Ansatsu Kyoushitsu

By:

Yuusei Matsui

It's Time

By:

Amaya Kuruta.

OOC, Horor, Typo bertebaran dan mengandung racun tikus XD

Chapter: 20

Nagisa melenguh pelan saat sesuatu yang lembut menyapu permukaan kulitnya. Matanya membuka lalu otomatis memicing. Menghindari cahaya matahari yang memasuki area pupil birunya. Kemudian sebuah suara kecil dan sapuan di kakinya membuat Nagisa melihat kebawah.

"Sebastian?" Nagisa mengangkat kucing itu setelah sebelumnya ia mendudukkan dirinya sendiri. Kemudian matanya melihat kearah pintu ketika hidungnya mencium bau segar dari shampoo yang ia tau pasti siapa pemiliknya.

"Selamat pagi, Karma-kun." Sapa Nagisa. Karma yang melihat itu tersenyum.

"Selamat pagi." Jawabnya. Kemudian keduanya terjebak dalam keheningan. Nagisa memainkan bulu-bulu kucing hitam yang kini mulai terlihat gemuk itu. Karma benar-benar tau bagaimana cara merawat kucing!

"Hmm.. Kau.. jadi pergi hari ini?" Tanya Karma. Nagisa mendongak dan tersenyum kecil sebelum kembali melihat kearah Sebastian di pangkuannya.

"Um." Jawabnya pelan. Karma memperhatikan surai biru itu. Sudah seminggu sejak hari itu. Sejak Nagisa mengatakan bahwa ia mencintainya. Dan sudah seminggu ini Karma resmi menjadi kekasih seorang Shiota Nagisa.

"Kau benar-benar tak ingin kutemani?" Tanya Karma. Nagisa menggeleng pelan.

"Tak perlu. Lagipula aku akan baik-baik saja." Jawab Nagisa. Karma terdiam sejenak kemudian tersenyum.

"Hee~ tapi aku ingin bertemu dengan calon ayah mertuaku loh~." Goda Karma. Nagisa memerah mendengarnya.

"Kau tau? Salah satu alasanku menolak untuk mengajakmu adalah aku takut ayahku akan terkena serangan jantung jika tiba-tiba kau mengatakan hal macam itu. Ayahku masih belum tau tentang perubahanku, Karma-kun." Jelas Nagisa. Karma tertawa kecil kemudian berjalan mendekat. Mengangkat wajah Nagisa dan mengecup dahinya pelan.

"Kau yakin kau akan baik-baik saja?" Tanya Karma. Nagisa bisa melihat manik pucat itu berkilat khawatir. Sesuatu yang jarang dilihat orang. Dan Nagisa kini menjadi penonton ekslusivenya. Nagisa tersenyum dan membelai pipi Karma.

"Um. Aku akan baik-baik saja. Aku berjanji." Jawab Nagisa. Karma tersenyum dan melepaskan dagu Nagisa.

"Hhh.. kalau kau bilang begitu, apalagi yang bisa kulakukan?" Ucapnya sembari berjalan meninggalkan Kamar. Nagisa mengelus kucing hitam dipangkuannya dan tersenyum. Karma khawatir. Seorang Akabane Karma mengkhawatirkannya.

"Nagisa, sarapanmu sudah siap!" Suara teriakan dari bawah menyadarkan Nagisa. Dengan cepat ia berdiri.

"Ya! Tunggu sebentar!"

.

.

"Jadi, bagaimana kabar ibu?" Tanya Nagisa. Siang itu, ia tengah duduk di taman sambil menikmati Fish and Chips bersama ayahnya. Sebenarnya ayahnya mengajak Nagisa untuk pergi memakan sushi kesukaannya. Hanya saja, Nagisa yang memang bertemu untuk membicarakan sesuatu merasa taman adalah pilihan tempat yang baik.

"Ibumu baik-baik saja. Sepertinya banyak kemajuan pesat darinya." Jawab sang ayah. Nagisa tersenyum.

"Syukurlah." Ucapnya dalam hati. Ayah Nagisa melirik putranya itu. Kemudian ia menepuk kepala biru mungil disampingnya. Nagisa menoleh dan menatap ayahnya heran.

"Kau sudah tak tinggal dengan ibumu. Dan kalaupun ibumu kembali nanti, ayah yakin dia tak akan keberatan jika kau memotong rambutmu. Jadi kenapa kau masih membiarkannya panjang seperti ini?" Tanya Ayahnya sambil memainkan kunciran di kepala Nagisa. Nagisa tersenyum tipis. Ia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.

"Ayah.. aku.. ada yang harus kuberitahukan kepadamu." Ucap Nagisa. Sang ayah hanya menoleh dan diam. Menunggu jawaban dari anak semata wayangnya. Nagisa nampak bergelut. Seakan ragu dengan apa yang akan dikatakannya. Setelah menarik nafas dan menghembuskannya selama lima kali, Nagisa akhirnya menatap manik biru tua milik ayahnya.

"Ayah ingat saat aku masuk rumah sakit kemarin?" Tanya Nagisa. Sang ayah mengangguk.

"Ya. Saat kau terkena maag itu kan?" Tanyanya. Nagisa mengangguk.

"Sebenarnya bukan hanya itu yang terjadi. Maksudku, aku memang harus masuk rumah sakit karena maagku parah. Tapi… ada hal lain yang terjadi." Ucap Nagisa. sang ayah mengernyit heran. Hal lain?

"Aku tidak tau bagaimana cara menjelaskannya. Ini semua terjadi karena.. kesalahanku. Saat itu aku meminum sesuatu yang tidak seharusnya kuminum." Nagisa menghentikan ucapannya. Berusaha berhati-hati untuk tidak membawa masalah teman-teman maupun gurunya keluar.

"Kau meminum apa? Sake?" Tanya ayahnya. Nagisa tertawa gugup.

"Bu-bukan. Tapi.. aku meminum sesuatu yang membuat.. genderku berubah." Jawaban Nagisa berhasil membuat sang ayah terdiam.

"Kau.. apa?"

"Aku… singkatnya, aku bukan laki-laki lagi, ayah." Jelas Nagisa. sang ayah kembali terdiam. Kemudian ia menatap iris anaknya dalam.

"Kau mau bilang kalau kau sekarang.. bukan laki-laki. Kau wanita. Kau memiliki segala hal yang wanita miliki. Itu yang ingin kau katakana?" Tanya ayahnya. Nagisa mengangguk jengah. Ia tak tau apa yang dirasakan ayahnya. Kemudian tangan kekar itu memegang bahu Nagisa. membuat Nagisa harus menatap ayahnya.

"Jadi apa tak ada cara yang bisa membuat tubuhmu kembali?" Tanya ayahnya. Nagisa mengigit bibirnya pelan.

"Ada. Guruku.. dia membuatkan penawar untukku."

"Dan kau tidak meminumnya?"

"Ng.." Nagisa menggeleng.

"Kau ingin seperti ini?"

Nagisa mengangguk.

"Kau yakin? Kau ingin menjadi wanita dalam sisa hidupmu?"

Nagisa kembali mengangguk. Lama taka da balasan dari sang ayah sampai tangan lebar itu mengusap kepala Nagisa. Nagisa mendongak dan menemukan senyuman diwajah ayahnya.

"Ayah.."

"Kalau memang sudah keputusanmu, ayah bisa apa?" kemudiansang ayah terkekeh pelan.

"Ibumu pasti senang jika tau hal ini. apa aku harus memberitahunya?" Tanya ayahnya. Nagisa tak menjawab. Ia hanya menunduk.

"Kau.. kau tidak marah dengan keputusanku?" Tanya Nagisa. sang ayah menggeleng.

"Kau yang menjalankan hidupmu dan ini pilihanmu. Yang bisa ayah lakukan hanya menyemangatimu agar kau bisa mencapai apa yang kau tuju. Apalagi jika kau punya seseorang yang kau tuju, ayah tak bisa berbuat apa-apa kan?" Kemudian sang ayah tertawa kecil. Nagisa memerah mendengar kalimat ayahnya. Seseorang yang dituju.. ya?

"Mmm.. kau tidak terkejut mendengarnya?" Tanya Nagisa.

"Setelah guru guritamu? Tidak, Nagisa.." Nagisa menoleh cepat. Matanya melebar.

"Bagaimana ayah tau tentang Koro sensei?" Tanya Nagisa. sang ayah tersenyum.

"Dia yang memanggil ayah untuk menghentikan ibumu, kau ingat? Dan lagi.. dia sempat datang beberapa hari yang lalu untuk memberikan sedikit saran pada ayah." Jawabnya.

"Saran?"

"Ya. Seperti bagaimana caranya agar aku bisa membuat hidupmu lebih ringan, lebih bahagia. Semacam.. sebuah pencerahan untuk ayah. Sehingga ayah bisa memutuskan bahwa nasihatnya agar ayah kembali tinggal bersamamu dan ibumu itu adalah pilihan yang benar." Jawab sang ayah. Nagisa tertegun. Kemudian melihat kearah ayahnya. Mata birunya berlapis genangan air.

"Jadi.. ayah dan ibu.."

"Ya. Kita akan memulai semuanya dari awal. Dengan segala hal yang baru. Dengan ibumu yang sudah sehat dan.. dengan hidupmu sebagai anak perempuan kami, Nagisa." Jawab Sang ayah. Nagisa tak bisa menahan diri untuk tidak memeluk ayahnya dan menangis disana. Sungguh, ia yakin ia bisa berbahagia sekarang.

..

..

7 tahun kemudian

Nagisa berjalan ditengah-tengah koridor gedung sekolah itu. sebuah sekolah ternama tempatnya magang mulai hari itu. dalam perjalanannya, ia ingat semua hal yang terjadi didalam ruang guru.

"A-Asano-san… kau serius menempatkannya di kelas itu?" Seorang guru berkacamata menanyakan hal itu dengan mimic horror. Didepan Nagisa, Asano Gakuhou- mantan kepala sekolahnya- tersenyum penuh arti.

"Ada apa? Kau ingin menggantikannya, Tachikawa sensei?" Tawar Asano Gakuhou. Sang wanita langsung menggeleng cepat. Nagisa hanya bisa menatap hal itu bingung.

"Tapi Asano-san.. kelas itu hanya mau menurut dengan ajaran anda. Dan menempatkan seorang mahasiswi disana? Itu akan jadi bencana besar untuknya!" Protes guru lainnya. Asano hanya tersenyum.

"Aku tau apa yang bisa dia lakukan. Aku yakin dia akan bisa menghadapinya. Karena aku mengenal siapa gurunya." Ucap Asano Gakuhou dengan mata menatap Nagisa dalam. Nagisa tersenyum gugup. Ia tidak menyangka kepala sekolahnya itu akan mempercayainya sedemikian rupa.

Dan sekarang Nagisa dalam perjalanan menuju kelas 3-5. Menurut beberapa guru, taka da seorang pun yang bisa mengatasi kelas itu kecuali asano-san. Nagisa tidak kaget mendengarnya. Mengingat bahwa Asano sensei dan Koro sensei memiliki kemampuan yang luar biasa dalam mengatasi murid-muridnya. Nagisa menghela nafas.

Tapi aku bukan keduanya!

Kakinya berhenti dan kepalanya terangkat. Papan kelas bertuliskan angka 3 dan 5 itu nampak bergoyang sedikit. Nagisa menghela nafas. Bagaimanapun, dia harus melakukannya. Seperti apa kata Asano sensei, Nagisa bukan orang biasa.

.

.

Karma melirik jam ditangannya. Ia sudah mengerjakan semua tugasnya dan ia bosan. Ia ingin bertemu Nagisa. tapi ia tau ia tak bisa. Nagisa sudah mengirim pesan bahwa Nagisa akan mengisi jam pelajaran setelah istirahat. Dan Karma yakin sekarang adalah jam istirahat. Yang berarti Karma tak akan bisa mengajak Nagisa 'membolos'.

"Arghh.. aku ingin bertemu dengannya!" Erang Karma. Kemudian sebuah ide terlintas. Wajahnya tersenyum iblis. Mungkin dia bisa mendapat sedikit hiburan dengan mengunjunginya? Dari informasi yang ia terima, Nagisa akan mengajar di kelas 3-5. Dan menurut Asano Gakushuu, itu adalah kelas mengerikan yang bisa membuat siapapun pengajarnya mengalami frustasi seumur hidup. Kecuali ayahnya.

"hmm… mungkin itu pilihan yang baik." Kemudian Karma meraih jasnya dan beranjak dari balik mejanya. Ia tau ia akan dimarahi habis-habisan. Tapi.. dia tetap Akabane Karma kan?

.

.

"A-ano… bel sudah berbunyi. Jadi silahkan duduk ditempat duduk kalian." Ucap Nagisa terbata. Kini ia dikelilingi oleh para siswa yang lebih tinggi darinya. Dengan penampilan macam preman dan ruang kelas yang sungguh jauh dari kata kelas. Pandangan meremehkan didapat dari para siswi yang asyik ber haha hihi dengan alat make up ditangan mereka. Sebagian justru tak menganggap kehadiran Nagisa.

"Hee.. dia bilang bel sudah berbunyi.. ayo duduk anak-anak~." Ledek salah seorang diantara mereka. Berusaha menirukan cara bicara Nagisa. kemudian kelas riuh dengan gelak tawa. Nagisa hanya bisa menghela nafas. Mencoba bersabar. Kemudian sebuah pukulan dimeja membuat suasana hening. Seorang siswa berdiri menunjukkan kejangkungannya. Dengan tegap dia berjalan. Kepalanya mendongak dan menatap rendah Nagisa. wajahnya menyiratkan kekejaman. Dan dari situ Nagisa tau bahwa orang ini mungkin adalah orang terkuat dikelas.

"Hei.. aku yakin kau sudah mendengar reputasi kami disekolah ini." Suaranya rendah dan berat. Nagisa bisa mendengar bisik-bisik dari para murid perempuan.

"Uh-oh.. Takeyama mulai marah.. sebentar lagi pasti akan adapertunjukan seru!" seru salah seorang dari mereka. Kemudian siswa itu menarik kerah baju Nagisa. diluar kelas, sosok Karma melihat hal itu dalam diam. Wajahnya menatap datar dengan senyuman santainya. Tapi siapapun tau bahwa jika terjadi sesuatu, Karma pasti akan turun tangan.

"Kau hanya akan melihat disini?" Karma menoleh untuk menemukan Asano Gakushuu berdiri disampingnya.

"Hee~ kau tidak bekerja?" Tanya Karma. Gakushuu melirik tajam.

"Katakan itu pada dirimu sendiri." Gumamnya. Kemudian matanya menangkap oemandangan dimana Nagisa diteriaki oleh murid lelaki itu.

"Kau yakin tak akan menolongnya?" Tanya Gakushuu. Karma menghela nafas.

"Tidak~. aku tau Nagisa bisa mengatasinya." Jawab Karma santai. Gakushuu mengernyit. Dilihat darimanapun, jelas Nagisa sedang tidak diuntungkan.

"Kau yakin sekali." Jawab Gakushuu. Karma tersenyum.

"Kau lihat saja disini." Jawab Karma singkat. Sedangkan didalam sana, Nagisa masih sibuk mendengarkan cemoohan dari para murid disekitarnya.

"Kau sepertinya tak mengerti apa yang kubicarakan." Suara berat Takeyama terdengar. Membuat seisi kelas sepi seketika. Kemudian ia mengangkat kembali kerah baju Nagisa.

"Sebaiknya kau pergi dari kelas ini. atau.. kau akan kubunuh." Ancamnya. Sesuatu dalam kepala Nagisa berdenting. Sebuah perasaan aneh mengalir didalam dirinya. Seketika gambaran sosok gurita kuning yang tersenyum, sabetan pisau dan tembakan bb, juga teriakan komando dan latihan itu terngiang dikepalanya.

Bunuh?

Bunuh ya?

Bibir Nagisa tersenyum. Kemudian dengan cepat tangan Nagisa melepaskan buku absen ditangannya dan ..

CLAP.

Bocah Takeyama itu terdiam. Matanya membelalak kaget. Tubuhnya seakan lumpuh. Seisi kelas hanya bisa diam. Nagisa menyelinapkan tubuh mungilnya dan dengan erat ia menahan leher Takeyama. Satu jarinya menekan pembuluh darahnya. Matanya berkilat dingin berbahaya. Seisi kelas hanya bisa ternganga. Sebagian bergidik ngeri. Diluar kelas, Gakushuu melebarkan matanya tak percaya. Sedangkan Karma tersenyum melihat kejadian itu. Nagisa sendiri berusaha mengontrol dirinya. Ia memejamkan matanya dan kemudian meraih sebuah kursi. Mendudukkan Takeyama dan tersenyum ringan seakan ia tidak melakukan apapun.

"Boleh saja kalau kalian ingin membunuhku." Ucap Nagisa dengan senyuman riang. Para murid mengedipkan matanya. Nagisa meraih buku absennya dan berbalik.

"Lakukanlah sebelum kelulusan kalian." Lanjutnya. Nagisa berjalan kedepan kelas dan tersenyum.

"silahkan duduk. Kelas akan dimulai." Ucap Nagisa ramah. Dan tanpa disuruh lagi, seisi kelas langsung duduk dibangkunya masing-masing.

.

.

Kelas baru saja selesai. Nagisa merapikan tasnya dan berjalan keluar kelas.

"Hei, sensei!" Suara ringan itu terdengar. Nagisa menoleh dan tersenyum hangat.

"Karma!"

"Ck..ck..ck.. kau harusnya tidak menyapaku tanpa embel-embel, tunanganku~." Ujar Karma. Nagisa tersenyum.

"Kenapa kau ada disini?" Tanya Nagisa. Karma mengangkat bahunya dan mengeluarkan ponselnya. Video Nagisa mengajar dengan cepat terputar.

"Kau merekamnya?" Tanya Nagisa.

"Ritsu." Jawab Karma santai. Nagisa menghela nafas.

"Jadi, ada apa?" Tanya Nagisa. Karma mengernyit.

"Aku ingin menemui tunanganku. Tidak boleh?" Tanya Karma. Nagisa tertawa datar.

"Kita belum bertunangan, Karma." Koreksi Nagisa. Karma kembali mengangkat bahunya.

"Jujur saja itu sedikit menyakitkan." Ucap Karma. Nagisa tertawa kecil. Kemudian ia merasa tangannya ditarik.

"Karma? Kau mau kemana?" Tanya Nagisa. Karma tersenyum.

"Mengantarmu pulang." Jawab Karma.

.

.

Nagisa mengerjapkan matanya. Karma memang bilang akan mengantarnya pulang. tapi dia tak ingat kalau karma berkata bahwa ia akan singgah ditempatnya. Dan sekarang, Karma sendiri tengah asyik berbincang dan berdebat seru dengan ayahnya.

"Nagisa, kau bisa menumpahkan tehnya." Suara lembut ibunya membuat Nagisa tersadar.

"Ah, maafkan aku bu. Aku hanya.. tidak konsentrasi." Jawab Nagisa. Hiromi tersenyum lembut. Kemudian mendorong Nagisa.

"Lebih baik kita bergabung saja dengan mereka daripada kau penasaran seperti itu." Ujar Hiromi. Nagisa tertawa kecil. Kini keempat manusia itu duduk di ruang tamu. Dengan berbagai macam pembicaraan yang mengalir apa adanya. Sampai akhirnya jam berdentang menunjukkan pukul delapan malam.

"Ah, sepertinya aku harus kembali." Ujar Karma. Ayah Nagisa nampak seidkit kecewa mendengarnya. Namun ia tersenyum.

"Ya. Besok masih harus bekerja kan?" Tanyanya. Karma tersenyum sopan dan mengangguk. Terkadang Nagisa takjub dengan sikap Karma yang sesopan itu pada ayahnya. Hubungan Karma dan ibunya juga sudah membaik.

"Kalau begitu sebaiknya aku pulang dulu. Tapi.. ada satu hal yang ingin aku tanyakan terlebih dahulu." Ucapan Karma membuat ketiga kepala shiota itu menoleh. Apa? Karma nampak mengatur sikap tubuhnya kemudian ia menunduk. Tubuhnya membungkuk.

"Shiota-san.. izinkan aku menikahi Nagisa." Ucapnya lancar. Nagisa terperangah. Kedua orang tuanya terdiam. Sebentar! Apa yang Karma lakukan? Nagisa tak bisa berkata-kata. Ia tak menyangka. Jujur saja taka da yang menyangka Karma akan mengatakannya tanpa basa-basi terlebih dahulu. Terlebih Nagisa tak bisa melihat kegugupan. Kemudian Karma mengangkat badannya. Nagisa tertegun. Ia memang tak melihat kegugupan disana. Tapi sorot mata itu penuh dengan kesungguhan. Ayah Nagisa yang pertama kali bereaksi. Berdehem pelan dan meraih cangkir teh. Ia menyeruput sedikit lalu menatap Karma.

"Kenapa?"

"Karena… kufikir sekarang waktu yang tepat. Dan.. aku yakin meskipun aku belum cukup mapan dengan hasil kerjaku sendiri, aku bisa dan mampu membuat Nagisa bahagia." Jawab Karma. Sang ayah tertawa kecil.

"Bukan itu yang ingin kukatakan." Ujarnya. " Maksudku, kenapa kau baru meminta izin sekarang?"

"Eh?" Hiromi dan suaminya tertawa kecil.

"Kau tau, Karma-kun.. kami berdua sempat khawatir kalau-kalau kau sudah dijodohkan dengan gadis mana. Dan kami jadi kehilangan kesempatan untuk memiliki menantu dari keluarga Akabane ini." Jawab Hiromi. Ayah Nagisa terkekeh. Karma nampak melebarkan matanya dan tertawa kecil.

"jadi, kalian merestuiku?" Tanya Karma.

"Restu dari kami tidak penting. Yang penting adalah.." kedua orang tua itu menoleh kearah Nagisa yang masih terdiam. Kemudian tanpa kata Nagisa berjalan meninggalkan tiga orang itu menuju pintu keluar. Karma yang melihat itu memohon diri dan dengan cepat mengejar Nagisa.

.

.

Nagisa tak mengucapkan satu katapun. Mereka berjalan dalam hening menuju tempat Karma memarkir mobilnya. Tepat didepan pintu mobil, Nagisa berhenti. Masih memunggungi Karma, bibir mungilnya berucap pelan;

"Karma.."

"Hm?" Jawab Karma. Nagisa dengan cepat menoleh. Wajahnya merah padam. Karma mengangkat alisnya.

"KENAPA KAU MELAKUKANNYA?!" Teriak Nagisa. Karma mengerjap kemudian tertawa.

"Hei.. hei.. kau tak perlu semalu itu. harusnya justru aku yang malu." Jawab Karma. Nagisa menggigit bibirnya.

"Tentu saja aku malu! Kau melamarku seenaknya tanpa memberitahuku sedikitpun tentang rencanamu."

"Aku juga tidak tau." Jawaban Karma membuat Nagisa terdiam. Eh?

"Aku juga tidak tau. Akau tak punya rencana apapun. Sampai akhirnya saat aku mengatakannya, aku baru sadar bahwa aku melamarmu. Hehehe." Karma terkekeh. Nagisa menatap Karma tak percaya.

"Jadi bagaimana? Apa jawabanmu?" Tanya Karma. Nagisa terdiam. Kemudian ia mendengus pelan.

"Kau bahkan tak punya rencana sejak awal. Bagaimana aku tau kau sedang mempermainkanku atau..-"

"Nagisa~" Nagisa berjengit saat menyadari posisinya. Ia terjepit antara tubuh Karma dan mobil mahal Karma.

"Kau salah kalau kau bilang aku tak punya rencana menikahimu.." bisik Karma. Nagisa terdiam.

"Kau ingat buku catatan itu? buku yang tak pernah kuberikan padamu saat kau sakit dulu?" Tanya Karma. Nagisa mengernyit. Buku? Sakit? Ah!

"Nah, wajahmu mengatakan bahwa kau ingat. Buku itu, buku yang harusnya diberikan isogai padamu. Kau pernah membacanya tanpa izin. Kau ingat?"

"Ugh.. itu buku untukku. Jadi aku tak butuh izin darimu." Kilah Nagisa. karma tak mempedulikannya.

"Kau ingat salah satu tulisan didalamnya? Dimana disetiap akhir point ada namamu disana?" tanya Karma. Nagisa mengangguk. Kemudian Karma mengecup dahinya.

"Kalau kau tau, itu semua adalah rencana hidupku. Dan kenapa namamu ada dalam setiap point itu adalah.. karena aku ingin melakukan semuanya denganmu. denganmu disetiap kehidupanku. Semua visi dan misi hidupku kuatur dengan dirimu didalamnya, Nagisa." Jawab Karma. Nagisa terdiam. Kemudian ia menatap manik pucat itu. lantas ia tersenyum.

"Karma…" Nagisa mengubur kepalanya di dada Karma. Karma hanya tersenyum dan meletakkan dagunya dikepala Nagisa. cukup seperti ini. cukup Nagisa yang Karma miliki. Karma tak akan keberatan jika dunia mengambil segalanya. Cukup Nagisa berada dalam jangkauannya dan Karma yakin, hidupnya sempurna.

"Jadi, kau mau menikah denganku?" Tanya Karma. Nagisa melepas pelukannya. Kemudian berjinjit untuk mengecup bibir Karma.

"Kapanpun kau mau, aku siap menjadi pengantinmu, Akabane Karma."

Dan malam itu, bintang dan bulan tersenyum menyaksikannya.

END

PENTING!

Amaya ada fic baru. Siapa yang mau KaruNagi lainnya? Angkat tangaaan!

HYAAAA AKHIRNYAAAA ini ff pertamaku di fandom ini dan baru kelar? Astaga! Terimakasih banyak untuk kalian semuaaaa I love yuu :*

Asaki Yuuna: Iya kagak XD tuh udah lamaran huahahahaha*digampar. Terimakasih sudah membaca fic ini :')

ParkYuu: IYA! DAN AKHIRNYA DAKU BEBAS! Terimakasih buat semangatnya selama ini ^^/

Wako P: oh? Ada manganya? Aku Cuma tau detective conan XD. Terimakasih untuk supportnya selama ini ^^/

Aeon zealot Lucifer: Aku juga mau nikah ama Karma XD hehehe.. kegembiraan juga harus berakhir*sok bijak. Terimakasih banyak untuk supportnya selama ini J

Hani A.K: Ok ^^. Terimakasih sekali untuk supportnya selama ini..

Kiyona: aaaa aku jadi pengen liat magic kaito! Aku taunya detective konan XD. Terimakasih sudah support selama ini ^^

Raina awasari:aku juga mau Gakushuu!"plak. terimakasih untuk supportnya selama ini!

Mayanda Akabane:terimakasih sudah membaca ^^/ tenang.. daku karunagi ship kok. Kecuali lagi baper dan si karma jadi korban XD*plak. Sekali lagi terimakasih!

Dan untuk semua yang sudah mensupport lewat Fav, Follow, PM, dan Review… I LOVE YOU SO MUCH! SEKALI LAGI YANG MAU EFEF KARUNAGI ANGKAT TANGAAAAN!

Sampai jumpa di fic lainnya ^^/

Jaa!