Jang jang! Kembali lagi dengan author kece kita XD

Hohohoo udah segini pula chapternya.. Banzai!*plak

Yosh, minna! Langsung saja diserbu ^^/

Ansatsu Kyoushitsu by: Yusei Matsui ( Arigatou, sensei untuk Karyanya)

It's Time by: me :D

OOC, FEM NAGI, HOROR XD

Chapter 10

Nakamura's time!

" AKABANE KARMAAAA!" Pintu kelas itu dibuka dan diiringi oleh suara teriakan Nakamura Rio yang masih lengkap dengan tas sekolahnya. Di bangku belakang, Karma mengangkat lengannya yang dia gunakan untuk menutup matanya, meliriknya sekilas kemudian menutupnya lagi. Nakamura Rio segera melempar tasnya serampangan ( Yang sangat tidak tepat sasaran sehingga Nagisa harus memungutnya) kemudian berjalan menghampiri sirambut merah. Seisi kelas yang sudah hadir pegi itu menatap Nakamura dengan tatapan heran. Nakamura mengepalkan tangannya saat mendengar dengkuran halus dari makhluk berambut merah itu.

" Karma-kun!" Panggil Nakamura. Karma tak bergeming. Kemudian tanpa perhitungan, Nakamura menembakkan pistol anti sensei kearah Karma. Karma menggeser kepalanya sehingga peluru itu gagal mendarat di dahi Karma.

" Apa?" Tanya Karma kesal.

" Bicara, Private, sekarang!" Tuntut Nakamura sambil memberikan Karma tatapan membunuhnya. Karma menghela nafas dan bernajak dari kursinya diikuti oleh Nakamura. Dikelas, Fuwa mengusap dagunya.

" Hmm.. kenapa Riocchi terlihat sangat jengkel? Ne, Nagisa.. apa kau tau sesuatu?" Tanya Fuwa. Nagisa tersenyum dan menggeleng.

" Mereka seperti akan memulai perang saudara." Celetuk Kayano.

" Perang sesama iblis!" Koreksi Sugino. Tanpa disadari Nagisa mengangguk setuju. Kemudian Fuwa tersenyum penuh arti.

" Tapi ini lebih seperti sesuatu yang biasa terjadi diantara anak SMP." Ucapnya. Semua mata menoleh kearah Fuwa.

" Dan apa itu, Fuwa-san?" Tanya Kayano.

" Fufufufufu.. pasti…" Fuwa menggerakkan jari telunjuknya kekiri dan kekanan.

" Nakamura dan Karma pasti sedang berperang.."

" Itu yang kami katakan.."

" antar kekasih." Semua mata mengedip beberapa kali. Semua mulut terkunci beberapa saat.

" NANI?

" Tapi.. kalau memang mereka memiliki hubungan khusus, Hal apa yang bisa membuat Nakamura marah?" Sugino nampak berfikir.

" Oh ayolah… kita masih anak sekolah. Dan memiliki kekasih adalah hal yang wajar. Tapi, jika kita tidak hati-hati.. kita bisa mengalami kecelakaan yang bisa merusak masa depan bagi siswi SMP." Fuwa mencoba memberi clue. Semua orang memikirkan ucapan Fuwa. Kemudian seperti disadarkan, para murid menatap Fuwa Horor.

" Ma-masaka.."

" Karma.. dan Nakamura.."

" .." Fuwa menganggukkan kepalanya puas.

" Sou! Sou!" Jawabnya. Nagisa dan Kayano menatap teman-temannya heran.

" Err.. jadi mereka berdua kenapa?" Tanya Nagisa. Fuwa tersenyum dan mendekati Nagisa.

" Nagisa.. Kau tau.. sepasang kekasih tidak akan menjalani kehidupan yang monoton.. mereka pasti akan terus meningkatkan level mereka. Awalnya mungkin akan berpegangan tangan.. kemudian kebutuhan biologis mereka akan terus meningkat. Sampai akhirnya.." Fuwa melemparkan sebuah kertas Kearah Nagisa. Nagisa menatap kertas itu heran dan mulai membacanya. Kemudian wajahnya mulai memerah.

" Fu-Fuwa-san.. kau yakin?" Tanya Nagisa. Fuwa mengangguk semangat.

" Nah, untuk lebih memastikan lagi, kau harus membantu penyelidikan, Nagisa" Tunjuk Fuwa.

" Eh? Kenapa aku?" Tanya Nagisa bingung.

" Karena kau paling mudah mendekati mereka." Nagisa tertawa datar.

" Tapi.. kurasa plot yang kau buat alurnya terlalu berlebihan, Fuwa-san. Maksudku, aku tidak yakin mereka sudah.. eng.. kau tau.." Nagisa berkata ragu diakhirnya.

" Nah, karena itu kita akan pergi menyelidikinya." Kata Fuwa.

" A-aku ikut! Aku penasaran!" Seru Okajima dan Maehara. Semua mata menatap mereka berdua dengan tatapan ' kalian ikut karena pikiran kotor kalian bukan?'

" Yosh! Dengan ini, kita buka waktunya pengintaian!" Seru Fuwa

" Ou!" Seru para murid. Nagisa hanya sweatdrop melihat semangat teman-temannya. Entahlah, menurut Nagisa, mereka hanya terlalu bahagia dengan gossip ini. karena jika perkiraan Fuwa benar, mereka ( mungkin) memiliki kesempatan untuk balas dendam kepada kedua iblis 3 E yang pernah menyengsarakan hidup mereka.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

Karma melangkah malas mengikuti sosok Nakamura.

" Oi, Nakamura.. kita tak akan menunggu sampai kita masuk kedalam hutan untuk membicarakan apapun itu yang menurutmu penting bukan?" Nakamura menoleh.

" Oh, Tentu Karma-kun. Aku hanya tak ingin kita membicarakan hal ini didepan teman-teman lainnya." Jawab Nakamura sambil mengibaskan rambut pirangnya.

" Nah, kalau begitu katakana saja sekarang." Ucap Karma malas.

" Baiklah, yang pertama.. aku ingin tau bagaimana kemajuan hubunganmu dan Nagisa-chan." Ucap Nakamura dengan nada menuntut. Karma mengangkat alisnya.

" Dan kenapa pula aku harus mengatakannya kepadamu?" Tanya Karma. Nakamura memutar bola matanya.

" Kau masih menanyakan hal itu kepada malaikat penolongmu? Tentu saja untuk melihat seberapa besar presentase kemenangan kalian dalam kompetisi nanti!" Jelas Nakamura. Karma menatap Nakamura sekilas sebelum akhirnya bergumam.

" 90%" Nakamura mengernyitkan matanya.

" Apa?" Tanyanya.

" 90%, Nakamura. Aku menyukainya sebanyak itu." Jawab Karma. Nakamura mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya tersenyum lebar. Bahkan Karma bisa melihat bunga-bunga bertebaran disekitar Rio.

" Ehm.. baiklah, sekarng setelah akhirnya kau menyadari perasaanmu, apa yang akan kau lakukan? Tunggu. Kenapa hanya 90%?" Tanya Nakamura. Karma menatap Nakamura datar kemudian ia mengalihkan pandangannya. Ditatapnya hamparan langit biru diatas sana.

" Sa… Aku tidak yakin aku bisa menyempurnakannya menjadi 100%. Bagaimanapun, aku takut jika Nagisa tidak menerima perasaanku seperti yang kuharapkan. Kau tau kan, dia masih sering mengingatkanku tentang betapa laki-lakinya dia. Meskipun bagiku, dia sama saja menjadi laki-laki dan perempuan. Aku sendiri tidak tau efek dari racun yang diminum Nagisa. Apakah itu bisa menjadikan Nagisa wanita permanent atau akan hilang efeknya dalam waktu tertentu. Juga.. dengan perasaannya. Kau tau kan, bisa saja dia masih menyukai seorang gadis." Jelas Karma panjang lebar. Nakamura tersenyum kecil. Dalam hati ia merasa bangga karena ia berhasil membuat seorang Akabane Karma membuka diri.

" Nah, sebenarnya ada jalan keluarnya, Karma-kun." Karma menoleh dan menatap Nakamura tertarik.

" Tapi, ada beberapa hal yang harus dipenuhi agar itu menjadi sempurna. Yang pertama, Nagisa harus meyakinkan perasaannya dulu. Maksudku, apa Nagisa benar-benar hanya berubah secara fisik namun tidak berpengaruh terhadap hormonnya atau Nagisa benar-benar 100% wanita. Sebenarnya akan mudah jika kalian tidak dirumah berdua. Maksudku.."

" Sudah kufikirkan. Setidaknya itu juga salah satu rencanaku. Dan untuk itu, aku rasa kau tidak perlu cemas." Jawab Karma. Bibirnya tertarik membentuk sebuah seringai kecil. Nakamura mengangkat alisnya.

" Aku rasa bala bantuan akan segera datang." Ujar Karma. Nakamura menatap Karma heran. Dari ekspresinya, Nakamura bisa menangkap berbagai macam perasaan antara lega, senang, cemas dan malas. Tapi karena ia mendengar kalimat itu langsung dari mulut Karma, Nakamura memilih untuk mengangkat bahunya dan berbalik meninggalkan Karma.

" Sebaiknya kau ikut kembali kekelas sebelum aku harus menghadapi teman-teman sendirian." Saran Nakamura. Karma tersenyum

" Ok~" ia berjalan membuntuti Nakamura sampai akhirnya muncul ide nista dikepalanya.

" Ne, Nakamura~" Nakmura menoleh.

" Saat ditaman bermain kemarin, kau sengaja mengajakku untuk mengintai Nagisa dan Itona bukan? Kau sengaja tidak memasangkanku dengan Nagisa kan?" Tanya Karma. Nakamura tersenyum.

" Oh, bagus kau sadar. Dan ya, sekarang kau tau betapa sulitnya tugasku saat itu. membuat Asano cemburu dan menyadarkanmu secara bersamaan." Karma tertawa.

" Salahmu. Aku tak pernah meminta bantuan yang kedua. Tapi kita bahas itu nanti. Jadi bagaimana menurutmu kalau kita.." Karma membisikkan kalimat selanjutnya ditelinga Nakamura. Beberapa menit kemudian, kedua insan itu sudah tertawa nista dengan tanduk dan ekor imajiner. Jangan bayangkan background bunga-bunga yang tadi bertebaran dibelakang Nakamura. Mungkin kini background itu sudah terbakar habis digantikan dengan background tengkorak dan berbagai macam hal berbahaya.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

Nakamura menggeser pintu kelas dan langsung mendapat tatapan horror dari para teman-temannya. Kemudian ia bisa melihat beberapa orang menyikut Nagisa yang dari tadi hanya tersenyum tidak enak kearahnya. Nakamura tersenyum kecil. pasti teman-temannya menyuruh Nagisa membongkar kebenaran tentang kejadian pagi tadi. Nakamura menghela nafas melihat Nagisa yang nampak ragu untuk menghampirinya. Padahal rencananya mungkin akan lebih mudah jika Nagisa yang mendekatinya. Baiklah, apa boleh buat..

" Ne, Nagisa-chan, chotto matte." Nakamura melambaikan tangannya memanggil Nagisa. Nagisa mengangkat alisnya terkejut.

" Ah.. baik." Nagisa berjalan mengikuti Nakamura. Sampai di halaman sekolah, Nakamura mendudukkan dirinya di anak tangga. Nagisa ikut duduk disebelahnya.

" Doushite, Nakamura-san?" Tanya Nagisa. Nakamura tidak menatap Nagisa. Ia memilin rambutnya kemudian mendongakkan kepalanya.

" Ne, Nagisa-chan.. apa kau pernah menyukai seseorang?" Tanya Nakamura. Nagisa terdiam. Terkejut dengan jenis pertanyaan yang diajukan Nakamura. Kemudian Nagisa mengangkat bahunya.

" Entahlah.. aku tidak tau bagaimana rasa suka itu sendiri. Kalau suka berarti dekat, aku dekat dengan banyak orang dan aku menyukainya. Aku dekat dengan Sugino dan Karma-kun dan aku menyukai kenyataan itu. Aku bisa dekat dengan Kayano-chan dan Nakamura san. Dan aku juga menyukainya." Jawab Nagisa. Nakamura hampir saja memijit pelipisnya dengan kepolosan temannya itu. tapi ia menahan dirinya dan memilih untuk menoleh. Kemudian ia tersenyum.

" Kalau mencintai seseorang seperti hal wajar yang terjadi sebagai reaksi antara lawan jenis dan dirimu?" Tanya Nakamura lagi. Kali ini Nagisa memerah.

" A-apa Nakamura-san sedang menyukai seseorang?" Tanya Nagisa. Nakamura tertawa.

" Nagisa-chan~ aku dulu yang bertanya. Bisakah kau menjawab saja pertanyaanku?" Tanya Nakamura.

" Entahlah Nakamura-san. Aku belum pernah mencintai seseorang. Maksudku, aku tidak tau.." Jawab Nagisa. Nakamura mengangguk mengerti.

" Baiklah, masalahnya sudah ditemukan.. kau terlalu polos, Nagisa! Masalahnya bukan kau pernah jatuh cinta atau belum. Maslaahnya adalah kau bahkan tidak akan sadar kau tengah jatuh cinta atau tidak!" Oceh Nakamura dalam hati.

" Biasanya.. saat kau jatuh cinta, kau akan merasa duniamu penuh dengan warna. Kau juga akan merasakan jantungmu berdebar setiap kau melihat orang itu. atau kau akan merasakan sesuatu yang aneh dengan sikapnya kepadamu. Kau akan menjadi orang paling bahagia saat kau mendapat perlakuan baik darinya. Tapi kau akan merasa kecewa saat kau tau ternyata dia juga memperlakukan orang lain dengan cara yang sama. Bagaimana?" Nakamura mencoba menjelaskan. Terimakasih kepada Hazama Kirara yang sempat meminjamkannya salah satu koleksi novel romancenya. Nagisa terdiam. Nampak berfikir. Kemudian ia tersenyum dan menggeleng.

" Kurasa.. aku belum pernah merasakannya, Nakamura-san." Jawab Nagisa. Nakamura tersenyum lembut. Namun jiwanya berteriak. Sekan baru saja ia terjun bebas di air terjun Niagara.

" Sou.. ah gomen kalau aku membahas hal yang aneh." Nagisa menggeleng pelan.

" Tak masalah kalau itu bisa membantumu." Jawab Nagisa.

" Nah, Nagisa-chan.. bisa membantuku?" Kali ini Nakamura memasang wajah malu.

" Nani?" Tanya Nagisa. Nakamura menatap manik azure itu dan tersenyum disana.

" Bisakah kau.. mengenal Karma lebih jauh untukku?" Tanya Nakamura. Nagisa mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum pipinya memerah.

" A.. itu.. Nakamura.. apa kau.." Nakamura tersenyum malu. Kemudian Nagisa terdiam. Ia adalah sahabat Karma. Dan Nakamura adalah orang yang sangat banyak membantunya terutama setelah insiden racun itu.

" Baiklah." Nagisa tersenyum. Suaranya serak. Kenapa ia sulit sekali menjawab?

" Hontou? Kau harus berjanji!" Tuntut Nakamura. Nagisa tertawa.

" Hai'..hai'.. nah, sebaiknya kita masuk karena sepertinya Koro sensei sudah datang." Nagisa menatap langit seberang dan melihat sebuah cahaya memanjang berwarna putih. Dan seperti dugaannya, Koro sensei mendarat beberapa saat kemudian.

9999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

" Bagaimana, Nagisa?" Tanya Fuwa sepulang sekolah. Nagisa yang tengah membereskan bukunya mendongak kemudian tersenyum.

" sepertinya dugaanmu meleset kali ini, Fuwa-san." Jawab Nagisa. Fuwa mendecak kecewa. Ia gagal menciptakan OTP baru dikelas.

" Kau yakin?" Fuwa mencoba memastikan. Nagisa mengingat bagaimana Nakamura memintanya mengenal Karma lebih jauh. Itu maksudnya, agar Nagisa bisa memberi Nakamura informasi tentang sahabatnya itu kan? itu berarti, menurut Nagisa, Nakamura menyukai Karma dan belum melakukan apapun dengan Karma.

" Um. Aku sudah memastikannya sendiri, Fuwa-san." Jawab Nagisa. Fuwa lagi-lagi menghela Nafas. Kayano tertawa kecil sambil menepuk-nepuk punggung Fuwa. Mencoba menghibur teman detektifnya.

" Kalau begitu, kami pulang dulu, Nagisa!" Pamit Kayano. Nagisa tersenyum dan melambaikan tangannya. Kemudian ia merasa pundaknya ditepuk.

" Ayo pulang." Ajak Karma. NAgisa menatap Karma sesaat. Nagisa mengingat percakapannya dengan Nakamura siang tadi.

" Hm? Kenapa kau melihatku seperti itu? apa aku setampan itu?" Tanya Karma sambil menyeringai. Nagisa mendengus.

" Ayo pulang, Karma-kun." Nagisa berdiri dari duduknya.

" Hee~ sudah tak sabar ingin berdua denganku, Nagisa~?" Tanya Karma jahil.

" Karma-kun!"

9999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

Nakamura melangkah santai. Matanya menatap sepatu hitamnya. Kemudian ia menghela nafas. Percakapan tadi membuatnya tersenyum kecil.

" Biasanya.. saat kau jatuh cinta, kau akan merasa duniamu penuh dengan warna. Kau juga akan merasakan jantungmu berdebar setiap kau melihat orang itu. atau kau akan merasakan sesuatu yang aneh dengan sikapnya kepadamu. Kau akan menjadi orang paling bahagia saat kau mendapat perlakuan baik darinya. Tapi kau akan merasa kecewa saat kau tau ternyata dia juga memperlakukan orang lain dengan cara yang sama. Bagaimana?" Ia tak tahu kenapa ia bisa mengeluarkan kalimat itu dengan lancar. Kemudian Nakamura tertawa kecil. Menertawakan dirinya sendiri. Sebutir air mata lolos dari matanya.

" Aku sudah melepaskan perasaanku padanya, Karma-kun. Jadi, kalau kau tidak berhasil mendapatkannya, akan kurebut kembali dari tanganmu! Akan kukembalikan Nagisa kewujud semula!" Tekad Nakamura. Kemudian ia menghela nafas berat dan menepuk pipinya.

" Agh! Semangat, Nakamura Rio! Nagisa masih bisa menjadi adik kecil yang menyenangkan!" Ujarnya sambil mengepalkan tangannya dan mengangkat tangannya tinggi. Dalam hati Ia bertekad untuk merubah perasaan cintanya pada Nagisa menjadi perasaan yang lebih sederhana.

9999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

" Satu.. kemudian berputar! Whoa!" Karma menangkap tubuh Nagisa yang hampir tergelincir. Kemudian ia membenarkan posisi tubunya.

" Kau kenapa, Nagisa? Sepertinya hari ini kau tidak focus sama sekali." Karma tersenyum. Nagisa memerah.

" Ah, tidak apa-apa." Jawab Nagisa. Karma memasukkan tangannya ke saku celananya. Kemudian ia meluncur kepinggir kolam buatan itu dan melepas sepatu skatenya.

" Sebaiknya hari ini kita pulang awal saja. Tidak baik kalau kita memaksakan diri." Karma menjawab tatapan bingung Nagisa. Nagisa terdiam kemudian tersenyum dan menyusul Karma.

" Gomen ne, Karma-kun. Lain kali aku akan berusaha." Ucap Nagisa. Karma tertawa.

" sebaiknya kau cepat-cepat menguasainya, Nagisa~. Karena lain kali untuk kita tidak sepanjang yang kita kira." Jawab Karma.

" Ugh.." Nagisa menampakkan ekspresi bersalahnya.

" Nah, berhentilah menyesal. Sebaiknya kita pulang sekarang. Menurutmu, kita akan makan apa malam ini?" tanya Karma. Nagisa tersenyum. Ia bersyukur Karma mau mengerti kelemahannya. Yah, bagaimanapun Nagisa bukanlah Karma atau Asano atau Hinata yang ahli dalam menghafalkan gerakan-gerakan aneh yang mereka gunakan. Aneh? Menurut Nagisa aneh. karena gerakan itu terlalu.. dekat. Ya, Nagisa tidak bisa berkonsentrasi. Ia terlalu dekat dengan Karma. Apalagi tadi ia sempat melihat Nakamura dan yang lainnya datang untuk menyemangati. Dan ia harus berdiri sedekat itu dengan Karma didepan Nakamura. Beda ceritanya kalau ia laki-laki. Dia juga pasti tak akan berpasangan dengan Karma.

" Nagisa, doushite?" Tanya Karma. Nagisa mengerjapkan matanya. Sadar bahwa ia baru saja melamun.

" Iie.. tidak ada apa-apa, Karma-kun." Jawab Nagisa.

" Hmm~ kalau ada apa-apa bilang saja. Aku tidak ingin ayahmu memarahiku jika 'puterinya' mengalami depresi dan harus menyiksa lambungnya lagi." Nagisa merengut.

" Aku tidak akan melakukannnya, Karma-kun." Protes Nagisa. Kemudian keduanya berjalan dalam hening. Sampai setengah perjalanan, keduanya disibukkan dengan pemikiran masing-masing.

" Mm.. Karma-kun.." Panggil Nagisa.

" Hm?" Karma menjawab tanpa menoleh.

" Kau tau, kemarin Bitch sensei mengatakan sesuatu padaku. Dia memberikan beberapa tips tentang bagaimana caranya agar.. kita bisa mmeluncur dengan baik dan memukau." Nagisa berhenti sejenak. Karma menoleh.

" Dan apa yang bisa membuat kita mengalahkan Asano? Aku bertaruh dia pasti sekarang sedang berlatih dengan pelatih professional. Bahkan dia mungkin saja akan meluncur dengan seseorang yang sudah memenangkan kompetisi Ice skating dan ski Internasional." Jawab Karma. Nagisa tertawa geli. Ia setuju dengan pendapat Karma. Kemudian ia menatap teman merahnya itu dan masih tersenyum disana.

" Entahlah, aku juga tidak mengerti. Menurut beliau – dan teman-teman lainnya- kita harus memainkannya dengan perasaan. Sayangnya, sampai sekarang aku masih tidak tau perasaan seperti apa yang mereka maksud." Jawab Nagisa. Karma menghela nafas.

" Ah~ topik yang sama ternyata." Gumam Karma. Nagisa melebarkan matanya.

" Eh? Kalian juga membahas hal ini?" Tanya Nagisa tidak percaya.

" Tidak semua anak. Hanya aku dan Maehara. Kau bisa bilang ini adalah saran dari Maehara." Jelas Karma. Nagisa mengangguk kemudian menatap Karma.

" Jadi?" Tanya Nagisa. Karma menatap Nagisa bingung.

" Jadi?" Karma bertanya balik. Nagisa tertawa kecil.

" Jadi apa kau mengerti?" Kali iniKara hanya menepuk tangannya. Faham dengan maksud Nagisa. Kemudian ia tersenyum.

" Bisa dibilang begitu~" Jawabnya. Nagisa menatap Karma tidak pecaya.

" Hontou? Beritahu aku!" Pinta Nagisa.

" Hee~ sayangnya ini bukan hal yang bisa kau fahami hanya karena aku memberitahumu jawabannya, Nagisa." Nagisa menghela nafas lelah.

" Jadi tetap saja aku harus menemukan caranya sendiri ya?" Gumamnya kecewa. Karma melirik surai biru yang menunduk itu dan tersenyum.

" Aku bisa membantumu memahaminya kalau kau mau." Tawa Karma. Nagisa dengan cepat menoleh dan menatap Karma curiga.

" Apa? Aku tidak akan meminta imbalan darimu, Nagisa.." Karma tertawa geli.

" Jadi.. bagaimana kau akan membantuku?" Tanya Nagisa.

" akan kulakukan denga caraku. Yang harus kau lakukan hanya percaya padaku dan.. jangan protes dengan apa yang kan kulakukan untuk.. menyadarkanmu." Jawab Karma. Nagisa menghentikan langkahnya. Ia jarang sekali melihat Karma serius. Kemudian setelah beberapa detik, ia tersenyum dan mengangguk.

" Baiklah.." Jawab Nagisa. Karma tersenyum puas. Keduanya meneruskan perjalanan mereka. Sepuluh menit kemudian, Karma dan Nagisa sudah sampai didepan pintu rumah Karma. Karma merogoh kantong cardigan hitamnya dan mengeluarkan kunci dari dalam. Ia membuka pintu itu dan detik berikutnya ia berdiri mematung ditempat. Dibelakangnya, Nagisa melebarkan matanya melihat Karma kini sudah basah kuyup.

" Ka-Karma-kun, daijo-"

" OKAERI, KARMA-CHAAAN!" Nagisa melonjak kaget. Sedangkan Karma menatap sosok didepannya jengkel.

" KAA-SAN! APA KAU TIDAK TAU SEKARANG CUACA DINGIN?" Teriak Karma. Sosok wanita berambut coklat panjang didepannya tersenyum tanpa dosa.

" Ara? Kukira kau anak yang tahan dengan cuaca dingin, deshou?" Manik yang serupa dengan milik Karma itu berkilat-kilat jenaka. Kemudian tanpa memperdulikan Karma yang basah kuyup, wanita itu melompat maju dan memeluk anak semata wayangnya itu. erat.

" Karmaa-chaaaan, kau tidak merindukanku, hm? Padahal Kaa-chan sudah membawakan banyak oleh-oleh untukmu! Kau tau, perjalanan tanpamu itu membosankan!" sang ibu mulai memainkan wajah anaknya. Karma menatap ibunya jengkel dan menahan tangan ibunya untuk mempermainkan dirinya lebih jauh lagi. Ia bukan anak kecil lagi! Nagisa mengerjapkan matanya melihat pemandangan didepannya. kemudian ia tersenyum geli.

" Ah, kau pasti…" Sang wanita menoleh kearah Nagisa. Kemudian ia berjalan dan ganti memeluk Nagisa.

" Nagisa-chan, deshou? Ah, akhirnya kita bertemu! Bagaimana Karma-kun? Dia tampan bukan?" Nagisa sweatdrop. Ia tidak mengerti dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan.

" Kaa-san, jangan menanyakan hal aneh pada Nagisa." Karma mengingatkan. Sang ibu menoleh kemudian mengembungkan pipinya.

" Aku hanya menanyakan pendapatnya saja. Lagipula, aku harus tau pendapat calon menantuku!" Bela wanita itu.

" Uhuk.." Nagisa tersedak. Karma memijit pelipisnya kemudian menarik Nagisa.

" Sebaiknya kita meninggalkan bibi tua itu." Ucap Karma didepan ibunya.

" whatever… Karma-kun, jangan berbuat hal aneh dengan Nagisa-chan yaaa… kalian masih dibawah umur!" Sang ibu mengingatkan. Membuat Karma menghela nafas berat. Ia lupa ibunya bisa menjadi sangat jujur dengan apa yang ia pikirkan. Entahlah, yang pasti Karma bersyukur ia tak menjadi anak yang bawel seperti ibunya.

" Gomen ne, Nagisa.. okaa-san memang suka bercan..-" Karma menghentikan ucapannya saat melihat wajah Nagisa sudah sangat merah. Kemudian ia tertawa geli.

" Ka-Karma-kun, kenapa kau tertawa?" Tanya Nagisa. Karma menggeleng.

" Wajahmu terlihat.. menggemaskan." Jawab Karma sambil tersenyum. Nagisa menatapnya bingung. Kemudian keduanya mendengar suara orang yang –sepertinya- tengah menelpon. Keduanya menoleh saat melihat sosok laki-laki berambut merah dengan iris biru gelap keluar dari ruang baca rumah itu. laki-laki itu menoleh dan menatap keduanya datar.

" Kau hanya perlu menjalankan apa yang kukatakan. Selebihnya, aku yang urus. Jaa." Dan ia memencet tombol untuk mengakhiri panggilannya. Setelah itu ia kembali menatap kedua orang didepannya yang masih diam ditempat.

" Hai, nak. Bagaimana harimu, hm?" Laki-laki itu mengangkat alisnya melihat anak lelakinya yang bertambah tinggi dari yang diingatnya. Karma menatap laki-laki itu kemudian tanpa peringatan ia melompat dan berusaha menendangnya. Namun laki-laki itu dengan mudah menghindari serangan dadakan Karma.

" Sugoi.. seperti Karasuma sensei.." Batin Nagisa.

" Tch.. hariku membosaaankan." Jawab Karma. Kemudian laki-laki itu tertawa dan menepuk kepala Karma.

" Baiklah.. sepertinya hari kita sama-sama membosankan. Hm, jadi biar kutebak kau pasti Nagisa." Laki-laki itu tersenyum kearah Nagisa. Nagisa tersenyum. Laki-laki didepannya benar-benar cerminan dari Akabane Karma. Bukan.. tapi Karma yang menjadi cerminannya. Tinggi dengan rambut merah cemerlang. Sebuah kacamata bertengger di mata biru gelapnya itu. senyumannya terkesan ramah, namun berbahaya. Seperti senyuman pak kepala sekolah.

" Hhh.. baiklah, persiapkan dirimu untuk serangan tiba-tibaku, pak tua." Ucap Karma. Laki-laki itu tersenyum.

" Kau bisa bermimpi untuk itu, nak.. ah sou, bagaimana dengan ujianmu?" Karma melirik tidak berminat.

" aku sudah meletakkannya di lacimu, tou-chan. Lihat saja sendiri."

" Hmm.. seperti biasa kurasa. baiklah, kalau kau berhasil memberikan satu pukulan, akan kubelikan motor yang kau bilang waktu itu." Nagisa membelalakkan matanya. Motor? Karma tertawa meremehkan.

" Hahaha.. aku tidak sabar untuk itu." Karma menyeringai. Sang Ayah hanya tersenyum kecil.

" Begitu pula diriku, Karma-kun. Tapi kalau kuingat kau belum pernah menang melawanku satu kalipun. Kurasa dirumah ini tidak ada yang bisa..-"

" BRUAK"

" Paman!" Teriak Nagisa saat melihat Ayah Karma harus tertimpa tumpukan kertas bekas. Disebelahnya, Karma menyeringai puas. Nagisa melirik sahabatnya dan berbisik.

" Kau pelakunya?" Tanya Nagisa. Karma mengangkat bahunya.

" Kuharap aku bisa melakukannya. Sayangnya bukan, Nagisa~" Karma melewati ayahnya tanpa menolong sedikitpun. Nagisa menatap punggung temannya heran. Siapa lagi yang suka memasang perangkap aneh dirumah itu kalau bukan Karma? Tunggu. Tapi tadi Karma juga terkena perangkap entah apa. Jangan-jangan..

" Anata, oh astaga.. aku menang! Kalau begitu malam ini kau harus memakan semua brokolinya." Ibu Karma muncul dibelakang Nagisa sambil tersenyum manis. Ayah Karma menyingkirkan tumpukan kertas itu dan menatap istrinya kesal. Nagisa yang merasa itu bukan tempatnya bergegas menyusul Karma.

" Ka-karma-kun, apa ayahmu akan baik-baik saja?" Tanya Nagisa. Karma tertawa.

" Tentu saja." Karma berdiri didepan pintu kamarnya. Begitupula Nagisa.

" Dirumah ini, hanya Kaa-san yang bisa membuat Tou-chan kewalahan. Aku berharap aku juga bisa sih." Kemudian Karma tertawa kecil. Nagisa memperhatikan sahabatnya itu. Nagisa bisa melihat semburat merah tipis di wajah Karma. Nagisa tersenyum lebar. Ia tau, Karma sedang bahagia.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

-tbc

Hiyaaaa akhrnya saya bisa update juga.. teharu.. terharu..

Di chapter ini saya membuat… hmm.. ga bener-bener OC mungkin. Soalnya saya yakin si Karma masih punya orang tua lengkap. Dan saya ingin keluarga yang sebenernya rame. Hahaha..

Bagaimana menurut kalian? Saya out of idea mikir orang tua Karma itu kaya gimana ya kok anaknya bisa kaya gitu XD.

NamikhraKyra-san: Terimakasih sudah mampir! Hehehe sebenarnya saya juga penasaran Akut gimana kalau Nagisa dipair-in sama anak kelas 3-E satu-satu XD*plak. Hm..hm.. saya akan berusaha agar cerita ini bisa menarik dan berkenan. Terimakasih ^^

Aqizakura-san: Nyahaha.. Nagisa kan diam-diam mematikan*eh*. Karma yang akhirnya sadar hahaha.. ok..ok.. terimakasih sudah mampir ^^/

Dan untuk semua yang membaca, follow, fav, PM, Terimakasih banyaaak * salamin satu-satu*. Semoga author bisa bikin chapter yang menghibur kalian sekalian. Kalau ada hal yang tidak berkenan, monggo di laporkan. Hehehe.. karena pembaca adalah guru bagi penulis. Ok, terimakasih sekali lagi.

Jaa mata!