Ansatsu Kyoushitsu
By:
Yuusei Matsui
It's Time
By:
Amaya Kuruta.
OOC, Horor, Typo bertebaran dan mengandung racun tikus XD
Chapter: 17
Akabane Karma menatap gadis bersurai biru didepannya malas. Sejak tiba-tiba Nagisa berlari meninggalkan Karma kemarin sore, Nagisa selalu nampak menghindarinya. Misalnya tadi pagi saat ia baru saja keluar dari kamarnya untuk berangkat sekolah, ia menemukan rumah sudah sepi dengan sarapan yang tertata rapi dimeja makan. Kemudian saat Karma memasuki ruang kelas, Nagisa –yang Karma yakin tidak sengaja melihat kearahnya- hanya mengedipkan matanya beberapa kali lalu segera berpaling. Berpura-pura tak melihatnya dan melanjutkan obrolannya dengan Kataoka ( Karma bukan tak tau kenapa Nagisa memilih berkumpul dengan grup Kataoka). Saat pelajaran P.E tadi, Karasuma memasangkan Nagisa dengannya dan berakhir dengan pertukaran pasangan ditengah jalan karena kaki Kayano terkilir ("Kurasa aku atau Okuda-san tak akan kuat mengangkatnya, Karma."). jadilah Karma memasuki hutan dengan Nagisa dan keluar menggendong Kayano. Untuk kasus satu ini, Karma tak bisa menyalahkan Nagisa ataupun siapa saja yang hadir disekolah. Belum lagi pelajaran sains yang Karma sangat yakin Nagisa dan berjalan kearahnya untuk meminta bantuan, justru berjalan maju ke meja Isogai. Dan ketika pulang, Nagisa bilang dia akan bertemu dengan ayahnya terlebih dahulu sehingga Karma hanya sempat berjalan bersama-sama ( dengan teman lainnya) karena Nagisa harus mengambil jalan yang berbeda tepat saat mereka menuruni bukit. Dan baru beberapa jam yang lalu Nagisa memasuki rumah kediaman akabane. Karma tau Nagisa nampak terkejut karena Karma belum juga tidur meskipun sudah cukup larut. Dan sekarang Nagisa nampak tengah mencuci beberapa perabotan makan setelah sesi luapan kekhawatiran Karma selesai sembari makan malam tadi. Tentu saja, Nagisa adalah gadis manis yang menjadi umpan empuk bagi siapapun yang berjenis kelamin laki-laki dan dia pulang cukup larut! Maksudnya, ayolah.. kalau memang Nagisa sebegitu inginnya tidak bertemu dengan Karma, Karma bisa saja pergi berjalan-jalan bahkan hingga dini hari!
"Eng.. Karma-kun.. kalau kau tidak keberatan, aku.. aku akan naik terlebih dahulu." Pamit Nagisa tanpa menoleh kearahnya. Karma menoleh. Ingin rasanya ia menarik tangan gadis itu dan mendudukkannya didepan wajahnya. Tapi ini sudah larut dan Karma yakin dirinya tak ingin Nagisa sakit.
"Hm." Jawab Karma singkat sambil berpura-pura focus dengan apa yang ditontonnya. Ia bisa mendengar langkah kaki Nagisa mulai menaiki tangga. Kemudian suara pintu tertutup dari atas menyusul. Karma menghela nafas dan mengusap poninya sambil tersenyum frustasi.
"Sial! Aku sudah yakin dengan perasaanmu. Tapi sekarang bagaimana caranya agar kau juga percaya dengan perasaanku, hm?" gumamnya pelan.
Ansatsu Kyoushitsu
Asano Gakushuu menatap kertas kosong didepannya. tangan yang biasanya langsung mengaktifkan diri jika sudah memegang pena itu, kini hanya sibuk memutar-mutar pena ditangannya. Sesekali matanya memperhatikan keempat 'anak buahnya' yang sibuk menjadi tutor bagi teman-teman kelas A-nya. Ia menghela nafas. Ren bukan tidak sadar dengan keanehan Asano. Melihatnya menghela nafas seperti itu saja sudah jelas ada sesuatu yang terjadi dengan murid semi perfect itu. dan sebagai master dari percintaan, ia tau apa arti dari gejala yang diderita oleh Asano Gakushuu: kekhawatiran akan nasib cinta. Sebenarnya itu sangat membuat Ren ingin tertawa.
"Asano-kun, kalau kau merasa tak enak badan sebaiknya kau pulang saja." Ren menghampiri Asano. Asano meletakkan penanya kemudian mengangkat wajah.
"Tidak. tentu saja aku baik-baik saja." Jawabnya. Kemudian ia megernyit.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Tanya Asano. Ren mengibaskan poninya.
"Tidak apa-apa. Hanya kelakuanmu saja yang terlihat aneh. kau tau, layaknya burung merpati yang baru saja dipatahkan sayapnya oleh sang betina. Semacam itu?" ujarnya. Asano terdiam. Jujur saja ia ingin melempar Ren terjun dari gedung itu sekarang juga. Ren tertawa kecil sebelum akhirnya merangkul sahabatnya itu.
"Jadi, siapa yang berhasil membekukan hatimu,hm?" Goda Ren. Asano memerah kemudian menepis rangkulan Ren.
"Bukan urusanmu. Sebaiknya sekarang kita focus dengan mereka." Asano menunjuk para murid kelas A lainnya yang sibuk dengan buku-buku didepannya. Ren tersenyum meskipun alisnya berkedut. Yang sedari tadi tidak focus siapa?
"Ok..ok.. aku akan focus jika kau berhenti menghela nafas seperti seorang kakek tua yang mengharapkan kaguya. Jadi jelas kau harus setidaknya menenangkan dirimu dulu, Asano-kun." Ujar Ren sambil berlalu dari hadapan Asano. Asano menatap kepergian Ren. Menenangkan diri? Asano bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruangan. Sepertinya ide menenangkan diri dari Ren bukan hal yang buruk. Ia berjalan menyusuri koridor gedung yang sepi itu. pikirannya melayang pada kejadian kemarin sore. Ia bukan tak lihat saat Nagisa berjalan tergesa kearah Karma dan entah siapa gadis yang bersamanya. Kemudian Nagisa menarik tangan Karma dan tak kembali. Nagisa tak menemuinya kembali. Asano menghela nafas. Semua masih belum jelas baginya. Apa yang sebenarnya terjadi diantara Nagisa dan Karma? Bagaimana sebenarnya hubungan mereka? Apa.. Asano harus menyerah? Tidak! selama belum ada kejelasan, itu tandanya ia masih mempunyai kesempatan bukan? Asano mengepalkan tangannya dan tersenyum.
"Lihat saja, Akabane.. Shiota akan berlari kearahku.."
Ansatsu Kyoushitsu
Shiota Nagisa mengaduk makanan didepannya. ia tengah memasak sarapan untuknya dan untuk Karma. Hari masih pagi. Dan ia berencana berangkat lebih awal kesekolah seperti yang ia lakukan kemarin. Ya, ia sedang tak ingin berlama-lama bertemu dengan Karma. Tidak.. Nagisa tidak marah dengan kenyataan bahwa Karma dan Kayano berjalan bersama sabtu kemarin. Ia hanya tak ingin mendengar penjelasan dari bibir Karma. Nagisa sangat menghindari hal itu. karena itulah ia lebih sering menghindari Karma dan Kayano. Bahkan sugino jadi terkena imbasnya. Nagisa menghela nafas. Ia tau ia tak seharusnya berlaku seperti itu. Tapi Nagisa sendiri butuh waktu untuk menenangkan pikirannya. Ia mematikan kompor dan segera menata sarapan di meja. Kemudian ia menyiapkan bekal makan siang untuknya dan untuk Karma. Ia mengeluarkan buku kecilnya dan membuka lembarannya lalu menghela nafas.
"Hari ini ada latihan ice skating.." pikirnya. Itu tandanya, ia akan berlatih bersama Karma. Nagisa memasukkan bekalnya kedalam tas dan segera berangkat menuju sekolah.
Ansatsu Kyoushitsu
"Ulangi!" Bitch sensei memukulkan kertas yang digulung ketangannya. Karma dan Nagisa menoleh kearahnya. Karma melapas pegangannya dan meluncur ke titik start sementara Nagisa membungkuk minta maaf. Bitch sensei mendengus kesal.
"Apa-apaan mereka berdua? Bukankah kemarin mereka sudah sangat sempurna?" Keluhnya. Nakamura melirik guru bahasa inggrisnya itu dan ganti menatap kedua surai biru dan merah yang entah kenapa bersikap menjijikkan bagi Nakamura. Kemudian music kembali dihidupkan. Mengantarkan kedua murid andalan kelas pembunuhan itu meluncur. Namun seperti yang sudah terjadi berulang-ulang hari itu, baru saja Karma memegang tangan Nagisa, Bitch sensei sudah berteriak dengan sangat lantang.
"CUT!CUT!" teriaknya kesal. Karma segera menarik tangannya dan menoleh kearah Bitch sensei yang tengah berkacak pinggang.
"aku tidak tau apa yang terjadi dengan kalian tapi.. kurasa hari ini cukup sampai disini." Ujarnya. Maehara mengerutkan alisnya.
"Tapi, ujiannya besok, Bitch sensei!" ujar Maehara.
"Um. Kalau mereka tetap seperti ini sampai besok bagaimana?" Tanya Kurahashi. Bitch sensei membenarkan rambut bagian depannya dan menatap Nagisa.
"Ini ujian untuk kalian. Yang menentukan keberhasilan kalian bukan hanya hasil kerja keras selama ini." Bitch sensei menghela nafas. "Kalau kemauan kalian juga rendah, tentu saja kalian tak akan pernah mendapatkan keberhasilan. Nah, aku akan istirahat sebentar. Kalian bisa melanjutkan latihan kalau kalian mau. Karma-kun, Nagisa, untuk kalian silahkan tentukan sendiri." Bitch sensei berjalan meninggalkan tempat latihan. Karma menatap kepergian guru pirangt mereka dengan datar. Sedangkan Nagisa melirik sungkan kearah Karma.
"Ka-Karma-kun.. aku.."
"Hhh.. kalian kenapa?" suara Nakamura menginterupsi niat Nagisa yang hendak meminta maaf kepada Karma. Karma menoleh dan tersenyum.
"Aku baik-baik saja." Lapor Karma. Kemudian manik pucatnya melihat kearah Nagisa. Nakamura juga melihat kearahnya.
"A-aku.. maaf Karma-kun..aku-"
"PUK"
"Kalau kau memang tak ingin meluncur denganku, tidak usah memaksakan, Nagisa.." ujar Karma.
"Eh?" Nagisa mengerjapkan matanya. Tangan Karma masih bertengger diatas kepalanya. Rasanya hangat. Kemudian Karma menoleh dan tersenyum.
"Aku akan mencari susu strawberry di bawah sana. Kalau kau membutuhkan sesuatu, hubungi saja ponselku." Ucapnya kemudian berlalu dari hadapan Nagisa dan Nakamura.
"Tuhaaan… aku tidak tau kalian bisa sesulit ini." Gumam Nakamura. Nagisa menoleh bingung.
"Ada apa, Nakamura-san?" Tanya Nagisa bingung. Nakamura menoleh dan menatap Nagisa prihatin. Kemudian ia menepuk bahu Nagisa.
"Nagisa, orang seganas Karma juga bisa gemas dengan tingkah seseorang loh.. jadi, sebelum kau mati digigit serigala, sebaiknya kau segera memberitahunya." Ujar Nakamura. Kemudian ia melepas tepukannya dan meninggalkan Nagisa yang masih bingung.
"apa.. mati digigit serigala? Apa yang harus kuberitahu kepada Karma-kun?" gumam Nagisa bingung.
Ansatsu Kyoushitsu
"Bagaimana?" Sugino bertanya kearah Nakamura. Nakamura mengangkat bahunya malas. Kemudian ia menjatuhkan dirinya diatas bangku kebangsaannya. Sangat tidak feminine sekali.
"Aku bingung dengan dua anak itu. sebenarnya apa yang mereka tunggu?" tanya Kayano.
"Itu dia masalahnya. Dua orang itu terlalu.. bagaimana kita mengucapkannya.. takut?"
"Kalian fikir Karma takut mengatakan bahwa ia menyukai Nagisa?" Tanya Sugino.
"Bukan.. dia tidak takut jika harus patah hati kurasa. hanya saja, kalian tau kan.. ketika kita jatuh cinta dengan sahabat sendiri itu.. rumit."
"Um. Kudengar juga seperti itu. hubungan persahabatan bisa rusak hanya karena cinta." Jawab Sugaya.
"Jadi?" semua mata saling menatap.
"Fufufufu.. kalau sudah begitu, serahkan saja pada mereka berdua." Semua kepala menoleh dan mendapati Koro sensei sudah berdiri didepan kelas.
"Sensei yakin mereka akan baik-baik saja. Jadi sebaiknya kita serahkan urusan ini pada mereka berdua." Ujar Koro sensei lagi.
"Ugh.. tapi jika begini terus, mereka berdua tak akan bisa menang melawan asano besok." Ujar Okano.
"Tenang saja.. sensei akan membantu sebisanya. Tapi sekarang, kalian harus mencemaskan diri kalian sendiri. Apa kalian sudah siap untuk ujian besok?" Tanya Koro sensei. Maehara mengacungkan jempolnya.
"Tentu saja sudah.. iya kan, Okano?"
"Um. Kami sudah siap untuk membunuh kelas A, sensei." Koro sensei tertawa.
"Bagus. Semangat yang sangat bagus, anak-anak! Nah, karena besok kalian akan berpergian kedaerah bersalju, maka sensei akan membagikan buku panduan terbitan sensei secara gratis!" kemudian dalam sekajap mereka sudah memgang buku super tebal.
"Ugh.. aku malas mengakuinya tapi.. buku ini memang sangat beguna." Gumam Sugino.
"U-um. Meskipun sangat menyulitkan untuk membawanya." Kayano membenarkan. Kemudian ia menoleh kearah meja Nagisa.
"Are? Sensei.. kau tidak memberi Nagisa buku panduannya?" Tanya Kayano.
"Karma juga!" ujar Terasaka.
"Nurufufufufu~ mereka sudah menjadi beta reader. Bahkan mereka sudah merasakan manfaat dari buku itu." Ujar Koro sensei.
"jangan-jangan.." para murid mulai mengingat-ingat sesuatu yang otomatis tersebar di otak mereka.
"Benar sekali! Buku ini berhasil menyelamatkan Karma-kun yang hampir mati kedinginan. Nagisa sudah mempraktekkan salah satu advice dari sensei!" Ujarnya bangga. Para murid sweatdrop. Mungkin buku ini memang harus selalu mereka bawa saat acara menginap untuk ujian besok.
Ansatsu Kyoushitsu
Bitch sensei merasa alisnya berkedut saat melihat Karma dan Nagisa yang meluncur seperti boneka didepannya. kali ini ia menahan diri untuk tidak berteriak. Setelah mendapat paksaan dari Nakamura dan yang lainnya, ia berhasil duduk dibangku pinggir kolam es itu. saat music selesai, Bitch sensei menghela nafas. Kemudian ia menatap kedua muridnya.
"Nagisa, ada apa denganmu? kau juga Karma.. kau tidak seperti biasanya." Tanya Bitch sensei.
"Eh? Aku.. aku baik-baik sa-"
"Aku sedang tak enak badan. Maafkan aku." Karma menjawa cepat lalu meluncur meninggalkan area
"Ka-karma-kun!" Panggil Nagisa. Nakamura tersenyum kecil.
"Nah, Nagisa.. bagaimana jika kau menyusulnya dan menyelesaikan masalahmu dengannya?" Usul Nakamura. Menyelesaikan masalah? Nagisa menggigit bibirnya.
"Hai.. ayolah.. besok kalian membawa nama kelas 3-E. kau jelas tak mau kami sedih dengan penampilan seperti tadi bukan?" ujar Nakamura. Kali ini hati Nagisa terdiam. Tak lagi memberontak. Nakamura benar. Ini bukan hanya tentang Nagisa dan Karma. Besok mereka akan melawan kelas A. Nagisa mengepalkan tangannya. Kemudian ia menoleh kearah Nakamura dan tersenyum.
"Um. Aku akan meminta maaf padanya." Ujar Nagisa. kemudian ia meluncur dan melepas sepatunya dan menggantinya dengan sepatu sekolah.
"Hei, Karma tidak pergi kearah sana, Nagisa!" Nakamura mengingatkan. Nagisa menoleh dan tersenyum.
"Untuk meminta maaf padanya kurasa omongan saja tak akan cukup, Nakamura-san." Ujarnya. Kemudian ia berlari. Nakamura mengerjapkan matanya dan tersenyum.
"kalau kau yang meminta maaf, kurasa Karma tak akan meminta hal lain darimu, Nagisa-chan."
Ansatsu Kyoushitsu
Nagisa menyingkap semak terakhir didepannya dan menemukan sosok yang tengah ia cari. Nagisa tau Karma pasti berada ditempat ini. tempat yang pernah ditunjukkan oleh Karma kepadanya. Nagisa berjalan mendekati pemuda merah itu.
"Karma-kun?" Nagisa meletakkan tas plastic berisi susu strawberry dan duduk disebelahnya. Nagisa sweatdrop saat melihat tas Karma kali ini juga turut serta mendampingi pemiliknya yang tengah asyik tidur.
"Jadi dia memang berniat tidak kembali kekelas,huh?" Nagisa tersenyum dan meraih tas Karma untuk meletakkannya dibatang pohon. Namun..
"SRAK..SRAK..SRAK.."
Nagisa tak melihat bahwa resleting tas Karma tidak tertutup. Buku dan kotak pensil milik Karma kini berserakan di rerumputan.
"Ugh.." Nagisa mengambil buku-buku itu dan memasukkannya kedalam tas. Sampai akhirnya sebuah buku tak sengaja tertiup angina. Nagisa baru saja akan mengabaikan buku itu dasn menutupnya saat ia melihat sebuah tulisan dikertas halaman terdepan.
"Ini catatan untukmu, Nagisa-kun! Semoga kau lekas sembuh!"-Isogai.
Nagisa mengerjapkan matanya. Catatan untuknya? Beberapa detik otaknya berfikir.
"Oh!" serunya saat mengingat catatan apa itu. pasti ini catatan yang dibuatkan Isogai dan direbut Karma saat ia masuk rumah sakit tempo hari!
"Ugh.. kau bahkan tak memberikannya padaku meskipun kau membawa buku ini, Karma-kun!" keluh Nagisa. ia membuka buku itu. kemudian ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Tulisan didalamnya rapi. Dan mudah dimengerti. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Nagisa tau kalau itu bukan tulisan Isogai. Itu tulisan Akabane Karma. TULISAN SEORANG AKABANE KARMA! Nagisa tersenyum dan menoleh kearah temannya.
"dia benar-benar serius mencatatkan pelajaran untukku." Pikirnya. Nagisa segera membawa tas Karma dan meletakkannya disamping kepala Karma. Kemudian ia kembali duduk dan membuka buku catatan tersebut. Bibirnya masih tersenyum membaca catatan itu. ada beberapa note penting yang dibuat Karma agar Nagisa bisa lebih mudah memahami pelajaran-pelajaran tersebut. Kemudian senyumannya berganti dengan raut heran saat melihat halaman tengah dari buku tersebut. Itu bukan catatan pelajaran. Nagisa mengernyit dan membacanya.
Tujuan hidup:
1.Membunuh gurita itu. (Nagisa)
2.Lulus (Nagisa)
3.SMA Kunugigaoka (Nagisa)
4. Membunuh Asano Gakushuu di SMA. (Nagisa)
5.Universitas ( entahlah.. )-Nagisa
6.Mengalahkan dua orang tua bodoh itu (Nagisa)
7.Shiota Nagisa
Nagisa mengernyit. Kenapa ada namanya?
"Nagisa.. apa yang kau lakukan?" Nagisa hampir saja melompat mendengar suara karma. Ia menoleh dan mendapati Karma sudah duduk bersandar dibatang pohon. Matanya menatap sengit pada Nagisa. Nagisa menelan ludah.
"Ah, kau sudah bangun rupanya.." Nagisa menutup bukunya dan cepat-cepat mengeluarkan kotak susunya " Ini. minumlah." Imbuhnya. Karma menatap kotak susu ditangan Nagisa.
"Katakan apa yang kau lakukan? Kenapa buku itu bisa ada ditanganmu?" Tanyany. Nagisa mengambil nafas dalam.
"aku.. aku tak sengaja menemukannya. Kau..tau.. tasmu terjatuh dan bukunya berserakan lalu.. hei, ini juga jelas untukku bukan?" Tanya Nagisa. berusaha mencari pembelaan untuk dirinya. Karma tak membalas perkataan Nagisa. ia segera bangkit dan meraih tasnya. Hendak meninggalkan Nagisa yang masih terduduk disana.
"Kenapa kau sangat marah hanya karena aku mengambil buku yang memang untukku?" Tanya Nagisa. Karma menghentikan langkahnya. Kemudian Nagisa berdiri.
"Sebenarnya ada apa, Karma-kun?" Karma menoleh.
"Kau yang kenapa? Kau fikir dari tadi latihan kita gagal karena siapa?"
"Karma-kun.. menurut Bitch sensei kau juga bersikap aneh."
"Aku bersikap aneh karena kau bersikap tidak wajar."
"Aku bersikap wajar!"
"Hee~.. menghindariku sampai rela pulang larut malam itu wajar ya?"
"Karma-kun.. aku hanya pergi menemui ayahku waktu itu!"
"lalu kenapa kau menghindariku? Kukira kau diam-diam punya kekasih dan melarangmu dekat denganku."
"Kau salah! Aku tidak seperti itu."
"Siapa yang tau.. kau tau kan, kau gadis sekarang dan banyak lelaki yang mengincarmu."
"Jangan samakan aku denganmu, Karma-kun!"
"denganku? Heh.. aku belum pernah menghabiskan waktuku untuk berkencan, Nagisa~ tidak sepertimu dan Asano."
"Oh.. lalu acara jalanmu dengan Kayano sabtu kemarin kau beri nama apa, hm?"
"Kuberi nama berbelanja mencari keperluan rencana pembunuhan Koro sensei atas perintah staff kelas."
"Kau bahkan memiliki nama untuk kencan.. apa?" Nagisa mengernyit. Apa? Apa yang ia dengar barusan? Karma tersenyum penuh kemenangan.
"Kuberi nama sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi. Kami pergi mencari bahan-bahan untuk rencana pembunuhan. Kukira kau juga pasti bertemu dengan beberapa teman lainnya bukan?" ujar Karma santai. Nagisa tak bisa mengatakan apapun. Jadi? Kalau diingat, Nagisa juga bertemu dengan Isogai disana. Dan ia jelas mengatakan sesuatu tentang membeli perlengkapan untuk pembunuhan.
"Jadi.. kalian tidak..berkencan?" Tanya Nagisa pelan. Karma tertawa.
"Tentu saja tidak." Jawab Karma. Nagisa merasa wajahnya panas. Bodoh.. bodoh!
"Nah sekarang.." Karma melangkah mendekati Nagisa. Nagisa masih mematung dengan tangan mengepal menahan malu. Karma mengangkat sebelah tangannya dan mengusap pipi Nagisa.
"Mau menjawab pertanyaanku? Kenapa kau menghindariku kemarin? Dan saat kau menarikku sore itu, kenapa kau nampak marah? Kau juga menangis." Nagisa merasa lemas. Ia berharap Koro sensei menggalikan tanah dibawahnya dan menguburnya hidup-hidup!
"Hee~ tak bisa menjawabnya? Atau perlu kusebutkan kesimpulan yang kutarik?" Nagisa merasakan nafas Karma berhembus hangat dipipinya. Karma tersenyum jahat dan menarik kepala Nagisa.
"Tenang saja.. aku juga merasakannya.. yang kau rasakan." Ujar Karma. Kemudian ia menjauh dari kepala Nagisa dan berjalan mengerjapkan matanya. Eh? Apa yang Karma maksud? Nagisa menatap merah yang berjalan menjauh. Semakin jauh. Tidak.. Nagisa harus membuktikannya. Ia berlari kearah Karma.
"Karma-kun!" Panggil Nagisa. Karma menoleh dan melebarkan matanya saat mendapati Nagisa menyelipkan tangannya kepunggung Karma.
"Nagisa.."
"Aku tau ini aneh tapi.. aku juga tak bisa terus seperti ini. kau tau, aku tak bisa mengerjakan semuanya dengan benar. Aku tau aku bodoh. Dan aku tau sikapku kemarin sangat konyol." Nagisa nampak bersusah payah mengatakan semua itu.
"Saat melihatmu dengan Kayano kemarin aku tidak tau.. aku tidak tau apa yang kulakukan. Yang aku tau, aku harus segera menarikmu. Dan aku.. aku.." Nagisa merasakan tangan Karma menarik tubuhnya menjauh. Kemudian tangan itu menangkup wajah Nagisa dan dengan cepat mengecup bibir Nagisa. Nagisa mematung. Sungguh, hari itu benar-benar berpotensi membuat Nagisa terkena serangan jantung. Nagisa bisa merasakan nafas Karma yang hangat diwajahnya. Kemudian Karma menjauhkan wajahnya dan tersenyum.
"Aku tau.. aku juga mencintaimu, Nagisa."
Ansatsu Kyoushitsu
-TBC
Aduh.. ooc sekali.. ooc sekali… /.\
Tapi tak apalah.. asalkan mereka udah sadar*tunjuk atas.
ParkYuu: itulah kerjaan Nakamura cs. Gangguin Asano memang hal ternikmat untuk kelas 3-E mungkin XD. Terimakasih sudah mampir ^^
Aeon zealot Lucifer:nyaaaaa saya miss typo.. queen typo.. hayati lelah dengan computer ini*eh
iya enak jadi Kayano. Enak sekali author iri XD. Terimakasih sudah mampir ^^
MnC21: iya hiks… ga sempet juga sih mau cari beta ..
gimana ya… ga terlalu berubah. Jadi kayanya Nagisa ngerasa biasa aja XD. Gyaaa sengaja itu sengaja. Noh diatas muncul wkwkwkwk..terimakasih sudah mampir ^^
Frwt: iyaaa berkaca-kaca! Kata Nagisa, dadanya kerasa sakit XD. Terimakasih sudah mampir J
Denia: aku juga mau! Aku juga mau! Ah, terimakasih.. terimakasih.. semoga saya bisa mewujudkannya ^^. Terimakasih sudah mampir J
Hani Ninomiya Arioka: wkwkwk… niat banget saya bikin mereka berdua kencan. Mungkin mereka berdua harus dibikinin fic khusus. Terimakasih sudah mampir ^^
Kawaii Neko: iya ditinggal! ( Asano aja sih. Karmanya balik kok ke Kayano.) dia ga pernah cemburu. Jadi sekalinya cemburu, moenya akut banget :3 terimakasih sudah mampir ^^
nanaseID7: aaaa ada tuh di fic lain.. judulnya Summer. Sudah saya siksa Karma di fic itu * malah promo*. Ok.. terimakasih supportnya ;)
BlueSky Shin: dia peka cuman ga yakin XD. Jadi dia butuh kepastian. Terimakasih sudah mampir J
Shikiru Nara: aduh.. maaf ya lama banget updatenya.. hehehe.. besok mungkin mereka jadian XD. Terimakasih sudah mampir ^^
Dan untuk semua review, fav, follow, PM, dan readers lainnya.. Terimakasih.. I love You ^^. Semoga fic ini menghibur :D
Jaa!
