kau tau, saat mendapat masanya, perempuan akan lebih sensitive. Terkadang mereka suka marah seenaknya atau justru menangis tiba-tiba. Jadi, tahanlah dirimu dan perbuatan nistamu itu. Apalagi ini yang pertama kali bagi Nagisa-chan. Pasti dia akan merasa sangat tersiksa karena belum terbiasa." Karma menyentuh hidung Nagisa dengan telunjuknya.

" Nagisa?" Ia mencoba memanggil. Tak ada respon. Nagisa sudah tertidur. Karma tersenyum kemudian melepas earphonenya.

" Oyasumi, Nagisa." Ujarnya kemudian berjalan meninggalkan kamar Nagisa.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

Nagisa duduk termenung menatap lapangan sekolahnya yang dipenuhi anak-anak kelas 3-E. Nagisa sendiri sekarang tengah duduk dibawah pohon sambil memegang botol airnya. Ia juga tak mengenakan pakaian P.E nya. Setelah mengalami perdebatan, Nagisa terpaksa harus menuruti keinginan teman-temannya untuk tidak mengikuti kelas P.E hari itu.

" Membosankan ne, Nagisa kun-chan?" Nagisa menoleh dan mendapati Koro sensei tengah menyodorkan sebuah es krim kearah Nagisa. Nagisa tersenyum dan meraih es krim dari koro sensei.

" Es krim khas sanghai yang kubeli saat jam makan siang tadi. Aku tidak tau kau suka rasa apa. Jadi sensei belikan kau rasa strawberry. Kau tidak keberatan bukan?" Tanya Koro sensei. Nagisa mengangkat alisnya.

" Sensei sengaja membelikannya untukku? Arigatou." Nagisa tersenyum dan mulai menjilat eskrimnya. Mereka lantas terdiam. Mengamati para muri kelas 3 E yang tengah berlatih dengan pisau anti koro sensei.

" Ne, Nagisa.. bagaimana perasaanmu?" Tanya Koro sensei. Nagisa menoleh.

" Aku baik-baik saja. Kenapa kau menannyakan hal itu, sensei?"

" iie.. sensei hanya ingin tau mungkin kau merasa terbebani karena gender yang kau sandang sekarang." Ucap Koro sensei. Nagisa terdiam. Gendernya? Ah, Nagisa bahkan tak memikirkan hal itu sekarang. Bagaimana mungkin ia melupakan kenyataan bahwa gendernya tengah mengalami perubahan? Tapi Nagisa sendiri memang tak merasakan adanya perubahan selain gendernya. Sifatnya, dan sikap teman-temannya terhadapnya masih sama saja. Ia masih bisa berbicara santai bahkan hang out dengan teman-teman prianya seperti biasa. Mereka juga sepertinya melupakan kenyataan bahwa Nagisa sekarang adalah perempuan.

" Nagisa?" Koro sensei memanggilnya dari lamunan.

" Eh? Ah, aku baik-baik saja sensei." Kemudian matanya beralih pada sosok Okuda.

" Ano, apa Okuda-san masih sering pulang terlambat untuk membuat formula racunnya?" Tanya Nagisa. Ia merasa tidak enak pada teman kacamatanya itu.

" Hmm… tidak lagi setelah sensei melarangnya untuk pulang terlambat. Sensei juga meyakinkannya bahwa sensei akan membantunya membuat formula itu disaat dia pulang. Jadi dia bisa sedikit santai." Koro sensei melemparkan potongan biscuit daam eskrim itu kemulutnya. Nagisa menatap senseinya kemudian tersenyum.

" Arigatou, sensei." Nagisa kembali memakan eskrimnya.

" Hm? Daijobu.. sensei juga tak akan membiarkan murid sensei terbebani seperti ini." Ujar Koro sensei sambil menepuk kepala Nagisa.

" Demo…" Koro sensei tiba-tiba berubah warna. Nagisa kembali menoleh. Pink?

" Sensei sebenarnya ragu apa kau terbebani dengan status wanita atau kau justru menikmatinya.." Nagisa menatap senseinya tidak mengerti. Kemudian Koro sensei mengeluarkan handphonenya. Dan menekan-nekan layarnya beberapa kali sebelum menunjukkan tampilan layar handphonenya pada Nagisa.

" Karena kau sepertinya menikmati waktumu, Nagisa-chan.. Nurufufufufu…" Nagisa terbelalak. Mulutnya terbuka namun tak mengeluarkan suara sedikitpun.

" Nurufufufufu… sensei rasa sensei akan membuat formula itu dengan tidak terburu-buru.. tidak sebelum kau memastikan perasaanmu sendiri. Apakah kau terbebani, atau kau menikmatinya." Ujar Koro sensei sambil menarik handphonenya dan menyimpannya. Nagisa tertegun. Ucapan senseinya.. entah kenapa mengganggunya.

" Jaa~ sensei akan melanjutkan pekerjaan sensei. Kalian aka nada kuis diperiode keenam nanti. Dan sensei akan membuat soal untuk kalian sekarang. Dan jangan lupa pastikan tugas dariku ini selesai, Nagisa-kun chan!" Koro sensei tersenyum penuh arti. Membuat Nagisa kembali teringat dengan gambar di handphone senseinya.

" Se..sensei! kau harus berjanji untuk menghapus foto itu!" Wajah Nagisa memerah. Koro sensei hanya tertawa dan melesat dengan kecepatan mach 20nya. Nagisa tertunduk lesu. Ia tentu saja tak ingin fotonya yang tengah berdansa dengan karma ditaman malam itu menjadi trending topic diantara teman-temannya.

" Nagisa!" Nagisa menoleh dan mendapati bahwa teman-temannya tengah istirahat.

" Ah, Kayano-chan. Ada apa?" Tanya Nagisa. Kayano menggeleng.

" Kau ikut kan? latihan ice skating bersama minggu nanti!" Kayano bersemangat.

" Um. Karma juga sudah mengajakku. Dan dia sudah bilang bahwa aku pasti ikut pada kalian kan?" Tebak Nagisa. Kayano mengangguk. Para murid kini berkumpul dibawah pohon yang sama dengan Nagisa.

" demo, Nagisa-chan.. kau akan kami jemput lebih awal. Kita akan berumpul diapartemenku dulu!" nagisa mengangkat alisnya heran.

" Hm? Kenapa tidak berangkat bersamaan saja dengan yang lainnya?" Tanya Nagisa.

" Mm.." Kayano menggeleng. " Karena kita akan melakukan sesuatu dulu." Jawabnya.

" Sesuatu?"

" Urusan wanita." Kali ini Yada angkat bicara.

" Eh? Ah, aku.."

" Kau tak boeh menolak, Nagisa-chan.." Nagisa merasa bulu kuduknya berdiri. Ia menoleh dan mendapati Nakamura yang tengah menatapnya dengan Nafsu menjahili Nagisa.

" Hahaha.." Nagisa hanya tertawa datar.

" Hm? Nagisa, apa yang kau bawa?" Tanya Kayano.

" Ah, ini.."

HAP

Semua terdiam. Semua mengerjapkan matanya beberapa kali.

" Strawberry… kau mendapatkannya darimana, Nagisa?" Tanya Karma sambil menjilat es krim –rampasan- ditangannya. Nagisa ternganga. Bukan.. bukan karena es krimnya kini diambil oleh Karma. Tapi sungguh, kenapa Karma harus menjilat bekas jilatannya?

" K-Karma-kun.. ituu.." Nagisa merasa tangannya ditarik hingga ia harus membalikkan badannhya.

" Jawab dengan jujur! Apa kau sudah menjilatnya sebelum Karma mengambilnya darimu?" Desak Fuwa.

" Sou..sou! katakan, Nagisa-chan!" desak yang lainnya. Nagisa meringis melihat keberingasan teman-temannya. Kemudian ia melirik Karma yang tengah tersenyum 'penuh arti kearahnya dan – Nagisa yakin ia sengaja!- kembali menikmati es krimnya.

" NAGISA!" Teman-temannya kini kian mirip dengan wartawan acara gossip.

" Err… yy..ya." Jawab Nagisa lirih. Detik berikutnya, Isogai memilih untuk mengamankan Nagisa dari buruan para wanita itu. Sedangkan Karma? Dia hanya tersenyum sambil memakan es krimnya.

" Es krim disaat terik dan setelah olahraga memang yang terbaik."

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

Mood Nagisa benar-benar buruk. Setelah kejadian es krim tadi, Koro sensei mengadakan tes sembari memeriksa tugas rumah. Sampai di catatan Nagisa, gurita itu tiba-tiba berubah warna. Pink cerah. Semua menatap heran. Bagaimana mungkin catatan matematika yang sudah pasti tak akan mengandung kesan ero bisa membuat sensei mereka berubah warna menjadi pink? Apalagi itu catatan –yang setelah diselidiki- adalah milik Nagisa. Setelah mendapat paksaan dan cacaian, ( Kau pasti membayangkan yang tiak-tidak tentang Nagisa-chan!- teriakan milik murid kelas 3-E) Koro sensei akhirnya menyerah dan menunjukkan buku milik Nagisa pada Isogai. Isogai membaca catatan itu kemudian terdiam. Ia menatap Nagisa dan Karma bergantian kemudian menghela Nafas. Sikap aneh Isogai membuat Nagisa maju dan meraih buku catatannya. Matanya terbelalak dengan tulisan-tulisan aneh yang seingatnya taka da disana terakhir kali ia mengerjaka tugasnya. Dengan muka merah padam, Nagisa kembali kebangkunya dan dengan segera meraih tas dan kertas ujiannya. Ia hampir melemparkan kertas ujiannya kemuka Koro sensei kalau ia tak ingat siapa gurita kuning itu. Kemudian ia segera melangkah cepat meninggalkan kelas. Seluruh murid terdiam melihat tingkah Nagisa yang tidak biasa itu. Bahkan Koro sensei berkeringat dingin. Nagisa shiota meninggalkan kelas bahkan dengan kertas ujian yang baru terisi setengahnya. Dan Nakamura Rio yang sudah tau siapa dalangnya, langsung mengirimkan pesan dan menekan layar handphonenya keras-keras – meskipun tidak menimbulkan efek dramatis apapun- saat mengirim pesannya. Karma –dengan senyumannya- meraih handphonennya dan memiringkan kepalanya untuk melihat sosok Nakamura dengan tatapan membunuhnya.

" Kau sudah kuperingatkan tentang mood swing wanita pada periodenya, Karma-kun!" Itulah isi pesannya. Dan Karma dengan santai segera menyusul Nagisa.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

Nagisa berjalan cepat menyusuri lorong gedung utama saat ia lagi-lagi harus melihat Asano. Asano bersama beberapa buntutnya nampak tengah berjalan bersama dari arah yang berlawanan. Nagisa memutuskan untuk tak mempedulikan mereka dan jika ia beruntung, ia bisa melewati mereka seperti tak kenal satu sama lain. Sudah cukup untuk hari ini. ia ingin segera pulang. Kali ini ia ingin beristirahat sejenak dirumahnya sendiri.

" Nagisa-kun." Suara asano terdengar saat Nagisa mengira ia sudah aman dari gangguan. Dengan enggan Nagisa menoleh.

" sedang apa kau disini?" Kali ini Sakakibara Ren yang bertanya.

" Aku? Pulang." Jawab Nagisa singkat. Berusaha bersabar menjawabnya.

" Hmm.. anak kelas E memang santai sekali ya… bahkan mereka akan langsung pulang sementara kita harus sibuk dengan berbagai bimbel." Si kacamata yang menyedihkan itu menggelengkan kepalanya. Entah Nagisa lupa siapa namanya. Melihat tak ada yang perlu dibicarakan, Nagisa membalikkan badannya dan kembali melangkah.

" Nagisa-kun." Mendengar cara Asano memanggil, Nagisa kembali menoleh. Asano memberi isyarat pada teman-temannya untuk menyingkir. Setelah itu ia berjalan mendekati Nagisa.

" Kau mau pulang? Kemana pengawal merahmu itu? Wanita tak baik pulang sendirian, Nagisa." Senyuman Asano yang membuat Nagisa sungguh ingin menghilang dari dunia ini. Nagisa menghela nafas kemudian menatap asano.

" Kalau kau ingin bertemu dengan Karma, kau bisa menunggunya disini. Nanti juga dia lewat. Maaf tapi aku harus pergi." Jawab Nagisa. Ia benar-benar hilang kendali sekarang. Dan ia bersumpah dia sudah akan meneriakkan frustasinya pada Asano saat ia merasakan pergelangan tangannya ditarik dengan erat. Nagisa meringis.

" Ittai. Asano-kun, apa yang kau lakukan? Aku benar-benar harus pulang sekarang!" protes Nagisa. Asano terdiam.

" Nagisa, Aku..-"

" Ah, kau disini rupanya!" Karma dengan cepat menarik tangan Nagisa dang anti menjabat tangan Asano.

" Arigatou ne, Asano-kun.. sekarang aku bisa menjaganya kembali." Ujar Karma dengan senyuman koro senseinya. Merasakan sesuatu, asano segera menarik tangannya dari tangan Karma.

" Ugh, akabane!" Teriak Asano sedangkan Karma sudah berjalan cepat menarik tangan Nagisa.

" Apa yang kau lakukan padanya?" Tanya Nagisa. Karma tersenyum dan mengangkat tangan kanannya yang entah mengapa dibalut sarung tangan karet berwarna putih.

" Salam Wasabi?" Karma melepas sarung tangannya yang dilumuri wasabi dan membuangnya ke tong sampah. Untuk pertama kali setelah badmoodnya menyerang Nagisa tertawa.

" Jadi, kenapa kau tak menyelesaikan tesmu sampai selesai?" Tanya Karma. Nagisa terdiam. Kembali ditarik ke kenyataan lainnya. Kemudian ia menatap Karma.

" Ne, Karma-kun… apa semuanya marah padaku sekarang?" Tanyanya. Karma menoleh tak mengerti.

" Kenapa harus? Justru harusnya kau marah karena aku menjahilimu tadi!"

" Demo… aku merasa sikapku aneh hari ini… aku merasa.. bersalah..hiks.." Sebuah isakan lolos dari mulut Nagisa yang menunduk. Nagisa reflek menutupi mulutnya. Karma tersenyum.

Kau tau, saat mendapat masanya, perempuan akan lebih sensitive. Terkadang mereka suka marah seenaknya atau justru menangis tiba-tiba.

Nasihat Nakamura terngiang seketika. Ya, hari itu Karma sangat ingin melihat mood Nagisa. Karena ia sendiri penasaran bagaimana jika Nagisa marah?

" Kau tak perlu menahannya." Karma menarik Nagisa kedalam lorong sepi. Dan Nagisa terisak disana. Karma? Dia tersenyum. Dia gagal membuat Nagisa benar-benar marah.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

" Ugh.. Kayano-chan, aku tidak butuh itu.. sungguh!" Nagisa berusaha menghindar dari sapuan bedak ditangan Kayano. Sedangkan disampingnya, Kataoka dan Nakamura tengah mencoba menenangkan Nagisa.

" Tidak. kau akan memakainya. Bagaimana kalau nanti ada anak dari gedung utama yang menemukanmu dengan pakaian wanita? Makanya kau harus setidaknya harus ada beberapa yang diubah!" Ujar Kayano.

" Karena itulah aku bilang aku tak perlu menjadi perempuan!" protes Nagisa dalam hati.

" Oi, Hinata-chan… bisa gantikan aku sebentar? Aku mau menyelesaikan urusanku. Kau juga, Hara-san.." Pinta Nakamura. Ia memberi Isyarat agar kataoka ikut dengannya.

" Kau sudah memastikan Asano aka nada ditaman bermain itu di barisan yang sama dengan kita nanti?" Tanya Nakamura. Kataoka mengangguk.

" Aku tidak tau apa yang anak kelas dua itu lakukan sampai mereka berhasil menyeret Asano ketaman bermain itu. Tapi lain kali aku tidak akan mau mendapat tugas seperti ini lagi! Aku masih normal, Nakamura –san!" Protes Kataoka. Nakamura memang menyuruh Kataoka untuk membalas surat penggemarnya dan bilang bahwa ia akan menemani mereka jalan-jalan ditaman bermain yang sama jika mereka –entah bagaimana caranya- bisa membuat Asano Gakushu berada disana juga. Dan dua hari yang lalu dengan girang mereka mengatakan bahwa Asano akan datang.

" Yosh! Kalau begitu rencana kita kemungkinan besar akan sukses! Sekarang tinggal menghubungi yang lain untuk stand by ditempat masing-masing. Dan…" Nakamura meraih handphonenya dan mengetikkan beberapa kata. Send.

" Ne, jangan lupa.. kau harus memerankan dengan sempurna, Nagisa's Boyfriend ;)" 8 detik kemudian handphone Nakamura bergetar.

" Ok. Asal kau tidak lupa dengan syaratku." Nakamura tersenyum semangat. Ia sudah memastikan agar pemeran kekasih Nagisa bisa berakting dengan baik untuk membuat Asano cemburu namun tidak membuat Nagisa menyadari tingkah anehnya.

" Ok~ Aku sudah membeli semua majalahnya. Akan kuberikan saat pulang nanti." Nakamura tersenyum menap layar handphonenya.

" Nakamura-chan… sudah siap!" Terdengar suara Kurahashi. Nakamura menoleh dan menatap sosok Nagisa. Ia tersenyum lebar. Dalam hati ia tertawa bagaikan penyihir.

" Sempurna. Yosh, ayo kita berangkat!" Pimpinnya. Para gadis itupun segera berangkat bersama-sama. Dan Nakamura masih tersenyum.

" membuat Asano cemburu dan menyadarkan seseorang diwaktu yang bersamaan.. Nagisa, I'm counting on you!"

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

Tbc

Huwaaaaa terimakasih pada pemirsa (?) sekalian… terimakasih untuk ansatsunya, Yusei matsui sensei…

CrazywithKaruNagi: hohoho… there it is!I try to update this ASAP hehehe.

Kurohashi Y-kun: hahahaha panggil saya dengan panggilan apapun asal yang ga bikin saya disangka aneh-aneh XD. Hohoho siapa? Siapa ya? Siapa? Saya keasyikan nulis ide lain jadi ga bisa nyebutin disini. Wkwkwk. Arigatou.

Bluesky shin: wkwkwk iya asano sudah muncul dan sudah mendeklarasikan perangnya. Ekspresi para murid itu tak bisa ditebak. Bisa jadi Hazama*plak yo, ditunggu lagi mampirnya ^^

Natsuki No : Yup saya sudah lanjut ^^/

Last, enjoy it and review or PM XD