Ansatsu Kyoushitsu
By:
Yuusei Matsui
It's Time
By:
Amaya Kuruta.
OOC, Horor, Typo bertebaran dan mengandung racun tikus XD
Chapter: 18
Nagisa menutup wajahnya dengan selimut. Berulangkali dia mencoba untuk tidur namun berakhir dengan wajahnya yang memanas. Setiap kali matanya terpejam, selalu saja otaknya mengirimkan gambar kejadian siang tadi. Apalagi kalau bukan Akabane Karma yang ia cintai mengatakan bahwa ia mencintainya? Dan lagi lengkap dengan paket ciuman lembut. Rasanya bibir Karma begitu berkesan. Hal itu mau tak mau membuat Nagisa memanas dan segera membuka matanya.
"Hhhh… kenapa aku seperti ini?" Ratap Nagisa. Ia menyingkap selimutnya dan duduk diam diatas kasurnya. Matanya kemudian melirik pada jam kecil dimeja belajar kamar itu. Sudah hampir tengah malam. Bagus. Bagus sekali ia memilih waktu tidak bisa tidur dengan tepat. Besok ujian dilaksanakan dan dia tidak bisa tidur! Nagisa memutuskan untuk turun dari kasurnya dan berjalan kearah pintu. Ia membuka pintu kamarnya dan menutupnya perlahan. Kemudian matanya melirik pada pintu disebelahnya. Lantas wajahnya memerah.
"Ugh.. aku harus berhenti memikirkannya." Gumam Nagisa dan segera menuju kelantai bawah. Nagisa membenarkan rambutya yang tak terikat itu sembari menuruni tangga.
"Mungkin susu hangat bisa membantuku untuk tidur." Pikirnya. Namun baru saja ia akan melangkahkan kakinya ke dapur, ia mendengar suara dari arah ruang keluarga. Nagisa berjalan perlahan dan mengintip dari balik dinding. Lalu ia mengangkat alisnya saat melihat Akabane Karma nampak memperhatikan layar televisi dengan datar.
"Karma-kun?" Panggilnya. Surai merah itu menoleh.
"Oh, hei! Kau belum tidur?" sapa Karma. Nagisa bisa melihat Sebastian bergelung dipangkuan Karma.
"Kau sendiri?" Nagisa balik bertanya. Lalu teringat sesuatu, ia mengernyit. " Karma-kun, besok kita akan mengadakan ujian dan kau justru menonton televisi?" Tanya Nagisa heran. Karma tersenyum.
"Lalu? Tidak masalah.. aku bisa tidur dalam perjalanan besok. Nagisa sendiri kenapa masih belum tidur?" Karma mengulang pertanyaannya. Nagisa teringat alasan kenapa ia tak bisa tidur lalu berpaling dengan semburat merah tipis. Karma yang melihat itu hanya tersenyum santai.
"Kalau kau memang tak bisa tidur kemarilah." Karma menepuk sofa sebelahnya. Nagisa berjalan ragu. Namun akhirnya ia duduk disebelah Karma. Lalu keduanya terdiam. Sesekali Nagisa melirik Karma yang justru nampak focus dengan tayangan didepannya.
"N-ne, Karma-kun.." Nagisa memanggil pelan.
"Hm?" Jawab Karma singkat. Bahkan matanya tak berpindah dari layar televisi.
"Apa kau tau ada apa dengan Asano-kun?" Tanya Nagisa. Karma terdiam sejenak.
"Tidak. aku tidak tau dia kenapa. Kalau kau mau menanyakan tentang Asano, sebaiknya kau tanya pada anak buahnya. Bukan kepadaku." Jawab Karma datar.
"Yah.. kupikir kau akan tau sesuatu. Bagaimanapun kau rivalnya. Biasanya rival akan mencari tahu kelemahan lawannya bukan?" ucap Nagisa. Karma tersenyum kecil.
"Oh, itu semua bukan hal yang penting. Untuk apa aku menyelidiki kehidupannya?" jawab Karma tak acuh. " selain itu aku tau bahwa kau kelemahan terbesarnya, Nagisa." Lanjutnya dalam hati. Nagisa menghela nafas.
"Kau benar-benar membencinya ya?" Nagisa menatap wajah tampan disebelahnya penasaran.
"Tidak juga. Kami bukan teman. Itu saja. Setidaknya kami tidak pernah sekelas dan tidak pernah berkenalan secara resmi. Jadi, bukan berarti aku membencinya." Jawab Karma.
"Hmm.. tapi kau terlihat tidak suka dengannya." Jawab Nagisa.
"Oh ya? Bagaimana kau bisa yakin?"
"Dari caramu menjawab pertanyaanku sejak tadi." Jawab Nagisa. Karma terdiam lalu tersenyum. Ia menoleh dan menatap Nagisa.
"Hee~ menurutmu begitu? Kalau begitu sayang sekali kau salah, Nagisa-chan~"
"Oh? Lalu? Kau nampak terganggu dengan pertanyaanku." Jawab Nagisa.
"Tentu saja aku terganggu.. kau membicarakan Asano didepanku, orang yang baru tadi pagi menyatakan perasaannya padamu. Bahkan aku menciummu loh, kalau kau tidak ingat~." Jawaban Karma membuat Nagisa memerah.
"A-aku ingat. Dan tak perlu kau ingatkan!" ujar Nagisa. Karma tertawa kecil.
"Oh jadi kau ingat.. hmm~ jadi kau tau kan kalau aku bukan tidak suka padanya. Salahmu membicarakan laki-laki lain didepan orang yang mencintaimu." Jawab Karma tak acuh. Nagisa terperangah. Apa Karma serius mengatakan itu semua dengan ekspresi super santai seperti itu? Karma tertawa melihat wajah Nagisa. kemudian ia meraih dagu Nagisa.
"Ne, kalau kuingat-ingat.. saat kau bicara tadi, aku langsung menciummu tanpa tau apa kalimat yang akan kau lanjutkan. Jadi, bagaimana dengan pernyataan cintaku tadi? Kau menerimanya atau tidak,hm?" Tanya Karma.
BLUSH
BLUSH
Nagisa tidak tau hendak menjawab apa. Yang ada dipikirannya sekarang hanya kalimat-kalimat berisi ketidak percayaan dengan apa yang baru dikatakan Karma. Dan juga sedikit kutukan. Karma yang melihat itu kebali tertawa. Menggoda Nagisa dikala bosan benar-benar obat yang sangat mujarab untuknya. Kemudian ia melepas pegangannya dan kembali focus ke layar televisi. Nagisa masih berusaha mengatur detak jantungnya. Setelah beberapa saat dalam kesibukan masing-masing, Karma melirik surai biru disampingnya.
"Jadi, kenapa kau bertanya tentang Asano? Kau merasa ada yang aneh dengannya?" Tanya Karma. Nagisa mengangkat bahunya.
"Entahlah. Tapi.. sikapnya jika bertemu denganku benar-benar tak terduga. Maksudku, saat aku menepati janjiku kemarin, dia mengajakku ke bioskop. Maksudku, dia bukan type orang yang akan menghabiskan akhir pekan di bioskop, bukan?" jelas Nagisa.
"Hmm.. mungkin dia sedang suntuk dan ingin mengganti suasana, Nagisa." jawab Karma.
"Mungkin saja. Tapi aku tetap tak menyangka.." Nagisa tersenyum kecil.
"Tidak menyangka bahwa?"
"Aku tidak menyangka kalau.. dia sebenarnya orang yang ramah dan baik. Terkadang dia bersikap sangat menggemaskan." Jawab Nagisa. alis Karma sukses berkedut.
"Hmm.. jadi?"
"Jadi apa?" Tanya Nagisa bingung.
"Jadi apa yang sebenarnya ingin kau katakan? Kau mengaguminya? Atau kau menyukainya?" Tanya Karma. Nagisa menggeleng cepat.
"Bu-bukan begitu. Maksudku, dia tak sejelek yang biasa dikatakan anak-anak lainnya. Dia baik, sopan, ramah, cerdas dan.. menurutku dia lumayan menyenangkan."Jawab Nagisa sambil tersenyum. Karma menoleh dan menatap Nagisa dengan tatapan tak percaya. Lalu tanpa mengatakan apapun dia beranjak meninggalkan Nagisa. Nagisa hanya menatap punggung Karma dengan tatapan bingung. Kemudian ia bergumam,
"Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?"
Ansatsu Kyoushitsu
Nagisa menatap pemandangan diluar jendela. Sesekali ia menguap. Nagisa jelas mengantuk. Tapi entah kenapa matanya tidak mau terpejam. Pikirannya melayang kemana-mana. Ia ingat bagaimana Karma bereaksi saat semalam ia membahas Asano Gakushuu.
"Jadi, bagaimana dengan pernyataan cintaku tadi? Kau menerimanya atau tidak, hm?" Perkataan Karma kembali hadir dikepalanya. Nagisa memerah dengan sendirinya. Kalau diingat, Nagisa memang hampir Hampir mengatakan kalimat semacam aku menyukaimu. Tapi itu memang belum terucap. Tapi Karma sudah tau bukan? Ya, Karma pasti tau bagaimana perasaannya. Tapi…
"Nagisa-chan? Kau baik-baik saja?" Nagisa menoleh dan mendapati Kayano dan Nakamura menatapnya khawatir. Nagisa tersenyum dan mengangguk.
"aku baik-baik saja, Kayano, Nakamura-san." Jawabnya. Nakamura melipat tangannya.
"Oh, kau memang harus melihat wajahmu sendiri sekarang." Nakamura mengambil ponselnya dan dengan cepat memotret Nagisa.
"Untuk apa foto itu?" Tanya Nagisa bingung. Nakamura mengulurkan ponselnya kearah Nagisa. Nagisa –masih bingung- menerima ponsel Nakamura dan melihat foto dirinya disana. Matanya sayu dan sedikit merah. Wajahnya juga merah. Dan itu terlihat seperti orang terkena flu. Nagisa tertawa kecil.
"Aku baik-baik saja, Nakamura-san. Aku hanya sedikit mengantuk."Ucap Nagisa berusaha meyakinkan. Nakamura menghela nafas.
"Aku tau kau sehat. Tapi aku tidak yakin kau baik-baik saja. Maksudku, kalaupun bukan penyakit karena virus, pasti itu masalah hati dan otakmu. Jadi katakan ada apa?" Tanya Nakamura. Nagisa sweatdrop. Kemudian ia menghela nafas melihat bagaimana Nakamura menatapnya seakan siap menelanjanginya. Nagisa akhirnya memilih menceritakan keluhannya.
"….Jadi.. aku tidak tau apa yang harus kulakukan.. maksudku, kami memang sudah tau perasaan masing-masing. Tapi..Nakamura..san?" Didepan Nagisa, Nakamura nampak memegang hidungnya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Nagisa. Nakamura menoleh kekanan.
"Aku baik-baik saja. Hanya saja tingkah dan wajahmu barusan memang memasuki batas keilegalan dikepalaku." Nakamura mengelap mimisannya dengan tissue selagi Nagisa hanya bisa menatap Nakamura dengan wajah datar.
"Ehm.. jadi apa yang kau bingungkan sekarang?" Tanya Nakamura. Nagisa mengerjap.
"Maksudku, kalian sudah saling mengerti perasaan masing-masing. Jadi apa yang kalian bingungkan sekarang?" Tanya Nakamura. Nagisa menggigit bibirnya.
"Aku.. kami.. apa sekarang?" Tanyanya.
"Huh?"
"Jadi, apa kami sekarang? Maksudku, ini semua aneh, Nakamura-san.. kami teman baik selama ini. dan setelah semua yang terjadi, apa nama hubungan kami sekarang?" Tanya Nagisa. Nakamura terdiam sejenak. Kemudian dalam hitungan detik, ia tertawa.
"Astaga! Aku tidak percaya ini! kalian bahkan sudah berciu-Hmmp!" Nagisa dengan cepat menutup mulut Nakamura.
"Kau terlalu keras, Nakamura-san!" Bisiknya panic. Nakamura meraih tangan Nagisa dan membebaskan diri dari bekapan tangannya.
"Nah, kau tau pasti kan, kalau orang sudah melakukan sampai sejauh itu, itu arrtinya mereka seorang pasangan?" Nagisa mengangguk.
"Begitu juga dengan kau dan Karma!" Ujar Nakamura gemas.
"E-eh? Tapi, aku tidak.. maksudku kami tidak pernah membuat kesepakatan tentang hal itu. baik Karma-kun ataupun diriku tak mengatakan hal itu. tak memastikan hal itu." jawab Nagisa. Nakamura mengusap dagunya.
"Jadi Nagisa-chan termasuk orang yang butuh kepastian lewat kalimat, huh?" Kemudian ia melirik kebangku belakang tempat surai merah yang nampak tidur pulas.
"Ne, Nagisa-chan.. bagaimana jika kau mengatakan duluan padanya?" usul Nakamura. Nagisa mengernyit.
"Mengatakan apa?"
"Bahwa kau ingin merubah status hubungan kalian!" Nagisa mengangkat alisnya.
"Aku? Tapi…" Nagisa menunduk. "Aku mungkin menyukainya. Tapi.. merubah status hubungan yang sudah ada? Aku harus memikirkannya dua kali, Nakamura-san.." lanjutnya.
"Eh? Kenapa? Bukannya sudah jelas bagaimana kalian berdua saling menyukai?" Tanya Nakamura. Nagisa menggeleng.
"Aku tau perasaan kami sudah sangat jelas tersampaikan. Hanya saja.." Mata Nagisa tertuju pada sosok senseinya yang tengah asyik berbincang dengan para murid lelaki. Kemudian ia bisa merasakan tepukan dibahunya. Nakamura tersenyum.
"Baiklah, sebaiknya aku tidak memaksamu. Tapi jika kau akhirnya memutuskan untuk menerima perubahan status ini.." Nakamura mendekatkan bibirnya dengan telinga Nagisa. Nagisa mendengarkan bisikan Nakamura dan melebarkan matanya. Semburat merah muncul merona dikedua pipinya.
"Apa-apaan itu?" Tanya Nagisa. Nakamura tertawa iblis.
"Apa? Adil bukan jika mata dibalas mata? Itu hanya mempermudah mereka yang sulit mengungkapkan apa yang mereka pikirkan! Yah, aku juga tak memaksa.. kau tau kan?" Nakamura mengedipkan matanya. Nagisa menghela nafas dan membuang pandangannya kearah jendela. Jadi.. apa yang harus ia lakukan sekarang?
Ansatsu Kyoushitsu
Nagisa membuka matanya dan mengerjap beberapa kali. Mencoba membiasakan diri dengan pemandangan disekitarnya. Kemudian ia mengernyit.
"Ini dimana?" Pikirnya. Kemudian pintu diseberang ruangan terbuka.
"Oh, kau sudah bangun, Nagisa?" Kayano menyapanya riang. Nagisa mengangguk.
"Um. Tapi.. kita ada dimana?" Tanya Nagisa. Kayano tertawa kecil.
"Ini di kamar penginapan. Kau tidur sangat pulas tadi. Jadi kami tidak tega membangunkanmu. Apalagi saat Nakamura bilang kau kurang tidur semalam." Jawab Kayano. Nagisa menggumam pelan.
"Ah, hei! Siapa yang membawaku kesini?" Tanya Nagisa. Kayano meletakkan baju ditangannya.
"Koro sensei mengantarmu. Dan ngomong-ngomong, teman-teman lainnya sedang asyik meluncur sekarang. kau mau ikut? Atau kau masih mau istirahat? Toh ujiannya baru akan dilakukan sore nanti. Bagaimana?" Tanya Kayano. Nagisa mengangguk.
"Baiklah. Kurasa akau akan ikut denganmu."
Ansatsu Kyoushitsu
Koro sensei nampak sibuk memotret murid-muridnya. Sesekali lensanya mengarah pada beberapa pengunjung muda nan cantik disekitarnya. Bitch sensei sendiri nampak sudah berkumpul dengan sekelompok laki-laki dan sibuk berhaha-hihi. Nagisa hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah gurunya.
"Ne, Nagisa-chan! Bagaimana jika kita membeli kopi panas?" ajak Kayano.
"Kopi? Kukira kau bukan orang yang tertarik dengan kopi." Ujar Nagisa.
"Yah, harusnya begitu. Tapi kudengar mereka menjual Kopi yang sangat enak. Kapan lagi kita bisa minum kopi ditempat ini?" Jawab Kayano. Nagisa menghela nafas.
"Baiklah." Jawabnya. Kemudian keduanya mengarahkan kakinya kearah kedai. Baru saja keduanya akan memasuki kedai, mereka mendengar suara gedebuk yang keras. Mereka menoleh kesumber suara dan menemukan surai merah terlentang ditanah.
"Karma-kun?" ujar keduanya terkejut. Sosok itu tak bergerak sedikitpun. Kayano dan Nagisa berpandangan sejenak lalu melangkah mendekati Karma.
"Huh? Yang benar saja!" ujar Kayano saat mendapati surai merah itu hanya sedang tertidur. Tapi siapa yang bisa tidur bahkan setelah terjatuh dari dahan pohon? Mungkin permuakaan tanah memang dipenuhi salju. Tapi tetap saja itu namanya jatuh! Nagisa sendiri hanya menatap Karma sweatdrop. Entah salju ini yang terlalu empuk atau memang Karma memiliki daya tahan tubuh yang kuat, Nagisa tak tau. Yang pasti dia harus membawa Karma kepenginapan agar tidak sakit.
"Nah, bagaimana cara membawanya? Kau yakin kita berdua bisa?" Gumam Kayano. Nagisa menghela nafas.
"Mungkin kita harus memanggil Koro sen-"
"BUNUH DIAAAAAA!" Nagisa dan Kayano kini melihat kearah Koro sensei yang nampak menghindari sabetan pisau anti sensei sambil tetap membaca majalah favoritnya.
"Sepertinya sensei sedang sibuk.. ya?" Tanya Kayano.
"U-um." Jawab Nagisa. keduanya kembali menoleh kearah Karma.
"Jadi?"
"Apa boleh buat, kita akan coba berdua." Jawab Nagisa. Kayano mengangguk setuju.
Ansatsu Kyoushitsu
"Hup.. Haaah!" Nagisa dan Kayano akhirnya berhasil menaikkan tubuh Karma keatas kasur. Kayano nampak sibuk mengatur nafasnya. Sedangkan Nagisa lebih sibuk dengan memandang surai merah milik Karma. Tangannya terasa gatal ingin mengusap helai merah itu.
"Nagisa, sebaiknya kita segera kembali. Bisa gawat jika ada yang melihat kita dikamar laki-laki." Ajak Kayano. Nagisa menoleh dan tersenyum.
"Kau duluan saja kalau begitu, Kayano. Aku akan melihat keadaannya dulu."
"ah kau benar. Kita tidak tau apa dia tiba-tiba tertidur atau apa. Bisa juga ada benturan dikepalanya atau mungkin tulang yang patah karena terjatuh. Atau mungkin cedera otak dan pendarahan di..-"
"Err.. Kayano.. sepertinya itu terlalu berlebihan." Nagisa mengingatkan. Akhirnya Kayano pamit meninggalkan Nagisa. Nagisa melepaskan mantel yang digunakan Karma. Kemudian ia mengambil handuk dan dengan pelan mencoba mengeringkan rambut Karma yang sedikit basah karena terkena salju. Nagisa menghela nafas dan menopang dagunya. Matanya menatap wajah tenang Karma. Kemudian ia tersenyum kecil.
"Wajahnya seperti anak kecil. Seperti bukan Karma yang hobi membuat orang menderita." Pikir Nagisa. matanya menelusuri surai merah Karma. Lalu berlari kearah pipinya. Hingga akhirnya sampai ke bibir merah Karma. Nagisa merasa pipinya memanas. Bibir itu adalah bibir yang menciumnya. Dan lagi, Nagisa pernah memiliki inisiatif sendiri untuk menciumnya. Kemudian bola matanya kembali bergerak naik ke hidung mancung karma dan sampai di manik emas pucat milik Karma. Manik yang selalu berhasil membuat Nagisa diam disana untuk beberapa saat. Tunggu.. manik?
"Aku tidak tau kenapa kau ada disini.. tapi aku cukup terkejut kau menatap bibirku dengan ekspresi seperti itu, Nagisa~." ujar Karma. Nagisa melompat saat mendengarnya. Matanya melebar dan tangannya dengan cepat menutup bibir dan hidungnya. Pipinya memerah.
"Karma-kun! Kau.. sejak kapan kau sadar?" Tanya Nagisa. Karma bangkit dari tidurnya dan menguap.
"Sejak kau memperhatikan wajahku seperti orang yang sangat ingin melahapku." Jawab Karma santai. Nagisa semakin salah tingkah.
"A.. kalau begitu, aku akan keluar dari sini. Maksudku kau sudah sadar dan sehat. Jadi..-"
"Jadi, kau akan tetap disini." Karma menarik tangan Nagisa dan memeluknya. Membuat Nagisa terjatuh dan menimpa tubuh Karma.
"Karma-kun! Apa yang kau lakukan?" Tanyanya panic.
"Hmm? aku memelukmu. Itu saja." Jawab Karma.
"A-aku tau! Maksudku, kita tidak seharusnya melakukan ini!" protes Nagisa.
"Hee~.. kukira ini hal yang biasa dibandingkan dengan yang kita lakukan kemarin lusa.." jawab Karma. Nagisa merasa ia ingin melayangkan tangannya untuk memukul rambut merah itu.
"Karma-kun.. bagaimana kalau ada yang melihat kita?" Tanya Nagisa pelan.
"Ya.. sudah. Mereka hanya melihat kan?" Jawab Karma santai. Nagisa menghela nafas mendengar jawaban Karma. Kemudian Nagisa melemaskan tubuhnya dan menikmati kehangatan yang menguar dari tubuh dibawahnya.
"Hm? Kau menyerah?" Tanya Karma.
"Tidak. aku juga tidak perlu menyerah. Kita tidak sedang berlomba atau apa, Karma-kun." Jawab Nagisa. Karma tak membalas perkataan Nagisa. kemudian keduanya terperangkap dalam keheningan selama beberapa saat.
"Ne.. Karma-kun.." Panggil Nagisa.
"Hm?"
"Apa kau serius?" Tanya Nagisa.
"Tentang?"
"Yang kau katakana kemarin lusa." Karma menatap surai biru didekapannya. Ia memejamkan matanya dan membukanya dalam helaan nafas.
"Um. Aku sangat serius."
"Meskipun kau tau aku bukan..wanita tulen?" Tanya Nagisa pelan. Karma terdiam. Kemudian ia mendorong tubuh Nagisa. membuat tubuh mereka terpisah. Nagisa duduk ditepi kasur sementara Karma nampak memijat tengkuknya.
"Aku tak melupakan hal itu, Nagisa. dan sampai sekarang ternyata hasilnya sama saja." Jawab Karma. Nagisa menunduk.
"Jadi.. apa kau ingin mengatakan bahwa hubungan kita sekarang berada ditahap lebih dari sebuah pertemanan?" Tanya Nagisa lirih. Karma menatap kepala yang menunduk itu sejenak.
"Nagisa.. aku mungkin tak pernah mengatakan hal itu. bukan karena aku tak ingin memperjelas semuanya. Hanya saja.." Nagisa menoleh kearah Karma. Mata mereka bersibobok.
"Hanya saja aku masih melihatnya. Sebersit keraguan dimatamu. Aku tau kau memikirkan semuanya, dari sudut pandang manapun. Dan aku mencintaimu. Apapun wujudmu. Jadi.. aku tak ingin memaksamu." Jawab Karma. Nagisa Karma bangkit dan menepuk kepala Nagisa sambil lalu. Nagisa hanya bisa terdiam saat ia mendengar suara pintu tertutup. Dan ketika ia menoleh, sosok Akabane Karma sudah tak ada disana.
Ansatsu Kyoushitsu
Irina Jelavich merubah arah pandangnya saat ia menangkap surai merah khas kesayangannya- dia seorang guru. Jadi, dia menyayangi muridnya.- nampak keluar dari penginapan. Kemudian setelah berpamitan pada pria-pria tak kuat iman itu, ia segera berjalan menghampiri Akabane Karma.
"Hei..hei.. kau mau kemana?" Tanyanya. Karma menoleh.
"Are? Jarang sekali kau menyapaku, Bitch sensei.." Ucap Karma. Irina merasa alisnya berkedut.
"Aku mengkhawatirkanmu dan Nagisa tentu saja. Apalagi diujian ini yang paling penting adalah kemenangan kalian." Jawabnya. Karma tersenyum santai.
"Kau sudah lihat latihan kami. Jadi kau pasti tau hasilnya." Jawab Karma.
"Hmp.. dasar bocah! Kau kira aku tak mengerti kalau kau sedang memikirkan sesuatu saat ini? kuingatkan kau,bocah.. sesepele apapun bebanmu, itu bisa mempengaruhi penampilanmu nanti. Setidaknya kau ceritakan kepada siapapun yang kau percaya. Ah sou! Kau bisa cerita padaku atau Nagisa kan?" nasehat Bitch sensei. Karma menatap gurunya datar.
"Wah.. aku baru mendengarmu mengatakan kalimat yang berguna dan tidak mengandung unsur mesum, Bitch sensei." Jawab Karma. Irina bersumpah dia akan memberi Karma hukuman saat itu juga jika bukan karena tepukan tentakel kuning itu hinggap diwajahnya.
"Oh, Jadi kau ada masalah, Karma-kun? Fufufufu~ kau bisa percayakan pada sensei jika kau tak percaya pada Irina sensei.." Tawar Koro sensei.
"Kenapa guru-guru ini sensitive sekali? Dan kenapa pula gurita ini tau pembicaraanku dengan Bitch sensei?" kedua gurunya menatap Karma sambil menunggu jawaban dari Karma. Karma membalikkan badannya dan tersenyum sweatdrop.
"Tidak usah saja.. aku rasa aku bisa..WUAAAH." Karma tak menyadari seringai lebar dari kedua guru dibelakangnya. Dalam sekejap ia tertarik dan mengelana dalam kecepatan Koro sensei. Berputar-putar diatas perkemahan.
"Apa yang kau lakukan, Koro sensei?" Tanya Karma dengan nada mengancam. Disebelahnya, Irina sensei melipat tangannya.
"Hm.. jadi ayo kita mulai sesi konsultasi ini." Ujarnya. Karma tertawa datar. Jadi serius dia harus berkonsultasi dengan kedua sensei paling abnormal ini?
Ansatsu Kyoushitsu
Yukiko Kanzaki kembali melirik surai biru disebelahnya. Saat ini dia dan beberapa anak perempuan lainnya sedang berkumpul di restoran untuk makan siang. Beberapa menit ini mereka nampak asyik membicarakan pasangan meluncur masing-masing. Mulai dari Nakamura yang memamerkan tattoo hena yang dibuat Sugaya ( "dia bilang ini akan menambah point plus untuk penampilan") sampai Ritsu palsu yang bingung karena okajima nampak tak bersemangat sama sekali. Dan selama itu, Kanzaki sudah beberapa kali mendapati Nagisa nampak memikirkan sesuatu dan menghela nafas beberapa kali. Setelah beberapa saat menikmati kefrustasian Nagisa, Kanzaki akhirnya memilih untuk bertindak. Ia menepuk lengan Nagisa. Nagisa menoleh.
"Ano.. Nagisa, aku ingin membeli minuman. Kau mau menemaniku?" Tanya Kanzaki. Nagisa tersenyum dan mengangguk. Kemudian keduanya pamit kepada teman-temannya. Kanzaki dan Nagisa berjalan beriringan sambil berceloteh. Sampai akhirnya ketika keduanya sudah sampai didepan mesin penjual jus kaleng dan sudah mendapatkan jusnya, Kanzaki tersenyum lembut kearah Nagisa.
"Hei, Nagisa.. sebenarnya aku penasaran dengan apa yang kau beratkan." Ujar Kanzaki. Nagisa nampak terkejut lalu dengan cepat mengibaskan tangannya.
"Ah, tidak apa-apa. Aku tidak sedang memikirkan apapun." Jawab Nagisa. Kanzaki tersenyum.
"Tak perlu sungkan. Kau bisa bercerita padaku kalau kau mau. Yah, aku tidak berjanji bisa memberikan solusi untuk masalahmu sih, tapi setidaknya dengan bercerita hatimu akan sedikit tenang." Jawab Kanzaki sembari membuka kaleng jusnya. Nagisa menatap putri cantik itu.
"Hei, Kanzaki-san.. jika seandainya kau ditakdirkan menjadi orang yang cantik dan suatu hari kecantikanmu harus berganti dengan wajah buruk rupa, apa yang kau rasakan?" Tanya Nagisa. Kanzaki menoleh dan diam sejenak.
"Hmm.. pastinya semua wanita yang mengalami hal itu akan tak suka dengan keadaan semacam itu, Nagisa." Nagisa mengangguk.
"Tapi bagaimana jika ketika dalam keadaan wajah buruk rupa, kau menemukan sesuatu yang amat berharga. Yang mungkin tak bisa kau dapat jika kau berwajah cantik. Sementara itu, kau juga menemukan cara agar kau kembali menjadi cantik. Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Nagisa. Kanzaki nampak berfikir.
"Nagisa, jika ini masalah pria.. kurasa buruk rupa juga tak masalah. Mungkin saja itu hadiah dari tuhan atas kesabaran kita."
"Jadi yang kau pilih?" Tanya Nagisa. Kanzaki masih tersenyum.
"Pria mau menatap karena outer beauty, lalu akan menetap karena inner beauty- Lex dePraxis." Nagisa menoleh.
"Sesederhana itu, Nagisa. hati manusia dan mata manusia. Mata akan secara otomatis menatap sesuatu yang indah. Tapi jika hati tak memiliki kecocokan, maka kita tak akan menetap disana. Kau.. mengerti?" ujar Kanzaki. Nagisa tertegun. Kemudian ia tersenyum lebar.
"Um.. terimakasih, Kanzaki-san." Jawab Nagisa. kemudian keduanya kembali berjalan menuju kamar inap. Hanya saja kali ini Nagisa terlihat lebih ceria. Akhirnya setelah percakapan singkat itu, Nagisa tau apa pilihannya. Dan ia bertekad untuk memberitahu Koro sensei setelah ujian nanti. Ia akan menjawab pertanyaan Koro sensei tentang antidote yang sudah ada itu.
Ansatsu Kyoushitsu
Huft.. akhirnya bisa update juga ^^. Maafkan saya yang telat sebulan buat apdet :D saya abis traveling dan terjebak di pulau tak bersinyal u.u
Nah, nah.. disini saya kekurangan ide. Hehehe.. ampuni hamba..
Frwt: iya akhirnya * sodorin tisu* nggak dong.. kan Cuma saya yang lihat. Huahahahaha*plak. Terimakasih sudah mampir ^^/
Dinxchan: IYA AKHIRNYAA*lompat lompat* hmm.. tuh Nagisa bingung. Dia kan cewek jejadian soalnya*dilempar. Hmm.. ga akan lama kayanya. Mungkin satu atau dua chapter lagilah. Terimakasih sudah mampir ^^/
Raina Awasari: fufufu~seneng banget dikasih kissu*eh. Terimakasih sudah mampir ^^/
Denia: ah iya! Kok baru sadar ya?*dibakar* iyaa semoga saya bisa menghibur.. terimakasih sudah mampir ^^
Minna4869: ok terimakasih sudah menunggu :D
Hani A.K:iya mereka pada ngaku XD.
Hikariwhite95: itu tujuan hidupnya si Karma. Si Karma emang gitu *lah. Bingung ya? Saya juga XD. Ntarlah dijelasin di chapter depan :3 terimakasih sudah mampir ^^/
Kawaii Neko: wkwkwk memang kissunya ditunggu banget XD. Terimakasih sudah mampir :D
ParkYuu: Karma suka tantangan. Jadi ga apa lah langsung nyosor cium anak orang XD. Iya.. maaf ya nunggu lama.. kemarin ga dapet sinyal sama sekali nih mau update. Terus juga pindah sana-sini jadi bingung mau ngetiknya cerita ini gimana :'D terimakasih banyak sudah menunggu ^^/
Dragiovianwerewolf: ok! Terimakasih sudah mampir ^^/
: wkwkwk apa itu polos polos kamvret te? Saya polos XD*plak. Terimakasih sudah mampir ^^
Mia2711: iya terimakasih dukungannya*tebar bunga*terharu*. Terimakasih sudah mampir ^^/
Dan untuk semua yang udah rela menunggu, yang review, yang follow, yang favorit, yang kirim surat cinta maupun
