Salam salam…
Hohohoho akhirnya saya update juga fic ini. semoga masih lulus sensor XD
It's time adalah kepunyaan saya. Yang dimodifikasi dari cerita kerennya Yusei Matsui sensei ( Ansatsu Kyoushitsunya punya beliau XD). Horor, Fem! Nagi, OOC, OC*eh
Happy Reading ! ^^/
Chapter 11
Lihat aku!
Nagisa memasukkan potongan telur kedalam mulutnya. Ia memperhatikan Karma dan ibunya yang sedang ribut memperdebatkan seragam sekolah Karma. Di sudut seberang, ia bisa melihat ayah Karma yang juga memperhatikan istri dan anaknya sambil menyesap kopinya. Kemudian laki-laki itu tersenyum. Nagisa mengerjapkan matanya. Sejauh ini ada beberapa point yang ia tangkap dari sosok teman merahnya itu. jika ditanya darimana Karma mendapatkan rambut merah, sifat malas, kemampuan fisik yang baik, dan wajah yang.. menarik, maka bisa dilihat dari ayahnya. Dan iris tembaga milik Karma serta keahlian untuk memasang perangkap dan berbuat jahilnya, Ibunyalah yang mewariskannya. Kalau ditanya tentang tinggi badan – ugh, Nagisa mengeluh dalam hati- kedua orang tua Karma bisa dibilang memilikinya. Dan bicara tentang kejeniusan, Nagisa tak perlu mencari tau siapa yang mewariskannya kepada Karma. Nagisa bisa menebak bahwa keduanya adalah orang yang cerdas.
" Nah, Nagisa-chan.. menurutmu Karma lebih tampan dengan seragam atau dengan cardigan hitam ini?" Tanya sang ibu.
" Eh? Aku tidak terbiasa melihatnya dengan seragam. Jadi menurutku itu agak sedikit aneh." Jawab Nagisa sambil tertawa sopan.
" Kaa-san, berhenti menanyakan hal aneh kepada Nagisa."
" Karma benar, Kanade. Kau bisa membuat Nagisa kabur dari sini." Jawab laki-laki beriris biru gelap itu sambil memotong pancakenya.
" Hoo~ aku tidak akan melakukan itu, Akabane Kazuto-kun~" Nagisa mengerjapkan matanya. Kalau yang barusan berbicara adalah Karma, maka sudah dipastikan akanada sesuatu yang terjadi setelah itu. nada mengintimidasi dan meremehkan itu biasanya diucapkan Karma sebelum sesuatu terjadi.
" Hmm.. masalahnya kalau kau..-" Kazuto menghentikan ucapannya. Ia berdiri dan berjalan cepat kearah wastafel dan Nagisa bisa mendengar suara air disana. Apa yang terjadi?
" Kanade! Aku masih harus bekerja setelah ini! berhentilah bermain-main denganku!" Protes Kazuto dari arah dapur. Nagisa kemudian bisa melihat satu kesamaan lagi antara Karma dan ibunya. Saat ini mereka berdua tengah tertawa ala Koro sensei dengan tanduk imajiner dikepala mereka.
" Jadi, berapa banyak wasabi yang dimasukkan?" Tanya Karma.
" Hohohoho~ kau tidak akan bisa menghitungnya, Karma-chan~" Jawab sang ibu. Nagisa tertawa datar. Semuanya menjadi jelas sekarang.
99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
" Ne, Karma-kun." Nagisa memanggil. Saat ini keduanya tengah berjalan menuju sekolah.
" Hm?"
" Apa.. tidak apa-apa aku masih menginap dirumahmu? Maksudku, aku tidak ingin merepotkan paman dan bibi." Ucap Nagisa.
" Kau berlebihan, Nagisa~. Kau bisa lihat sendiri bagaimana Kaa-san sangat senang karena kau tinggal dirumah." Jawab Karma.
" Aku hanya.. tidak ingin mengganggu acara keluargamu, Karma-kun." Tegas Nagisa. Karma menoleh. Menatap manik azure itu dan tersenyum disana.
" Sayangnya menurut ibuku, kau adalah anggota keluarganya." Gumam Karma. Nagisa menatap Karma heran.
" Apa yang kau maksud, Karma-kun?" Tanya Nagisa bingung. Karma mengangkat bahunya.
" Tadi pagi ibuku bilang..-"
Kalimat Karma terpotong oleh suara Handphone yang bordering. Karma mengeluarkan handphonenya dan mengangkat alisnya. Kemudian ia menempelkan ponsel itu ditelinganya.
" Karma-chan, kau meninggalkan bentomu!"
" Kaa-san, aku tidak terbiasa membawa bento. Aku akan membeli roti saja nanti." Jawab Karma.
" Gezz.. Kau benar-benar keras kepala! Ah, apa kalian belum sampai disekolah?" Tanya Kanade. Karma menggeleng. Meskipun ia tahu ibunya tak akan melihatnya. Kemudian ia merasa lengannya ditarik. Karma menoleh dan mendapati Nagisa tengah memegang lengannya.
" Kau hampir menabrak anak itu." Ujar Nagisa. Ternyata tarikan dari Nagisa membuat Karma tak sengaja mengaktifkan speaker handphonenya.
" hmm~ baiklah.. kalau begitu hati-hati! Jaga Nagisa-chan baik-baik, ne? Ibu ingin menantu seperti Nagisa-chan, Karmaa~" Goda ibu Karma. Tak sadar bahwa kalimatnya sudah didengar oleh yang bersangkutan. Karma menatap ponselnya sweatdrop. Sedangkan Nagisa terdiam. Karma melirik Nagisa dan tersenyum jahil.
" Um. Tentu saja, Kaa-san! Jaa!" Karma menjauhkan ponselnya. Nagisa menatap Karma dengan wajah memerah. Apa maksud jawabannya tadi?
" Nah, kau dengar sendiri kan? itu maksudku. Karena itu, sebaiknya kau jangan jauh-jauh dariku, calon istri!" Ucap Karma sambil merangkul Nagisa. Nagisa menoleh protes dengan tingkah sahabatnya. Namun akhirnya memilih diam karena Karma sama sekali tak terpengaruh dengan ekspresi wajah protes yang ia buat dengan susah payah itu. bagi Karma, wajah itu sungguh imut. Mereka melangkah diiringi suara tawa Karma dan percakapan tentang calon Istri dan menantu itu ternyata telah menghentikan langkah sang surai Oranye. Asano Gakushu menatap keduanya dengan tangan terkepal erat.
999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
Pelajaran PE siang itu digunakan untuk persiapan ujian satu minggu lagi. Beberapa murid bahkan sudah sangat menguasai tehnik meluncur diatas es dengan baik.
" Hiyaaa… sensei sangat senang kalian bisa meluncur sebaik itu. sensei yakin nilai kalian bisa lebih baik dari kelas A. Nurufufufufu~" Koro sensei menyemangati dari pinggir kolam. Dengan Bitch sensei sebagai juri gadungan mereka ( " Karasuma tak akan bisa mengatasi ini karena ini masalah perasaan!") para murid bisa meluncur dengan sangat baik. Sambil menunggu gilirannya, Nagisa mengenakan sepatu skatenya dan terdiam sejenak. Sepatu itu adalah sepatu pemberian Karma. Ia tersenyum sejenak dan bangkit dari duduknya.
" Nagisa, chotto.." Karma melambaikan tangannya. Nagisa mengangkat alisnya heran. Giliran mereka sebentar lagi! Apa yang anak itu rencanakan?
" ada apa, Karma-kun? Sebentar lagi adalah giliran kita." Nagisa mengingatkan.
" Aku ingat, Nagisa~. Aku hanya ingin membuatmu lebih memukau." Karma membuka semak-semak didepan mereka. Nagisa mengikutinya dengan heran. Kemudian apa yang dilihatnya sukses membuat Nagisa terbatuk.
" Bi-bibi?" Nagisa melihat Akabane Kanade melambaikan tangannya.
" Nagisa-chan~ aku kesini untuk melihat kau meluncur dengan Karma. Nah, nah, karena giliran kalian sebentar lagi, kurasa kau harus cepat-cepat bukan?" Ujar Kanade sambil membalik tubuh Nagisa. Nagisa mengernyitkan matanya bingung. Itu yang dikatakannya tadi pada Karma. Jadi point ' membuatmu lebih memukau' yang dikatakan Karma itu ada disebelah mana? Nagisa masih memikirkan itu saat melihat helaian biru miliknya terjuntai dibahu mungilnya.
" Eh.. EH?" Nagisa menoleh dan melihat akabane Kanade tersenyum manis dengan karet gelang ditangannya. Ia melambaikan tangannya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Disebelahnya Karma tertawa kecil. Nagisa menoleh dan memberikan tatapan protesnya.
" Kau sudah nampak memukau sekarang!" Karma menjawab tatapan protes dari Nagisa.
" Hmm.. tapi kurasa ada yang kurang.. Nakamura!" Panggil Karma. Kemudian –entah darimana, Nakamura Rio muncul dengan senyum iblisnya.
" Lakukan dengan cepat, Nakamura~ sebentar lagi kami akan tampil." Ucap Karma santai.
" fufufufu.. tenang.. aku bisa secepat Koro sensei kalau aku sudah sangat berniat seperti ini. Mimpi indaaah!" Nakamura menarik Nagisa kearah semak lainnya. Karma tersenyum mendengar protesan dari Nagisa. Sementara menunggu Nagisa, Karma pergi menemui ibunya.
" Arigatou, Kaa-san." Ujar Karma. Kanade mengangkat alisnya dan tersenyum.
" Bukan masalah besar. Selama itu anakku, aku akan segera datang bahkan kalau aku ada dibelahan dunia manapun!" Jawaban Kanade membuat Karma tertawa.
" Yang pasti.. Kaa-san senang kau memilih gadis lugu seperti Nagisa." Kanade mengangkat bahunya. Karma tertawa.
" Kaa-san pikir siapa lagi yang akan kupilih?" Tanya Karma.
" Entahlah.. siapa yang tau kalau kau memilih.. siapa kau menyebutkannya.. hmm.. Asano?" Karma sweatdrop. Alisnya berkedut menatap jengkel kearah ibunya.
" Kaa-san, Asano masih laki-laki tulen." Ucap Karma.
" oh? Kau tak pernah menyebutkan gendernya. Tapi kukira Nagisa juga laki-laki, bukan?" Tanya Kanade. Karma terdiam.
" Um. Dulunya." Jawab Karma. Kanade menatap anak laki-laki kesayangannya itu datar. Kemudian ia tersenyum.
" yah, dia perempuan sekarang. Jadi kalau kau menginginkannya, buat dia menyukaimu sehingga dia tak akan mengubah gendernya lagi!" Ucap Kanade sambil membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Karma yang tertegun. Karma menatap punggung ibunya dan tersenyum.
" Ok~" Jawab Karma. Kanade tersenyum. Kemudian ia mengambil sesuatu dari saku bajunya dan melemparkannya kebelakang. Karma menangkap benda itu dan menatap punggung ibunya heran.
" Berikan padanya." Karma mengangkat alisnya dan tersenyum.
" Karma-kuun!" suara Nakamura membuat Karma berbalik dan berjalan meninggalkan tempat itu. ditatapnya Kalung yang diberikan ibunya.
" Karma-kun, coba kau lihat!" seru Nakamura. Karma melihat Nagisa yang ada didepannya. berdiri malu-malu dengan drees sederhana nan manis yang entah darimana Nakamura mendapatkannya.
" aku meminjamnya pada Kanzaki-san. Ternyata sangat cocok denganmu, Nagisa!" Nakamura memeluk Nagisa senang.
" Ugh.. Nakamura.. chotto.. apa ini tak apa-apa?" Bisik Nagisa lirih. Nakamura mengerjapkan matanya beberapa kali.
" Eh? Apa maksudmu? Tentu saja tak apa-apa. Tidak akanada yang memarahimu karena pakaianmu yang berbeda, Nagisa-chan." Jawab Nakamura bingung.
" Bukan itu.. maaf Karma-kun.. aku ingin berbicara dengan Nakamura sebentar." Ucap Nagisa sambil menarik Nakamura kembali ke 'ruang ganti'. Karma menatap Nagisa dan Nakamura heran.
" Ok~" Jawabnya.
999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
" Jadi?" Nakamura menatap gadis didepannya bingung.
" Kenapa kau melakukan ini, Nakamura-san?" Tanya Nagisa.
" Kenapa aku melakukan ini? tentu saja aku harus membantu kalian agar kalian bisa mengalahkan si Asano itu." Jawab Nakamura bingung.
" Bukan itu! maksudku, kau menyukai Karma-kun. Aku.." Nagisa kehilangan kata-katanya. Sedangkan didepannya Nakamura nampak speechless sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak.
" Kenapa kau tertawa, Nakamura-san?" Tanya Nagisa. Kali ini dia yang merasa kebingungan.
" Hahaha.. kau bilang.. hahaha.. aku menyukai.. hahaha.. Karma?" Tanya Nakamura ditengah tawanya. Nagisa menatap Nakamura heran. Bukankah itu yang sebenarnya? Bukankah Nakamura meminta tolong pada Nagisa untuk mencari tahu tentang Karma karena dia menyukai Karma?
" Kau berkata seperti itu padaku tempo hari." Jawab Nagisa. Nakamura berusaha menghentikan tawanya dan menatap Nagisa sambil tersenyum.
" Koreksi, Nagisa~. Aku tak pernah mengatakan bahwa aku menyukai Karma. Aku hanya memintamu mengenalnya lebih dekat." Koreksi Nakamura.
" Kau meintaku melakukan itu agar kau bisa tau tentang Karma-kun bukan?" Nagisa balik bertanya.
" Astaga Nagisa-chan! Aku tidak perlu memintamu melakukannya kalau aku memang menyukai Karma atau laki-laki manapun! Aku bisa melakukannya sendiri!" Jawab Nakamura. Nagisa menatapnya ragu.
" Jadi, kenapa kau menyuruhku melakukan itu?" Tanya Nagisa tak mengerti. Nakamura nampak berfikir. Kemudian ia mengangkat bahunya.
" Kalau kau melakukannya, kau bisa memenangkan perlombaannya!" Jawab Nakamura.
" Eh? Hanya dengan melakukan itu?" Nakamura mengangguk.
" Nah, sebaiknya kau segera pergi ketempat Karma sekarang. Aku akan menunggu dipinggir kolam. Jaa!" Ujar Nakamura sambil mengedipkan matanya dan melambaikan tangan. Meninggalkan Nagisa yang hanya bisa terdiam. Sampai akhirnya telinganya menangkap suara semak terbuka.
" Hei, apa yang kau lakukan? Sebentar lagi giliran kita, Nagisa." Ucap Karma. Nagisa menoleh. Namun langkah yang diambil gadis biru itu membuat keseimbangan tubuhnya hilang. Hingga punggungnya harus menabrak dada Karma.
" Gezz.. kau harus berhati-hati. Kalau kau sampai terkilir, semua akan tamat disini." Karma mengingatkan. Suara Karma terdengar sangat dekat. Membuat semburat merah menyebar di kedua sisi wajah Nagisa.
" Um. Maafkan aku." Jawab Nagisa. Ia sudah akan menjauh saat kedua tangan Karma melingkar di lehernya.
" Karma-kun.." Karma mengubur wajahnya di bahu Nagisa. Nagisa bisa melihat surai merah Karma berbaur dengan surai birunya.
" Nagisa.. bisakah kau melihatku?" Gumam Karma. Nagisa terdiam. Kemudian ia memegang pergelangan tangan Karma.
" Karma-kun, bagaimana aku bisa melihatmu kalau kau menahanku seperti ini?" Tanya Nagisa. Nagisa bisa merasakan senyuman Karma disamping kepalanya.
" Ne, Nagisa~ apa kau tak tau apa yang kumaksud?" Tanya Karma.
" a-apa yang kau maksud?" Nagisa bertanya bingung. Kamisama! Nagisa merasa jantungnya berulah.
" Aku yakin kau bisa mengerti, Nagisa." Karma menjauhkan wajahnya dan tersenyum.
" Kalau begitu, akan kulakukan sekarang." Ucap Karma.
" Eh? Apa?" Karma menarik tangan Nagisa.
" Cara agar kau bisa bermain dengan perasaan, Nagisa~" Kemudian Nagisa merasa tangannya ditarik dengan kencang. Nagisa melebarkan matanya. Ia sudah mulai meluncur diatas kolam es buatan senseinya. Dan tarikan Karma membuat Nagisa harus memegang tangan Karma dengan erat. Karma tersenyum dan memulai latihannya dengan Nagisa.
" Nagisa, lihat aku." Gumam Karma. Nagisa menoleh dan menemukan tatapan Karma yang berbeda dari yang pernah diingatnya. Tatapan itu hangat. Membuat Nagisa nyaman. Nagisa bahkan tak ingin berpindah dari mata milik Karma. Kemudian Karma tersenyum. Menularkan senyumannya pada Nagisa. Nagisa ikut tersenyum dan mulai menguasai permainannya. Para murid menatap keduanya dalam hening. Pertunjukan kali ini berbeda dengan latihan-latihan lainnya. Keduanya meluncur dengan lembut namun tegas. Seakan tak ada siapapun disana kecuali Karma dan Nagisa. Keduanya masih menikmati permainannya sampai akhirnya lagu pengiringnya mulai mencapai bagian akhir. Karma memegang tangan Nagisa dan memutarnya. Nagisa memutar dan dengan sukses ditangkap oleh Karma. Gerakan yang terlampau indah. Tidak, gerakan itu bukan gerakan yang professional. Bagi para pro, gerakan itu sederhana dan semudah berjalan. Keduanya terengah. Tangan Karma melingkar sempurna di pinggang Nagisa dan tangan Nagisa terpaut dibelakang leher Karma. Keduanya masih saling menatap. Keduanya masih tersenyum. Dan tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk mendapatkan sorakan dari para murid. Bitch sensei mengangkat papan nilainya dengan angka sepuluh tertulis diatasnya. Nagisa dan Karma menoleh. Karma tersenyum santai sementara Nagisa memerah.
" Apa kau sudah mulai mengerti?" Bisik Karma tepat ditelinga Nagisa. Kemudian Karma meluncur meninggalkan Nagisa yang masih terdiam dan berusaha mengatur jantungnya yang berulah.
999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
"Nice show, Nagisa!" Kayano memberikan sebotol air mineral. Nagisa tersenyum dan menerimanya. Nagisa menegak isi botol itu hingga tersisa setengah dari isinya. Setelah itu Nagisa terdiam. Ia tidak mengerti kenapa hari itu latihannya bisa sesukses itu. yang ia tahu hanya Karma dengan tiba-tiba menariknya memasuki arena luncur dan mulai mengikuti setiap gerakan Karma. Tidak juga.. karena itu hanya terasa seperti berjalan diwaktu santai. Nagisa tak berbohong.. dia menikmati setiap gerakannya. Tapi, kenapa itu baru terjadi sekarang? Apa karena ia sudah berhasil memainkannya dengan perasaan? Apa ia memang sudah berhasil? Nagisa bisa melihat ucapan Karma yang terdengar menggelitik ditelinganya dan tatapan lembut itu.. Nagisa merasakan satu hal saat itu. Nagisa merasa aman. Tatapan mata Karma yang baru pertama dilihatnya membuat Nagisa merasa nyaman. Seakan memberitahu Nagisa bahwa semua akan baik-baik saja. Bahwa sejatuh apapun ia, masih ada orang yang akan bersama Nagisa.
" Fufufufu.. lihat siapa yang sedang duduk termenung dengan wajah memerah disini.." Nagisa mengerjapkan matanya dan menoleh. Mendapati Nakamura Rio dan Maehara tengah tersenyum misterius kearahnya. Tunggu, apa katanya?
" Nagisa-chaan~ apa yang kau pikirkan, hm?" desak Nakamura.
" Bukan apa-apa, Nakamura-san." Jawab Nagisa sekenanya.
" Hee.. kukira kau memikirkan laki-laki ini." Nakamura memperlihatkan ponselnya yang menampilkan adegan gerakan terakhir Nagisa dan Karma. Disana mereka nampak serasi. Gerakan itu semakin diperindah dengan keduanya yang saling menatap. Nagisa berusaha mengontrol dirinya untuk tidak meledak disana.
" Untuk apa aku memikirkannya, Nakamura-san? Dia tidak sedang dalam kondisi berbahaya atau apapun yang perlu dikhawatirkan." Elak Nagisa.
" Hmm.. kau kurang sensitive, Nagisa-kun.." Maehara mengusap dagunya. Nagisa menatap keduanya tak mengerti.
" Tidak.. dia hanya terlalu polos." Koreksi Nakamura.
" Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan. Sungguh!" Ujar Nagisa. Kemudian ketiganya mendengar Karma memanggil Nagisa untuk pulang. Akhirnya nagisa hanya tersenyum dan berpamitan. Maehara melirik Nakamura yang nampak tengah berfikir.
" Jadi, apa yang akan kita lakukan?" Tanya Maehara.
" Kurasa kita hanya bisa mendoakan agar Nagisa tidak terlalu polos menghadapi Karma." Nakamura menghela nafas lelah. Maehara menatap punggung Nagisa dan Karma kemudian setengah mendengus setengah tertawa.
" Aku tak menyangka Karma bisa ditaklukkan." Ujar Maehara. Nakamura terdiam dan tertawa kecil.
" So do I." Jawabnya singkat. Nakamura menatap surai biru dan merah itu kemudian mengangkat bahunya.
Kuserahkan padamu, Nyonya akabane!
999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
"Hm? Kenapa harus mendadak sekali?" Karma bertanya setelah menelan makanannya. Kemudian ia meraih sepotong daging. Akabane Kanade tersenyum.
" Kau tau, kami harus pergi lagi setelah ini, Karma.." Ujarnya dengan nada tak enak. Nagisa melirik Karma. Penasaran dengan reaksi sahabatnya. Karma hanya mengangguk- angguk mengerti kemudian memasukkan potongan dagingnya kedalam mulut.
" Karena itu, kami berencana mengajak kalian untuk pergi ke daerah Niigita. Ibu Karma ini sangat ingin bermain ski." Jawab Kazuto.
" Jadi, maafkan kami kalau ini mendadak dan seenaknya. Tapi, ini kesempatan bagus bukan? Kalian bisa berlatih disana. Ini akan menjadi liburan keluarga yang menarik." Ucap Kanade semangat.
" Ok~. Kurasa aku serahkan masalah perizinan padamu. Aku sudah selesai. Terimakasih atas makanannya." Ujar Karma kemudian segera beranjak pergi dari meja makan. Nagisa menatap surai merah itu cemas. Tidak biasanya Karma meninggalkan ruang makan secepat itu. belum lagi makanan Karma hanya dimakan sedikit.
" Hhh.. selalu seperti ini." Kazuto meraih gelas air ditangannya dan menegaknya.
" Ugh.. kau masih bisa sesantai itu ya? Aku bahkan khawatir anak itu akan membenciku." Gumam Kanade. Nagisa menggigit bibirnya.
" A-ano.." Kedua insan itu menoleh. Seakan baru ingat bahwa Nagisa masih disana. Kanade menghela nafas dan tersenyum.
" Gomen ne, Nagisa-chan. Suasana makan malamnya jadi kacau." Ibu Karma meminta maaf. Nagisa tersenyum dan menggeleng pelan.
" Anak itu selalu seperti itu. sebenarnya kami bingung apakah kami harus bersyukur atau khawatir dengan setiap responnya. Dia berlagak tak apa-apa. Tapi setiap tindakannya pasti membuat kami berfikir bahwa dia tidak baik-baik saja." Kanade meletakkan sumpitnya.
" Mungkin memang lebih baik dia kita ajak saja, Kanade." Suara Kazuto.
" Kau bercanda. Kita sudah pernah mengusulkannya dan dia menolak mentah-mentah. Kenapa tidak kau saja yang mengambil pekerjaan didalam negeri? kukira kau pandai mendapatkan pekerjaan yang kau mau." Cibir Kanade. Kazuto tersenyum santai.
" Oh tentu saja itu mudah bagiku. Sayangnya setiap aku mendapat pekerjaan didalam negeripun, aku selalu dikirim kesana kemari untuk menghadapi permasalahan mereka dengan negeri lainnya. Jadi taka da bedanya." Jawab Kazuto.
" Kenapa.. bibi tak tinggal saja disini?" tanya Nagisa hati-hati. Kanade menoleh dan tersenyum kecil.
" Aku sudah pernah mencobanya. Yang terjadi adalah Karma mengusirku bahkan memesankan tiket pesawat untukku. Katanya dia ingin belajar mandiri." Jawab Kanade setengah tertawa.
" Anak itu aneh. dia mengusir ibunya dan ingin hidup sendiri, tapi dia akan merasa jengkel jika kami pergi seperti ini." Kazuto tersenyum kecil. Nagisa hanya tersenyum kecil. Kemudian setelah itu makan malam selesai. Nagisa membantu Ibu Karma membereskan meja makan dan berpamitan untuk istirahat. Ia menaiki tangga dan hendak masuk kekamarnya saat dilihatnya pintu kamar Karma. Nagisa memberanikan diri berjalan kesana dan mengetuk pintunya.
" Karma-kun, apa kau sudah tidur?" Tanya Nagisa. Tak ada jawaban. Nagisa mendorong pintu itu perlahan. Nagisa bisa melihat sosok Karma yang tengah memunggunginya sedang berada didepan meja belajarnya.
" Karma-kun?" Nagisa memanggil sekali lagi. Karena taka da respon, Nagisa melangkah masuk dan menyadari bahwa temannya itu sedang menyumbat telinganya. Nagisa menghela nafas dan menepuk bahu Karma. Karma menoleh dan menatap Nagisa heran. Ia melepas headsetnya.
" Jangan mengendap seperti itu, Nagisa~ " Karma mengingatkan. Nagisa tertawa kecil.
" aku tidak mengendap, Karma-kun. Aku sudah mengetuk, memanggil namamu bahkan beberapa kali. Tapi kau tak menjawabku." Jawab Nagisa sambil duduk ditepi kasur milik Karma. Kemudian keduanya terperangkap dalam kesunyian. Nagisa menatap Karma yang asyik membaca komik.
" Ne, Karma-kun.. boleh aku bertanya?" Nagisa mencoba memulai pembicaraan.
" Nani?" Tanya Karma tanpa menoleh.
" sebenarnya.. kau lebih suka jika orang tuamu datang atau jika orang tuamu sedang tak ada dirumah?" Tanya Nagisa. Karma terdiam. Kemudian ia menutup komiknya dan menengadahkan kepalanya.
" Hhh~ pilihan yang sulit ya.. kenapa kau bertanya, Nagisa?" Karma balik bertanya. Nagisa tersenyum.
" Hanya penasaran. Setelah mendengar kebingungan ibumu, aku jadi penasaran.. sebenarnya apa yang kau harapkan dari keduanya." Ujar Nagisa. Karma nampak berfikir.
" Tentu saja tak ada anak yang senang kalau dia harus hidup sendirian, Nagisa~. Tapi setelah melaluinya beberapa tahun, aku jadi merasa itu bukan masalah besar." Karma menoleh dan tersenyum.
" Yah bisa dibilang setidaknya aku tau mereka masih menganggapku anak. Bukan sesuatu yang dijadikan beban. Setidaknya bibi tua itu masih menelponku sambil meneriakkan nasihatnya. Dan laki-laki itu masih memberikanku berbagai tips yang bisa kumanfaatkan." Jawab Karma sambil tertawa kecil.
" Aku senang mereka datang. Tapi aku tak suka jika mereka mengkhawatirkanku berlebihan seperti itu. aku tidak ingin dikhawatirkan dan dikasihani, Nagisa. Jadi, biasanya aku akan mengusir mereka kalau aku tau mereka datang karena mereka mengkhawatirkanku atau apa. Hahaha.." Jawab Karma. Nagisa tersenyum.
" Kurasa kau memang harus beryukur, Karma-kun. Orang tuamu masih lengkap dan baik sekali." Jawab Nagisa. Karma menatap Nagisa datar.
" Ah, kau tak perlu memikirkanku maksudku itu sama sekali tidak menyinggungku." Nagisa berkata ringan. Karma tesenyum.
" Yah, kurasa kita punya cara sendiri untuk mencintai orang tua kita bukan?" Nagisa mengangguk setuju. Kemudian ia bangkit dari duduknya.
" Nah kalau begitu, aku kembali dulu. Kau harus istirahat, Karma-kun. Kata ibumu kita berangkat pagi besok." Ujar Nagisa. Karma tersenyum santai kemudian meraih pergelangan tangan Nagisa. Ia menarik tubuh Nagisa dan memeluknya. Nagisa membeku. Kemudian ia merasakannya lagi. Jantungnya kembali berulah. Dan entah kenapa Nagisa menikmatinya. Kemudian sebersit rasa kecewa muncul saat Karma melepaskan pelukannya. Karma memperhatikan raut wajah Nagisa dan tersenyum. Kemudian Karma mengecup puncak kepala Nagisa dan berbisik.
" Nah, aku tau kau kecewa. Tapi kau harus istirahat bukan? Atau kau ingin tidur disini denganku, calon istri?" Nagisa mengerjapkan matanya sebelum akhirnya memerah. Sangat merah.
" KARMA-KUN, APA YANG KAU LAKUKAN!" dan Nagisa pergi dari kamar itu dengan wajah merah padam diiringi oleh suara gelak tawa dari Akabane Karma.
999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
TBC
Terimakasih atas responnya.
Maaf atas keterlambatan updatenya. Ada masalah koneksi XD
Aqizakura: Kapan ya? Hanya saya yang tau* digulingkan. Terimakasih sudah mampir!
Azkiya 447: terimakasih terimakasih.. semoga berkenan dihati..
Dan untuk semua fav, review, PM, follow.. terimakasih banyaaak.
Saya terharu..
Jaa!
