Ansatsu Kyoushitsu
By:
Yuusei Matsui
It's Time
By:
Amaya Kuruta.
OOC, Horor, Typo bertebaran dan mengandung racun tikus XD
Chapter: 15
Setelah hari yang menggemparkan itu, Nagisa nampak tak bisa tenang sama sekali. Setidaknya didepan Karma. Karma menatap punggung mungil milik sang kuncir dua yang nampak serius memperhatikan penjelasan koro sensei. Karma tau foto semacam itu pasti menjadi sangat memalukan begi mereka yang tak bermental kuat. Tapi Karma yakin bahwa setidaknya Nagisa tak malu saat melakukannya tempo hari.
" Jadi kau mengganti pakaianku, hm? Kau tidak malu melakukannya?" Tanya Karma. Nagisa menoleh.
" Hmm? kita bahkan pernah satu onsen bersama saat di Kyoto. Aku hanya mengganti pakaianmu saja Karma-kun." Jawab Nagisa polos.
Nah kan? jadi kenapa dia baru malu hari ini? kalau malunya didepan teman-temannya, Karma bisa memaklumi. Tapi setelah diperhatikan, Nagisa hanya salah tingkah didepannya. apa yang sebenarnya terjadi?
"Akabane Karma! Selesaikan soal didepan!" Panggilan Koro sensei membuyarkan lamunannya. Karma menoleh sejenak sebelum akhirnya tersenyum santai.
"Ok~" Jawabnya. Kemudian ia berdiri dan berjalan menuju papan tulis hitam tersebut. Dia meraih kapur yang disodorkan Koro sensei dan mulai mengerjakan. Pikirannya kembali melayang.
"Apa aku sudah melakukan sesuatu yang membuatnya seperti itu?" Karma mencoba mengingat apa yang sudah dia lakukan akhir-akhir ini kepada Nagisa. Karma tak mendapat petunjuk. Ia ingat ia bahkan tidak melakukan apapun selain menatapnya, menggodanya dan.. tunggu. itu termasuk melakukan sesuatu! Karma menuliskan hasil akhir dari perhitungan matematikanya dan memberikan kapurnya kearah Koro sensei. Wajah senseinya berubah menjadi jingga dengan lingkaran senada yang agak gelap. Ia tersenyum karena berhasil mengerjakan soal didepannya. kemudian matanya bersibobok dengan Nagisa. Nagisa mengerjap kemudian dengan cepat menunduk. Karma merasa alisnya berkedut tidak suka. Tidak.. ini tidak bisa dibiarkan.. atau sebaiknya dibiarkan? Karma berjalan kembali kebangkunya. Tak memperdulikan ocehan Koro sensei yang berkata bahwa Karma akan bisa mengalahkan anak kuliahan sekalipun karena berhasil mengerjakan soal rumit yang dibuatnya sendiri.
"Hhh~ aku harus menyelesaikan ini semua!" Tekad Karma.
Ansatsu Kyoushitsu
Nagisa memasukkan buku tulisnya kedalam tas. Kemudian saling mengucap salam perpisahan dengan kayano. Ia melihat senseinya yang nampak menyapa para murid sebelum pulang.
"Ne, Nagisa~ ayo pulang." Suara Karma terdengar dibelakangnya. Seketika kejadian pagi tadi berputar dikepala Nagisa. ia mengutuk kepalanya yang tak bisa berhenti menampilkan rekaman kejadian tadi pagi setiap ia melihat Karma atau mendengar suaranya.
"Ah, aku masih harus membersihkan kelas, Karma-kun. Sekarang jadwalku piket." Jawab Nagisa berusaha senormal mungkin. Meskipun menurut Karma itu masih jauh dari kata normal. Nagisa selalu menatap wajah orang yang ia ajak bicara jika topiknya berhubungan langsung macam ini. tapi sekarang ia malah pura- pura sibuk mencari entah apa didalam tasnya. Karma berani bertaruh bahwa Nagisa tak benar-benar mencari seuatu. Kemudian teringat sesuatu, Karma tersenyum.
"hee~? Benarkah? Kalau tidak salah ingat, Nagisa satu kelompok piket denganku kan? berarti sekarang juga jadwalku piket ya?" Tanya Karma. Nagisa ingin membenturkan kepalanya karena lupa dengan kenyataan itu. tidak, Nagisa tidak berbohong tentang piket. Ia memang piket hari itu. tapi akabane Karma memang tidak pernah muncul disaat piket. Jadi bukan salah Nagisa jika ia lupa bahwa Karma dan dirinya satu kelompok.
"Tapi kalau Karma-kun mau pulang duluan seperti biasanya tidak apa-apa kok. Lagipula aku sudah terbiasa." Jawab Nagisa.
"Hmm~.. tidak. kurasa aku akan piket untuk hari ini. moodku sedang bagus untuk bersih-bersih, kau tau?" Karma melangkah santai menuju loker penyimpanan alat-alat kebersihan dan mengambil sapu. Kemudian ia menyerahkannya kepada Nagisa.
"Ini. untukmu. Aku akan menghapus papan tulis. Mengingat kau tidak terlalu sampai untuk menghapus bagian atasnya, jadi akan kulakukan." Ujar Karma. Nagisa mengernyit mendengar pernyataan Karma. Ia tertawa datar.
"Terimakasih sudah peduli denganku yang pendek ini, Karma-kun." Ujar Nagisa.
"Sama-sama~" Jawab Karma. Kemudian ia mulai menghapus papan. Nagisa memperhatikan rambut merah itu dan tersenyum.
"Hhh.. kenapa harus segugup ini? bukankah selama ini juga sudah biasa bersama-sama?" Nagisa bertanya. Kemudian ia kembali mengingat semua hal yang sudah dilakukan rambut merah itu untuknya. Memikirkan hal itu entah kenapa membuat Nagisa tersenyum. Rasa hangat itu terasa nyata setiap ia mengingat bagaimana Karma menunjukkan sisi lembut didepannya. Nagisa menyukai perlakuan yang hanya ia temukan saat Karma bersamanya itu. Nagisa menyukai bagaimana Karma tersenyum kepadanya. Ya.. Nagisa..Nagisa menyukainya.
"Oi, Nagisa? kau sudah selesai?" Tanya Karma. Nagisa tersentak dan menyadari bahwa ia belum menyapu sama sekali!
Ansatsu Kyoushitsu
Nagisa melangkah pelan sambil sesekali menghela nafas. Angin sore itu membuatnya harus merutuki diri karena tidak mengenakan jaket. Sesekali telinganya menangkap suara anak kecil yang merengek agar dibelikan es krim. Nagisa mengangkat tangannya dan melihat jam dipergelangan tangannya yang berwarna merah. Merah? Ya. Jam itu adalah hadiah ulang tahunnya dari Karma tahun lalu.
"Aku takut kau merindukanku, Nagisa-chan~ jadi kubelikan yang warna merah saja."
"Ugh.." wajahnya kembali memerah saat mengingat perkataan Karma. Sore itu ia berencana menemui senseinya. Ia sudah membuat janji saat pulang sekolah tadi. Karma sendiri nampak tak curiga sedikitpun dengan Nagisa. ia bersyukur. Karena jika tidak begitu, Karma pasti sudah ada disebelahnya sekarang. demi tuhan Nagisa ingin menjauh sejenak dari surai merah yang selalu membuatnya kacau itu. Nagisa melangkah cepat menuju bukit belakang sekolahnya. Ia tak ingin membuat Koro sensei menunggu lebih lama lagi.
"Shiota?" Nagisa menoleh.
"Asano-kun?"
Asano Gakushuu bersama keempat temannya berdiri didepannya. Nagisa langsung mengingat kejadian di mansion saat hujan salju. Dan ia ingat ia belum meminta maaf pada Asano karena telah membuatnya pingsan dengan nekodamashinya. Tunggu, bagaimana jika ia bertanya darimana Nagisa mempelajari nekodamashi?
"Apa yang kau lakukan ditempat ini?" Tanya Asano.
"A-aku harus kesekolah… ada barang yang tertinggal. Kalau begitu aku pergi dulu.. jaa.-"
"GREP" Nagisa memucat. Ia tau siapa yang menangkap tangannya meski tanpa menoleh sekalipun.
"Kalian pulanglah duluan. Ada yang harus kuselesaikan dengan Shiota." Titah Asano.
"Ok~ kau hati-hatilah, Asano-kun." Ujar Ren. Asano hanya mengangguk. Kemudian ditatapnya teman-temannya sampai hilang dari pandangan. Setelah itu barulah ia menoleh kearah gadis biru berkuncir dua didepannya.
"Shiota, aku-"
"Aku minta maaf!" seru Nagisa memotong ucapan Asano. " Maafkan aku karena tidak menuruti perkataanmu di penginapan waktu itu. Tapi aku harus pergi. Karena saat itu jika aku tidak pergi, Karma pasti.. dia pasti sudah.." ucapan Nagisa terhenti saat ia merasakan sentuhan didahinya.
"eh?"
'PLETAK'.
"OUCH!" keluh Nagisa sambil mengusap dahinya yang memerah.
"Asano-kun?" Nagisa menatap Asano tak mengerti. Dia baru saja mendapat serangan di dahinya dari sentikan jari Asano. Untuk apa? Apa Asano ingin membalas nekodamashinya waktu itu? disisi lain, Asano mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya menutup hidung dan bibirnya dengan punggung tangannya. Ia memalingkan wajahnya kearah lain sehingga Nagisa tidak bisa melihat wajahnya. Apa yang baru ia lakukan?!
"Kau kenapa, Asano-kun? Kau baik-baik saja?" Nagisa bertanya khawatir. Asano berdehem kemudian menoleh kearah Nagisa.
"Kau bicara banyak sekali. Jadi.. itu tadi untuk menghentikanmu." Jawabnya datar.
"selain itu kau nampak sangat manis." Pikir Asano. Nagisa tersenyum.
"Maafkan aku. Kalau kau ingin menghukumku atau balas dendam denganku, kau bisa melakukannya lain kali, Asano-kun. Sekarang aku harus pergi untuk mengambil barangku." Jawab Nagisa. tatapan memohonnya sungguh seperti menggigit hati Asano. Ia berusaha keras untuk tidak terlena dalam situasi macam itu. kemudian ia memikirkan perkataan Nagisa. Balas dendam? Hmm…
" Baiklah Shiota.. kalau kau sangat ingin aku balas dendam kepadamu akan kulakukan." Nagisa menatap Asano dengan alis terangkat. Detik kemudian ia tertawa datar dalam imaji. Dia tak pernah bilang bahwa ia ingin Asano balas dendam kepadanya! Dia hanya.. yah.. memberinya tawaran saja. Tapi sungguh itu tidak menjadi keinginan dari Nagisa. Asano didepannya nampak berfikir. Membuat Nagisa berburuk sangka dengan semua dugaan apa yang harus dia lakukan.
"Nah.. begini saja. Sabtu besok, kau harus menemaniku seharian!" Titah Asano.
"Eh?" Nagisa menatapnya heran. Menemaninya? Hanya itu? apa sebenarnya rencana Asano Gakushuu?
"Diputuskan! Hari sabtu kau harus menemaniku, Nagisa Shiota! Jangan menolaknya!" ujar Asano. Nagisa mengerjap kemudian ia tertawa kecil.
"Baiklah! Kalau begitu.. bisa kau lepaskan tanganku?" Pinta Nagisa. Asano melepaskan tangannya.
"Kalau begitu, aku pergi dulu." Pamit Nagisa.
"Sampai jumpa hari sabtu?" tanya Asano. Nagisa kembali tertawa.
"Tentu!"
"Ditempat ini jam 8. Aku harap kau bisa tepat waktu, Shiota!" Asano mengingatkan dan berbalik. Berjalan meninggalkan Nagisa.
"Ugh.. aku tidak berjanji." Gumam Nagisa. kemudian Nagisa berbalik dan melangkah cepat. Tanpa mengetahui bahwa pemuda oranye itu kini tersipu.. dan tersenyum!
Ansatsu Kyoushitsu
"Nah, Nagisa kun-chan.. apa yang membuatmu mengunjungi sensei semalam ini?" Tanya koro sensei. Nagisa hanya tersenyum gugup. Koro sensei menatap muridnya itu dalam diam.
"sensei.." Panggil Nagisa. Koro sensei menjawab dengan gumaman khasnya.
"Apa.. kau sudah menyelesaikan penawarnya?" Tanya Nagisa. koro sensei diam. Koro sensei mengira Nagisa sudah lupa dengan hal itu. karena sudah lama sejak terakhir kali ia menanyakan antidotenya.
"Hmm.. apa yang harus kujawab.. baiklah.. aku sudah menyelesaikannya. Tapi sensei tidak akan memberikannya kepadamu sebelum kau memutuskannya, Nagisa. kau mau sensei memberi antidotenya sekarang?" Tanya koro sensei. Nagisa menatap koro sensei. Tentu saja itu antidote yang sudah ia tunggu bukan? Nagisa ingin berteriak dan menegaskan bahwa dia akan meminumnya saat itu juga! Tapi.. mulutnya terkunci rapat. Apa yang salah dengannya? Koro sensei memperhatikan muridnya yang nampak tengah berdebat dengan dirinya sendiri. Kemudian gurita kuning itu mengangkat tentakelnya dan menyentuh titik nadi dilehernya. Perlahan Nagisa merasa dirinya kehilangan ketegangan.
"Kau bahkan belum yakin, Nagisa.. kalau boleh sensei tau, apa yang membuatmu belum yakin,hm?" Tanya koro sensei. Nagisa menunduk.
"Sensei.. aku.." Nagisa menggantung kalimatnya. Detik berikutnya ia tak tau kenapa, tapi ia yakin ia sangat ingin menangis. Koro sensei tersenyum melihat punggung mungil itu bergetar kecil. Kemudian ia mengelus punggung itu sembari mendengarkan perkataan terbata sang murid biru.
Ansatsu Kyoushitsu
Karma melempar panah kecil ditangannya. Mencoba membidik jitu kearah papan berbentuk lingkaran yang tertempel didinding. Ia bosan. Sudah sejak sore Nagisa meninggalkan rumah dan sekarang ia sendirian dirumah sebesar itu.
"Haah~ apa yang sebenarnya mau ia diskusikan bersama gurita itu?" keluhnya. Kemudian ia melempar panah terakhir dan, berhasil! Karma meninggalkan tempat itu dan meraih jaketnya. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan saja. Ia melangkah keluar rumahnya dan meraih ponselnya. Kemudian ia mengetik beberapa kalimat dan mengirimnya.
"setidaknya Nagisa tidak perlu menungguku untuk masuk kerumah." Pikirnya sembari meletakkan kunci rumah dibawah pot sebelah pintu. Kemudian ia berjalan meninggalkan pekarangan rumahnya. Entahlah, dia tak ada ide apa yang harus dilakukannya. Juga kemana ia harus pergi. Tapi Karma yakin, jika ia mengikuti kakinya, ia akan tau kemana ia harus pergi untuk mengusir kepenatan dikepalanya. Karma sampai di tengah kota dengan keramaiannya. Ia melihat kedalam swalayan dan memutuskan untuk membeli beberapa kebutuhan. Ibunya tidak meninggalkan banyak di lemari dapurnya. Setelah membeli beberapa bahan dan camilan, Karma melangkah meninggalkan swalayan tersebut.
"Hmm~ mungkin sebaiknya aku pulang saja." Gumamnya saat melihat jam ditaman dengan jarum pendek menunjuk angka 7. Langit sudah menggelap dan bulan sabit permanen itu sudah tersenyum lebih tinggi. Karma yakin Nagisa sudah pulang. ia baru saja berbelok saat seekor kucing menyelinap diantara kakinya. Karma mengernyit heran melihat kucing berbulu hitam itu. Karma berusaha mengabaikan kucing itu. namun kucing hitam itu terus mengeong sambil sesekali menggelayut dikaki Karma. Karma menghela nafas dan membungkuk untuk menggendong kucing itu.
"Hee~ kau tau kalau aku bisa menjamin hidupmu ya?" gumamnya. Kucing didepannya mengeong pelan. Kemudian Karma memperhatikan kaki kucing tersebut. Berdarah. Karma mengerjapkan matanya kemudian ia memeluk kucing itu dan bergegas pulang.
Ansatsu Kyoushitsu
Pintu rumah besar itu terbuka lebar saat Nagisa sampai di halaman rumah kediaman keluarga Akabane. Nagisa mengernyit heran sebelum akhirnya bergegas melangkah memasuki rumah itu. setengah berharap itu hanya ulah Karma yang lupa menutup pintu. Dengan langkah waspada, Nagisa berjalan dilorong rumah itu sambil memperhatikan sekitarnya dengan awas. Kemudian ia mendengar suara berisik dari arah ruang televisi. Nagisa menelan ludahnya. Dengan lebih pelan lagi, Nagisa melangkah kearah suara. Nagisa melongokkan kepalanya kearah ruang televisi. Televisi itu menyala dan ia bisa melihat ruangan itu cukup berantakan. Kemudian matanya tertuju pada surai merah yang nampak di lengan sofa ruangan itu. Nagisa menghela nafas lega.
"Karma-kun." Panggil Nagisa. tidak ada respon dari helai merah itu. Nagisa segera mendekatinya dan menemukan pemandangan yang menurutnya.. menarik. Disana, Karma tengah terlelap dengan sesuatu yang berbulu ditangannya. Kucing hitam dengan kaki diperban itu bergelung lembut didekapan Karma. Dan dari yang Nagisa lihat disekitarnya, Nagisa bisa menyimpulkan bahwa Karma baru saja mengobati kucing hitam itu, dan memberinya makan. Nagisa tertawa kecil. Kucing itu nampak sangat nyaman dalam dekapan Karma. Nagisa-masih tersenyum- memainkan rambut merah Karma.
"Ternyata dia bisa semanis ini. kucing itu pasti juga merasakannya. Bahwa Karma-kun akan bisa menjaganya dengan baik. Seperti yang selalu kurasakan. Hhh.. kucing itu beruntung sekali."Pikir Nagisa. kemudian ia memanas. Tunggu, apa ia baru saja berfikir bahwa kucing hitam itu beruntung bisa tidur dalam dekapan Karma? Nagisa menepuk pipinya keras. Membuat surai merah itu bergerak.
"Gawat! Apa aku membangunkannya?" pikir Nagisa. namun Karma hanya merubah sedikit posisinya tanpa melepas kucing hitamnya. Nagisa bernafas lega. Kemudian ia beranjak untuk membereskan kekacauan hasil bermain Karma dan kucing hitam itu.
Ansatsu Kyoushitsu
Karma menggeliat tak nyaman saat merasakan sesuatu yang basah menyapu wajahnya. Ia mengernyit dan perlahan membuka matanya. Manik pucatnya bersibobok dengan manik kuning cemerlang yang asing baginya. Butuh 5 detik bagi Karma untuk menyadari siapa yang tengah menatapnya. Itupun karena suara meong yang hinggap ditelinganya, dan harum masakan yang menelusuk indra penciumannya. Karma bangkit dari tidurnya dan memijit tengkuknya. Kucing hitam itu reflek meloncat dari dada Karma. Kini ia sibuk bermain dengan kaki Karma.
"selamat pagi, Karma-kun." Karma menoleh dan melihat Nagisa tengah menggoreng sesuatu.
"kalau kau tidak segera bangun, kita bisa terlambat ke sekolah, Karma-kun." Ujar Nagisa tanpa menoleh.
"Ugh.. kenapa kau tidak membangunkanku?" Tanya Karma. Nagisa tertawa.
"Sebenarnya aku sudah berniat membangunkanmu. Hanya saja.. kucing hitam itu sudah terlanjur mencuci wajahmu. Jadi kurasa dia bisa membangunkanmu." Jawab Nagisa. kemudian ia mengambil piring kosong diatas meja dan memindahkan telurnya.
"Bersiap-siaplah. Biar aku yang menyiapkan makanannya. Meskipun aku yakin rasanya akan kalah dari masakanmu, Karma-kun. Tapi setidaknya kita tidak akan terlambat kesekolah." Ujar Nagisa. Karma menguap pelan dan tersenyum.
"Kau tau, Nagisa~.. kurasa kita mirip." Ujar karma. Nagisa menoleh dan mengerutkan alisnya.
"Ha?" tanyanya tidak paham. Karma tersenyum jahil.
"Mirip pasangan suami istri dipagi hari!" jawabnya. Nagisa menatap Karma tidak percaya. Sepertinya iblis merah itu masih belum sadar betul.
"Kau setuju kan, Sebastian?" Tanya Karma sembari mengangkat kucing hitam itu. kucing itu hanya mengeong dan kembali menjilat wajah Karma. Karma tertawa. Sedangkan Nagisa mengangkat alisnya.
"Sebastian? Kau menamai kucing itu dengan Sebastian?" Tanya Nagisa tidak percaya. Karma mengangguk.
"Dia sangat hitam. Dan itu mengingatkanku pada salah satu tokoh anime favoritku. Namanya Sebastian. Dia iblis yang dikontrak manusia dan menyamar sebagai butler. Dia suka kucing dan dia..-" Nagisa tidak mendengar kelanjutannya. Ia hanya sibuk berfikir dan tertawa datar diam-diam. Jadi dia memberi nama kucing polos itu dengan nama iblis? Apa memang Karma benar-benar titisan iblis seperti yang dikatakan teman-temannya?
Ansatsu Kyoushitsu
"Nah.. menurutmu, bagaimana kalau kita menjebak Koro sensei dengan majalah-majalah milikku?" suara okajima terdengar bersemangat. Saat itu, para murid tengah menikmati makan siangnya. Sedangkan koro sensei bilang dia sedang ada urusan sebentar.
"Tidak! kau sudah pernah mencobanya." Jawab Maehara.
"Hee? Tapi kau lihat bagaimana reaksinya terhadap majalah itu bukan? Dia jadi sangat lambat! Iya kan, Nagisa? Sugino?" Okajima menoleh meminta pembelaan. Nagisa dan sugino hanya tertawa sweatdrop. Okajima mengelak dan bersikeras bahwa itu adalah salah satu cara yang tingkat keberhasilannya bisa jadi sangat tinggi. Mereka memang tengah menikmati makan siang sambil mendiskusikan tata cara membunuh yang jitu untuk sensei mereka itu.
"Hmm.. hei..hei.. apa menurut kalian didunia ini ada racun yang bisa membuat pergerakan makhluk hidup melambat?" Tanya Nakamura.
"Eh? Bisa saja sih. Mungkin juga sejenis obat penenang ya.." gumam Isogai.
"Tapi.. apa racun itu memiliki efek untuk gurita kuning itu? maksudku, sejak dulu racun buatan Okuda tidak berlaku wajar untuk Koro sensei kan? misalnya, jika kita yang minum akan menyebabkan sesak nafas, untuk sensei malah akan membuatnya menjadi gelembung yang aneh." ujar Kataoka.
"Hmm.. kenapa kau tak membuat bersama sensei saja, okuda?" usul Hinata.
"ugh.. bisa-bisa koro sensei menyalahgunakan bakat Okuda lagi!" Sugaya menjawab usul Hinata.
"Ne..ne.. bagaimana kalau kita menggunakan kekuatan ultimate kita!" Kali ini Fuwa mengatakan kalimatnya dengan berapi-api.
"Maksudnya?" Tanya Kurahashi bingung.
"Misalnya, Hara bisa membuat makanan enak yang sudah ditaburi berbagai macam racun. Kemudian Hazama bisa membuat Koro sensei menjadi korban kutukan-kutukan yang ia pelajari. Dan juga..-"
"Koro sensei suka manis! Akan kubuatkan puu-"
"TIDAK!" tawaran Kayano tertolak dengan mengenaskan. Mereka masih ingat bagaimana Kayano berakhir membenturkan kepalanya berkali-kali hanya karena pudingnya akan diledakkan. Bagaimana jika pudding diberi racun? Bisa-bisa ia malah memaksa ikut makan pudding!
"Hmm.. jadi semacam serangan beruntun dengan apa yang kita punya ya?" Isogai nampak berfikir sejenak. Kemudian ia mengangkat wajahnya. " Mau mencoba?" tawarnya. Para murid tersenyum dan mengangguk.
"Lebih baik daripada tidak melakukan usaha pembunuhan apapun. Ah! Kau bisa mencoba reaksi perlengkapan anehmu pada sensei, karma!" usul Maehara. Karma hanya tersenyum seperti biasa.
"Ok~." Jawabnya.
"Nah.. nah.. kapan kita akan melaksanakan pembunuhan ini? aku akan membawa semua koleksi majalahku!" ujar Okajima bersemangat.
"Apa aku perlu meluncurkan Itona XXVI ini ke basecamp para artis terkenal dan membuatnya menjadi tontonan acara pembuka nanti?" Tawar Itona.
"err.. kurasa tidak perlu, Itona." Jawab Isogai. Sedangkan Okajima langsung mengajak Itona kebelakang kelas. Mendiskusikan entah apa.
"Yosh! Kalau begitu kapan kalian ada waktu luang?" Tanya Isogai.
"hmm.. tidak perlu berlama-lama.. kurasa sabtu ini semua pasti bisa kan?" Tanya Hinata. Semua mengangguk.
"Sabtu ya… ok! Kurasa tidak ada masalah." Ujar sugino semangat. Para murid menjawab kesanggupannya untuk hadir dihari sabtu.
"aa.. maaf tapi.. Sabtu ini aku.. tidak bisa." Tiba-tiba satu kalimat itu bisa menghentikan dengungan yang tadi memenuhi kelas. Semua menoleh kearah Nagisa.
"Hm? Nagisa?"
"Um. Aku tidak bisa. Aku.. harus melakukan sesuatu." Ujar Nagisa. semua mata mengerjap. Kemudian Nakamura merangkul Nagisa.
"Hee~ kau ada janji kencan, Nagisa-chan?" Tanya Nakamura. Nagisa sweatdrop.
"Tidak.. kurasa." Jawabnya.
"Kurasa? tunggu! katakan, apa yang akan kau lakukan?" tanya Nakamura lagi.
"aku.. aku ada janji dengan seseorang." Jawab Nagisa pelan.
"Laki-laki atau perempuan?" Kali ini Hayami yang bertanya. Nagisa menoleh dan menatap Hayami bingung.
"Laki-laki." Jawab Nagisa.
"SIAPA LAKI-LAKI ITU?" Tanya para murid. Nagisa mengerjapkan matanya semakin bingung.
"Nagisa, kau akan keluar dengan siapa sabtu nanti?" Tanya Karma. Suaranya santai.
"Tidak..kemarin aku tidak sengaja melakukan kesalahan pada Asano-kun dan.."
"KAU PERGI DENGAN ASANO?" Nagisa bahkan belum menyelesaikan kalimatnya. Teman-temannya sangat jeli jika itu berhubungan dengan sang ketua osis sempurna itu.
"U..um. tapi itu hanya.."
"Tunggu.. ini.. yang kau maksud itu Asano Gakushuu atau Asano Gakuhou?" Tanya Maehara.
"Maehara, kau fikir Nagisa mau menemani kepala sekolah untuk pergi kencan?" Tanya Hinata tak percaya.
"siapa yang tau? Mungkin dia berniat menculik Nagisa dan menjadikannya barang jaminan agar kita tidak..-"
"Maehara.. kau terlalu berlebihan." Jawab Nagisa lesu.
"Nah, kenapa kau harus pergi dengan Asano?" Tanya Karma. Nagisa menatap Karma bingung. Kemudian ia menghela nafas dan menceritakan apa yang terjadi. Kenapa ia harus mau pergi dengan Asano.
"hmm~.. jadi kau mau bilang kau menawarkan balas dendam pada asano-kun itu?" Tanya Karma. Nagisa mengangguk. Kemudian..
"PLETAK"
"KARMA-KUN!" Nagisa mengusap kepalanya. " Untuk apa pukulan itu?" Tanya Nagisa.
"Bodoh! Mana ada orang yang menawarkan balas dendam?" seisi kelas mengangguk setuju dengan pendapat Karma.
"aku hanya.. merasa bersalah saja. Dan tanpa sadar aku mengucapkannya. Tapi kurasa kalian tidak perlu khawatir. Asano-kun hanya memintaku untuk menemaninya seharian besok. Ugh.. meskipun itu mungkin bermaksud untuk menjadikanku pembantunya selama sehari.." Nagisa menggumam diakhir. Semua orang hanya bisa berfikir:
"tentu saja itu bahan balas dendamnya.. Asano menyukaimu, Nagisa.."
" Hhh.. kalau kau memang tidak bisa, kurasa tidak apa. Kita bisa mengurangi jatah satu orang dari 30 milyar yen itu jika berhasil!" ucap Nakamura bermaksud menghibur Nagisa dan dirinya sendiri. Nagisa tertawa datar.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita mendiskusikan pembunuhan ini sepulang sekolah? Kau bisa pulang duluan, Nagisa.. wanita memerlukan waktu 24 jam untuk mempersiapkan kencan loh~" ujar Nakamura.
"ugh.. tapi kurasa besok itu tidak bisa disebut kencan, Nakamura-san.." jawab Nagisa.
"Benarkah? Tapi kau harus pulang lebih dulu nanti! Setidaknya kau harus mempersiapkan mentalmu." Nagisa mengangkat alisnya. Kenapa sekarang ia jadi diusir dari kelas? Para murid membenarkan ucapan Nakamura. Mereka bukannya tega dengan Nagisa. hanya saja mereka sudah faham maksud Nakamura mengusir Nagisa. Isogai hanya menghela nafas saat ia membaca apa yang akan terjadi sepulang sekolah. Ya, ia yakin rapat pembunuhan tidak akan dilaksanakan nanti. Ia yakin rapat pembunuhan itu akan berubah judul menjadi "RAPAT WAJIB: MISI PENYELAMATAN NAGISA DARI ASANO."
Dan Isogai tidak yakin ia akan memimpin rapat sore itu.
Ansatsu Kyoushitsu
Tbc
Hyaaa.. apa kabar? Amaya ga baik.. efek baper ini anime tamat.. ugh… saya takut kehilangan kalian (?)
Kiyona: * bantuin jedotin kepala*dilempar
Yah.. saya juga berharap yusei Matsui bisa gila melihat mereka bermesraan XD. Terimakasih sudah mampir ^^
ParkYuu:hehehe.. maaf menunggu.. ok~ terimakasih sudah mampir :D
Akatsuki akane: hehehe… Karma gam au nembak dulu.. dia milih main slow(?). mungkin dia lelah XD. Terimakasih sudah mampir J
Megu536: aaaaa memalukaaan.. hiks. Iya saya lagi ga konsentrasi.. soalnya abis garap fic hxh dari fandom sebelah. Jadilah kurapika mampir sejenak /.\. hehehe.. saya memang rencana mau ganti penname jadi Ms. Typo. Huft.. saya rawan typo gara gara laptop error dan sayanya males baca ulang XD. Sama-sama.. terimakasih banyak sudah mampir ^^
Aeon zealot Lucifer: fufufu.. maafkan saya (?).nggak.. Karma tidur beneran kok.. kali ini dia ga jahil.. dia beneran jadi korban ciuman Nagisa XD. Ok~ terimakasih sudah mampir :D
Kawaii Neko: iya! Iya! Harusnya Karma kebagian jatah.. ga cuman Kayano aja*eh
syukurlah kalau menghibur :D. terimakasih sudah mampir ;)
nanaseID7: saya juga kekurangan! Makanya saya memutuskan untuk menulis asupan untuk saya sendiri XD. Terimakasih sudah mampir ^^
Karen Ackerman: wkwkw.. Karma lagi sial (?). Nagisa masih ga bisa percaya kalau dia cinta (?) ama karma.. poor Nagisa.. terimakasih sudah mampirrrr :D
Frwt: iya! Si akabane Kanade aka ibunya Karma yang tingkat isengnya udah parah, moto itu anak dua. Dan entah kapan dikirim ke grup chat kelas 3 E XD. Terimakasih sudah mampir ^^
Denia: hiks.. saya juga pengen banget update 2minggu sekali.. tapi apa daya.. sambungan internetnya yang menjadi kendala T.T
Terimakasih banyak supportnya J
Yamashita Takumi9: hahahaha… saya harap sayalah yang jadi emmaknya Karma! Saya mau lihat fotonya!*eh
iya.. aduh maaf sekali karena terganggu dengan typonya.. maklum.. laptop saya suka ganti-ganti kata sendiri, hapus sana sini sendiri, laptop saya memang mandiri*plak
terimakasih sudah mampir ^^
Hani Ninomiya arioka: hehehe… maaf.. maaf.. ini saya panjangin lagi ^^. Nagisa kan polos-polos menantang (?) terimakasih sudah mampir ^^
Minna4869: ok~ terimakasih sekali untuk supportnya.. sangat membantu.
