Jimin kecil berumur delapan tahun, berjalan-jalan disekitar taman Rumah Sakit. Kedua tangannya yang mungil memeluk sebuah kotak pemberian bibinya yang menjenguk tadi siang.

Sudah seminggu sejak Jimin menjalani perawatan di Rumah Sakit ini, dan itu cukup membosankan jika terus berdiam dikamarnya. Dua hari yang lalu, Suster Lee mengajaknya jalan-jalan dan bermain ayunan ditaman ini. Hasilnya, sekarang anak itu jadi ketagihan.

Namun sore ini ia terpaksa pergi ke ayunan itu sendiri, karena Suster Lee sedang sibuk mengurus pasien yang lain.

Sang ayah serta kedua kakak kesayangannya juga belum datang menjenguk. Pasti mereka semua sibuk.

Tak apa. Asal Jimin bisa bermain di ayunan itu, pergi sendiripun tak masalah. Terbukti, senyuman Jimin terus berkembang walau separuh wajahnya tertutup masker.

Tinggal beberapa jarak lagi menuju tempat favoritnya, langkah itu mendadak terhenti.

Mata sipitnya memicing.

Ada orang lain yang duduk di salah satu ayunan sana! Siapa ya? Setahu Jimin, tiga buah ayunan yang terletak dibawah pohon maple itu jarang sekali ada yang mendatangi. Biasanya selalu sepi. Jadi, siapa ya yang tengah duduk diayunan itu?

Berbekal rasa penasaran, Jimin berjalan mendekati. Satu langkah, dua langkah, hingga hanya tersisa sedikit jarak saja dengan orang itu. Ah! Ternyata seorang anak lelaki yang nampaknya melamun sehingga tak menyadari kehadiran Jimin. Tubuhnya tidak terlalu besar, jadi Jimin anggap anak itu seumuran dengannya.

Ingin Jimin menyapa, namun melihat anak itu benar-benar larut dalam lamunannya membuat Jimin tak enak. Dan akhirnya memilih duduk diayunan yang lain. Berselang satu dari ayunan anak itu. Kotak yang sedari tadi ia pegang, kini ia letakkan di pangkuannya. Sementara tangannya mulai menggerakkan ayunan itu dengan pelan.

Jimin menghela nafasnya pelan. Kalau ada suster Lee pasti ayunannya akan bergerak cepat.

Bicara tentang itu, kenapa anak laki-laki disampingnya hanya diam tanpa menggerakan ayunannya ya? Tahu begitu duduk saja di kursi tak usah di ayunan, gumam Jimin dalam hati.

Tapi tunggu, setelah diperhatikan lagi...

Ah! Pantas saja anak itu hanya diam. Ternyata kedua telapak tangannya diperban, terluka. Dia tak mengenakan pakaian pasien seperti dirinya, jadi Jimin baru menyadari. Aaah, pasti dia sedih karena tak bisa menggerakkan ayunannya, pikir Jimin.

Entah ada instruksi dari mana, Jimin menghentikan ayunannya. kotak itu ia letakkan lalu beranjak menuju ayunan satunya. Lebih dekat dengan anak itu.

"Hey-"

Baru setengah kata Jimin bersuara, tatapan tajam dari anak itu langsung mengejutkannya. Nampaknya dia juga sama terkejut melihat Jimin yang memakai masker tiba-tiba ada didekatnya.

"Siapa kau?" Tanya anak itu masih dengan tatapan tajamnya.

"Enggg," Jimin menggumam dibalik maskernya "aku...pasien dirumah sakit ini. Apa kau juga?"

Anak itu memutar bola matanya "Tentu saja. Kau tak lihat ini?" Jawabnya setengah bertanya sambil menunjukkan kedua telapak tangannya yang diperban.

"Ahh iya. Tanganmu kenapa? Kau terjatuh?" Jimin bertanya lagi.

"Bukan." Jawabnya sambil memalingkan wajah dari Jimin.

"Bukan? Lalu kenapa? Kelihatannya itu parah. Mana mungkin jika bukan karena jat-"

"Pak tua itu menyiksaku."

"Apa?" Jimin menautkan alis mendengar perkataan anak itu. Dia nampak kesal sekali saat mengucapkan kalimat barusan.

Namun dia tak menjawab dan kembali terdiam. Jimin pun berdiri, lalu berjalan ke belakang ayunan anak itu. Mengayunkannya perlahan, membuat dia terlonjak kaget.

"Yah! Apa yang kau lakukan?!" Paniknya karena gerakkan tiba-tiba itu.

Jimin tertawa kecil, "Membantumu. Tak seru kan kalau duduk di ayunan tapi tak bergerak? Jadi kau diam saja, biar aku mengayunkannya." Jawab Jimin dari belakang seraya tetap mengayunkan dengan pelan.

Anak itu terdiam sebentar, membenarkan ucapan Jimin. Duduk di ayunan tak bergerak memang tak asik. Sementara kedua tangannya tak bisa ia gunakan.

"Terimakasih." Katanya kemudian.

Jimin tersenyum walau takkan terlihat.

"Sama-sama."

Suasana hening. Hanya hembusan angin, serta suara bergeraknya daun maple gugur yang ada disana. Jimin tetap mengayunkan ayunan itu dengan pelan, tanpa sedikitpun merasa keberatan. Keduanya hanya saling terdiam beberapa menit, sebelum akhirnya anak laki-laki itu berkata,

"Tuan Min itu memang pria paling menyebalkan!"

"Uh? Apa katamu? Siapa yang menyebalkan?" Tanya Jimin dibelakangnya.

"Tuan Min, pak tua yang menyiksaku sampai terluka begini! Memang dasar pria jahat, menyebalkan, aku membenci-"

"Tunggu dulu. Siapa namamu?" Tanya Jimin disela-sela makian anak itu.

"Min Yoongi."

"Min Yoon- ha? Jangan bilang, daritadi kau sedang memaki ayahmu sendiri?" Jimin menghentikan gerakan mengayunnya.

"Iya. Memang kenapa? Ayahku itu pria paling jahat dan menyebalkan didunia ini! Aku tidak suka padanya, benar-benar membenc-"

"Hush! Mana boleh kau mengumpat begitu pada ayahmu sendiri?!"

"Kau tidak tahu sih! Dia itu menyebalkan! Buktinya aku dipukuli hingga begini. Apa lagi kalau bukan jahat ?"

Jimin menghembuskan nafasnya, lalu kembali duduk di ayunannya sendiri.

"Sejahat-jahatnya ayahmu, tetap saja kau tak boleh mengumpat begitu tentangnya..." Ujar Jimin sambil menatap anak bernama Yoongi itu. Kali ini Yoongi menatap Jimin dengan kesal.

"Kau membela ayahku?"

"Ha? Bukan begitu. Aku kan tidak tahu masalahnya, jadi aku tak membela siapapun. Tapi, pasti ayahmu melakukan itu ada alasannya. Mungkin karena kau...nakal?" Terka Jimin sambil menaikkan satu alisnya.

"Apa bermain alat musik adalah kenakalan?" Yoongi bertanya balik.

"Huh?" Jimin semakin menautkan alisnya. Kenapa jadi membawa-bawa alat musik?

"Aku mengikuti les bermain alat musik, dan melupakan pelajaran yang lain. Nilai-nilaiku turun, jadilah ayahku memu-"

"Aish- benar kan! Kau yang nakal disini!"

"Yak! Apa bermain alat musik itu salah? Aku menyukainya, tapi pak tua itu tak mendukungku."

Jimin berdecak pelan.

"Ck, kau ini. Tidak. Musik memang tidak salah. tapi," Jimin menghela nafas sejenak "...yang salah itu dirimu, Yoongi. Tidak bisa membagi waktu, dan akhirnya nilaimu tak seimbang. Pantaslah ayahmu marah." lanjutnya kemudian.

Yoongi tak berkedip mendengar perkataan anak bermasker ini.

"Tapi, haruskah memukuliku sampai begini? Ini sakit! Bagaimana jika aku tak bisa bermain gitar dan yang lainnya lagi?" Tanyanya sambil menunjukkan kedua tangan terlukanya tepat didepan wajah Jimin

Jimin terdiam sejenak. Ia tatap lekat-lekat tangan itu. Benar juga, semarah apapun mana boleh sampai begini? Pasti sangat sakit. Ayah Jimin tak pernah marah sampai memukulnya, jadi Jimin kasihan juga melihat Yoongi.

"Ah...Kau jangan berpikir begitu, kau pasti bisa memainkan alat musikmu lagi. Ini luka kecil saja, setelah ini Yoongi akan semakin hebat bermain musik. Percaya padaku!" Ujar Jimin berusaha menyemangati, sambil menurunkan pelan tangan itu dari depan wajahnya.

"Benarkah? Menurutmu begitu?"

"Uhm!" Jimin mengangguk sambil tersenyum , walau Yoongi takkan melihat senyum itu.

"Tapi pak tua yang jahat itu pasti-"

"Ish! Berhenti mengumpat begitu!" Jimin memperingatkan lagi, dan Yoongi meringis pelan karenanya.

"Okay. Takkan mengumpat lagi." Kata Yoongi akhirnya.

Jimin pun tersenyum. Lalu mengalihkan pandangannya kedepan, sambil menggerakkan ayunannya pelan. Dia tak tahu diam-diam Yoongi tengah memperhatikannya dengan pandangan menyelidik. Mungkin anak itu penasaran dengan wajah Jimin.

"Enggg~ tapi-"

Jimin menoleh "hn?"

"Kenapa kau memakai masker itu?" Tanya Yoongi. Dan Jimin tersenyum tipis dibaliknya.

"Karena aku sedang sakit." Jawabnya kemudian.

"Aku juga sakit, nih tanganku. Tapi aku tak memakai masker sepertimu?"

"Enggg~ mungkin karena aku lebih parah darimu? Entahlah aku juga tak tahu..."

Keduanya terdiam sejenak.

"Sudah berapa lama kau disini ?" Yoongi bertanya lagi. Entahlah, dia biasanya pendiam dan tak banyak bicara seperti ini. Apalagi pada seorang yang baru ia temui. Tapi rasa penasaran nya pada bocah bermasker ini besar juga.

"Satu minggu, mungkin? Uh, aku lupa..." Jawab Jimin sambil kembali tersenyum.

"Lama sekali. Kau tak bosan? Aku saja baru beberapa jam sudah bosan." Yoongi menghembuskan nafasnya berat, pertanda benar-benar bosan. Dan Jimin tertawa kecil dibalik maskernya.

"Aku sudah biasa." Jawabnya kemudian membuat Yoongi menaikkan satu alis.

"Sudah biasa?"

"Hm..." Jimin mengangguk. Sementara Yoongi masih bingung ditempatnya. Sudah biasa bagaimana maksudnya? Namun belum sempat dia bertanya lagi, Jimin sudah mendahuluinya.

"Ah ya! Aku lupa. Hey, Yoongi,"

"Apa?"

"Kau suka puding?" Tanya Jimin membuat mata Yoongi berbinar.

Puding? Tentu saja!

Yoongi pun mengangguk. Dilihatnya Jimin membuka kotak yang sedari tadi ia bawa.

Dan benar saja, isinya tiga buah puding warna-warni berbentuk buah-buahan, lengkap dengan fla vanillanya.

Mata Yoongi semakin berbinar.

"Whoa! Puding!" Seru Yoongi senang, membuat Jimin menatapnya dengan geli.

"Hey, awas bola matamu copot! Kau benar-benar suka puding, eh?"

Yoongi mengangguk antusias "Aku sangat menyukainya. Apalagi buatan ibuku. Tapi, karena nilaiku turun, ibu jadi tak mau membuatkannya lagi. Dia juga jahat seperti Pak tu-"

"Aish, bisakah kau jangan mengumpat terus?"

"Hehe...maaf."

Jimin menggelengkan kepalanya sambil berdecak. Namun sedetik kemudian ia bercerita,

"Tadi siang, bibiku datang dan membawakan puding untukku. Kau mau mencobanya?"

Tanpa menunggu satu detik pun, Yoongi kembali mengangguk.

"Baik. Aku akan membagi padamu. Pilih salah satu ya? Tapi jangan yang rasa-"

"Strawberry!" Yoongi menyela ucapan Jimin dengan tak sabar

"Ish! Aku baru mau bilang, jangan yang rasa strawberry. Itu rasa favoritku. Yoongi pilih yang lain!" Tutur Jimin

"Ah, tapi rasa favoritku juga strawberry."

"Tidak boleh, Yoongi. Kau pilih yang lain, ada cokelat, jeruk, atau-"

"Strawberry." Rupanya Yoongi kekeh dan tak mau mengalah. Jimin pun menatap anak itu dengan kesal.

"Yoongi! Strawberry itu punyaku. Kau yang lain ya?"

"Kau tak kasihan padaku? Aku kan sedang sakit?" Yoongi kembali menunjukkan tangannya yang terluka didepan wajah Jimin sambil memasang raut memohon. Oh, Jimin lemah sekali dengan tatapan macam itu. Ia hampir saja menyetujui jika saja tak ingat bahwa, dirinya juga kan sedang sakit!

"Hey, aku juga kan sedang sakit. Kau ini bagaimana?"

Yoongi mengedipkan matanya dua kali, lalu menurunkan tangannya.

"Ah benar juga. Tapi, kau tidak kasihan padaku? Ibuku tidak akan membuatkan puding lagi, kau kan bisa minta lagi pada bibimu. Jadi yang strawberry buatku saja ya?"rupanya Yoongi masih tetap memohon.

Jimin diam sejenak. Kasihan juga bocah yang baru dikenalnya itu.

"Hmh...Yasudahlah, strawberry untukmu. Aku yang lain." Dan akhirnya dia mengalah. Bisa ia lihat Yoongi tersenyum senang karenanya. Jimin diam-diam tertawa. Anak ini benar-benar suka rasa strawberry rupanya.

"Ah! Kau memang baik. Tapi tunggu, bagaimana aku memakannya? Tanganku kan-"

"Aku akan menyuapi Yoongi."

"He? Benarkah?"

Jimin mengangguk "tapi, kita makan dikursi itu saja ya? Kalau disini tidak nyaman..." usul Jimin sambil menunjuk sebuah kursi kayu yang tak jauh dari mereka. Dan Yoongi langsung menyetujui tanpa banyak memprotes. Ah! Yang penting ia bisa makan puding kesukaannya.

.

.

.

"Bagaimana? Enak tidak?"

Hening.

Jimin mengerutkan dahi heran, setelah Yoongi memakan puding itu satu suap, dia malah terdiam tanpa kedip.

"Hey, kau kenapa? Apa pudingnya-"

"Enaaaaaak~"

"Benarkah?"

Yoongi mengangguk "Kok bisa? Rasanya sama seperti buatan ibu! Benar-benar sama!" Serunya heran bercampur senang.

Jimin tersenyum, lalu menyuapkan satu sendok puding lagi pada anak itu.

"Whoa, baguslah. Bibiku pasti membelinya dari toko langganan keluarga. Memang puding disana yang paling daebak!"

"Benar! Ini daebak!"

Keduanya tertawa bersama. Dan seterusnya Yoongi terus menerima suapan demi suapan dari Jimin. Dalam hati ia bertanya-tanya. Siapa sebenarnya anak ini? Kenapa baik sekali? Dan juga, kenapa Yoongi begitu mudahnya merasa akrab? Dia tak seperti ini bahkan pada teman-teman sekolahnya sendiri.

Kenapa-

Ah, banyak sekali pertanyaan yang ada dibenak Yoongi. Hingga tak sadar terus menatap Jimin tanpa berkedip.

"Yoongi? Hey? Kau tak apa?"

"Ha? Tidak-tidak." Yoongi menggelengkan kepalanya. Dan Jimin nampak tak mau ambil pusing. Ia kembali menyuapkan puding pada Yoongi.

"Ng, kau tidak makan juga?" Tanya Yoongi disela-sela mengunyah pudingnya.

"Hn? Tidak. Kau saja."

"Kenapa? Apa kau benar-benar mau yang strawberry? Kalau begitu makan saja, berdua denganku?" Tawar Yoongi, dan Jimin menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

"Bukan. Aku bisa makan rasa apa saja, kok. Tapi melihat Yoongi makan sudah membuatku kenyang. Lagipula aku sedang memakai masker, jadi tak bisa memakan ini. " Jawab Jimin , lalu menyuapkan puding untuk kesekian kali.

"Ha? Bohong sekali. Masa cuma melihat orang lain makan bisa kenyang? Hey aku tidak bodoh ya!" Tuding Yoongi masih seraya mengunyah, membuat fla puding itu meleber ke sudut bibirnya.

Jimin tertawa lalu membersihkan noda fla itu "hey kunyah yang benar, jangan bicara! Jadi belepotan kan. "

Yoongi menurut. Sedikit terkejut juga dengan sentuhan jemari Jimin. Tapi pada akhirnya anak itu bicara lagi.

"Memangnya kenapa sih kau harus memakai masker begitu? Apa nafasmu tidak sesak?" Tanyanya.

Jimin menjawab dengan gelengan kepala.

"Aku hanya memakai ini jika diluar ruangan. Suster Lee bilang, udara diluar tak bagus untuk kesehatanku."

"Huh? Sebenarnya kau itu sakit apa sih? kelihatannya bahaya sekali?"

Jimin mengangkat kedua bahunya.

"Entah. Dokter Jang tak pernah bilang aku sakit apa."

Yoongi diam sejenak.

"Tak bolehkah jika benda itu dilepas sebentar saja?"

"Memang kenapa?"

Yoongi diam lagi, berpikir alasannya.

"Aku...penasaran dengan wajahmu?"

"Ha?"

"Iya! Aku ingin tahu seperti apa wajahmu. Tak enak jika bicara dengan orang tapi tak tahu wajahnya. Bukalah sebentar, boleh kan ?"

Jimin menghela nafasnya, lalu menggelengkan kepala.

"Nanti Yoongi tertular sakitku. Lagipula wajahku jelek, tidak seperti Yoongi yang tampan."

"A-apa?" Yoongi mendadak merasa aneh saat anak itu menyebutnya tampan.

"Iya, Yoongi tampan."

Oh, percayalah. Sudah banyak sekali pujian seperti itu yang Yoongi terima. Dari keluarganya, teman-temannya, dari teman ibunya, teman ayahnya, teman kakaknya, tak terhitung. Banyak yang menyebut nya tampan. Tapi, kenapa saat anak itu yang mengatakannya Yoongi merasa sangat senang?

"Ah...Kau jangan begitu, kau juga tampan kok. Jadi bukalah cepat! ayolaaaah~" Ujar Yoongi masih dengan permintaannya. Jimin juga masih tetap dengan tolakkannya. Ia malah menyuapkan lagi puding pada Yoongi.

"Naaah~ Habis! Kau mau mencoba rasa yang lain?" Tanya Jimin mengalihkan topik.

Yoongi menggeleng sebagai jawabannya.

Pertama, karena dia tak bisa makan rasa yang lain selain strawberry.

Kedua, ia masih penasaran dengan wajah Jimin. Dia tahu jika Jimin tengah tersenyum, lewat matanya, tapi ia ingin tahu bagaimana bibir anak itu melengkung saat membentuk senyuman. Ia tiba-tiba dibuat sangat penasaran.

"Terimakasih ya. Untuk pudingnya, juga suapannya." Ucap Yoongi setelah menelan puding terakhirnya.

Jimin mengangguk "sama-sama." kawabnya sambil sibuk menutup kembali kotak puding itu.

"Hey, apa kau suka bermain musik?" Tanya Yoongi tiba-tiba setelah Jimin selesai membereskan kotaknya.

Jimin menoleh, "Tidak terlalu. Tapi aku senang melihat hyungku bermain piano."

"Aku juga bisa bermain piano lho! Kau pasti akan senang juga saat melihatku!" Ujar Yoongi dengan bangganya.

"Benarkah? Wah~ main piano itu sulit menurutku."

"Huh, mana ada? Semua alat musik itu mudah tahu. Asalkan kita mau belajar. Makanya, aku mengambil les bermain alat musik itu. Aku sekarang sedang belajar tentang gitar." Ujar Yoongi nampak bahagia .Terlihat, mata anak itu berbinar saat membicarakan musik. Jimin ikut tersenyum melihatnya. Namun sejurus kemudian, Yoongi mendadak murung.

"Yoongi, kenapa?"

"Kalau tanganku tak sembuh bagaimana? Aku tidak mau berhenti main musik." jawab Yoongi dengan lesu. Jimin diam sebentar , lalu menepuk bahu Yoongi pelan.

"Itu pasti sembuh! Kau bisa bermain musik lagi. Tapi, nanti kau harus menyeimbangkan waktu belajarmu supaya ayahmu tak marah lagi." Ujar Jimin

Yoongi memperhatikan mata Jimin dengan seksama selagi anak itu bicara.

"Kau bisa bermain musik lagi, Yoongi. Percaya padaku?"

Dan dengan spontan Yoongi mengangguk , masih tetap menatap mata Jimin.

"Aku akan sembuh dan bermain musik lagi. Kau harus melihat ku bermain nanti! Kau pasti suka!"

Kali ini Jimin mengangguk dan tersenyum lebar. Melihat itu, Yoongi jadi semakin penasaran dengan wajah Jimin. Ia hendak memohon lagi, sebelum sebuah suara terdengar memanggil namanya.

"Min Yoongi!"

Keduanya menoleh, seorang remaja laki-laki tengah berlari kearah mereka.

"Yoonjae hyung..." gumam Yoongi pelan.

"Ayo pulang! Ayah sudah selesai mengurus administrasinya." Ujar Yoonjae setelah berdiri didepan adiknya. Ia melihat Jimin dan memberi senyum, yang dibalas dengan serupa oleh Jimin dari balik maskernya.

"Ayah sudah tak marah?"tanya Yoongi hati-hati. kakaknya menggelengkan kepala sebagai jawaban.

"Dia merasa bersalah padamu. Ayo pulang! Ibu sudah membuatkanmu puding strawberry dirumah!" Jawab Yoonjae

Mendengar itu, Yoongi jadi ingat sesuatu. Ia menoleh sejenak pada Jimin yang tengah menatap kearah lain. Nampak tak mau ikut campur.

"Pulang sekarang hyung?" Ia bertanya seperti tak rela.

Yoonjae mengangguk. "Tentu saja. Ayo!"

Yoongi menatap Jimin lagi "Hey," panggilnya pelan.

Jimin menoleh "iya ?"

"Aku akan pulang." Ucap Yoongi, dan Jimin tersenyum.

"Baiklah. Selamat jalan."

Yoongi nampak tak senang dengan ucapan Jimin. Kenapa selamat jalan ? bukan sampai jumpa?

Meski begitu ia tetap mengucapkan terimakasih, membuat Jimin tersenyum untuk kesekian kali.

"Kau sudah mengucapkannya berkali-kali. Padahal aku tak melakukan apapun. Sudah, pulang sana. Ibumu menunggu kan?"

Yoongi mengangguk, lalu berdiri. Berjalan pelan, mengekor Yoonjae yang sudah lebih dulu melangkah.

"Bye..."

"Bye!" Jimin melambaikan tangannya.

Saat Yoongi mulai menjauh, diam-diam senyuman Jimin lenyap. Dia kesepian lagi. Ia pun berjalan menuju ayunan yang tadi dipakai Yoongi. Duduk disana dan menggerakannya pelan.

Sejenak, ia merasa sesuatu menghilang. Kosong.

Apa ya?

Apa ia kehilangan Yoongi yang bahkan baru ia kenal kurang dari enam puluh menit itu?

"Hufh..." Jimin menghembuskan nafasnya pelan. Tangannya masilh setia menggerakkan ayunan. pandangannya tertuju pada daun-daun maple berguguran dibawah sana. kadang mereka terbawa angin dan menimbulkan sedikit bunyi.

Sunyi.

Sunyi.

Sampai sebuah suara membuatnya menoleh

"HEY!"

Yoongi sedang berlari kearahnya.

Jimin jelas terkejut dan menghentikan ayunan. Menunggu Yoongi sampai dihadapannya.

"Hey!"

"Ada apa?"

"Nama?"

"Uh?"

"Nama. Namamu. Aku baru sadar, kau tahu namaku tapi aku tak tahu namamu. Siapa?"

Jimin mengerjapkan matanya pelan. Mendadak dia merasa terenyuh. Yoongi berlari kembali hanya untuk tahu namanya?

"Kau cuma ingin tanya itu?" Tanya Jimin sambil tetap duduk diayunannya.

"Hm. Melihat wajahmu kan aku tak bisa, jadi beritahu saja namamu. Biar aku nanti mudah mencari jika ingin bertemu lagi."

Jawaban Yoongi membuat Jimin semakin terharu.

"Kita akan bertemu lagi?" Lagi-lagi Jimin melempar pertanyaan.

"Tentu saja! Nanti kalau aku sudah sembuh, kau harus melihatku bermain musik. Kau mau kan?"

Dengan spontan Jimin mengangguk "Tentu..."

"Jadi, siapa namamu ?"

Jimin tak kunjung menjawab

"Yah! cepatlah! Ayahku sudah menunggu!"

Ujar Yoongi sambil menunjuk kakak dan ayahnya yang berdiri tak jauh dari mereka. Jimin memperhatikan wajah ayah Yoongi, lantas menyadari sesuatu.

Hey! Itukan Tuan Min, teman kerja ayah? Terkanya dalam hati.

Mendadak Jimin terpikir sebuah ide.

"Hey, Yoongi"

"Ya? Ayo apa namamu?"

"Kau lihat kalung ini?" Jimin menunjuk sesuatu yang melingkar dilehernya. Sebuah kalung dengan bandul berhuruf 'J'.

"Ada apa dengan kalungmu itu?"

"Namaku. Namaku berawal dari huruf ini."

Ujar Jimin. Kalung ini adalah pemberian dari sang ayah. Ayahnya bilang, ia dan sang ibu memesannya secara khusus saat berbulan madu di luar negeri. Jauh sebelum Jimin ada. Nama Jimin sudah lama terencana. Kalung ini sangat spesial, karena yang mendesain adalah mendiang ibunya sendiri. ini limited edition!

"Namamu berawal dari huruf J?" Yoongi bertanya dan Jimin mengangguk.

"Yaaaak~ Didunia ini ada banyak sekali nama dengan huruf depan J! Jinhwan? Jisoo? Joohyuk? Jeno? atau-"

"Cukup ingat-ingat saja bentuk kalungku. ini hanya ada satu didunia. Ini milikku saja. Jadi, ingat saja kalungku maka kau akan menemukanku."

"Huh? Jadi kau menantangku?"

Jimun tertawa kecil dan mengangguk kemudian "Uhm! Aku menantangmu, Yoongi. Kau harus menemukanku!"

Yoongi terdiam, menatap kalung Jimin dengan seksama. Kemudian ia memejamkan mata. Mencoba memotret bentuk kalung itu dipikirannya.

"Hah! Baiklah, kau tunggu saja. Cepat atau lambat, aku akan menemukanmu! Saat itu aku sudah pandai semua alat musik! Dan kau akan terkagum-kagum melihatku." Ujar Yoongi dengan percaya dirinya.

"Baik. Akan kutunggu. Belajarlah yang benar, agar ayahmu tahu jika bermain musik tidaklah salah. Dengan begitu kau takkan dipukul lagi, dan kau bisa menunjukkan kehebatanmu padaku."

"Kau mendukungku, kan?"

"Hm, aku mendukung, dan menunggumu. Jika kita berjodoh, kita pasti bertemu lagi."

"Kau benar! Baiklah. Sampai jumpa lagi !" Yoongi tersenyum lalu hendak melangkah, namun tak sampai lima langkah ia berbalik dan mendekati Jimin lagi.

"Ada apa lagi?" Tanya Jimin heran.

"Pejamkan matamu!"

"Uh?"

"Ish cepat!"

Jimin spontan menuruti perintah Yoongi, memejamkan kedua matanya. Dalam hati ia menerka, kira-kira kenapa ya Yoongi kembali dan menyuruhnya memejamkan ma-

chu~

Jimin membeku. Apa itu tadi? Salah satu kelopak matanya seperti dici-

chu~

...dua kelopak matanya...dikecup...oleh-

"Yoon-"

Masih memejam dalam keterkejutannya, Yoongi kembali berkata.

"Anggap saja jabatan tangan dariku. Aku suka melihat matamu. Sampai jumpa, J!"

Begitu Jimin membuka mata, Yoongi sudah benar-benar berlari pada ayah dan kakaknya. Jimin menatap kepergian Yoongi dengan senyum mengembang. Ia senang. Terlalu senang hingga tak sadar satu tetes airmatanya mengalir.

"Sampai jumpa, Min Yoongi..." Bisiknya pelan, dan angin akan menghantarkannya pada Yoongi.

.

.

.

Orang yang dulu sangatlah lembut seperti serpihan salju putih,

orang itu kini menyakitiku.

Angin yang berhembus sepertinya benar-benar membawamu pergi jauh.

Sampai hari inipun aku akan tetap berada disisimu

Meskipun dengan mudahnya kau berpaling,

Meskipun dengan mudahnya kau menjauh dariku.

Apa kau tahu?

Tidak mudah bagiku untuk melupakanmu...

Seterusnya seperti ini, aku masih seperti ini.

Bukankah aku terlihat bodoh bagimu?

Bertahan dengan cinta kejam yang kau beri padaku.

Aku hanya menunggu

Mungkin,

Mungkin saja, setidaknya sekali dalam hidupmu

Apakah ada satu hari dimana hatimu yang dingin terkadang memikirkanku?

Atau setidaknya mengingat pertemuan pertama kita dulu?

.

.

.

Sejak berpisah dengan Yoongi hari itu, ia tak pernah menemui anak itu bahkan dalam jangka sepuluh tahun berikutnya. Setiap Tuan Min melakukan pertemuan dengan Ayahnya (yang kala itu masih hidup), Yoongi tak pernah sekalipun ikut. Yang Jimin lihat hanyalah Yoonjae hyung. Yoongi benar-benar lebih menyukai musik dibanding apapun rupanya. Yoonjae hyung pun sepertinya tak mengenali Jimin, karena saat bertemu di Rumah sakit kala itu ia mengenakan masker.

Biarlah, bukankah Jimin sendiri yang pernah bilang, Jika ia dan Yoongi berjodoh mereka pasti bisa kembali bertemu. Jadi yang Jimin lakukan hanyalah menunggu.

Satu setengah tahun lalu. Malam dimana kakek dan neneknya memberi tahu perihal perjodohan dengan putra Tuan Min, adalah malam yang paling tak bisa ia lupakan. Saat sang kakek menyebut nama Min Yoongi sebagai calon tunangannya, Jimin tak bisa berhenti tersenyum. Sejenak ia lupa, bahwa dua minggu sebelumnya sang ayah telah meninggal. Yoongi benar-benar membuat Jimin bahagia setengah mati. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya ia akan berjumpa lagi dengan anak itu. Tak tanggung-tanggung untuk bertunangan! Dalam benaknya ia tak berhenti menerka;

Seperti apa ya dia sekarang? Apa lebih tampan? Apa kemampuan bermain musiknya bertambah? Ah...Jimin jadi ingat dengan janji anak itu jika ia akan menunjukkan kehebatannya bermain alat musik pada Jimin saat mereka bertemu lagi.

Namun janji tinggalah janji. Kenyataannya semua janji itu lenyap tak bersisa lagi.

Jangankan memenuhi janjinya, mengingat Jimin pun sepertinya Yoongi tidak. Malam pertunangan itu, berubah menjadi menyedihkan bagi Jimin. Sebab tak ada lagi senyum Yoongi yang seperti dulu. Tak ada lagi mata berbinar Yoongi seperti saat menatap Jimin dulu. Tak ada lagi Yoongi yang bawel meminta Jimin membuka maskernya. Kini melirik Jimin saja ia tak tertarik sedikitpun.

Min Yoongi berubah.

Kata-katanya menjadi sangat kasar. Dan itu menyakiti hati Jimin. Harusnya ia segera keluar saja dari keadaan seperti ini. Mestinya ia melepaskan Yoongi saja.

Namun sesuatu dari hatinya berkata lain.

Bertahanlah.

Bertahanlah, Jimin. Jangan mengecewakan kakek yang telah menjodohkan mu dengannya.

Bertahanlah. Mungkin butuh waktu bagi Yoongi untuk menyadari siapa dirimu sebenarnya.

Akan tetapi...

Ucapan Yoongi beberapa menit lalu terngiang lagi, seolah mematahkan harapannya.


myfiancé


Jimin menatap sepanjang jalan yang ia lewati dari jendela bisnya. Perkataan terakhir Suga masih begitu jelas terngiang ditelinga.

'Jangan berlagak seolah kita saling kenal sejak lama. Kau bahkan baru kutemui satu setengah tahun lalu karena ikatan sialan ini.'

"Ternyata selama ini hanya aku ya yang mengingatnya? Kau sudah lupa..." Jimin bergumam seorang diri, lalu mengambil sesuatu dari tasnya.

Kalung itu...

"Kau benar-benar lupa padaku, huh?" Tanyanya entah pada siapa. Lantas ia menghembuskan nafasnya pelan dan memasukkan lagi kalung itu kedalam tas. Ia sandarkan kepalanya pada jendela. Lalu diam. Larut dalam lamunannya.

Terlalu larut.

Hingga tak sadar jika seorang pelajar SMA yang duduk disampingnya memperhatikan Jimin sedari tadi. Kadang dia tak berkedip melihat tatkala Jimin juga tak berkedip. Kadang dia mengerutkan dahi saat dilihatnya Jimin seperti merasa bersedih. Bahkan ia tersenyum geli saat melihat Jimin berbicara sendiri pada kalungnya. Nampaknya anak itu tertarik melihat gerak-gerik Jimin. Sebenarnya sedikit heran dan penasaran juga. Jimin ini sedang melamunkan apa sih? Kelihatannya sangat serius bahkan tak sadar jika ada orang lain memperhatikannya dari tadi.

Tunggu.

Tidak, sekarang Jimin sepertinya mulai sadar. sebab, demi Tuhan, tiba-tiba dia menoleh!

Tepat saat laju bis berhenti. Maka kesempatan itu ia gunakan untuk segera turun, meninggalkan Jimin yang tengah terbingung sendiri. Karena diam-diam, Jimin juga sempat memergoki anak itu memperhatikan dirinya sambil senyum-senyum sendiri dari bayangan di jendela.

Aneh sekali.

"Siapa dia?" Tanya Jimin sambil melihat keluar dari jendela. Dilihatnya remaja itu sedang memperhatikannya lagi dari luar sana. Bahkan hingga bis mulai melaju perlahan, anak itu masih berdiri ditempatnya.

"Siapa sih? apa aku mengenal- astaga apa-apaan itu?!" Jimin bertambah heran manakala pemuda itu mengedipkan sebelah matanya padanya.

Jimin bergidik, lantas segera mengalihkan pandangannya seolah tak melihat apa-apa.

Apa-apaan itu? Anak SMA itu baru saja menggodanya?! Yang benar saja!

.

.

.

.

.

tobecontinued


a/n : kkeut! chapter ini cuma flashback, menceritakan masa lalu, pertemuan pertama Yoongi sama Jimin. Pertemuan yg indah tapi malah jadi menyedihkan gegara ide bodohnya Jimin wkwk~ padahal mah tinggal bilang aja "nama gue jimin!" apa susahnya sih elaaah (?)

ah ya! ada cast baru juga syalalala~~~(?)

udah ah. terimakasih yang sudah review di chapter sebelumnya. review lagi ya!

sampai jumpa!

p.s : masih adakah typo? -_-