Yoongi menyukai musik.
Yoongi gemar bermain gitar.
Yoongi pandai menciptakan lagu.
Yoongi masuk ke sebuah agensi melalui jalur audisi dan dilatih selama dua tahun, lalu dipersiapkan untuk debut dengan project grup band, bukan boyband seperti kebanyakan. Dia akan menjadi gitarist sekaligus Leader dari band yang rencana nya akan diisi lima personil, namun urung karena sang keyboardist tiba tiba menghilang dan cukup membuat mereka ketar-ketir karena jadwal debut sudah didepan mata.
Yoongi dan yang lain tak mau gagal. mereka tetap melanjutkan ini walau tanpa keyboardist. Mereka harus benar-benar berdiri diatas panggung sebagai band sungguhan.
Seminggu jelang debutnya, Min Yoongi kembali bertemu batu yang hampir menyandung karirnya lagi. Ia tak tahu apapun saat tiba-tiba mendapat panggilan dari orangtuanya. Mereka bilang ini mendesak dan Yoongi harus segera pulang. Beruntung pihak agensi memberinya waktu satu hari dan harus segera kembali karena waktu debut semakin dekat.
Yoongi pulang dengan sambutan cukup buruk. Mendapat beberapa tamparan keras dari sang Ayah, dan bahkan nyaris dihajar menggunakan stick golf jika saja sang ibu tak mencegah.
"Kemana saja kau bocah tak tahu diri?!" Kemurkaan lelaki paruh baya itu tak bisa ditahan lagi "Ayahmu sedang pusing setengah mati karena perusahaan hampir bangkrut, dan kau malah asyik dengan kegiatan tak jelasmu itu!"
"Musik bukan kegiatan tak jel-"
PLAKKK !
Tamparan lagi.
"Diam!" Tuan Min membentak "...jangan mengeluarkan kalimat apapun untuk membela kegiatan yang membuatmu melupakan keluarga, dan bersikap seolah tak tahu jika kehidupan keluargamu sedang memburuk!"
Yoongi tahu betul ayahnya sangat murka hingga urat-urat dilehernya mencuat. Tapi ia rasa ia harus membela diri.
"Aku sudah melakukan sebisaku, Ayah." Ucapnya "aku berhenti kuliah agar ayah tak perlu mengeluarkan uang lagi! Lalu aku akan membantu ayah mencari u-"
"Dengan bermain musik itu?" Ayahnya menyela "...Mana ?! Mana hasil dari kau bermain alat sialan yang sama sekali tak membantu itu? Kau bahkan pergi dari rumah tanpa pernah pulang! Membiarkan aku dan hyungmu seperti pengemis, memelas bantuan kesana kemari! Dan kau tak pernah muncul barang sedikitpun! Apa itu bisa disebut membantu? Hah? Jawab Min Yoongi!"
"Aku sedang berusaha, ayah! Sebentar lagi, sebentar lagi aku akan debut dan-"
"PERSETAN DENGAN DEBUTMU ITU!"
Mulut Yoongi seketika terkatup.
"Ayah, sudahlah," kakak satu-satunya itu merangkul bahu Yoongi, bermaksud membela dan menghentikan suasana tegang ini. Namun sang ayah tetap saja pada emosinya.
"Tak usah membela adikmu, Yoonjae-a! Dia datang terlambat. Kau terlambat Min Yoongi! Perusahaan sudah mulai membaik karena aku dan hyungmu berhasil meminta bantuan teman lamaku. Dan kau? Kau sama sekali tak ikut andil dalam hal ini !"
Yoongi menahan kesal dalam hati. Ia sudah susah payah bertahan dalam pelatihan selama bertahun tahun, menahan keinginannya untuk pulang, menahan rasa rindunya pada keluarga, lalu seperti ini tanggapan ayahnya?. Sang ibu pun hanya diam tanpa membelanya.
Harusnya ia pulang dengan sambutan hangat karena akan meraih apa yang ia sudah usahakan selama ini. Ia akan segera debut! Kenapa reaksinya malah seperti ini?
"Lalu ayah mau aku melakukan apa?" Yoongi bertanya, "...Apa yang harus kuperbuat agar ayah merasa aku ikut andil disini?!" Bisa ia lihat sang ayah mengatur nafasnya sejenak. Hingga kemudian mengatakan hal yang-
"Bertunangan dengan putra bungsu dari keluarga itu. Malam ini juga."
-membuat mata sipit Yoongi sontak membulat lebar, "APA ?!"
"Aku tak menerima penolakan, Min Yoongi."
Yoongi masih mematung di tempatnya bahkan saat sang ayah berbalik menuju kamar dilantai atas.
"B-bertunangan?" Ia terbata, masih mencerna apa yang dikatakan ayahnya.
"Lakukan saja apa yang ayahmu katakan jika kau masih ingin dianggap dikeluarga ini. Malam ini juga acara pertunangan itu akan berlangsung di rumah , sayang..." Ibunya pun menaikki tangga menyusul ayahnya.
Tidak, tidak. Yoongi menggelengkan kepala.
"AYAH!" Si bungsu itu lantas berteriak, "MANA BOLEH BEGINI? AYAH! IBU! AKU TIDAK MAU!" Tak ada balasan. Yoongi tak menyerah, "KALIAN TIDAK BISA MEMUTUSKANNYA TANPA PERSETUJUANKU! AYAH! IBU!" Suaranya mengisi seluruh ruangan dirumah ini.
"Sudahlah Yoongi-a, kau tak bisa menolak" Seseorang disampingnya berbicara menenangkan. Tapi Yoongi sama sekali tak bisa tenang di situasi seperti ini.
Jadi, hal mendesak yang dimaksud orang tuanya itu adalah, Yoongi harus bertunangan dengan orang yang tak dikenal nya sama sekali?! Gila !
"Hyung, mana bisa begini? Tidak. aku tidak mau! Aku harus bicara dengan ayah-"
"Min Yoongi!" Yoonjae menarik adiknya yang berniat menaikki tangga dan menyusul orangtuanya, "Kau mau ayah menyiksamu hingga mati?! Ayah benar benar marah padamu saat ini! Setidaknya buatlah dia menganggapmu menyelamatkan keluarga kita juga!"
"Tapi hyung-"
"Malam ini kita akan berkunjung ke rumah mereka, acara besar sudah disiapkan untuk pertunanganmu dengan-"
"Shit! Persetan dengan pertunangan itu! Kalian gila !"
Yoongi membenci pesta pesta semacam ini. Walau jujur, ini adalah pesta paling mewah dan megah yang pernah ia kunjungi. Tamu-tamu yang datang adalah kalangan kelas atas. Pantas saja keluarga ini mampu membantu perusahaan keluarganya yang hampir bangkrut.
Sayang, seberapa kagum pun Yoongi akan kemewahan pesta ini, dia sama sekali tak menikmatinya. Sedari tadi ia hanya menyendiri, setelah sebelumnya sempat diperkenalkan pada beberapa rekan kerja sang ayah. Tak lupa, diperkenankan pada kakek dan nenek dari calon tunangan -yang tak Yoongi kenali-. Dan Yoongi hanya memasang senyuman sesopan mungkin walau itu palsu. Yoongi tak tahu kenapa yang diperkenalkan hanya kakek dan neneknya, bukan orang tuanya. Tapi ia tak mau pusing memikirkannya. Siapa yang perduli?
Yoongi sebenarnya muak dan ingin lari ke tempat berlatihnya jika saja dia tidak ingat bahwa sang ayah bisa saja membunuhnya bila ia melakukan itu.
"Hei!"
Yoongi menoleh ketika seseorang memanggilnya. Dia tak tahu dirinya melamun sedalam apa karena tanpa disadarinya, seseorang itu sudah berdiri didekatnya.
"Kau putra dari Tuan Min? Kau Min Yoongi ?!" Tanyanya. Yoongi hanya mengangguk pelan. Orang yang lebih tinggi darinya itu lantas tersenyum. "Wah! Beruntungnya adikku akan bertunangan dengan pemuda tampan sepertimu! Ah, aku Kim Seokjin."
Yoongi hanya tersenyum samar sambil membalas jabatan tangan Seokjin. Dalam hati ia tertawa. Konyol. Apa-apaan ini? Kenapa semua orang tampak bahagia sekali?
Bertunangan dengan seseorang yang sama sekali tak kau kenal dan belum pernah kau jumpai bahkan lewat foto, tidakkah itu konyol? Benar, ini konyol, bodoh, dan Yoongi sangat membencinya.
"Adikku masih bersiap didalam. Maaf membuatmu menunggu lama, Yoongi-a. Lima menit lagi acara akan dimulai." Ujar Seokjin memberi tahu.
Hah, siapa perduli tentang adiknya? Justru Yoongi mengharapkan yang lebih lama lagi, atau bila perlu batalkan saja sekalian pertunangan ini!
"Mari ikut aku! Acara tukar cincin akan dilaksanakan didepan sana." Seokjin menunjuk sebuah panggung kecil didepan sana.
Astaga Tuhan, ini sungguh membuatku muak!
.
.
.
Yoongi bukan seseorang yang akan grogi hanya karena berdiri diatas panggung dan menjadi pusat perhatian banyak orang. Karena itulah dia rela dilatih bertahun tahun untuk menjadi idol. Tapi, sekarang atmosfirnya berbeda. Dia berdiri ditempat dimana ia akan melakukan tukar cincin dengan-
Oh shit!
Ini gila!
Semua tamu menatapnya dengan mengatakan, wah! beruntungnya putra bungsu yang akan bertunangan dengan pemuda tampan seperti Yoongi! atau justru sebaliknya, Wah! Beruntungnya Yoongi bisa bertunangan dengan putra bungsu dari keluarga konglomerat di negeri ini!
Hah, apanya yang beruntung? Aku bahkan tak tahu nama-
"Hobi...?" Gumaman kecil lolos dari bibirnya saat melihat tiga orang yang mengenakan tuxedo dengan rapihnya, berjalan menuruni tangga. Tak ada yang mendengar gumamannya karena semua tamu pun kini memusatkan perhatian pada tiga orang itu. Satu dari mereka adalah Seokjin, yang tadi berpamitan untuk menjemput adiknya diatas. Dia tak tahu siapa namja dengan tuxedo putih yang berjalan ditengah. Tapi dia tahu, satu yang lain adalah, seseorang yang Yoongi sebutkan namanya.
Dia... Jung Hoseok?
Yoongi tak sadar seberapa dalam dia menatap salah satu dari ketiga itu, hingga tak sadar Seokjin dan si tuxedo putih sudah berdiri didekatnya. Sementara satu yang lain berdiri dibawah, menatap Yoongi dengan raut sulit dijabarkan.
"Nah, Yoongi-a," Seokjin berkata, "...ini adikku. Calon tunanganmu, Park Jimin."
Min Yoongi tak pernah bermain-main dengan ucapannya.
DIA-TIDAK-MENYUKAI-PERTUNANGAN-INI.
Dia memang menerima Jimin yang baru ditemuinya malam itu sebagai tunangan. Ia bersedia memasangkan cincin pada namja yang baru ia tahu nama dan rupanya. Ia juga mau mencium kening namja itu walau matanya terus melirik pada seseorang dibawah sana. Yoongi memang menerima Jimin, tapi maaf saja, Yoongi takkan pernah mau mengakuinya. Dan Yoongi sudah mewanti-wanti hal ini sejak awal.
"Kau nampak bahagia." Yoongi berujar datar pada Jimin yang ada itu sedari tadi tak pernah melepaskan senyum hingga eye smilenya tercipta. Manis sekali. Oh, tapi maaf saja Yoongi tak tertarik. Jadi ia lebih memilih memandang lurus kedepan, bukan lagi pada Jimin yang berdiri disampingnya.
"A-apa begitu terlihat?"
"Kenapa kau bahagia?" Yoongi bertanya lagi, tetap dengan nada yang sangat datar. Ia tak khawatir akan dicurigai orang, karena dia dan Jimin kini tengah menjauh dari para tamu untuk menikmati waktu berdua.
Shit,
Buang saja kalimat 'menikmati' itu karena Yoongi sama sekali tak merasakannya.
"Tentu saja karena kita telah resmi bertunangan. itu sebabnya aku baha-"
"Tapi aku tidak."
Senyuman dari bibir Jimin yang pucat itu sedikit luntur, saat Yoongi memotong jawabannya begitu saja. Tapi ia tetap berusaha menpertahankan senyum itu agar tak terlihat oleh Yoongi.
"Kau tak suka?" Kali ini Jimin yang bertanya.
"Menurutmu?" Tapi Yoongi membalikkan pertanyaan lagi untuknya. Dan itu Jimin anggap sebagai sebuah jawaban tak langsung jika Yoongi memang benar tak menyukai ini.
Hening.
Jimin mengulum bibirnya sejenak, "Kau bisa," ia menghela nafas, "...melepaskan cincin kita, dan kembali ke tengah acara jika kau tak suka. Aku akan meminta kakek membatalkan ini semua."
Yoongi tertawa sinis mendengar penawaran Jimin, dan lawan bicaranya itu nampak mengerutkan dahi tanda tak memahami.
Apa yang Yoongi tertawakan?
"Oh, aku ingin." Tawanya habis "...Sangat ingin sekali! Kalau bisa kulakukan itu dari tadi, berlari dari acara konyol nan memuakkan ini. Sayangnya aku tak bisa."
Yoongi tak tahu ia sudah membuat senyuman itu benar benar luntur sekarang. Ia sama sekali tak mau menatap Jimin daritadi.
"...Aku tak mau mempermalukan keluargaku sendiri, lalu akhirnya ayah akan menghajarku dengan stick golfnya, atau menyiksaku hingga mati,-"
Jimin hendak menyela jawaban Yoongi, dan berkata jika memang itu alasannya, maka Yoongi tak perlu takut. Jimin akan coba berbicara baik-baik pada Tuan Min bahwa anaknya tak menyukai pertunangan ini. Namun belum sempat Jimin membuka mulut, Yoongi sudah lebih dulu melanjutkan jawabannya,
"-Oh , sebenarnya tak apa jika aku lebih baik mati daripada bertunangan dengan orang yang sama sekali tak ku cintai ini. Tapi maaf saja, aku punya mimpi dan belum mau mati sebelum impianku tercapai."
Tepat. Menohok dihati Jimin.
Dia bukan orang yang semudah itu menitikkan airmata, tapi perkataan Yoongi benar-benar menyesakkan baginya hingga airmata itu memaksa ingin keluar.
"Begitu?" Jimin mati matian menahan airmata dan suara bergetarnya "Baiklah, lanjutkan mimpimu, dan aku akan mendukung mu dari sini."
"Tentu saja. Tanpa kau dukung pun aku akan tetap melanjutkannya. Sebenarnya, aku bukan seseorang yang tergila-gila pada materi. Menjijikan bagiku bila harus menjadikan impianku sebagai ladang uang. tapi bertunangan denganmu pun sama menjijikannya. Jadi kurasa, pemikiranku berubah," Yoongi menghela nafasnya lalu kembali berkata "Aku, harus menggapai impianku untuk mendapatkan uang banyak. Agar aku bisa mengangkat kembali kehidupan keluargaku tanpa harus dibantu oleh keluargamu. Dengan begitu, aku bisa bebas darimu," Yoongi menatapnya tajam, "...Park Jimin."
Sedikitpun Yoongi tak menyadari, betapa kasar perkataannya tadi. Ia berbalik badan, mendapati Jimin tengah menunduk dalam. Yoongi tak perduli jika ia baru saja melukai hati tunangannya itu. Karena yang Yoongi perdulikan sekarang adalah, seseorang yang tengah memperhatikan mereka berdua dengan tatapan datarnya dari balik punggung Jimin. Alih-alih meminta maaf, Yoongi malah memilih untuk berjalan menghampiri orang itu, dan meninggalkan Jimin dengan segala luka yang baru saja ia torehkan. Dan luka itu, akan terus ia buat tanpa pernah ia obati sedikitpun.
Pertunangan ini, sejak awal sudah ternodai.
