"Aku menemukanmu..."

Jimin hendak membuka mata, namun ia justru dikejutkan oleh Suga yang menariknya kembali kedalam sebuah pelukan. Kali ini lebih erat.

"Aku menemukanmu, Jimin, aku menemukanmu..."

Perlahan Jimin menyudahi pejamnya, dan saat itulah airmatanya datang bergerombol tanpa mampu ia kontrol. Isakkan isakkan kecil perlahan pecah menjadi tangisan yang membuncah. Segala rasa sakit yang sedari tadi ia tahan, seolah begitu saja tumpah.

Tumpah dalam pelukan Min Yoongi.

"I Found you, J..."

Hening. Tak ada suara lain yang mengiringi isak tangis seorang Park Jimin yang membasahi bagian bahu Suga saat ini. Hanya dua kata "aku menemukanmu", dan efeknya akan sedahsyat ini bagi Jimin, bahkan hingga ia tak mampu berkata-kata lagi. Yang ia bisa kini hanyalah menangis, luapan dari perasaan sedih sekaligus bahagianya.

Akhirnya Suga menyadarinya juga, akhirnya Min Yoongi menemukannya juga setelah sekian lama.

Oh, ia tentu tak mengetahui jika beberapa tahun lalu juga Suga sudah menemukannya, bahkan menjadikannya kekasih. Sayangnya, Jimin tak merasakan itu karena, Suga yang bodoh itu menemukannya dalam wujud berbeda.

Ya, dengan sosok Jung Hoseok yang kini tengah melihat Suga dan Jimin dari atas balkon sana. Ia menopang dagu dengan tangan pada pembatas balkon kamarnya. Sorot matanya menyiratkan rasa sakit dan terluka yang amat dalam.

"Wow! Betapa romantisnya kalian berdua..." decaknya terkagum.

.

.

.

Kembali pada Suga dan Jimin yang masih enggan melepas tautan tubuh mereka.

"Maaf..." yang lebih tua berucap pelan, dan balasan yang ia dapat adalah isakkan Jimin yang belum kunjung berhenti, meski sudah tak sekeras tadi. "Maaf karena baru menemukanmu. Maaf karena baru menyadarimu..."

Jimin masih terisak.

"...apa selama ini kau menungguku?"

Dapat Suga rasakan Jimin mengangguk dibahunya. Ia juga bisa merasakan jika baju bagian punggungnya diremas oleh sang tunangan. Shit, Suga benar-benar membuatnya bersedih.

"Betapa bodohnya aku," gumam Suga, meringis. "...Selama ini kau jelas-jelas ada didekatku. tapi yang kulakukan hanyalah menyakitimu. Apa selama ini kau tahu, bahwa aku adalah aku? "

"y-ya," Jimin menjawab dengan susah payah "...aku tahu."

"Lantas kenapa kau tak mengatakannya? Kenapa kau diam saja walau sudah kusakiti begini? Setidaknya jika kau tahu, tunjukkan kalungmu dan bicara padaku! Mungkin aku takkan-"

"karena aku mencintaimu,"

"..."

"...aku mencintaimu, dan ingin kau mencintaiku juga. Dengan begitu, kau akan tahu dengan sendirinya. Jadi-" dia terisak "...Jadi aku akan menunggumu sampai saatnya kau tahu. Lihat sekarang, aku berhasil kan...Yoongi?"

Suga semakin merasa bodoh saat ini. Ia menghembuskan nafasnya dengan berat. Menghalau segala rasa sesak yang ada, namun segalanya terasa sia-sia. Selama ini Jimin tahu dirinya, sementara Suga-

...oh Tuhan.

Jika saja Suga selangkah lebih cepat, mungkin ia bisa menemui Jimin sebelum ia menemui Hoseok.

Jika saja Suga selangkah lebih lambat, mungkin ia takkan gegabah menjadikan Hoseok sebagai kekasihnya, lalu berakhir berantakan seperti sekarang.

Jika saja Suga lebih pintar membaca keadaan, maka dia dan Jimin bisa menghindari pertemukan mereka yang menyakitkan.

Sekarang, tak ada gunanya lagi bahkan jika Suga ingin menjauhi tunangannya itu. Jimin jelas, selalu berada disisinya dalam situasi apapun. Membelanya dalam masalah apapun. Walau yang bisa Suga balas padanya hanyalah luka, tanpa pernah ia obati sedikitpun.

Sementara yang Hoseok lakukan padanya? Oh, hentikan. Ia tak mau mengingat-ingat lagi tentang Hoseok saat ini. Mengingat namja itu hanya akan kembali memunculkan rasa sakit yang tak ada habisnya.

"Ya, kau berhasil Jimin-a..."

Suga menjauhkan tubuh mereka, lalu memegang bahu Jimin lembut. Ia tersentak ketika disuguhi pemandangan menyesakkan ini, mata Jimin yang bersinar itu telah memerah dan basah oleh airmata. Dan itu, karenanya. Bibir pucatnya terus mengeluarkan isakkan-isakkan kecil yang membuat Suga merasa frustasi. Kenapa ia tak kunjung berhenti?!

"Don't cry,"

"Hiks~"

Jimin menatap Suga dengan pandangan yang sulit Suga beri nama. Airmatanya malah semakin banyak menetes, membuat isakkannya jauh lebih keras.

"Jimin, cukup. jangan menangis."

"Hiks-mppph~"

Jangan bertanya.

Ini hanya insting seorang Min Yoongi yang tak tahan melihat tunangannya terus meneteskan airmata.

.

.

.

Lagi-lagi Hoseok diatas sana berdecak kagum melihat pemandangan dibawahnya.

"Whoaaa~ kau melakukan itu pada semua pacarmu ya? Sudah berapa kali? Dan," dia menjeda. masih memandang objek yang sama "...bagaimana rasanya mencium bibir adik kekasihmu sendiri? Oh, kita belum resmi putus, iyakan Min Yoongi bodoh?"

Monolognya pelan, sangat pelan. Hingga seakan hanya hatinya yang bisa mendengar. Sorot matanya memancarkan perasaan terluka yang amat dalam. Sesak, tanpa ia tahu bagaimana harus menghilangkannya.

"Seingatku...dulu kau tak pernah menciumku selama itu?" Gumam Hoseok dengan sedih saat melihat tautan bibir mereka dibawah sana belum juga terputus, oh lihat-lihat... bahkan si blonde itu semakin menekan tengkuk tunangannya dengan posesif. Seolah lupa dimana mereka berada kini.

"Menjijikan..." Desis Hoseok muak, lalu memilih kembali masuk ke kamarnya.

Biar ia melampiaskan rasa sakit dengan caranya sendiri.

Namun sebelum benar-benar masuk, ia mendapati Seokjin tengah menatapnya dan Jimin secara bergantian. Kakak sulungnya itu kini sedang berdiri di balkon kamar Jimin yang memang berdampingan dengan milik Hoseok.

"Pertunjukkan menarik kan, Seokjin-a?" Tanya Hoseok dengan wajah datarnya, kontras dengan kata menarik yang ia lontarkan. Tanpa menunggu Seokjin membalas, dia benar-benar masuk, tanpa tahu sang kakak sedang terbingung-bingung ditempatnya.


"Ungh-"

Suga melepaskan bibirnya saat ia merasa Jimin sudah tak mampu mengimbangi.

Berhasil. Isakkan Jimin sudah tak sehebat tadi.

Apa karena Suga melakukannya dengan tulus hati? Bukan hanya sekedar ingin terlihat oleh keluarga Jimin, terutama Hoseok. Ya, dia tak tahu jika dua pasang mata telah menyaksikan apa yang ia dan Jimin baru saja lakukan.

"Jangan menangis lagi," Pinta Suga seraya menghapus sisa-sisa airmata Jimin dengan jari-jarinya "...Kau boleh menghukumku, apa saja. Asal jangan menangis lagi."

Setelah menghapus jejak-jejak airmata itu, kini Suga memakaikan kalung yang sedari tadi ia genggam, kepada Jimin.

"Kalung ini yang mempertemukan kita kembali. Jaga baik-baik. Kau mengerti?"

"..."

Jimin terdiam dengan setiap perlakuan Suga terhadapnya. Dalam hati masih bertanya-tanya, benarkah ini?

Nyatakah ini?

Suga telah menemukannya, lalu tiba-tiba berubah menjadi seperti yang ia harapkan selama ini.

Ciuman tadi-

Tidak. Ciuman ini, -ya, sebab tunangannya itu kini kembali menautkan bibir mereka-. Walau Jimin sudah lebih dari satu kali memperolehnya dari Suga, tapi ia merasa sentuhan kali ini berbeda.

Ada kehangatan lain yang benar-benar dia salurkan, bukan semata-mata menautkan bibir karena terpaksa atau nafsu saja.

"Ngh~ H-hyungie,"

Walau hangat, tapi Jimin juga tetap butuh nafas seperti biasa. Selain itu, tubuhnya kini benar-benar lemas dan sudah tak sanggup ia bawa berdiri lagi, jadi ia mendorong bahu Suga agar menjauh.

"Maaf." Ucap Suga. Dam Jimin hanya mengangguk, walau ia tak paham, maaf untuk hal mana yang kali ini Suga ucapkan. "Jimin-a,"

"Hm?"

"Kita mulai semuanya dari awal,"

"...Apa?"

"Kau dan aku. Mari memulai kembali dari awal. Perbaiki hubungan kita seperti seharusnya. Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya, dan berubah menjadi seperti yang kau harapkan."

Jimin tak berkedip. apa katanya tadi?

Memperbaiki? Setelah sekian banyak rasa sakit yang ia beri, dengan mudahnya dia meminta maaf dan memohon untuk diberi kesempatan memperbaiki? Yang benar saja! Memang dia pikir selama ini Jimin menghadapinya tidak dengan hati? Tentu saja tidak semudah-

"Hm. Ayo kita perbaiki. Mari memulai semuanya dari awal lagi."

Mudah. Sangat mudah bagi seorang Park Jimin. Dia terlalu baik hingga terkadang menjadi bodoh, seperti yang pernah diucapkan Seokjin.

Jimin tahu, dia tahu itu dengan sangat jelas.

Mungkin jika itu orang lain, dia akan memaki-maki Suga dan tak sudi memaafkannya. Tapi sekali lagi, ini Park Jimin. Seseorang yang entah punya kadar kesabaran seberapa tebal dalam hatinya.

"Tapi Yoongi hyung,"

"Hn?" Suga menaikkan satu alisnya mendengar ucapan Jimin yang menggantung.

"Dulu...kau pernah berkata padaku-"

'Aku harus menggapai impianku untuk mendapat uang banyak. Dengan begitu, aku bisa mengangkat kembali kehidupan keluargaku tanpa harus dibantu oleh keluargamu. Dan aku bisa bebas darimu, Park Jimin.'

"J-Jimin-"

"Bukankah sekarang semua impianmu sudah kau raih? Keluargamu sudah membaik, tanpa harus dibantu keluargaku lagi. Tidakkah kau ingat keinginanmu untuk bebas dari-"

"Ya Tuhan,"

Jimin kembali masuk kedalam dekapan Suga, membuat kalimatnya terputus begitu saja.

"Aku minta maaf. Sungguh, aku minta maaf. Lupakan saja Jimin-a, kumohon. Bukankah sudah kukatakan, mari kita mulai segalanya dari awal?"

"Kau mencintaiku?"

Suga tertegun atas pertanyaan yang tiba-tiba itu.

"Kau memintaku memulai kembali segalanya begini, apa karena kau mencintaiku? Atau hanya-"

"Aku mencintaimu." Potong Suga cepat, membuat Jimin membisu. Ini pertama kalinya Suga menyatakan itu. "...Aku tak tahu sejak kapan merasakan perasaan semacam ini padamu. Perasaan tak suka melihatmu dengan orang lain didepan mataku. Perasaan yang tak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Bahkan sebelum aku tahu jika kau adalah kau, kalau saja aku mau, aku bisa meninggalkanmu sejak lama. Setelah aku debut dan kondisi keluargaku perlahan membaik, aku bisa saja langsung melepaskanmu. Tapi, kau lihat sendiri kan yang kulakukan? Sebenci apapun aku terhadap ikatan kita, aku tak pernah kunjung meninggalkanmu. Entah kenapa. Jadi, bisakah itu disebut...cinta?"

Penuturan Suga tak ayal membuat airmata Jimin kembali menetes. Oh, kenapa ia jadi cengeng sekali malam ini?

"Hyung yakin itu cinta? bukan...sebatas rasa kasihan saja?"

Si blonde mengernyitkan dahi

"Yoongi hyung tetap disisiku hanya karena-"dia tercekat "...karena aku sedang sekarat kan?"

"Park Jimin!" Suga melepaskan pelukannya, lalu menatap Jimin tak suka "Apa yang kau katakan?!"

Jimin memandang tunangannya itu dengan tatapan sayu.

"Hn? Aku bicara kenyataan, Min Yoongi. kau sendiri tahu fakta tentangku, kan? Perjodohan kita, bukan hanya terjadi karena kondisi keluargamu. Tapi, juga sebab keadaanku."

"..." ya, Min Yoongi tahu. sangat tahu.

"Tapi...jika hyung ingin memperbaiki semuanya, tidak perduli itu cinta atau bukan, kurasa aku akan tetap menerima. aku pasti terdengar egois, tapi aku...rasanya sedikitpun aku takkan rela kalau kau pergi dariku." sebab rasa cintaku sudah tak lagi terkendali "...jadi, ayo perbaiki semuanya setidaknya selama aku masih mampu bertahan dengan penyakit sialan ini. Hyung harus ada disisiku setidaknya sampai aku benar-benar mat-"

"Ssst! Aku tak mau lagi mendengar kalimat seperti itu. Hanya jalani saja hubungan ini, dan jangan memikirkan hal lain. Bukan karena terbebani perjodohan keluarga, atau apapun itu. Ini hanya tentang kau, dan aku. Aku memperingatkanmu, Jimin-a."

Jimin tertegun beberapa saat. menatap Suga dengan lekat. mencari keseriusan disorot matanya. Dan saat ia yakin hal itu ada, dirinya mengangguk paham seraya tersenyum simpul.

"Baiklah." mari kita perbaiki hubungan ini. mari kita mulai semuanya dari awal lagi.

Suga menghembuskan nafas lega.

"Sekarang masuk, dan istirahatlah. Jika merasa tak enak badan, minumlah obatmu. mengerti?"

Jimin tertawa kecil "Kenapa hyung jadi cerewet sih?" protesnya, meski dalam hati ia merasa senang.

Suga memanglah Yoongi, si cerewet yang Jimin kenal dulu. Satu setengah tahun ini, Yoongi bersembunyi dibalik topeng seorang Min Suga yang angkuh dan dingin. Min Suga yang tak Jimin kenali. Dan akhirnya, malam ini Min Yoongi kembali.

"Jimin? kau melamun?"

"Hn? tidak. aku mengerti Yoongi hyung. Baiklah, aku masuk dulu ya. Kau pulanglah dengan hati-hati."

"Iya. oh! Tunggu sebentar,"

"Hng?"

"Tutup matamu!?"

"Hyung mau mencium kelopak mataku lagi? memangnya tidak bosan?" Jimin terkekeh pelan, walau akhirnya menurut juga. Tak habis-habis, Suga kembali mencium kedua kelopak matanya. Lalu saat terbuka lagi, ia mendapati Suga yang tengah tersenyum padanya.

Tampan sekali.

"Kan sudah pernah kubilang, aku suka matamu. Sudah, masuk sana!"

Jimin mengangguk lagi, kemudian berjalan meninggalkan Suga. Keduanya berpisah, dengan satu janji yang sama.

Memperbaiki dan memulai hubungan mereka lagi dari awal

Seulas senyum diam-diam tercipta dari keduanya, tanpa tahu seseorang diatas sana tengah terluka.


"Kenapa kau harus dengan orang itu? Kenapa kalian selalu terlihat olehku? kenapa-"

Jung Hoseok kehabisan kata-kata, yang bisa ia lakukan kini hanya menenggak habis isi gelasnya sambil terus menatap kebawah sana. Bedanya, kini ia melihat semua itu dari dalam kamarnya.

Hoseok benar-benar tak tahu apa yang sebenarnya ia rasa. Bahkan saat cairan itu terjun ke kerongkongannya, raut wajahnya tetap datar seolah bukan minuman beralkohol lah yang ia telan sekarang.

Melihat Suga kembali mencium kedua kelopak mata Jimin, membuat Hoseok tak sadar menyentuh kelopak matanya sendiri.

.

.

.

'Hey, Jung Hoseok!'

'Apa?'

'Pejamkan matamu?!'

'Untuk apa?'

'Sudah pejamkan saja!'

'Iya, tapi kau mau apa?'

'Hoseok, ayolah!'

'Iya-iya! Dasar pemaksa! Nih, sudah. Ayo cepat kau mau ap-'

Chu~

Chu~

'...'

'...'

'YAK MIN YOONGI! APA YANG BARU SAJA KAU-'

'Aku suka matamu.'

'...'

'...walau sekarang sedikit berbeda, tak apa. Aku tetap suka.'

'A-apa maksudmu? Kau ini membicarakan apa sih?!'

'Hampir satu tahun ini kau selalu ada didepan mataku. Memberiku semangat saat aku lelah dan hampir menyerah, walau dengan kejutekanmu itu. Tapi aku suka. Jadi aku berpikir, bagaimana kalau kita memulai sesuatu yang baru?'

'Ha?'

'Kau bukan anak berusia delapan lagi, kan? Jadi kau pasti mengerti. Hoseokkie, ayo kita mulai sesuatu yang baru. kau, dan aku.'

'A...apa maksudmu, kita-'

'Pacaran. Ya.'

'T-tapi, agensi kan-'

'Hey, selama kita tutup mulut, takkan ada yang tahu. Ini hanya tentang kau dan aku saja, tak perlu libatkan agensi. Bagaimana? Kau mau?'

'...'

'Tak usah takut. Bukankah kita janji akan debut bersama? Sampai saatnya nanti, kita pasti bisa menjalani ini walau hanya berdua yang tahu. Jung Hoseok, jadilah kekasihku.'

.

.

.

Hoseok tertawa tanpa tahu hal apa yang lucu. Ia kembali meneguk minumannya.

"Memulai sesuatu yang baru?" bisiknya "...Benar, karena baru kau yang memperlakukanku sebegini brengseknya, Min Yoongi..."

Bisa ia lihat, mobil Suga kini telah keluar dari area rumahnya.

"Debut bersama? Bullshit! Kau bahkan tak bisa melindungiku sedikitpun saat itu. Menggantung perasaanku, lalu bermesraan dengan adikku sendiri didepan mataku. Keparat, apa kau bahkan manusia?"

Nada bicaranya sudah mulai tak jelas, efek dari minuman yang sudah banyak ia telan. Ia kemudian berjalan terseok menuju cermin. Tertawa lagi, melihat betapa hancur dan berantakan dirinya. Halusinasinya mulai menghampiri, sosok Hoseok di cermin seolah mengejek dirinya telak-telak. "Benar, Min Yoongi bukan manusia. Dan kau bodoh, karena menerima makhluk seperti dia..."

Hoseok ingin mentertawakan kebodohannya, tapi yang muncul malah airmatanya.

Sesak,

...ini sangat sesak.

Lantas apa yang mampu mengobati sesaknya?

Kapsul penenang sudah tak lagi mempan. Alkohol pun sama percuma.

"ARGHH!"

BRAK! PRANG!

Entah, sejak kapan Hoseok memiliki hobbi memecahkan barang saat merasa tengah kesal begini. Gelas yang ia genggam sedari tadi kini hancur berantakan bersama cermin akibat ia lemparkan. Kini bayangannya di cermin retak, persis seperti perasaannya.

Menyakitiku selama ini, tanpa pernah dengan jelas mengakhiri. Bicaralah Min Yoongi! Akhiri jika kau ingin mengakhiri, jangan menggantungku begini!

Ia terisak sebentar, lalu berhenti manakala melihat pecahan kaca berserakan didepannya. Ia benci menangis. Ia benci mengeluarkan airmatanya hanya untuk seorang Min Yoongi. Ia ingin ini berhenti.

Kala itu sebuah ide gila tiba-tiba muncul dibenaknya.

"Baik. Jika kau kau tak sanggup mengakhirinya, biarkan aku melakukannya dengan caraku sendiri..."

Ia raih salah satu keping kaca pecah tanpa bentuk itu. Airmatanya masih terus mengalir deras, walau ia telah berusaha menghentikannya. Rasa dingin merambat di pergelangan tangannya, tatkala kaca itu menyentuh kulitnya. Tangannya yang lain sedikit bergetar. Karena iya, dia mabuk, tapi masih cukup sadar dengan apa yang ia lakukan sekarang.

"Jika aku mati, akankah ini berakhir? Jika aku menghilang, akankah kau menyesal...Min Yoongi?"

.

.

.

.

.

tobecontinued


a/n : hayooo dilihat lagi genre fanfic ini. aku gak menjanjikan happy ending. happy ending itu... bukan keahlianku. LOL