Suasana pagi dirumah keluarga Min.
Tuan dan Nyonya Min serta kedua putranya sedang menikmati sarapan mereka masing-masing. Sedikit informasi, Suga selama ini tak tinggal dorm seperti member grup umumnya. Ia dan Dowoon, tinggal di rumahnya masing-masing. Sementara Mina dan Wheein yang jauh dari kampung halamannya memilih tinggal di dorm.
Kembali pada suasana diruang makan keluarga Min. Semula, hanya denting alat makan yang terdengar disana, namun semuanya tiba-tiba dikejutkan oleh Yoonjae yang tersedak begitu keras.
"UHUK!"
Spontan nyonya Min memberikan segelas air putih pada putra sulungnya itu.
"Uh, Yoonjae-a, kau tak apa?" Tanyanya khawatir. Yoonjae yang telah meneguk habis minumnya itu mengangguk walau sesekali masih terbatuk. "Hati-hatilah sayang." ucap ibunya kemudian.
"Yoonjae-a. Jangan biasakan membawa gadgetmu saat makan. Lihat akibatnya." kali ini giliran Tuan Min yang menegur.
"Aku mengerti, ayah. Lain kali takkan ku
ulangi." Jawab Yoonjae sambil mengangguk kemudian menunduk.
Nyonya Min tersenyum geli. Kadang putra sulungnya itu bertingkah imut seolah lupa usia. Oh, tapi itu hanya berlaku dirumah. Jika sudah dikantor, dia akan berubah total.
"Lagipula apa yang membuatmu sampai tersedak begitu, uh? Apa terjadi sesuatu di perusahaan?" Tanya ibunya.
Yoonjae menegakkan wajahnya, lalu kembali teringat apa yang membuatnya tersedak tadi "AH! Ini semua gara-gara Yoongi!"
Suga yang sejak tadi diam, sontak menatap hyungnya itu dengan alis bertaut, "Kenapa hyung menyalahkanku?"
"Lalu menurutmu aku harus menyalahkan siapa jika sudah membaca ini?" Yoonjae balik bertanya sambil menunjukkan layar ponselnya. Sesuatu yang tadi ia baca dan membuatnya kaget hingga tersedak. Sesuatu yang justru ditanggapi dengan wajah datar oleh adiknya.
[Min Suga akhirnya memberi konfirmasi dan menyangkal dengan tegas soal rumor pertunangannya!]
"Kau berlebihan." Ucap Suga sambil kembali menyuap sarapannya. kontan saja kakaknya itu membulatkan mata.
"WHAT? yang benar saja! berlebihan katamu? Tentu saja reaksiku ini wajar, bodoh!"
Tuan dan nyonya Min saling berpandangan dengan raut wajah bingung.
"Yoonjae-a, sebenarnya ada apa?" Sang ibu bertanya kembali
"Ayah, ibu. Lihat ini!"
Kali ini si sulung menunjukkan ponsel itu pada kedua orangtuanya. Tak perlu menunggu banyak detik, reaksi yang sama seperti Yoonjae juga ditunjukkan oleh mereka. Mereka membelalakan matanya, lalu menatap tajam pada Suga yang masih sibuk menyelesaikan sarapannya.
"Min Yoongi," Tuan Min bersuara penuh ketegasan. "Jelaskan soal ini. apa yang sudah kau lakukan, Min Yoongi?!"
Suga menghela nafasnya lelah.
"Bukan apa-apa. Tak ada yang harus ku jelaskan." Jawabnya tanpa beban membuat ayahnya naik darah saat itu juga. Aura-aura panas mulai menguar di meja makan ini.
"Tarik kembali ucapanmu itu, Min Yoongi!"
"Tidak."
"Kubilang tarik kembali!"
Prang!
"AKU TIDAK MAU AYAH!"
Suga tanpa sadar membanting alat makannya cukup keras, lalu membentak ayahnya. Yoonjae dan Nyonya Min sontak terkejut.
"Apa maksudmu dengan tidak mau? Kau mau membuat ayah malu pada keluarga Park?! Tarik kembali ucapanmu! Katakan bahwa kau memang benar sudah bertunangan!" Tuan Min tetap dengan ketegasannya. Menatap mata putra bungsunya dengan tajam. Tak ayal membuat Suga mengusap wajahnya frustasi.
"Tolong mengertilah, ini tak semudah yang kau perintahkan, ayah. Aku tak mungkin mengatakan pada mereka tentang ini. Aku tak bisa!"
"Kenapa tak bisa?!"
"Agensi melarangku untuk memiliki kekasih sebelum peluncuran album. Jika mereka tahu ini, aku akan didepak! dan aku tidak mau!" Jelas Suga yang membuat ketiga orang yang lain menatapnya tak percaya.
"Apa? Jadi kau berbuat seperti ini hanya untuk melindungi karirmu saja? Lalu kau tak memikirkan perasaan Jimin?" Yoonjae angkat bicara.
Mendengar nama Jimin lagi, membuat emosi dan ego Suga kian memuncak. Ia menoleh tajam pada hyungnya, lalu balik bertanya "Kenapa aku harus?"
"A-apa?"
"Kenapa aku harus memikirkan orang itu? Tentu saja aku akan lebih memilih karirku dibanding dia."
"Min Yoongi!"
Suga kembali menatap ayahnya.
"Harus berapa kali kukatakan pada kalian? Aku, sejak awal tak pernah suka terikat dengannya. Cepat atau lambat aku akan memutuskan ikatan konyol ini. Kenapa? Ayah takut akan kehilangan bantuan dari keluarga orang itu? Tenang saja, aku akan membuat keluarga kita membaik lagi tanpa harus merasakan hutang budi seperti ini. Maka iya, biarkan aku tetap fokus pada karirku tanpa harus memikirkan orang itu." Tuturnya panjang , lalu berdiri dan meninggalkan anggota keluarganya yang kini terdiam. Menatap punggung si bungsu yang kian menjauh, dengan pemikiran yang sama.
Kenapa anak itu keras kepala sekali?
.
.
.
Suga mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya tertuju pada seseorang yang membuat amarahnya muncul pagi-pagi begini. Dia yang (Suga kira) menjadi dalang dibalik semua kekacauan kemarin. Dia, yang selalu menjadi penyebab pertengkaran Suga dengan keluarga nya sendiri. Dia, yang sialnya adalah tunangan Suga saat ini.
Park Jimin
Park Jimin
Park Jimin
Semakin sering nama itu terlintas, semakin Suga menekan pedal gas dan mengeratkan tangan pada stir mobilnya.
"Kenapa kau mesti hadir dihidupku, Park Jimin..."
myfiancé
'Ini untuk yang terakhir kalinya aku menegaskan. Sampai saat ini, Aku belum pernah terikat hubungan apapun dengan siapapun. Jadi, semua rumor yang beredar, murni kebohongan oknum yang tak bertanggung jawab. Ku tegaskan sekali lagi, bahwa Aku, Leader ROCKMANTIC Band, Min Suga, belum memiliki tunangan.'
"Whoaaaa~ daebak daebak! Min Suga ini tegas sekali rupanya. Rumor baru beredar kurang dari dua puluh empat jam, dan dia sudah berani mengklarifikasi sendiri? Langsung di depan pers pula?! Whoaaa benar-benar leader!"
Jeonghan berseru heboh setelah menonton tayangan di Youtube tentang klarifikasi seorang Min Suga. Tentu, tentang rumor pertunangannya itu.
Di samping kanannya, ada Seungcheol yang menatap kehebohan Jeonghan dengan malas.
Serius, ini masih pagi . Mereka bahkan baru datang, tahu-tahu Jeonghan langsung menyeret Seungcheol dan Jimin untuk mengobrol ditaman samping kampus.
Ternyata dia hanya ingin mendapat akses WiFi untuk menonton berita tentang Min Suga itu! Bagaimana Seungcheol tak sebal?
Oh, Jimin!
Jangan lupakan pemuda bersurai hitam legam yang duduk disisi kiri Jeonghan. Kalau Seungcheol perhatikan, wajah anak itu pagi ini lebih pucat dari biasanya. Ocehan Jeonghan pun hanya ia tanggapi dengan gumaman saja. Jimin sedikit pendiam hari ini.
Tunggu, biasanya juga pendiam.
Tapi...ini sedikit aneh dimata Seungcheol.
"Tapi, aku tak percaya kalau Min Suga ini belum punya tunangan, bahkan kekasih? Dengan wajah tampan dan karir semapan itu, mustahil sekali dia masih single?" Jeonghan kembali bersuara.
"Yak~ Bukankah kemarin sudah kubilang? takkan ada yang mau berpacaran dengan orang macam Min Suga. sudah dingin, jarang berinteraksi dengan orang, penggemar fanatiknya banyak pula. kurasa siapapun yang menjadi kekasihnya itu takkan bertahan lama." Seungcheol menanggapi sambil sesekali melirik Jimin.
Anak itu lagi-lagi tak bersuara. hanya menatap kosong kedepan, sambil sesekali mengedipkan matanya.
"Heol~ dasar sekop!"
"sudah kubilang itu Scoups Jeonghan, bukan sekop!"
"Ha? ya itulah pokoknya, kau selalu saja begitu pada Min Suga! Ah, tunggu! Bagaimana kalau, Min Suga ini sebenarnya sudah punya kekasih, tapi menyembunyikannya dari publik? Bisa saja kaaan?"Ujar Jeonghan mengira-ngira
"Ya ya ya~ tebaklah saja sesuka hatimu, Jeonghan-a !" Timpal Seungcheol kemudian.
"Huh, Sekop tak asik! Tak bisa diajak sharing!"
"Sharing apa? Kau ini menggosip!"
"Tak asik! Tak asik! Ah, lebih baik tanya Jimini saja. Chim, bagaimana menurutmu? Apa mungkin ya Min Suga sudah punya kekasih tapi ia menyembunyikannya?" Namja bermarga Yoon itu beralih meminta perhatian Jimin. Namun yang ditanya malah diam beberapa detik, untuk kemudian berkata,
"Nggg-, sepertinya aku harus ke toilet sebentar Jeonghan-a. Maaf ya..."
Kemudian beranjak dengan cepat menjauhi mereka. Jeonghan mengerjapkan matanya heran.
"Loh? Chim? Jimini- aish~" Decaknya kesal karena Jimini-nya juga tak bisa ia ajak sharing. Sementara Seungcheol diam-diam menautkan alisnya melihat kepergian sahabat mereka itu. Tak dihiraukannya ocehan Jeonghan yang tak kunjung berhenti. Sebersit rasa khawatir yang entah darimana datangnya membuat Seungcheol beranjak dari duduknya hendak menyusul Jimin.
"Yak Yak Yak! Kau mau kemana Choi sekop?!" Jeonghan menarik pergelangan tangan Seungcheol yang tiba-tiba melangkah itu.
"Tunggu disini sebentar, Jeonghoney. Aku akan kembali. Okay?"
Dia melepaskan pegangan Jeonghan dengan lembut, kemudian sedikit berlari untuk menyusul Jimin. Meninggalkan Jeonghan dengan segala keheranannya.
"Mereka berdua kenapa sih?!"
myfiancé
'Ku tegaskan sekali lagi. bahwa aku, leader ROCKMANTIC Band, Min Suga, Belum memiliki tunangan.'
'Min Suga, belum memiliki tunangan.'
'BELUM MEMILIKI TUNANGAN.'
Jimin tersenyum pahit saat sekelebat kalimat itu terus saja terngiang ditelinganya. Sudah berapa kali dia mendengar dan membaca kalimat itu hari ini?
Sudah berapa kali hatinya merasa tersakiti?
Min Suga,
...belum punya tunangan.
Min Suga,
...tak mengakuinya.
"Tentu saja," Jimin membasuh wajahnya dengan air di wastafel. Ia lalu bercermin, memperlihatkan wajah pucatnya disana. "...Min Suga belum punya tunangan. yang terikat bersamaku kan Min Yoongi, bukan...Min Suga." Ia melanjutkan monolognya. Terus menatap wajahnya yang tampak kurang baik hari ini.
"Ah,"
Sesuatu mengalir dari hidungnya, membuat ia terkejut dan cepat-cepat membasuh wajahnya lagi dengan air. Seketika, cairan yang mengalir di wastafel itu berubah menjadi merah muda.
"Uh, kenapa tidak mau berhenti?!" Dia menggerutu, sambil merogoh sapu tangan dari saku jeansnya dan mulai sibuk menyumbat sesuatu yang mengalir cukup banyak dari hidungnya.
Tanpa Jimin sadari,
Disalah satu bilik toilet itu, Seungcheol tengah tercengang mendengar monolog Jimin yang tentu mengejutkan tadi.
'Apa? Park Jimin terikat dengan siapa?'
Meyakinkan diri jika dia salah dengar. Hendak membuka pintu bilik itu, menanyakan langsung pada sahabatnya. Sebelum sebuah suara derap langkah kaki yang tegas menghentikannya. Memaksa Seungcheol untuk tetap disana, dan mengurungkan niatnya.
Jimin tak langsung menyadari apa yang terjadi saat tiba-tiba seseorang memutar balik pundaknya, lalu mendorongnya dengan keras hingga ia tersudut ke tembok. Sesuatu yang mengalir tadi lumayan banyak dan membuatnya sedikit pusing serta tak fokus.
untuk sesaat pandangannya berkunang, namun suara seseorang itu membuat semua fokusnya seketika kembali.
"Brengsek, apa yang sudah kau lakukan padaku...?"
Suara itu,
Jimin membuka mata, dan terkejut melihat siapa yang ada dihadapannya.
"Yoongi hyung...?" serunya pelan.
"Apa yang sudah kau lakukan padaku, Park Jimin?!" Sosok yang ternyata Suga, Yoongi hyungnya, itu kembali bertanya dengan penuh penekanan. Matanya menatap nyalang pada Jimin membuat anak itu sedikit gemetaran.
"A-apa maksudmu, Yoon-"
"Mengaku saja! Kau. Pasti kau bersekongkol dengan keluargamu untuk menghancurkan karirku!"
"...?"
"Katakan Park Jimin, kau kan yang sudah memerintah salah satu keluargamu untuk menyebar rumor tentang pertunangan itu?" Suga menuding
Sementara Jimin, ia hanya menatapnya dengan pandangan sayu tak percaya.
Apa katanya?
Dia menuduh Jimin apa?
"K-kau marah padaku? Kau menyalahkanku tentang semua ini?"
"Lalu menurutmu siapa yang harus ku salahkan?" Suga melempar balik pertanyaannya, masih menatap Jimin dengan tajam.
Mendengar itu, Jimin tertawa pahit.
Suga marah padanya? Apa dia gila?
Coba telisik lagi, siapa yang sebenarnya harusnya marah saat ini? Siapa yang berhak memaki disini? Tidakkah harusnya ini Jimin?
Tangannya dibawah, menggenggam erat sapu tangan penuh nodanya. mencoba mengalihkan segala rasa sakit yang mendera.
Di kepalanya, dipunggungnya (yang tadi dibenturkan keras oleh Suga), dan tentu saja,
...dihatinya.
"Jawab Park Jimin. Kau kan, yang telah menyebarkan rumor ini?" Desak Suga lagi. kali ini sambil mencengkeram kedua bahu Jimin dengan kencang. Tanpa perduli tunangannya itu akan merasa sakit, atau bahkan tak perduli jika wajah orang dihadapannya ini sudah pucat setengah mati.
"Rumor?" Jimin berbisik "...bahkan jika itu aku, Yoongi hyung. Tidakkah aku berhak? Tidakkah aku pantas menyebar hal yang sebenarnya fakta ini?" tanyanya seraya menahan tangis yang siap pecah saat itu juga.
"Tidak. Tidak sama sekali."
Sayangnya itu tak berpengaruh banyak untuk Suga agar merasa kasihan. Sebaliknya, lontaran kalimat Jimin justru ia anggap sebagai pengakuan tak langsung jika memang benar dia dalang dibalik semuanya
"aku membangun karir ini susah payah seorang diri, dan kau mau menghancurkannya begitu saja Park Jimin? Tidak akan kubiarkan."
"..."
"Kau kira karena dirimu orang kaya, kau bisa berkuasa? kau pikir karena kita bertunangan maka kehidupanku bisa seenaknya kau kendalikan?! Sialan, kenapa kau tidak mat-"
Suara ponsel Jimin menghentikan ucapan Suga. Namun sang pemilik tak menghiraukan nya. ia lebih memilih menatap Suga, menunggu kalimat apa yang sebetulnya ingin diucapkan lelaki itu.
"Apa? Kenapa aku tak apa? Kau mau bilang apa?!" Jimin bertanya disela-sela dering ponselnya.
Suga melepaskan tangannya dari bahu Jimin
"Angkat teleponmu dulu!"
Alibi. Sebenarnya ia sedikit terkejut dalam hati. Ia hendak bilang apa tadi? Jika saja ponsel itu tak berdering, apa ia akan sungguh-sungguh mengucapkannya ?
'Kenapa kau tak mati saja ?'
"Halo- Ah? Ya bibi. Aku di kampus. ada apa? Uhm, Yoongi hyung?"
Suga sedikit tersentak saat Jimin yang sedang menerima telepon itu menatapnya sekilas.
"...ah dia ada bersamaku. Tunggu, ada apa sebenarnya bi- apa?!"
Lagi-lagi Jimin menatapnya, kali ini dengan pandangan khawatir.
"I-iya bibi. aku mengerti. aku dan Yoongi hyung akan segera kesana. iya, bibi. sampai jumpa nanti."
Setelah sambungan telepon terputus, Suga langsung bertanya pada Jimin.
"Siapa?!"
"Bibi Lee. Dia...menanyakan soal beritamu. Kita harus segera kerumahku untuk memberinya penjelasan."
Suga berdecak kesal, "Penjelasan apa lagi? Ya Tuhan, kenapa keluargamu menyebalkan sekali?! Aku tidak mau. Aku sib-"
"Yoongi hyung, please?" Mohon Jimin dengan sungguh. Akhirnya, mau tidak mau Suga harus menurut juga. Ia dan Jimin pun keluar dari toilet itu. Tanpa tahu fakta bahwa, dua orang menguping mereka sedari tadi.
Dua orang ?
Ya.
Choi Seungcheol yang sedang tercengang hebat di bilik toilet, dan Yoon Jeonghan yang berdiri didepan pintu toilet yang sedikit terbuka.
Diam-diam anak itu mengikuti, dan kini diam-diam menjauh sebelum Suga dan Jimin keluar dari sana.
"mereka...bertunangan?"
myfiancé
Hening.
Selain deru mesin mobil, tak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan suara.
Suga menyetir dalam diam, dan Jimin diam dalam lamunannya. Tangannya menggenggam sapu tangan yang ternoda, dan matanya menatap kosong pada luar jendela. Wajah pucatnya kian pucat karena sakit dikepalanya masih sedikit mendera. Pun, dihatinya yang masih tak percaya.
Apa ini?
Suga tak mengakui keberadaannya dari orang-orang. Dan ia tak diizinkan merasa sakit hati karena hal ini. Sebab, sang pemberinya rasa sakit sudah terlebih dahulu menuduhnya dengan hal yang bahkan ia tak tahu. Membuat keadaan terbalik, seolah-olah Suga lah korban disini dan Jimin adalah hulu masalahnya.
Lalu sekarang, Bibi Lee, satu dari sekian saudara yang mengasuhnya sejak ibunda Jimin meninggal, ikut mempertanyakan tentang kekacauan ini.
Tentu, ibu mana yang tak marah, bila melihat anaknya tak diakui oleh tunangannya sendiri didepan publik begini?
'Jangan tanya padaku, bibi. aku tidak mengerti. Sungguh tak mengerti...'
Satu tetes air mengalir dari sudut matanya tanpa ia sadari. katakan saja ia namja yang cengeng. tapi sungguh,
...ini sakit.
.
.
.
"Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi."
Suara tegas penuh menuntut dari Bibi Lee, menggema diruang keluarga ini. Disampingnya, duduk seorang remaja yang masih mengenakan seragam SMAnya. Dikursi lain, Seokjin dan Hoseok pun duduk dalam diam.
Mereka sedang bekerja dikantor, saat tiba-tiba Park Shin Ae, atau yang sejak menikah mengganti marga menjadi Lee, bibi mereka menelepon untuk segera pulang. Meminta penjelasan dari kejadian yang membuatnya terkejut pagi hari tadi.
Park Jimin, putra dari almarhum kakaknya dan kakak iparnya, anak yang ia asuh sejak bayi, anak yang kini beranjak dewasa, dia yang satu setengah tahun silam ia bantu mempersiapkan pertunangannya, kini tak diakui oleh tunangannya sendiri.
Min Suga.
Oknum yang kini duduk berhadapan dengannya, terhalang sebuah meja.
"Putraku, Lee Donghyuck bercerita jujur pada temannya di sosial media. Dia berkata jika Min Yoongi sudah bertunangan dengan Park Jimin, bahkan sebelum debutnya. Tapi," Bibi Lee berhenti sejenak lalu melanjutkan, "...orang-orang tak percaya dan mengecap ucapan putraku ini hanya rumor belaka. Hebat. Betapa cepatnya rumor ini menyebar dan cepat pula si pusat berita memberikan konfirmasi...palsunya."
Mata bibi Lee tertuju pada Suga yang justru memasang wajah datar tak perduli. Kontras dengan Jimin disampingnya, yang sudah panik setengah mati.
"Pagi ini aku dikejutkan dengan pemberitaan disana-sini. Pernyataan tegas seorang Min Suga, yang kukenal dengan nama Min Yoongi menyangkal tentang status pertunangannya sendiri. Oh, jangan lupakan jika Min Suga juga menyebut penyebar rumor ini adalah oknum yang tak bertanggung jawab. Dan oknum itu adalah putraku, Lee Donghyuck."
"Ibu-" Donghyuck disampingnya, hendak menghentikan ucapan sang ibu sebelum wanita itu kembali berkata,
"Cepat jelaskan apa yang terjadi! Min Yoongi, apa maksudmu berkata seperti itu didepan awak media?" Tanyanya menuntut.
"Bibi, tenanglah. Biar aku yang-"
"Diam Jimini. Aku bertanya pada tunanganmu. Dia sudah menyakiti perasaan dua orang sekaligus dalam satu pernyataan. Lee Donghyuck putraku, dan kau yang sudah ku anggap seperti putraku. Bagaimana bisa aku tenang? Jawablah, Min Yoongi! Apa maksudmu melakukan semua ini?! "
Suga belum sempat menjawab, dan Jimin malah kembali menyela
"Bibi, ini tidak seperti yang kau-"
"Kubilang diam, Park Jimin! Biarkan saja anak ini bercerita dengan lantang, seperti saat ia memberi pernyataan kepada pers." bibi Lee lalu berdesis pelan. "...anak tak tahu balas budi."
Dan hal itu terdengar oleh telinga Suga dengan jelas. Jimin bisa merasakan rahang Suga bergemeretak tegang. tunangannya itu mengepalkan tangannya menahan emosi. Sementara Seokjin dan Hoseok disana tak berniat mengucap sepatah katapun, karena memang tak tahu apa yang sebetulnya terjadi.
"Tak menjawab? Oh, aku jadi curiga. Jimin, apa pria ini sering menyakitimu?"
"A-apa?"
"Katakan saja. Kalau kau tak berani mengatakannya pada kakekmu di Amerika, biar aku yang akan mewakilkanmu nanti. Jika memang pria ini tak bisa memperlakukanmu dengan baik, aku akan bicara pada Aboji untuk mencarikanmu pendamping yang la-"
"TIDAK!"
"..."
"...t-tidak begitu, bibi."
Jimin menampik dengan cepat. Kalimat bibinya barusan membuat dia bertambah panik dan tanpa sadar berteriak. tak ayal membuat semua orang termasuk Suga sendiri terkejut.
"Tolong, jangan katakan apapun pada kakek atau nenek. kumohon. Jangan."
"Park Jim-"
"A-aku bisa menjelaskan semuanya. ini, tidak seperti yang kalian kira. Yoongi hyung tak bermaksud menyakiti siapapun. Sungguh..." mohonnya dengan sungguh, sambil menatap semua keluarganya. "Yoongi hyung tidak begitu. Jangan katakan apapun pada kakek, Jangan..."
Lagi, satu air mata meluncur dari maniknya. Membuat Suga diam-diam menoleh dengan kaget.
Kenapa Jimin membelanya hingga menangis begini?
dan juga,
...kenapa tiba-tiba anak itu menggenggam tangannya dengan sangat erat?
Suasana sempat hening sejenak.
Seokjin menatap adik bungsunya dengan lekat. Saat melihat air mata itu mengalir, seketika ia tahu jika anak itu tengah...
...berbohong.
Sementara Hoseok, ia memandang Suga yang diam-diam melirik Jimin. Dalam hati ia tertawa kesal. Jadi, dia dipanggil kesini hanya untuk menyaksikan adegan dari sepasang tunangan ini? Buang-buang waktu sekali.
"Kalau begitu, jelaskanlah. Jelaskanlah apa yang terjadi, sampai laki-laki disampingmu ini tak mengakuimu didepan publik?!" Bibi Lee kembali angkat bicara.
Jimin semakin erat menggenggam tangan Suga, lalu menghembuskan nafasnya dengan berat.
"Sejak Yoongi hyung adalah seorang idola, bukankah hal seperti ini wajar terjadi? Dia sedang dibicarakan dimana-mana, penggemarnya selalu mengikuti kemana dia bekerja. Jika sekarang, Yoongi hyung mengaku terang-terangan tentang pertunangan kami...tidakkah akan berbahaya untukku nanti?"
"Apa?"
"Bibi, penggemar Yoongi hyung bukan hanya satu dua. mereka bukan tidak mungkin menyukai Yoongi hyung hingga jadi terobsesi. Lalu jika mereka tahu bahwa idolanya sudah bertunangan bahkan sebelum debut, mustahil mereka akan begitu saja menerima. mereka bahkan bisa saja berbalik menyerangku." Jimin berhenti sejenak. Lalu menatap sang bibi, hyung serta keponakannya satu persatu.
"Bibi, hyung, Donghyuck-a. Yoongi hyung tidak berniat menyakiti siapapun. Dia, justru hendak menjaga perasaan penggemarnya. dan tentu, melindungi aku. juga kalian, keluargaku. Begitu kan?" Kali ini Jimin menoleh kesampingnya, dimana Suga sedang menatapnya tak percaya. "...begitu kan, sayang?"
Hening kembali.
Suga dan Jimin masih saling bertatapan.
Dan detik itu, Suga merasa sesuatu tak kasat mata menghentak, menamparnya dengan begitu keras. Saat ia mendalami tatapan Jimin, ia menemukan sesuatu yang memancarkan...luka.
Park Jimin jelas terluka.
Lantas,
...kenapa anak itu membelanya ?
Namun entah ada perintah darimana , mulut Suga spontan saja berkata ;
"Ya, tentu saja itu benar...sayang."
Jimin pun tersenyum dengan tatapan terlukanya itu.
"Benar begitu, Yoongi?"
Suga kini beralih pada Bibi Lee.
"Ya, bibi. Maaf. Maafkan saya jika sudah membuat anda terkejut." Hanya itu saja yang ia katakan.
"Kau dengar sendiri kan, bibi ? Yoongi hyung tak bermaksud menyakiti siapapun. Kau mau memaafkannya kan? Donghyuck-a, maafkan Yoongi hyung ya? Kau mau kan?"
Donghyuck mengangguk samar.
Tunggu, ia mengangguk karena Jimin yang mengatakannya. Bukan karena orang berwajah dingin disamping hyungnya itu.
"Baiklah. Kali ini ku maafkan. Aku akan meluruskan soal ini pada Aboji. Tapi ingat, Jimin. Jika sekali lagi terjadi hal seperti ini, atau laki-laki itu menyakitimu, cepat katakan pada bibi. Kau mengerti?"
"Ya, bibi . aku mengerti. Terimakasih, terimakasih!" Jimin tersenyum seraya bernafas lega. tanpa menyadari tatapan terluka yang lain terpancar dari salah satu hyungnya.
'Saling membela, saling menggenggam, saling menatap. berani-beraninya memamerkan kemesraan menjijikan itu didepan wajahku. sebenarnya, akan sampai sejauh mana usahamu untuk membuatku cemburu?'
myfiancé
"Aku pulang dulu. Kau baik-baiklah, Jimini. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan hubungi aku. mengerti?"
"Ya, bibi. aku mengerti. terimakasih atas perhatianmu."
Bibi Lee tersenyum atas jawaban keponakannya ini. Sebelum memasuki mobilnya, ia sempat melirik pada Suga yang berdiri disamping Jimin. Dan seketika senyumnya hilang.
"Jaga putraku. Kau tak diperkenankan menyakitinya barang sedikitpun." Katanya, tegas. yang kemudian dijawab oleh anggukan serta bungkukan dari Suga. Lantas wanita itu masuk ke mobil bagian depannya.
"Hati-hati dijalan, bibi." Jimin kembali membungkukkan badannya.
Belum jauh mobil itu berjalan, tiba-tiba Donghyuck muncul dari jendela belakang yang terbuka.
"Chimchim hyung! Maafkan aku. kau tak boleh sakit, okay?!" Serunya sedikit berteriak.
Jimin tertawa kecil.
"Aish anak itu! Hyung mengerti Donghyuck-a, Bye^^" Jimin balas berteriak sambil melambaikan tangannya karena mobil sang bibi semakin menjauh.
Kini, hanya tersisa Jimin dan Suga ditempat parkir mobil dirumah ini. Menyadari itu, Jimin menghela nafasnya berat, lalu menoleh pada Suga yang masih mematung ditempatinya.
"Kau juga akan pulang sekarang kan, hyung? Pulanglah dengan hati-hati. Ah, apa ada schedule hari ini? jangan terlalu lelah. cepat masuk ke mobilmu, aku juga akan segera masuk ke rumah."
Ujar Jimin dengan ekspresi biasa saja, seolah tak terjadi apa-apa hari ini. Ia berbalik badan, dan hendak melangkahkan kakinya sebelum Suga tiba-tiba bersuara-bertanya-.
"Kenapa?"
Jimin tak berbalik, hanya berhenti dan berdiri membelakangi.
"Kenapa kau membelaku tadi?" Tanya Suga lebih lengkap
Diam-diam, raut terluka diwajah Jimin itu muncul kembali. Namun Suga takkan bisa melihatnya.
"Kenapa kau tak jujur saja, jika selama ini aku bersikap buruk padamu?"
Jimin mengulum bibirnya, lantas mengatur nafasnya perlahan.
"Aku tak ingin keluargaku kecewa jika megetahui semuanya. Selama ini, aku bersikap seolah kita baik-baik saja agar mereka tak khawatir. Kakek dan nenek dijauh sana, takkan tenang jika tahu yang sebenarnya. Dan aku, tak mau membuat mereka begitu." Jawab Jimin tanpa membalikkan tubuhnya. "...aku sudah cukup merepotkan mereka selama ini. Hyung mengerti maksudku kan?"
"..."
"Jadi, sekali ini saja. Aku ingin keluargaku hidup tenang tanpa harus repot memikirkanku. Maaf jika Yoongi hyung tak suka dengan sikapku tadi. Maaf juga, karena aku benar-benar tak tahu Donghyuck yang menyebarkan semuanya. Sudah, kau boleh pulang. Hati-hati."
Dan Jimin benar-benar melangkah, tanpa sekalipun menoleh lagi pada Suga. Sementara sang tunangan hanya memandang punggung Jimin yang mulai menjauh, dengan tatapan tak terbaca.
Apa ini?
Kenapa sesuatu dalam dirinya merasa sedih dan bersalah mendengar jawaban Jimin barusan? Bahkan sesuatu dalam dirinya yang lain seolah berbisik agar Suga menyusul Jimin dan memeluk tunangannya itu. Berbalik meminta maaf.
Sayang, egonya masih terlalu besar.
Min Suga akhirnya memilih masuk ke mobil, dan meninggalkan rumah megah Jimin dengan perasaan yang sulit dijabarkan.
Ia mengendarai mobil dengan sangat pelan.
Dari kaca spionnya, Suga bisa melihat Jimin yang masih berjalan dengan sedikit tertatih. Sebelum sampai ke pintu utama, ia terlihat berpapasan dengan sang kakak, Kim Seokjin yang entah sejak kapan ada disana. Suga tak tahu apa lagi yang terjadi, karena mobilnya kini telah keluar dari halaman rumah keluarga Park.
Tak lama kemudian, sepasang matanya tak sengaja menangkap selembar sapu tangan putih penuh noda darah di jok sampingnya. ia menghentikan laju mobilnya sejenak, lantas meraih benda itu. menatapnya tanpa berkedip, seraya bertanya-tanya dalam hati,
"Kenapa kau tetap baik begini padaku?"
myfiancé
Dari jendela kamarnya, Hoseok memandang kosong pada area di. bawah sana. Adegan (yang ia kira) romantis itu baru saja usai. Berakhir dengan Jimin yang berjalan menuju pintu, dan Suga yang melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan.
"Pangeran yang tak rela berpisah dengan tuan putrinya, huh?" Gumamnya geli.
Namun sedetik kemudian, raut wajahnya menjadi datar. Sekelebat bayangan muncul di pikirannya.
'...Yoongi hyung baiiiik sekali. Dia tak bertemu denganku bukannya tidak mau. Tapi, memang itu konsekuensi pekerjaannya. Aku yang dulu mengizinkan Yoongi hyung melanjutkan impiannya. Aku juga yang menentang kakek memberikan pekerjaan di kantor padanya. Jadi, kenapa aku harus kesal jika sekarang dia sesibuk ini?
Lagipula, walaupun tak bertemu, Dia membalas pesanku setiap waktu. Dia menelponku setiap dia mampu. Dia selalu mengucapkan selamat tidur padaku dengan lagu. Lalu paginya dia akan membangunkanku. dan juga, dia sudah menerima...pertunangan ini. Yoongi hyung bahagia terikat denganku. Aku bahagia terikat dengannya. Aku bangga bisa memilikinya. Uh, kakek dan nenek memang pandai memilihkanku calon pendamping seperti Yoongi hyung. Iyakan, Jin hyung ?'
Itu perkataan Jimin kemarin.
'Yoongi hyung tidak berniat menyakiti siapapun. Dia, justru hendak menjaga perasaan penggemarnya. Dan tentu, melindungi aku. juga kalian, keluargaku. Begitu kan? begitu kan , sayang?'
Ini perkataan Jimin beberapa saat lalu.
'Oh, pagi Jimin sayang. kau nampak bersemangat hari ini...'
'Ya, tentu saja itu benar...sayang'
Juga perkataan Yoongi tempo hari dan beberapa saat yang lalu. Oh, jangan lupakan ciuman pagi yang Yoongi hadiahkan pada Jimin tepat saat Hoseok keluar dari pintu pagi itu.
Yoongi, Jimin, Yoongi, Jimin-
Dua orang ini benar-benar membuat Hoseok muak setengah mati.
Ia pun berjalan menuju nakas disamping tempat tidurnya, lalu mengambil sesuatu dari lacinya.
Sebuah foto lama. Potret manis kedua sejoli yang saat itu masih bertitel pasangan. Dan kini, foto usang itu terasa semakin usang dan hambar untuk Hoseok tatap. mengingat titel itu sudah nyaris pupus sejak satu setengah tahun yang lalu.
"Aku mengorbankan impianku demi dirimu. dan ini yang kau balas padaku?" lirih lelaki bermarga Jung itu.
Sesak rasanya. Menjalar kemana-mana.
PRANG !
Dengan segala emosi yang melanda, Hoseok melemparkan foto itu hingga beradu dengan sebuah pigura besar. Foto keluarga. Dimana terdapat potret ayahnya, Seokjin, serta Jimin yang ia rangkul dengan senyum penuh kebahagiaan.
Kini, fotonya dengan seseorang itu hancur dilantai. Sementara gambar dirinya dan Jimin retak. Sama seperti hubungan Hoseok dengan keduanya saat ini.
"Aku membenci kalian..." ujarnya dengan nafas menggebu. rasa sesak kian membelenggu.
Ini tidak akan benar. tidak akan reda sampai ia menelan butir-butir sialan yang tersembunyi dibalik cermin wastafel.
Hoseok butuh itu sekarang.
...dan bukan tidak mungkin diwaktu-waktu mendatang.
.
.
.
.
.
tobecontinued
