Ansatsu Kyoushitsu
By:
Yuusei Matsui
It's Time
By:
Amaya Kuruta.
OOC, Horor, Typo bertebaran dan mengandung racun tikus XD
Chapter 13
Nagisa duduk didepan televisi sambil menyesap teh yang ia buat. Ia melirik jam yang ada didinding. Sudah 30 menit sejak Karma meninggalkan penginapan itu. Nagisa melirik handphone yang ia letakkan diatas meja. Tidak ada tanda-tanda pesan atau panggilan masuk sejak tadi. Kemudian ia menghela nafas.
" Kenapa aku merasa.. tidak enak?" Pikirnya. Nagisa menggelengkan kepalanya pelan. Berusaha mengusir segala hal negative yang berkeliaran dikepalanya. Ia memutuskan untuk memfokuskan pikirannya dengan acara yang ia lihat ditelevisi. Baru saja ia mulai menikmatinya, sebuah ketukan didepan membuat Nagisa menoleh. Menatap pintu depan yang tertutup rapat. Jika itu Karma, ia tak akan mengetuk bukan? Nagisa bangkit dan berjalan kearah pintu. Setelah mengintip dari lubang pengintip dipintu, Nagisa mengernyitkan matanya. Siapa itu? Nagisa membuka pintu itu dan menmukan seorang bapak tua yang tersenyum ramah kearahnya.
" ah.. maafkan aku nak. Aku salah satu petugas penjaga penginapan ini. aku hanya memberitahu bahwa setelah ini aku tak aka nada dipos jaga. Dan untuk mengingatkan bahwa sore ini akan ada badai. Jadi kuharap kalian tidak keluar dari penginapan sampai badai itu reda."
" Badai?" Tanya Nagisa. bapak tua itu mengangguk.
" Tidak terlalu besar. Tapi cukup untuk membuatmu kedinginan. Jadi jangan lupa untuk menyalakan perapian dan penghangat. Apa semua berfungsi dengan baik?" Tanya bapak itu. Nagisa ingat ia sudah memriksa penghangat ruangan bersama ibu Karma. Ia mengangguk.
" Bagaimana dengan airnya? Apa air panasnya menyala?" Tanya bapak itu lagi.
" Um. Kami sudah memriksanya dan semua dalam kondisi yang bagus." Jawab Nagisa sambil tersenyum.
" hh.. baguslah. Kalau begitu, aku akan mengingatkan pengguna penginapan lainnya." Pamit bapak itu. Nagisa mengangguk dan mengucapkan terimakasih sebelum akhirnya kembali menutup pintu. Nagisa kembali melangkah.
" Hmm… sepertinya aku harus mengirim pesan pada Paman dan Bibi tentang badai ini. mereka bilang mereka akan kembali saat makan malam. Mungkin sebaiknya mereka menunggu sampai badai reda." Nagisa meraih ponselnya dan mulai mengetik pesan.
Terkirim.
9999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
Karma mengambil tas plastic itu dan beranjak keluar dari minimarket. Ia berjalan santai sambil melihat sekeliling. Kemudian ia menengadah dan melihat langit. Gelap.
" Sepertinya aku harus cepat kembali. Mungkin cuaca akan memburuk sebentar lagi." Karma mempercepat langkahnya. Butuh waktu hampir setengah jam untuk sampai ke pemukiman dari penginapannya. Dan sekarang ia harus mendaki. Itu bisa lebih lama lagi.
" Gezz.. kalau saja pak tua dan bibi itu tak pergi entah kemana. Aku kan bisa memakai mobil agar bisa lebih cepat!" Keluh Karma. Kemudian ia sampai di papan penunjuk arah.
" Hmm.. dimana tadi arah penginapan..ah, kesini." Gumamnya. Karma berbelok dan mempercepat langkahnya.
" aku harus segera kembali sebelum cuaca semakin buruk." Tekadnya. Karma memasukkan sebelah tangannya ke saku mantelnya dan melangkah cepat. Karma bahkan tak memperhatikan dua orang tua yang menghampiri papan penujuk jalan yang tadi dibaca Karma.
" Hei, siapa yang bertugas menjaga hari ini?"
" Entahlah. Mungkin ia pulang sebentar. Kau tau bukan, akan ada badai sore ini."
" Aku tau. Tapi harusnya ia membenarkan papan penunjuk jalan ini. lihat. Ini mengarah kearah yang salah."
" papan itu memang sudah lapuk. Lagipula, pasti ia sudah memberitahu penghuni penginapan tentang badai ini. jadi aku yakin tidak akanada yang akan turun ke pemukiman. Sebaiknya kita juga segera kembali." Dan kedua orang itu kembali tanpa tau apa yang akan terjadi.
9999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
Nagisa menghela nafas gelisah. Karma belum juga kembali sejak satu setengah jam yang lalu. Dan Nagisa bisa melihat angin kencang mulai bertiup diluar sana.
" Karma-kun.." Nagisa berulang kali melihat kearah jendela. Berharap menemukan sosok merah itu berjalan menghampiri penginapan mereka. Namun nihil. Dan sepuluh menit lagi terlewati saat akhirnya Nagisa memutuskan meraih mantelnya dan segera memakai sepatu bootnya. Ia membuka pintu penginapannya dengan sedikit susah payah. Angin mulai menabrakkan dirinya ke tubuh mungil Nagisa. dingin. Tapi Nagisa tak peduli.
" Semoga Karma-kun baik-baik saja." Pikir Nagisa. ia mulai melangkahkan kakinya berat. Bapak tua yang tadi memberi kabar tentang badai bilang bahwa badainya tak akan besar. Tapi Nagisa sudah merasa tubuhnya ditusuk rasa dingin. Ia melangkah susah payah sambil mengernyitkan matanya. Salju yang bertiup kencang membuat pandangannya mengabur. Sekelilingnya sepi. Hanya suara gemuruh angin yang terdengar. Nagisa melangkah secepat yang ia bisa.
" GREP." Nagisa menghentikan langkahnya saat merasa lengannya ditarik. Ia menoleh dan menemukan pemuda bersurai oranye itu menatapnya tajam.
" Asano-kun?"
9999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
Asano Gakushu menyesap kopinya. Tangan kanannya masih setia memegang buku tebal yang penuh dengan tulisan alphabet. Buku bertuliskan bahasa inggris yang dibawanya itu benar-benar menyelamatkan harinya. Entah ada apa, ayahnya menyuruh Asano untuk bolos sekolah hari itu dan pergi survey lokasi yang akan menjadi tempat ujian itu. pintu kamarnya diketuk.
" Masuk." Ujarnya. Pintu itu terbuka dan seorang pria muncul.
" siapa tamunya?" tanya Asano.
" Penjaga penginapan. Dia hanya menyampaikan bahwa sore ini akan ada badai. Dan dia sendiri akan pulang sebentar. Dia juga memastikan bahwa semuanya berfungsi dengan baik dipenginapan ini." Jawab pria itu. Asano menutup bukunya dan berjalan kearah jendela.
" Baiklah. Terimakasih. Kau bisa kembali kekamarmu, Kinnosuke." Pria itu membungkuk sedikit dan menutup pintu itu pelan. Asano menatap lurus keluar jendela.
"Badai, ya?" Asano mengalihkan pandangannya kearah jam yang bertengger didinding kamarnya. Sudah hampir satu jam sejak ia melihat Akabane Karma berjalan meninggalkan penginapannya. Ia yakin Nagisa masih ada didalam penginapan itu. mungkin ini kesempatan yang bagus untuk berbicara dengan Nagisa? bukankah iblis merah itu sedang tidak ada disana? Tapi apa yang harus ia bicarakan dengan Nagisa? mungkin ia harus memberitahu Nagisa bahwa sore ini akan ada badai? Tidak.. dia pasti sudah tau bukan? Petugas penginapan ini pasti sudah memberitahu semua penginapan yang berpenghuni bukan? Asano menatap[ penginapan Nagisa yang berada tepat disebelahnya. Kemudian matanya beralih kelangit senja yang sedikit menggelap.
" Hhh.. mungkin aku harus menunda niatku ini." Pikirnya. Ia memilih menyerah dengan ide mengobrol dengan Nagisa. kalau begitu, sekarang apa? Asano hanya berdiri diam di pinggiran jendela. Matanya menatap lurus kearah jendela maupun pintu masuk apartemen didepannya. berharap bisa melihat warna biru yang menyembul disana. Angina mulai bertiup kencang. Dan salju mulai mengaburkan pandangannya. Asano masih disana. Dan akhirnya semuanya tak sia-sia. Ia melihatnya! Biru itu muncul dipintu depan penginapannya lengkap dengan baju hangat dan sepatu bootnya. Asano tersenyum kecil. Tapi.. tunggu! Ini gila! Bukankah seharusnya gadis itu tak keluar dalam cuaca seperti ini? Asano memperhatikan Nagisa yang menutup pintu penginapannya. Berharap gadis itu ternyata hanya akan membuang sampah dibelakang. Tapi kalau hanya seperti itu, pintu belakang penginapan bisa dimanfaatkan bukan? Kemudian matanya menyipit saat melihat Nagisa melangkah meninggalkan penginapannya. Apa yang akan gadis itu lakukan? Apa yang dilakukan Akabane? Tunggu. Asano terus berdiri disana selama 30 menit dan ia belum melihat kepala merah itu memasuki penginapan miliknya.
" Masaka.." Tanpa pikir panjang Asano meraih baju hangatnya dan berlari kearah pintu. Ia mengenakan sepatu bootnya dan segera berlari keluar. Tak menghiraukan teriakan pria yang mendampinginya dalam tugas ini. ia hanya melihat biru yang terus mempercepat langkahnya. Asano mengulurkan tangannya dan menangkap pergelangan tangan Nagisa. biru langit menoleh dan melebarkan matanya.
" Asano-kun?" Panggilnya heran. Asano tak bisa mengubah mimic wajahnya ia merasa marah.
" apa yang kau lakukan, Shiota? Kau gila?!" Sentaknya. Nagisa mengernyit.
" apa maksudmu? Aku tak ingat aku melakukan sesuatu yang salah kepadamu." Tanya Nagisa tak mengerti.
" Kenapa kau keluar? Kau ingin mati?" Nagisa mengerjapkan matanya. Ia mengerti sekarang.
" Maafkan aku Asano-kun. Tapi aku harus keluar sekarang. Ada yang harus kulakukan." Jawab Nagisa. ia berusaha tersenyum. Asano mendecak kesal. Kemudian dengan paksa ia menarik Nagisa.
" A-Asano-kun! Apa yang kau lakukan?" Tanya Nagisa.
" Kau tidak akan kemana-mana, Shiota!" Jawab Asano. Nagisa menghentikan langkahnya.
" Tidak Asano-kun. Aku akan mencari Karma-kun." Jawab Nagisa tegas. Asano menoleh.
" Shiota Nagisa! kau tidak serius bukan? Sebentar lagi cuaca akan lebih buruk dari ini!" Nagisa menghela nafas.
" Aku tau! Tapi Karma-kun juga belum kembali sejak satu setengah jam yang lalu." Ucap Nagisa.
" Dia tidak bodoh, shiota. Dia pasti sudah berteduh sekarang." Jawab Asano sambil kembali menarik Nagisa kearah penginapannya. " Dan sampai dia kembali, kau akan berada dipenginapanku." Ujar Asano tegas. Nagisa terdiam. Dia tau Karma tidak bodoh. Tapi Karma bahkan tidak menghubungi Nagisa. setidaknya ia akan menghubungi Nagisa jika ia tak akan kembali dalam waktu dekat. Tidak, Nagisa harus tetap pergi! Lebih baik ia diledek habis-habisan oleh Karma karena sudah mengkhawatirkannya daripada ia terlambat melakukan apa yang harus dilakukan. Nagisa menaiki tangga penginapan dan mengikuti asano masuk keruangan itu.
" Gezz.. kau harus berfikir dulu sebelum bertindak, Shiota." Keluh Asano sambil menepuk mantelnya yang penuh salju.
" Asano-kun." Panggil Nagisa. Asano menoleh dan..
" CLAP."
1…
2…
3…
" BRUK." Tubuh Asano ambruk sesaat setelah serangan Nagisa. Nagisa memastikan nekodamashinya tidak terlalu keras kali ini. Nagisa menghela nafas dan menatap Asano.
" Gomenne, Asano-kun.. aku harus tetap pergi." Ucap Nagisa. kemudian ia membuka pintu dan berlari keluar ruangan. Meninggalkan Asano yang masih menghadapi shocknya.
99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
Karma menyipitkan matanya. Salju mulai mengaburkan matanya. Ia sudah berjalan selama hampir 15 menit semenjak ia sadar bahwa arah yang diambilnya tadi salah.
" Sial.. kenapa rasanya sangat jauh?" Gumamnya. Ia merasa wajahnya mulai dingin. Kemudian matanya menangkap papan itu. papan penunjuk arah yang menyesatkannya. Dan entah kenapa ia kembali mengingat insiden beberapa tahun yang lalu. Saat ia menghilang dari area meluncur. Ia terlalu asyik bermain ski sampai ia tak sadar dimana ia berhenti. Dia ingat dia mulai kedinginan. Dan dia tak ingat apapun sampai ia terbangun oleh sesuatu yang hangat. Karma tertawa datar saat pandangannya mengabur.
" Gawat.. yang benar saja.." Pikir Karma. Dan ia ingat ia melihatnya. Siluet biru yang berlari kearahnya dengan susah payah sebelum Karma merasa sangat kedinginan.
999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
Nagisa terengah. Ditengah dingin itu uap keluar dari bibirnya. Sedikit lagi ia akan sampai di pos penjaga. Nagisa bisa melihat papan penunjuk arah itu. ia melambatkan langkahnya dan membaca papn itu. matanya mengernyit samar. Papan itu sama sekali tidak menunjuk kearah yang benar.
" Jangan-jangan.." Nagisa berbelok arah. Sebagian dirinya protes karena bisa saja langkahnya hanya akan membahayakannya. Tapi kemudian keluhan itu menghilang saat melihat apa yang sejak tadi membuatnya gelisah. Disana, ia bisa melihat Akabane Karma berdiri. Tak jauh dari tempatnya. Nagisa menghela nafas lega. Ia berjalan menghampiri Karma.
" Karma-" Nagisa tak melanjutkan ucapannya saat melihat tubuh itu terjatuh dan menyentuh salju yang dingin. Nagisa terkesiap dan dengan susah payah ia berlari menghampiri Karma. Diraihnya tubuh sahabatnya dan memeriksa keadaannya.
" Dia kedinginan." Pikir Nagisa. ia menoleh kekanan dan kekiri. Tidak ada. Tidak ada rumah didekat situ. Pos penjaga kosong. Satu-satunya pilihan Nagisa adalah membawa Karma kembali ke penginapannya. Tapi.. bagaimana? Ia tidak cukup yakin ia bisa membawa Karma kembali ke penginapan. Nagisa menggigit bibirnya. Ia memeluk tubuh Karma erat. Berusaha menyalurkan kehangatan untuk sahabat merahnya itu. Nagisa memejamkan matanya saat ia menangkap bunyi deru kendaraan. Nagisa menoleh dan melihatnya. Mobil hitam itu berhenti di depan pos jaga. Bapak tua yang tadi mengingatkan tentang badai itu turun dan dengan sedikit tergesa berjalan kearah mereka berdua.
" apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Bapak itu.
" Maafkan kami, paman. Tapi temanku tersesat. Mungkin dia salah melihat tanda pengenal jalan itu." Tunjuk Nagisa. orang itu menoleh dan berdecak.
" Maafkan aku. Aku sudah mengatakan kepada atasanku untuk membenarkan papan itu. baiklah, yang penting kalian berdua naiklah dulu. Akan kuntar kalian sampai.. kalian tinggal dipenginapan?" Nagisa mengangguk. Kemudian dengan bantuan orang itu, Nagisa membawa tubuh Karma sampai ke mobil. Didalam mobil, Nagisa tidak melepaskan Karma. Ia tau Karma pasti sangat kedinginan.
" Gawat.. maafkan kami. Harusnya kami segera membenarkan papan itu." Nagisa tersenyum.
" tidak apa-apa. Lagipula itu hanya kecelakaan." Jawab Nagisa.
" Yang penting saat sampai nanti segeralah hangatkan temanmu." Nagisa hanya mengangguk pasrah.
99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
Nagisa meletakkan tubuh Karma perlahan diatas kasur. Masih merangkulnya, ia menahan tubuh Karma dan membuka mantelnya yang basah.
" Kaosnya juga basah. Kurasa aku harus mengganti pakaiannya." Nagisa membuka kaos Karma dan tertegun merasakan kulit Karma yang dingin.
" Tidak.. tidak.. Karma harusnya tidak boleh pingsan dalam keadaan kedinginan seperti ini. aku harus membuatnya merasa hangat." Nagisa merebahkan tubuh Karma dan bangkit dari tempat tidur. Diambilnya remote penghangat ruangan. Kemudian dihamparkannya selimut tebal diatas tubuh Karma. Nagisa masih bisa melihat tubuh Karma gemetar. Ia mulai gelisah. Apa yang harus dilakukan? Nagisa membuka tas baju Karma dan menggeledah isinya. Mencari pakaian hangat atau apapun yang bisa menghangatkan Karma. Saat itulah matanya menatap sebuah benda yang asing namun Nagisa merasa itu tidak asing secara bersamaan. Nagisa mengambilnya.
" Buku?" Gumamnya heran. Buku itu tebal. Nagisa membalik buku itu dan membuka halamannya.
BUKU PANDUAN
BERLIBUR KEDAERAH BERSALJU
Oleh:
Guru terikemen sedunia
KORSENAI SENSEI.
" Ugh." Nagisa sweatdrop membaca judul buku ditangannya.
" Tapi tunggu! Biasanya dibuku panduan buatan Koro sensei ada…" Nagisa membolak balik halaman itu dan menyusuri daftar isinya. Kemudian jari mungilnya berhenti tepat pada tulisan:
Bagaimana menghadapi teman yang hampir mati kedinginan.
Jujur saja judul subnya membuat Nagisa merinding. Kenapa harus 'teman yang hampir mati kedinginan'? Nagisa menggelengkan kepalanya untuk mengenyahkan pikiran tentang memprotes senseinya. Ia akan melakukannya nanti. Sekarang ia harus menolong Karma. Nagisa – dengan agak sedikit tergesa- membuka halaman demi halaman sampai akhirnya halaman yang dicari nampak di pelupuk matanya.
" Yatta! Halaman 676! Etto… etto.." Nagisa mulai membaca tulisan senseinya yang disertai ilustrasi.
" Saat menemukan teman yang kedinginan, segera nyalakan pemanas ruangan dan jika pakaiannya basah, segera ganti dengan yang kering. Jangan sisakan satupun pakaian basah!"
Nagisa mengerjapkan matanya. Nagisa memang mengganti pakaian Karma. Tapi tidak dengan celananya.
" Jika ia masih kedinginan, maka segera bawa ke rumah sakit."
Tidak ada rumah sakit disini, Koro sensei!
" Jika dalam keadaan badai yang tak memungkinkanmu untuk meninggalkan tempat, cari tempat yang kering dan hangatkan dengan tubuhmu. Akan lebih bagus jika kulitnya bersentuhan langsung dengan kulitmu. Karena darah yang mengalir itu akan mudah menghangatkannya."
Nagisa melebarkan matanya. Kemudian ia beranjak sembari membawa selembar celana pendek milik Karma. Kemudian tangannya menyelinap kedalam selimut dan mengganti celana Karma.
" sekarang… " Nagisa berusaha menutup kepala dan leher Karma tanpa harus menutup wajahnya. Nagisa memegang kulit Karma. Masih terasa dingin. Nagisa menghela nafas.
" Tidak ada cara lain.." Nagisa segera membuka pakaiannya dan masuk kedalam selimut bersama Karma. Ia memeluk Karma erat. Mengusap punggung Karma perlahan.
" Semoga ini cukup." Gumam Nagisa.
9999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
" Haaah! Badai salju ini merepotkan!" Keluh Kanade sambil membersihkan salju di mantelnya. Dibelakangnya, Kazuto hanya diam dan tersenyum santai.
" Aku berani bertaruh anak itu akan mencoba membunuh kita berdua karena kita terlambat memberinya makan malam." Ujar Kazuto. Kanade menoleh dan mengerucutkan bibirnya. Kemudian ia memasuki ruang tivi. Mencoba mencari sosok Karma dan Nagisa. tidak ada. Atau mereka sudah tidur? Kanade melangkah menuju kamar Karma. Perlahan ia membuka ruangan itu dan melihat gundukan diatas kasur.
"Hmm.. sudah benar-benar tidur?" Kanade berjengit dan menoleh.
" Jangan mengagetkanku!" Protesnya. Keduanya menyalakan lampu kamar dan melangkah masuk. Detik berikutnya keduanya terdiam.
" Eh?"
" …"
Keduanya tak bisa menemukan kalimat yang tepat. Diatas kasur itu mereka bisa melihat dengan jelas dua kepala berbeda warna yang saling berhadapan. Kedua mata itu tertutup dan terdengar dengkuran halus. Kanade dengan cepat mengintip dibawah selimut.
" Bagaimana?" Tanya Kazuto. Kanade tersenyum.
" tidak, kurasa. mereka belum melakukan apapun." Jawab Kanade. Kemudian ia melihat ponsel Karma yang tergeletak diatas lantai. Ia meraih ponsel anaknya dan membuka aplikasi kamera.
" Apa yang kau lakukan?" Tanya Kazuto. Kanade mengambil gambar keduanya dan mengedipkan matanya kearah Kazuto.
" Mengabadikan moment penting!" Jawabnya. Kazuto hanya tersenyum. Kemudian ia melingkarkan tangannya di pinggang Kanade.
" sepertinya anak kita bersenang-senang. Bagaimana jika kita juga saling menghangatkan, hm~?" Kanade mengerjapkan matanya.
" Eh? Apa.. itu.." Kazuto hanya bersenandung kecil dan segera menarik kanade.
" La-lampunya!" Kanadepun tak sempat mematikan lampu kamar Karma.
99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
Karma mengernyitkan matanya perlahan. Hangat. Ia bisa merasakan kehangatan. Tangannya bergerak menyusuri sesuatu yang lembut. Lembut? Karma memaksakan matanya terbuka. Biru. Ia melihat biru dimatanya. Kemudian Karma melebarkan matanya.
" Nagisa? apa yang?" Karma masih terdiam sambil menatap wajah tenang Nagisa. tunggu.. dimana bajunya? Dan apa ini? kenapa Nagisa hanya memakai pakaian dalamnya saja? Perlahan Karma menyingkap selimutnya dan menghela nafas. Tidak.. bagian bawahnya masih lengkap. Begitupula dengan milik Nagisa. Karma bergeser sedikit. Ia merubah posisi tidurnya kedalam posisi duduk. Kemudian ia memegang pelipisnya. Mencoba mengingat apa yang terjadi. Butuh waktu 10 detik sampai Karma mengingat apa yang terjadi. Kemudian ia menatap wajah Nagisa dan tersenyum. Ia mendorong pelan dahi Nagisa dengan telunjuknya.
" Baka. Kau bisa membahayakan dirimu jika kau nekat seperti itu!" Ujarnya lengkap dengan semburat merah tipis. Kemudian Karma meraih rambut Nagisa dan memainkannya perlahan. Nagisa menggerakkan alisnya. Karma segera menjauhkan tangannya dari Nagisa. perlahan karma bisa melihat manik biru terbit dari ufuknya sendiri.
" Ohayou, Nagisa~." sapa Karma. Nagisa mengedipkan matanya beberapa kali.
" Karma-kun!" Nagisa segera duduk dan menatap Karma tak percaya. " apa kau baik-baik saja?" Tanya Nagisa. Karma tak bisa menahan diri untuk tertawa.
" Ya, aku sehat. Bagaimana tidak jika kau merawatku seperti itu, Nagisa?" Nagisa mengernyit. Seperti apa? Karma menghela nafasnya dan menyampirkan selimut yang tersingkap ke badan Nagisa.
" Kau tidak seharusnya melakukan hal itu, Nagisa. kau membahayakan dirimu sendiri!" Kali ini nada bicara Karma terdengar serius. Nagisa tersenyum.
" Aku baik-baik saja, Karma-kun. Kau yang harusnya tak nekat berjalan pulang dengan cuaca buruk seperti itu." Kilah Nagisa. Karma hanya mengangkat bahunya.
" Tidak baik bukan meninggalkan seorang gadis sendirian ditengah gunung?" Jawab Karma. Nagisa tertawa. Karma memperhatikan Nagisa.
" Dan Nagisa, jangan pernah melakukan pertolongan semcam ini kepada orang lain." Kalimat Karma membuat Nagisa berhenti tertawa dan menatap Karma heran.
" Kenapa?" Tanyanya. Karma menghela nafas.
" kau boleh melakukan apapun kecuali.." Karma menggantung ucapannya." Kecuali hal terakhir yang kau lakukan untukku setelah sampai ditempat ini." Tegas Karma. Nagisa masih menatapnya heran. Karma kemudian menunjuk pakaian Nagisa yang tersampir diatas kursi. Nagisa mengerjapkan matanya kemudian memerah.
" a.. maaf, Karma-kun. Aku tidak bermaksud.. kau tau? Kau kedinginan. Dan kau tidak sadarkan diri. Jadi aku.. kau mengganti pakaian lalu.."
" Hei.. hei.. tenanglah Nagisa~. aku tak bisa mengerti jika kau bicara secepat itu!" ujar Karma geli. Nagisa terdiam.
" Jadi kau mengganti pakaianku, hm? Kau tidak malu melakukannya?" Tanya Karma. Nagisa menoleh.
" Hmm? kita bahkan pernah satu onsen bersama saat di Kyoto. Aku hanya mengganti pakaianmu saja Karma-kun." Jawab Nagisa polos. Karma rasanya ingin menerkam Nagisa.
" Hhh~ yang penting, jangan mengulangi tindakanmu kemarin. Kau mengerti?" Karma bangkit dari tempat tidur dan berjalan kearah jendela. Ia membuka jendela dan terpana.
" Nagisa, kesini sebentar." Panggil Karma. Nagisa- masih dengan selimutnya berjalan mendekati Karma. Kemudian ia mengikuti arah pandang Karma dan menemukan pemandangan yang menakjubkan.
" Diamond dust." Gumam Karma. Nagisa hanya mengangguk dan tersenyum lebar. Karma melirik Nagisa dan tersenyum disana.
" Nagisa." Panggilan Karma membuat Nagisa menoleh. Kemudian ia merasa suhu tubuhnya naik dengan cepat. Karma tersenyum dan mengubur wajahnya di rambut biru Nagisa. Nagisa sendiri bisa mendengar detak jantung Akabane Karma. Kemudian Karma mengangkat wajah Nagisa dan mengecup dahinya lembut.
" Terimakasih karena kau berlari padaku kemarin." Ucap Karma. Kemudian ia melangkah meninggalkan Nagisa yang mematung disana. Entah kenapa Nagisa merasa kalimat Karma membuatnya senang.
99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999
TBC
Ugh..author sedang demam.. sedang tidakwaras. Apa iniiii? XD
Maafkan author.. tidak ada yang terjadi kok XD
Denia: hiks.. terimakasih atas belasungkawanya XD. Tapi saya tetap mengetik :D. terimakasih sudah mampir.
Aqizakura:Nagisa strong. Dia ga bisa diculik siapapun kecuali Karma dan koro sensei XD
Karen Ackerman: itu bakat alaminya Karma XD. Terimakasih sudah mampir ^^
Faira: Terimakasih atas dukungannya, Faira-san :D. semoga menghibur ^^
Natsukino Fuyu-hime: saya belum punya rencana XD. Saya sih ga tau bakalan jadi berapa chapter :D. terimakasih sudah mampir ^^
Hani Ninomiya Arioka: saya juga penasaran* dilempar*. Ah begitu.. terimakasih.. semoga tetap menghibur ya :D. terimakasih sudah mampir ^^
Ryuganatsuki: saya juga :D. Terimakasih sudah mampir ^^
Dan untuk kalian yang mencintaiku, terimakasih* plak
Untuk yang sudah membaca, mereview, memfollow, memfavorit, mem PM fic ini,saya haturkan terimakasih banyaak. I love you all ^^
Jaa!
