Jimin berjalan tertatih meninggalkan Suga yang masih berdiri mematung didekat mobilnya. Dalam setiap langkahnya, ia berharap besar tunangannya itu akan berlari menyusul lalu memeluknya. Membisikkan kata maaf berulang kali.

Karena sungguh, ini sakit.

Dan Jimin harusnya tahu jika itu tidak mungkin.

Tenggelam dalam lamunannya, membuat ia tak sadar jika Seokjin sudah berdiri didekatnya. Tunggu- sejak kapan hyungnya ada disana? dibalik tiang-tiang penyangga yang menjulang didepan pintu utama. menatap dirinya dengan raut wajah sulit dibaca.

"Jin hyung,"

"Kau baik-baik saja?"

"Hn? A-aku tidak apa-apa. Bukankah Yoongi hyung sudah minta ma-"

"Bukan itu. kau nampak pucat. sudah minum obatmu? Apa persediaannya masih ada? Atau mau ku hubungi Dara nuna-"

"Ah-Itu...tidak perlu, hyung. aku baik-baik saja. kukira kau menanyakan soal-"

"Sudahlah. aku harus kembali ke kantor. ada sedikit lagi yang harus kukerjakan. kau baik-baiklah. kalau terjadi sesuatu, hubungi aku pertama kali. Jangan sampai orang lain tahu lebih dulu. mengerti?"

Jimin mengedipkan matanya pelan, lalu mengangguk paham.

"Aku mengerti, Seokjin hyung."

Seokjin balas mengangguk. Tiga langkah sudah diambilnya saat Jimin tiba-tiba berkata;

"Maaf."

-dan membuat langkah itu terpaksa berhenti.

Mereka saling memunggungi. Masing-masing memasang wajah terluka tanpa saling mengetahui.

"Gara-gara ini, kau dan Hoseok hyung jadi dipanggil bibi untuk pulang. Maaf, sudah menganggu pekerjaan kalian. Aku...lain kali takkan merepotkan lagi."

Seokjin mengatur nafasnya pelan. Mendadak semua terasa menyesakkan. Adik bungsunya itu kenapa masih sempat-sempatnya minta maaf dalam keadaan seperti ini? Bahkan Seokjin, lidahnya sedari tadi begitu kelu untuk mengucapkan hal itu.

Maaf.

Maaf, untuk tak peka akan perasaan adiknya sendiri.

Maaf, untuk mengetahui hal ini dari orang lain (meski itu bibinya).

Maaf, karena tak bisa melakukan apapun untuk menolongnya.

Juga,

...mendengar kata merepotkan, membuat Seokjin teringat akan sesuatu yang membuat airmatanya seakan ingin membuncah keluar.

"Tidak masalah. Kau tidak merepotkan sama sekali, Jimini. aku pergi dulu."

Seokjin benar-benar pergi, berjalan menuju tempat mobilnya terparkir. Jimin sendiri berjalan ke arah berlawanan. Dengan tenang membuka pintu utama, tanpa tahu fakta bahwa tadi hyungnya mendengar semua pembicaraan dia dengan Suga.

Seokjin mendengar semuanya.

Jimin menaikki anak tangga dengan perlahan. Entahlah, ia lemas. yang ia inginkan sekarang hanyalah berbaring ditempat tidur. mungkin memejamkan mata untuk beberapa jam bisa membuat segalanya terasa lebih baik. namun langkah itu terhenti dipertengahan, begitu melihat Hoseok hendak turun dari atas sana.

Untuk beberapa saat, kedua kakak beradik itu saling menatap dari jarak beberapa anak tangga.

Jimin berniat mengatakan maaf seperti yang ia katakan pada Seokjin tadi, bahwa ia merasa bersalah sebab telah mengganggu kegiatan Hoseok dikantor hari ini. akan tetapi itu tak terlaksana, lantaran Hoseok yang sedari tadi hanya menatapnya dengan datar itu, kini berjalan cepat menuruni tangga, bahkan sedikit menyenggol bahu Jimin, entah disengaja atau tidak. Jimin yang sedang lemas, hampir ambruk atas senggolan itu jika saja ia tak berpegangan pada sisi tangga. Kemudian ia membalikkan badan, dan dilihatnya Hoseok telah sampai dilantai bawah.

"Hati-hati, hyung..." Jimin hanya mampu bergumam pelan sebelum kembali melanjutkan langkah menuju kamarnya.

Dia tak tahu jika sang kakak kembali menoleh dan menatap tajam padanya.


myfiancé


Berisiknya kaca yang pecah, seperti itukah kita?

Langit nampak begitu rendah, seperti akan runtuh setiap waktu

Kau bertanya mengapa aku datang begitu terlambat?

Bahwa kau menungguku, bahagia untuk cintaku

Tapi kini kau membeku, lebih dingin dari orang asing

Senyummu yang cerah,

Dekapanmu yang hangat.

Aku merasa seperti aku tak bisa melihat dan menyentuhnya lagi.

Dan itu menakutkanku

.

.

.

Jung Hoseok berjalan menyusuri sepanjang koridor gedung agensinya dengan raut panik. Matanya terus menelusuri setiap sudut lantai yang ia pijak. Sesekali ia menggigit ibu jarinya sendiri.

"Astaga kemana kalung itu?" Gumamnya sambil terus menunduk, barangkali benda yang ia cari terjatuh saat ia lewat kemari tadi.

Seingatnya, benda itu masih mengalung dilehernya, sebelum ia latihan sejak pagi tadi. Tapi kenapa sekarang dia tak ada?

"Duh! Jimini akan marah padaku jika itu hilang. Bagaimana ini...?"

Beberapa bulan lalu saat Hoseok diterima menjadi trainer disini, Jimin memberinya sebuah kalung dengan bandul berhuruf 'J' . Katanya, itu kalung pembawa keberuntungan. Hoseok bukan anak kecil lagi, tentu dia tidak percaya.

Tapi, benda itu sangat membantu jika ia tengah merindukan keluarga terlebih adik bungsunya itu. Kalung itu adalah benda kesayangan Jimin, dan kini ia menghilangkannya! Mengingat itu, Hoseok jadi kembali panik.

Ia benar-benar terus menunduk mencari kalung itu, hingga tanpa sadar menubruk sesuatu- bukan , seseorang didepannya.

Kepala Hoseok terantuk, tepat di dada seorang yang ia tubruk.

"Awh!" Dia mengerang, "...Aku minta maaf, aku tidak senga- Oh?!"

Hoseok mendongak, mendapati seorang lelaki berambut pirang sedang menatapnya bingung. Siapa dia? Hoseok baru melihatnya hari ini.

"Kau trainer baru?" Tanya Hoseok, dan lelaki itu mengangguk. "Ah~ pantas saja aku asing dengan wajahmu. Sekali lagi aku minta maaf. Aku tak sengaja menabrakmu."

"Its okay. Apa kepalamu sakit?" Tanya orang itu.

"Ha? Sedikit. Tapi tak masalah. Baiklah, kau pasti sedang berkeliling untuk melihat gedung ini kan? Lanjutkanlah acaramu." Jawab Hoseok sambil tersenyum.

Lelaki itu mengangguk dan Hoseok segera meninggalkannya, kembali mencari bendanya yang hilang.

"Tsk~ demi Tuhan, terjatuh dimana kalung itu?!" Gerutunya sambil menggaruk kepala yang tak gatal. Tanpa ia sadari, lelaki tadi mendengarnya dan kini kembali menoleh padanya.

"Hey!"

Luhan berhenti melangkah, lalu berbalik badan. "Ya?" Hoseok melihat lelaki itu melangkah mendekatinya, lalu-

"Kau mencari ini?"

-menunjukkan sebuah benda yang membuat mata Hoseok berbinar.

"Whoaaa- Itu kalungku!" Serunya hampir menjerit. Ditangan orang itu terdapat benda yang sedari tadi ia cari!

"Ini milikmu?" Tanya orang itu lagi.

Hoseok mengangguk antusias "Ya Ya! itu milikku! Kembalikan pada-HEY!"

Si pirang mengangkat kalungnya tinggi-tinggi, membuat Hoseok kesulitan untuk menggapainya. Tidak, sebenarnya tinggi mereka setara. hanya saja namja itu memutar-mutar kalungnya sehingga sukar diraih.

"Hey, kembalikan! Itu benda berharga tau!" Hoseok terus mencoba melompat untuk meraih kalungnya. Dan sialnya ia selalu gagal.

"Kalau begitu, coba aku tanya sesuatu."

"Apa?" Hoseok berhenti dari aksinya , lalu menatap orang itu dengan kesal.

"Apa namamu beinisial huruf 'J'?"

Hoseok memutar bola matanya"Tentu saja iya! kalau tidak, kenapa aku memakai kalung berhuruf 'J' it-"

"Siapa namamu?"

"Yak! Kau trainer belum ada satu hari, kenapa tidak sopan begini ? Mau mengajak berkenalan bukan begini caranya, bung! Biar bagaimanapun, aku ini senior mu. Sunbae-nim. panggil aku sunb-"

"Kutanya siapa namamu, kenapa malah cerewet begitu? Yasudah, kalung ini takkan ku kembalikan."

Hoseok membulatkan mata saat orang itu hendak meninggalkannya. Ia pun berlari untuk menghadangnya.

"Baiklah-baiklah. Jung Hoseok."

"What?"

"Hoseok. Namaku Jung Hoseok."

Hoseok memperjelas, dan merasa agak risih melihat orang itu tersenyum puas.

"Oh, Jung Hoseok rupanya."

"Iya, jadi sekarang cepat kembalikan kalungku!"

"Tidak mau."

"Apa? YAK! Kau mau cari masalah?"

"Satu syarat."

"Ha?"

"Jika kau ingin kalung ini kembali, kau harus memenuhi satu syarat dariku." Ujar orang itu , membuat Hoseok berdecak sebal.

"Apa syaratnya?"

"Temani aku berkeliling gedung ini?"

"HAH?! Apa kau gila?! Aku sudah lelah berlatih seharian, dan sekarang kau memintaku apa? Tidak sudi! Pergi saja sendiri!"Tolak Hoseok tegas.

"Oooh~ jadi kau tak mau kalung ini kembali?" lelaki itu menggoyang-goyangkan kalungnya didepan mata Hoseok. Membuat Hoseok menghela nafasnya berat.

"Baiklah, aku temani." Dan akhirnya mengalah, membuat lawan bicaranya kembali tersenyum puas "...Tapi ingat! Setelah itu kembalikan kalungku!" Lanjut Hoseok mewanti-wanti.

"Hm." Dia memasukkan kalung itu pada saku jaketnya.

"Yasudah, cepat! Akan kutunjukkan ruang latihan satu persatu."

Hoseok pun mulai berjalan meninggalkan namja pirang menyebalkan yang masih tersenyum penuh kemenangan itu.

"Finally! I found you, Jung Hoseok..."

Hoseok menghentikan langkahnya, lalu menoleh "Apa kau bilang?"

"hm? tidak. Bye the way, namaku Yoongi. Min Yoongi."

Hoseok menatap orang yang mengaku bernama Min Yoongi itu penuh selidik. Jelas-jelas dia tadi mendengar sendiri Yoongi berkata sesuatu.

I found you?

Ha? apa maksudnya? Dan kenapa dia malah memperkenalkan diri? Benar-benar aneh.

"Siapa juga yang bertanya namamu? oh dan juga, panggil aku sunbae , Sun-Bae-Nim. Hoseok Sunbaenim! Walau cuma berbeda enam bulan, aku ini tetap seniormu! Kau paham?" Ujar Hoseok sambil menyilangkan tangan didadanya. Lalu kembali berjalan meninggalkan Yoongi.

"Aku paham, Hoseok-i sunbaenim. hey! tunggu aku! "

Geez~

.

.

.

"YaTuhan~ Melelahkan sekali. Mimpi apa aku bertemu namja menyebalkan macam itu?" Hoseok bermonolog sambil merebahkan tubuhnya dilantai ruangan dance. Sudah larut malam, dan ruangan ini sudah kosong. Hampir dua jam lamanya Hoseok menemani laki-laki bernama Yoongi itu menjelajahi isi gedung ini. menunjukkan ruangan satu persatu.

Dan sekarang ia terkapar lelah seorang diri, sementara Yoongi keluar membelikan minuman.

Cklek~

Pintu terbuka, menampilkan sosok Yoongi yang membawa dua botol softdrink ditangannya. Ia kemudian duduk disamping Hoseok yang tengah terlentang memejamkan mata.

"Hey, kau tidak tidur kan?" Yoongi bertanya. namun keheningan yang menjawabnya. "Hoseok, kau benar-benar kelelahan?" dia bertanya lagi.

"Menurutmu? oh astaga sudah kubilang panggil aku sunb-"

"Yayaya, karena Hoseok sunbaenim kelelahan, maka aku berbaik hati memberimu minuman. Ayo bangun!"

Hoseok membuka matanya, lalu melirik sebal pada Yoongi "Kau memerintahku?"

"Kau mau minum tidak? Kalau tidak yasudah."

Hoseok menghembuskan nafasnya berat.

"Aigoo~ aku tidak bisa bang-YAH!" Hoseok menjerit membuat suaranya menggema, manakala Yoongi tiba-tiba menarik tangannya hingga ia terduduk.

"Bisakah kau sopan sedikit?! Aku ini senior-hmfh! Uhuk! YAH! Uhuk!"

Hoseok kembali menjerit karena si pirang itu meminumkan softdrink pada mulutnya secara tibatiba, tentu saja membuatnya tersedak.

"Sunbaenim berisik sekali. Dulu tidak begini. sudah, minum." Yoongi menyerahkan softdrink itu agar dipegang Hoseok. Sementara Hoseok malah terdiam sambil menatap namja disampingnya dengan penuh selidik.

'Dulu? memangnya kita pernah bertemu?' Gumamnya dalam hati, lalu meneguk minumannya lagi. Seingatnya, ia tak pernah bertemu orang ini sekalipun. Oh, apa dia teman sekolahnya dulu?

Ah tidak-tidak. Ingatan Hoseok masih cukup kuat hanya untuk menghapal teman sekolahnya satu persatu bahkan sejak Sekolah Dasar. Jadi, 'dulu' yang dimaksud Min Yoongi ini apa?

"Hey, kau-"

"Yoongi. Panggil aku Yoongi."

"Ah, Yoon-gi. Apakah kita-"

"Apakah kita berjodoh?" dia memotong dan tertawa singkat "...aku tidak menyangka akan bertemu kau disini. Tahu begitu, sejak dulu saja aku ikut audisi di agensi LJH ini. Ah, tadi kau bilang sudah berapa bulan menjadi trainer?" Tanyanya kemudian

"Enam bulan." Hoseok menjawab "tapi tunggu, apa maksudmu dengan kita berjod-"

"Aaah~ tak apa kalau kau tak ingat. Itu sudah lumayan lama. Yang jelas, aku senang bisa bertemu denganmu disini." Ujar Yoongi dengan senyum mengembang. Lantas meneguk minumannya sendiri.

Hoseok kembali diam. Sedikit mengerutkan dahi, berfikir keras. Apa ada sesuatu yang ia lupakan dimasa lampau? atau-

"omong-omong, terimakasih ya sunbaenim. sudah mengantarku berkeliling tadi."

Ah! Hoseok jadi teringat kalungnya lagi. acara berfikir keras itu terabaikan. Terserahlah, Hoseok tidak mau ambil pusing.

"Sama-sama. Dan sekarang kembalikan kalungku, sini!" Pinta Hoseok sambil mengadahkan tangannya.

Yoongi tertawa kecil, lalu merogoh saku jaketnya "Masih ingat kalungmu rupanya."

"tentu saja!"

"Baiklah, ini." Yoongi meletakkannya dengan hati-hati pada telapak tangan Hoseok. Lantas menutupnya, hingga kalung itu terkubur oleh remasan tangan lembut orang dihadapannya ini. "Kalung ini yang mempertemukan kita. Lain kali jangan ceroboh. Jaga baik-baik." Ujar Yoongi dengan senyuman.

.

.

.

Lampu merah membuat Hoseok menghentikan laju mobilnya. Pun, kilas balik ingatannya. Pertemuannya dengan si brengsek bernama Min Yoongi tiga setengah tahun silam. Ia mengalihkan pandangannya pada sebuah benda di dashboard mobilnya. Kotak beludru berisi kalung berbandul 'J'. Dulu benda itu nampak begitu indah hingga Hoseok tak pernah sekalipun melepaskannya. Namun kini, hanya dengan melihatnya sekilas saja bisa membuat perasaan Hoseok sesak bukan main.

Lagi-lagi karena mereka.

Dua orang itu, mereka yang sama-sama pernah berpesan pada Hoseok untuk menjaga kalung itu baik-baik.

'Hosiki hyung, ini kalung pembawa keberuntungan kau tahu? Ayah bilang, ayah dan ibu memesan kalung ini saat berbulan madu ke luar negeri, jauh-jauh hari sebelum aku lahir. ini kalung limited edition! Sebenarnya ini benda kesayanganku, tapi karena Hosiki hyung berhasil masuk ke agensi besar itu, maka aku akan memberikan ini padamu sebagai hadiah. Kau suka? Jaga baik-baik okay?'

'Kalung ini yang mempertemukan kita. Lain kali jangan ceroboh. Jaga baik-baik.'

Hoseok tertawa menyedihkan.

"Menjaga? kenapa aku harus? kenapa aku harus menjaga benda ini sementara kalian tak pernah menjaga perasaanku sedikitpun?"

Sungguh, Jung Hoseok merasa seperti orang yang paling tersakiti disini.

.

.

.

...dan itu, salah.


myfiancé


Hari-hari berikutnya, semua terasa membaik, bahkan seolah tak pernah terjadi apa-apa. Tentu, karena Jimin sebegitu pandai menyembunyikan kesedihan dibalik topeng senyum cerianya.

Sungguh, dia benar-benar terlatih dalam hal seperti ini. Membuat banyak orang tertipu. Tapi tidak dengan Seokjin yang kini sudah tahu sesuatu. Sesuatu yang selama ini selalu Jimin bagaimana sikap Suga yang sebenarnya.

Suga tidak semanis itu.

Dia tidak sebaik itu.

Dia,

...bukan tidak mungkin 'membenci' ikatan ini.

Oh, Seokjin ingin menangis rasanya jika mengingat ucapan Jimin ditempat parkir tempo hari.

'Aku tak ingin keluargaku kecewa jika megetahui ini. Selama ini, aku bersikap seolah kita baik-baik saja agar mereka tak khawatir. Kakek dan nenek dijauh sana, takkan tenang jika tahu yang sebenarnya. Dan aku, tak mau membuat mereka begitu. Aku sudah cukup merepotkan mereka selama ini. Hyung mengerti maksudku kan? Jadi, sekali ini saja. Aku ingin keluargaku hidup tenang tanpa harus repot memikirkanku.'

Whoa.

Lalu kalimat-kalimat manis tentang hubungannya dengan Suga yang selama ini Jimin umbar itu apa? Sejak kapan adiknya pandai berbohong?

Dan...

Sejak kapan Seokjin jadi sebodoh ini hingga tak kunjung menyadari?

Oh, lihat-lihat.

Bahkan pagi ini pun ia hampir saja tertipu lagi oleh tingkah adiknya yang sangat ceria. Menyapanya seperti biasa, dengan senyum eyesmilenya. Seokjin pun hanya bisa membalasnya seperti biasa seolah tak tahu apa-apa.

Kita lihat saja, sejauh mana kau sanggup berbohong, Park Jimin?

"Oh, pagi Jimini. kau akan kuliah hari ini?" Tanya si sulung sambil meletakkan segelas susu didepan Jimin, seperti biasa.

"Hm." Adiknya itu hanya mengangguk sambil meneguk susunya.

Seokjin duduk ditempat biasa.

"Kau yakin sudah baikan? Kalau masih tak enak badan, sebaiknya jangan masuk dulu." Sarannya.

Jimin menggelengkan kepalanya "Jeonghan dan Seungcheol bilang, mereka kangen padaku. Katanya ada yang ingin mereka bicarakan. Lagipula tidak enak hyung diam dirumah terus. aku bosan." Ujarnya kemudian.

Seokjin menghela nafasnya pelan.

"Baiklah. Oh iya, obat yang-"

"Jin hyung!"

Seokjin menghentikan apa yang hendak ia tanyakan saat Jimin tiba-tiba menyelanya sambil sedikit melebarkan pupil mata. Begitu ia menoleh kearah kanannya, barulah ia tahu apa sebabnya.

Jung Hoseok datang.

"Hm. Aku mengerti. Yasudah, habiskan sarapanmu Chimini." Ucap Seokjin sambil sedikit mengusak rambut adiknya itu.

"Aku mengerti. Oh, selamat pagi Hoseok hyung!"

Dan tebaklah apa yang terjadi selanjutnya.

"Uh? Jung Ahjumma! Ahjumma!"

"Ya? Oh, ada apa tuan muda Jimin?"

Jung Ahjumma, salah satu pelayan rumah tangga disini sedikit terkejut saat Jimin berjalan kearahnya dengan sedikit berlari.

"Tuan muda belum berangkat?"

"Hm, ini aku mau berangkat. Tapi, itu apa?" Jimin bertanya balik.

"Apa?"

"Itu, yang ahjumma pegang?"

Jung ahjumma melihat apa yang ditunjuk tuan muda nya itu.

"Oh, ini...sepertinya kotak perhiasan? tapi-"

"Dimana ahjumma menemukan itu?"

"Ya?! Tadi seperti biasa aku membereskan kamar tuan muda Hoseok. Saat melihat tempat sampahnya, aku menemukan ini. Mungkin tuan muda Hoseok yang membu-"

"Boleh aku lihat?"

Jung ahjumma mengerjap bingung, walau tak urung mengangguk dan menyerahkan kotak beludru itu pada Jimin. Dilihatnya Jimin membuka kotaknya, lantas menatap lamat-lamat benda yang ada didalamnya.

"apa itu, tuan muda?" Dengan sopan wanita paruh baya itu bertanya

Jimin tak langsung menjawabnya, dan saat akhirnya membuka suara pun itu hanya berupa bisikkan saja.

"...kalung,"

Sebagai seorang yang ikut mengasuh Jimin sejak kecil, Jung ahjumma tahu ekspresi apa yang sedang tuan mudanya pasang ini.

Sedih dan kecewa.

"T-tuan muda, kau tak-"

"Jung ahjumma , ini boleh buatku saja kan?"

"Hm? tapi itu sudah kupungut dari tempat sampah. Itu kotor. Pasti tuan muda Hoseok juga membuangnya karena sudah rusak. Jika kau ingin, kau bisa membeli yang-"

"Tidak, ahjumma. Aku ingin ini. Boleh kan?" Jimin menatap penuh harap.

Jung ahjumma pun akhirnya mengangguk "Baiklah. tapi tuan muda, kau tak apa-apa kan?"

Belum sempat Jimin menjawab, suara klakson mobil membuat keduanya terperanjat. Posisi mereka kini memang didekat gerbang utama, membuat mobil yang akan lewat sedikit terganggu.

Jimin menoleh, kemudian meminggirkan diri. Pandangan matanya bertambah sayu saat melihat siapa yang mengendarai mobil itu.

Hoseok.

Jimin kembali menatap kotak yang ada ditangannya. kotak berisi kalung dengan bandul yang amat ia kenal. setelah itu ia menatap kepergian mobil Hoseok yang semakin jauh dari jangkauan. suara dalam dirinya dengan lirih bertanya-tanya,

'Kenapa kau membuangnya, Hosiki hyung?'


myfiancé


"Whoa! Jimini~ Akhirnya kau datang jugaaaa!"

"Astaga!" Jimin terlonjak kaget begitu turun dari bisnya, dan langsung disambut oleh pekikkan serta pelukkan heboh dari dua sahabatnya. Siapa lagi, Jeonghan dan Seungcheol.

Um. Sebenarnya, hanya Jeonghan sih yang berlebihan. Seungcheol hanya senyum sewajarnya melihat Jimin datang setelah beberapa kali tak masuk kuliah.

"Oh, kau datang Jimin-a? Yah! Yoon Jeonghan hentikan itu! Ini tempat umum, astaga- Jeonghan!" Seungcheol hendak melepaskan tubuh Jeonghan yang mendekap Jimin sangat erat seolah sudah bertahun-tahun tak jumpa.

"Ish! Aku kangen Jimini tau!" Tolak Jeonghan sambil menambah erat pelukkannya. Seungcheol pun berdecak.

"Aku tahu. Tapi Jimin bisa mati sesak jika kau memeluknya begitu!"

"AH! Benar!" Akhirnya Jeonghan melapaskan sahabatnya, lantas meminta maaf.

Sementara Jimin hanya tertawa kecil karena tingkah dua sahabatnya ini.

"Tak apa Jeonghan-i. Tapi, kenapa kalian sampai menunggu disini?" Tanyanya kemudian.

"Yah Jimini~ kami itu merindukanmu. Sudah tak tahan lagiii, jadi aku dan Seungcheol sepakat menunggumu dihalte ini. Iyakan Sekop?"

Seungcheol memutar bola matanya malas.

Sepakat apanya? Jelas-jelas Jeonghan memaksanya tadi. Padahal Seungcheol menyarankan agar menunggu ditaman kampus saja seperti biasa.

"Yaaa begitulah, Jimin-a." Namun pada akhirnya laki-laki itu mengiyakan saja, daripada Jeonghan nanti merengek dan mengajaknya debat ditempat umum begini? Repot.

"Ah, bagaimana kalau kita ke kantin saja? Aku belum sarapan." Ajak Seungcheol kemudian. Jeonghan dan Jimin pun menyetujuinya.

Park Jimin menatap heran pada dua sahabat didepannya ini. Selesai sarapan, mereka masih tetap duduk dikantin. Katanya, ada yang ingin mereka bicarakan. Tapi, sudah beberapa menit berlalu keduanya tak kunjung memulai.

"Engg~~ Jeonghan-i, Seungcheol-a? sebenarnya kalian mau bicara apa?" Tanya Jimin pada akhirnya. Jeonghan terlihat gugup saat akan menjawab. Sementara Seungcheol tak ada tanda-tanda akan berbicara. Ia hanya menatap Jimin dengan lekat.

"Jimin,"

"Ya, Jeonghan-i?"

"Ngg~Itu...aku mau minta maaf." Ucap Jeonghan yang membuat Jimin mengerutkan dahi.

"Soal apa?"

"Itu...a-aku benar-benar tak tahu, Jim. sungguh. jadi aku minta maaf sebesar-besarnya padamu."

Jimin makin tak mengerti.

"Yoon Jeonghan, kau ini bicara a-"

"Ini tentang Min-"

"Yoon Jeonghan!"

Jimin dan Jeonghan serempak memandang Seungcheol yang baru saja mengeluarkan suara. memotong ucapan Jeonghan, sebenarnya. tak ayal membuat si pemilik surai panjang itu terlihat kesal kemudian. Kenapa Seungcheol malah menyela ucapannya disaat dia sudah berani dan hendak menyebut nama Min Suga pada Jimin, sih?!

"Hey~ Choi Seungcheol, Yoon Jeonghan. Sebenarnya apa yang ingin kalian katakan?" Jimin bertanya lagi kesekian kali.

Seungcheol terlihat menghela nafasnya, kemudian tersenyum.

"Tidak Jimin-a. Kami hanya mau minta maaf karena tak bisa menjengukmu saat sakit kemarin. kami benar-benar tak tahu." Jawabnya.

Jeonghan diam-diam berdecak kesal karena jawaban Seungcheol barusan. Sebab bukanlah itu yang ingin keduanya katakan. Mereka sebenarnya ingin meminta maaf tentang...

...Min Suga.

Ya, tentang itu. Mengingat betapa seringnya Jeonghan dan Seungcheol berdebat tentang leader band itu didepan Jimin (yang notabene baru mereka ketahui sebagai tunangan Suga). Setiap kali ia dan Seungcheol menggosipkan Min Suga, pasti Jimin diam-diam merasa sakit hati. Bukan tidak mungkin kan?

"Hum? Cuma itu saja?"

Seungcheol mengangguk pelan.

"Maaf ya Jimini."

Jimin tertawa kecil tanpa curiga sedikitpun "Astaga, kupikir masalah serius. Tak apa Seungcheol-a, Jeonghan-i. Lagipula sakitku tak parah kok." Ujarnya sambil tersenyum.

"Syukurlah, Jimini." Seungcheol balas tersenyum, sementara Jeonghan masih betah dalam diamnya. Ah! Melihat Jimin tersenyum begitu membuatnya ingin menangis.

Suasana hening sejenak, sebelum tiba-tiba layar televisi datar yang tersedia di kantin menayangkan sesuatu. Itu liputan tentang sebuah band yang sekarang tengah naik daun.

ROCKMANTIC.

Spontan saja, ketiganya mengalihkan perhatian mereka pada televisi layar datar itu. Walau sesekali Seungcheol dan Jeonghan melirik pada si pemuda bermarga Park.

Bukan tayangan apa-apa. Hanya meliput tentang kesibukan ROCKMANTIC akhir-akhir ini saja. Dalam interview singkat itu, mereka juga sempat bercerita tentang kesibukan yang akhir-akhir ini meningkat menjelang konser. Tentang bagaimana mereka lebih sering memengkonsumsi makanan cepat saji, dan merindukan masakan rumah.

Suga bahkan berkata,

"Aku merindukan masakan ibuku. karena terlalu sering memakan makanan instan, akhir-akhir ini sistem pencernaanku sedikit terganggu. Biasanya, ibu akan membuatkanku sesuatu untuk meredakannya."

"Whoa, apa itu leader? Aku juga merasa begitu akhir-akhir ini. Tapi aku jauh dengan ibuku, jadi aku tak bisa pulang...huft."

Jimin tak terlalu hapal nama-nama personil Band Suga. Tapi Jimin tahu, yang baru saja menyambung ucapan Suga itu adalah vocalist band mereka.

Bicara tentang ucapan Suga barusan, Jimin jadi ingat. Ah, sejak terakhir kali bertemu, dia dan lelaki itu belum saling menghubungi lagi. Suga sangat sibuk, dan Jimin sendiri sakit. Benar juga, kesibukan pasti membuat kesehatan tunangannya itu sedikit banyak terganggu. Sepertinya ia harus melakukan sesuatu?


myfiancé


ROCKMANTIC baru saja selesai berlatih beberapa lagu untuk mereka tampilkan di acara musik mendatang. Saat ini, keempatnya tengah beristirahat sambil berdiskusi tentang album baru dan konser mereka.

Suga dan Mina, duduk bersampingan di bawah dengan gitar, sementara Dowoon dan Wheein berdua di sofa sambil sesekali saling menyuap snack yang digenggam sang wanita.

"Aku benar-benar ingin dialbum terbaru kita nanti, ada lagu ciptaan kita masing-masing. Bagaimana menurut kalian?" Tanya Suga pada ketiga rekannya.

Mina mengangguk pelan "Itu bukan ide buruk. aku setuju."

Wheein berdecak pelan dari sofa sana, mencibir.

"Apa sih yang tak kau setujui kalau Gula yang mengatakannya, eonni?"

"Kenapa? Kau tidak setuju?" Suga membalas ucapan Wheein

"Bukan begitu, oppa. Masalahnya, aku tidak pandai membuat lagu. Kau sih enak!" Jawab Wheein kemudian menyuap snack keripiknya.

"Kenapa kau khawatir tentang itu? Kan ada aku, In-a!" Timpal Dowoon di sebelahnya, membuat Wheein menoleh dengan antusias.

"Whoa, kau mau mengajariku? Serius?!"

Dowoon mengangguk, lalu membuka mulutnya saat Wheein hendak menyuapi keripik kentang itu padanya.

Suga memandang interaksi antara sang vocalist dan sang drummer dengan malas. Kenapa jadi seperti sepasang kekasih sedang berlovey-dovey begitu? Tapi tak apalah, yang penting Wheein mau menuruti idenya untuk belajar membuat lagu.

"Ehm, gula..."

Suga mengalihkan pandangannya "Ya, Mina?"

"Bagaimana denganku? aku juga tak terlalu bisa membuat lagu. Hmm...maukah gula mengajariku?" Tanya Mina hati-hati, sedangkan Suga tertawa singkat.

"Ah, boleh."

Mina nampak senang dengan tanggapan dari leadernya itu "Benarkah? kau mau?"

Suga mengangguk sambil sesekali memetik senar gitarnya.

"Tentu saja. Kapan kau mau belajar, Mina-ya?" Tanyanya kemudian.

"Bagaimana kalau hari ini? Bukankah kita free?" Mina balik bertanya.

Suga nampak berfikir, untuk kemudian mengangguk "Bisa. Kita mau belajar jam berapa dan dimana?"

Lagi-lagi Mina nampak sangat berbinar.

"Uhm~ Sepulang dari sini saja. Kita-"

Ponsel di saku Suga berbunyi, membuat ucapan Mina terhenti.

"Ah, tunggu sebentar Mina-ya."

Sang bassist mengangguk paham. Sementara Suga menjauh untuk mengangkat teleponnya.

"hm, ada apa?" sahutnya malas

"..."

"Apa kau bilang?!"


myfiancé


Suga menoleh ke kanan dan kiri. Berharap tak ada penggemar diluar gedung ini. Dan ia bisa bernafas lega saat suasana disana sepi. Dengan segera, ia berlari menuju tempat parkir dan menemukan seseorang tengah berdiri didekat mobilnya.

Itu Jimin.

.

.

.

"Mau apa sih kau kemari? Kau tahu ini bahaya kan ?" Tanya Suga sarat akan rasa jengkel. Ia dan Jimin kini tengah duduk berdua didalam mobil.

"Maaf, hyung. Tapi tak ada fans yang melihat kan?"

"Tidak. Jadi cepat katakan kau mau apa. Jangan lama, aku sedang sibuk." Jawab Suga masih dengan nada yang sama.

Jimin mengangkat sebuah kotak- lebih tepatnya bingkisan yang sedari tadi ia pegang, "Ini." Ucapnya sambil menyerahkan kotak itu pada Suga.

"Apa?"

Suga menerimanya dengan ragu, walau pada akhirnya ia tetap membuka kotak itu.

Dan ia nampak sedikit terkejut saat melihat isinya.

"Aku tadi tak sengaja menonton tayangan interview kalian. Dan mendengar keluhanmu, aku jadi ingin membelikan itu. Mungkin takkan seenak buatan Bibi Min. tapi puding strawberry itu aku beli dari toko langganan keluargaku. Jadi Yoongi hyung tak perlu khawatir tentang kualitasnya."

Suga tak menanggapi. Dia masih menatap kotak berisi puding strawberry itu dengan begitu lekat.

"Kudengar sistem pencernaanmu sedikit terganggu. Jadi kupikir, memakan puding tak ada salahnya. Yoongi hyung-i, kau sudah terlalu lelah. Kurangilah makan makanan instan, kau bisa sakit." Ujar Jimin lagi, menasehati.

Whoa.

Baik sekali anak ini. Kemarin-kemarin saat dia sakit, memangnya Suga perduli ? Tunangannya itu untuk sekedar menelpon atau SMS saja tidak. Sekarang, hanya karena tak sengaja mendengar interview tentang Suga di televisi, Jimin mau-maunya repot begini.

Terpikirkah oleh Suga akan hal ini? Iya. sedikit. sebab fokusnya sekarang bukan pada hal itu.

Tapi,

...Puding strawberry.

Darimana Jimin tahu tentang puding strawberry kesukaannya? Ia bahkan tak menyebut secara spesifik apa yang selalu dibuat ibunya saat dia mengalami gangguan pencernaan begini. Tak ada yang hapal tentang hal ini selain ibunya dan juga-

Oh tunggu, jadi darimana anak itu tahu?

Karena, jujur saja, selama satu setengah tahun bertunangan, sedikit sekali informasi pribadi yang ia bagi pada Jimin.

"Yoongi-"

kotak itu ditutup.

"Lain kali, jika tak ada hal yang begitu penting jangan sesekali lagi datang kemari. Kau bisa membuat kekacauan lagi seperti kemarin. Dan juga-"

Ponsel Suga berdering lagi. Dengan segera ia mengangkatnya.

"Oh, ya Mina-ya?"

Detik itu, Jimin merasa sesuatu yang aneh terjadi. Oh! Yoonginya tersenyum! Dia tak lagi menampakkan raut dingin seperti biasanya. Dia nampak sumringah.

Tapi tunggu, bolehkah Jimin merasa senang? Bahkan ekspresi itu bukan Suga tujukan untuknya. Tapi untuk orang diseberang telepon sana.

"Ah, sekarang? Okay. Aku ditempat parkir, kau kemari saja Mina-ya. Hm. aku tunggu."

Suga pun mengakhiri pembicaraan nya, lalu kembali menoleh pada Jimin yang masih menatapnya. tampang dinginnya kembali.

"Kau bisa keluar. Sebentar lagi temanku akan kesini. Jangan sampai dia melihatmu."

Jimin tak memprotes apapun atas perintah Suga.

"Ah, aku mengerti hyung. Jangan lupa makan puding itu, ya ? Jaga kesehatanmu Yoongi hyung. Aku pergi."

Jimin sudah membuka pintu mobilnya setengah, tatkala Suga kembali bicara.

Sesuatu yang menyakitkan hatinya.

oh, ini seperti dejavu.

"...Dan juga, jangan berlagak seolah kita saling kenal sejak lama. Kau bahkan baru kutemui satu setengah tahun lalu karena ikatan sialan ini. Pergilah."


myfiancé


Tak ada yang pernah menghancurkanku seperti yang kau lakukan

Tak ada orang lain yang aku inginkan lebih dari dirimu

Tak ada seorangpun yang bisa membuat lelaki ini begitu lemah

Membuatnya jatuh cinta begitu dalam, sayang...

Tak ada orang lain yang mengetahuiku lebih dari dirimu

Disini seperti tak ada lagi orang lain untuk aku lihat

Dan setiap memori yang aku tahu,

Mengingatkan ku jika aku melakukan semuanya sendiri,

Sendiri.

Jika aku bisa menyerah untuk mendapatkanmu, aku mau.

Takkan mencintaimu lagi

Karena merindukanmu seperti mengundang sebuah perang

Ini adalah pertarungan, dan aku menjadi pihak yang kalah

Aku akan menyerah sayang, jika aku bisa

Jika aku bisa menjauh darimu dengan mudahnya seperti yang kau lakukan padaku,

...aku akan melakukannya.

Kupikir aku sudah cukup terluka untuk melihat segalanya

Tapi ternyata ini belum cukup untuk membuatku benar-benar merasa terjatuh

Meski luka yang kau tinggalkan padaku seperti takkan pernah terobati

Dan luka ini takkan pernah membiarkanku pergi

Katakan padaku, bagaimana bisa aku hidup dengan cinta yang ternodai?

Jelaskan padaku, bagaimana caranya aku tak merasakan perasaan ini?

Adakah jalan untuk meninggalkan semuanya dibelakangku?

Jika iya,

Cukup katakan saja, bagaimana caranya agar aku bisa menjauhimu dengan mudahnya seperti yang kau lakukan padaku,

...maka aku akan melakukannya.

( Henry Lau - I Would. failed trans by Lukailukai8 )

.

.

.

Jimin menatap sepanjang jalan yang ia lewati dari jendela bis. Perkataan terakhir Suga masih begitu jelas terngiang ditelinga.

'Jangan berlagak seolah kita saling kenal sejak lama. Kau bahkan baru kutemui satu setengah tahun lalu karena ikatan sialan ini.'

"Ternyata selama ini hanya aku ya yang mengingatnya? Kau sudah lupa..." Jimin bergumam seorang diri, lalu mengambil sesuatu dari tasnya.

Kalung itu...

"Kau benar-benar lupa padaku, huh?"

.

.

.

.

.

tobecontinued


a/n : Uhm, halo? *awkward banget lol*

okay, gak mau banyak bicara, cuma mau bilang terimakasih buat yang sudah baca apalagi sampe me-review. Terimakasih banyak~.

oh ya, ini adalah FF Re-make. jadi, mohon maaf ya kalau ada typo nama2 castnya. padahal ngeditnya sudah ekstra hati-hati, tapi masih ada aja satu dua yang nyempil hadeuuh~. semoga kedepannya bisa lebih rapih lagi.

see you^^