Ah, sampai juga (?)
Terimakasih kepada para readers sekalian.. nah, saya tidak akan berlama-lama ^^/
Chapter 12
Mobil hitam itu melaju pelan saat memasuki wilayah penginapan. Nagisa bisa melihat beberapa rumah kayu berdiri dengan jarak.
" Hmm.. nomer berapa penginapan kita tadi?" Tanya Akabane Kazuto. Kanade melihat kunci rumah yang dipegangnya.
" 24. Kurasa ini tak akan jauh lagi." Jawabnya. Kemudian mereka kembali melihat sekeliling sampai akhirnya mereka menemukan rumah kayu yang mereka cari. Kazuto memarkir mobilnya disamping rumah itu. Kanade membuka pintu mobil dan tesenyum.
" Akhirnyaaa!" Teriaknya puas. " Nah, Nagisa chan, ayo kita lihat isi rumah ini!" Ajak Kanade pada Nagisa yang baru saja keluar dari mobil.
"Um. Tapi aku akan mengambil barang-barang kita dulu, bibi." Jawab Nagisa. Namun hal itu tak pernah terjadi karena Kanade sudah menggenggam pergelangan tangan Nagisa erat dan menariknya.
" Itu tugas lelaki, Nagisa-chan! Ayo!" Ajak Kanade bersemangat.
" Ugh.." Nagisa sweatdrop melihat tingkah ibu Karma itu. Karma menatap keduanya datar.
" Hh.. kuharap ibumu tak terlalu memaksanya. Dia bisa lari darimu jika ia sampai ketakutan. Hahaha." Ujar Kazuto sambil menepuk kepala merah anaknya. Karma mendengus kesal. Kemudian ia berjalan mengikuti ayahnya yang mulai mengeluarkan barang-barang dari dalam mobil. Keduanya lantas membawa barang-barang itu kedalam penginapan. Mereka memasuki penginapan yang sudah terasa hangat itu.
" Ah, bisa kau letakkan kantong belanja itu didapurnya, Karma?" Tanya Kanade sambil memasukkan kayu bakar kedalam perapian.
" Ok~" Jawab Karma. Ia menyusuri rumah itu dan menemukan dapurnya disamping ruang makan. Ia bisa melihat Nagisa tengah mengaduk sesuatu.
" ah, Karma-kun.. itu pasti kantong belanjanya ya? Letakkan saja diatas meja. Aku akan menatanya nanti. Karma menurutinya dan setelah meletakkan kantong itu, ia berjalan menghampiri Nagisa.
" Kopi?" Nagisa tersenyum.
" Um. Ibumu menyuruhku membuatkan kopi untuk ayahmu. Ugh, bahkan beliau bilang kalau aku harus membuatnya seenak mungkin agar ayahmu bisa mengakuiku sebagai menantunya." Karma mengangkat alisnya.
" Kau nampak tak suka, Nagisa~" Ujar Karma. Nagisa tersenyum.
" Karma-kun, aku tau ibumu hanya bercanda. Jadi aku tidak akan memusingkannya." Jawab Nagisa.
" Hee~ jadi.. kau menolakku? Hmm.. aku bingung harus bagaimana lagi agar bisa kau terima dengan baik." Ucap Karma. Nagisa mengerjapkan matanya. Apa ia salah dengar atau bagaimana? Cara Karma berbicara tadi benar-benar terdengar putus asa dan kecewa. Dan Nagisa tak suka itu. sebersit rasa bersalah menyelip dihatinya.
" Bukan begitu, Karma-kun.-"
" Jadi, Kau masih mau jadi istriku kan?" Kali ini wajah Karma sudah berbeda dengan tadi. Nagisa mengerjapkan matanya dan menghela nafas lelah.
" Karma-kun, aku tidak tau ada apa denganmu sehingga kau sangat suka bercanda semacam itu akhir-akhir ini denganku. Tapi kurasa kau harus menghentikannya." Ujar Nagisa.
" Hee~? Kenapa?"
" Kau bisa membuat rahasia ini tersebar, Karma-kun. Bagaimana kalau ada orang yang tak sengaja mendengarnya?" Tanya Nagisa khawatir.
" Hmm.. kalau ada yang mendengarnya kita hanya harus mengatakan bahwa kita memang akan menikah entah kapan." Jawab Karma santai. Nagisa terpergah. Tak percaya dengan apa yang bau saja didengarnya.
" Kau tak bisa dipercaya, Karma-kun." Nagisa menggelengkan kepalanya. Karma terbahak melihat Nagisa yang sudah nampak pasrah dengan semua perilaku Karma.
" Karmaa, bisa kau bantu ayah sebentar?" Terdengar suara Kazuto dari ruang tengah.
" Nah, silahkan lanjutkan kegiatanmu. Dan jangan lupa untuk beusaha membuat Kopi yang bisa membuat ayahku menyetujui pernikahan kita nanti." Karma menyeringai dan berjalan meninggalkan Nagisa.
" Terserah." Ucap Nagisa ketus. Karma kembali tertawa.
9999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
" Hmm.. mereka sudah bisa bermain ski dengan baik. Masalahnya, apa yang bisa membuat penampilan mereka memukau?" Kanade mengusap dagunya. Debelahnya, Kazuto menatap malas Karma dan Nagisa yang tengah bermain ski. Tangannya dimasukkan kedalam saku celananya. Sangat Karma sekali!
" Mereka bermain sendiri. Ya, mereka hanya seperti anak kecil yang bermain ski. Itu saja. Karma memiliki kelebihan dalam tehniknya. Tapi ia belum bisa menggunakannya dengan benar jika ingin bermain berpasangan.
" Hmm? Hee~ jadi tuan sempurna, bisa kau jelaskan padaku bagaimana caranya 'menggunakan dengan benar'seperti yang kau maksud?" Tanya Kanade. Kazuto tersenyum.
" Kalau kau memaksaku. Tapi jangan salahkan aku setelahnya." Kazuto meluncur kearah Nagisa dan Karma. Kanade menaikkan alisnyadan mengikuti suaminya.
" Kalian bisa berdiri disana sebentar?" Tanya Kazuto. Nagisa menatap bingung. Berdiri? Karma tak berkomentar. Ia hanya berjalan meninggalkan tempatnya. Sambil menunggu ayah dan ibunya yang kini nampak pergi keatas, Nagisa dan Karma bersandar di batang pohon.
" Ne, Karma-kun.. kenapa tempat ini sepi sekali?" Tanya Nagisa. Karma melihat sekeliling. Tempat ini memang sangat sepi.
" Ini bukan pemukiman, Nagisa. Dan lagi sekarang bukan waktu libur. Jadi penginapan ini pasti sepi." Jawab Karma. Nagisa mengangguk mengerti. Keduanya lantas terdiam. Sampai akhirnya mereka melihat kedua orang tua Karma sudah melambai-lambai diatas sana.
" Jadi mereka mengirim kita kesini hanya untuk pamer bagaimana mereka akan meluncur?" Tanya Karma pelan. Nagisa tertawa.
Kemudian kedua Orang tua Karma mulai meluncur. Menciptakan garis-garis diatas salju putih. Harus Nagisa akui, keduanya meluncur dengan sangat indah. Bagaimana cara ayah Karma mendukung ibunya dari belakang, dan bagaimana ibu Karma menjadikan permainan itu berpusat kearahnya. Ibarat piano yang dimainkan oleh dua orang, ayah Karma mengambil bagian bass untuk mendukung partnernya yang mengambil bagian melodinya.
" Ah, awas!" Nagisa terkesiap saat Ibu Karma nampak akan jatuh. Namun detik berikutnya ia menatap keduanya kagum. Ayah Karma menyelipkan tangannya diantara lutut ibunya dan menopang ibu Karma. Dalam sekejap, permainan itu tak lagi dilakukan oleh dua orang. Namun berakhir dengan Akabane Kazuto yang meluncur dengan Akabane Kanade ditangannya.
" Anda hebat sekali, paman!" Seru Nagisa saat keduanya sudah berada didepannya. Kazuto menurunkan Kanade yang memerah.
" Bodoh! Kau sengaja melakukannya!" Maki Kanade. Kazuto tertawa renyah.
" Aku sudah bilang tadi, bukan? Jangan salahkan aku." Jawabnya. Kemudian Kanade melangkah meninggalkan Nagisa dan kedua anak ayah itu kesal. Nagisa hanya menatap bingung. Sedang disebelahnya, Kazuto tertawa.
" Nah, kalian sudah melihat sesuatu yang harus kalian contoh nanti." Ujar Kazuto santai. Karma tersenyum sedangkan Nagisa melebarkan matanya.
" Ugh.. kau bercanda, Paman. Maksudku, aku jelas tak akan bisa melakukannya!" Ucap Nagisa. Kazuto tersenyum.
" Tentu saja kau tak akan bisa kalau kau bersama anakku ini, kurasa kau akan bisa melakukannya. Itu hanya bisa dilakukan dua orang." Kazuto mengingatkan. Nagisa facepalm. Ok, pernyataan ayah Karma memang benar. Tapi jelas bukan itu yang Nagisa maksud. Kemudian Kazuto menepuk kepala Karma dan berjalan meninggalkan keduanya. Karma mengangkat tangannya dan meletakkan kedua telapak tangannya dibelakang kepalanya.
" Mau mencobanya?" Tanya Karma.
" eh?"
" Meluncur seperti mereka.. mau mencobanya?"
9999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
Nagisa menikmatinya. Ia tak mengerti. Hanya saja, ia merasa kali ini Karma melakukannya dengan lebih benar lagi. Karma tidak ada disampingnya memang, tapi Nagisa tau ia ada dibelakangnya dan mengawasinya. Ia mulai mengerti kenapa permainan ayah dan ibu Karma bisa seindah itu. karena keduanya saling melengkapi. Tunggu, apa yanga Nagisa pikirkan? Saling melengkapi? Nagisa menggelengkan kepalanya. Kemudian keduanya sampai di ujung.
" Kurasa kita harus istirahat dulu." Usul Karma. Nagisa mengangguk setuju. Saat itulah mereka melihat sebuah mobil berhenti di sebuah penginapan yang berjarak 3 rumah kayu dari milik mereka.
" Kukira tak aka nada yang datang selain kita." Gumam Karma.
" Um. Kukira juga begitu." Nagisa mengangguk setuju. Mobil itu terparkir sempurna. Keduanya menunggu sampai mobil itu mengeluarkan penghuninya. Dan surai oranye yang keluar dari dalam mobil itu sukses membuat Nagisa mengernyit. Dan membuat akabane Karma tersenyum. Asano Gakushuu turun dari mobil itu dan menatap keduanya, sengit.
99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
" ah, Akabane, shiota.. kebetulan yang menyenangkan, kurasa?" Suara Asano Gakushuu terdengar ringan.
" Hm.. tidak.. jelas bukan kebetulan.." Pikir Karma. Namun Karma hanya tersenyum santai.
" Hee~ tak kusangka murid teladan sepertimu akan bolos sekolah dan menyusul kami untuk.. tunggu sebentar.. bagaimana orang-orang itu menyebutnya? Ah, memata-matai kami." Sapa Karma. Asano tersenyum.
" Jangan salah sangka.. aku kemari karena perintah untuk survey tempat dari kepala sekolah." Jawab Asano. Karma menatap Asano datar. Nagisa melihat kearah mobil.
" Ne, asano-kun.. kau tidak mengendarai mobil itu sendiri bukan?" Tanya Nagisa. Asano tersenyum. Karma bisa melihat bahwa Asano merasa senang mendapat sapaan dari Nagisa. Terbukti dari semburat merah yang muncul di pipinya.
" Tidak.. tentu saja tidak, Shiota. Meskipun aku sudah mahir mengendarainya, tapi tetap saja aku belum cukup umur. Dia hanya supir pribadi. Dan kalau kau penasaran kenapa ia tak juga turun, dia hanya menunggu intruksi dariku." Jelas Asano. Nagisa mengangguk mengerti.
" Nah, kurasa aku akan pergi dulu. Semoga sukses untuk kalian berdua." Asano memberikan senyuman mengejek diakhir Kalimatnya. Karma menatap Asano datar. Ia tau pasti bahwa Asano sengaja datang ketempat itu.
9999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
Asano menatap dari balik jendela. Matanya sedikit menyipit melihat bagaimana reaksi Nagisa yang selalu penuh warna jika Karma mulai melakukan sesuatu. Asano akan tersenyum kecil saat melihat Nagisa cemberut karena ejekan Karma. Asano akan menyipit tak suka saat Nagisa memerah karena –entah apa- ucapan Karma. Asano akan memerah saat Nagisa tertawa renyah. Namun didalam hatinya Asano geram. Kenapa bukan dia yang harus membuat Nagisa penuh mimic seperti itu? Karma sendiri tau bahwa mereka tengah diperhatikan. Ia bahkan yakin Nagisa juga merasakannya. Sejak memiliki guru super seperti ketiga sensei mereka, daya perasa mereka meningkat tajam. Yang tidak Nagisa tau adalah, orang yang memperhatikan mereka adalah orang yang menyukai Nagisa dan – Karma sangat yakin- saat ini ia pasti ingin mengutuk Karma dan membawa Nagisa kabur.
" Ne, kemana ibumu, Karma-kun?" Nagisa menoleh kekanan dan kekiri.
" Entahlah~ mungkin sedang mencoba 'membunuh' ayah?" Ucap Karma. Nagisa tertawa.
" Kau tak mungkin serius." Ucap Nagisa disela tawanya. Karma tersenyum.
" Hei, bagaimana kalau kita turun ke pemukiman?" Nagisa mengangkat alisnya.
" Untuk apa?" Tanya Nagisa. Karma mengangkat bahunya.
" Entahlah, disini membosankan." Jawab Karma. Nagisa menghela nafas.
" Baiklah, tapi sepertinya kita harus memberitahu ayah dan ibumu lebih dulu." Usul Nagisa. Karma mengangguk. Mereka beranjak dari tempat itu dan memasuki penginapan itu. Nagisa melepas sepatunya dan berjalan kearah dapur. Ia mengambil segelas air putih dan meminumnya. Karma muncul dipintu dapur dengan tangan menjepit sebuah kartu. Kemudian ia menyodorkannya kearah Nagisa. Nagisa mengernyit bingung. Kemudian ia meraih kartu itu dan membaca isinya.
" Nagisa-chan, Karma, Kami harus mengurus beberapa hal dulu. Akan kembali saat makan malam! Jaa!~
Kemudian Nagisa menatap Karma.
" Jadi. Kita harus menggagalkan rencana kita untuk turun ke pemukiman, kurasa?" Nagisa tersenyum. Karma menggeleng.
" Aku akan tetap turun. Kurasa ibu lupa tidak membawa makanan ringan. Mungkin aku akan membelinya sementara kau menunggu disini. Bagaimana?" Tawar Karma. Nagisa mengangguk setuju.
" Um. Pergilah, aku akan menunggu disini." Jawab Nagisa. Karma tersenyum.
" Ok~. Jadi, kurasa kau ingin aku membelikanmu coklat?" Tanya Karma. Nagisa tertawa.
" Terserah kau saja." Jawabnya. Karma pun melambaikan tangannya dan meninggalkan Nagisa yang masih tersenyum disana.
999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
Tbc
Gyaaah maaf kali ini pendek sekali :'( laptop error dibuat ngetik.. hiks.. maafkan daku..
Do your best: no.. it's KaruNagi, I guess :D. uh, I hope so ^^. Thanks for read it
BlueSky Shin; mereka memang lucu. Terimakasih sudah mampir ^^
Denia: iyaaa terimakasih ^^ semoga bisa berkenan dihati. Thanks for review ^^
Yamashita Takumi: ah saya jadi malu*plak. Terimakasih.. saya senang fic ini bisa jadi fic yang menghibur ^^. Terimakasih sudah mampir :D
Aqizakura: dia memang polos soal cinta. Wkwkwk.. coba pegangin pisau dapur. Pasti berubah dia*plak. Terimakasih sudah mampir ^^
Natsuki No fuyu Hime: iyaa sudah diusahakan.. terimakasih sudah mampir.
Karen Ackerman: hehehe.. mereka manis memang * tebar gula* terimakasih sudah mampir ^^
Fallyn: saya juga penasaran*plak. Hanya Nagisa yang tau jawabannya. fufufufu
Daaaan semua fav follow review pm, terimakasih banyaaak! I Love Youuuu*plak
Semoga laptop saya segera sembuh dari keerroran :'(
Jaa mata!
