Hai hai ^^/

Lama tak berjumpa… maafkan saya atas keterlambatan ini. saya sedikit tersandung beberapa hal. Hohoho…

Well, mari kita berterimakasih kepada yusei matsui sensei yang telah membawa koro sensei dan kelas 3-E kedalam dunia kita. Hohohoho

Fem nagi dan penuh kehororan :D

Chapter 8

The Date!

Asano berjalan dengan tatapan bosan. Ia tidak tahu kenapa hari ini ia bisa berada di taman bermain aneh ini dibandingkan berkutat dengan soal matematika dikamarnya. Ia melirik teman-temannya yang tengah mencoba keberuntungan bermain senapan. Ia kembali mengingat pembicaraannya dengan para murid kelas 2 digedung utama 3 hari yang lalu.

" Kalian yakin mereka akan datang kesana?" Tanya Asano. Si rambut cokelat mengangguk.

" Um! Aku ingat sekali senpai tachi dari kelas 3-E membicarakan rencana mereka ditempat Isogai senpai." Jawabnya.

" Kalau tidak salah… operasi untuk sukses ujian P.E?" Disebelahnya, si rambut ponytail seakan bertanya pada dirinya sendiri.

" Um! Um! Kau benar! Dan semua murid kelas 3-E akan hadir. Bahkan kabarnya murid yang paling malas sekolah juga akan hadir."

" ah, akabane senpai?"

" Um! Kufikir dia keren juga." Si ponytail tersenyum dan melirik Asano.

" Tapi.. kenapa senpai sangat penasaran?" Tanya rambut coklat. Mereka memang tengah membicarakan rencana kelas 3-E tepat di bangku kantin belakang asano. Mendengar hal itu, asano langsung berbalik dan menginterogasi mereka berdua. Asano ingin sekali mengatakan ' urus urusanmu sendiri' pada kedua juniornya. Tapi ia berusaha menahan wibawanya dan menggeleng pelan.

" tidak apa. Aku hanya.. kebetulan akan kesana minggu ini." dustanya. Tapi Asano bertekad untuk membuatnya menjadi kenyataan. Mengingat bahwa Karma dan Nagisa akan pergi bersama sangat mengganggunya. Kemudian setelah berterimakasih, asano berbalik meninggalkan kedua gadis yang tersenyum penuh arti. Yang asano tidak tahu, si rambut coklat segera mengeluarkan Handphonenya dan mengirimkan pesan:

To: Kataoka senpai

Subject: mission

Sukses, senpai! Dia akan disana ^.~

" Ah! Entahlah… susah sekali" Ren melempar senapan mainan itu kesal.

" Asano, kita cari tempat lain saja!" Kali ini si kacamata. Asano menghela nafas. Mungkin sebaiknya ia tak mengajak keempat buntutnya itu.

" Dor..dor..dor.."

" waaaah… nona, kau hebat sekali!" sang paman stand menembak memberikan sebuah boneka beruang super besar pada Gadis oranye itu.

" Um.. arigatou." Balasnya pelan. Asano mengangkat alisnya. Ia ingatb gadis itu adalah murid dari kelas E.

" Ne, Rinka-chan… ayo.. mereka sudah menunggu!" Kali ini suara Kayano Kaede terdengar.

"Um! Ayo!" Jawab Hayami. Kemudian mata Asano menangkap surai biru yang amat dikenalnya diantara para wanita. Ia juga.. tunggu, apa itu benar dia? Asano bersumpah pipinya memanas. Nagisa dengan rambut birunya yang terurai melewati bahu, berjalan menunduk di sebelah gadis berambut hijau.

" Asano, kita kemana selanjutnya?" Tanya Ren. Asano masih menatap gerombolan gadis yang tengah berjalan bersama itu. Kemudian ia melangkahkan kakinya.

" He—hei!" Panggil Ren. Asano menoleh.

" aku ada urusan. Kalian bisa pulang duluan!" Teriaknya. Ren dan yang lainnya mengerjapkan matanya mendengar perintah sang 'bos'. Asano berjalan dengan jarak sekitar 3 meter dibelakang gerombolan Nagisa. Asano bisa melihat gadis itu nampak tak terlalu bersemangat. Ia bisa menebak bahwa dress yang digunakannya adalah hasil paksaan teman-teman wanitanya. Ia tak tau ia harus berterimakasih atau harus mengutuk teman-temannya. Mengingat kenyataan Nagisa harus dipaksa untuk mengenakan pakaian itu membuatnya terganggu. Tapi… penampilan Nagisa hari itu benar-benar membuatnya lebih manis. Bahkan tak sedikit pria yang – Asano yakini- melirik Nagisa. Didepannya, Nagisa masih menghela nafas berat.

" Nagisa-chan, kau harus bersemangat dihari secerah ini!" Tegur Kayano. Nagisa kembali menghela nafas dan mengangkat wajahnya.

" Kau menyuruhku bersemangat dengan dandanan seperti ini, Kayano?" Tanya Nagisa. Kayano tersenyum.

" Tentu saja! Kau sempurna!" Kayano mengedipkan matanya.

" Ugh.." Nagisa hanya bisa pasrah dengan teman-teman wanitanya. Ia tak tau apa salahnya sehingga ia harus berdandan dengan dandanan anak perempuan. Padahal masalah gendernya tidak tersebar ke muka umum. Jadi tidak masalah bukan kalau ia mengenakan pakaian pria seperti biasanya?

" Nagisa-chan, sepertinya kau itu magnet ya?" Celetuk Fuwa. Nagisa mengangkat alisnya.

" Magnet?" Tanya Nagisa tak mengerti.

" um. Kau tak memperhatikan kalau selama perjalanan, sudah ada 15 pria yang menyempatkan diri untuk melirikmu." Jelas Fuwa. Nagisa melebarkan matanya.

" Kau pasti salah melihat, Fuwa-san. Itu tidak mungkin!" Nagisa mengelak. Fuwa menggeleng.

" Tidak, aku yakin. Karena aku menghitungnya. Dan dalam kelompok ini yang dari tadi berjalan dibarisan paling akhir adalah dirimu, Nagisa. Jadi sudah pasti arah pandang mereka yang selalu kebelakang menunjukkan siapa target mereka sebenarnya!" Ujar Fuwa semangat.

" Hoho~ kau popular juga ya, Nagisa chan~" Terdengar suara Nakamura. Nagisa hanya menunduk malu. Kemudian Nakamura menoleh kearah Hayami. Disaat para wanita sibuk menggoda Nagisa, Nakamura menarik Hayami.

" Kau sudah memastikan kalau dia melihatmu bukan, Hayami?" Tanya Nakamura. Hayami mengangguk.

" Dia juga mengikuti kita. Jaraknya sekitar 3 meter dibelakang kita." Ucap Hayami. Nakamura tersenyum puas.

" Ayo, Asano-kun… terus makan umpan yang kami beri.. " Nakamura menyempatkan berpura-pura menoleh untuk menggoda Nagisa. Ia bisa melihat surai oranye yang berjalan dibelakang mereka.

" Haaah… dimana yang lainnya menunggu?" Kurahashi mengedarkan pandangannya.

" Oh, itu dia!" Tunjuk Hinata. Kemudian mereka bergegas menghampiri para pria yang sedang asyik mengobrol.

" Oh, itu mereka!" Maehara yang pertama kali menyadari kedatangan mereka segera berjalan kearah para gadis.

" Mattaku… kalian membuat kami menunggu! Apa yang sebenarnya kalian laku.." Maehara mengerjapkan matanya saat menangkap surai biru yang tengah menunduk lengkap dengan semburat merahnya.

" Na.. Nagisa-kun?"

" Hehehe… bagaimana?" Nakamura berlagaka sedang memamerkan hasil karyanya. Para Pria yang juga sudah melihat penampilan Nagisa terdiam. Kemudian disaat yang bersamaan, Nakamura berani bertaruh mereka semua memiliki semburat merah dipipi masing-masing.

" Ano… etto.. mungkin aku harus ganti baju saja!" Ujar Nagisa. Kemudian ia merasa tangannya ditahan. Ia menoleh.

" Kenapa? Kau harusnya sering-sering seperti ini Nagisa." Tahan Karma. Nagisa mengerjapkan matanya beberapa kali.

" Kalau kau begini, akan sangat mudah memancing para pelajar bodoh itu untuk mendapatkan uang mereka." Karma tersenyum iblis. Nagisa sweatdrop.

" Lagipula kau akan membuat kami menunggu lagi, Nagisa?" Tanya Isogai. Nagisa menatap para teman prianya.

" Hh… baiklah." Nagisa pasrah. Kemudian ia merasa pundak mungilnya ditepuk.

" Tenang saja, kami akan menyelamatkanmu dari para wanita itu. Sebelum mereka memutuskan untuk membawamu ketempat accessories." Bisik Sugino. Nagisa menoleh dan mengangguk cepat. Tidak.. sudah cukup ia menderita hari ini. ia bersyukur Sugino masih mau berjalan dengannya meskipun penampilan Nagisa seperti itu. Setidaknya, ia akan menghabiskan waktunya dengan para teman lelakinya. Tanpa ia sadari, Sugino mengangkat jempolnya dan memberi isyarat kepada Nakamura.

MISSION START!

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

First action

Nagisa berjalan disamping Sugino. Sementara teman-teman yang lain asyik mengobrol didepan mereka.

" Ng.. Nagisa, kau ingin mencoba salah satu wahana disini?" Tawar Sugino. Nagisa menoleh dan memperhatikan sekitarnya.

" hmm… aku tidak tahu. Menurutmu ada yang menarik?" Tanya Nagisa. Sugino memperhatikan petataman bermain itu dan nampak berfikir. Nagisa otomatis berhenti melangkah untuk menunggu sugino yang tengah membaca peta.

" Ja.. bagaimana dengan ini?" Sugino menunjuk sebuah titik di peta. Nagisa membacanya kemudian menoleh heran.

" Racing?"

" Um. Ayo!" Sugino menarik tangan Nagisa.

" Good job, Sugino! Target kini berjalan cepat dibelakangmu. Jangan terlalu cepat!" Terdengar suara Nakamura dari headset yang digunakan Sugino. Kemudian Sugino membayar tiket untuk masuk ke area racing.

" Etto.. Sugino-kun, ini untuk ba-"

" Tidak usah. Hari ini traktiranku!" Jawab Sugino.

" Hm? Hahaha… baiklah, arigatou." Nagisa tersenyum manis. Sugino tertegun kemudian berdehem. Wajahnya memerah.

" Tak perlu berterimakasih. Sebagai gantinya, kau harus membantuku mencari tahu lebih banyak tentang Kanzaki-san!" Sugino menggenggam tangan Nagisa dengan tatapan memohon. Membuat Nagisa tertawa kecil.

" Sugino! Simpan modusmu!" Teriak Nakamura.

" Hai'!" Jawab Nagisa. Keduanyapun segera memasuki arena bermainnya.

Oooooo

Second action

Nagisa duduk dibangku kecil yang menghadap kearah kolam renang. Sugino sedang pergi ke toilet dan meminta Nagisa menunggu disana. Sebenarnya Nagisa merasa tidak nyaman karena harus menunggu sendirian. Kalau saja penampilannya tak seperti sekarang, mungkin Nagisa akan biasa saja. Sudah beberapa kali Nagisa menangkap basah tatapan-tatapan para pria yang menatapnya penuh minat.

" Nagisa!" Nagisa menoleh dan melihat sosok Isogai.

" Kau sendirian?" Tanya Isogai. Nagisa menggeleng.

" Tidak. aku bersama Sugino. Tapi entahlah dia belum kembali juga dari toilet." Jawab Nagisa. Kemudian keduanya terdiam. Isogai memilih duduk didebelah Nagisa.

" Hhh.. mungkin aku harus mencarinya." Nagisa sudah akan beranjak saat Tangan Isogai meraih jari-jari Nagisa.

" Kau yakin ingin mencarinya kedalam toilet? Dengan dandanan seperti itu?" Tanya Isogai. Nagisa menatap Isogai kemudian melihat bajunya.

" Tidak bukan? Nah, sebaiknya kita tunggu saja dia disini." Jawab Isogai sambil tersenyum. Nagisa menghela nafas dan menuruti perkataan Isogai. Kemudian Nagisa bisa mendengar suara handphone yang berbunyi.

" Moshi-moshi?Hm? aku? Di dekat kolam renang. Nagisa?" Isogai melirik Nagisa. Nagisa mengernyit.

" Hmm.. hmm.. wakatta. Jaa!" Kemudian Isogai menutup handphonenya.

" siapa?" Tanya Nagisa. Isogai menoleh.

" Ah, Sugino. Dia menanyakanmu. Dan menitipkanmu padaku." Jawab Isogai sambil tertawa.

" ugh… aku merasa seperti barang saja." Jawab Nagisa pelan.

" Jadi, kemana dia?" Tanya Nagisa.

" Katanya ia bertemu dengan Kanzaki-san. Kemudian Kanzaki mengajaknya bermain bersama. Jadi.. yah, kau sudah bisa menarik kesimpulan bukan?" Isogai memasukkan handphonenya. Nagisa mengangguk.

" Jadi, karena kita sudah disini dan Sugino meninggalkanmu, bagaimana kalau kita bersenang-senang?" Tanya Isogai. Ia berdiri dan menoleh kearah Nagisa.

" Hm? Baiklah… kemana kita sekarang?" Nagisa berdiri dan menatap Isogai yang nampak berfikir.

" Aku tau. Kita akan.. Nagisa awas." Isogai dengan segera menarik Nagisa hingga Nagisa harus berdiri dekat sekali dengan Isogai.

" gezz.. mereka tidak akan pernah meminta maaf. Daijobu ka, Nagisa?" Tanya Isogai. Nagisa hanya diam.

" a..ano, Isogai-kun.. itu.. tanganmu." Gumam Nagisa. Isogai tertawa dan melepaskan rangkulannya.

" Gomen..gomen. tapi kau bisa terjatuh ke kolam kalau kau tak kutarik, Nagisa." Ujar Isogai sambil mengedipkan matanya. Kemudian ia mendorong bahu Nagisa.

" ayo! Sepertinya aku tau permainan yang menarik!"

" Hhh… dasar ikemen." Gumam Nagisa.

Ooooo

Third Action

Asano menatap tajam sekelompok remaja yang nampak asyik bercanda di seberangnya. Ia bisa melihat wajah Nagisa nampak bahagia. Sedangkan ia sendiri? Buruk. Satu kata yang menjelaskan keadaannya. Bagaimana tidak setelah ia membuntuti Nagisa selama 2 jam, ia menemukan kenyataan yang tak membuatnya senang. Dimulai dari penggila baseball, Sugino. Asano tau Sugino adalah orang yang dekat dengan Nagisa. Tapi kenapa ia harus bermain dengan Nagisa dan bukan dengan yang lainnya. Dan apa artinya genggaman tangan yang ia berikan pada Nagisa sebelum memasuki arena Race? Asano tak bisa mendengar pembicaraan mereka. Namun Nagisa tertawa setelahnya. Kenapa Nagisa harus sebahagia itu karena tangannya digenggam Sugino? Tidak sampai disitu. Asano sudah berniat menghampiri Nagisa saat ia melihat gadis itu duduk sendirian ditepi kolam. Sampai akhirnya sang ketua kelas 3 E datang dan menemaninya. Asano bersumpah ia ingin sekali melempar Isogai ke kolam saat ia menarik dan merangkul Nagisa. Dan kenapa Nagisa harus tersipu saat Isogai merangkulnya? Asano bisa melihat berpasang-pasang mata menatap kagum pada Isogai dan Nagisa. Bahkan ia mendengar bisik-bisik para gadis dibelakangnya.

" ne, ne.. lihat! Mereka pasangan yang manis bukan?"

" Um! Pemuda itu tampan.. dan sepertinya sangat perhatian dengan gadisnya. "

" Oh lihat! Mereka berpelukan! Kawaaiii… gadis itu beruntung sekali. Tapi ia cocok dengan pemuda itu. Mereka tampan dan cantik!"

Dan sederet perkataan yang rasanya membuat telinga Asano ingin tuli saja. Tapi ada satu kenyataan yang membuat Asano berfikir kalau dirinya tidak dalam bahaya. Melihat tingkah teman-teman Nagisa, ia bisa menduga kalau mereka hanyalah teman yang protektif terhadap Nagisa. Setidaknya tidak ada yang merasa cemburu saat Nagisa harus pergi dengan salah satu dari mereka. Asano tersenyum. Namun senyuman itu tak bertahan lama saat…

" ah, arigatou sudah menjaga Nagisa-ku." Asano reflek menoleh. Ia melihat sosok yang ia kenal tengah berjalan dengan handphonenya.

"Um. Kalian boleh pergi saat aku sampai. Gomen sudah mengganggu kencan kalian. Setelah ini aku sampai. Jadi tinggalkan kami berdua." Itona memasukkan handphonenya kedalam saku jaketnya dan berjalan menuju gerombolan itu. Asano tertegun. Ia tak ingin mempercayai telinganya.

" Oi, Itona! Kau lama sekali!" teriak Maehara.

" Gomen. Aku ada sedikit urusan." Jawab Itona. Kemudian ia duduk tepat disamping Nagisa.

" Hmm.. kalau begitu, aku akan mulai mencoba wahana lainnya lagi!" Teriak Kimura bersemangat.

" Matte, Kimura! Kami ikut!" Kejar Yoshida. Nagisa mengangkat alisnya heran saat melihat teman-temannya bersemangat mengikuti Kimura.

" Hei.. tungg-" Perkataan Nagisa terhenti saat ia merasakan pipinya dipegang dan dibuat menoleh.

" Eh? Itona..-kun?" Itona menatap Nagisa dalam.

" Kau… aku tidak tau banyak tentang arena bermain. Mau menemaniku?" Tanya Itona. Nagisa terdiam. Kemudian ia ingat bahwa Itona selama ini sibuk dengan benda-benda elektronik dan mungkin ia bukan tipe orang yang suka dengan tempat macam ini.

" Baiklah!" Nagisa tersenyum. " Tapi… bisakah kau melepaskan tanganmu, Itona? Ini bisa membuat orang salah faham." Nagisa menurunkan tangan itona dengan wajah memerah. Disisi lain, Asano hanya bisa mengepalkan tangannya.

" good job Itona! Sekarang kau harus sedikit berekspresi!" Perintah Nakamura. Itona menatap Nagisa kemudian perlahan bibirnya membentuk sebuah senyuman yang tak pernah Nagisa lihat sebelumnya.

" Arigatou, Nagisa!" Ujar Itona. Nagisa tertegun. Wajah Itona yang tersenyum seperti itu benar-benar imut. Membuat Nagisa teringat dengan anak anjing. Itona dimata Nagisa sangat.. manis! Nagisa kemudian tersenyum dan mengacak rambut Itona. Nagisa tak bisa berhenti membayangkan Itona sebagai anak anjing yang lucu. Namun aksi Nagisa jelas membuat asano semakin naik darah.

" Anak pindahan itu pasti akan merasakan akibatnya nanti!" Dendam Asano. Ia tak tau kenapa ia bisa sesadis ini. tapi kali ini ia tak bisa menahannya.

" Nah, ayo naik itu!" pinta Itona sambil menunjuk sebuah komidi putar raksasa. Nagisa mengangguk dan berjalan disamping Itona. Asano melihat kemana arah Itona dan Nagisa pergi. Kemudian setelah melihat sekeliling, Asano menemukannya. Menemukan tempat paling strategis untuk mengintai mereka.

Ditempat lain…

Nakamura tersenyum kemudian bangkit dari duduknya. Disampingnya, Karma mengangkat alisnya.

" Kau mau kemana?" Tanya Karma. Nakamura menoleh dan tersenyum penuh arti.

" Kita akan pergi ke gedung itu tentu saja." Ucap Nakamura.

" Ha? Untuk apa? Kau saja." Jawab Karma malas. Nakamura mendecak kesal.

" Aku menyusun rencana ini untuk menolongmu. Setidaknya bantu aku untuk menjalankannya!" Nakamura menarik tangan karma. Karma menghela nafas dan berdiri dengan malas. Sebenarnya ia hanya tidak merasa membuntuti Nagisa dan segudang kekonyolan teman-temannya yang berlagak melindungi Nagisa bukan ide yang bagus menurutnya. Karma sendiri merasa aneh dan entahlah. Nakamura sama sekali tak memasukkan dirinya dalam drama ini. padahal Karma yakin Asano akan lebih marah jika ia yang dipasangkan dengan Nagisa. Ya, itu yang Karma pikirkan.

" Nah, setelah Itona selasai.. orang selanjutnya.. hmm.." Nakamura berjalan sambil membuka-buka buku kecil. Karma menatap Nakamura heran.

" Kukira Itona yang terakhir. Bukankah akan mencurigakan jika setelah Itona dengan jelas mengklaim Nagisa tiba-tiba harus muncul orang lagi?" Tanya Karma. Nakamura tersenyum mengejek kemudian mengusap kepala Karma.

" Fufufufu.. ternyata dalam hal ini kau kurang jenius ya, Karma-kun." Kemudian Nakamura berbalik dan melanjutkan jalannya. Karma hanya bisa omengusap bekas usapan Nakamura kesal. Apanya yang ia tidak mengerti? Didepannya, Nakamura tersenyum.

" Ah~ menyenangkan! Karma-kun.. aku masih menyimpan satu senjata. Dan orang teakhirlah yang akan membuat semuanya menjadi menyenangkan!" Nakamura tersenyum. Karma melewatkan satu hal. Bahwa itona belum menyebutkan status Nagisa dengan jelas didepan Asano.

Oooooo

Final Action

Asano berjalan dengan cepat kearah teropong yang berjejer rapi. Ia mengambil tempat di belakang salah satu teropong dan mulai mencar-cari lewat lensa teropong. Sampai disatu titik, ia menghentikan gerakan terpongnya. Tepat pada satu bilik komidi putar itu, asano menankap mereka. Nagisa dan Itona yang nampak asyik berbincang. Disisi lain, Karma dan Nakamura juga tengah mengintai Nagisa dan Itona.

" Ne, Itona.. kau seius kau belum pernah pergi ketempat seperti ini?" Tanya Nagisa. Itona menggeleng.

" dibanding tempat seperti ini, aku lebih suka pergi ke pameran elektronik." Jawab itona. Nagisa tertaw datar.

" Ya, itu terdengar seperti dirimu, Itona." Ujar Nagisa. Kemudian hening sejenak.

" Kalau kau?" Tanya Itona.

" Hmm… aku tidak bisa dibilang sering… terakhir kali aku ketaman bermain adalah saat aku berumur sepuluh tahun. Saat itu orang tuaku belum berpisah." Jawab Nagisa.

" dan.. aku ingat saat itu aku juga memakai pakaian perempuan.. uhgh…" Lanjut Nagisa frustasi. Itona menatap nagisa sejenak kemudian ia berdiri dan duduk samping Nagisa. Nagisa mengerjapkan matanya beberapa kali.

" Itona, Doushite?" Tanya Nagisa. Kemudian Nakamura tersenyum sembari menatap melalui teropongnya.

" Posisinya pas. Kalian brada di puncaknya!" bisik Nakamura. Itona mengangguk kecil dan menangkap kedua pipi Nagisa dengan tangannya.

" Eh?" Nagisa tertegun. Kemudian.. Nakamura tersenyum puas. Asano menggertakkan giginya. Dan Karma? Nakamura menoleh kesamping kirinya. Tempat pemuda merah itu berdiri tadi. Dan kini tempat itu kosong.

" well, sepertinya aku berhasil. Mission Complete!" Nakamura berbicara dengan headsetnya.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

Nagisa membeku saat tagan Itona merakum wajah mungilnya.

" I..itona.. apa yang.." Itona memiringkan wajahnya kemudian ia menolehkan wajah Nagisa. Nagisa mengerjapkan matanya. Masih belum menangkap apa yang sebenarnya terjadi.

" Lihat, pemandangannya bagus.n" Ujar Itona datar. Kemudian ia bisa merasakan komidi putar itu kembali bergerak. Nagisa matap pemandangan didepannya. Benar. Indah sekali. Kemudian seperti teringat sesuatu,Nagisa menoleh.

" Kau melakukan itu dengan sengaja?" Tanya Nagisa. Itona –dengan wajah datarnya- menggeleng.

" aku tulus ingin memberitahumu bahwa pemandangannya bagus." Jawabnya. Nagis menatap Itona tidak percaya. Posisinya barusan akan membuatorang salah faham jika dilihat dari sudut pandang tertentu. Nagisa khawatir Karma atau Nakamura sempat memotret mereka berdua dan mulai menyebarkan gossip aneh. kemudian menyadari taka da untungnya terus curiga pada itona, Nagisa menghela nafas pasrah. Kemudian mereka melewati detik berikutnya dalam diam.

" Ne, Itona… ada yang ingin kutanyakan."

" Nani?" Tanya Itona.

" Apa.. menurutmu, selain fisik ada sesuatu dariku yang berubah?" Tanya Nagisa. Itona memasang pose berfikir alanya.

" Kau… lebih sering mengalami penyiksaan seperti crossdressing, penjodohan oleh seisi kelas, dan pengintimidasian social daripad sebelumnya." Jawab Itona.

" Ugh.. aku tau kalau itu yang kau maksud." Jawab Nagisa sweat drop.

" Tapi.. hmm.. kurasa tak masalah perubahan apa yang terjadi selama kau masih dirimu sendiri, Nagisa." Ujar Itona. Nagisa tertegun kemudian sedikit menunduk.

" Arigatou." Nagisa berucap sembari tersenyum.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

Asano mengepalkan tangannya erat. Apa ia sudah salah target selama ini? apa sebenarnya hubungan Itona dan Nagisa? Dan kenapa itona harus mengatakan 'NagisaKU' saat berjalan dibelakang Asano tadi? Apa itu artinya mereka berdua memang..? lalu apa bedanya jika nanti ia menang dalam ujian PE? Karma mungkin akan menjauh tapi bagaimana dengan Itona? Dan lagi, Asano bisa melihat bahwa tak sedikit teman-teman Nagisa yang sebenarnya tertarik dengan gadis biru itu. Asano bisa melihatnya dengan jelas. Seperti Maehara yang selalu tersenyum penuh arti jika Nagisa berbicara. Atau Isogai yang sangat perhatian dengan Nagisa. Isogai memang Ikemen. Tapi asano tau bahwa bentuk perhatian itu berbeda dengan biasanya. Belum lagi jika ia melihat terasaka dan kedua anak buahnya yang seakan tak mengizinkan siapapun mendekati Nagisa. Asano menyeringai.

" Tak kusangka akan sesulit ini mendapatkanmu. Cih, sainganku ternyata sebanyak itu." Gumam Asano. Kemudian matanya menangkap sosok merah yang tengah bersandar pada salah satu tiang didekat pintu masuk wahana Komidi putar. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celananya. Matanya terpejam. Asano lupa. Ia masih tidak tau bagaimana sebenarnya perasaan Karma terhadap Nagisa. Dan yang ia tahu, Akabane Karma akan menjadi lawan tersulit jika ia memang ingin Nagisa menjadi miliknya. Asano sudah akan menghampiri Karma saat handphonenya bordering. Asano mengeluarkan Handphonenya.

" Moshi-moshi? Hmm? Tapi.. baiklah." Asano mematikan handphonenya dan menoleh sekali lagi. Karma belum mengubah posisinya. Asano menatap sosok itu tajam sebelum akhirnya berbalik dan meninggalkan tempatnya. Diseberang sana, Karma tak henti-hentinya memikirkan apa yang sudah terjadi. Ia tidak tau bagaimana bisa ia berdiri ditempat itu sekarang. Ia hanya merasa ia harus segera menemui Nagisa saat melihat adegan itu. Ia.. marah? Tidak.. entahlah! Karma tidak tau dengan apa yang sebenarnya ia rasakan. Telinganya mendengar tanda bahwa wahana komidi putar telah menyelesaikan jatah putarannya. Yang itu berarti Nagisa dan Itona akan segera turun. Kemudian ia melihat pintu terbuka dan Itona keluar dari dalam bilik kecil itu. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu Nagisa keluar. Dan Karma bisa melihat Nagisa menjawab uluran tangan Itona. Apa artinya itu? Kepala Karma serasa memanas. Ia bergegas menghampiri kedua insan itu. Nagisa masih tertawa dengan celetukan itona saat matanya menatap rambut merah yang kini berdiri tepat didepannya. Mata tajamnya menatap Nagisa dengan tatapan menginterogasi.

" Karma-kun? Ada apa?" tanya Nagisa bingung. Karma hanya berdiri dalam diam. Kemudian tanpa peringatan ia maju lalu menarik tangan Nagisa.

" Eh? Ma-matte, Karma-kun!" Ucap Nagisa. Karma tak menghiraukannya ia terus berjalan tanpa melepas genggamannya sedikitpun. Di belakang, itona menatap kepergian kedua orang itu datar. Kemudian ia mengangkat mic kecil di jaketnya.

" Nakamura, orang terakhir sudah memainkan perannya dengan sangat baik." Ujarnya.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

" Karma-kun, kau mau kemana?" Tanya Nagisa. Karma membawanya keluar dari taman bermain itu. Kemudian langkahnya melambat saat ia menyadari dimana ia sekarang. Ia berjalan menuju sebuah bangku kosong dan duduk. Kemudian ia menoleh dan mendapati Nagisa yang tengah menatapnya heran.

" Karma-kun, kau kenapa?" Tanya Nagisa. Ia berjalan mendekat dan duduk disebelah Karma. Karma menatap Nagisa kemudian ia menunduk.

" Ne, Nagisa. Apa yang kau lakukan dengan Itona tadi?" Pertanyaan itu keluar sebelum Karma sempat mencegahnya. Nagisa menegang.

" Jadi itu rencanamu?" Tanya Nagisa. Dari nadanya terdengar bahwa Nagisa merasa tidak suka. Karma mengangkat alisnya heran.

" Hmm? maksudmu?" Tanyanya. Nagisa menatap sahabatnya.

" Kau menyuruh Itona melakukannya untuk mengambil gambar yang memalukan lagi bukan? Aku sudah hampir membunuhnya kalau ia tidak dengan cepat menolehkan kepalaku untuk memperlihatkan pemandangan dari atas komidi putar itu." tuduh Nagisa. Karma mengerjapkan matanya.

" Hhh.. Karma-kun.. kalau kau memang ingin mencari foto orang yang tengah berkencan, lebih baik kau mengikuti Maehara saja." Usul Nagisa. Nampak jelas ia lelah dengan tingkah sahabat merahnya. Karma menunduk dan tersenyum. Itona dan Nagisa tak melakukan apapun. Ya, kenyataan itu sudah cukup membuang perasaan berat dari hatinya. Setidaknya sahabat birunya masih polos.

" Karma-kun?" Tanya Nagisa. Karma menoleh dan memutuskan untuk menggodanya.

" Jadi kau ingin melakukannya dengan Maehara?" Tanya Karma. Nagisa tertawa datar.

" Tidak. terimakasih. Carilah pasangan yang sesungguhnya, Karma-kun." Jawab Nagisa. Karma tertawa melihat wajah sengsara Nagisa.

" Jaa… kita pulang." Karma bangkit dari kursinya.

" eh? Bukankah kita kesini untuk latihan?" Nagisa mengingatkan. Karma berbalik dan tersenyum.

" Kita bisa latihan sendiri. Tapi kali ini aku ingin pulang saja." Jawab Karma. Kemudian Karma berjaan meninggalkan Nagisa. Nagisa tercengang. Jadi untuk apa ia datang ketempat ini? untuk apa juga segala pengorbanannya dengan dress dan make up ini?

" Karma-kun! Tunggu!" Nagisa bergegas menyusul Karma. Kemudian keduanya berjalan beriringan.

" Nah, karena ini hari libur dan masih siang, bagaimana kalau kau kuajak kencan saja, Nagisa?" Goda Karma.

" ugh… kalau yang kau maksud kencan adalah menjadikanku umpan untuk mendapatkan uang makan siang, aku menolak." Jawab Nagisa. Karma tertawa.

" Tidak.. aku serius. Ayo!" Karma meraih tangan Nagisa dan menggenggamnya erat.

" ano.. Karma-kun.. tanganmu." Nagisa mengingatkan. Karma menoleh.

" Kenapa? Kalau tidak kupegang, aku khawatir kau menghilang. Kau kecil, Nagisa~" Nagisa tertawa sumbang.

" Terimakasih sudah mengingatkanku." Gumam Nagisa.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

" Hhhh… akhirnya.. bagaimana? Apa rencana sukses?" tanya Isogai. Nakamura menyeringai.

" Tentu saja. Kalian harus melihat wajah Asano yang kurasa sudah berubah warna menjadi ungu setiap ia melihat adegan mesra kalian dengan Nagisa. Isogai sweatdrop.

" Uh! Harusnya aku juga dapat peran dengan Nagisa!" Protes Maehara.

" Nurufufufufu~ tidak, Maehara-kun. Sensei khawatir kau akan merusak semua rencananya." Ujar Koro sensei.

" etto… sejak kapan dia ada disini?" Tanya Maehara sambil menunjuk Koro sensei.

" demo.. Nakamura-san.. kau benar-benar menyiapkan pisau keduamu kali ini. perfect!" WajahKoro sensei berubah jingga dengan garis melingkar berwarna oranye. Nakamura tersenyum.

" Tentu saja. Hhh.. menyadarkan seseorang itu memang melelahkan." Gumam Nakamura. Yang lain menatap Nakamura dan Koro sensei bergantian. Gagal memahami percakapan mereka.

" Ne..ne, jadi apa yang kau lakukan dengan Nagisa, Itona-kun~? Tanya Hazama. Itona menoleh datar.

" aku? Nyaris menciumnya? Ternyata dia manis sekali." Jawabnya datar.

1…

" NANI?"

" Gezz kau benar-benar berniat mengencaninya." Gumam Nakamura. Itona mengangguk datar.

" Tapi… aku menyerah." Ujarnya sambil mengangkat bahu. Yang lain menoleh.

" Nande?" Tanya Yoshida.

" Hmm… orang terakhir tidak akan suka jika aku mengajak Nagisa kencan." Jawab Itona. Yang lain- kecuali Nakamura dan Koro sensei- hanya menatap Itona tak mengerti.

" Hei Nakamura! Kalau ada rencana seperti ini lagi, aku harus kau masukkan kedalam tim pemain inti!" Protes Maehara. Isogai mencoba menenangkan sahabatnya yang merasa mendapat perlakuan tidak adil karena ia tak mendapat kesempatan seperti Isogai atau Sugino atau Itona.

" Hehehe… kurasa aku tidak akan membuat rencana semacam ini lagi." Jawab Nakamura sambil meminum jusnya.

" Hee?" Maehara kecewa. Kemudian ia melihat sekeliling.

" Oh iya, Nagisa dan Karma kemana?" Tanya Maehara. Nakamura tersenyum dan mengangkat bahunya.

" Kencan, mungkin?" Jawabnya.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

TBC

Ah, maafkan saya.. saya tidak terlalu romantic dan mengerti tentang date dan sebagainya XD

Ampuni author yang polos ini… btw akhirnya sama si Itona. Sempat bingung antara Itona dan Chiba. Tapi… Chiba dilain waktu aja ya XD. Lagian author sudah terlanjur bayangin si Itona tampilannya udah kaya Killua dari fandom sebelah XD*plak

CrazywithKaruNagi: Ah, Iove that scene tooooo :3* well, of course I am XD. Here Itona becomes Nagisa's Boyfriend :D

BlueSky Shin: wkwkwk ide bagus ide bagus.. mungkin akan kubuat cerita macam itu*plak. Tapi kalau Nagisa sepolos itu juga Karma bakal penuh perjuangan kayanya XD

Guest: ah, saya sempat terpikir dia pelakunya(?) tapi… entahlah.. saya mencoba yang paling minim reaksi XD

Dan untuk para readers, I REALLY LOVE YOU ALL! Tanpa kalian dan segala permintaan kritik dan saran, saya tidak aka nada disini(?) yang jelas, saya masih ingin mendapat asupan kritik dan saran. Apa yang kalian suka atau tidak suka dari fic ini. Arigatou gozaimasu ^^/

Jaa Mata ne!

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999