Park Jimin menuruni anak tangga dirumahnya dengan sangat cepat. Menuju ruang makan pun ia sampai berlari seperti dikejar sesuatu. Tak ayal para pelayan rumah tangga disini kebingungan melihat tuan muda mereka itu.
"Selamat pagi!" Dengan nada riang, ia menyapa seseorang yang tengah sibuk berkutat di dapur.
Sayang, sapaan itu malah dibalas omelan, "Hey kau jangan berlarian begitu didalam rumah! Kalau kau jatuh atau menabrak guci-guci kesayangan nenek bagaimana? Kau mau tanggung jawab? Oh aku lupa, nenek itu takkan berani memarahimu, nanti ujungnya pasti aku yang-"
"STOP!" Jimin memotong, "...Kau belum membalas sapaan adikmu ini, malah mengomel tanpa jeda!"
Kim Seokjin -namja yang mengomel itu- pun memasang senyum terpaksa. "Ohhh~ selamat pagi tuan muda Jimiiiinn!" Ucapnya dibuat-buat, membuat Jimin makin merengut.
"Ish, itu terdengar kurang ikhlas." katanya "oh, dan juga, jangan panggil aku tuan muda! Kau bahkan bukan pelayan disini." ujarnya lalu duduk disalah satu kursi meja makan.
Seokjin datang dari dapur yang sebenarnya masih satu ruangan dengan meja makan itu sambil membawa segelas susu. Lalu meletakkannya didepan Jimin.
"Baiklah, Selamat pagi Jimin adikku~" Kali ini ia tersenyum tulus saat mengatakannya. Lantas ia duduk dikursi yang biasa ditempati oleh kepala keluarga. Karena Seokjin yang paling tua disini, jadi dia yang duduk disana.
"Begitu kan lebih enak didengar hyung. Oh! Selamat pagi Hoseok hyung!"
Selanjutnya Jimin menyapa Hoseok yang baru menghampiri mereka dengan penampilan sangat rapih dan formal. Ya, sebab dia akan bekerja di kantor. Suara decitan kursi terdengar saat Hoseok duduk berhadapan dengan Jimin, tanpa membalas atau menatapnya sedikitpun. Dan Jimin sudah terbiasa dengan hal itu. Walau kesedihan tetap saja terbaca dari raut wajahnya.
Seokjin pun segera mengalihkan perhatian si bungsu yang tampak bersedih itu.
"Jadi...boleh aku tahu, apa yang membuatmu begitu semangat pagi ini hingga berlarian didalam rumah?"
Berhasil.
Pertanyaan Seokjin berhasil membuat Jimin nampak sangat bersemangat menjawabnya.
"Kau tau hyung?"
"Ehmm?" Seokjin menopang dagu, bersiap mendengarkan dengan seksama, apapun yang hendak dicelotehkan adiknya.
"Pagi ini, Yoongi hyung akan-"
Belum usai Jimin menjawab, suara klakson mobil terdengar dari luar sana, bersamaan dengan Hoseok yang berhenti mengunyah sarapannya. Seokjin melirik Jimin yang nampak bertambah senang saja.
"Oooh~ jadi iniii?" godanya
Jimin tersenyum kecil, namun terlihat sedikit heran.
"Cepat sekali dia datang? Hyung, aku berangkat dulu! Yoongi hyung sudah menungguku," Jimin berdiri dan hendak berlari lagi, sebelum Seokjin menghentikannya dengan berkata,
"Hey Jimini! Kau belum sarapan!"
"Aku buru buru hyung! Kasihan Yoongi hyung,"
"Yasudah, minum saja susunya! Kau tak mungkin kan tega membuang susu buatan hyungmu ini?"
Dan Jimin menurut, menghabiskan segelas susu itu dengan sekali teguk, lalu berlari lagi.
"Aku berangkat Hyung! Byeee~~~"
"HEY!" Seokjin berseru lagi, "...APA KAU SUDAH MINUM O-"
"SUDAH HYUNG SUDAH!" Jimin langsung menyahut dari jauh sana.
Seokjin hanya menggelengkan kepala melihat tingkah adik bungsunya itu.
"Anak itu, jika sudah menyangkut Yoon-"
Prang !
"Astaga!" Seokjin dibuat terkejut saat Hoseok tiba-tiba saja membanting sendok dan garpu pada piringnya. Tidak kencang, namun cukup menimbulkan bunyi yang membuat hyungnya itu kaget.
"Aku juga berangkat." Lantas dia pergi begitu saja.
Seokjin memandang piring itu, lalu punggung Hoseok yang mulai menjauh.
"Bahkan dia baru memakannya satu suap," Gumamnya, lalu kembali berseru "Hati-hati Jung Hoseok!"
Suga melirik Jimin yang tengah berjalan cepat kearah mobilnya.
"Yoongi hyung! Selamat pagi!" Sapanya dengan amat bersemangat saat membuka pintu mobil, lalu duduk disampingnya.
"Tsk! Kau itu lama sek-"
Omelan Suga terhenti saat melihat seseorang keluar dari pintu rumah Jimin. Seseorang itu, Hoseok yang tengah menatap lurus kearah mobil mereka. Ekspresi datar Suga hilang, berganti dengan senyuman-
"Oh, Pagi Jimin sayang. Kau nampak bersemangat hari ini..."
-penuh kepalsuan.
Lantas lelaki bermarga Min itu tiba-tiba menarik tengkuk Jimin dan menempelkan bibir mereka. Membuat Jimin yang hendak memasang sabuk pengaman cukup terkejut. Itu berlangsung cukup lama, sampai Hoseok yang tengah berdiri disana memutuskan untuk pergi ke mobilnya sendiri yang terparkir di bagasi samping rumah.
Dengan itu, Suga pun melepaskan bibirnya dari Jimin , lalu mulai menyalakan mesin mobil.
Kembali, wajah dingin itu kembali.
Jimin tak begitu menyadari, karena dia masih terkejut atas ciuman mendadak itu. Ia menyentuh bibirnya yang baru saja mendapatkan sesuatu yang tak terduga dari orang disampingnya. Hanya menempel , tanpa melakukan apapun yang lebih cukup membuat Jimin tersenyum senang hingga eyesmilenya tercipta.
Satu bulan tak bertemu untuk kemudian diberi morning kiss seperti itu, siapa yang tak bahagia?
"Jangan berekspresi berlebihan begitu,"
oh, atau sang pemberi yang justru tak bahagia.
"...kau seperti tak pernah melakukannya saja."
"Uh?" Jimin mengerjap "...maaf, aku hanya terlalu senang karena hyung bisa menjemputku, dan juga-"
"itu karena kebetulan aku ada urusan dikampus pagi ini. Kalau tidak, sejujurnya aku malas begini."
Senyuman Jimin sedikit luntur, namun ia berpura pura tak mengerti dengan kalimat begini yang dimaksud tunangannya itu.
Setengah perjalanan mereka dihabiskan hanya dengan terdiam satu sama lain. Sebenarnya Jimin ingin banyak mengobrol dengan Suga. Tapi ia tak mau mengganggu konsentrasi mengemudinya. Biarlah, Suga sudah mau menjemput pun cukup mengobati kerinduannya setelah sebulan tak bertemu.
Universitas tempat mereka menuntut ilmu tinggal berjarak beberapa meter saja, barulah Jimin berani angkat bicara.
"Ekhm- Yoongi hyung,"
Suga hanya menjawab dengan gumaman samar tanpa memandang sosok disampingnya.
"Apa schedulemu benar-benar padat? Tak adakah waktu untuk-"
"Tak ada." Suga spontan menyela dengan tegas."Bisa menjemputmu pun sudah beruntung, jadi kau jangan melunjak."
Jimin mengatupkan mulutnya, lantas menghembuskan nafas pelan "Baiklah, maaf. Aku hanya bertanya, hyung. Beberapa waktu lalu, keluargaku menanyakan mengapa kau dan aku jarang terlihat bersama? Aku jadi bingung menjawabnya," tuturnya kemudian.
"Bingung untuk apa? Kau hanya tinggal bilang jika aku sibuk bersama bandku. selesai." Suga menjawab sekenanya. masih enggan menatap sang lawan bicara.
"Aku tahu, hyung. Tapi, mereka terus bertanya apakah hubunganku denganmu baik-baik saja jika kau sesibuk itu ? kita bahkan bukan berpacaran lagi Yoongi hyung, tapi bertunang-"
Ckiittt-
Jimin sontak terkejut saat Suga mendadak mengerem mobilnya.
"Kau turun disini saja, disana banyak fansku. Bisa jadi bulan bulanan jika aku ketahuan datang bersamamu."
Jimin menatap keluar. Benar, didepan gerbang utama yang lumayan jauh dari tempatnya sekarang, banyak gadis gadis yang ia perkirakan fans dari tunangannya. lagi-lagi ia hanya bisa menghembuskan nafas pelan. pengalihan dari rasa kecewa yang coba ia tahan. Ia bahkan belum usai menuntaskan apa yang ingin ia utarakan.
"Baiklah. Aku turun disini. Terimakasih sudah menjemput dan mengantarku." Jimin melepas sabuk pengaman, lantas hendak membuka pintu sebelum suara Suga menginterupsinya.
"Tolong,"
Hening sejenak
"...tolong jangan pernah membahas hal itu lagi. Aku tak mau sampai ada wartawan atau fans yang mendengarnya. Kau mengerti?!
Masih hening.
Jimin terdiam sejenak mendengar ucapan Suga. Ada kilatan rasa sesak yang melintasi perasaanya, namun Jimin memaksakan dua sudut bibirnya untuk tersenyum, walau sang tunangan takkan melihatnya.
"Aku mengerti, Yoongi hyung." ucapnya lebih seperti sebuah bisikkan.
"Yasudah, cepat keluar-"
Dan Park Jimin benar benar keluar. Meninggalkan Min Suga yang memperhatikan langkahnya sambil berdesis pelan,
-cepat keluar dari hidupku, karena aku tidak menyukai ikatan ini.
