Halo ^^/

Ah, another chapter yang penuh kegajean. Hohohoho.. maafkan daku maafkan daku..

Ini adalah karya Amaya dan Ansatsu Kyoushitsu yang keren jelas punya Yusei Matsui sensei.

Happy reading ^^/

Chapter 9

Feeling

Karma menatap malas papan tulis berwarna hitam didepan sana. Senseinya sedang menerangkan pelajaran matematika yang sudah ia baca satu minggu yang lalu. Dan tentu saja sudah sangat ia hafal. Kemudian matanya menelusuri seisi kelas. Teman-temannya nampak serius memperhatikan. Sejak peristiwa ujian akhir semester satu, mereka memang semakin semangat belajar. Apalagi kenyataan bahwa beberapa dari mereka berhasil mengalahkan Asano dalam masing-masing mata pelajaran. Terutama Karma tentunya. Yah meskipun di ujian tengah semester kedua kemarin Karma kembali menjadi satu-satunya murid yang melejit dan berada tepat dibawah Asano, Karma merasa belum puas. Tentu saja kalau ia tak di kelas 3 E mungkin ia tak akan peduli dengan gradenya. Karena hal seperti itu hanya mengganggu saja. Dan ia sadar diri bahwa ia adalah jenius. Jadi grade itu tidak penting untuknya. Kemudian matanya bertumpuk pada satu titik tertentu. Pada surai biru yang nampak mencatat beberapa point penting dari perkataan gurunya. Temannya yang satu ini memang kelewat rajin.

" Nah.. hasilnya, kalau kalian menggunakan metode yang sensei ajarkan, kalian akan menyelesaikan soal itu lebih cepat dari cara biasa. Oh, bel makan siang! Kalau begitu.. sensei akan melanjutkannya nanti. Jaa!" Kemudian seperti biasa, Koro sensei melesat melewati jendela. Kelas dipenuhi helaan nafas karena harus menelan semua penjelasan koro sensei barusan. Beberapa dari mereka mulai membuka kotak bekalnya dan memakannya. Karma mengeluarkan sekotak bekal dari tasnya.

" Are? Kau membawa bekal?" Terasaka nampak tersenyum mengejek. Karma tersenyum santai.

" Kalau kau kelaparan, aku akan membagikannya untukmu, Terasaka~" Karma membuka kotak bekalnya sedangkan Terasaka mendecih pelan. Bekal milik Karma tertata rapi. Dan berwarna-warni. Kemudian Karma tersenyum dan menatap sang pelaku utama. Nagisa nampak mengeluarkan kotak bekal miliknya dan membukanya. Karma bangkit dan memutuskan untuk menghampiri si biru.

" Pluk." Nagisa merasakan kepalanya ditepuk. Ia menoleh.

" Karma-kun.. kau tidak memakal bekalmu?" Tanya Nagisa. Karma tersenyum dan meraih sebuah kursi yang kosong karena ditinggal pemiliknya entah kemana.

" Aku sudah bilang aku tidak terbiasa, Nagisa-kun. Tapi saat membuka bekalku tadi, aku jadi penasaran.. kau bisa membuat bekal serapi itu." Ujar Karma. Nagisa tertawa kecil.

" Kau tidak memakan bekalmu karena kau penasaran? Aku terbiasa melakukan itu sejak kelas 1 smp, Karma-kun." Jawab Nagisa kemudian ia menyumpit sebuah telur dadar dan memasukkannya kedalam mulutnya.

" Hee~ darimana kau belajar?" Tanya Karma. Nagisa menelan telurnya.

" Okaa-san selalu mengajariku untuk menata bekalku sendiri saat aku sd. Dan saat aku sudah bisa menata bekalku, Okaa-san mengajariku memasak." Jawab Nagisa. Karma menatap teman birunya beberapa saat.

" Kau.. tertekan atau..?"

" Tidak. aku tidak tertekan. Lagipula itu kemampuan bagus- mungkin satu-satunya- yang diajarkan beliau padaku." Jawab Nagisa. Karma mengangguk mengerti. Kemudian mereka bisa merasakan hembusan angin dari arah jendela. Itu hanya mengartikan satu hal. Sensei mereka kembali.

" Hmm? Doushite, sensei? Tumben kau kembali jauh sebelum bel masuk berbunyi." Tanya Kataoka. Koro sensei menggerak-gerakkan tentakelnya.

" Sensei sudah menyelesaikan urusan sensei." Jawab Koro sensei sambil membuka sebuah coklat.

" Urusan?" Tanya Sugino sambil melemparkan bola baseballnya. Koro sensei menghindar sambil mengangguk.

" Hai'. Sensei baru saja membuat arena berlatih yang nyaman untuk kalian. Kalau kalian mau, kita bisa mengunjunginya setelah makan siang nanti." Jawab Koro sensei. Maehara dan Hinata mendadak bersin mengingat latihan terakhir mereka. Pegunungan Alpen tanpa pelindung di saat salju turun benar-benar bencana bukan?

" Etto.. Sensei tidak berencana membawa kami ke tempat yang sama dengan yang pernah sensei tunjukkan pada Nagisa dan yang lain bukan?" Tanya Sugino.

" Tidak.. tentu saja bukan.. kali ini sensei membuat tempat yang nyaman." Koro sensei menggosok-gosok tentakelnya. Sedangkan yang lain hanya mengernyit heran. Membuat?

" sebaiknya kalian selesaikan makan siang kalian. Setelah itu sensei akan membawa kalian ketempat tujuan."

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

Nagisa menatap hamparan kolam es didepannya datar. Baiklah, Nagisa baru tau bahwa senseinya juga bisa membuat kolam es untuk latihannya. Dan… disini dia sekarang. Berdiri menatap teman-temannya yang mulai berlatih berpasangan. Ia tersenyum melihat Sugino yang masih harus dituntun oleh Kanzaki. Juga Hinata yang terus mengomel kepada Maehara ( Jangan mencari kesempatan, kono hentai!). teman-temannya nampak asyik berlatih. Meninggalkan Nagisa yang harus berdiri dan meluncur kecil dipinggiran kolam es itu. Nagisa tidak bisa menemukan Karma dimanapun. Entah kemana sosok merah itu pergi.

" Nagisa-kun-chan, kau mau meluncur bersama sensei?' tanya Koro sensei. Nagisa menoleh dan tersenyum.

" Mungkin kau bisa mengajariku, sensei." Nagisa menyentuh tentakel senseinya. Kemudian keduanya meluncur bersama.

" sebenarnya, Nagisa.. kalau kau ingin berhasil meluncur berpasangan dengan tampilan yang memukau, hanya ada satu cara." Ujar Koro sensei. Nagisa menoleh.

" Caranya adalah, kau harus menjadi satu dengan pasanganmu." Lanjut Koro sensei. Nagisa mengerjapkan matanya bingung. Menjadi satu?

" Maksud sensei adalah, meluncurlah seperti kau sedang mengobrol dengan pasanganmu. Kau akan bisa mengikuti dan memahami apa yang ia pikirkan. Jika ia sedang bahagia, maka responlah dengan kebahagiaan juga. Jika dia sedang sedih, maka berikan perasaan hangat agar ia bisa menenangkan diri." Ujar Koro sensei.

" Tapi sensei.. meluncur jelas bukan berbicara." Jawab Nagisa

" Sensei tau. Tapi tubuhmu juga bisa berbicara." Ujar Koro sensei. Nagisa tertawa.

" tubuh tidak berbicara kecuali melalui bibir, sensei." Ucap Nagisa.

" iie.. lihat.. sensei bisa membuktikan kalau tubuhpun bisa berbicara." Koro sensei mengangkat tentakel-tentakelnya yang kini sudah mempunyai wajah ( bayangkan tentakelnya kaya headset yang dipakai Nagisa sama Karma di episode.. lupa XD) sedang asyik mengobrol satu sama lain.

" TENTU SAJA AKU TIDAK BISA!" Teriak Nagisa frustasi. Senseinya jelas makhluk hidup yang memiliki tubuh. Namun senseinya juga jelas bukan manusia normal.

" Hmm.. atau sensei perjelas saja.. kalau kau melihat temanmu sedang mengalami guncangan hebat sehingga mulutmu tak mampu mengucapkan apapun, apa yang kau lakukan untuk memberitahunya bahwa kau ada bersamanya?" Tanya Koro sensei sembari berhenti meluncur. Nagisa ikut menghentikan langkahnya. Nagisa terdiam namun ia mengerti arah pembicaraan itu. Nagisa mengerti. Koro sensei mengangguk dan tersenyum bijak.

" sou.. kau hanya perlu menggunakan tubuhmu. Kau bisa memeluknya. Kau sendiri jika menerima pelukan disaat sedih tentu mengerti arti pelukan itu bukan? Bahkan sekarangpun, tanpa perlu menjawab, sensei tau jawabanmu apa." Nagisa tersenyum.

" Hmm. Aku mengerti." Jawab Nagisa. Koro sensei menepuk kepala Nagisa sebelum akhirnya ia harus terpeleset karena menghindari sebuah peluru yang melesat kearahnya.

" Ne, sensei.. jangan merebut pasangan orang sembarangan." Ucap Karma.

" Karma-kun, kau kemana saja?" Tanya Nagisa mengabaikan sang sensei. Karma meluncur mendekati Nagisa.

" Hmm? merindukanku?" Tanya Karma. Nagisa tertawa datar. " Aku hanya mengambil barang yang tertinggal. Ne, bagaimana kalau kau memakai ini, Nagisa?" Karma mengeluarkan sebuah kostum balet. Nagisa menatap kostum itu horror.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999l

" feeling kalian kurang! Ulangi lagi!" Bitch sensei meneriaki dari pinggir arena. Nagisa mengusap peluhnya. Meskipun ia tengah meluncur di tengah kolam es, kalau harus mengulang untuk yang ke 15 kalinya tentu itu sulit bukan? Nagisa meminta waktu istirahat dan meluncur kearah Kayano. Sedangkan Karma nampak masih berniat untuk bermain-main diatas kolam es.

" Kau terlalu kaku, Nagisa-chan.." Kayano mengulurkan sebotol air mineral kearahnya. Nagisa menerima air mineralnya.

" Arigatou." Ucapnya kemudian menegak isinya.

" Mungkin kau harus lebih serius lagi, Nagisa-chan." Fuwa ikut berbicara. Nagisa mengangkat alisnya.

" Aku sudah sangat serius, Fuwa-san.." Ucap Nagisa. Fuwa menggeleng.

" Kau serius meluncur tapi kau tidak serius meluncur berpasangan." Jawab Fuwa.

" Sou..sou! kau meluncur tanpa perasaan, Nagisa!" Timpal Kayano. Nagisa menghela nafas. Kalau bicaratentang perasaan, jelas itu sesuatu yang membingungkan. Perasaan semacam apa yang harus ia pakai untuk mendapatkan nilai sempurna?

" Tehnik dalam meluncur bukan satu-satunya penilaian dalam meluncur berpasangan. Kalau yang dibicaran itu adalah penilaian individual, tidak jadi masalah. Tapi kalau yang dibicarakan adalah penilaian berpasangan, jelas lebih dari sekedar kekompakan dan kecekatan, Nagisa." Bitch sensei berkacak pinggang didepan Nagisa. Kemudian ia duduk didepannya. Nagisa menatap senseinya bingung.

" Hh.. sepertinya kau belum faham. Baiklah.." Bitch sensei mengeluarkan tabnya dan mulai menggeser-geser layarnya. Setelah menunggu beberapa saat, beliau menyodorkan tab itu Keara Nagisa.

" Coba kau tonton dua video itu." Perintahnya. Nagisa menerima tab itu dan memutar videonya. Video itu menampilkan dua orang yang tengah meluncur dengan tehnik yang amat luar biasa. Mungkin butuh waktu berlatih 10 tahun untuk Nagisa bisa menirukannya. Setelah pertunjukan itu selesai, Nagisa menggeser layarnya dan memutar video kedua. Masih tentang dua orang yang meluncur bersama. Namun kali ini tanpa tehnik yang luar biasa. Nagisa tertegun melihat video itu. Music yang mengiringi benar-benar pas dengan gerakan mereka. Bukan. Gerakan mereka lah yang seakan menyatu dengan music pengiringnya. Dan yang membuat Nagisa terpukau adalah cara mereka bergerak. Seakan seluruh bagian tubuh mereka tengah berdansa dengan music. Dan lagi, gerakan mereka sangat pas. Mengalir bagaikan air. Tidak seperti video sebelumnya, suasananya sangat hening. Hanya ada suara music pengiring dan gesekan sepatu skating mereka dengan lantai es. Benar-benar menghipnotis. Setelah penampilan mereka selesai, barulah suara tepukan bergemuruh. Bitch sensei mencomot tabnya dari tangan Nagisa. Nagisa mengangkat wajahnya dan menemukan wajah Bich sensei yang tengah tersenyum penuh arti kepadanya.

" Kau sudah mengerti perbedaannya, Nagisa?" Tanya Bitch sensei. Nagisa mengangguk. Bitch sensei tersenyum.

" Kalau aku perkirakan, Bocah Asano itu mungkin akan menyewa peseluncur professional untuk event ini. dan mungkin sangat mudah baginya untuk belajar menguasai tehnik-tehnik yang hebat seperti yang kau lihat di video pertama tadi." Bitch sensei bangkit dan berjalan memutar hingga ia berada dibelakang Nagisa. Kemudian ia menunuk sampai bibirnya sejajar dengan telinga Nagisa.

" Jaa.. apa yang akan kau lakukan kalau begitu?" Ucapnya. Nagisa terdiam.

" Untuk menyaingi tehnik terhebat, hanya ada satu cara. Kau harus bisa memahami pasanganmu. Kau harus bisa menyatu dengannya." Nasihat Bitch sensei. Lagi. Nasehat yang sama dengan Koro sensei. Nagisa menunduk.

" Itu.. entahlah.." Jawab Nagisa.

" Hei ayolah.. Asano tidak akan bisa meluncur sememukau video kedua tadi. Aku tidak ragu jika ia akan bisa menguasai tehnik seperti di video pertama. Tapi untuk bisa mencapai ke level seperti video kedua tadi, aku yakin dia tak akan bisa." Nakamura memberi semangat. Nagisa menoleh dan menatap Nakamura heran.

" Bagaimana kau bisa seyakin itu?"

" Tentu saja! Dia menyukaimu. Dan dia harus meluncur dengan orang yang tidak ia sukai. Belum lagi dia akan melihat orang yang disukai berpasangan dengan orang lain. Jelas itu tak akan terjadi!" Nakamura tersenyum memikirkannya. Kemudian menepuk pundak Nagisa.

" Karena kau dan Karma yang akan memainkan peran seperti video kedua." Jawab Nakamura. Nagisa menatap Nakamura dengan tatapan ' apa maksudnya itu?'

" Nah, kalau kau sudah cukup istirahat, kita akan mulai lagi!" Ujar Bitch sensei semangat.

" Kejam!" Gumam Nagisa horror.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

Karma menatap makanan dipiringnya tak bernafsu. Dimainkannya garpu itu diatas steak yang ia buat bersama Nagisa. Disebelahnya, Nagisa nampak asyik menikmati steak itu sambil menonton televisi. Karma menghela nafas. Mendengar helaan nafas dari mulut Karma, Nagisa menoleh dan menatap Karma.

" Karma-kun." Panggil Nagisa. Karma menoleh.

" Hm?" Tanyanya sambil tersenyum.

" Daijobu?" Tanya Nagisa. Karma tertawa.

" aku baik-baik saja, Nagisa. Apa aku terlihat sakit sampai kau menanyakan hal itu?" Tanya Karma.

" Tapi kau sepertinya tidak bernafsu memakan makananmu." Nagisa melirik piring Karma yang masih ditenggeri oleh daging steak yang belum terpotong sedikitpun.

" Oh, ini? aku hanya sedang memikirkan sesuatu tadi." Jawab Karma dan mulai memotong dagingnya. Nagisa ingin bertanya apa yang dipikirkan temannya itu namun urung. Ia tak ingin memaksa Karma untuk bercerita.

" Hmm.. Yokatta. Kau harus makan meskipun kau tidak suka, Karma-kun." Ucap Nagisa. Karma menyeringai.

" Berkata orang yang pernah masuk rumah sakit karena mogok makan." Ejek Karma. Nagisa tertawa datar. Kemudian keduanya kembali menikmati makan malam sembari menonton acara televisi. Mereka melewati semua dalam hening. Karma kembali asyik dengan pikirannya.

" Mengulang lagi?" Karma menoleh dan mendapati Maehara tengah meluncur disampingnya. Kemudian matanya menangkap Nagisa yang sedang berbincang dengan Bitch sensei.

" Yah.. kurasa." Jawab Karma singkat. Maehara tertawa kecil.

" Mungkin kau harus melatih hal lain selain kekompakan kalian, Karma." Usul Maehara. Karma mengangkat alisnya.

" Seperti.. ketika kau berdansa. Itu bukan hanya tentang gerakan yang beriringan bukan? Kalau kau menambah sedikit perasaan saja, maka tarian itu akan menjadi hal yang luar biasa." Maehara mengedipkan matanya. Karma menatap datar temannya itu.

" Perasaan ya?" Entah kenapa Karma jadi mengingat kejadian kencan minggu kemarin. Perasaan seperti apa yang harus ia gunakan?

" Um. Kau tau, seperti membiarkan jiwa kalian menyatu. Yah.. aku tidak bisa menjelaskan dengan baik kalau masalah ini. tapi.. kata banyak orang jika kau melakukan sesuatu dengan rasa suka, kau akan mendapatkan hasil terbaikmu. Jadi jelas keahlian tanpa diiringi perasaan bukan opsi yang bagus." Jelas Maehara. Karma menghela nafas dan menatap surai biru yang kini nampak serius memperhatikan tab putih yang diduga keras milik Koro sensei. Maehara menepuk pundak Karma.

" Yang jelas, pertunjukan yang menunjukkan tehnik terhebat sekalipun akan kalah dengan pertunjukan dengan penjiwaan." Ujarnya kemudian segera meninggalkan Karma untuk bergabung dengan Hinata yang sudah meneriakinya. Karma tertegun. Penjiwaan ya?

" Ma-kun.. Karma-kun!" Nagisa berteriak membuat Karma harus tersentak Karma menoleh dan menatap Nagisa kesal.

" Nani?" Tanyanya. Nagisa menatap temannya.

" Apa kau sudah selesai? Aku akan mencucinya." Nagisa mengulurkan tangannya. Meminta piring Karma yang tanpa Karma sadari sudah kosong. Karma meletakkan piring ditangannya dan menatap Nagisa. Nagisa balas menatap bingung. Kemudian dengan seringai kecil Karma menangkap pergelangan tangan Nagisa dan menariknya.

" Tu-tunggu! Karma-kun!" Nagisa dengan cepat meletakkan piring ditangannya dan berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Karma. Ia menatap surai merah itu bingung. Apa lagi yang akan dilakukan sahabatnya ini? mereka memasuki sebuah ruangan luas penuh buku. Nagisa mengernyit.

" Karma-kun, apa yang akan kau lakukan disini?" Tanya Nagisa. Ia tau ini adalah ruang baca milik ayah Karma. Ruang baca ini sangat luas. Dengan rak buku yang terisi penuh dan menjulang tinggi. Nagisa bertanya-tanya dalam hati apakah Karma sudah pernah membaca semua buku diruangan itu. Nagisa melihat Karma melangkah kearah sebuah video player dan memilih-milih cd di rak sebelahnya.

" Dapat." Ujar Karma. Kemudian ia menyalakan player dan memasukkan cd itu. Tak lama suara music Klasik mengalun indah. Karma berjalan kearah Nagisa dan dengan seenaknya kembali menarik tangan Nagisa. Sampai ditengah ruangan, Karma memasang posisi waltznya.

" Karma-kun.. sebenarnya kita mau a..-"

" Latihan." Potong Karma kemudian mulai bergerak. Nagisa mau tidak mau harus mengikuti gerakan Karma. Mereka berdansa dalam hening.

" Kalau memang perasaan harus terlibat, mungkin ini latihan tambahan yang bagus." Pikir Karma. Karma bersyukur Ibunya pernah memaksa Karma berlatih dansa saat ia kelas 1 smp. Dan tidak perlu ditanyakan lagi selama namanya masih Akabane Karma, ia bisa menguasai tehniknya hanya dalam waktu 2 bulan. Keseluruhan. Karena itulah kini Nagisa merasa takjub saat Karma harus memutar-mutar tubuh Nagisa dan kembali menangkapnya tanpa gagal. Atau bahkan tanpa membuat kakinya terinjak kaki Nagisa. Karma menatap surai biru yang menunduk didepan dadanya. Ia masih belum bisa mengerti dengan penjiwaan yang dikatakan Maehara. Atau mungkin ia mengerti. Hanya saja ia tak yakin.

" Ne, Nagisa~" Panggil Karma. Nagisa mengangkat wajahnya hingga Karma bisa melihat kegugupan diwajah sahabatnya itu. Karma tersenyum.

" Na-nani?" Tanya Nagisa.

" Kurasa kita harus latihan diluar waktunya." Ucap Karma.

" Ha? Maksudmu?" Nagisa bertanya.

" Yah.. dikolam buatan sensei. Diluar jam latihan." Jawab Karma. Nagisa mengangguk mengerti.

" Dan.. sudah ku bilang bahwa kau harus menatapku kalau kau berdansa denganku~" Karma mengingatkan. Entah kenapa memberi kesan bahwa jika Nagisa berdansa dengan orang lain maka tak masalah jika Nagisa membuang muka.

" Tapi.. ini memalukan, Karma-kun.." Nagisa berpaling. Ujung rambutnya bersentuhan dengan pipinya yang memerah. Karma memperhatikan warna itu. Kemudian ia melepas pegangannya pada tubuh Nagisa.

" ck kalau seperti ini, kita tidak bisa menang, Nagisa." Ucap Karma. Nagisa menoleh. Jadi ini tentang persaingannya dengan Asano atau tentang Keselamatan Nagisa? Karma berjalan menuju sebuah sofa dan duduk disana. Nagisa mengikuti.

" Kau tak perlu seputus asa itu, Karma-kun. Kita masih punya waktu 2 minggu. Dan kita hanya perlu memperbaiki beberapa hal saja bukan?" Nagisa berusaha menghibur. Kemudian keduanya terdiam. Sibuk dengan fikirannya masing-masing. Alunan music yang menenangkan membuat mereka merasa tenang. Beberapa menit berlalu tanpa ada pembicaraan.

" Ne, kalau kau..-" ucapan Karma terpotong saat kepala biru itu terjatuh dan menjadikan bahunya sebagai tumpuan. Helaan nafas yang halus dan teratur memenuhi pendengarannya. Karma tersenyum dan mengusap surai biru itu. Lembut.

" Hh.. bagaimana caranya aku bisa memiliki penjiwaan yang dalam bersamamu?" Gumam Karma.

Diluar jendela..

" Baaaakaaaa! Bakaarmaaa! Kau belum sadar juga? Sensei! Biarkan aku masuk dan akan kuberi kejelasan tentang apa yang ia rasakan!" Nakamura merangsek maju namun tertahan oleh tentakel Koro sensei.

" Nyunyaaaa! Nakamura-san.. sabarlah..!" Koro sensei mencoba menenangkan. Nakamura mengatur nafasnya dan mencoba menangkan diri. Kemudian ia menyeringai. Wajahnya nampak menyeramkan. Koro sensei bergidik ngeri melihat perubahan ekspresi Nakamura.

" fufuufu… Tugas tambahan untuk besok.." Ujarnya sambil mengetuk layar handphonenya.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

Karma terbangun ketika bias matahari menyinari wajahnya. Ia mengedipkan matanya beberapa kali. Mencoba menyadari lokasinya. Sepertinya ia tertidur diruang baca semalam. Kemudian ia menolehkan kepalanya dan menangkap surai biru yang juga belum terbangun. Dan entah kenapa posisi mereka jadi sangat ambigu sekali. Entah sejak kapan Nagisa bersandar didada karma. Dan mungkin Karma terlalu terbuai dan memeluk Nagisa. Wajah Karma memanas. Apa yang harus ia lakukan? Ia melirik jam dinding diruangan itu. Masih terlalu pagi untuk bersiap-siap kesekolah. Dan lagi.. karma merasa bahwa ia masih ingin menikmati moment itu sebebentar lagi. Tunggu. Ada apa dengan otaknya? Karma mengangkat kepala Nagisa perlahan dan dengan hati-hati memindahkannya ke lengan Karma. Beberapa helai surai birunya yang tergerai menutup sebagian sisi wajah. Karma menyingkirkanya dengan lembut dan tertegun. Sahabatnya tertidur dengan sangat tenang. Bahkan bias mentari yang menyinari wajahnya tak mengganggunya. Dan demi apapun, Karma bersumpah bahwa Nagisa nampak sangat menakjubkan. Bagaikan lukisan! Wajahnya yang tertidur sedikit tersenyum – karma ikut tersenyum membayangkan bahwa Nagisa pasti tengah bermimpi indah- itu begitu memikat. Nagisa bahkan bisa menularkan senyuman pada setiap orang yang melihatnya tersenyum bahkan dalam keadaan tidur sekalipun. Karma menyadari betapa manisnya sahabat biru miliknya itu. Ia faham kenapa Asano bisa terpikat dengan Nagisa. Karena menurut Karma, Nagisa tidak hanya sekedar manis. Ia adalah heroin. Membuat orang terpikat dan menderita ketergantungan jika tak melihatnya sebentar saja. Ya. Mungkin otaknya mulai tidak waras. Tidak setelah Karma menyadari bahwa wajahnya sudah sangat dekat dengan wajah Nagisa.

" Tidak apa kan? sedikit saja." Pikir Karma. Kemudian tanpa ragu Karma menempelkannya. Menempelkan bibirnya pada bibir Nagisa.

1…

2…

3…

Karma menjauh saat ia mendengar Nagisa melenguh.

" Ohayou, Nagisa~" Sapa Karma. Nagisa mengerjapkan matanya.

" mm.. Ohayou Karma-kun." Jawab Nagisa.

" Tidurmu sangat nyenyak. Kau tidak kedinginan?" Tanya Karma. Nagisa menggeleng masih dengan mata mengantuknya.

" Tidak.. aku merasa hangat." Jawabnya.

" Hee~ jadi bagaimana rasanya tidur dalam pelukanku, Nagisa? Apa itu tandanya tidur dipelukanku rasanya sangat mengagumkan?" Tanya Karma dengan nada menggoda. Namun Nagisa yang masih mengantuk hanya mengangguk pelan.

" Um." Jawaban kecil dari Nagisa membuat Karma mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum semburat merah tipis hinggap di pipinya. Nagisa menjawab sambil terkantuk. Tapi itu pasti jawaban yang datang dari hati bukan?

" Ehm.. ja, kalau begitu kurasa aku harus sering-sering menemanimu tidur." Seringai Karma. Kemudian beranjak meninggalkan Nagisa. Nagisa nampak terdiam. Karma tersenyum kemudian ia mulai menghitung mundur.

5..

4..

3..

2..

" KA-KARMA-KUN!" Panggil Nagisa. Karma tertawa lepas tanpa menghiraukan panggilan Nagisa. Karma yakin Nagisa sudah sangat memerah sekarang. Menyadari bahwa ia baru saja mengakui hal-hal yang memalukan. Karma berjalan menuju dapur dan menyeduh kopinya.

" Hmm.. sepertinya aku mengerti bagaimana cara bermain dengan perasaan.. tinggal.." Karma menoleh saat melihat sahabat birunya sudah berdiri dan menatapnya tajam dari pintu.

" Ne, Nagisa.. kau mau kopi?"

" Jangan.. katakan.. apapun.. pada.. siapapun." Tekan Nagisa dalam setiap ucapannya. Karma menyeringai dan mengeluarkan handphonenya.

" Padahal aku sudah merekam semua jawabanmu tadi. Mau mendengarkan? Bahkan kujadikan ringtone alarmku. Dengar!" Karma memutar rekamannya

" JANGAN MENJADIKANNYA NADA DERING!" Nagisa frustasi. Karma tertawa.

" Nah.. sekarang bagaimana caranya aku bisa mendapatkanmu dan membuatmu bermain dengan perasaan, Nagisaku? Pikir Karma.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

-tbc

Nurufufufufufu~

Akhirnya.. akhirnya… scene ini.. scene apa ini? XD

Padahal setelah kencan kemarin para readers seperti berpaling untuk ItoNagi XD

Author sedang sakit malas *plak jadilah senista ini tulisan saya. Maafkan author maafkan author..

CrazywithKaruNagi: Thanks a lot ^^/ Ah, I think I'll make another fic with Itona and Nagisa as a couple next time XD. Thanks for review ;)

Aqizakura:Ah tentu! Tentu! Karma sangat.. sangat… entahlah XD Aku bersyukur wajah Nagisa masih unyu unyu meskipun udah 8 tahun. Dan dia masih unyu kalo mau dipasangin ama Karma*plak. Terimakasih atas reviewnya ^^

Shizu Yummy: Oh ya? Hehehe… itu pair langka nian ya XD si Chiba biasanya ama mbak hayami sih. Wkwkwkwk… iya typo! Typo bertebaran. Saya lagi kelebihan stok typo jadi saya bagikan kepada para reders sekalian*plak* Terimakasih reviewnya ^^

Fallyn: Ah sou… hehehe… maafkan daku ya.. mungkin Fallyn-san akan patah hati di chapter ini. bohohohoho~.. mungkin author akan membuat fic tentang ItoNagi? Terimakasih reviewnya ^^/

Dan untuk para readers sekalian, I love you so much! Terimakasih sudah menyempatkan diri untuk membaca fic ini ^^ semoga bisa update secepatnya. Seperti biasa saya menerima kritik dan saran baik di PM atau di review. Boleh juga kirim surat cinta atau surat ancaman*plak

Jangan lupa mampir yaaaa :D

Jaa mata!