Suga dan Mina terlihat sedang sibuk dengan beberapa lembar kertas dan juga gitar. Lembar-lembar kertas berserakan dilantai, hasil karya gadis bermarga Kwon itu. Dia sedang mendapat pembelajaran membuat lagu dari Gulanya. Dan saat diintruksikan menulis beberapa lirik diatas kertas, Mina malah bingung sendiri.
Ah! Ini kurang puitis, keluhnya pertama.
Buang!
Ish! Ini malah berlebihan, keluh dia selanjutnya.
Buang!
Apa sih ini?! Lirik lagu begini mana ada yang tertarik?, keluhnya untuk kesekian kali.
Buang!
Sementara Suga yang sedang memangku gitar dihadapannya hanya memperhatikan sambil sesekali tertawa gemas. Mina sangat ingin bisa membuat lagu, namun baru segini saja ia sudah frustasi.
"AKH! ini susah, gulaaaa~ aku tak pandai membuat lagu..." Mina mengeluh lagi.
Suga tertawa kecil, lalu mengambil bolpoint dan kertas dari tangan Mina.
"Sudah. Otakmu terlalu dipaksa berpikir, makanya jadi hangover. Lihat, ada asap mengepul dari kepalamu Mina-ya! Haha" Candanya, membuat Mina merengut.
"Ish kau ini! Aku sedang tak mau bercanda ya gula!"
"Iya-iya. Maaf."
"Lalu bagaimana? Ish ! Berjam-jam terbuang sia-sia begini. Aku takut tak bisa membuat lagu untuk album kita nanti..." Ujar Mina khawatir.
"Hey, tenanglah. Masih ada waktu untuk membuatnya. Belajar pelan-pelan, kau pasti bisa. Tanya Wheein, dia juga pasti sama kesulitan sepertimu." Suga menenangkan.
"Tapi kau masih mau mengajariku, kan?" Tanya Mina hati-hati
Dan Suga mengangguk sebagai jawaban, seraya mengusak rambut Mina sambil tertawa gemas.
"Terimakasih untuk hari ini ya, gula. Kau pasti kesal menemaniku di dorm sampai petang begini."
Suga tersenyum "Tak apa. Sesekali main di dorm tak ada salahnya. Lagipula kasihan jika kau sendirian disini."
"Ah! Benar. anak itu tega sekali meninggalkanku sendirian. Ck~ lain kali kita belajar di luar saja seperti Wheein dan Dowoon ya, gula?" Usul Mina, dan Suga kembali menyetujuinya.
"Ohya, bicara soal Wheein. Kenapa dia lama sekali ya? Ini sudah hampir jam tujuh. Sebenarnya Dowoon mengajaknya belajar dimana sih?" Mina kembali bersuara.
"Biarkan saja. Mungkin mereka terlalu asik membuat lagu, jadi lupa waktu. Sama seperti kita kan?"
"Iya sih. Tapi aku dan Wheein sebenarnya punya janji malam ini. Kami berdua rencana nya akan pergi membeli sesuatu."
Suga menautkan alis "apa itu?" Tanyanya
"Biasalah, makanan atau minuman ringan untuk mengisi kulkas. Mmm...karena Wheein belum datang, maukah kau menemaniku belanja?"
Tanpa ragu sedikitpun, Suga bersedia. Dan itu membuat senyum Mina mengembang karenanya.
.
.
.
From: Whi~in
Mina Eonni, kau dimana? Aku sudah sampai dorm, tapi kau tak ada. Kita jadi belanja kan?
Mina berdecak pelan membaca pesan singkat dari vokalisnya itu. Padahal ia dan Suga sudah berada di supermarket sejak dua puluh menit lalu.
To: Whi~in
Dasar telat! Aku sudah berada di supermarket bersama gula tau!
From: Whi~in
Whoahaha~ benarkah? Uh, maaf maaf. Aku terlalu asik belajar dengan Dowoon. Ng, karena kebetulan eonni sudah ada di supermarket, bisakah aku menitip sesuatu?
To: Whi~in
Apa?
From: Whi~in
Dowoon-i mampir kesini sebentar, dan dia tiba-tiba saja ingin buah-buahan. Hehe, belikan sekalian ya? Nanti aku bayar deh, eonni-a. okay-okay?
"Ish, anak ini!" Mina kembali berdecak walau akhirnya tetap mengiyakan permintaan gadis yang lebih muda darinya itu.
"Ada apa, Mina-ya?" Tanya Suga yang dari tadi berjalan disampingnya.
"Wheein! Dia baru sampai di dorm dan malah minta dibelikan buah-buahan untuk Dowoon! Ck~ merepotkan sekali." Jawab Mina sambil memasukkan ponsel nya ke saku. Lalu mendorong troli bersama Suga.
"Yasudah, belikan saja. Sekalian kan?"
Mina menoleh "tak apa? Gula sudah lelah menemaniku daritadi."
Ya, Mereka berdua sudah 'berkeliling' supermarket ini dari dua puluh menit lalu, dan rencananya akan segera pulang mengingat keduanya juga sudah lelah. Namun saat sedang mendorong troli menuju Kassa, Ponsel Mina tiba-tiba bergetar, dan... yah begitulah.
"Tak apa, ayo kita ke tempat buah-buahan!"
Suga membelokkan trolinya, diikuti Mina yang lagi-lagi tersenyum dengan senangnya.
.
.
.
Selanjutnya, mereka berdua memilih buah yang akan dibeli. Dan tanpa berlama-lama segera membayar semua belanjaan untuk kemudian pulang. Suga mengantarkan Mina kembali ke dorm dan membawakan semua barang belanjaannya. Karena letak supermarket tak jauh dari dorm mereka, jadilah Suga dan Mina memilih untuk berjalan kaki. Sepanjang jalan mereka lalui dengan candaan dan tawa ringan, tanpa tahu jika seseorang dari tadi tengah menatap kearah mereka dengan sorot mata kecewa.
myfiancé
Hanbon man ne mameul deureojwo~
Every day, every night i am missing you
Nae gyeote eobseodo ijen beolsu eobseodo
Onjena ne mamen ttok gateun neoingeol
Naegen no maneun ttok gateun neoingeol~
.
.
.
Kang ahjussi bertepuk tangan.
Jimin jelas terkejut, kemudian menghentikan senandungnya saat itu juga. Ia menoleh, dan mendapati Kang ahjussi sedang berjalan kearahnya. Tak lama kemudian, lelaki paruh baya itu duduk disampingnya.
"Suara tuan muda bagus!" Pujinya, membuat Jimin bersemu malu.
"Ahaha, tidak. Kang ahjussi bisa saja. Aku hanya iseng kok~"
"Tak apa, lanjutkan saja. Aku ingin dengar lagi."
"Ahh~ tidak-tidak-tidak. Suaraku jelek."
"Tuan muda ini. Ohiya, omong-omong sedang apa anda disini?" Tanya Kang ahjussi, "...ini dingin,"
Ya, Jimin memang sedang duduk menyendiri didekat tempat satpam rumahnya berjaga. Tadi ia ditemani Go Ahjussi, tapi kini lelaki itu sedang pamit ke belakang sebentar. Jadilah Jimin iseng-iseng menyanyi, dan Kang ahjussi datang setelahnya.
"Hey, Kang ahjussi jangan terlalu formal begitu padaku. Panggil Jimini saja tidak apa apa kok~" Ujar Jimin sambil tersenyum dan dibalas serupa oleh lawan bicaranya.
"Hm, baiklah. Jadi sedang apa kau disini? Sendirian pula. Ingin menggantikan Go Ahjussi?" Canda Kang Ahjussi.
"Ahaha~ bukan begitu. Tadi aku sedang mengobrol dengannya, tapi Go Ahjussi tiba-tiba ingin kebelakang. Jadi aku sendiri disini. Ingin menunggu Seokjin hyung..." Jawab Jimin sambil tertawa kecil.
"Tuan muda Seokjin? Dia belum pulang?"
Jimin menggelengkan kepalanya.
"Tumben sekali, sudah malam begini belum pulang. Hoseok hyung saja sudah. Apa pekerjaan di kantor sangat banyak, Ahjussi?"
"Sepertinya begitu. Tuan muda Hoseok saja minta dijemput olehku, berarti dia sangat lelah hingga malas menyetir sendiri. Mobilnya pun ditinggalkan di kantor." Ujar Kang Ahjussi, yang entah mengapa membuat raut wajah Jimin menjadi sedih.
"Tuan muda, kenapa? Apa aku salah bicara?" Tanya Kang Ahjussi khawatir. Tapi Jimin menggelengkan kepala, dan menghembuskan nafas panjang setelahnya.
"Tidak. Akuuu- hanya merasa bersalah saja. Kedua hyungku kelelahan, tapi aku tak bisa membantu apapun. yang kulakukan hanya diam dirumah seperti ini, dan merepotkan semua orang. Aku ini tak berguna, iya kan Ahjussi?, " Tanya nya, tanpa menatap Kang Ahjussi. Sang supir keluarga tak langsung menjawab, dan hanya menatap tuan mudanya dengan teduh. "...ayah disana pasti kecewa padaku." Lanjut Jimin sambil mengadahkan kepalanya ke langit.
"Hey, tuan muda ini bicara apa? Tak ada yang kecewa
padamu. Tuan muda Seokjin dan Hoseok juga melakukan ini semua dengan rela. Tanpa merasa kerepotan sedikitpun. Karena iya, kau tak merepotkan siapapun, Tuan muda Jimin."
"Tapi-"
"Dengar, tuan muda. Tak perlu membantu dikantor untuk merasa kau berguna. Lebih dari itu, hanya dengan melihatmu sehat, ceria, dan tersenyum, itu sudah membantu kami semua. Terutama kedua hyungmu. Sebab apa?,"
Kang Ahjussi menjeda,
"...Sebab Tuan muda Jimin berharga, dan disayangi semua orang. Kedua hyungmu, Tuan dan Nyonya besar di Amerika, atau Tuan dan Nyonya disana, pun aku, Go Ahjussi, Jung ahjumma, dan semua yang mengenalmu. Semua menyayangimu. Jadi jangan merasa rendah dan bersedih lagi. Karena kami akan sedih juga melihatnya."
Jimin mendengarkan tutur kata Kang Ahjussi tanpa memalingkan pandangannya dari langit.
"Semua menyayangiku?"
"Tentu saja!"
Anak itu tertawa pahit.
Semua? Termasuk Hoseok dan Suga? Apa mereka juga menyayanginya?
"Kurasa tidak, Ahjussi..."
"Apa maksudmu?"
"Kau tahu kan, Hoseok hyung membenci-"
"Sst! Kau bicara apa? Tak ada yang membencimu. Apalagi tuan muda Hoseok. Hanya butuh waktu. Dia hanya butuh waktu untuk menerima ini semua. Dia bukannya memben-"
"Tapi ini sudah satu tahun lebih, Ahjussi. Hoseok hyung sudah benar-benar tak mau menerimaku lagi. Mungkin Hoseok hyung ingin aku menyusul ayah saj-"
"TUAN MUDA!"
Kang Ahjussi tanpa sadar menggertak Jimin, membuat anak itu tertunduk sedih.
"Astaga, maaf. Maaf tuan muda, aku tak bermaksud-"
"..."
"...biar bagaimanapun, kau tak boleh bicara seperti itu lagi, huh? Kalau tuan muda Seokjin mendengar, dia akan sedih. Cukup ingat saja kata-kataku, tuan muda Hoseok hanya butuh waktu. Dia pasti kembali seperti dulu. Percaya padaku."
Jimin hampir menitikkan airmata dalam tunduknya. Butuh waktu? Berapa lama lagi itu? Ia kembali ingat pada kalung yang Hoseok buang. Apakah ini sebuah simbol jika hyungnya itu ingin membuang Jimin dari kehidupannya? Sebegitu bencikah Hoseok padanya? Jika dia akan kembali seperti dulu, kapan itu terjadi? Berapa lama Jimin harus menunggu? Dia bahkan tak yakin usianya akan sampai pada saat itu...
"Tuan muda-" Ucapan Kang Ahjussi terhenti. Suara Klakson mobil mengejutkan keduanya. Tak jauh dari sana, Go Ahjussi yang kebetulan sudah kembali dari belakang kini tengah membuka gerbang utama. Memberi akses untuk mobil yang ternyata milik Seokjin itu masuk. Namun mobil itu berhenti tanpa harus sampai di tempat parkir seperti biasa. Karena melihat Jimin dan Kang ahjussi, membuat Seokjin turun disana dan memberikan kunci mobil pada Go Ahjussi agar memarkirkan mobilnya saja. Lalu dia berjalan menghampiri dua orang beda usia yang tengah duduk berdua.
Melihat itu, Jimin buru-buru menghapus airmatanya dan bersikap biasa-biasa saja. Begitupun Kang ahjussi.
"Oh! Hyung sudah pulang?" Seru Jimin riang, dan Seokjin hanya mengangguk saja.
"Sedang apa kalian disini?" ia bertanya setelahnya.
"Harusnya aku dulu yang tanya, hyung ini kenapa baru pulang?! Aku menunggu mu sejak tadi tahu!"
"Tsk! Kenapa harus menunggu disini? Ini dingin dan kau belum sembuh betul, berani-beraninya berada diluar dengan baju tidur pendek begitu! Masuk, Jimini!" Ujar Seokjin pura-pura mengomel.
"Uh, Ahjussi, aku dimarahi Seokjin hyung! Aku tidak mau masuk, nanti dia mengomel lagi..." Jimin ikut berpura-pura mengadu pada Kang ahjussi. Sementara sang supir hanya tertawa kecil melihat kakak beradik itu.
"Apa-apaan itu? mengadu, huh? Cepat masuk! Ayooo!" Seokjin pun menarik tangan Jimin agar bangkit dari duduknya
"Kang ahjussi, tolong akuuu~~~"
"Menurut saja pada hyungmu. Daripada dia bertambah marah."
"Ish! Ahjussi tak asik!"
"Ha, rasakan! mau mengadu lagi pada siapa kau? Ayo masuk!"
"Baiklaaaah~~~"
Jimin malah iseng, melompat ke punggung Seokjin hingga membuat kakaknya itu nyaris tersungkur.
"YAH! Park Jimin! sedang apa kau? turun! uhuk! tanganmu mencekik leherku, Jimini!"
Jimin malah terkikik dan tetap menempel seperti koala.
"gendong aku sampai kedalam Jin hyuuunggg~~~ please~~~"
meskipun sambil menggerutu, toh akhirnya Seokjin tetap saja menuruti keinginan adik bungsunya itu.
"aku berat tidak, hyung?" Jimin bertanya selagi Seokjin menggendongnya menuju pintu utama
"Aigoo~ berat sekali!" Seokjin menjawab "...sampai-sampai aku bisa menggendong yang beratnya tiga kali lipat dari ini."
"huh?"
Kau ringan sekali, Jimini. kemana bobot tubuhmu pergi?
"Setelah ini aku akan menyuapimu tiga porsi makan malam, lihat saja Jimini! semua bahan di lemari es akan ku masak. ayo bilang kau mau makan apa? akan kubuatkan. Aigoo, lagipula badan kurus begini, kau ini apa-apaan? diet? ha?..."
bla bla bla
Sementara Seokjin menggerutu pasal berat badan Jimin yang berkurang, si bungsu itu diam-diam kembali menoleh pada Kang Ahjussi. Lalu memberinya kode, seolah-olah ia menutup retsleting di mulutnya, agar tak menceritakan apa yang mereka bicarakan tadi pada siapapun. Dan Kang Ahjussi mengangguk sambil mengacungkan dua ibu jarinya, pertanda mengerti. Dilihatnya Jimin tersenyum untuk kemudian kembali mengobrol entah apa dengan Seokjin.
myfiancé
"Jin hyung kenapa baru pulang? Apa pekerjaan di kantor sangat banyak?" Jimin bertanya saat keduanya sudah memasuki ruang TV.
"Lumayan. Tapi hyung terlambat pulang bukan karena itu."
"Uh?"
Jimin turun dari gendongan itu, lalu duduk mengikuti Seokjin.
"Aku habis dari supermarket dulu." Jawab Seokjin yang tengah melepaskan jas dan dasinya. Jimin menatapnya lekat.
"Supermarket?"
sang kakak mengangguk.
Tiba-tiba Go Ahjussi masuk dan membawakan sebuah kantung berisi belanjaan Seokjin yang tertinggal didalam mobil tadi.
"Oooh. Jadi hyung habis belanja? Kenapa tidak minta kutemani?" Tanya Jimin lagi manakala Go Ahjussi sudah berlalu.
"Tidak perlu, cuma membeli buah-buahan saja. Karena persediaan di kulkas sudah habis. Lagipula-"
"..."
"..."
"Lagipula? Kenapa?" Jimin mengernyitkan dahi karena ucapan Seokjin tiba-tiba berhenti.
Sementara yang lebih tua masih betah dalam diamnya, menimbang-nimbang. Haruskah ia mengatakannya ?
-lagipula, aku tak mau mengajakmu jika nantinya kau akan sakit hati sepertiku. Kau tahu? Aku melihat tunanganmu bersama orang lain tadi.
Inginnya Seokjin mengatakan kalimat itu. Namun rupanya rasa tak tega lebih mendominasi saat ini. Jadi ia lebih memilih untuk menjawab,
"Lagipula sekalian mampir dari kantor, jadi tak sempat mengajakmu. Lain kali kita pergi bersama."
Untunglah Jimin percaya dan nampak tak mau ambil pusing. Anak itu langsung sibuk membongkar belanjaan hyungnya. Seokjin menatap adiknya itu dengan sendu. Ingatannya kembali pada kejadian di supermarket beberapa saat lalu.
.
.
.
"Gula, kira-kira kita beli buah apa ya untuk Dowoon? Tidak mungkin semuanya kan?"
"Belikan saja Jeruk dan Pir. Semasa trainee dia suka sekali makan itu."
"Uh, benarkah? Yasudahlah..."
Seokjin yang kala itu baru selesai memilih beberapa buah-buahan, sontak terkejut mendengar suara yang tak asing baginya. Namun sepertinya Suga terlalu sibuk bersama temannya hingga tak sadar ada kakak tunangannya disana.
"Yaampun kenapa dingin sekali disini?"
"Kau kedinginan? Pakai mantelku saja, ini."
Dia bahkan memakaikan mantel pada temannya itu tanpa canggung. Oh, haruskah Seokjin menarik kata 'Teman' ? Interaksi mereka bahkan lebih akrab dibanding Suga dan Jimin yang berstatus tunangan.
"Terimakasih, gula."
"Hm, sudah pilih saja seadanya. Jangan berlama-lama disini nanti kau semakin kedinginan. Ayo pulang."
"Ayo! Ah, kau akan mampir lagi kan, gula?"
"Boleh."
Lihat, Suga bahkan berlalu begitu saja seolah benar-benar tak menyadari apapun. Bahkan sampai Seokjin mengikutinya menggunakan mobil pun, Suga dan gadis yang memanggilnya gula itu tetap asik bercanda berdua sepanjang jalan. Dan itu, cukup membuat Seokjin merasa terluka.
Apa Suga tak menyadari sesuatu? Tatapan gadis itu, sama persis dengan tatapan Jimin setiap kali menatap Suga. Bukankah itu tatapan seorang yang jatuh cinta?
.
.
.
"Hyung? Seokjin hyung?!"
"Ah, ya?!"
Seokjin mengerjapkan mata saat Jimin membolak-balikkan tangan dihadapan wajahnya.
"Tsk, melamun. cepatlah istirahat, hyung. Pasti seharian ini lelah sekali, kan? Aku akan menyimpan buah-buahan ini kedalam kulkas."
Jimin hendak beranjak, sebelum tiba-tiba Seokjin menjegal lengannya.
"Tunggu-"
"Hm?"
"Duduk dulu sebentar. Ada yang ingin aku tanyakan."
Jimin menurut.
"Apa?"
"Tadi bibi Seo menelponku. Katanya kau pergi ke tokonya untuk membeli puding strawberry. benar ?"
Mendengar pertanyaan itu, membuat Jimin kembali teringat pada tunangannya. Ia diam sejenak sebelum akhirnya menjawab.
"Aih, bibi Seo kenapa mesti bilang padamu sih? Aku kan jadi malu karena tak membelikan untukmu juga. Benar hyung, aku ke tokonya tadi siang."
"Kau beli puding untuk siapa?" Seokjin kembali bertanya. Dan dilihatnya Jimin mengulum bibir seperti menimbang-nimbang sesuatu.
"Eng...itu. Yoongi hyung memberitahuku jika pencernaannya sedikit terganggu. Maklum hyung, dia sibuk sekali bersama bandnya hingga selalu makan makanan instan. Makanya-"
"Jadi untuk Yoongi?"
Jimin mengangguk pelan. Seokjin tersenyum, namun sama sekali tak menampakan kesenangan.
"Dia bilang terimakasih, padamu ?"
Diam.
Lagi-lagi pertanyaan itu tak kunjung Jimin jawab. Dan Seokjin benci fakta bahwa dia tahu anak itu pasti akan berbohong.
"Tentu saja! Yoongi hyung sangat suka puding strawberry, dan dia sangat senang saat aku memberikan itu untuknya. Dia bahkan mengantarku pulang. Yasudah hyung, aku ke belakang dulu ya!"
Jimin buru-buru pergi. Meninggalkan Seokjin yang kini menatapnya dengan pandangan terluka.
"Kenapa kau terlalu baik hingga jadi bodoh begini...?"
Si sulung itu berbisik, lantas menyandarkan kepalanya pada kursi. Hendak memejamkan mata, sebelum indra penglihatannya menangkap keberadaan Hoseok yang tengah berdiri diatas sana. berpegang pada pagar pembatas lantai dua. Dan lagi-lagi, si nomor dua itu memandang Seokjin dengan tatapan yang lagi-lagi sulit dibaca. Lalu pergi begitu saja.
Seokjin bersumpah mulai membenci tatapan semacam itu. Ia jadi selalu berpikir yang tidak-tidak.
Dengan itu ia menghembuskan nafas berat. Kemudian sungguh-sungguh memejamkan mata. Lelah.
'Ada apa dengan adik-adikku itu?'
Kim Seokjin tak habis pikir.
myfiancé
Jimin tengah mengeringkan buah yang baru selesai ia cuci. Satu persatu apel ia basuh dengan kain khusus. Lalu ia letakkan pada wadah yang lain. Gerakkannya lambat. Sangat lambat. Sebab sementara tangannya bekerja, matanya hanya menatap kosong kedepan dan pikirannya melayang kemana-mana.
Pertama, soal Yoongi.
Benarkah anak itu melupakannya? Jika iya, apa sebaiknya Jimin juga melupakan saja pertemuan dengan Yoongi saat masa kecil mereka? Haruskah ia menerima kenyataan jika, Yoongi tak pernah dan tak akan pernah menerima pertunangan ini? Selama ini ia bertahan, dengan segala sikap angkuh dan dingin Yoongi, melupakan dengan cepat setiap tingkah dan ucapan kasar Yoongi padanya, karena Jimin yakin akan satu hal. Yoongi mungkin belum mengingat tentang pertemuan pertama mereka dulu. Tapi, melihat sikap Yoongi siang tadi, Jimin jadi berfikir ulang. Bahkan sudah diberi kode lewat puding (yang menjadi kenangan diantara mereka) pun, Yoongi tetap tak peka. Dia benar-benar lupa. Dan pertemuan mereka dulu, memang tak berarti apa-apa untuk Yoongi. Jadi, haruskah Jimin menyerah sekarang?
Kedua, tentang pembicaraannya dengan Kang Ahjussi tadi. Kapan Hoseok akan menerimanya kembali? Kapan Hoseok akan bersikap sehangat dulu lagi? Tunggu. Pertanyaannya bukanlah kapan. Tapi, akankah Hoseok menerimanya kembali? Ini sudah satu tahun lebih, sejak Jimin terbangun dari suatu tidur panjang yang tak biasa. Saat dimana ia harus menerima fakta, bahwa Ayah yang menjadi orangtua tunggalnya sejak kecil telah tiada. Dan juga fakta, bahwa salah satu hyungnya berubah menjadi sosok yang dingin, tanpa Jimin tahu apa sebabnya. Yang ia tahu, Hoseok sudah tak menyayanginya lagi sejak saat itu. Tak ada canda dan kehangatan lagi seperti dulu, saat sebelum sang kakak berangkat untuk menjalani pelatihan di agensi besar itu. Hosiki hyung yang sekarang menjadi dingin.
Bahkan lebih dingin dari suhu kulkas yang ada dihadapan Jimin sekarang.
Dia menyusun buah satu persatu, masih dalam diam. Sampai sesuatu seperti memukul kepalanya dan membuat ia limbung kedepan. Satu buah apel yang ia pegang jatuh dan menggelinding begitu saja.
"Ukh!"
Sejenak ia menunduk, berpegangan pada sisi atas kulkas. Memejamkan mata, menghalau rasa sakit yang datang entah darimana. Dan saat membukanya kembali, ia mendapati tetes-tetes merah pekat dilantai. Reflek, ia meraba pilthrumnya dan mendapati darah disana. Saat itulah, Jung Ahjumma datang dan terkesiap.
"Ya Tuhan! Tuan mu-"
"Ssst!"
Jung Ahjumma langsung mengatupkan bibir, walau raut wajahnya masih nampak khawatir. Ia meraih beberapa lembar tissue dari meja dan memberikannya pada Jimin. kemudian ia bertanya dengan nada yang lebih rendah.
"Tuan muda tidak apa-apa? Tuan muda merasa sakit? Biar saya panggilkan-"
Jimin menggelengkan kepalanya sambil tetap menghentikan darah itu dengan tissue pemberian Jung Ahjumma.
"Lanjutkan saja pekerjaanku. Buah-buah itu belum selesai kumasukan. Aku akan pergi ke kamar."
"Tapi tuan muda-"
"Dan jangan bilang siapa-siapa soal ini. Ahjumma janji padaku? uh?"
"Saya mengerti, tuan muda." Jung Ahjumma terpaksa menurut, dan kemudian melanjutkan apa yang Jimin perintahkan. Walau sesekali ia menatap tuan mudanya yang sedang tertatih menuju tangga.
myfiancé
21.30
Suga baru saja pulang dari dorm, setelah berkumpul dengan ketiga banyak, mereka hanya berbincang santai guna melepas penat saja. Juga Mina dan Wheein yang berdiskusi tentang apa saja yang sudah mereka pelajari dari masing-masing 'tutor'nya.
Kini, Suga duduk seorang diri dikursi meja makan rumahnya. Dihadapannya, puding pemberian Jimin tersedia. Puding yang sama sekali belum disentuhnya. Sejujurnya, sejak bersama Mina tadi, pikirannya sibuk menerka-nerka.
Darimana Jimin tahu soal puding strawberry ini? Suga yakin, tak seorangpun tahu ini selain keluarganya. Bahkan fansnya pun tak ada.
Kecuali jika itu-
...teman masa kecilnya.
Jung Hoseok?
Suga makin memfokuskan pandangannya pada kotak itu.
"Bahkan Hoseok pun sudah lupa..."
Ingatannya berkelana ke beberapa tahun lalu.
"Hey, Hoseok..."
"Hm,"
"Aku merindukan sesuatu buatan ibuku. Kau tahu itu apa?"
"memangnya apa?"
"Sesuatu yang manis,"
"...ummm, cake?"
"bukan"
"...manisan?"
"Yah, Kau sudah lupa huh?"
"Ha? apa sih? aku benar-benar-"
"Apa kita berpisah terlalu lama ya, Hoseok-a?"
"..."
"Puding! Puding strawberry!"
"Apa?!"
"Aku merindukan puding strawberry buatan ibuku."
"Ew~ Aku tak suka apapun yang berhubungan dengan strawberry. Jangan bicarakan tentang buah berbintik-bintik itu didepanku!"
"...?"
Saat itu, Suga masih sempat mengira jika mungkin Hoseok benar-benar lupa tentang pertemuan pertama mereka. Tapi, mendengar Hoseok begitu tak suka pada apapun yang berhubungan dengan strawberry, membuat Suga heran juga. Sayangnya, rasa heran itu terkalahkan oleh pemikiran yang lain.
Pemikiran bodoh lebih tepatnya.
'Aaah , mungkin saja Hoseok sudah menyerah dan tak mau berebut puding lagi denganku. Jadi dia menghidari apapun tentang strawberry.'
Min Yoongi benar-benar bodoh. Hingga bukannya curiga dan menjauh, Suga malah semakin dekat dengan Hoseok. Bahkan tak tanggung-tanggung, kedekatan itu sampai pada tahap dimana mereka berani melanggar peraturan agensinya.
"Akh, sial! Kenapa aku mengingat orang itu lagi?!" Keluh Suga seolah sadar, dan ditarik kembali pada keadaan sekarang. Ia pun melirik kotak itu lagi,
"Tapi...kenapa dia bisa tahu tentang puding ini?" ia bertanya entah pada siapa "...siapa kau sebenarnya?"
"Yoongi-a?"
Dia sedikit tersentak mendengar seseorang memanggil namanya. tak lama kemudian nampaklah Yoonjae yang tengah berjalan ke arahnya. Dilihat dari pakaiannya, Suga bisa menebak kalau sang kakak baru pulang dari kantor. astaga dasar gila kerja. Suga tak mengerti apa enaknya bekerja dikantor, berkutat dengan berkas-berkas yang memusingkan itu. Pasti jenuh sekali.
"Yoonjae hyung baru pulang? ini sudah jam berapa? kau keluyuran dulu ya?" tuding yang lebih muda
Yoonjae yang tengah mengambil sebotol air dingin dari kulkas menyahut malas "keluyuran apa? aku menghandle pekerjaan ayah. ada klien yang mendadak ingin bertemu. jadi...yah, begitulah." ungkapnya, lantas meneguk air dengan beringas.
Suga memperhatikannya dalam diam.
Ayah dan ibu mereka sedang pergi ke Jeju sejak tiga hari yang lalu. Pantas saja kakaknya jadi lebih sibuk. Meskipun lelah, lelaki itu tetap saja menurut. Tipikal Min Yoonjae, terlalu penakut. Suga tahu kakaknya punya mimpi yang lain, bukan menjadi penerus perusahaan seperti yang sang ayah arahkan. Kadang Suga heran, kenapa Yoonjae tak seperti dirinya yang keukeuh memperjuangkan apa yang dicita-citakan? Ayolah, Ini hidupmu, kenapa harus menuruti mimpi orang lain?
Min Yoonjae dan Min Yoongi memang sungguh berbeda.
"omong-omong, sedang apa kau sendirian disini? dan- oh, apa ini?" Yoonjae kini duduk didekatnya, bertanya seraya membuka kotak yang terletak diatas meja. pupilnya melebar "Whoa! Puding strawberry?!"
Suga tak menjawab.
"Dari siapa, Yoongi-a?"
Apalagi ini, Suga takkan menjawab.
"Aku minta, boleh?"
Si bungsu masih betah diam, sebab tanpa dijawab pun Yoonjae akan tetap memakannya. Terbukti, kini sang kakak tengah menuang fla vanila untuk kemudian menyuapnya. namun baru satu sendok sampai dimulutnya, si sulung itu spontan memandang adiknya dengan menautkan alis.
"kau kenapa?" Suga dengan malas bertanya.
Yoonjae menelan pudingnya "kau dapat ini darimana? rasanya enak, persis seperti buatan ibu!"
"..."
"sungguh! persis sekali! tapi...seingatku ibu tidak meninggalkan puding sebelum berangkat? jadi ini buatan siap-"
Suga dengan cepat merebut sendok yang dipegang Yoonjae. Detik dimana makanan manis rasa strawberry dengan fla vanilla itu menyentuh indra penyecapnya, detik itu juga seorang Min Suga merasa seperti disentil sesuatu tak kasat mata.
oh Astaga.
"Bagaimana? Enak tidak?"
"..."
"Hey, kau kenapa? Apa pudingnya-"
"Enaaaaaak~"
"Benarkah?"
"Kok bisa? Rasanya sama seperti buatan ibu! Benar-benar sama!"
"Whoa, baguslah. Bibiku pasti membelinya dari toko langganan keluarga. Memang puding disana yang paling daebak!"
"Benar! Ini daebak!"
.
.
.
"...Mungkin takkan seenak buatan Bibi Min. tapi puding strawberry itu aku beli dari toko langganan keluargaku. Jadi Yoongi hyung tak perlu khawatir tentang kualitasnya."
.
.
.
Sial. Apa-apaan ini?!
myfiancé
Beberapa hari kemudian.
Pagi ini, Jimin duduk dikursi bis seperti biasa. Didekat jendela, dan menikmati perjalanan dengan memandang sepanjang jalan yang dilewatinya. Namun ada yang aneh rasanya. Apa?
oh iya! Mana pelajar SMA itu? Yang beberapa hari belakangan selalu duduk disampingnya pagi ataupun sore. Entah kebetulan atau tidak, tapi memang selalu begitu kejadiannya. Pemuda dengan seragam sekolah berwarna kuning itu selalu ada disamping Jimin setiap hari, lalu diam-diam memperhatikannya.
Hey! Jimin tahu itu dari bayangan di jendela.
Awalnya Jimin sedikit risih dengan keberadaan anak itu. Namun lama kelamaan ia jadi terbiasa juga. Jadi, saat kini dia tak ada, Jimin jadi merasa..
...kehilangan?
"Ih, apa? Aku bahkan tak kenal dengannya."
Setelah mengikuti mata kuliah dikampus, tak seru rasanya jika ketiga sahabat ini tak menghabiskan untuk mengobrol dulu. Apalagi Jeonghan. anak itu pasti langsung menarik Seungcheol dan Jimin untuk pergi ke taman tempat ia biasa mencari akses WiFi gratis. Dan Seungcheol serta Jimin, mereka takkan tega menolak. Biasanya, setelah sampai di taman, Jeonghan akan sibuk dengan aktifitasnya didunia maya. Sedangkan Seungcheol akan mengobrol ringan dengan Jimin. Sesekali menanggapi ocehan Jeonghan dengan malas. Namun kali ini berbeda, Jeonghan tak terlalu fokus dengan gadgetnya. Sesekali ia melirik dengan curiga ke suatu arah. Ia bahkan tak menghiraukan Seungcheol dan Jimin yang tengah membicarakannya.
"Ohya?! Jadi kalian sudah- whoa~ selamat ya?!" Jimin berseru senang saat mendengar cerita Seungcheol.
Pemuda bermarga Choi itu tersenyum menanggapinya "Terimakasih, Jimin-a. Sebenarnya kami sudah sejak beberapa hari lalu. Tapi malu mau memberitahumu."
"Hey, malu kenapa? Kita kan sahabat. Iyakan Jeonghan-i?"
"..."
"Jeonghoney?" Seungcheol menepuk bahu kekasihnya itu pelan. Aneh, tumben sekali dia tak banyak bicara sekarang.
"Ya? Ah ya Jimini. Terimakasih atas ucapannya."
Hanya begitu, lalu kembali menatap penuh selidik pada suatu arah. Seungcheol tak mau ambil pusing. Ia kembali menatap Jimin.
"Hm, karena kita sahabat jadi aku memberitahumu lebih dulu dari orang lain. Dan kuharap, kau pun begitu pada kami." Ujarnya, membuat Jimin menaikkan satu alisnya heran.
"Maksudmu?"
Seungcheol menghela nafasnya sejenak.
"Jimin, kami sudah tahu tentang hubunganmu dengan-"
"Min Suga!"
"Huh?"
"Ya, tentang kau dan-"
"Hey hey, itu Min Suga kan?!"
Tunggu. Kenapa perbincangan ini jadi aneh?
"Jeonghoney, apaan sih?!"
"Sekop-a, lihat kesana! Bukankah itu-aish! Dia bersembunyi dibalik tembok!" Seru Jeonghan dengan heboh.
Seungcheol mengikuti arah tunjuk pacarnya "kau yakin itu Min Suga? Tapi sedang ap-"
"Iya aku yakin! Dia sedang memperhatikan Jimini!"
Jimin spontan melihat arah tunjuk Jeonghan juga. Apa katanya? Suga memperhatikannya? Mustahil sekali.
"Ah tidak mungkin!" Seungcheol tak percaya
"Ish! Tidak mungkin apanya? Dia pasti sedang memperhatikan tunangann-"
"Yoon Jeonghan, Choi Seungcheol." Jimin memandang kedua sahabatnya dengan air muka serius. membuat keduanya menoleh dengan hati-hati.
"Jim-"
"Jika kalian sudah tahu, kumohon diam."
Jimin meminta, saat dirasanya Seungcheol dan Jeonghan sudah tahu sesuatu yang ia rahasiakan.
"Tapi Jimi-"
"Aku tak akan marah karena kalian mencuri dengar, atau sejenisnya. Karena ini fakta, maka aku takkan menyangkalnya. Tapi tolong, kalau sudah tahu, yasudah. Diam saja seperti yang kulakukan selama ini."
Pasangan kekasih baru itu saling menatap dengan bingung.
"Jimin-a , kami minta ma-"
"Tak apa." Jimin berdiri , "harusnya aku yang minta maaf karena tak pernah memberitahu. Selamat atas hubungan kalian. Aku pergi dulu." Lalu berjalan menjauhi kedua sahabatnya.
"Seungcheol-i , tadi itu benar aku melihat Min Suga disan-"
"Iya Jeonghoney, iya . Aku percaya." Tukas Seungcheol yang masih menatap kepergian sahabatnya dengan khawatir.
myfiancé
Suga tidak yakin apa yang sebenarnya tengah ia lakukan. Diam-diam memperhatikan Jimin? Dia tidak sedang mabuk kan? Tak cukupkah berhari-hari kemarin memikirkan orang itu?
Uh, Suga harus mengakuinya jika sudah lebih dari tiga malam ia tak bisa tidur nyenyak hanya karena tunangannya itu.
Apa yang terjadi padanya?
Hari ini bahkan ia tak ada jadwal kuliah, namun tetap pergi ke kampus hanya untuk melihat-
...Park Jimin.
"Serius, sepertinya aku mabuk..." Gumamnya seraya menyembunyikan tubuh dibalik tembok, tempatnya memperhatikan Jimin yang sedang mengobrol disana. Satu teman Jimin, sepertinya memergoki keberadaan Suga dan mau tak mau ia harus lebih bersembunyi. Namun, saat Suga mengintip lagi, Jimin sudah tak bersama kedua namja itu dan berjalan menjauh darisana.
Secara refleks, Suga segera menuju tempat mobilnya terparkir dan diam-diam ia mengikuti Jimin yang berjalan keluar gerbang. Ia sempat menghentikan laju mobilnya, tatkala melihat Jimin berhenti berjalan. Suga sempat khawatir jika aksinya ini tertangkap basah. Namun sepertinya Jimin berhenti bukan karena itu. Dia nampak menyenderkan satu telapak tangannya pada pohon, sementara tangannya yang lain memegang bagian sisi kepala.
"Ada apa dengannya?" Tanya Suga entah pada siapa.
Tak lama kemudian, Jimin kembali melanjutkan langkahnya dan Suga pun kembali melanjutkan aksi membuntuti tunangannya itu. Ia bahkan mengikuti laju Bis yang ditumpangi Jimin sekarang.
Sejenak, ia merasa heran.
"Putra konglomerat seperti dia, masih mau naik bis? apa dia bercanda?" Gumamnya. Mengingat jumlah mobil yang berderet di garasi rumah Jimin lebih dari tiga, brand-brand terkenal pula, tidakkah anak itu risih harus naik kendaraan umum begini?
"Huh? Mau apa dia turun disini?" Lagi-lagi Suga dibuat heran saat Jimin turun dihalte dekat sebuah Rumah Sakit. Namun semakin Suga merasa heran, semakin besar pula rasa inginnya membuntuti Jimin. Jadilah, ia melajukan mobilnya masuk ke area Rumah Sakit itu.
myfiancé
Park Jimin keluar dari ruangan Dokter pribadinya dengan langkah lesu. Seperti biasa, Dokter pribadi yang juga kakak sepupunya itu pasti akan menceramahinya panjang lebar jika ia datang dengan kondisi begini. Lalu akhirnya wanita itu akan mengadukan hal ini pada Seokjin. Selanjutnya? Kakak tertuanya itu akan mengomel padanya karena tak jujur tentang sakit yang ia rasa.
Ah!
Memikirkan itu membuat Jimin penat. Ini sebabnya, Jimin malas sekali jika harus datang kemari jika bukan karena darurat. Seperti hari ini, saat di bis tadi ia baru sadar jika persediaan obatnya telah habis, dan terpaksa mampir terlebih dahulu ke Rumah Sakit tempat Sandara noona bekerja.
Jimin tak suka tempat ini, dan ingin segera pulang. Namun, ada sesuatu yang membuat langkahnya terhenti mendadak. Sesungguhnya ia merasakan hal aneh ini sedari tadi. Ia lantas menoleh ke kanan dan ke kiri, bahkan ke belakang. Tapi ada beberapa perawat yang berlalu lalang. Jimin tak ayal mengernyitkan dahi.
"Seperti ada yang mengikutiku?" bisiknya "Tapi...ah, perasaanku saja."
Dia pun melanjutkan langkahnya. Namun lagi-lagi ia berhenti. Kali ini bukan karena merasa seseorang mengikutinya.
Tapi...
PRANG !
"PERGI! AKU TAK MAU MELIHAT JUNGHYUN HYUNG LAGI! AKU MEMBENCIMU!"
"Hentikan, Jungkook-a! Kau bisa melukai orang lain!"
Jimin perlahan mendekati ruangan yang merupakan sumber dari keributan ini. Pintu yang sedikit terbuka serta terdapatnya jendela transparan membuat ia bisa menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi disana. Beberapa orang suster sibuk menenangkan seorang pasien yang tengah mengamuk dan melemparkan apa saja yang ada didekatnya pada satu orang yang lain. Jimin bukan orang yang suka ikut campur urusan orang lain. Tapi, melihat siapa pasien itu membuat Jimin penasaran dan diam-diam menguping.
'Jungkook? Dia kan-'
Ah, benar! Dia pelajar SMA yang beberapa hari ini ia temui di bis. satu waktu Jimin pernah tak sengaja melihat nametag diseragamnya. dan disana tertera nama Jeon JungKook.
"Jungkook-a, dengarkan hyung dulu-"
"APA?! aku kan sudah bilang tak mau melakukan operasi itu! Kenapa hyung memaksa sih?!"
"Jungkook-a,"
"Diam kau! Aku tak bicara denganmu! Aku bicara dengan hyungku!"
PRANG!
Lagi, satu benda ia lemparkan setelah membentak salah satu suster disana.
Bukannya pergi, Jimin malah semakin penasaran. ada apa sebenarnya dengan anak itu?
"Jungkook-a, tenanglah, okay? kita bicarakan baik-baik. Hyung-"
"Aku sudah bosan membicarakan ini baik-baik dan Junghyun hyung tak pernah mendengarkan! Harus kubilang berapa kali? Aku tak mau melakukan operasi itu!"
"Jeon Jungkook, kenapa kau begini?" kakaknya terdengar lelah "...aku hanya mau kau sembuh, itu saj-"
"Oh, aku akan sembuh, dan kau akan tersakiti nantinya. Iyakan? Hyung pikir aku tega? TIDAK! AKU TIDAK MAU!"
"Jungk-"
"Coba saja berani lakukan, dan aku takkan mau menjadi adikmu lagi!"
"YAH! JEON JUNGKOOK! KEMBALI!"
Jimin cukup terkejut saat pintu tiba-tiba terbuka lebar dan Jungkook keluar dari sana. Namun anak itu tak menyadari kehadiran Jimin dan memilih berlari entah kemana. Diam-diam, Jimin mengejarnya, dan berakhir menemukan anak itu di halaman samping Rumah Sakit yang lumayan sepi.
Dia benar-benar Jungkook!
Pelajar SMA yang sering Jimin pergoki tengah memperhatikannya diam-diam. Oh, jangan lupakan jika anak itu pernah mengedipkan satu matanya seperti menggoda. Tapi, kenapa sekarang dia nampak berbeda?
Dia duduk diam di kursi kayu panjang. benar-benar diam hingga tak menyadari jika Jimin duduk disampingnya. Bahkan sorot matanya yang biasa terlihat 'genit' itu kini nampak kosong dan sayu.
"Hey,"
"..." Jungkook benar-benar melamun.
"J-Jungkook," Jimin yang hendak menepuk bahu Jungkook mendadak berhenti saat anak itu tiba-tiba tersentak. Itu berarti dia baru sadar ada orang lain didekatnya.
"Kalau kau datang kemari atas perintah Junghyun hyung, bilang saja aku tak mau. Aku takkan kembali kedalam sebelum dia membatalkan niatnya." Ujar Jungkook tanpa melihat siapa yang jadi lawan bicara.
Untuk sejenak, Jimin tak mengerti maksud ucapan anak itu.
oh, apa mungkin Jungkook mengira Jimin ini perawat yang hendak membujuknya kembali?
"Sudah sana pergi!" Usir Jungkook dengan ketusnya.
"Kenapa aku harus pergi?"
"Kan sudah kubilang, aku takkan mau masuk sebelum-"
"Kau pikir aku perawat?"
"...jangan membodohiku. Walau suaramu terdengar lebih berat aku tahu kau perawat menyebalkan itu. Sudah sana per-"
"Tapi aku bukan perawat, Jeon Jungkook!"
"Nah~ dengar-dengar! kau bahkan tahu nama lengkapku . Siapa lagi kalau bukan perawat? Pergi sana ah! Jangan menggangg-"
"Tentu saja aku tahu! Kau bocah SMA yang sering memperhatikanku di bis kan?!"
"Apa kau bil- ASTAGA!?"
Jungkook menoleh, dan seketika matanya membelalak saat melihat siapa yang ada didekatnya. Ia bahkan sampai menggeser posisi duduknya karena terkejut. Melihat reaksi Jungkook membuat Jimin merasa geli.
"Kau kenapa? Seperti melihat hantu saja,"
"A-astaga...k-k-kau, kau-"
"Halo, Jeon Jungkook yang sering memperhatikan ku didalam bis. Oh, dan juga pernah mengedipkan satu matanya padaku beberapa waktu lalu! Selamat siang menjelang sore!" Sapa Jimin dengan senyuman jahil, membuat Jungkook tak berkutik bahkan tak bisa mengeluarkan kalimat apapun. Ia terlalu terkejut.
"D-d-darimana kau tahu n-namaku? D-dan kenapa kau ada disini?!"
Jimin bukannya menjawab, malah terkikik geli. Reaksi Jungkook benar-benar lucu baginya.
"Hey, awas bola matamu copot!"
"YAH! JANGAN TERTAWA!"
myfiancé
Sepasang mata itu menatap interaksi Jimin dan Jungkook dari balik shadesnya.
"Jadi kau kemari untuk menjenguknya? Dan aku membuang waktuku begini hanya untuk melihat tawamu dengan orang itu? Yang benar saja!"
Ya, dia Min Suga yang sedang berdiri dibalik tembok sambil sesekali menggerutu. Tidak-tidak. Sebenarnya dia bukan menggerutu karena sudah membuang waktu untuk mengikuti Jimin. Dia hanya kesal karena...karena-
...apa?
Jangan tanyakan itu, karena dirinya sendiri juga bingung dengan apa yang ia rasa. Sesuatu yang asing menyeruak dari dalam hatinya manakala melihat Jimin tertawa begitu lepasnya saat bersama pasien yang tak dia ketahui siapa.
Perasaan macam apa ini?
Oh demi Tuhan ini tidak nyaman dimatanya. Hampir saja kakinya melangkah untuk menyeret Jimin agar menjauh dari pasien itu. Namun, dering ponsel membuat ia mengurungkan niatnya.
"Halo...Ya, Namjoon- Huh?"
Entah apa yang dibicarakan Kim Namjoon diseberang sana, yang jelas kini Suga melirik jam tangannya dengan mata terbelalak.
Astaga! Setengah jam lagi ia ada jadwal disebuah acara dan sekarang apa yang sedang ia lakukan disini? Demi Tuhan!
"A-aku sedang dalam perjalanan, hyung. Disini sedikit macet. Aku tahu, iya-iya! Aku pasti sampai tepat waktu!"
Bahkan dia yang biasanya selalu on time sekarang bisa lupa akan jadwalnya hanya karena-
Damn! Mau tak mau ia harus mengakuinya . Ini karena Park Jimin.
"Aku benar-benar mabuk..." Gumamnya sambil pergi darisana, membawa suatu perasaan yang masih belum ia ketahui namanya.
Seseorang, tolong katakan pada Min Yoongi bahwa dia sedang cemburu sekarang.
myfiancé
Malam harinya, seperti perkiraan Jimin tadi. Seokjin mengomel padanya bahkan tak perduli jika mereka tengah berada dimeja makan. Keduanya belum memulai makan malam mereka sebab menunggu Hoseok yang masih berada diatas. Keadaan ini Seokjin manfaatkan untuk berbicara.
"Dara nuna menelponku dan-"
"Dan sekarang kau akan mengomel iyakan? Tapi tolong hyung, Dara nuna sudah menceramahiku berjam-jam tadi. Masa kau juga mau-"
"Dasar anak nakal!" Seokjin hampir saja memukul adiknya itu dengan alat makan yang belum dipakainya. Namun ia mana tega melakuan itu. Pada akhirnya ia hanya bisa menghembuskan nafasnya saja, lalu bicara dengan nada lebih lembut "...Lain kali jika merasa sakit atau apapun itu bilang padaku! Bukankah sudah pernah kukatakan, biarkan aku tahu lebih dulu daripada orang lain. Kenapa kau susah sekali dinasehati Jimini?!"
Jimin memandang hyungnya itu dengan takut-takut.
"Bukankah memang seharusnya aku langsung mengadu pada Dara nuna? dia kan Dok-"
"Benar, Jimini. Memang benar kau harusnya mengadu pada Dara nuna. Tapi bukan dalam keadaan sudah benar-benar parah dan obat sudah habis seperti tadi! Nanti Dara nuna bisa mengadu pada kakek, dan akhirnya semua orang berpikir jika aku tak memperhatikan kebutuhanmu. Padahal kan-"
"Ya ya ya! Jin hyung tak usah khawatir soal itu. Jika kakek marah padamu, aku akan membela kok. Tenang saja!"
"Aigoo~ Park Jimin, kau in-"
"Oh, Hoseok hyung sudah datang!"
Seokjin memutar bola matanya. Hoseok sering sekali datang disaat yang kurang tepat. Ia belum selesai memberi 'wejangan' untuk adik bungsunya. Dan mau tak mau, mereka segera memulai makan malam .
Khidmat. hanya denting alat makan yang terdengar. Namun semua itu buyar saat ponsel Jimin yang diletakkan dikursi sampingnya berbunyi. Dengan segera, anak itu mengambilnya.
"Uhuk!" Ia sempat tersedak saat melihat nama pemanggil yang nampak dilayar ponselnya
Incoming Call
Yoongihyungi~
"Yoongi hyung?"
Dua kakaknya spontan menghentikan acara mengunyah tatkala mendengar nama Yoongi disebut.
"Halo? Yoon- huh?"
Jimin mengerutkan dahinya heran, karena sambungan tiba-tiba teputus. Apa Yoongi hyung hanya salah tekan? Namun tak sampai lima menit kemudian, ponselnya kembali berbunyi. Kali ini bukan telepon melainkan tanda pesan singkat masuk. Dan untuk kedua kalinya, Jimin dibuat terkejut bahkan nyaris menyemburkan air yang sedang ia minum saat membaca apa yang tertera disana.
From: Yoongihyungi~
Jimin-a, apa besok kau ada waktu? Bisakah kita bertemu dan pergi ke suatu tempat? Aku akan menjemput mu jam 9 pagi, jika kau mau...
.
.
.
.
.
tobecontinued
a/n : well, selamat untuk yg kemarin nebak anak SMA itu kuki! anda benar! yg nebak itu taetae, anda belum beruntung ㅋㅋㅋ
terimakasih untuk yang sudah baca ff absurd nan membosankan ini.
lebih-lebih lagi review di chapter sebelumnya, wah tengkyu lho! maaf gak bisa balas satu persatu. tapi aku senang baca review kalian, suka sampai diulang-ulang malahan hihi
udah ah, sampai jumpaaa~
