Ansatsu Kyoushitsu

By:

Yuusei Matsui

It's Time

By:

Amaya Kuruta.

OOC, Horor, Typo bertebaran dan mengandung racun tikus XD

Chapter: 14

Jalanan nampak ramai pagi itu. suasana pagi yang sesibuk itu sudah menjadi pemandann sehari-hari. Karma menata malas rombongan anak seumurannya dengan seragam kebangsaan Kunugigaoka yang tengah bercanda. Ia memilih untuk mengganti arah pandangnya pada sosok biru disampingnya yang nampak asyik entah memikirkan apa. Karma tersenyum kecil. Kesempatan yang baus bukan? Saat gadis itu tak memperhatikannya dan memilih sibuk dengan pikirannya, Karma justru mendapat kesempatan untuk melihat Nagisa sebanyak yang ia mau. Hal itu berjalan beberapa menit sampai akhirnya mobil hitam itu berhenti tepat sebelum jalan menuju gunung. Karma menolak tawaran orang tuanya untuk mengantarkan mereka sampai halaman sekolahnya. Sebenarnya yang membuat Karma harus menolak adalah alasan orang tuanya yang ingin bertemu dengan guru-guru mereka hanya untuk berfoto! Ayolah, Karma tak mungkin membiarkan orang tuanya berfoto dengan koro sensei bukan?

"Nah, kita sudah sampai!" Terdengar suara Akabane Kanade. Karma menatap ibunya malas. Seakan menuduh ibunyalah penyebab ia harus menghentikan aktifitasnya. Nagisa tersenyum.

"Apa anda akan langsung ke bandara setelah ini?" Tanya Nagisa. Kanade tersenyum menyesal.

"Um. Pesawat kami akan berangkat satu jam lagi." Jawabnya. Nagisa mengangguk mengerti. Kemudian ia melirik Karma yang nampak tak peduli. Karma membuka pintu mobilnya dan bergegas keluar. Nagisa menghela nafas dan berpaling kearah orang tua Karma. Ia tersenyum.

"Kalau begitu, hati-hati.. bibi, paman." Ucap Nagisa. keduanya mengangguk. Nagisa mengangguk kecil dan membuka pintu.

"Ah, Nagisa-chan.." suara ibu Karma menghentikan gerakan Nagisa.

"Kau pasti tau kalau kami sangat menyayanginya bukan?" Tanya Kanade. Nagisa terdiam. Kemudian tersenyum dan mengangguk.

"Kalau begitu, jaga dia untuk kami?" pinta Kanade ragu. Nagisa tertawa kecil.

"Tentu saja." Jawabnya tanpa ragu. Kazuto tertawa.

"Bagus. Setidaknya kau memang harus latihan mulai sekarang, Nagisa. jangan lupa dengan cara membuat kopi untukku." Ujar Kazuto. Nagisa memerah. Ia tau apa yang dimaksud ayah Karma. Kopi pagi untuk mertua. Kira-kira seperti itu artinya. Kemudian Nagisa bergegas keluar saat Karma memanggilnya tak sabar dengan alasan bel akan segera berbunyi. Diam-diam Nagisa mendenggus. Sejak kapan Akabane Karma peduli? Kemudian kedua orang dewasa itu berlalu dari hadapan mereka setelah sebelumnya berhasil menjebak Karma dan memberinya ciuman dikedua pipinya. Kanade dan Kazuto berubah menjadi iblis mode saat melihat anak semata wayang kesayangan mereka memberi mereka salam perpisahan berupa tatapan membunuh dengan wajah memerah. Nagisa hanya bisa tertawa. Kemudian ia menarik Karma untuk segera mendaki gunung mereka.

"Sudahlah, Karma-kun.. mereka hanya tak ingin meninggalkanmu." Ujar Nagisa. Karma hanya diam. Ia tau itu. tapi ia sudah tidak harus mendapatkan salam perpisahan macam itu bukan? Karma menghela nafas dan menoleh kearah Nagisa.

"Jangan katakan apapun tentang hal tadi." Ancamnya. Nagisa memutar bola matanya. Ia tau dan sebelum Karma mengancamnya pun ia sudah memperingatkan dirinya sendiri. Ia tak mau berakhir tragis ditangan Karma!

Keduanya berjalan sambil mendiskusikan ujian yang sudah semakin dekat. Menurut kedua orang tua Karma, keduanya sudah sempurna bahkan tanpa meluncur sekalipun. Nagisa tertawa datar saat ibu Karma mengatakan hal itu. sedangkan Karma tanpa ragu melemparkan sepiring pie kearah ibunya. Tapi tentu saja Karma tau, mereka hanya perlu mengulang latihan beberap kali saja. Entah sejak Kapan, Karma merasa bahwa Nagisa sudah mulai bisa bermain dengan hatinya. Karma tak tau apa yang membuat Nagisa seperti itu. dan ia tak berani menarik kesimpulan. Keduanya masih asyik mengobrol saat sampai didepan pintu kelas. Karma menggeser pintu dan nampaklah para murid kelas 3-E yang sibuk dengan handphone dan nampak.. aneh. Isogai terlihat shock dan duduk dibangkunya seperti orang yang baru ditinggal kekasihnya. Sugino menabrakkan dirinya didinding sambil bergumam tidak mungkin. Nakamura nampak bersemangat dan sibuk menyebarkan kabar – entah apa- kesana kemari. Koro sensei dengan tubuh berwarna pink cerah nampak berlarian (?) keliling kelas. Dan yang lainnya? Entahlah.. mereka semua terlihat aneh dimata Karma dan Nagisa. Karma memilih untuk mendekati Sugino.

"Ne, Sugino.. ada apa?" Tanyanya. Nagisa menyusul dan menatap Sugino cemas. Sugino menghentikan kegiatannya dan menatap keduanya sesaat. Sebelum akhirnya ia mencengkram bahu Karma.

"Hei, apa yang kau lakukan, sugino?" Tanya Karma heran. Sugino tak bersuara sampai akhirnya ia mengeluarkan ponselnya.

"Kalian.. sebenarnya.. hubungan kalian sudah sejauh apa?" Tanyanya sambil menunjukkan layar ponselnya. Karma mengangkat alisnya saat melihat gambar dilayar itu. Nagisa terperangah. Wajahnya dengan cepat memerah. Karma melirik Nagisa dan menyeringai.

"Hee~ ternyata itu yang membuat kalian seperti cacing kepanasan dipagi yang indah ini?" Tanya Karma. Volume sengaja dibuat sekeras mungkin. Para murid menoleh. Baru menyadari keberadaan sang topic pembicaraan.

1…

2..

3..

"KARMA-KUN! APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADA NAGISA?" teriak mayoritas murid kelas 3-E.

"NAGISA, KAU TAK APA-APA?"

"KARMA, KAU CURAANG!"

"KARMA, APA KAU TAK MEREKAM KEJADIANNYA?" pertanyaan terakhir jelas dari siswa nomor absen 3. Dan komentar itu jelas membuat kelas hening sejenak. Sebelum akhirnya terdengar suara teriakan Okajima yang diduga terlempar dengan sadis keluar jendela oleh pasukan komando Kataoka. Nagisa merasa kepalanya pening. Ia memilih berjalan ketempat duduknya dan membiarkan Karma mengatasinya. Karma sendiri tersenyum melihat Nagisa yang nampak lelah.

"Hmm… sepertinya aku harus membuat kaa-san belajar sesuatu nanti." Tekad Karma. Kemudian Karma mengeluarkan bola keunguan yang ia dapat dari Okuda tempo hari. Lalu dengan senyuman ala Koro sensei, ia melempar benda itu hingga asap keunguan memenuhi ruangan. Nagisa mengernyit saat asap ungu itu menghalangi pandangannya. Namun ia masih bisa melihat rambut merah yang menariknya dan membawanya keluar dari kelas tersebut.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

"Karma-kun, aku tau kita akan menghidari pertanyaan aneh dari mereka. Tapi bukan berarti kita harus duduk santai disini sedangkan bel baru saja berbunyi, bukan?" Nagisa mencoba mengingatkan. Sosok merah itu hanya ber hmm ria sambil meneruskan kegiatannya: berbaring dibawah balutan awan putih. Nagisa menghela nafas dan memutuskan untuk diam disana. Ia memang tak setuju dengan ide bolos. Tapi ia juga tak setuju jika Karma memutuskan untuk kembali kekelas.

"Hhh.." Nagisa kembali menghela nafas. Ia menengadahkan kepalanya menatap gumpalan awan putih diatasnya. Sesekali mencoba menebak bentuk yang ditampilkan awan putih tersebut. Tanpa ia sadari segalanya kembali berputar dikepalanya. Semuanya. Kemudian ia tertegun. Dia.. dia bahkan mulai lupa bahwa wujudnya yang sekarang bukanlah wujud aslinya. Ia laki-laki! Tidak.. menurut Karma dia wanita. Jadi? Nagisa mengacak rambutnya. Apa yang harus dia lakukan? Dia bahkan tidak menanyakan penawar sekalipun kepada Koro sensei. Padahal diawal perubahannya dia selalu menanyakannya setiap pulang sekolah. Sekarang? dia bahkan tak pernah memikirkan itu. Nagisa merasa ia mulai.. menikmatinya. Menikmati kehidupan barunya. Menikmati bagaimana ia tak perlu khawatir dengan perlakuan lembut Karma. Menikmati bagaimana ia tak perlu merasa ambigu saat Karma menatapnya dalam. Menikmati bagaimana Karma mencium dahinya. Tunggu! Bukan itu! bukan itu yang harusnya ia pikirkan! Nagisa menggigit bibirnya. Kemudian ia menatap sosok Karma yang nampak sudah tertidur.

" Nurufufufufu… sensei rasa sensei akan membuat formula itu dengan tidak terburu-buru.. tidak sebelum kau memastikan perasaanmu sendiri. Apakah kau terbebani, atau kau menikmatinya." Entah kenapa perkataan Koro sensei terngiang ditelinga Nagisa. Ia bertanya-tanya, kenapa ia harus memastikan perasaannya sendiri? Nagisa masih menatap wajah tenang disampingnya. Perasaan? Perasaan apa? Kepada siapa? Kepada Karma? Perasaannya kepada Karma?

"Karma-kun.."

Dan Nagisa tidak ingat apa yang otaknya perintahkan. Yang ia tahu, ia sudah merasakannya. Bibir merah milik Karma entah kenapa terasa manis baginya.

" A-apa yang.." Nagisa melepaskan dirinya. Ia menutup bibirnya dengan punggung tangannya. Wajahnya memerah.

"Ungh?" Karma melenguh. " Haah.. aku tertidur.. ng? Nagisa, ada apa?" Tanya Karma heran melihat wajah Nagisa yang memerah.

"Eh? Tidak.. tidak apa-apa. Aku.. aku akan kembali. Kalau kau mau tetap disini, silahkan, Karma-kun." Dan Nagisa berlalu tanpa menunggu balasan Karma.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

TBC

Saya tau saya tau.. ini pendek.. maafkan saya. Tapi saya memang pas lagi bisanya segini dulu XD

Denia: benarkah? Semoga tetap menghibur ^^. Terimakasih sudah mampir :D

Frwt: komen apa saja boleh ^^. Terimakasih sudah mampir :D

Faira: iyaa.. terimakasih untuk supportnya. Saya semangat nulis. Tapu publishnya yang penuh rintangan XD. Terimakasih sudah mampir ^^

Karen Ackerman: nyahaha.. karena Asano kan udah ada yang nungguin XD. Terimakasih sudah mampir :D

BlueSky Shin: karma kan orangnya pelan tapi pasti :3. Jadi dia masih kode kode gitu XD. Terimakasih sudah mampir ^^

Nikowahyu4869: hanya Nagisa, koro sensei dan tuhan yang tau XD. Terimakasih sudah mampir^^

Hani Ninomiya Arioka: ga ngapa-ngapain kook.. nagisa ga selicik Karma*eh*. Oke.. terimakasih sudah mampir :D

Minna4869: terimakasih sudah mau mampir dan menunggu XD

Cinta Killua: saya juga penasaran Karma lawan Asano*plak.

Fufufu~ saya aja ngetiknya klepek-klepek XD

Terimakasih sudah mampir :D

MnC21: :o… Ah terimakasih atas ilmunyaaa.. saya memang lemah dipenulisan. Selain laptop yang keyboardnya error, saya juga males baca ulang XD*plak

Terimakasih banyaak.. semoga saya bias memperbaiki diri XD

Dan untuk semua yang sempat membaca, mereview, memfav memfollow dan mengirim surat cinta/nggak!, I love youuu…

Jaa!