Jika Jimin pikir-pikir,
Kurang lebih lima ratus hari sejak dirinya dan Suga berstatus sebagai tunangan, baru kali ini ia pria bertampang dingin itu mengajak Jimin kencan terlebih dahulu. Biasanya, segala sesuatunya harus Jimin yang memulai. entah itu telepon, SMS, apalagi mengajak bertemu seperti ini. Dan kebanyakan, Suga akan menolaknya karena alasan 'sibuk dengan band'.
Jadi, saat semalam dengan tiba-tibanya pria itu mengirim pesan berisi ajakan kencan, sudah tak bisa dideskripsikan lagi kebahagiaan Jimin. Oh, jangan lupakan jika Suga bahkan mengenakan kalimat Jimin-a pada awal pesannya. Dan seingat Jimin, Suga jarang sekali menyebut namanya jika tak sedang berada disekitar keluarga mereka. Apalagi dalam bentuk pesan singkat begini. Bisa Jimin hitung dengan jari berapa kali berapa kali Suga memanggilnya dengan cara seperti itu.
Maka tanpa ragu Jimin membalas, Ya. Tentu saja aku mau . Aku akan menunggumu, Yoongi hyung ^^.
Sejenak Jimin lupa, jika beberapa hari sebelumnya ia sempat berfikir untuk menyerah saja. Mungkin ia dan Suga tidak cocok untuk bersama. Namun, dengan kejadian ini Jimin sedikit mengubah pola pikirnya.
Mungkin, Tuhan memberikan ia dan Suga satu kesempatan lagi?
Bukankah sesuatu harus dimulai dari hal kecil dulu? Seperti Suga yang tiba-tiba mengajaknya kencan begini. Bukan tidak mungkin kan dia sudah mulai membuka hatinya?
Jimin pernah mendengar dari beberapa orang. Dua orang harus merasakan ketidak senangan dulu, barulah cinta mereka bisa menjadi kuat. Apakah Ia dan Yoongi hyung nya juga begitu? Ya, semoga saja.
Pagi ini, Jimin terbangun lebih awal dari biasanya. Oh, ia harus mengakuinya jika semalaman tak bisa tidur. Sibuk memikirkan, kira-kira ia dan Suga akan pergi kemana ya? Ah, ia jadi semakin tak sabar.
Waktu sudah menunjukkan pukul 08.30 pagi. Dan Jimin tengah bersiap didepan cerminnya. Mematut penampilannya sendiri. Dia bukan orang yang repot tentang berpakaian. Asal nyaman dikenakan, tak masalah. Seperti pagi ini, ia bahkan hanya mengenakan sweater rajut berwarna ungu serta celana jeans saja. Lalu ada sebuah beanie yang berwarna senada dengan baju, melekat menutupi sebagain rambutnya.
Uh,manis sekali anak ini.
Tapi tunggu,
"Pucat sekali ya wajahmu Park Jimin?!" Gumamnya pada pantulan di cermin. Namun hal itu segera tersingkirkan saat Jimin tak sengaja melihat kotak beludru yang terletak di meja riasnya. Ia pun mengambilnya, untuk kemudian mengeluarkan isinya. ia tatap kalung itu sejenak.
"Pada akhirnya kau kembali padaku lagi. Hosiki hyung mungkin sudah tak membutuhkanmu. Tak apa, kau bukan dibuang. Kau hanya singgah di lehernya, dan sekarang sudah waktunya kau kembali. karena aku pemilikmu, dan akan menerimamu lagi dengan senang hati!" Ujarnya kembali bermonolog, lalu melingkarkan kalung itu dilehernya.
Sadar tak sadar, kalimat itu bisa mengandung dua arti.
Min Yoongi, pada akhirnya kau kembali padaku lagi. Hoseok hyung mungkin sudah tak membutuhkanmu. Tak apa, kau bukan dibuang. Kau hanya singgah dihatinya, dan sekarang sudah waktunya kau kembali. karena aku pemilikmu, dan akan menerimamu lagi dengan senang hati.
Sayangnya, Jimin tidak tahu apa-apa tentang Suga dan Hoseok. Jadi yang ia tahu kata-katanya hanya mengandung satu arti saja.
Ponsel Jimin yang terletak di tempat tidur berdering, membuatnya segera meninggalkan cermin. Dahinya membentuk sebuah kerutan manakala melihat nomor yang menghubunginya itu adalah nomor asing. Bukan hanya itu, ini juga sebuah video call. Dengan hati penasaran, Jimin menggeser simbol hijau di touchscreennya. Saat layar ponselnya mulai menunjukkan wajah sang pengehubung di seberang sana, Jimin membulatkan matanya.
"Astaga! Jeon Jungkook?!"
Ya, dilayar nampak Jeon Jungkook yang sepertinya tengah duduk di tempat tidurnya. Ia juga masih mengenakan pakaian rumah sakitnya seperti kemarin. Jungkook diseberang sana tertawa canggung.
"Annyeonghasimnikka, Jimin hyung!"
Lalu menundukan kepalanya sebentar, pengganti membungkuk. Jimin perlahan tersenyum, walau masih merasa bingung.
"Annyeonghaseyo. Tapi, darimana kau tahu nomor teleponku?" Tanya Jimin sambil melangkah keluar, lalu mengambil posisi duduk di kursi yang terdapat di balkon kamarnya.
"Apa sih yang tidak Jungkook ketahui di dunia i- aduh! Junghyun hyung apaan sih! Sakit!"
Jimin mengerutkan dahi saat seseorang nampak memukul pelan bagian belakang kepala Jungkook, membuat anak itu mengaduh berlebihan.
"Bukan seperti itu caranya menyapa, dasar bodoh!"
Tak lama kemudian, seorang yang lain mengambil alih ponselnya dan muncullah wajah yang tak jauh beda dari Jungkook.
Jeon Junghyun, yang menundukkan kepalanya lalu tersenyum dan menyapa Jimin.
"Annyeonghasimnikka, Jimin-ssi."
"Oh, Annyeonghassimnikka...Junghyun-ssi?"
"Benar. Aku Jeon Junghyun. Kakak Jeon Jungkook. ah, maafkan kelancangan adikku, ya? Dia memang sedikit-"
"Hyung! Kembalikan ponselnya siniiii~ Aku mau bicara dengan- hmppfh!"
Satu tangan Junghyun membekap mulut adiknya yang berisik itu.
"Ah, maaf Jimin-ssi."
"Tak apa." Jimin tertawa kecil "omong-omong, ada keperluan apa menghubungiku?" Tanyanya kemudian.
"Sebelumnya aku minta maaf jika mengganggumu. Jungkook mendapatkan nomor teleponmu dari Dr. Sandara Park. Anak itu entah kenapa bisa berbuat selancang ini. maaf. aku menghubungimu, ingin mengucapkan Terimakasih."
"Ya? Terimakasih untuk apa?"
"Pertama, Terimakasih karena kemarin kau sudah membujuknya kembali ke kamar. Maaf karena aku tak sempat menemuimu."
"Ah~ ya, tak masalah."
Jimin ingat, kemarin ia dan Jungkook sempat berkenalan secara singkat. Anak itu terlalu shock hingga menjadi canggung. Saat Jimin menyarankannya agar kembali ke kamar dan tak mengamuk lagi pada hyungnya, Jungkook dengan cepat mematuhi. Mungkin karena gugup berdekatan dengan Jimin yang telah menangkap basah dirinya jika ia sering memperhatikan namja itu di bis. Jimin hanya mengikuti anak itu dari kejauhan hingga benar-benar masuk lagi ke kamarnya. Setelah itu ia tak tahu apa lagi yang terjadi.
Ia tak tahu, jika Jungkook diam-diam mengintip lagi kepergian Jimin. Jadi ia tahu jika Jimin sempat berpapasan dengan Dokter Sandara, dan sepertinya berbicara lumayan serius meski hanya sebentar. Jungkook jelas tak tahu apa yang mereka bicarakan, yang ia tahu, dengan cepat moodnya berubah pada sang kakak.
Jungkook bercerita perihal seseorang yang menyuruhnya kembali dan tak mengamuk lagi. Junghyun hanya bisa mendengarkan dengan diam saja. Sedikit merasa heran juga, kenapa cepat sekali mood adiknya ini berubah hanya karena Seseorang yang bahkan baru ia tahu namanya?
"Park Jimin, hyung! Namanya Park Jimin! aku melihatnya mengobrol dengan Dara nuna tadi. uh, tunggu. marga mereka sama. Jangan-jangan mereka saling mengenal? atau bahkan bersaudara?! Ah! Aku harus menanyakannya!"
"Kedua, berkatmu, Jungkook bersedia untuk melakukan operasinya. Sekali lagi Terimakasih, Jimin-ssi."
Lagi-lagi Jimin heran, kenapa Junghyun berterimakasih untuk ini? Padahal kemarin ia tak melakukan apa-apa. Termasuk menyinggung soal operasi itu. Namun belum sempat ia bertanya, Junghyun sudah kembali menjelaskan.
"Kemarin, anak ini segera pergi pada salah satu Dokter di rumah sakit ini. Kau pasti tahu Dr. Sandara Park, kan?"
Jimin mengangguk spontan.
"...Jungkook beberapa kali mendapat penanganan dari . Mengetahui jika namamu satu marga dengannya, Jungkook menebak jika kau adalah kerabatnya. Ternyata benar. Dan Jungkook dengan lancangnya meminta nomor teleponmu, dengan jaminan, ia akan melakukan operasi itu. Padahal sebelumnya ia selalu menolak dengan keras. Biar bagaimanapun, ini semua berkatmu, Jimin-ssi. Aku benar-benar berterimakasih."
Jimin tak berkedip mendengar cerita Junghyun barusan. Apa benar Jungkook begitu? Dia berubah pikiran hanya karena nomor teleponnya? Wah! Anak itu benar-benar-
"Begitu ya, Junghyun-ssi. Syukurlah jika Jungkook berubah pikiran. Aku turut senang-"
"Hyung!"
Tiba-tiba wajah Jungkook muncul di layar. Membuat Jimin sedikit terkejut.
"Jimin hyung? Senang berkenalan denganmu kemarin. Enggg~ aku juga minta maaf soal kejadian di bis itu. Aku hanya- ah kau harus tahu jika wajahmu yang sedang melamun itu enak sekali dipandang. Makanya- aduh! Apa sih hyung? Kau senang sekali memukul kepalaku! Lama-lama bukan hanya ginjalku yang rusak! Kau mau tanggung jaw- hmppfh !"
"Duh, maaf-maaf Jimin-ssi. Bicara yang sopan bisa tidak, Jungkook-a?!"
Jimin tertawa kecil lagi. Diam-diam ia tahu fakta lain, tentang sakit yang Jungkook derita lewat umpatannya tadi.
"Tak apa Junghyun-ssi, tak apa. Bisakah aku bicara lagi dengan Jungkook?"
"Ah, baiklah."
Wajah Jungkook muncul lagi.
"Junghyun hyung itu menyebalkan, iyakan Jimin hyung?"
"Hush! Tak boleh bicara begitu tentang hyungmu!," tegur Jimin. "...dan tentang kejadian di bis itu, aku sebenarnya tak marah jadi tak perlu memaafkanmu. Dipikir-pikir seru juga diperhatikan pelajar SMA sepertimu. Tapi, lain kali jangan begitu pada orang lain. Jika yang kau perhatikan itu merasa tersinggung atau mencurigaimu yang tidak-tidak, bagaimana ?"
^huh? Tidak-tidak apa maksud hyung? Memangnya wajah tampanku ini ada tampang kriminal apa?"
"Pffft~" Jimin menahan tawanya mendengar ucapan Jungkook barusan. Kriminal sih tidak, tapi tatapan seintens itu kadang membuat Jimin berpikir jika anak ini maniak. Uh mencurigakan.
"Yah! Kenapa hyung tertawa?"
"Ah, tidak. Tidak apa apa. Pokoknya, lain kali tak boleh memperhatikan orang lain berlebihan begitu. Kalau ternyata orang itu punya kekasih bagaimana? Nanti kau dimarahi. Haha..."
Kali ini giliran Jungkook yang tak berkedip melihat Jimin bicara, dan tertawa renyah.
"Apa itu artinya hyung sudah punya kekasih?" Tanyanya tiba-tiba, membuat Jimin menghentikan tawanya seketika.
"Yak Jeon Jungkook, untuk apa kau menany-"
"Junghyun hyung bisa diam tidak sih?! Berisik! Ah, Jimin hyung, jawab pertanyaanku! Apa hyung sudah punya kekasih?"
"Memangnya kenapa?" Jimin balik bertanya.
"Uh? Tidak. Tapi, tidak mungkin juga sih. Buktinya kau kupergoki sering melamun dan berbicara sendiri pada kalungmu. Pasti kau baru putus atau paling tidak hanya sedang naksir seseorang saja. Iyakan?"
"Ha?"
"Tak apa, lelaki didunia ini masih banyak hyung! Kalau ada yang mencampakkanmu, berarti dia BODOH! Tapi aku tidak ya, aku kan sering memperhatikanmu berarti aku tak bodoh. Iyakan hyung? Ah, bagaimana jika kau jadi pacarku saja?"
"...Apa?!"
"YAK JEON JUNGKOOK!"
Jimin sedikit terkejut. Pertama, karena ucapan Jungkook yang ceplas-ceplos itu. Dan kedua, karena Jeon Junghyun yang membentak anak itu dengan sangat keras.
"Ish! Kenapa ekspresi kalian berlebihan begitu? Aku kan cuma bercanda~"
"Bercandaanmu tak lucu, Jeon! Minta maaf!" Suara Junghyun menegur.
"Iya iya. Maaf Jimin hyung, aku bercanda. Okay?"
Jimin masih diam beberapa detik, sebelum akhirnya tersenyum dan mengangguk.
"Hm, tak apa. Ohiya, kapan kalian akan melakukan operasi itu?" Tanyanya kemudian, mengalihkan pembicaraan.
"Seminggu lagi, kalau tidak ada kendala. Iyakan Junghyun hyung?"
Jungkook mengarahkan kamera pada Junghyun, dan dapat Jimin lihat Junghyun mengangguk. Jungkook kembali dilayar.
"Hyung akan datang kan?" Tanyanya dengan raut wajah yang berubah menjadi serius. Tidak, itu lebih tepat dinamakan raut kesedihan.
"Hm?"
"Aku dan Junghyun hyung akan melakukan operasi, tapi tidak ada keluarga yang datang. Aku tahu ini lancang, kita bahkan bukan siapa-siapa. tapi...bisakah hyung datang nanti?" Tanya Jungkook memperjelas.
Jimin berpikir sejenak. Kenapa tidak ada keluarga yang datang? Apa Junghyun dan Jungkook yatim piatu? Seperti dirinya?
Terkaan itu membuat Jimin tak tega menolak, dan akhirnya menjawab ;
"Pasti. Hyung akan datang."
Dilihatnya Jungkook tersenyum senang.
"Benarkah?! Hyung janji?"
"Hm! Janji. Minggu depan kan? Kau tunggu saja Jungkook-a."
Hening.
"Benar-benar seperti malaikat..."
"Huh?"
"Ah...tidak. terimakasih hyung, aku akan menunggumu."
Suara klakson mobil dibawah sana membuat Jimin mengalihkan perhatiannya dari Jungkook sebentar. Bisa ia lihat, mobil Suga memasukki gerbang utama rumahnya. Jimin diam-diam tersenyum senang.
"Hyung?!"
"Ah?" Jimin ingat lagi dengan Jungkook "Jungkook-a, kurasa sampai disini dulu pembicaraan kita. Nanti aku akan menghubungimu lagi jika sempat."
"Hyung ada acara ya?" Tebak Jungkook dan Jimin hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Hm? A...itu, ya begitulah."
"Hm, baiklah. Pantas kau rapih sekali pagi ini. Uh, tapi wajahmu nampak pucat. Jaga kesehatanmu hyung!" Ujar Jungkook. Jimin sebenarnya membenarkan dalam hati. Ternyata anak itu peka juga.
"Yah, bukankah harusnya aku yang bilang itu? Kan yang sedang sakit dirimu!"
"Hm, arraseo. Ohiya, jangan lupakan janjimu hyung!"
"Iya iya . Aku takkan lupa. Baik-baiklah Jungkook-a, jangan merepotkan hyungmu lagi. Kau paham?"
"Neee~. Terimakasih untuk waktunya pagi ini! Byebye hyungie^^!"
Cup!
"Huh?" Jimin terhenyak saat Jungkook sempat-sempatnya mencium layar dengan bibirnya, sebelum sambungan itu terputus.
"Aish! Anak itu-"
Namun Jimin tak mau ambil pusing. Saat ini pikirannya hanya tertuju pada Suga saja. Tunangannya itu pasti sedang menunggu di bawah sana. Maka dengan segera, Jimin berjalan meninggalkan balkon. Namun saat melintasi nakas tempatnya menyimpan kalender duduk, ia berhenti sebentar. Lalu seketika pupil matanya membesar. ada sebuah tanggal yang ia lingkari dengan spidol berwarna merah.
"Huh? Astaga! Bukankah aku ada acara di Busan hari ini? Aish! Kenapa bisa lupa?!"
myfiancé
Suga menanti Jimin didalam mobil, yang kini terparkir didepan rumah tunangannya itu.
Semalam, ia benar-benar merasakan sesuatu yang tak bisa ia jabarkan dengan kata-kata . Dalam ingatannya terus terbayang saat Jimin mengobrol dan tertawa dengan pasien itu. Dan itu cukup tak nyaman baginya. Bahkan selama perform diatas panggung pun perasaan itu tetap ada.
Bukan hanya tentang itu. Suga juga masih sibuk menerka-nerka, kiranya darimana Jimin tahu perihal puding strawberry tempo hari? Siapa Jimin sebenarnya?
Suga sangat yakin. Didunia ini, tak ada yang tahu tentang itu selain, keluarga intinya, dan juga teman masa kecilnya yang ia ketahui adalah Hoseok. Sekarang, sementara Hoseok saja sudah lupa, kenapa seorang Jimin bisa tahu?
Sejurus kemudian Suga ingat sesuatu.
'Bibiku pasti membelinya dari toko langganan keluargaku. Memang puding disana yang paling daebak !' -perkataan dia dulu kala-.
'...mungkin takkan seenak buatan Bibi Min. tapi puding strawberry itu aku beli dari toko langganan keluargaku. Jadi Yoongi Hyung tak perlu khawatir tentang kualitas nya.' -dan perkataan Jimin tempo hari-.
"Langganan keluarga?"
Suga seolah tersentak oleh sesuatu, otaknya mau tak mau mengambil sebuah kesimpulan.
"Apa Jimin adalah dia?"
Secara spontan, Suga mengambil ponselnya lalu menghubungi Jimin. Namun yang terjadi, baru mendengar suara Jimin sedikit saja Suga sudah gemetar dan memutuskan sambungannya.
"A-apa yang kulakukan? Apa yang ku pikirkan barusan? Sudah jelas-jelas 'dia' adalah Hoseok. Pemilik kalung J itu Jung Hoseok. Mana mungkin-shit!"
Gumamnya kala itu. Dan otaknya lagi-lagi memaksa dia untuk tetap mengingat dan menerka hal lain.
'Ew~Aku tak suka apapun yang berhubungan dengan strawberry. Jangan bicarakan buah berbintik-bintik itu didepanku!'
Jika dipikir lagi, mana mungkin seseorang yang dulu sangat menyukai sesuatu bahkan hingga berebut begitu konyol dengan Suga, sekarang bisa sebegitu bencinya tanpa alasan?
Apa-apaan ini?
Selama ini ia salah sasaran? Yang benar saja! Ini tidak mungkin, dan Suga harus membuktikan jika dugaannya salah. Pemilik kalung itu Jung Hoseok. Teman yang menyuapinya puding saat kecil itu Hoseok. Bukan Park Jimin.
"Aku harus memastikan dulu.."
Jadilah, ia mengetik pesan singkat pada tunangannya itu. Berisi ajakan untuk pergi bersama. Hanya untuk mencari tahu, dan meyakinkan diri jika Jimin bukan teman masa kecilnya dulu. Dia hanya seseorang yang Suga temui saat malam pertunangan sialan itu...kan?
.
.
.
Kembali pada Suga yang tengah menunggu Jimin didalam mobil. Setelah beberapa menit, akhirnya Jimin muncul dari pintu utama dan segera membuka mobil Suga. Seperti biasa, tersenyum dan menyapa.
"Apa kau menunggu lama?" Tanyanya.
Suga menggelengkan kepala.
"Tidak. Sudah, cepat naik!" Titahnya. Tapi Jimin justru tetap berdiri diluar membuat Suga bingung. "Yah Park Jimin?! naik!"
"Engg~ memangnya kita mau kemana?"
"Banyak tanya sekali. Sudah cepat naik saja, nanti kau juga tahu!"
"Tapi-duh, aku lupa jika hari ini ada janji. Jadi-"
"Kenapa baru bilang sih?! Tahu begitu semalam kau menolak saja! Tsk!" Seru Suga sedikit kesal juga. Dilihatnya Jimin benar-benar merasa bersalah.
"Maaf, Yoongi hyung. Tapi aku benar-benar lupa. Kau bisa membatalkan saja acara kita. Aku-"
"Jadi kau mengusirku yang sudah capek-capek meluangkan waktu untuk menjemputmu? Yang benar saja Park Jimin!" Tuding Suga bertambah kesal.
Entahlah, dulu ia sangat senang jika acaranya dengan Jimin batal. Namun sekarang, mendengar Jimin rela membatalkan acaranya hanya karena janji yang Suga tak tahu dengan siapa, diam-diam ia kesal juga.
Oh, dia tak sadar bahwa dirinya lebih menyebalkan beribu kali lipat setiap kali menolak ajakan Jimin.
Tapi tunggu, omong-omong dengan siapa Jimin memiliki janji hingga nampaknya penting sekali? Jangan-jangan, pasien yang kemarin itu?
"Bukan begitu, Yoongi hyung. Aku senang kau mau mengajakku keluar. Tapi aku benar-benar lup-"
"Memangnya kau ada janji dengan siapa?"
"Uh? Itu...dengan, anak-anak dipanti asuhan kerabatku di Busan. Salah satu dari mereka ada yang berulang tahun dan aku sudah janji akan datang. Jadi-"
"Yasudah naik!"
"A-apa?"
"Naik, kita pergi bersama kesana."
Jimin tak berkedip mendengar ajakan Suga itu. Benarkah dia mau mengantarnya ke Busan? Sebenarnya, kenapa dia memaksa sekali ingin pergi bersama Jimin hari ini? Biasanya Suga selalu senang jika acaranya batal dan lebih memilih berlatih dengan bandnya. Kenapa sekarang-
"Demi Tuhan, Park Jimin. Kau menunggu apa lagi?! Ayo cepat naik!"
"Ah? Enggg~ Kurasa jalanan sedang macet, dan jika kita memakai mobilmu akan memakan waktu lama. Bagaimana kalau naik KTX saja?"usul Jimin hati-hati.
"Hah?"
"Ya, jika hyung memang mau mengantarku, kita naik KTX saja. Dan tinggalkan mobilmu disini. Kalau tidak mau juga tidak apa-"
"Yasudah."
Jimin sedikit terhenyak tak percaya melihat Suga turun dari mobilnya, pertanda setuju dengan usulannya barusan.
"Yoongi hyung-i, kau mau?"
"Menurutmu? Sudah cepat! Ah, panggil salah satu pembantumu, suruh parkirkan mobilku. Ini kuncinya."
Jimin tersenyum senang dan mengangguk paham. Untuk kemudian mengambil kunci mobil itu dari tangan Suga, lalu memanggil Kang Ahjussi untuk memarkirkan mobil tunangannya.
myfiancé
Suga lagi-lagi tak mengerti dengan apa yang ia lakukan. Mengantar Jimin ke Busan dengan menumpang Korea Train eXpress ini ?
Oh, disini banyak orang dan bukan tidak mungkin mereka mengenal seorang Min Suga. Bagaimana jika ada yang curiga? Atau bahkan tanpa sepengetahuannya ada penggemar dan wartawan disini?
Memikirkan itu, membuat Suga segera menaikkan masker agar semakin menutupi sebagian wajahnya. tak lupa shades hitam serta topi untuk semakin menyamarkan penampilannya.
Jimin melirik Suga yang duduk disampingnya. Kemudian tersenyum maklum, saat melihat gerak-geriknya yang tampak kurang nyaman.
Jimin sebisa mungkin tak menciptakan skinship yang bisa menarik perhatian orang. Sedari tadi ia menjaga jarak dari tunangannya itu. Suga mau mengantarnya pun sudah beruntung. Jadi Jimin tak mau Suga mendapat masalah hanya karena dipergoki orang tengah pergi berdua dengannya.
.
.
.
"Whoaaaaa~ Chimchim hyung dataaaang! Hey hey, lihat Chimchim hyung datangggg!"
"Uh dengan siapa dia?"
"Jutek sekali wajahnya, seperti ahjussi pula!"
"Hush! sembarangan kau, nanti kedengaran Chimchim oppa!"
Suara riuh anak-anak ini menyambut kedatangan Jimin dan Suga. Walau beberapa dari mereka merasa heran karena 'Chimchim hyung' kesayangannya itu kini datang dengan seorang yang lain. Biasanya dia seorang diri saja.
"Chimchim hyuuuuungggggg!"
Mereka menyerbu Jimin yang bahkan baru memasuki gerbang dengan riang. Jimin juga tertawa senang dengan sambutan itu.
"Hey! jangan berlari , nanti kalian jatuh!" Ujarnya memperingatkan, tapi anak-anak itu tetap saja berlari lalu memeluknya secara berebut. Bahkan ada pula yang langsung mencium pipi Jimin begitu dia berlutut untuk mengimbangi tinggi mereka semua. Selanjutnya, Jimin balas memeluk satu mereka persatu.
"Chimchim hyung kenapa baru datang?"
"Iya! Kenapa terlambat? Dongyeol sudah hampir menangis karena kau tak datang-datang hyung!"
Adu beberapa anak membuat Jimin merasa bersalah, lalu mencari-cari sosok Lee Dongyeol, bocah yang hari ini tengah berulang tahun.
"Maaf, hyung sedikit ada urusan tadi. Tapi hyung datang kan sekarang? Apa acaranya sudah selesai? Mana Dongyeol?"
"Dia didalam. sepertinya ngambek. Acaranya belum dimulai karena anak itu diam saja. Kalau Chimchim oppa tak ada dia tak mau, katanya." Jawab seorang anak perempuan itu.
"Benar hyung!" Yang lain menyahut setuju.
"Ah~ begitu ya..."
"Hey, anak-anak. Ajak Chimchim hyung masuk kedalam. Ayo, tak baik mengobrol ditengah jalan begitu." Intruksi seorang wanita paruh baya yang muncul dari dalam. Jimin tersenyum melihatnya.
"Ayo hyung! Kita masuuuuk!"
Mereka tanpa basa-basi langsung menarik lengan Jimin agar segera masuk kedalam. Namja itu menurut saja. Meninggalkan Suga yang masih berdiri tak jauh dari wanita itu.
"Oh? Min Yoongi-ssi ?" Sapa wanita itu sambil mendekati Suga
"Ah, ya."
"Saya Heo Solji. pengurus Panti asuhan ini. Panggil saja Bibi, seperti tuan muda Jimin."
Suga hanya tersenyum tipis.
"...Senang rasanya melihat tuan muda Jimin akhirnya membawa tunangannya kemari. Ternyata anda benar-benar tampan dan berkarisma seperti yang sering dia ceritakan. Ah, mari masuk."
"Ya, Terimakasih."
Suga pun mengikuti langkah bibi Heo.
myfiancé
Suga tak tahu sejauh apa dia mengenal sosok Jimin. Selama satu setengah tahun menyandang status sebagai tunangannya, baru kali ini dia merasa benar-benar tahu seperti apa Jimin sebenarnya.
Simple saja, dia disayangi banyak orang.
Jangan tanyakan tentang keluarganya, karena itu (menurutnya) sudah pasti. Tapi lihat, oleh anak-anak penghuni panti asuhan pun ia nampak begitu disayangi dan diidolakan.
Suga duduk disebuah kursi, menyaksikan pemandangan baru tak jauh darinya. Jimin yang sedang berusaha membujuk seorang anak laki-laki bernama Lee Dongyeol itu.
"Dongyeol-a...kau baik-baik saja?" Tanya Jimin hati-hati. Sementara Dongyeol langsung mengadah, terkejut dengan kehadiran hyung kesayangannya itu. Sedari tadi ia hanya duduk didekat kue ulang tahunnya menunggu Jimin dengan sedih.
"Kenapa hyung baru datang? Hyung lupa ulang tahunku, ya?" Tanyanya dengan suara serak. Matanya merah hampir berair.
Jimin semakin merasa bersalah, kemudian berlutut dan memegang kedua tangan Dongyeol.
"Maafkan hyung, ya?! Sekarang hyung sudah datang, kan? Mari rayakan ulang tahunmu!"
Dongyeol hanya diam menatap Jimin.
"Yak Dongyeol-a, maafkan saja Chimchim hyung! dia kan sudah datang?!" Anak-anak dibelakang Jimin pun tak ketinggalan membujuk anak itu.
"Kalau kau ngambek terus, Nuna aku akan memakan kue ulang tahunmu! oh, dan juga semua eskrim mu! Lihat saja Dongyeol-a!" Tambah anak yang lain , pura-pura mengancam. Membuat mata Dongyeol membulat.
"Jangan coba-coba! Chimcim hyung, lihat! Yuju nuna mau memakan kue dan eskrimku!" Adu Dongyeol kali ini, dan Jimin tertawa kecil dibuatnya.
"Hm! Dia tidak akan berani. Makanya, ayo kita mulai acaranya agar kau bisa memakan kuemu sepuasnya! Bagaimana?"
Dongyeol mengangguk setuju, dan Jimin kembali tersenyum lalu menghapus airmata anak itu yang hampir mengalir.
Anak-anak dibelakang Jimin mulai bersorak.
Dan Suga, masih tak bergerak ditempatnya. Sampai bibi Heo datang dan meletakkan dua cangkir teh dimeja.
"Yoongi-ssi?"
"Ya?!" Barulah Suga tersadar.
"Silahkan diminum." Ucap bibi Heo, lalu duduk disamping Suga.
"Ya, terimakasih."
"Hm, anda pasti terkesan dengan kedekatan tuan muda Jimin dan anak-anak itu. Iya kan?" Terka bibi Heo, dan Suga hanya diam. mungkin mengiyakan.
Keduanya kini menatap objek yang sama. Jimin yang tengah menyalakan lilin berbentuk angka 8 di kue ulang tahun, lengkap dengan kehebohan anak-anak sekelilingnya.
"Tuan muda Jimin benar-benar anak yang baik. Setidaknya sebulan sekali, ia pasti menyempatkan datang kemari. Menemani mereka bermain. Mungkin karena tuan muda bernasib sama seperti anak-anak yatim piatu itu, jadi ia merasa kasihan."
Suga tetap diam mendengarkan tutur kata wanita disampingnya. Matanya tak lepas dari sosok Park Jimin disana.
"...Keluarga Park itu memang baik sekali. Dimulai dari kakeknya, bahkan hingga cucu mereka pun memiliki sifat dermawan yang sama. Jika bukan karena keluarga Park, panti asuhan ini takkan bertahan hingga sekarang. Yoongi-ssi, anda sangat beruntung karena dapat memiliki seorang Park Jimin. Anda harus tahu itu."
Suga kini menoleh pada bibi Heo, dan wanita itu tersenyum.
"...tuan muda Jimin sering sekali menceritakan tentang tunangannya. Dia selalu memuji tanpa henti. Saat bercerita, matanya akan berbinar, saya tahu itu. Dan untuk pertama kalinya, saya melihat anda secara langsung, saya percaya jika anda adalah hadiah paling berharga yang Tuhan kirim, seperti kata tuan muda. Saya harap, anda akan tetap berada disamping tuan muda , hingga akhir."
Suga lagi-lagi hanya diam, tak membalas perkataan bibi Heo.
Satu persatu fakta didapatnya.
Fakta bahwa Jimin selalu berusaha membuat citra Suga baik dihadapan semua orang, walau seburuk apapun perlakuan Suga terhadapnya. Ingatannya kembali pada kejadian beberapa waktu lalu, saat Jimin mati-matian membelanya dihadapan bibi Lee, bahkan sampai menangis. Dan itu, cukup membuat Suga seperti dipukul telak-telak.
"Omoniiii~~~! Ayo kemari! acaranya segera dimulai!" Panggil beberapa anak, dan dengan segera bibi Heo menurut. Menghampiri mereka, setelah sebelumnya memberikan senyuman pada Suga.
Acara kecil-kecilan ini berlangsung cukup meriah. Tak ada yang aneh, ini sama seperti acara ulang tahun kebanyakan. Menyanyikan lagu, tiup lilin, dan potong kue. Ya seperti itulah.
Namun anak-anak ini nampak sangat gembira, terutama Dongyeol yang akhirnya bisa merayakan ulang tahun bersama Jimin. Sedari tadi anak itu tak membiarkan Jimin menjauh barang sedikitpun. Bahkan saat sesi meniup lilin angka delapannya, Dongyeol memaksa Jimin untuk ikut.
"Ayo! Hyung juga harus tiup bersamaku!" Ajak Dongyeol sesaat setelah mengucapkan wish nya.
"Ah? Kan yang ulang tahun Dongyeol. Kau saja yang-"
"Chim hyuuuuung~~~!" Dongyeol merajuk, dan dia tahu Jimin takkan tega menolak.
"Hm, baiklah. Ayo..."
Sementara anak yang lain menyanyikan lagu tiup lilin, Dongyeol dan Jimin meniupnya bersamaan. Lalu riuh tepuk tangan mewarnai ruangan ini.
"Chim hyung, kado?" Pinta Dongyeol tiba-tiba , membuat Jimin sejenak tak mengerti.
"Huh?"
"Dongyeol-a. Jangan begitu. Chimchim hyung datang pun sudah cukup." Tegur bibi Heo "...tuan muda Jimin, maafkan Dongyeol ya..."
Namun Jimin lah yang justru merasa tak enak hati. Dongyeol benar juga, seorang anak ulang tahun pastilah meminta hadiah. Dan ini kelalaiannya karena lupa.
"Emmmm...tak apa bibi, aku yang salah. Dongyeol-a,"
"Hm?"
"Sekarang hyung belum sempat membawa kado untukmu. Maaf ya? Ah! Tapi nanti begitu hyung datang kemari lagi, hyung akan membawakan hadiah yang saaaangat banyak. Hyung janji!" Ujar Jimin menjanjikan. Namun diluar dugaannya, Dongyeol menggelengkan kepala seraya tersenyum.
"Tidak apa, hyung. Aku yang harusnya minta maaf. Kau datang kesini pun sudah kuanggap hadiah, kok. Jadi hyung tak usah memberiku hadiah lagi."
Jimin menatap anak itu dengan rasa bersalah. Ia menggerutu dalam hati, memaki dirinya sendiri. Sudah lupa hari ulang tahun, ditambah lupa tentang kado. Namun tiba-tiba sesuatu terlintas di pikirannya.
"Ah! Hyung punya satu hadiah untukmu!"
"Uhm? Apa itu?"
Jimin tersenyum singkat, lalu mengalihkan pandangannya pada Suga yang sedang duduk tak jauh darisana.
"Yoongi hyung! sini!" Panggilnya.
Suga sontak terkejut mendapat panggilan itu. Apalagi kini semua anak berbalik memperhatikannya.
"Apa?"
"Kemari!" Jimin menggunakan tangannya, memberi gesture agar Suga mendekat.
Walau bingung, ia tetap menuruti perintah tunangannya itu. Berjalan mendekat, hingga kini ia bersebelahan dengan Jimin. Jangan lupakan tatapan anak-anak itu yang tampak penasaran dengannya.
"Nah! Kenalkan, ini adalah Yoongi hyung. Kalian ingat kan tentang seorang pangeran tampan yang sering hyung ceritakan?"
"Huh? Pangeran tampan yang pandai bermain alat musik itu?"
"Hm!" Jimin mengangguk.
"Jadi Ahjussi ini, pangeran masa kecil Chimchim hyung?"
Dua reaksi terjadi.
Jimin yang meringis, sekaligus menahan tawa karena salah satu anak itu memanggil Suga 'Ahjussi'.
Dan, Suga yang tercengang. Bukan, bukan karena ia dipanggil Ahjussi. Tapi, karena perkataan terakhir anak itu.
Pangeran masa kecil?
Sebenarnya apa yang Jimin ceritakan pada mereka?
"Hey! Sudah kubilang namanya Yoongi hyung. Bukan Ahjussi! Benar, dia pangeran yang sering hyung ceritakan pada kalian. Tampan kan?"
"Whoaaa~ tampan oppa, tampan sekali." Puji seorang anak perempuan dengan mata berbinarnya.
Lain dengan anak laki-laki bernama Hwanhee yang tampak biasa saja, "Tapi kenapa terlihat jutek dan galak- ough!" seseorang mencubitnya "...choesonghamnida. maksudku, Yoongi hyung tampan kok!"
oh astaga, Jimin mati-matian menahan tawanya. Sama sekali tak menyadari keheranan Suga disampingnya.
"Lalu, untuk apa Chimchim hyung membawanya kemari?" Tanya Dongyeol kemudian.
"Hyung sudah pernah bilang kan, jika pangeran itu pandai bermain alat musik? Nah! Sebagai hadiah untukmu, Yoongi hyung akan menunjukkan kemampuannya sekarang!"
Suga spontan menoleh pada Jimin yang kini sedang menatapnya dengan memohon. "Mau ya? Please..." bisiknya.
Lelaki bersurai blonde itu hanya menghembuskan nafasnya saja, dan itu Jimin anggap sebagai persetujuan.
"Yoongi hyung akan bermain piano itu," ujar Jimin sambil menunjuk sebuah grand piano yang terletak tak jauh dari mereka. "...kalian harus mendengarkan dengan baik. Arraseo?"
"Neeee~~!" Seru mereka kompak.
"Yoongi hyung-i, ayo..." instruksi Jimin pada Suga agar segera duduk dikursi piano itu.
Namun tiba-tiba Suga menarik tangannya juga, hendak membawanya berjalan menuju piano.
"hyungie?" Jimin berseru heran.
"Aku akan memainkan pianonya, dan Chimchim hyung akan bernyanyi untuk kalian semua." Ujar Suga, membuat Jimin tertegun beberapa saat. ini pertama kalinya Suga memanggil ia Chimchim.
"Whoaaaaaa~~! Benarkah itu? Ayo Chimchim hyung! Kami sudah lama tak mendengarmu bernyanyi!" Anak-anak semakin bersemangat. Terutama Dongyeol.
Jimin yang masih sedikit terkejut karena Suga tiba-tiba mengajaknya, menurut saja saat tunangannya itu menarik tangannya menuju tempat piano terletak. Ia berdiri disamping Suga yang kini duduk sambil menekan tuts tuts piano itu dengan lihainya.
Sedikit pemanasan saja, dan itu sudah membuat semua yang menyaksikan terhanyut mendengarnya. Terlebih Jimin disampingnya. Dia terdiam tak berkutik. Tunangannya benar-benar hebat dalam hal ini.
'Hah! Baiklah, kau tunggu saja. Cepat atau lambat, aku akan menemukanmu! Saat itu aku sudah pandai semua alat musik! Dan kau akan terkagum-kagum melihatku!"
Suga menepati janjinya dulu. dia menunjukkan kemampuannya itu didepan Jimin hingga membuatnya terkagum-kagum. Namun satu yang ia sesali, Suga sudah tidak lagi mengingatnya kini. Dan itu membuat Jimin ingin menangis rasanya.
"Jimin-a..."
"Ah, ya Yoongi hyung?"
"Kau mau bernyanyi lagu apa? Biar ku iringi..."
Jimin berpikir sejenak atas pertanyaan Suga. Tak lama kemudian ia membisikkan sebuah judul lagu. Dan Suga menyetujuinya tanpa banyak basa-basi.
.
.
.
Gyeoure taeeonan areumdaun dangshineun nun cheoreom kkaekkeuthan. namaneui dangshin.
(Terlahir di musim dingin, kau indah, bersih seperti salju. kau adalah milikku.)
Gyeoure taeeonan sarangseureon dangshineun nun cheoreom malgeun. namaneui dangshin.
(lahir di musim dingin, kekasihku jelas seperti salju. kau adalah milikku.)
Hajiman bom, yeoreumgwa, gaeul, gyeoul. Eonjena malgo kkaekkeuthae.
(Terlepas apakah itu musim semi, musim panas, musim gugur, atau musim dingin. Kau selalu jelas dan bersih.)
Gyeoure taeeonan areumdaun dangshineun nun cheoreom kkaekkeuthan. namaneui dangshin.
(Terlahir di musim dingin. kau cantik bersih seperti salju. kau adalah milikku.)
Hajiman bom, yeoreumgwa, gaeul, gyeoul. Eonjena.. malgo kkaekkeuthae.
(Terlepas apakah itu musim semi, musim panas, musim gugur, atau musim dingin. Kau selalu jelas dan bersih.)
Gyeoure taeeonan,areumdaun dangshineun Nun cheoreom kkaekkeuthan namaneui dangshin.
(Terlahir di musim dingin. kau cantik bersih seperti salju. kau adalah milikku.)
Saengil chukha hamnida, Saengil chukha hamnida, Saengil chukha hamnida. Dangshineui saengireul.
Happy birthday to you~
Happy birthday to you~
Happy birthday to you~
.
.
.
Lagu berakhir, dan tepuk tangan meriah menutup pertunjukkan sepasang tunangan ini dengan indah.
myfiancé
"Suaramu boleh juga,"
Jimin menoleh pada Suga yang duduk disampingnya.
Kini, mereka berdua tengah duduk dikursi yang terdapat dibelakang panti asuhan ini. Karena bangunan ini terdapat di dataran yang sedikit tinggi, maka pemandangan yang disuguhkan pun sedikit berbeda. Mereka bisa melihat gedung-gedung pencakar langit berjejer, juga rumah-rumah penduduk dibawah sana. Tak lupa, sedikit penampakan pantai dan laut, mengingat Busan adalah kota pelabuhan terbesar di negeri ini.
"Ah, Terimakasih. Itu berkat alunan pianomu juga, Yoongi hyung." Balas Jimin.
Suga hanya tersenyum tipis . Sangat tipis.
Lalu keduanya kembali terdiam, sama-sama menatap pemandangan kedepan. Suasananya sangat sunyi. Hanya terdengar sayup-sayup keributan anak-anak dari dalam. Mereka pasti tengah berebut memakan kue ulang tahun Dongyeol.
Sesekali, Suga diam-diam melirik Jimin dengan ujung matanya. Rasa gusar tiba-tiba menyergapnya. sebab kini, apa yang ingin ia tanyakan pada Jimin bukan lagi sekedar,
Darimana kau tahu tentang puding strawberry favoritku?
...tapi juga bertambah dengan,
Dan, apa maksud perkataan mereka tentang pangeran masa kecil itu?
Astaga, intinya adalah siapa kau sebenarnya?
Pertanyaan itu adalah asal muasal kenapa Suga mengajak Jimin bertemu, tapi siapa yang menyangka mereka malah berakhir disini.
Ugh, Suga tak bisa diam terus begini. Ia tak suka memendam rasa penasaran. Ia harus memastikan jika dirinya tak salah selama ini.
Namun suara dalam kepalanya berbisik tak henti-henti, seolah memberi dirinya sugesti ; Jimin bukan siapa-siapa. tak ada yang perlu dikhawatirkan. Soal puding itu, anggap saja itu kebetulan. Teman masa kecilmu itu Jung Hoseok, dan kau sudah berhasil menemukannya bertahun-tahun lalu. Kau tidak sebodoh itu hingga salah mengenali orang. Benar. Tidak ada yang salah disini, Min Yoongi. Tak ada yang perlu kau tanyakan dan kau pastikan. Sama sekali tak ada.
Terus berulang-ulang.
Tapi kenapa aku merasa tak tenang?
Dalam dirinya seolah tengah terjadi perang.
Sebab semakin kalimat-kalimat itu terulang, semakin hatinya merasa tak tenang. Suga merasa seolah-olah ia akan dihantui sesuatu bila tak segera bertanya dan memastikan. Jadilah, ia membuka mulutnya hendak bertanya-
"Chimin hyung!"
-dan sialnya gagal karena anak bernama Dongyeol itu tiba-tiba muncul sambil membawa sebuah piring kecil, berisi sepotong kue ulang tahun.
"Oh? ada apa Dongyeol-a?" Tanya Jimin begitu Dongyeol sampai dihadapannya.
"Ini..." jawabnya sambil menyerahkan piring kecil itu. Jimin menatapnya sebentar, lalu menerima dengan ragu.
"Untukku? Memangnya semua sudah terbagi? Berikan saja pada omoni, hyung tak apa-"
"Sudah hyung. Sudah terbagi semua. Ini sengaja kusisihkan untukmu, dan juga... Yoongi Ahjus- maksudku Yoongi hyung. Ini balasan, karena kalian sudah bernyanyi di acara ulang tahunku. Maaf ya hanya terbagi sedikit." Tutur anak itu, membuat Jimin tertawa.
"Tak apa. Terimakasih ya! Dan, selamat ulang tahun. Maaf karena hyung terlambat tadi."
"Hm, tak masalah. Yasudah, aku masuk dulu ya! selamat menikmati kue itu dengan pangeran masa kecilmu, Chimchim hyung!"
Dongyeol berlari lagi meninggalkan dua sejoli itu.
"Yoongi hyungie?"
"Hm?"
"Kau mau?" Tawar Jimin sambil menyodorkan piring kue itu.
Suga menggelengkan kepalanya. Ia hanya berkata "Tidak. kau saja." untuk kemudian menatap Jimin lamat-lamat. Rasa ingin bertanya itu kian menggebu. Apalagi selepas kepergian Dongyeol yang kembali mengeluarkan kata 'pangeran masa kecil' itu.
Jimin pun mengangguk paham, namun sepertinya dia juga sedang tak berselera, karena piring itu ia letakkan di sisi kursi yang kosong.
"Park Jimin," Suga akhirnya memanggil dengan intonasi setenang mungkin.
Tunangannya menoleh seraya bergumam, "hmm?"
"Sebetulnya, tujuanku mengajakmu bertemu hari ini hanya untuk menanyakan sesuatu. Tapi-"
Air muka bersalah seketika muncul diwajah Jimin "Uhm, maaf. aku benar-benar lupa kalau hari ini ada acara. pasti aku menyita waktumu ya karena harus jauh-jauh ke Busan begini? aku minta ma-"
Astaga bukan itu!
"Berhenti minta maaf! lama-lama telingaku pengang mendengarnya!"
Jimin spontan mengatupkan bibir, menurut padanya. Dengan itu Suga kembali berkata,
"Sekarang aku ingin tanya beberapa hal padamu, dan kau harus menjawab dengan jujur."
"Uhm,baik...lah? silahkan,"
Nah, Jimin sudah mempersilahkan. ia bahkan membenarkan posisi duduknya menjadi menyerong kearah Suga. Siap menjawab apa yang ingin ditanyakan tunangannya. Namun pemilik surai blonde itu justru dilanda kebingungan. kiranya hal mana dulu yang perlu ia tanyakan?
Soal puding atau soal panggilan itu? mana yang lebih penting?
Menjilat bibirnya yang kering, Suga kemudian mulai bertanya.
"Pangeran masa kecil," dia memberi jeda, "...apa maksudnya itu?"
"..."
Bisa Suga rasa, Jimin tertegun ditempatnya.
"Jimin?"
"uhm...itu, aku-"
"Kau mendongengkan sesuatu pada mereka menggunakan namaku? kau tidak mengarang cerita aneh tentangku kan? Pangeran masa kecil? panggilan konyol macam apa itu, Park Jimin?"
"B-bukan begitu Yoongi hyung-"
"Lalu?"
Jimin mengulum bibirnya untuk kemudian berkata "s-sebenarnya..." dengan terbata-bata.
Suga mengantisipasi. Dalam hatinya ia memohon,
Tolong iyakan saja jika kau mengarang cerita aneh menggunakan namaku. katakan jika itu memang cuma dongeng belaka. tidak ada hal lain yang melatarbelakangi panggilan konyol itu. Kurasa aku tak akan marah. cukup yakinkan aku bahwa kau bukan seperti apa yang sekarang ku duga-duga. patahkan kekhawatiranku bahwa aku telah salah mengenal orang. Tolong, Park Jimin.
"Sebenarnya, aku...aku menceritakan sesuatu tentang...masa kecilku,"
Yang lebih tua tanpa sadar menahan nafasnya.
Ini semakin mencurigakan.
Segala macam pertanyaan lain tertahan diujung lidahnya. Namun Jimin seakan menyiksanya dengan tak kunjung melanjutkan bicara.
Ada apa dengan masa kecilmu?
Kenapa kau melibatkan namaku?!
Oh astaga cepat bicaralah!
Jimin memandangnya dengan sorot mata yang sulit Suga baca. Dia seperti resah, membuat Suga merasa semakin dilanda gundah.
"Jimin," oh sialan kenapa suaranya bergetar seperti ini "...ada apa dengan...masa kecilmu? kenapa ceritamu membawa-bawa namaku?"
Setetes keringat nampak meluncur dari pelipis Jimin, dan disaat yang sama Suga merasakan itu dibeberapa bagian tubuhnya. Dan semuanya terasa...dingin. entah bagaimana dengan Jimin.
"Uri..." Lagi-lagi Suga yang bersuara, sebab entah mengapa Jimin malah terus mengatupkan bibirnya. menatapnya dengan sorot mata yang sama. "...kita-kau dan aku..." ia melanjutkan dengan hati-hati. Jimin terbatuk satu kali. "...sebelum malam pertunangan itu, pernahkah kita-"
"uhuk!" Dia terbatuk lagi. lebih dari satu kali.
Suga mengernyitkan dahi. Keringat yang meluncur diwajah Jimin makin menjadi-jadi. Terpaksa pertanyaan tadi ia tahan. "Kau kenapa?"
"Hng? ah-tidak-tidak. silahkan lanjutkan hyung," Jimin bicara sambil menahan sesuatu, Suga merasakan itu. Namun pertanyaannya harus tetap diajukan. Ia harus dapat kepastian.
Ia hela dan hembuskan nafasnya sepanjang mungkin.
"Jauh sebelum pertunangan itu terjadi, dimasa lalu, apa kau dan aku pernah bertemu-"
"ukh- UHUK!" terjadi lagi. kali ini lebih parah dan terdengar mengerikan."T-tunggu disini sebentar, hyung."
Suga mengerjap bingung. Sebab tanpa aba-aba, Jimin berlari kedalam secepat mungkin sambil menutup mulut dengan telapak tangannya. Membuat lelaki itu kembali urung menanyakan maksudnya.
Satu menit, hingga lima menit. Tunangannya itu tak kunjung kembali. Suga sudah bergerak dengan gelisah, ingin segera menanyakan apa yang menganggu pikirannya. Matanya terus melirik kearah pintu, namun Jimin tak jua muncul.
"Kenapa anak itu lama sekal- huh?"
Sampai sepasang indra penglihatannya tak sengaja menangkap keberadaan sebuah benda berkilau didasar rumput. tak jauh dari ujung sepatunya. Suga memicingkan matanya, merasa familiar dengan benda itu.
Tunggu!
Suga beranjak dari kursi, berlutut mendekati benda itu, lalu mengambilnya. Seketika matanya terbelalak tak percaya.
"Kalung ini?"
Tangannya tiba-tiba gemetar, apa yang dipegangnya kini benar-benar kalung dengan bandul J itu!
Rasa resah semakin membuncah. Sekelebat bayangan yang terputar kembali di memorinya membuat segalanya bertambah parah.
'Namaku. Namaku berawal dari huruf ini.'
.
.
.
'Hoseok. Namaku Jung Hoseok.'
"Jung Hoseok..." Suga berbisik pada dirinya sendiri, pandangannya tak lepas dari kalung itu.
'Nah, Yoongi-a, ini adikku. Calon tunanganmu, Park Jimin.'
"Park Jimin...Jimin?"
Tidak. Suga menggelengkan kepala. Masih enggan menerima.
Ini tidak benar.
.
.
.
'Ew~ aku tak suka apapun yang berhubungan dengan strawberry. Jangan pernah bicarakan buah berbintik-bintik itu didepanku!'
.
.
.
'Bibiku pasti membelinya dari toko langganan keluargaku. Memang puding disana yang paling daebak!'
'...mungkin takkan seenak buatan Bibi Min. tapi puding strawberry itu aku beli dari toko langganan keluargaku. Jadi Yoongi Hyung tak perlu khawatir tentang kualitas nya.'
.
.
.
'Huh? Pangeran tampan yang pandai bermain alat musik itu?'
'Jadi Ahjussi ini, pangeran masa kecil Chimchim hyung?'
'Sebenarnya, aku...aku menceritakan sesuatu tentang...masa kecilku,'
.
.
.
Sial!
Kenapa benda ini ada disini?
Siapa yang membuatnya ada disini?
Bukankah mestinya ini ada ditangan Jung Hoseok?
Sebetulnya berarti apa huruf J pada benda ini?
Nama atau marga?
Pada siapa aku bisa meminta penjelasannya?!
"Park Jimin!"
Saat itu juga Suga berlari , memasukki panti asuhan lewat pintu belakang. Dalam hati terus mengeja-eja, Jimin, Jimin,
...Jimin.
.
.
.
Begitu masuk, Suga sudah dihadang oleh bibi Heo yang tiba-tiba ada dihadapannya.
"Ada apa? Kenapa anda terburu-buru?"
"J-jimin-"
Suga benar-benar merutuki nada gemetarnya kali ini. Ia sungguh-sungguh ingin menemui Jimin saat ini juga, dan bertanya perihal kalung itu. Kenapa milik Hoseok bisa ada padanya? Apa yang sebenarnya tengah terjadi disini?
"Tenanglah, Yoongi-ssi. Tuan muda sedang di toilet sebentar. Anda bisa menunggu diruang tamu."
"Tapi-"
"Sebentar saja, Yoongi-ssi."
"Hm. Baiklah. Katakan padanya aku menunggu."
"Ya."
Suga pun berjalan menuju ruang tamu seperti yang diinstruksikan bibi Heo. Tanpa ia tahu, setelahnya wanita itu segera berlari dengan panik menuju toilet dimana Jimin berada.
"Tuan muda!"
Ia langsung menghampiri Jimin yang tengah bersandar lemas dibawah wastafel. Nafasnya memburu, dan wajahnya kian memucat.
"Y-yoongi hyung sudah pergi?" Tanyanya malah mengkhawatirkan orang lain. Dan bibi Heo hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"Katakan padaku mana yang sakit?!" Tanya bibi Heo tetap dengan kepanikannya. Sementara objek yang ia khawatirkan hanya memejamkan matanya kuat-kuat. Nampak sekali tengah berusaha menghalau sesuatu yang menyakitkan.
"Ini sakit, bibi. semuanya..." bulir-bulir peluh membuat rambutnya yang tak tertutup beanie nampak lepek dan basah. Hal itu membuat bibi Heo bertambah panik lagi. Ia sudah cukup dibuat terkejut saat tuan mudanya itu tiba-tiba masuk ke toilet dengan terbatuk-batuk hebat. Lalu mengeluarkan darah sangat banyak dari hidungnya.
"Kau membawa obatmu? Dimana? Dimana kau menyimpannya?"
Jimin menggelengkan kepalanya.
"Astaga, bagaimana bisa kau melupakan benda sepenting itu? Tuan muda-"
"Tak apa. Sebentar lagi ini akan hilang. Aku tak boleh terus tergantung pada obat-obat sialan itu..." ujar Jimin sedikit mengumpat. Asal tahu saja, ia sangat membenci butir-butir pahit bernama kapsul dan tablet itu.
Tak ada hal lain yang mampu bibi Heo lakukan sekarang. Jadilah ia hanya membantu menghapus keringat didahi dan wajah, bahkan leher Jimin dengan tissue saja.
Sejujurnya ia ingin sekali menangis dengan kencang setiap kali melihat tuan mudanya tersiksa begini. Namun, jika ia menampakkan tangisannya, itu justru akan membuat Jimin semakin sakit.
"Kau harus sembuh, tuan muda. Kau harus sembuh. Janji padaku." Gumamnya melirih.
"Yoongi hyungie..."
Suga segera mengalihkan perhatiannya dari kalung, begitu mendengar suara Jimin mendekat. Suga tak sabar dan langsung berdiri menghampirinya.
Ada yang aneh, tunangannya itu nampak lelah dan pucat sekali. Bahkan saat Suga hendak menanyakan soal kalung pun, Jimin malah menubrukkan kepalanya pada bahu Suga. Entah sengaja atau tidak, karena sepertinya dia benar-benar tak punya tenaga.
"Uh? Kau kenapa?" Tanya Suga spontan. Dapat ia rasakan Jimin menggelengkan kepalanya dibahunya. "Kau sakit? Kau membawa obatmu tidak?" ia bertanya lagi, dan Jimin tak kunjung menjawab.
"Park Jimin, bicaral-"
"Biarkan sebentar saja..." pinta Jimin pelan, seraya mengalungkan tangannya pada tengkuk Suga "...sebentar saja," lalu menyembunyikan wajah di ceruk leher tunangannya.
Sementara Suga tak mampu mengeluarkan kalimat apa-apa. Ia hanya terdiam menurut. Kalung yang ia genggam, diam-diam ia masukkan kedalam saku jaketnya.
Tangannya kini kosong. dengan ragu berniat melingkarkannya ke tubuh Jimin. Sedikit khawatir juga saat merasakan nafas namja itu yang sedikit rusuh dipendengarannya.
Sedikit lagi. Sedikit lagi kedua tangannya akan melingkar di pinggang Jimin, sebelum tiba-tiba bibi Heo datang dan mengurungkan niatnya.
"Tuan muda Jimin sepertinya kelelahan, Yoongi-ssi. Tolong bawa dia beristirahat di kam-"
"Uh! Tidak-tidak." Jimin tiba-tiba mengangkat kepalanya, lalu berbalik menatap bibi Heo "Aku- kami mau pulang saja. Ini sudah sore..." ucapnya kemudian.
"Tapi tuan muda-"
"Yoongi hyung, ayo kita pulang?"
Suga mulanya menatap Jimin dan bibi Heo secara bergantian dengan raut wajah bingung. Sebelum akhirnya mengangguk setuju.
"Ya, ayo pulang Jimin-a..."
'Kau mendukungku, kan?'
'Hm, aku mendukung, dan menunggumu. Jika kita berjodoh, kita pasti bertemu lagi.'
.
.
.
'Oh sebenarnya tak apa jika aku lebih baik mati daripada bertunangan dengan orang yang sama sekali tak kucintai ini. Tapi maaf saja, aku punya mimpi dan belum mau mati sebelum impianku tercapai...'
'Begitu? Baik. Lanjutkanlah mimpimu, dan aku akan mendukung mu dari sini...'
'Tentu saja. Tanpa kau dukung pun aku akan tetap melanjutkan nya. Sebenarnya, aku bukan Seseorang yang tergila gila pada materi. Menjijikan bagiku bila harus menjadikan impianku sebagai ladang uang. Tapi bertunangan denganmu pun sama menjijikannya. dan kurasa pemikiranku berubah. Aku harus menggapai impianku untuk mendapat uang banyak. Dengan begitu, aku bisa mengangkat kembali kehidupan keluargaku tanpa harus dibantu oleh keluargamu. Dan aku bisa bebas darimu, Park Jimin.'
.
.
.
"Apa yang sudah kulakukan...?" Gumam Suga seraya tak henti menatap Jimin yang jatuh tertidur dipundaknya. Semakin ia mengingat segala kejadian dihari-hari lampau, semakin pula rasa sesak menghimpit dadanya. Jika diingat lagi dengan seksama, perkataannya pada Jimin di malam pertunangan itu sungguh-sungguh kasar. Darimana ia belajar kalimat sebrengsek itu? Ia bahkan merasa sakit hati mengingat ucapannya sendiri. Lalu apa yang Jimin rasakan dulu?
Apa yang Jimin rasakan setiap kali Suga mengucapkan kalimat-kalimat tak bersahabat padanya?
Satu setengah tahun ini, tidakkah dia merasa benci yang teramat sangat pada Suga? Kenapa dia selalu berlagak tak terluka? Tak mendapat pengakuan dari Suga didepan publik pun, ia masih mampu bersikap baik-baik saja, bahkan membela Suga tatkala semua keluarga menyalahkannya.
Dan juga-
Demi Tuhan, kenapa Suga baru menyadari sekarang?
"Astaga..." Suga menghembuskan nafasnya lagi dengan berat, lalu semakin merangkul Jimin kedalam dekapannya. Aroma shampoo dari surai hitam legam Jimin terhirup olehnya. Ia sudah tak perduli jika nanti ada yang curiga padanya di kereta ini. Yang ia perdulikan dan pikirkan kini, hanya...Jimin.
Tak ada yang lain.
.
.
.
Jimin nampaknya benar-benar kelelahan. Hingga malam hari, saat sampai di Seoul pun anak itu tetap terlelap, membuat Suga mau tak mau harus menggendongnya.
Jarak dari stasiun menuju rumah Jimin tak begitu jauh. Jadi, Suga memutuskan untuk berjalan kaki seraya menggendong tunangannya itu belakang. Awalnya ia ragu, namun ternyata bobot tubuh Jimin tak seberat itu. Dan Suga rasa menggendongnya sampai rumah pun ia mampu.
Suga berjalan dengan tempo pelan. Topi dan masker sebagai alat penyamaran masih ia kenakan. Sedangkan kacamata hitamnya ia tanggalkan. Kadang beberapa orang yang tak sengaja berpapasan, berbisik-bisik mencurigakan. Namun itu tak Suga perdulikan.
Saat jarak rumah Jimin semakin dekat, maka suasana akan semakin sunyi mengingat letak rumah tunangannya itu ada disebuah komplek perumahan yang terbilang sangat elit.
Tap...Tap...Tap~
"Hey, Park Jimin..."
Lama kelamaan Suga merasa bosan juga dengan kesunyian ini. Jimin dibelakangnya masih setia terpejam dengan hembusan nafas teratur yang merambat ke lehernya.
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
Hening.
Tap...Tap...Tap~
"Kaukah pemilik kalung J yang sebenarnya?, kau kah teman yang menyuapiku puding strawberry bertahun-tahun lalu?"
Lagi-lagi hanya keheningan yang menjawab.
"Jika benar itu dirimu, kenapa tak pernah bilang? Kenapa kau diam saja? Kenapa terus membiarkanku bersikap kasar padamu?"
Dulu Suga selalu bertanya-tanya.
Kenapa dirinya mesti mengalami perjodohan menyebalkan ini? Kenapa Tuhan harus menempatkannya dalam posisi sesulit ini? Bertunangan dengan seorang adik dari kekasihnya sendiri. Kenapa situasi menyebalkan ini terjadi? Dan semua pertanyaan itu tak pernah Suga temukan jawabannya.
Lalu sekarang, Tuhan seolah memberinya semua jawaban itu secara sekaligus.
Mungkin Tuhan ingin menunjukkan pada Suga, tentang suatu kesalah pahaman akibat kebodohan yang ia buat. Ia menemukan bahkan mengencani orang yang salah. Dan keadaan ini dengan baik hatinya, membawa Suga kembali pada orang yang benar. Tak lain adalah, seorang Park Jimin.
Sosok yang begitu ia benci sejak awal pertemuan mereka.
Sosok yang selalu ia sakiti di pertemuan-pertemuan berikutnya.
Sederet kalimat pernah Suga ucapkan dalam hatinya.
'Aku takkan mengakuimu. Karena mengakui mu didepan publik sama saja membunuh impianku. Terlebih mengakui mu di hatiku. Jangan bermimpi , karena aku sudah mencintai orang lain jauh sebelum bertemu denganmu'.
Mari koreksi lagi kalimat itu.
'Aku sudah mencintai orang lain, jauh sebelum bertemu denganmu.'
Siapa yang Suga maksud?
Hoseok?
Iya. Hal itu berlaku iya sebelum detik ini.
Sebelum ia tahu fakta bahwa, Hoseok bukanlah dia yang Suga temui saat masa kecil. Benar, dia memang benar pernah berstatus sepasang kekasih dengan Hoseok bahkan hingga satu tahun lebih. Tapi, rasa cinta itu kini sudah lenyap sejak Hoseok tiba-tiba meninggalkannya hanya berselang beberapa minggu sebelum debut mereka.
Uh, situasi yang sungguh membingungkan. Benarkah detik ini Suga sedang berada dalam kehidupan nyata?
"Aku ini benar-benar brengsek, iya kan?"
"Min Yoongi...hyung,"
Suga menghentikan langkahnya begitu mendengar suara berat Jimin. Dia bangun? Sejak kapan? Apa dia mendengar monolog Suga sedari tadi?
"Kau sudah bangun?"
"Hm. Turunkan aku. Pasti hyung kelelahan,"
"Tak apa. Sebentar lagi sampai."
Maka Suga tetap menggendong Jimin hingga sampai tempat tinggalnya. Dia tak tahu, dibelakangnya, Jimin diam-diam menitikkan airmata.
"Terimakasih sudah mengantarku ke Busan hari ini. Dan juga, terimakasih sudah menggendongku hingga kemari. Padahal kau bisa telepon kang Ahjussi saja agar menjemput."Ujar Jimin.
Kini mereka berdua sudah ada didekat mobil Suga yang terparkir disamping rumah megah itu.
"Sudah kubilang tak apa-apa."
"Hm , baiklah. Hyung cepatlah pulang, besok ada schedule? Jangan tidur terlalu larut. Dan hati-hati saat menyetir. Oh, atau mau kupanggilkan Kang Ahjussi saja agar mengantarmu?"
"Tidak. Tidak usah. Aku pulang sendiri saja."
Jimin mengangguk paham. Disadari atau tidak, rasa gugup melanda dirinya. Sebab selagi bicara, mata Suga tak lepas memandangnya. seperti...tengah menelisik sesuatu.
"Yasudah kalau begitu. Eng...sampai jumpa!?"
Jimin melambaikan lima jarinya dengan sedikit kaku, lalu beranjak menjauhi Suga yang masih terpaku.
Ini seperti dejavu.
Saat Jimin berjalan tertatih dan mengharapkan Suga akan kembali lalu memeluknya.
Ya, ini seperti dejavu.
Bedanya, hari itu Suga membiarkan Jimin menjauh dan dirinya sendiri pergi. Tapi malam ini...
"Park Jimin!"
...Suga memanggilnya.
Jimin tak sepenuhnya menyadari apa yang terjadi, ketika tubuhnya tiba-tiba seperti diputar balik secara slowmotion. Lalu sampai di pelukan...
...tunangannya.
"Y-yoongi hyung...?"
"..."
"Ada apa?"
Suga menjauhkan tautan tubuh mereka, sejenak. Hanya untuk menatap mata Jimin. Lagi-lagi seolah tengah mencari sesuatu. Sesuatu yang ingin ia buktikan sedari tadi.
"Yoon-"
"Jimin-a,"
"Hm?"
Suga merogoh sesuatu dari saku jaketnya, lalu menunjukkannya dihadapan Jimin. Melihat itu, membuat yang lebih muda reflek memegang lehernya sendiri. Kalung itu...tak melingkar disana. Benda itu...jatuh? dan kini ada ditangan-
...Min Yoongi?
"Itu-"
"Ini milikmu?" Tanya Suga terlebih dahulu.
Jimin tak kunjung menjawab, dan itu membuat Suga gemas hingga mengulang pertanyaannya.
"Park Jimin, jawablah! Apa kalung ini milikmu?"
Perlahan, Jimin menganggukan kepalanya.
"Ya. Itu milikku. K-kenapa bisa ada pad-"
"Tutup matamu!"
"Huh ?"
"Kubilang tutup matamu Park Jimin!" Seru Suga tak sabar, dan Jimin hanya bisa menurut. Ia menutup matanya. Tanpa ia ketahui, Suga pelan-pelan mengangkat satu tangannya, lalu menutup sebagian wajah Jimin dengan telapak tangan itu, tak ubahnya masker. Saat itu juga, Suga merasa tersentak oleh sesuatu tak kasat mata.
Mata itu, benar...
Sepasang mata yang ia sukai dulu. Sama, dia tetap sama...
Dan betapa bodohnya Suga baru menyadari hal it6u sekarang.
.
.
.
'Ada apa lagi ?'
'Pejamkan matamu!'
'Uh?'
'Ish cepat!'
.
.
.
Jimin terdiam dalam pejamnya. Lagi-lagi ini seperti dejavu. Saat dulu Yoongi kembali dan menyuruhnya memejamkan mata, kemudian-
Chu~
Chu~
...mencium dua kelopak matanya...
Seperti baru saja- Tunggu,
"Yoon-"
'Anggap saja jabatan tangan dariku. Aku suka melihat matamu...'
Itu perkataan Suga dahulu kala, dan kini yang orang itu ucapkan adalah-
"Aku menemukanmu..."
Tunggu- tunggu dulu, apa?!
Jimin hendak membuka mata, namun ia justru dikejutkan oleh Suga yang menariknya kembali kedalam sebuah pelukan. Kali ini lebih erat.
"Aku menemukanmu, Jimin, aku menemukanmu..."
Kalau saja aku mengambil langkah lebih cepat,
kalau saja aku mengambil langkah lebih lambat,
maka kita bisa menghidari pertemuan yang menyakitkan ini.
Sekarang, tak ada gunanya bahkan jika aku mencoba jauh darimu
Aku tak bisa lagi menginginkanmu untuk pergi
Jika kau ingin menangis, menangislah dalam pelukanku.
Karena tanpamu mungkin aku akan mati
Ketika dunia melawanku, kau tetap disisiku
Tapi yang bisa ku berikan padamu hanyalah bekas luka
Aku bahkan tak memiliki hak untuk berpegang padamu
Kau tidak tahu bagaimana caranya berbohong
Jadi saat kau tersenyum pun, aku tahu mata sedihmu
Hatiku menangis, hatiku berteriak
karena ingin mencintai satu orang.
Aku membuatmu menangis dan menyakitimu
Cintaku menangis, cintaku memanggilmu.
Kini aku tak bisa membiarkan mu pergi bahkan hanya untuk sesaat
Karena senyummu adalah hidupku
( Love Crying - failed trans by lukailukai8)
"I Found you, J..."
