Ansatsu Kyoushitsu
By:
Yuusei Matsui
It's Time
By:
Amaya Kuruta.
OOC, Horor, Typo bertebaran dan mengandung racun tikus XD
Chapter: 19
Siang berjalan lebih cepat dari yang diduga. Kini para murid nampak mempersiapkan diri dengan segala kebutuhannya. Seperti pasangan Sugaya-Nakamura yang sibuk menambahkan hena dilengannya. Maehara dan Okano yang nampak asyik mendiskusikan gerakan-gerakan karangan mereka berdua, sampai Ritsu palsu yang menyingkap semua taplak meja hanya untuk menemukan Okajima. Nagisa sendiri hanya duduk diam didalam kamarnya. Berkata bahwa ia akan menyusul kepada teman-temannya dan mencoba menenangkan diri ternyata tak semudah itu. Nagisa masih gelisah. Dia akan membuat keputusan terbesarnya hari itu. dan dia harus menjawab dua pertanyaan dari dua orang yang paling berharga baginya: Koro sensei dan Akabane Karma.
"Hhh.. semoga keputusanku benar.." Gumam Nagisa. Kemudian ia beranjak dari kasurnya saat mendengar peluit berbunyi nyaring. Bagaimanapun, dia harus focus saat ini. dia tak ingin mempermalukan nama kelas E. dan juga.. Karma.
Ansatsu Kyoushitsu
Karma mengenakan kostumnya dan menghela nafas. Kemudian manik pucatnya melirik tajam kearah dua makhluk yang nampak berbinar disudut sana
"Jadi, kenapa aku harus mengenakan kostum ini?" Tanya Karma. Bitch sensei dan Koro sensei menatap anak didik mereka dengan wajah berbinar. Kemudian tanpa peringatan mereka melompat dan memeluk Karma.
"Kau tampan sekali, Bocah!" Pekik Bitch sensei.
"Bohohoho.. sensei terharu sekali.. kau sudah seperti mempelai pria saat ini, Karma-kun.." Karma merasa kepalanya berdenyut. Pusing. Kenapa pula hanya dia yang didandani dua mkhluk aneh ini? setelan jas putih untuk bermain ski? Apa maksudnya ini?
"Oh, tak perlu pusing. Lagipula ini juga untuk ajang santai. Jadi banyak kostum yang akan dipakai oleh murid-murid kelas A juga. Jadi, jangan khawatir." Bitch sensei mengacungkan jempolnya.
"Hhh.. baiklah.. nah, kalau begitu bisa aku pergi sekarang?" Tanya Karma.
"Oh.. tunggu.. tunggu.. Hei, Gurita! Cepat ambil fotonya!" Bitch sensei memerintah. Kemudian dalam hitungan detik, Karma sudah berfoto dengan kedua senseinya.
"Nah, sekarang duduk disini dan tunggu." ujar Koro sensei.
"Huh? Apa yang harus kutunggu?" Tanya Karma bingung.
"Oh, tentu saja mempelai wanita!" Jawab Bitch sensei. Karma tertawa datar. Baiklah.. dia bahkan masih SMP. Kenapa pula dengan drama pernikahan ini?
Ansatsu Kyoushitsu
Ujian dimulai. Jelas sekali para juri juga ingin mencari kesenangan dengan menjodohkan beberapa murid atau hanya sekedar mencari bahan lelucon dengan syarat kostum yang ditetapkan. Sampai empat sesi, sejauh ini pasangan Maehara-Okano masih memegang nilai tertinggi. Jelas saja para juri terpukau dengan kelihaian Okano dan bagaimana cara Maehara mengimbanginya. Yang mereka tak tau, setelah pertunjukan, Maehara berkali-kali mendapat omelan dan pukulan dari Okano Hinata ( "Itu tadi pelecehan!") dan memasuki sesi kelima, semua mata terpana. Didepan mereka, Asano Gakushuu menggandeng seorang gadis cantik memasuki arena. Tak ada yang tak setuju bahwa keduanya terlihat cocok. ( "Sayang Asano jatuh cinta pada Nagisa."- pikir kelas 3-E) kemudian saat lagu diputar, asano memulai aksinya. Keduanya meluncur layaknya air terjun. Seirama dan saling mengimbangi. Setelah sampai di garis finish, para juri mulai menuliskan angkanya. Nilai yang Nyaris sempurna. Nyaris? Ya, salah satu juri selalu memberikan nilai rendah entah kenapa. Dan penampilan Asano mendapat nilai 85. Oh, ayolah.. itu nilai tertinggi yang pernah nenek berkacamata itu berikan!
"Karma-kun! Sebentar lagi giliranmu!" Bisik Nakamura. Karma meliriknya sekilas. Dia tau. Yang jadi masalah, dimana Nagisa?
"Jadi, dimana Nagisa?" Karma bertanya. Nakamura tertawa iblis.
"Kau naik saja keatas. Dia sudah menunggumu disana." Jawab Nakamura. Karma melirik sebal kearah Nakamura. tapi tak urung dia melangkah juga. Karma jadi berfikir kostum apa yang dikenakan Nagisa? setelah berjlan sekitar tiga menit, Karma sampai juga ditempat meluncurnya. Ia menoleh kekanan dan kekiri. Jadi, dimana dia?
"Ng.. Karma-kun?" Karma menoleh saat namanya dipanggil dengan suara yang ia kenal. Karma terdiam sejenak. Matanya menatap gadis didepannya.
"ah.. benar juga. Jika aku mempelai pria, dia pasti jadi mempelai wanitanya, kan?" pikir Karma. Kemudian matanya melihat dua benda menyembul dibalik pos. Bitch sensei dan koro sensei sedang mengintai keduanya dengan tatapan berminat. Karma sendiri berusaha untuk tidak memeluk Nagisa saat itu juga. Bagaimanapun gaun putih yang melilit tubuhnya terasa sangat pas dan lekat dimatanya.
"Ah, benar juga.. Koro sensei memberikan ini tadi. Dia bilang itu untukmu." Ujar Nagisa. Karma menerima kertas yang dilipat asal itu dan membukanya. Setelah membaca isinya beberapa saat, Karma menyeringai. Kali ini ia harus setuju dengan ide guru guritanya itu.
"Ada apa, Karma-kun?" Tanya Nagisa. Nagisa tau Karma pasti tengah merencanakan sesuatu. Karma menggeleng dan tersenyum manis.
"Ayo." Ajaknya. Nagisa menatap surai merah itu sejenak.
"Pasti ada sesuatu yang akan terjadi setelah ini." Pikirnya.
Ansatsu Kyoushitsu
"Peserta selanjutnya, dari kelas 3-E Akabane Karma dan Shiota Nagisa." Suara dari speaker terdengar nyaring. Asano yang tengah menegak minumannya kini mengalihkan perhatiannya dengan cepat.
"Jadi kalian memang berpasangan, hm?" Pikirnya. Kemudian suara lagu disekitar mereka berhenti. Lampu-lampu kecil menyala terang. Membaut beberapa murid bergumam kagum. Dan setelahnya, telinga Asano menangkap lantunan music yang taka sing ditelinganya. Ini..kemudian kepalanya menoleh cepat saat orang-orang disekitarnya menunjuk keatas sana. Ia tercenung. Diatas sana, ditempat meluncur, Shiota Nagisa dengan tudung pernikahannya dan gaun putih yang anggun nampak bersinar oleh cahaya gemerlap lampu. Asano diam disana beberapa saat. Wajah malu-malu Nagisa lengkap dengan semburat merah merona dan gaun indah itu. Asano yakin Tuhan baru saja membatasi kemampuan bernafasnya. Lalu suara teriakan lainnya muncul. nampak seseorang berjas putih tersenyum dan meraih jemari Nagisa. Nagisa menoleh malu dan tersenyum kecil. Akabane Karma tersenyum dan membuka tudung itu. Asano terdiam. Konsep ini..
Pernikahan.
Diseberang sana, para murid kelas 3-E tersenyum jahil ala Koro sensei kearah Asano. Mereka puas dengan ekspresi yang didapat. Bahkan Nakamura Riosudah mengambil beberapa foto. Diatas sana, Karma memasukkan sebuah cincin kejari Nagisa.
"Ugh.. kenapa harus selengkap ini?" Tanya Nagisa. Karma tersenyum santai.
"Bersyukurlah karena rencana awla gagal. Kau bahkan tak akan bisa membayangkan koro sensei akan muncul disini sebagai pendetanya kan?" Tanya Karma "Giliranmu." Karma menyodorkan cincinnya. Nagisa menerima cincin mainan itu dengan wajah datar.
"Hmm.. itu hal yang paling buruk kurasa. Tidak mungkin kita membiarkan Koro sensei mengatur ini semua." Jawab Nagisa. Karma tertawa kecil.
"Hhh.. jadi, mau meluncur sekarang, Is-tri-ku?" Tanya Karma. Nagisa membuang mukanya. Wajahnya sudah sangat merah.
"Hahaha… kau tak perlu seperti itu, Nagisa.. lihat aku." Karma memegang bahu Nagisa dan memutar kepalanya. Menatap dalam manik biru Nagisa.
"Aku tak peduli apa yang akan terjadi diakhir. Aku hanya ingin mengatakan sekali lagi, aku mencintaimu." Ucap Karma. Kemudian ia mengecup dahi Nagisa. Nagisa terperangah. Karma melakukannya didepan semua orang? Tapi entah kenapa perlakuan lembut itu membuat hati Nagisa hangat. Dan tubuhnya sudah tak lagi tegang.
"Kalau begitu ayo.." ajak Karma. Nagisa tersenyum manis dan mengangguk. Nagisa tau ia tak perlu khawatir. Selama Karma ada bersamanya. Mereka menarik nafas dalam dan mengangguk. Nagisa meluncur lebih dulu. Diikuti Karma dibelakangnya. Para murid terperangah. Satu kata untuk apa yang mereka lihat didepan mereka. Indah. Itu semua terlihat indah. Karma tersenyum melihat surai biru Nagisa. kemudian ia teringat saat mereka berdua mengunjungi tempat ini dengan orang tua Karma. Sebuah cengiran jahil muncul dibibir Karma. Tepat ketika mereka hampir sampai di garis finish, Karma mempercepat luncurannya dan dengan tongkatnya menekan pelan lutut Nagisa. Nagisa terkesiap karena keseimbangannya hilang. Lalu dengan sigap, Karma menyelinapkan tangannya dibelakang lutut Nagisa dan menopang tubuh mungil itu. lalu keduanya sampai digaris finish dengan selamat dan.. mengesankan. Para murid berteriak nyaring. Koro sensei mulai memotret moment itu. Nagisa masih berada diatas kebingungannya. Sedangkan Karma tersenyum senang.
"Kau menikmati waktumu, Istriku?" Tanya Karma. Nagisa membuang mukanya. Karma tertawa melihatnya. Di pinggir sana, Asano menggertakkan giginya. Papan nilai yang diangkat para juri menunjukkan angka yang jika dijumlahkan akan lebih besar dari skornya. Belum lagi Nagisa yang tak kunjung turun dari gendongan Karma. Tidak.. dia harus menang. Harus!
.
.
"Haaah~melelahkan sekali.." Gumam Maehara. Para murid tengah berjalan menuju ruang makan penginapan besar itu. mereka masih punya waktu sampai besok pagi sebelum tes kedua dimulai: Ice skating.
"A-ano.. Nakamura-san, aku tidak mungkin pergi keruang makan seperti ini!" Nagisa berusaha mengelak. Nakamura tersenyum.
"Oh ayolah.. aku yakin Karma masih belum mengganti kostumnya!" Pinta Nakamura. Nagisa menatapnya bingung. Apa hubungannya dengan Karma?
"Nakamura benar, Nagisa! lagipula kau terlihat cocok dengan itu!" Yada tersenyum. Nagisa tertawa datar.
"Nah.. nah.. ayo kita pergi!"
"A-Nakamura-san! Tunggu! aku harus ganti baju dulu!" Protes Nagisa. Nakamura tak mendengarkan. Tangannya tetap menggeret Nagisa. setelah beberapa saat berdebat ditengah jalan serta beberapa tourist yang meminta waktu untuk berfoto sejenak dengan Nagisa, akhirnya mereka sampai juga diruang makan.
Nakamura mengedarkan pandangannya untuk melihat sekeliling. Ah, ketemu!
"Bitch sensei!" Teriak Nakamura. Bitch sensei menoleh dan tersenyum senang. Nagisa mengernyit bingung. Jadi dia memakai gaun ini hanya untuk bertemu dengan Bitch sensei?
"Ah, ayo cepat kemari, Nakamura!" Panggil Bitch sensei.
"Ayo NAgisa!" Tarik Nakamura. Mereka melintasi meja-meja yang terisi penuh dengan pengunjung lainnya.
"Hei.. kemana yang lainnya?" Tanya Nagisa bingung. Nakamura tersenyum misterius.
"Oh, kita tidak akan makan ditempat penuh dan sesak seperti ini kan?" ujar Nakamura. Nagisa menatap temannya tak mengerti. Tapi Nakamura hanya memberikannya tatapan 'kau akan lihat nanti' sebagai jawabannya. Nagisa akhirnya memilih menurut dan melangkah disamping Nakamura. Mereka berjalan memasuki suatu ruangan dan Nagisa terperangah.
"A-apa ini, Nakamura-san?" Tanya Nagisa. Nakamura menoleh.
"Oh, kau tidak tau? Ini tempat kita makan mala mini." Jawab Nakamura. Nagisa menoleh.
"Aku tau. Tapi kenapa tatanannya semewah ini?" Tanya Nagisa lagi.
"Oh ayolah.. kita semua tengah bermain peran. Koro sensei mengatakan ini sebagai simulasi saat salah satu dari kita menikah nanti." Jawab Nakamura. Nagisa menatap Koro sensei sweatdrop.
"Jadi dia khawatir bahwa ia tak akan bisa menghadiri pernikahan murid-muridnya kelak, begitu kan?"
"Nah.. nah.. Koro sensei! Nagisa sudah datang!" seru Nakamura.
"Oh, kau datang, Nagisa~. baguslah.. sekarang aku bisa memulainya.." Koro sensei meraih tangan Nagisa dan menariknya kearah pintu masuk. Nagisa mengerjapkan matanya bingung. Jadi kenapa semuanya duduk sedangkan dia berdiri di ambang pintu? Dan kenapa pula senseinya sekarang mengenakan jas dan kacamata?! Kemudian music mulai menggema disana. Koro sensei melangkah pelan. Nagisa otomatis mengikuti langkah sang guru. Kemudian matanya terpaku. Didepan sana, Akabane Karma berdiri menatap NAgisa dalam. Jadi..
"Tu-tunggu! sensei.. kenapa aku mempelainya?" Bisik Nagisa. Koro sensei tertawa nista.
"Karena kau yang siap dengan kostummu, Nagisa. saat melihatmu dan Karma tadi, sensei jadi berfikir.. apakah sensei kelak bisa menghadiri pernikahan kalian? Atau sensei justru akan mati sebelum itu terjadi? Hiks.. sensei jadi ingin mengadakan simulasi pernikahan.. hiks.." Koro sensei mulai dramatis. Nagisa menatap gurunya datar.
"Tapi itu jelas rencanamu sejak awal kan?" Tanya Nagisa. Koro sensei tersenyum.
"Hahh.. setidaknya aku tau seperti ini lah jika salah satu dari kalian menikah nanti. Kalian akan duduk dan tersenyum senang, dan.. ah.. ini indah.." ujar Koro sensei. Nagisa tersenyum. Ia sedikit sedih mengingat mungkin saja senseinya sudah mati saat itu.
"Ne, sensei.. aku sudah memikirkan semuanya.. tentang antidote itu.." ucap Nagisa. Koro sensei menjawab dengan gumaman.
"Aku.. akan menjawabnya setelah makan malam." Koro sensei tersenyum bijak.
"Tentu saja. Sensei akan tetap diruangan ini nanti." Jawab koro sensei. Nagisa tersenyum. Kemudian matanya tertuju pada sosok merah didepan sana yang tersenyum melihat Nagisa. Ya, mungkin senseinya benar. Kapan lagi Koro sensei menghadiri pernikahan muridnya? Dan Nagisa yakin hatinya juga senang. Setidaknya meskipun ini hanya pura-pura, Koro sensei hadir dipernikahannya.
.
.
Matahari belum juga muncul saat Nagisa membuka matanya. Nagisa bukannya tak bisa tidur. Tapi entah kenapa matanya justru terbuka lebar dan rasa kantuk meninggalkannya. Tak tersisa sedikitpun. Nagisa akhirnya memutuskan untuk bangkit dan dengan perlahan berjalan meninggalkan kamar. Ia tak ingin membangunkan teman-temannya. Setelah meregangkan tubuhnya sejenak, ia berjalan pelan. Ia tak tau kemana harusnya dia pergi, tapi kakinya terus melangkah. Pikirannya lantas melayang pada tes kemarin sore. Ia tersenyum mengingat itu semua. Bagaimana Nagisa harus berusaha keras mengelak untuk mengenakan kostumnya – akhirnya dia kalah juga-, bagaimana ia melihat Karma dengan jas putih diatas hamparan salju, dan bagaimana Karma dengan pergerakan yang lembut membuka tudungnya dan menyematkan cincin di jarinya. Lalu hal itu terjadi dua kali dalam satu hari.. dua kali! Wajah Nagisa memanas mengingatnya. Sebagian dari dirinya berandai tinggi. Andai saja itu nyata!
"Hei, wajahmu memerah dan aku sangat yakin aku tak ingin pasangan meluncurku sakit nanti. Jadi kenapa kau ada disini?" Nagisa tersentak. Kemudian ia menoleh. Disana, Akabane Karma menatap Nagisa datar.
"Eh? Karma-kun.. kenapa kau disini?" Tanya Nagisa. Karma tersenyum.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Istriku~." Ujar Karma. Nagisa mendengus kesal. Karma tertawa kecil. Kemudian ia mengangkat kotak jusnya.
"Membeli jus. Aku haus." Jawabnya. Nagisa tersenyum.
"Nah, kau sendiri?" Tanya Karma. Nagisa menggeleng.
"Taka da apa-apa. Maksudku, aku hanya tak bisa tidur." Jawab Nagisa.
"Hee~ jadi Istriku tak bisa tidur setelah upacara pernikahan? Mungkinkah harusnya aku menemanimu tadi malam? Biasanya seperti itu kan?" Goda Karma. Nagisa melebarkan matanya. Karma tertawa melihat ekspresi Nagisa.
"Ugh.. hentikan Karma-kun! Kau hanya akan membuat yang lainnya terbangun!" Bisik Nagisa panic.
"Oh, mereka terlalu lelap untuk itu." Jawab Karma. Kemudian keduanya terdiam.
"Hei, Nagisa." Panggil Karma. Nagisa menoleh. Ia melihat Karma tersenyum.
"Mau jalan-jalan?"
.
.
"Karma-kun.. kita mau kemana?" Tanya Nagisa. Karma tersenyum misterius dan memberi isyarat agar Nagisa mengikutinya. Jalan yang mereka ambil cukup mendaki. Nagisa mengeratkan jaketnya. Suasana pagi di gunung bersalju? Itu jelas dingin!
"Nah, kita sampai!" Ucap Karma. Nagisa mengernyitkan matanya. Cahaya kuning mulai menyebar diufuk timur. Perlahan mentari menyembul malu diantara pegunungan. Nagisa secara otomatis tersenyum.
"Kau ingat terakhir kali kita ketempat ini?" Tanya Karma. Nagisa tersenyum dan mengangguk. Ya, dia ingat.
"Hhh.. saat itu aku senang." Gumam Karma cukup keras. Nagisa menoleh. Cukup senang? Nagisa ingat Karma hampir mati kedinginan kala itu!
"Kenapa?" Tanya Nagisa. Karma tersenyum.
"Kita melihat diamond dust saat itu kan?" Nagisa mengangguk.
"Dan menurut legenda yang ada, kalau kita melihat diamond dust bersama orang yang dicintai, maka cinta itu akan bertahan selamanya." Jawab Karma. Nagisa mengerjap sejenak lalu tertawa kecil.
"Aku tak percaya ini. kau type orang yang percaya dengan legenda ya?"
"Yah.. percaya sepenuhnya juga tidak. hanya saja kadang kepercayaan manusia itu berujung kenyataan loh. Terlepas itu dari sebuah legenda atau bukan. Dan.. entah kenapa aku ingin percaya. Legenda diamond dust, aku ingin percaya." Ujar Karma. Nagisa terdiam. Kemudian Karma menoleh kearahnya dan tersenyum.
DEG
Tuhan.. kenapa pemandangan didepan Nagisa begitu indah? Didepannya, Akabane Karma tersenyum lembut. Tatapan mata emas itu masuk jauh kedalam alam Nagisa. dan terpaan sinar mentari pagi membuat semuanya menakjubkan. Nagisa sudah tak tau lagi. Otaknya menolak untuk berfikir. Menolak untuk memberikan peringatan apapun. Bahkan saat bibir Karma menyentuh bibirnya hangat.
.
.
Bitch sensei menatap Karma dan Nagisa bergantian. Sebentar lagi giliran mereka. Setelah semua murid berhasil meluncur – sejauh ini, pasangan Isogai dan Megu memegang nilai tertinggi- sebentar lagi giliran keduanya.
"Kalian sudah berhasil memenangkan pertarungan kemarin. Dan sekarang, adalah penentuannya." Ucap Bitch sensei. Nagisa mengernyit.
"Tapi bukankah kalau kita kalah pun hasilnya akan sama saja? Maksudku, kita seri kan?" Tanya Nagisa. Bitch sensei menggeleng pelan.
"Kau tidak tau kalau permainan ice skating berpasangan itu lebih menarik dibandingkan dengan ski? Apalagi khusus kalian berdua, si Asano Gakushuu itu meminta jurinya juri yang berbeda. Jelas yang dinilai bukan hanya aspek dan point yang sama dengan yang lainnya. Mereka seorang pro. Yang mereka nilai bukan hanya ketepatan dan kelincahan gerakan. Mereka mau lebih dari itu. kalian paham?" Kedua murid itu mengangguk. Nagisa menghela nafas.
"Nah, kalau begitu persiapkan diri kalian. Aku akan melihat persiapan lainnya." Pamit Bitch sensei sambil mengedipkan matanya. Nagisa dan Karma melihat kepergian guru pirangnya dengan tatapan ' dia merencanakan sesuatu'
"Jadi.. kita hanya tinggal menunggu giliran saja?" Gumam Karma. Ia mulai bermain-main di kolam es yang masih sepi itu. kolam khusus yang dipesan Asano Gakushuu untuk pertarungan keduanya. Nagisa meluncur dibelakang Karma. Pikirannya kembali melayang. Tadi pagi semua terulang. Ciuman itu..
"Oi Nagisa."
"Eh? A-Ada apa?" Tanya Nagisa. Karma sudah berhenti meluncur.
"Sebelum kita memulai perlombaan ini.. aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Dan maafkan aku karena sepertinya kau tak akan punya waktu banyak."
"Eh?"
.
.
Asano Gakushuu benar-benar gila! Setidaknya itulah yang ada dipikiran para murid bahkan para sensei kelas 3-E. bagaimana tidak? dia menggandeng peseluncur terkenal yang cantik jelita dan berhasil mengimbanginya dengan sempurna. Nagisa yakin ia berdecak kagum saat Asano dan pasangannya melakukan satu gerakan sulit yang pernah ia lihat di video yang disodorkan Bitch sensei tempo hari. Kemudian ia merasa tepukan dibahunya. Bitch sensei tersenyum.
"Kau lihat betapa hebatnya dia kan?" Tanyanya. Nagisa mengangguk.
"dank au tau apa yang kurang dari mereka?" Tanya Bitch sensei lagi. Nagisa terdiam. Ya, jelas ada sesuatu yang kurang dari keduanya. Nagisa mengangguk.
"Um."
"Nah, kalau kau tau, setidaknya kejar point yang tak mereka dapatkan itu, Nagisa." ujar Bitch sensei. Nagisa mengangguk. Setelah beberapa menit berlalu, Asano menghentikan gerakannya dengan tangan menggandeng sang wanita. Kemudian keduanya mengangguk sopan. Nagisa menghela nafas. Ini gilirannya! Ia meluncur pelan menuju tempat mulainya. Karma sudah berdiri disana dengan senyuman khasnya.
"Kau tak perlu gugup. Kau sudah terlihat seperti ratu disini." Ujar Karma. Nagisa tertawa datar. Ia tau maksud putih selutut dengan balutan kain kaca berujung biru dibagian roknya serta rambut tergerai menyamping berwarna biru jelas membuat Nagisa sangat cocok berada ditempat itu. Karma menyentuh tangan Nagisa dan tersenyum. Nagisa balas tersenyum. Ia tau, ia hanya perlu menatap Karma. Ya, kali ini lebih dalam lagi. Dan musikpun dinyalakan. Dengan gerakan lembut keduanya mulai meluncur. Ini seperti melihat es dan api yang berjalan beriringan. Terlihat berbahaya namun penuh tantangan. Dingin namun hangat. Belum lagi…
"a-apa itu?"
"Ekspresi Nagisa… se-sempurna!" para murid lelaki mengagumi. Bitch sensei tersenyum. Ya, Nagisa bagaikan es yang menantang api untuk melahapnya. Sedangkan Karma bagaikan api yang menerima tantangan untuk melahapnya namun menikmatinya sedikit demi sedikit. Sempurna! Bagaimana keduanya saling bertatapan dan bagaimana tubuh keduanya saling merespon.. para juri tak melepaskan tatapannya sedikitpun. Terhipnotis dengan atmosfer yang mereka ciptakan sendiri. Tak ada suara, hening.. dan saat lagu sudah mencapai puncaknya, Nagisa berputar anggun sedangkan Karma menerima tubuh mungil itu dalam pelukannya. Keduanya terengah. Menatap satu sama lain.
"Hh..hh.. kita.. berhasil?" Tanya Nagisa dalam gumaman kecil. Karma tersenyum lembut. Nagisa ingat. Saat ia meluncur ia mengingat semua yang dikatakan Karma sebelumnya. Tentang Asano yang menyukainya. Tentang untuk apa sebenarnya pertandingan ini. siapa yang dipertaruhkan disini, sampai permintaan maaf dari Karma bahwa ia sudah menjadikan Nagisa bahan untuk bertaruh semcam itu. tapi Nagisa ingin berterimakasih untuk itu. Karena hal itu, Nagisa bisa meluncur sesempurna itu. karena ia tak ingin.. Karma menjauh darinya.
"Um. Kau hebat Nagi-" kemudian manik pucat itu melebar. Bagaikan api yang menyentuh balok es. Karma yakin perasaannya membuncah bagai uap es. Tentu saja.. Nagisa mencium bibirnya.. itu hanya ada satu arti kan?
"Nagisa?" Karma memanggilnya saat Nagisa menjauhkan bibirnya.
"Aku.. mencintaimu." Ujarnya. Karma tertegun. Nagisa mencintainya. Benar kan? Karma memeluk tubuh itu erat.
"Terimakasih, Nagisa."
.
.
.
.
Dan mereka tidak menyadari semua itu terjadi didepan para juri dan teman-temannya. Nagisa langsung menjauh dari Karma sedangkan Karma menyeringai lebar. Para juri mengangkat point semmpurna untuk keduanya. Asano menatap keduanya datar. Sebelum akhirnya berbalik dan pergi meninggalkan keduanya. Karma hanya menatap kepergian rivalnya itu datar. Kemudian keduanya sudah diserbu oleh para murid kelas 3-E. Mereka senang sekaligus.. inginmelakukan sesuatu atas apa yang mereka lihat tadi. Nagisa sendiri sudah pucat sejak beberapa menit yang lalu. Nakamura Rio tersenyum. Ingatannya kembali pada saat perjalanan menuju tempat itu.
"Baiklah, sebaiknya aku tidak memaksamu. Tapi jika kau akhirnya memutuskan untuk menerima perubahan status ini, bagaimana jika kau menciumnya setelah kau selesai meluncur?"
"A-apa itu?"
"Apa? Adil kan jika mata dibalas mata!"
"Hhh.. tak kusangka dia serius menanggapi Advice dariku." Gumamnya dan berjalan menuju kerumunan murid kelas 3-E.
-TBC
Hyaaah.. chapter ini butuh perjuangan. Fufufufu.. rasanya pengen jadi Nagisa*eh
Jadi Bitch sensei ama koro sensei juga ga apa. KYAAAA/nak
Ah ya, sebelumnya Amaya mau kasih pengumuman. Masih ada satu bab lagi dari cerita ini. dan.. sedihnya, sebentar lagi amaya mau balik ke tempat tak bersinyal kemarin *pundung.
Jadi, untuk update semua fic mungkin akan terlambat lagi. Kecuali Amaya nemuin orang yang bisa bantuin pegang akun Amaya dan bisa bantuin aplod, mungkin ga akan lama updatenya. Jadi doakan saya ya ^^/
Review:
Minna4869: iya belum. Dia masih bingung.. dia kan laki aselinya XD terimakasih sudah mampir ^^
Aeon zealot Lucifer: hahahaha nasib karma ga punya temen curhat. Temen curhatnya yang ditaksir XD. Iya.. satu chapter lagi diprediksikannya. Terimakasih sudah mampir ^^
ParkYuu: hehehe maaf ya, pertandingannya ga sengit sengit amat. Saya terlalu focus ama perasaan Nagisa dan Karma*plak. Terimakasih sudah mampir ^^
Frwt: iyaaaa terimakasih semangatnya ^^
Denia: aduh maaf.. maaf.. ini apdet ini apdet ^^ terimakasih sudah mampir
Sasha Kakkoi-chan: Terimakasiiiih semoga menghibur ^^
Hani AK: wkwkwkwk Nagisa butuh perjuangan yang mau balas. Terimakasih sudah mampir ^^
Raina Awasari: itu yang Nagisa katakana. Huahahahaha*plak. Terimakasih sudah mampir J
Guest: Terimakasih banyak.. ok~ sudah dilanjut J
Dan untuk semua yang udah Fav, Follow, Review dan PM, terimakasih banyak.. Love you..
Jaa~!
