warn! this chapter is FULL of Hoseok(+YoonSeok)
Dan ini sepertinya bakal panjang, soalnya berisi flashback. Pelan-pelan aja bacanya. oh! Bila perlu sediakan secangkir kopi, siapa tau ngantuk pas baca. LOL
p.s : kak Hobi, maafin aku *sungkem* I Love U :3
myfiancé
Berisiknya gelas yang pecah berkeping-keping, seperti itukah kita?
Kita? Sepertinya kini hanya ada 'aku' dan 'kau' saja.
Sebab kini kau membeku, lebih dingin dari orang asing.
Senyummu yang cerah, dekapanmu yang hangat.
Aku merasa seperti takkan bisa melihat dan menyentuhnya lagi.
Dan itu menakutkanku.
.
.
.
"Ada apa denganmu hari ini? Seperti kehilangan nyawa saja. Biasanya cerewet kkkkk~"
Hoseok menatap malas pada Yoongi yang tengah tertawa. Serius, moodnya seharian ini benar-benar jelek. Sepanjang latihan ia terus ingat pada rumah. Ia merindukan keluarganya. Terutama Jimiiiin~ huft.
"Hey, Hoseokkie~"
"Ck, apa sih?! Kau berisik!" Ketus Hoseok pada Yoongi yang kini mengikuti posisinya. Yakni berbaring dilantai dance dengan berbantalkan lengan mereka sendiri. Ruangan ini sudah gelap tanpa penerangan lampu satupun, karena latihan sudah berakhir dan hari sudah hampir larut. Jadi hanya ada mereka berdua disini dengan ditemani sedikit pantulan cahaya bulan.
"Galak sekali. Kenapa, hm?" Yoongi tidak menyerah untuk bertanya. Dia sering bilang Hoseok itu cerewet. Tapi pada kenyataannya Yoongi sendiri lebih cerewet dari Hoseok. Apalagi jika mereka hanya berdua seperti ini.
"Hoseokkie~"
Dengar, dia bahkan sudah berani memanggilnya sok imut begitu tanpa embel-embel Sunbaenim seperti yang Hoseok sering perintahkan. Sudah enam bulan berlalu semenjak pertemuan pertama mereka, dan biasanya Hoseok akan mengomel jika anak itu tak memanggilnya Sunbaenim. Tapi sekarang, moodnya sungguh-sungguh buruk dan tak berselera meladeni berisiknya Yoongi.
"Terjadi sesuatu? Trainer lain melukaimu? Siapa? Sini biar aku-"
"Homesick."
"Apa?"
"Hm. Aku merindukan rumah. merindukan keluargaku..." Jawab Hoseok tanpa menatap Yoongi. Satu tangannya yang tak dipakai menadah kepala, kini sibuk memainkan bandul kalung dilehernya.
"Oh~ begitu ya. tapi kau tidak berpikiran untuk menyerah kan?"
"Ha?" Kali ini Hoseok menolehkan kepalanya.
"Ng- karena homesick ini. Kau tak berpikiran menyerah dan ingin pulang saja kan?" Yoongi memperjelas.
"Mana ada! Aku sudah sejauh ini, mana mungkin menyerah begitu saja? Aku kan cuma bilang rindu, bukannya ingin menyerah dan pulang." Jawab Hoseok mengklarifikasi, dan Yoongi terkekeh mendengarnya.
"Iya iya. Aku kan cuma bertanya."
Keduanya diam sejenak. Yoongi menyampingkan posisinya, agar lebih leluasa menatap Hoseok. Sementara yang menjadi objek tatapan hanya memejamkan matanya sambil terus memainkan kalung dengan satu tangan. Melihat itu, Yoongi jadi tersenyum kecil. Hoseok nampak sangat menyayangi benda itu. Disisi lain, ia juga takut tangan Hoseok yang lain pegal. Jadilah ia mengulurkan tangannya untuk menyangga kepala Hoseok.
"What are you doing, Min!?" Gertak Hoseok tanpa membuka matanya. Namun Yoongi tak perduli, dan tetap melanjutkan niatnya. Kini kepala Hoseok sudah nyaman dengan tangan Yoongi yang menjadi bantalnya.
"Supaya kau tak pegal, Jung."
"Kau selalu seenaknya." Ucap Hoseok, namun tanpa merubah posisi sedikitpun. Karena jujur, pelan-pelan ia mulai merasa nyaman dengan semua perlakuan Yoongi selama ini.
Kembali hening beberapa detik, sampai suara Hoseok terdengar lagi.
"Tapi," ia membuka mata lalu melanjutkan pertanyaannya "sepertinya kau tak pernah terlihat homesick sepertiku, ya?"
Hoseok memang membuka mata, akan tetapi tak melihat Yoongi secara langsung. Jadi saat mendengar Yoongi tertawa kecil, ia merasa heran.
"Kenapa tertawa?"
"Kau homesick, tapi ada yang membalas rasa rindumu dirumah sana. Sedangkan aku tidak begitu. Jadi, aku malu untuk mengungkapkannya walaupun iya."
Kali ini Hoseok menoleh. Cukup terkejut juga melihat wajah Yoongi sangat dekat dengannya. Mata mereka hanya berjarak beberapa centi, dan bibir mereka-
Oh hentikan.
"K-kenapa begitu?" Tanyanya berusaha tak terlihat gugup.
"Aku tak sepertimu yang mimpinya didukung penuh oleh keluarga, Sunbaenim..."
Hoseok mengedipkan matanya pelan mendengar jawaban itu "Maksudmu-"
"Aku berdiri sendiri dengan mimpiku. Keluargaku sepertinya sangat membenci apa yang ku sukai ini..." ungkap Yoongi.
Tiba-tiba sebuah perasaan iba menyelinap dalam diri Hoseok. Selama ini, secerewet apapun Yoongi, anak itu tak pernah sekalipun menyinggung tentang keluarga. Dan untuk pertama kalinya mereka saling bercerita begini, Hoseok cukup merasa aneh juga melihat perubahan air muka Yoongi.
"Memangnya, keluargamu ingin kau menjadi apa?"
"Penerus perusahaan? Ya semacam itulah..."
"Kenapa kau tidak mau?"
"Aku tidak suka. Aku tak mau melakukan apa yang tidak ingin ku lakukan. Musik adalah mimpiku sejak kecil, dan aku tak mau merubahnya. Tak perduli ayah akan memukulku berapa ratus kali, aku tetap akan pada pilihanku." Ujar Yoongi.
Hoseok diam sejenak. Keras kepala juga dia...
"Apa...tidak ada seorangpun yang mendukungmu?" Tanya Hoseok kembali. Kali ini pelan, dan hati-hati.
"Hm~ hyungku? Sedikit. Dia terlalu takut pada ayahku yang tempramental. Itulah kenapa dia menurut untuk membantu mengurus perusahaan." Yoongi menarik nafasnya pelan. "...keluargaku sedang dalam masa sulit, Hoseok-a."
"Ne?!"
"Perusahaan ayahku sedikit mengalami masalah keuangan. Dan kini dia dan hyungku sedang berusaha mencari bantuan untuk memperbaikinya. Aku sadar, aku tak bisa melakukan apapun untuk membantu. Jadi, yang kulakukan adalah berhenti kuliah, agar beban mereka sedikit ringan. Mereka tentu marah, tapi... hanya ini yang bisa aku lakukan."
Hoseok tak menyela Yoongi sedikitpun. Ia membiarkan anak itu bercerita hingga tuntas.
"...tak lama kemudian, aku mengikuti audisi yang diadakan LJH. dan ternyata aku lolos dan diterima sebagai trainer. kesempatan bagus begini takkan aku sia-siakan. Jadi, aku memilih pergi dari rumah dan mengikuti trainee. Seperti yang kau lihat sekarang."
"Lalu...bagaimana bisa kau ada disini? Bukannya keluargamu tak merestui mimpimu?" Hoseok kembali mengajukan pertanyaan.
"Aku tak berpamitan langsung. Karena benar, aku pasti takkan diizinkan pergi. Jadi, aku hanya meninggalkan surat ditempat tidurku saja." Ungkap Yoongi.
"Astaga, Min Yoongi, kau itu-"
"Anak nakal, bodoh, brengsek, dan tak tahu terimakasih. Benar, aku mengakui semua itu Hoseok..."
Hoseok mengatupkan bibir. Sedikit merasa bersalah. Bukan, bukan itu yang ingin ia ucapkan sebenarnya.
"Tapi aku tak ada pilihan lain. Min Yoongi yang nakal ini akan membantu keluarga dengan caranya sendiri. Tak perduli di trainee berapa tahun, aku akan tetap melakukannya. Saat kembali nanti, aku bisa membuktikan pada mereka jika apa yang kupilih ini tepat."
"..."
"Sebenarnya, aku bukan seseorang yang tergila-gila pada materi. Menjijikan bagiku bila harus menjadikan impianku sebagai ladang uang. Tapi, melihat keluargaku sulit begini, lagi-lagi aku tak punya pilihan lain. Dan...yah, pilihanku adalah ini, agar ayah tahu jika mimpiku pun bisa membantunya."
Yoongi mengakhiri penjelasan- lebih tepat keluh kesahnya. Karena, selama ini ia memendamnya seorang diri. Dan baru pada Hoseok saja lah ia mau buka suara.
Mendengar semua itu, membuat Hoseok terenyuh dan makin merasa iba. Si pirang menyebalkan yang cerewet ini ternyata punya sisi menyedihkan juga. Jujur, Hoseok juga sebenarnya diharapkan oleh keluarganya untuk meneruskan perusahaan. Ia bahkan telah dilatih bertahun-tahun sejak kecil. Namun, begitu mengungkapkan kegemarannya pada musik, bahkan diterima menjadi trainer, ternyata ayahnya mendukung dan sama sekali tak keberatan.
"Hoseok,"
"Ya?"
"Menurutmu bagaimana? Apa yang kulakukan ini salah? Tunggu, memang salah. Tapi, apa kau melihat sedikit sisi benarnya?" Yoongi bertanya dan Hoseok menghembuskan nafasnya pelan, lalu mengangguk paham.
"Sudut pandang dan penilaian setiap orang berbeda-beda , Yoongi-a. Aku tak tahu bagaimana pendapat orang. Tapi menurutku, apa yang kau lakukan sudah benar. Satu sisi, kau ingin membantu keluargamu. Sisi lain, kau ingin mewujudkan mimpimu. Dan kau hebat karena menyadari bakatmu. Jadi kau merangkumnya dalam satu tindakan. Yaitu, dengan berada disini." Tutur Hoseok, yang otomatis membuat Yoongi diam tak berkedip. Jarang sekali orang yang mau membelanya begini.
"Jadi, kau mendukungku?"
Hoseok tersenyum sebagai jawaban. Ia lalu menarik satu tangan Yoongi yang lain.
Menggenggamnya lembut, seolah menyalurkan kekuatan.
"Ya. Aku mendukungmu. Bakat hebat yang kau milikki sayang sekali jika tak dipamerkan. Orang-orang mesti tahu kemampuanmu. Jadi, mari wujudkan mimpi kita bersama-sama?"
Yoongi tersenyum mendengar apa yang Hoseok katakan.
Jung Hoseok tak berubah rupanya. 'Dia' tetap mendukung Yoongi sejak kecil, 'dia' tetap berada di pihak Yoongi. Bahkan kini ia mengajaknya mewujudkan mimpi bersama-sama. Sungguh, Yoongi bahagia saat ini.
"Ya. Ayo berjuang bersama. Kelak, aku ingin kita debut diatas panggung yang sama juga, Hoseokkie. Apa kau mau?"
"Hm. Semoga saja."
Keduanya lalu tersenyum satu sama lain.
Sebelum tiba-tiba Yoongi menarik Hoseok dalam pelukannya, lalu berakhir dengan pekikan terkejut dari namja bermarga Jung itu.
.
.
.
Aku tahu kau terguncang
Itulah sebabnya aku menggenggamu erat.
Memberimu cinta yang lebih dari waktu ke waktu tanpa ada syarat.
Kau menahanku, mengunciku, membuat cintaku perlahan-lahan berubah menjadi racun.
.
.
.
"Hey, Jung Hoseok!" Panggil Yoongi suatu waktu. Saat ia dan Hoseok tengah berada diatap gedung agensi. Entah apa yang mereka lakukan. Tapi menatap jajaran gedung pencakar langit dari sini sangatlah menyenangkan. Apalagi pada malam hari begini. Angin sepoi dilengkapi pemandangan hamparan lampu kota Seoul menambah alasan kenapa keduanya semakin betah disini.
"Apa?" Hoseok menanggapi panggilan sahabat yang berdiri disampingnya itu. Sementara matanya tetap memandang kedepan.
"Pejamkan matamu?!"
Hoseok menoleh bingung, "Untuk apa?" Tanyanya.
"Sudah pejamkan saja!"
"Iya, tapi kau mau apa?"
"Hoseok, ayolah!"
Hoseok bertambah heran melihat Yoongi begitu keukeuhnya menyuruh ia memejamkan mata. Tapi akhirnya Hoseok menurut juga.
"Iya-iya! Dasar pemaksa! Nih, sudah! Ayo cepat kau mau ap-"
Chu~
Chu~
"..."
"..."
Untuk sesaat keduanya hanya terdiam. Hoseok masih memejamkan mata dengan rasa terkejut luar biasa. Apa yang dilakukan Yoongi tadi? Mencium kelopak matanya?
Sementara sang pelaku menatap Hoseok dengan ekspresi penasaran. kira-kira apa reaksi yang akan dia dapatkan?
"YAH MIN YOONGI! APA YANG BARUSAJA KAU-"
"Aku suka matamu."
"..."
Yoongi sudah mengantisipasi teriakkan Hoseok, jadi ia buru-buru memotongnya dengan satu ucapan yang lagi-lagi membuat namja itu terdiam.
"Walau sekarang sedikit berbeda, tak apa. Aku tetap suka." Lanjut Yoongi kemudian. Hoseok semakin mengerutkan dahinya.
"A-apa maksudmu? Kau ini membicarakan apa sih?!"
"Hm, hampir satu tahun ini kau selalu ada didepan mataku. Memberiku semangat saat aku lelah dan hampir menyerah, walau dengan kejutekanmu itu. Tapi aku suka. Jadi aku berpikir, bagaimana kalau kita memulai sesuatu yang baru?"
"Ha?"
"Kau bukan anak berusia delapan lagi, kan? Jadi kau pasti mengerti. Hoseokkie, ayo kita mulai sesuatu yang baru. kau, dan aku."
Hoseok mengedipkan matanya pelan. Jelas, anak itu mengerti betul maksud ucapan Yoongi.
"A...apa maksudmu, kita-"
"Pacaran. Ya."
"T-tapi , agensi kan-"
"Hey, selama kita tutup mulut, takkan ada yang tahu. Ini hanya tentang kau dan aku saja, tak perlu libatkan agensi. Bagaimana? Kau mau?"
Hoseok tak langsung menjawab. Ia tentu hapal peraturan yang ada di LJH ini. Trainer dilarang berpacaran. Baik itu dengan orang diluar, apalagi dengan sesama trainer begini.
Bicara tentang perasaannya. Hoseok harus mengakui, ia mulai menyukai Yoongi. Anak itu setiap hari berada didekatnya bagaikan tertempel lem. Berlatih bersama, makan bersama, bahkan tidur dikamar yang sama.
Dusta sekali jika dia bilang tak merasakan apa-apa pada Yoongi.
Tapi, 'rasa' nya pada Yoongi sama besar dengan patuh dan takutnya pada peraturan agensi ini. Jadi-
...dia tak bisa langsung menjawab.
"..."
Yoongi mengerti apa yang Hoseok pikirkan. Jadi dia mendekat satu langkah, lalu memegang kedua bahu Hoseok dengan lembut.
"Tak usah takut. Bukankah kita janji akan debut bersama? Sampai saatnya nanti, kita pasti bisa menjalani ini walau hanya berdua yang tahu. Jung Hoseok, jadilah kekasihku."
Yoongi meminta dengan serius. Lagi-lagi Hoseok tak bisa mengeluarkan suaranya. Dia hanya menatap Yoongi dengan diam. Mencari keseriusan dari kedua matanya.
"Kau mau?" Yoongi kembali mengajukan pertanyaan. Dan kali ini, dengan hati yang yakin, Hoseok mengangguk. Setuju.
Melihat itu membuat Yoongi tersenyum.
Selayaknya adegan dalam drama, atau jalan cerita dalam novel-novel romansa, Yoongi menghilangkan jarak diantara mereka. Dalam sekejap, mereka tak lagi dipisahkan jarak satu centi pun. Tubuh dan bibir bertaut, hening. Terbawa suasana.
Yang mereka tahu, tak ada satu orangpun menyaksikan apa yang mereka lakukan. Tapi fakta bahwa banyak saksi bisu disini, mestinya harus mereka terima. Selain Tuhan, langit, udara, gemerlap lampu kota Seoul, dan juga-
-'kalung milik Hoseok' yang sempat terjatuh tanpa mereka sadari.
.
.
.
.
"Ngh~ Cukup Yoongi-a..."
Hoseok mendorong tubuh Yoongi yang menghimpitnya didinding dekat wastafel ini. Demi Tuhan, kekasihnya ini sangat pervert dan tak tahu waktu. Bibirnya selalu saja jadi korban secara tiba-tiba. Seolah lupa jika mereka harus merahasiakan hubungan ini rapat-rapat.
Ah, bicara tentang itu. Kurang lebih sudah satu tahun berlalu sejak Yoongi menyatakan perasaannya pada Hoseok diatas gedung malam itu. Sudah satu tahun pula, keduanya berhasil menjalani hubungan tanpa tercium pihak manapun.
Tetap berlatih setiap hari dengan serius. Mengejar target debut bersama yang mereka impi-impikan.
Dan itu berhasil!
Siang tadi, Yoongi, Hoseok, serta tiga trainer lain dipanggil menghadap CEO Lee JaeHwan. Kelimanya diberi tahu bahwa mereka akan dipersiapkan untuk proyek debut sebuah grup band. Tak mengejutkan. Min Yoongi, Jung Hoseok, Yoon Dowoon, dan Kwon Mina memang termasuk trainers yang paling menonjol dalam bermain alat musik. Dan Jung Wheein, dengan suara khasnya itu dipercaya menjadi vocalist nantinya.
Sudah tentu, Yoongi dan Hoseok amat senang mengetahui hal ini. Dua setengah tahun menunggu (bagi Hoseok), dan dua tahun menanti (bagi Yoongi), akhirnya terjawab semua kerja keras mereka selama itu. Tak tanggung-tanggung, keduanya bahkan ditempatkan dalam grup yang sama seperti yang sering mereka harapkan.
Jadilah, setelah keluar dari ruangan CEO, Yoongi segera menarik Hoseok memisahkan diri dari yang lain. Alasannya, mereka ingin ke toilet sebentar. Benar, memang benar keduanya pergi ke toilet. Tapi melihat suasana begitu sepi membuat Yoongi yang pervert itu tak segan-segan mencium kekasihnya.
"Kau ini selalu saja mencuri-curi kesempatan!" Keluh Hoseok setelah tautan keduanya terlepas. Yoongi lantas tertawa kecil.
"Karena kau menggemaskan."
"Tapi bagaimana jika dilihat orang? Ck. menyingkir sana!" Hoseok berdecak kesal, lalu beralih membasuh wajahnya. Yoongi hanya memperhatikan, lalu naik dan duduk dibagian samping wastafel. membelakangi cermin, menatap sang kekasih sambil menopang dagu.
"J-Hope." ucapnya tiba-tiba. Hoseok hanya meliriknya sekilas, lalu menatap pantulan dirinya dari cermin seraya mengeringkan wajah dengan tissue.
"J-Hope..." Yoongi mengulang, bahkan hingga lebih dari tiga kali. membuat sang kekasih merasa sedikit risih.
"Apa sih?"
Yoongi tersenyum, "nama panggungmu keren!"
"oh, aku tahu itu. terimakasih." sahutnya cuek.
"aku yang mengusulkan nama itu pada Jaehwan Sajangnim, omong-omong."
Ungkapan Yoongi mau tak mau membuat gerakan Hoseok terhenti "ha?". dia kebingungan.
Yoongi tertawa. Ia memang belum sempat mengobrol soal ini dengan pacarnya. "Selesaikan kegiatanmu itu, sini, berdiri didepanku." instruksinya. Dan Hoseok menurut. Ia membuang tissue bekas mengeringkan wajah itu ke tempat sampah terdekat, lantas berdiri didepan Yoongi yang masih duduk ditempatnya.
"Jadi...apa maksudmu tadi? kau mengusulkan nama pada Jaehwan sajangnim?"
Yoongi mengangguk. Ia mendongak menatap Hoseok, namun tangannya diam-diam bergerak menuju pinggang kekasihnya itu.
"Kenapa?" Hoseok bertanya lagi "...dan...apa artinya itu? J-Hope?"
"J," kini tangan itu sampai ditujuan "...J untuk namamu. Jung Hoseok." ungkapnya. dilihatnya Hoseok diam tak menyela. ia bahkan tak protes saat tangan Yoongi sudah melingkar sempurna di pinggangnya "Dan Hope, untuk harapan. sederhana saja, J-Hope. Jung Hoseok adalah harapan. Harapanku, penyemangatku, segalanya."
Hoseok berkedip, menatap Yoongi dengan begitu lekat.
"Aigoo, telingamu memerah! kau tersipu ya?!" goda Yoongi, kemudian ia dihadiahi sebuah jitakan didahi "Ash!" dia meringis.
"Tersipu apanya! kau mengusulkan nama semacam itu pada Jaehwan sajangnim? nekat sekali, bagaimana kalau dia curiga?! menggombal itu ada batasnya Yoongi-a!" Omel Hoseok
"Tapi kau suka kan, Hobi?"
"Panggilan macam apa lagi itu?"
"Panggilan sayangku yang baru, tentu saja! jadi bagaimana? kau suka tidak?"
Hoseok tak langsung menjawab. meski dalam hatinya ia tak mampu memungkiri, dirinya terenyuh dengan aksi Yoongi. Debut dengan nama panggung pemberian kekasihmu sendiri? Whoa, Hoseok menyukainya. Sangat menyukainya.
Namun sayang, Hoseok tak terbiasa mengungkapkan apa yang ia rasa secara gamblang didepan kekasihnya. Sejauh ini, Hoseok selalu jadi pihak yang pasif diantara mereka. Tsundere, begitu Yoongi menyebutnya.
"Hobi?"
"Tsk, terserahmu ah! lepas, aku mau-Astaga Tuhan!kau ngapain sih?!" ia memekik terkejut sebab Yoongi tiba-tiba menariknya lebih dekat, bahkan kini menubrukkan wajah ke perutnya."Min Yoongi!"
"Siapa Min Yoongi? Aku akan menjadi Min Suga setelah ini, kau lupa, J-Hope?"
Hoseok terkekeh mengejek.
"Mau Min Suga, Min Coffe, atau Min Min yang lain. Toh kekasihku kan tetap Min Yoongi? Yang berubah hanya namamu, gummy smile mesum!"
Yoongi hanya tertawa kecil mendengarnya, lalu menjauhkan wajah dari perut itu dan kembali mendongak kearah Hoseok.
"Hobi,"
"Hm," Hoseok menyahut malas,
"Kita- astaga kita akan debut!" katanya antusias "...kau senang?" tanyanya kemudian.
"Dasar bodoh! Untuk apa kau bertanya sesuatu yang sudah kau tahu jawabannya? Tentu saja."
"kkk~ kalau begitu sama. Segala kerja keras kita terbayar. Dan kita akan debut dipanggung yang sama, Hoseokkie. Kau harus bertukar perasaan denganku sepertinya."
Hoseok menautkan dahi tak mengerti.
"Maksudmu?"
"Hm, agar kau tahu seberapa besar perasaan bahagiaku sekarang."
"Ya Tuhan~ kau ini." Hoseok tak bisa lagi menahan senyumnya "iya iya, aku tahu kau bahagia. sangat bahagia. Selamat atas debutmu, Leader Min." kali ini ia serius mengatakannya.
Yoongi semakin sumringah dibuatnya "Sini sini, menunduk!"
Senyum itu perlahan lenyap "Mau apa?"
"menunduklah Hobiiii~ Palli,Palli! sebelum ada orang lain masuk kesini, ayolah!"
Hoseok menatap dengan curiga, kali ini apa lagi yang akan dilakukan kekasihnya?
"mau apa sih-YAH!" belum sempat ia menuruti permintaan itu, Yoongi sudah membuatnya menunduk secara paksa. "Min Yoongi! lepas-yaampun perhatikan tanganmu, kau menyentuh apa?! keluarkan tanganmu dari kaosku Yoongi!" lagi-lagi ia dibuat menjerit tertahan, sebab tangan Yoongi dipinggangnya mulai meraba area yang tak seharusnya. tak berhenti disitu, bibir tipis namja itu kini mulai menjelajahi lehernya.
Tangan Hoseok tertumpu dibahu Yoongi, mencoba mendorongnya. namun semakin ia berontak, semakin Yoongi melunjak. Lidahnya kini ikut berulah.
"Yoongi! bagaimana-uh-kalau ada yang lihat? Yoon! lepas tidak?!"
Namun Yoongi tak perduli "Kita harus merayakan ini, Hobi." gumamnya tak jelas.
"Iya tapi-tidak disini juga-ah! Yoongi! kubilang lep-mph!"
Pada akhirnya Hoseok kalah. Sebab yang ia dapati malah rahangnya dicengkram lantas bibirnya kembali dipagut oleh sang kekasih.
Dan keduanya berakhir saling memagut satu sama lain.
Hari yang indah, membuat mereka terhanyut. Terlalu terhanyut hingga tak menyadari seseorang di balik bilik toilet mencuri dengar segalanya.
.
.
.
.
Satu bulan menjelang debutnya.
Secara tiba-tiba, Hoseok mendapat panggilan dari sang CEO, Lee JaeHwan. Yoongi tidak tahu hal itu, karena Namjoon, calon manager mereka memberitahu secara sembunyi-sembunyi. Lagipula, selesai berlatih malam ini, anak itu dalam sekejap menghilang bersama Kwon Mina entah kemana.
Entahlah, semenjak dibentuk untuk menjadi grup Band yang rencananya akan diberi nama ROCKMANTIC itu, Hoseok dan Yoongi sudah tak selengket biasanya. Apalagi sejak Yoongi ditunjuk untuk menjadi leader, dia jadi lebih mengatur kedekatannya dengan semua anggota. Terlebih pada sang bassist, Kwon Mina. Mina adalah gadis blasteran Korea-Jepang yang memiliki periode trainee paling sebentar dan masih membutuhkan banyak bantuan, terlebih dalam hal berkomunikasi.
Mungkin itulah sebabnya, sedikit banyak Yoongi lebih memperhatikan anak itu.
Jika boleh jujur, Hoseok sedikit merasa aneh.
Dia sudah terbiasa dekat dengan Yoongi, selalu bersama kesana-kemari, lalu sekarang ia harus 'berbagi'. dan itu rasanya sedikit tak enak. Tapi Hoseok tahu dia tak boleh kekanakkan, dan harus menganggap sikap Yoongi itu sebagai bagian dari keprofesionalannya.
Seperti malam ini, walau sedikit gugup dan butuh dukungan dari Yoongi, Hoseok tetap berjalan menuju ruangan CEO nya seorang diri. Takkan terjadi apa-apa, yakin Hoseok dalam hati.
Dan, disinilah Hoseok sekarang. Duduk berhadapan dengan Lee JaeHwan. Terbalut suasana yang...tegang? Uh, Hoseok mau tak mau menyimpulkan begitu.
Lee Jaehwan tersenyum menyambutnya, tapi entah kenapa Hoseok merasa senyumnya itu berbeda.
"Jung Hoseok..." panggil Jaehwan yang entah tengah menulis apa pada selembar kertas.
"Ya, Sajangnim." Hoseok menjawab sambil menatap Sajangnimnya itu dengan takut-takut.
Jaehwan mengangkat wajahnya, membalas tatapan Hoseok
"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu." Ungkapnya masih sambil tersenyum. Ia pun menyodorkan kertasnya ke dekat Hoseok.
Alis Hoseok saling bertaut membaca tulisan tangan Jaehwan itu.
Jung Hoseok (...)
Min Yoongi (...)
Sebuah perasaan tak enak menyelinap dalam hatinya. Entah, tulisan itu begitu ambigu, tapi Hoseok merasakan sesuatu yang tak beres disini.
"Sajangnim...apa i-"
"Pilih saja, kau atau Min Yoongi yang akan hengkang dari agensiku?"
"Ya?!" Kali ini Hoseok tak dapat menyembunyikan pekikan terkejutnya "...a-apa maksud anda, Sajangnim ?"
Seketika air muka Jaehwan berubah. Senyumnya menghilang, berganti dengan ketegasan yang menakutkan. Setiap suara yang ia keluarkan penuh dengan intimidasi, tuntutan, serta kekecewaan.
"Kau dan Min Yoongi adalah dua dari sekian banyak trainer berbakat yang aku jumpai. Aku beruntung bisa melatih orang-orang seperti kalian. Mendebutkan kalian dalam satu panggung, sudah ku perkirakan dan kurencanakan sejak jauh-jauh hari. Aku membentuk proyek Band pertamaku dengan serius, dan begitu mempercayai jika kalian bisa membuat ini berhasil. Tapi, baru satu langkah saja ternyata kalian sudah berani menghilangkan kepercayaanku."
"S-saja-"
"Larangan berpacaran yang kubuat bukanlah sesuatu yang bisa kalian anggap remeh dan akhirnya kalian langgar. Berdasar dari ini, aku bisa melihat seberapa serius kalian terhadap perusahaanku. Seorang idol terkadang melunjak jika sudah debut dan meraih kesuksesan. Karena itu, aku menguji kalian semua dari hal yang paling kecil." Lelaki itu menjeda sejenak, "JANGAN BERPACARAN SAMPAI BATAS WAKTU YANG KU TENTUKAN! ITU SAJA! APA SUSAHNYA?!"
Hoseok cukup tersentak mendapat bentakkan keras dari Lee Jaehwan. Tak ayal seluruh tubuhnya gemetar. Ia menunduk, menatap kesepuluh jarinya yang bertaut. Sedangkan pikirannya menerka-nerka. Darimana CEO nya ini tahu tentang hubungannya dengan Yoongi?
Sementara itu, Jaehwan tengah berusaha mengontrol emosinya sesaat setelah berteriak pada salah satu trainer kebanggannya ini.
"Seseorang berkata padaku, memergoki kalian saling mencumbu. Bukan hanya satu kali. Tapi berkali-kali itu terjadi. Aku masih tidak mau mempercayai hal itu hingga ia membawa bukti rekam suara kalian berdua. Dan saat itu aku seperti mendapatkan tamparan keras dipipiku sendiri. Aku, telah dibohongi oleh dua orang yang hampir aku debutkan sebentar lagi. Lalu kelak, akan melunjak setinggi apa saat mereka telah sukses nanti ?"
"..."
"Hoseok? Jung Hoseok? J-Hope? Sudah berapa lama kau menghianati peraturanku? Sudah berapa lama kau dan Min Yoongi menjalani hubungan ini?"
"Sajangnim, saya bisa menjelaskan-"
"Ya, jelaskan saja lewat tulisan. Berikan tanda pada nama yang kau anggap pantas untuk hengkang dari sini. Dirimu, atau Min Yoongi, kekasihmu?"
Hoseok membeku. Tak berkedip. Hancur sudah. Ia dan Yoongi, satu diantara mereka harus kehilangan mimpi yang sudah berada didepan mata. Resiko dari perbuatan keduanya.
Sesak dalam hatinya, karena disaat seperti ini hanya ia seorang diri yang menghadapi tanpa Yoongi disampingnya.
Matanya sudah berkabut dan siap menumpahkan butir airnya sebentar lagi.
"Sajangnim , haruskah seperti ini ? Saya...tidak bisa. Saya-"
"Bisa. Jika melanggar aturanku saja kau sanggup, maka menanggung resikonya pun kau harus mampu. Kau tahu aturan ini sejak jauh-jauh hari, harusnya kau juga sudah mempersiapkan akibatnya sejak saat kau mulai melanggarnya. Aku tidak bisa menerbitkan penghianat. Dan kau seharusnya bersyukur karena aku masih mau memungut satu diantara kalian. Aku takkan meminta denda sepeserpun. Jadi silahkan pilih. Kau atau Min Yoongi yang akan mundur?!"
Hoseok benar-benar bingung ditempatnya. Ini pilihan sulit.
Satu sisi, dia amat bermimpi untuk debut sebagai idol. Rela dilatih dua setengah tahun, lalu segalanya harus terbuang semudah ini hanya karena-
Oh, benar ini memang salahnya.
Tapi, tidak adakah kesempatan lagi?
Disisi lain, jika ia egois dan memilih Yoongi untuk hengkang, Hoseok tak sanggup juga.
Percakapannya dengan Yoongi berbulan-bulan lalu masih terngiang ditelinga. Tentang bagaimana kekasihnya itu sangat ingin membuktikan impiannya pada keluarga, dan juga-
Ya Tuhan. Ini benar-benar membuat Hoseok seperti diujung tanduk. Ia tak tahu. Rasanya tak mau berpikir. Dia tak mau diberi pilihan seperti ini!
Min Yoongi, aku membutuhkanmu! Jeritnya dalam hati.
"Aku disini bukan untuk menunggumu melamun Jung Hoseok. cepat tulis keputusanmu!"
Suara Jaehwan menariknya lagi pada kenyataan. Ia mau tak mau harus segera mengambil keputusan.
"B-baik, Sajangnim..."
Dengan tangan bergetar, ia raih bolpoint dimeja untuk kemudian memberi tanda ceklis pada-
Namanya sendiri.
Setelah itu, dengan berat hati ia berkata;
"Saya yang pergi. Tapi, saya mohon Sajangnim. Biarkan Yoongi debut seperti seharusnya. Buat dia sukses seperti impiannya. Jangan menyulitkannya karena hal ini. Saya meminta dengan hormat, Sajangnim."
Dan airmatanya sukses menetes, lalu tumpah membasahi kertas tipis itu.
.
.
.
Hoseok bukan anak kecil lagi. Ia rasa pikirannya sudah cukup dewasa kini. Gertakkan tadi seolah menjadi satu peringatan keras baginya. Dia ikhlas menerima. Tak apa, gagal debut tak akan membuatnya pulang dalam keadaan dimarahi. Keluarganya mendukung apa yang ia lakukan. Ayahnya takkan marah hanya karena hal ini. Mungkin sudah seharusnya ia pulang dan menerima kenyataan. Jika, takdirnya memang bukan menjadi idol. Melainkan membantu ayahnya mengurus perusahaan.
Setelah menandatangani beberapa berkas, Hoseok segera keluar dari ruangan Lee Jaehwan. Terlebih dahulu berbelok menuju Toilet. Berniat membasuh wajah sembabnya agar tak terlihat Yoongi nanti.
Ditengah kegiatan membasahi wajah, ponselnya berdering. Dengan segera dia segera merogoh saku celananya. Melihat nama 'Seokjin(hyung)' dilayar, membuat Hoseok kembali sedih. Apa kakaknya itu punya firasat jika Hoseok akan pulang?
Dengan segera, ia menjawabnya.
"Ya, Halo Seok-Hey, kau kenapa ?" Hoseok mengernyitkan dahi mendengar suara Seokjin tak seperti biasanya. dia seperti...menangis?
'Hiks- Hoseok, bisakah kau pulang?'
Seketika perasaan Hoseok menjadi was-was, sama seperti saat memasuki ruangan Lee Jaehwan tadi. Apa lagi yang terjadi sekarang? Kenapa Seokjin menangis?
"Seokjin-a? Hyung? Kau kenapa?"
'Ayah-Hoseok, ayah-'
Sesuatu dalam diri Hoseok serasa berdentum keras. Perasaan tak enak itu kian bertambah.
"Jangan berbasa-basi, Kim Seokjin! Apa yang terjadi? Ayah kenapa? Bicara yang jel-"
'Ayah meninggal.'
"..."
Hening.
"A-apa?"
Suaranya bergetar. Sesaat kemudian Hoseok tertawa menyedihkan.
"Jangan bercanda hyung! Aku baru saja didepak dari agensi, dan sekarang kau berkata apa? LELUCON APA INI KIM SEOKJIN!?"
Benar, ia berharap ini hanya lelucon. Dia tidak sedang mengalami pribahasa 'Sudah jatuh tertimpa tangga' kan?
Tolong katakan ini mimpi.
Ini hanya mimpi buruk karena ia terlalu lelah. Besok ia akan terbangu, berlatih seperti biasa, memainkan keyboard kesayangannya, lalu debut sesuai rencana.
Iyakan? Katakan iya! Siapapun, tolong katakan padaku bahwa ini cuma mim-
'Ayah mengalami kecelakaan mobil bersama Jimin, Hoseok-a. Dia koma, dan ayah- ayah tak tertolong...'
BRAK! BUGH!
Ponselnya jatuh, begitupun Hoseok serta airmatanya.
"Bagaimana bisa begini?" dia terisak "tidak boleh- tidak tidak! jangan! A-Ayah...AYAH!"
Kali ini tak bisa ia tahan lagi, pecah sudah segala sesak yang ia redam. Tak perduli orang lain akan mendengar, Hoseok terus menangis, meraung memanggil ayahnya.
"Ayah, Ayah..."
.
.
.
Hoseok membuka pintu kamarnya pelan. Setelah lelah menangis bermenit-menit, ia terpaksa beranjak. Ingat akan kenyataan pahit yang lain. Dia sudah didepak. Dia harus segera enyah dari sini.
Meninggalkan teman-temannya, meninggalkan tempat yang sudah dua tahun lebih ia tempati.
Dan juga meninggalkan-
Min Yoongi.
Rasa sesak Hoseok bertambah parah begitu masuk dan melihat kekasihnya itu terlelap di ranjang miliknya. Yoongi pasti menunggu dirinya dalam lelah hingga tertidur.
Hoseok berjalan mendekati. Pelan, sangat pelan agar tak mengusik tidur Yoongi. Dia hapal sekali jika kekasihnya sangat benci diganggu kala terlelap. Menarik selimutnya agar sang kekasih tak kedinginan. Min Yoongi itu selalu saja melupakan selimutnya jika tidur. Kelak, jika Hoseok pergi, bagaimana?
Uh, cukup. Hoseok tak mau menangis lagi.
Dia segera beranjak mengambil tasnya, lalu mengemas semua pakaian dari lemari kecilnya. Berkali-kali Hoseok menarik nafasnya dengan sulit. Airmatanya mendesak ingin keluar, tapi dia tak mau menangis disini. Perasaannya berkecamuk tak terkendali.
Dia pergi meninggalkan mimpinya dan juga Yoongi, untuk kemudian pulang melihat adiknya dalam keadaan koma, serta sang ayah yang telah tiada.
Dan yang terjadi adalah, Hoseok memukul-mukul pelan dadanya sendiri. Menghalau sesak yang ada.
"Hiks-"
Satu isakkan lolos, membuat Hoseok dengan cepat mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
Setelah selesai mengemasi semua barangnya, Hoseok kembali mendekati Yoongi. Dalam hati menimbang-nimbang. Haruskah ia berpamitan?
Yoongi lelah, Hoseok tahu itu. Dia nampak sangat pulas dalam tidurnya dan itu membuat Hoseok tak tega membangunkanya. Pada akhirnya, ia hanya bisa menundukan badanya, lalu mengecup singkat dahi kekasihnya itu.
'Kau harus debut dan sukses, Min Yoongi. Tunjukkan pada keluargamu jika mimpimu berguna. Dan tunjukkan padaku betapa hebatnya kekasihku ini. Kelak, buat aku merasa jika apa yang ku putuskan ini benar. Bila tempat ini tak merestui kita berdua, maka aku akan menunggumu kembali diluar sana, sayang...'
Sosok yang terluka itu kemudian benar-benar pergi, bersiap menghadapi luka yang lain.
Entah sudah berapa lama Hoseok bersimpuh disini, disamping tempat penghormatan terakhir jasad sang ayah yang ada di Rumah Sakit ini. Pakaian yang ia kenakan sudah berganti menjadi setelan serba hitam. Pertanda betapa berkabungnya suasana disini. Sejak semalam datang, ia sama sekali tak beranjak dari sana. Bahkan untuk sekedar berdiri pun ia sudah tak memiliki tenaga. Semuanya terkuras habis lewat tangisan yang tak kunjung berhenti.
Hari sudah menjelang pagi dan pelayat yang lain mulai berdatangan. Kebanyakan dari mereka adalah kolega kerja keluarganya.
Sang kakek dan nenek dari Amerika pun sudah lebih dulu datang sebelum Hoseok. Namun Hoseok sama sekali tak terusik ataupun melirik. Dia hanya menunduk, dengan isakkan yang sesekali terdengar. Karena setiap ia mengadahkan kepala dan menatap foto ayahnya, tangisan itu akan meledak kembali.
Seokjin berdiri disampingnya dengan ekspresi wajah yang tak jauh berbeda dari Hoseok. Mata sembap, dan wajah pucat. Beberapa kali ia membungkuk, mengucapkan terimakasih pada pelayat yang datang. Lalu kembali memperhatikan adiknya lagi.
Hoseok nampak sangat terpukul saat datang semalam. Ia meraung, histeris, menangis sejadi-jadinya. Segalanya terasa semakin menyedihkan saat anak itu mengadu pada Seokjin bahwa dia baru saja didepak dari agensinya. Membuat adiknya itu menangis begitu banyak seperti akan menghabiskan seluruh airmata dan suaranya.
Namun meski begitu, Seokjin serta kakek dan neneknya tak bisa berbuat apa-apa. Mereka tahu betapa kacaunya perasaan Hoseok saat ini, jadi mereka membiarkan anak itu menangis semaunya.
Untunglah kini raungan itu tak lagi terdengar, tinggal isakkan demi isakkan kecil yang tersisa.
"Hoseok-a," Seokjin duduk bersimpuh disamping Hoseok, lalu menepuk pelan bahu adiknya "...kau butuh istirahat. Mau kuantar ke ruangan lain? Tidurlah sebentar sebelum pemakaman nanti. Atau-"
"Kita kehilangan lagi Seokjin..." Ucap Hoseok parau, namun masih terdengar oleh namja disampingnya. "Kita yatim piatu lagi..." lanjutnya dengan sedih.
Seokjin bisa melihat satu airmata menetes ke lantai. Ia mengangguk paham. Dia juga sama sedihnya. Tapi dia harus sadar posisinya sebagai anak sulung disini, mau tak mau ia harus lebih tegar.
"Hm. Aku tahu Hoseok-a. Sudah begini takdir kita. Ikhlaskan saja-"
"Bagaimana bisa-" dia tercekat "...Bagaimana bisa aku menerima begitu saja Seokjin-a" Hoseok bicara dengan tatapan kosongnya"...aku belum bisa membalas semua kebaikan ayah ibu Park. Kenapa ayah menyusul ibu secepat ini? Kenapa Tuhan selalu mengambil orangtua kita? Kenapa- hiks..."
Hoseok tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ia kembali tenggelam dalam tangisan. Dan Seokjin hanya bisa merangkulnya dalam kehangatan sambil menahan airmatanya sendiri.
"Sudahlah, Hoseok. Kau menangis hingga airmatamu habis pun takkan bisa mengembalikan mereka. Jadi terima saja semua ini, karena kau tak sendirian. Masih ada aku, dan semua keluarga kita." Tutur Seokjin menasehati, dan Hoseok berusaha membalas ditengah tangisannya.
"A-aku- aku bahkan tak ada disamping...a-ayah saat dia-"
"Tak apa, Hoseok-a, tak apa. Ayah hanya meminta kita melanjutkan hidup dengan baik. Dan menjaga adik kita. Kau harus ingat, Jimin masih belum membuka mata hingga sekarang. Jadi, jika kau ingin membalas semua kebaikan ayah dan ibu Park, mari berjuang bersamaku untuk menjaga Jimin dengan baik. sesuai harapan ayah."
"..."
Tangisan Hoseok tiba-tiba terhenti. Mendengar nama Jimin membuatnya teringat lagi cerita Seokjin semalam. Tentang kecelakaan mobil yang kini merenggut nyawa ayahnya dan membuat adiknya koma.
Adiknya...
Park Jimin.
Anak itu ada bersama ayahnya saat kejadian. Seketika pikiran kalutnya menyimpulkan sesuatu.
Adiknya itulah yang menyebabkan semua ini terjadi.
Ia mengadahkan kepala lalu mengedarkan pandangan ke sekitar. tak ada siapa-siapa.
"Benar. Mana anak itu...?"
"Hoseok?" Seokjin nampak heran melihat perubahan Hoseok yang tiba-tiba itu.
"Park Jimin. tak cukup membuat kita kehilangan ibu, sekarang dia juga membuat kita menjadi yatim piatu." Desisnya penuh penekanan. Seokjin pun melepaskan rangkulannya, lalu menatap Hoseok dengan alis bertaut.
"Apa yang kau bicarakan, Jung Hoseok?"
"Kemana dia? Kenapa malah terlelap tidur disaat seperti ini?! Panggil dia kemari. Suruh dia bertanggung jawab! Panggil dia!"
"..."
"Kim Seokjin, panggil anak itu!" Ia menatap tajam pada Seokjin, membuat hyungnya itu tergagap.
"K-kau-"
"PARK JIMIN! BANGUNLAH!"
"Jung Hoseok!"
"HIDUPKAN AYAH DAN IBUKU LAGI! PARK JIMIN!"
"JUNG HOSEOK!"
"CEPAT PANGGIL DIA! SURUH DIA BANGUN DAN KEMARI! ANAK ITU SUDAH MEMBUNUH AYAH DAN IBU, SEOKJIN! PANGGIL ANAK PEMBAWA SIAL ITU KEMA-"
PLAK!
Seokjin tanpa sadar menampar anak itu dengan begitu keras. Kenapa Hoseok bertingkah seperti orang tak waras begini? Apa dia terlalu sedih hingga hilang kendali?
"Sadarlah Jung Hoseok..." Seokjin memperingati dengan nafas memburu. Sementara Hoseok masih memalingkan wajahnya setelah mendapat tamparan itu. Ia sama sekali tak mengubah posisi. "...Kau harus sadar siapa kita disini. Aku tahu kau bersedih. Tapi apa yang kau ucapkan tadi, sama sekali tak pantas keluar dari mulutmu. Jika keluarga Park mendengarnya, kita akan merasa sangat malu." Lanjut Seokjin kemudian.
Ia cukup merasa bersyukur karena saat Hoseok hilang kendali tadi, disana sama sekali tak ada pelayat yang datang. Pun, kakek dan nenek serta bibi Lee yang tengah melihat Jimin dilantai atas sana.
"Berhenti menganggap ibu meninggal karena Jimin. Anak itu bahkan tak pernah merasa sentuhan ibu Park sejak lahir. Sedangkan kita? Kita mendapatkannya Hoseok! Ini sudah nyaris dua puluh tahun, kenapa kau mengungkitnya lagi?!"
"..."
"Dan juga Ayah. Ayah meninggal bukan karena Jimin. Dia ada dimobil itu, bukan berarti dia penyebab semuanya. Anak itu bahkan sekarang masih berjuang melawan maut disana! Mana bisa kau menyimpulkan hal seperti itu?!"
"..."
"Buang, Jung Hoseok! Buanglah pikiran kalut dan kekanakkan mu! Ingatlah semua kebaikan keluarga Park terhadap kita selama ini. Kita takkan bisa sejauh ini tanpa mereka, kau harus ingat itu selamanya! Tugas kita sekarang hanya tinggal menjaga Jimin, itu saja. Jadi kuminta padamu, Jung Hoseok." Seokjin meraih rahang Hoseok, meminta namja itu agar menatapnya. setelah itu ia bingkai wajah Hoseok dengan tangannya "Hoseok-a? Kau dengar aku?"
"..." Sang adik tak bersuara
"Aku berbicara sebagai seorang sulung sekaligus sahabat kecil padamu. Bantu aku menjaga Jimin. Bantu aku menjaga putra Ayah dan Ibu Park dengan baik seperti permintaan mereka. Kau harus menurut, agar kau tak menyesal Hoseok-a. aku memperingatkanmu!" Seokjin meminta dengan sungguh hati, sedetik kemudian airmatanya menetes.
Tanpa mereka ketahui, Lee Shin Ae sedari tadi berdiri di pintu masuk. Posisi Seokjin membelakangi, sedangkan Hoseok terhalang olehnya, membuat mereka berdua tidak tahu jika bibinya itu mendengar semua perkataan bahkan teriakkan Hoseok.
Namun wanita itu bersikap biasa saja, lalu masuk.
"Kim Seokjin, Jung Hoseok," panggilnya yang kini tengah berdiri didekat mereka.
Seokjin tersentak. ia turunkan tangannya dari wajah Hoseok, dan secepat mungkin menghapus airmatanya sendiri. Kemudian ia berdiri dan membungkuk.
"Ya, bibi..."
Lain dengan Hoseok yang masih terduduk tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Bibi Lee menghela nafas sejenak, lalu menatap foto mendiang kakaknya.
"Jimin-ku sudah melewati masa kritis ..." Ungkapnya, yang spontan membuat pupil mata Seokjin dan Hoseok melebar.
"Benarkah?"
"Hm. Tapi dia masih belum sadar. Dan kalian berdua dipanggil Aboji sekarang. Naiklah ke lantai atas." Lanjut bibi Lee memberi informasi.
Seokjin mengangguk paham, lalu membantu Hoseok berdiri.
Keduanya pun pergi , meninggalkan Lee Shin Ae yang masih menatap foto kakaknya itu.
"Kenapa bisa begini...oppa...?"
.
.
.
.
Setelah pemakaman ayahnya berakhir, Hoseok pulang dan mengurung diri dikamar berhari-hari. Ia tak perduli keluarga yang lain masih berada di Rumah Sakit untuk menemani Jimin. Pun panggilan para pelayan dari luar kamarnya.
Ia butuh ketenangan sekarang.
Nomor ponsel Yoongi sulit di hubungi, dan Hoseok tambah dibuat frustasi karenanya. Dia tahu Yoongi pasti sibuk berlatih. Tapi dia benar-benar butuh bercerita . Berada didekat Yoongi selama dua tahun telah membuatnya cukup ketergantungan.
Selain itu, Hoseok ingin meminta maaf karena tak sempat berpamitan padanya malam itu. Ia terlalu kalut hingga tak terpikir untuk meninggalkan pesan di secarik kertas atau sejenisnya.
"Yoongi-a, angkatlah..." bisiknya kesekian kali.
Namun tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan pesan masuk.
From: Seokjin(hyung)
Hoseokkie, cepatlah kemari! Jimini sudah sadar.
Hoseok tak berkedip. Saat itu juga perasaan kesalnya kian memuncak. Lantas, pikiran jahat dan kekanakkannya kembali menyeruak.
"Kenapa kau tak mati saja..."
.
.
.
.
.
Sepuluh hari setelah Jimin dikabarkan sadar (atau dua minggu Setelah kematian ayahnya), ia diizinkan pulang kembali ke rumah. Rupanya, rasa kesal Hoseok tak berangsur membaik. Dia malah bertingkah semakin dingin, sangat jauh dari Hoseok yang sebelumnya. Bahkan saat melihat anak itu belum mampu berjalan dan masih terduduk di kursi roda, Hoseok sama sekali tak merasa perduli. Mengeluarkan suara untuk menyambut pun tidak.
Dia tidak tahu jika adiknya itu merasa terheran-heran. Pertama, kenapa kakaknya ada dirumah. bukan ditempat trainee? Kedua, ada apa dengan sikap dingin kakaknya itu? Apa ada sesuatu yang salah telah dia lakukan?
Hoseok mengekspresikan rasa kehilangannya dengan begitu berlebihan, seolah hanya dia anak sang ayah. Dia tak menyadari, bahwa Jimin jauh lebih terluka darinya.
Malam setelah Jimin pulang, Kakek Park mengadakan sebuah pertemuan internal keluarga. Semuanya dikumpulkan di satu ruangan. Ada paman Park selaku putra pertama, beserta istri dan salah seorang putrinya, Sandara Park. Dan tentu saja bibi Lee, si putri bungsu kakek Park, beserta Suami dan putranya, Lee Donghyuck.
Seokjin dan Hoseok tak perlu ditanyakan lagi.
Semuanya hadir, tidak terkecuali Jimin yang masih duduk di kursi roda itu. Bibi Lee dengan setia membantunya ini itu tanpa merasa direpotkan, dan itu membuat mata Hoseok sakit kala melihatnya.
'Whoah, betapa berharganya si bungsu yang lolos dari maut itu...'
Suasana hangat terganti menjadi sedikit tegang, manakala Kakek Park mengumumkan perihal siapa yang akan menggantikan posisi pemimpin perusahaan setelah salah satu putranya meninggal kini. Selain terkejut karena pengumuman yang terburu-buru (mengingat mereka masih dalam suasana berkabung), semua juga dibuat tak percaya karena nama pengganti yang disebut Kakek Park adalah-
...Jung Hoseok.
Semua spontan menoleh pada objek yang justru tengah memasang raut wajah biasa saja. Tentu, sebab Hoseok -serta Seokjin- sudah tahu hal ini bahkan sebelum jasad ayah mereka dimakamkan.
Jadi yang Hoseok lakukan kini hanya menurut atas perintah kakeknya, dan menyatakan kesiapannya memimpin perusahaan menggantikan sang ayah.
Dari tempatnya duduk kini, ia bisa melihat bagaimana bibi Lee menggaungkan protes halusnya. mempertanyakan bagaimana nasib Jimin? Kenapa ia tak diberi satu jabatan pun sedangkan Hoseok dan Seokjin mendapatkannya?
Meski dengan cara bicara yang halus, wanita itu nampak sekali tak terimanya jika Hoseok mendapat jabatan tersebut.
Hoseok tak kaget dengan reaksi semacam ini, karena ada hal lain yang membuatnya terkejut setengah mati sekarang.
Yaitu pengumuman lain dari Kakek Park, perihal nasib Park Jimin.
"Jimin akan membantu dengan cara lain. Dia tidak harus turun langsung ke perusahaan. Tapi...dia akan ku jodohkan dengan seseorang."
"Apa...?"
Selanjutnya kakek Park menuturkan tentang sebuah perusahaan milik sahabat putranya, yang belakangan mengalami sedikit masalah dan kebetulan ia bantu. Kakek Park berujar, jika ia ingin lebih mengeratkan kerja sama dengan perusahaan itu dengan cara, menjodohkan Jimin dengan putra bungsu dari sana.
Awalnya, Hoseok tidak tertarik mendengar penjelasan semacam ini. Perjodohan karena hutang budi? Klise, kolot, pikirnya dalam hati. Jika dia jadi Jimin, dia akan menolak mentah-mentah.
Namun begitu kakek Park menyebutkan nama seseorang itu, Hoseok mau tak mau harus merasa dongkol juga.
"Min Yoongi, putra bungsu pemilik Min Corp."
.
.
.
.
.
Jika ada orang bilang, Dunia begitu sempit, maka Hoseok akan membenarkannya. Berkaca pada dirinya dan Yoongi sekarang. Awalnya Hoseok masih memberi sugesti pada dirinya sendiri jika mungkin Min Yoongi yang dimaksud kakek adalah Yoongi yang lain. Bukan kekasihnya.
Namun saat malam pertunangan digelar, ia harus menelan pil pahitnya manakala melihat calon tunangan Jimin itu.
Dia-benar-benar-Min Yoongi,
Kekasihnya.
Tak ada hal lain yang bisa Hoseok lakukan selain menyaksikan proses pertunangan ini dengan wajah datar. Ia melihat dengan matanya sendiri saat Yoongi melingkarkan cincin di jari Jimin, begitupun sebaliknya. Menatap dengan jelas saat Yoongi mencium dahi Jimin yang kini telah berstatus tunangannya itu.
Tragis.
Betapa tragisnya ini.
Benar-benar tragis hingga Hoseok tak mampu mendeskripsikannya dengan kata-kata. Sulit. Sesulit ia harus memasang senyumnya kala sang Kakek mengumumkan pada semua kolega perihal jabatan yang kini jatuh padanya.
Tak ada yang ingin Hoseok lakukan sekarang, selain bicara dengan Yoongi.
Ia harus bicara dengan kekasihnya itu.
Ia berlari keluar, mendapati dua makhluk dengan status baru tengah mengobrol. Jauh dari keramaian.
Ia tak tahu apa yang mereka bicarakan. lebih tepatnya tak mau tahu.
Beberapa saat mematung, akhirnya Yoongi menyadari keberadaan Hoseok dan menghampirinya. Meninggalkan Jimin seorang diri.
.
.
.
"Kenapa kau menerima pertunangan ini?"
"..."
"Kenapa kau memasangkan cincin di jarinya?"
"..."
"Kenapa kau mencium keningnya?"
"..."
"Kenapa kau melakukannya? Aku ada disana, kenapa tidak menjauh darinya?!"
"..."
"Kau tidak boleh begitu Min Yoongi! KAU KEKASIHKU!"
Hoseok menjerit, sementara Yoongi hanya menatapnya tanpa ekspresi. Ia tak tahu posisi mereka dimana. Rumah ini benar-benar luas dan megah. Yoongi dan Hoseok ada di salah satu sudut tersepinya.
"Kenapa kau diam saja? Harusnya-"
"Harusnya kau debut bersamaku. Tapi kenapa kau pergi..." akhirnya Yoongi mengeluarkan suara dengan nada datarnya, membuat Hoseok mengerjap bingung untuk sesaat "...Kenapa kau pergi?"
"..."
"KAU PIKIR APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN JUNG HOSEOK?!"
Hoseok tersentak kaget. Ini pertama kalinya seorang Min Yoongi membentaknya sekeras itu. Sorot matanya menggelap, namun Hoseok dapat melihat banyak kekecewaan disana.
"Min Yoon-"
"Membuat semua orang kelimpungan, mengacaukan keadaan, apa kau tahu betapa pentingnya debut ini untukku?! Untuk Dowoon, Wheein, dan juga Mina? Kau tahu bagaimana lelahnya kami setelah kau pergi?!"
"A-aku tahu. Aku-"
"Tidak."
Yoongi menepis tangan Hoseok yang mencoba memegang bahunya.
"Kau tidak tahu Jung Hoseok. sebab yang kau tahu hanyalah uang, uang dan uang saja."
"Apa...?"
"Bayaran sebagai member grup sangat kecil, karena itulah kau memilih keluar dari project band Lee Jaehwan sajangnim. Kau ingin jadi soloist, namun tak mau menunggu dan akhirnya memilih hengkang dari agensi, untuk kemudian menjadi...Direktur perusahaan? Oh, jelas. Jabatan setinggi itu akan membuatmu berlimpah harta lebih dari sekedar menjadi idol. Hebat! betapa mudahnya hidup seorang Jung Hoseok."
Hoseok tak berkedip ditempatnya. Menatap Yoongi dengan tak mengerti. Apa yang anak itu bicarakan? Hengkang untuk jadi soloistm Bayaran sangat kecil? What the fck is this?!
"Sebenarnya apa arti mimpi dan waktu yang kau buang di agensi selama ini? dan juga...apa arti kebersamaan kita? Jung Hoseok, Apa kau selalu menjalani sesuatu dengan bermain-main?!"
"T-tidak. Tunggu dulu, Yoongi-a. Tidak begitu, kurasa kau salah paham-"
"Benar. Aku salah paham. Mengiramu benar-benar serius bersamaku. Menganggapmu yang paling mengerti aku tanpa cacat sedikitpun. Dan ternyata aku salah. Karena nyatanya kau,"
"..."
"...kau membuatku kecewa."
Kecewa.
Satu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan keduanya. Iya. Jangan kira hanya Yoongi yang kecewa disini. Karena disisi lain, Hoseok pun merasakannya.
Dia tak tahu dan tak punya waktu untuk sekedar menebak, kesalahpahaman macam apa yang tengah terjadi sekarang? Kenapa Yoongi bisa berkata semacam itu?
Kenapa kekasihnya seolah menumpahkan segala kesalahan padanya? Belum cukupkah pengorbanan yang dia lakukan? Dia rela, hengkang dan melepas mimpinya demi Yoongi. Tapi kenapa tanggapannya malah begini?
Dia keluar, untuk menunggu Yoongi kembali. Dalam benaknya, ia bisa menjalin hubungan tanpa larangan agensi. Namun apa yang dia terima? Diluar sini dia justru harus menerima kenyataan pahit bahwa Min Yoongi, lelaki yang masih berstatus kekasihnya, lelaki yang kini ada dihadapannya, lelaki yang amat dicintainya, sudah terikat dengan orang lain. Adiknya sendiri.
"Mana bisa kau berkata begitu..." lirih Hoseok pelan, nyaris tak terdengar. "Mana bisa kau berkata begitu...?" Ulangnya, menyedihkan.
"Bisa. Sebisa kau yang dengan mudahnya meninggalkanku, melupakan janji-janji kita berdua. Aku juga bisa, Jung Hoseok."
Yoongi beranjak, hendak menyudahi pembicaraan ini sebelum Hoseok menjegal tangannya.
"Lalu bagaimana dengan hubungan kita?"
"..."
"Kita masih bersama? Atau akan berakhir begini saja? Katakan sesua-"
"Simpulkan saja semaumu." Jawab Yoongi tanpa membalikkan badannya, jadi dia tak tahu Hoseok tengah berekspresi bingung sekarang.
"Apa maksudmu...?"
"Aku takkan memvonis bagaimana kelanjutan hubungan kita. Jika kukatakan putus, kau pasti akan dengan mudahnya berpaling pada yang lain lalu melupakanku. Kali ini aku akan mengajarkanmu sesuatu."
"..."
"Kau harus tahu rasanya ditinggalkan tanpa diberi kepastian oleh orang yang kau cinta dan kau percaya. Kau akan tahu bagaimana sakit dan tersiksanya saat melihat aku dan adikmu bermesraan didepan matamu sendiri. Kita lihat saja..."
Yoongi pun melepaskan tangannya dengan kasar, lalu kembali melangkah.
"T-Tunggu, Min Yoongi!"
Dia berhenti lagi, dan kali ini menoleh.
"Siapa yang kau panggil Min Yoongi? Aku Min Suga, leader dari ROCKMANTIC, Grup band yang kau tinggalkan dengan sia-sia hanya karena uang. Aku Min Suga, akan menunjukkan padamu betapa bodohnya dirimu karena meninggalkan kami. Tunggu saja, Jung Hoseok."
Dan Min Yoongi benar-benar pergi...
.
.
.
Aku menahan diri sendiri di atas melodi yang telah berakhir ini
Katakan padaku sekarang
Bahwa ini telah berakhir, biarkan aku tahu
Dalam sekejap, kau membuat tetesan air hujan terbentuk di dekat mataku.
Tampaknya benar, bahwa cinta mekar seperti bunga sakura untuk kemudian mengkerut dengan mudahnya.
Rasanya seperti aku bermimpi,
Kita terbakar layaknya kembang api, tetapi hanya abu yang tersisa kini.
Ini adalah kesimpulan yang kau buat sendiri. Tanganmu, tubuhmu, dirimu.
Kehangatanmu yang dulu lebih panas dari khatulistiwa kini lenyap seluruhnya.
Janji yang pernah kita buat bersama, lenyap entah kemana seiring berjalannya waktu
Rangkaian domino seolah jatuh atas kekuatan putus cinta, benar begitu?
Aku terlalu menyukaimu.
Aku melihat ke belakang sekarang, terputar film antara kau dan aku
Kau yang merebut bintang dalam malamku serta mentari dalam hariku.
Pada akhirnya, hanya ada mendung yang tersisa dalam kegelapan
Ternyata itu benar. Hukum bahwa selalu ada perpisahan setiap kali ada pertemuan.
Apapun hukum itu, aku ingin menghancurkannya, berpaling pandang darinya,
terhipnotis olehmu.
SHIT!
Kita bodoh, idiot.
Bertahan pada cinta yang telah berakhir
Haruskah aku mengatakannya?
Aku masih memiliki perasaan padamu.
Sulit bagiku untuk pergi
Terkadang aku tidak dapat mencerna, mengapa bisa ini terjadi?
Perasaan di dalam diriku seakan meledak dan membuatku ingin muntah.
Dalam imajinasiku, kita bertengkar, berbaikan, lalu mengerti satu sama lain.
Gerakan tanganmu, tatapanmu telah memudar, tapi mengapa perasaan ini tak mau lenyap?
Mengapa mereka tidak mau lenyap?
Mengapa kau tak kunjung lenyap?
Biarkan aku tahu ,
Biarkan aku tahu.
Meskipun aku tahu ini telah berakhir. Karena sekarang, kau mungkin sudah tak memiliki sisa perasaan padaku.
Jadi biarkan aku tahu, biarkan aku tahu.
Cukup katakan sesuatu
Aku hanya ingin tahu...
Aku menahan diri sendiri di atas melodi yang telah berakhir ini.
Katakan padaku sekarang bahwa ini telah berakhir, biarkan aku tahu.
Biarkan aku tahu.
(방탄소년단-Let Me Know- failed trans by Lukailukai8)
Just because you're breathing, it doesn't mean you're alive.
Hoseok pernah mendengar ungkapan seperti itu dari sebuah lirik lagu. Dan kali ini ia membenarkannya. Karena iya, satu tahun lebih ini, ia bernafas namun sama sekali tak merasa hidup. Mati. Segalanya mati.
Perasaan cintanya, akal sehatnya, segalanya hilang.
Hanya tubuhnya saja yang bergerak mencari kesibukan. Pagi berangkat ke kantor untuk pulang sore atau malam harinya. Kembali ke rumah berarti ia kembali sendirian. Tanpa teman berbagi, tanpa kawan bercerita. Butir-butir kapsul menjadi candu. Botol-botol alkohol yang habis ia tenggak semalaman hanya membuatnya melayang sesaat, untuk kemudian menyisakkan mual dan muntah dipagi hari. Terus begitu, berulang-ulang, tanpa Hoseok tahu bagaimana cara menghentikannya. Dia lelah, dan sudah sampai pada ambang batas kemampuannya.
Kalau aku bernafas tanpa merasa hidup, bagaimana jika sekalian mati saja?
Itulah sebersit pemikiran yang melintas manakala Hoseok melihat pecahan kaca dihadapannya.
"Jika aku mati, akankah ini berakhir? Jika aku menghilang, akankah kau menyesal...Min Yoongi?"
Wajahnya basah, namun ia tak menampakkan ekspresi sakit sama sekali saat sisi tajam kaca perlahan menyayat kulitnya, lalu menghasilkan jejak-jejak merah pekat...
BRAK !
"DEMI TUHAN! APA YANG KAU LAKUKAN JUNG HOSEOK?!"
Sret~
trang!
Kaca itu terjatuh.
Hoseok menoleh dengan setengah sadar, lalu menemukan sosok Seokjin didepannya.
"Oh...hai Seokjin?~~ Apakah pertunjukannya sudah selesai? Uhm...mau melihat pertunjukanku?" Hoseok kembali meraih pecahan kaca yang lain,
"Kau gila!"
...namun Seokjin dengan cepat mendorongnya ke tempat tidur hingga Hoseok telentang tanpa perlawanan. Dia sudah benar-benar mabuk.
"Ya Tuhan..." Tak mau darah yang mengalir kian banyak, Seokjin pun segera mengambil kotak P3K dilemari Hoseok, lalu duduk disamping adiknya itu. Pelan-pelan membersihkan dan mengobati luka di pergelangan tangannya lantas membalutnya dengan perban. Untunglah sayatannya tidak terlalu dalam.
"Apa yang terjadi padamu sebenarnya?" Gumam Seokjin sedih, sambil terus membalutkan perban dengan telaten.
Jika tadi ia tak cepat berlari begitu mendengar suara kaca pecah, jika tadi ia tak segera mendobrak pintu dan masuk, akan seperti apa keadaan Hoseok sekarang? Bagaimana-
"Yoongi..."
Gerakkan tangan Seokjin terhenti,
"Brengsek kau Min Yoongi...kau tidak- mana boleh kau begini padaku Yoongi-a..."
...lalu beralih memandang Hoseok dengan tak mengerti.
Pikirannya kembali ke kejadian beberapa menit lalu di balkon kamar Jimin. Saat ia melihat Yoongi dan Jimin dibawah sana, lalu ekpresi terluka Hoseok diseberangnya.
"Apa yang tidak ku ketahui disini? Ceritalah Hoseok, jangan menyimpannya sendirian lalu bertindak bodoh begini..." Ujar Seokjin pelan, dan Hoseok membalasnya dengan terus menggumamkan nama Min Yoongi seraya merintih dan sesekali terisak.
Selanjutnya Seokjin hanya bisa menghembuskan nafasnya pasrah. Lalu menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Tidak. Jangan menebak apapun Kim Seokjin." bisiknya pada diri sendiri.
Entah.
Dia tahu ada yang tak beres disini.
Tapi dia tak mau sembarangan menebak dan menyimpulkan.
Jadi yang ia lakukan sekarang adalah, menyelimuti Hoseok agar adiknya itu tertidur lelap.
Setelahnya, Seokjin beralih memperhatikan sekeliling kamar Hoseok. Kaca pecah berantakan, bau alkohol menyengat.
Sudah berapa lama ia tak masuk kemari? Sejak ayah meninggal, anak ini begitu tertutup. Seokjin bahkan baru tahu dia mengoleksi banyak botol alkohol disini. Kenapa Jung Ahjumma yang selalu membersihkan tak pernah bercerita?
Kemudian ia menatap potret keluarga yang terpajang disalah satu dinding, dan seketika terkesiap melihat foto dibagian Hoseok dan Jimin retak cukup lebar. Ia menoleh pada Hoseok yang sudah benar-benar tertidur.
"Kapan kau akan memaafkannya? Apa kau tak lelah?"
Terdengar suara pintu diketuk.
Seokjin segera berjalan dan membukanya meski tak terlalu lebar. Apalagi saat melihat Jimin berdiri didepannya, Seokjin memilih keluar dan menutup rapat pintu kamar Hoseok ini. Takkan ia biarkan Jimin melihat betapa kacaunya keadaan didalam.
"Oh, Kau sudah pulang? Bagaimana acara kencan dengan Yoongi?" Tanya Seokjin berbasa-basi. Dan Jimin mengangguk, lalu seperti biasa menceritakan hal-hal menyenangkan tentang tunangannya yang sayangnya sudah Seokjin tak percayai sekarang.
"Hm. Syukurlah jika kau senang."
"Enggg- tapi...apakah Hosiki hyung baik-baik saja?" Jimin mengalihkan pembicaraan.
"Ne?"
"Tadi aku mendengar ribut-ribut sekilas, apa dia tidak apa-apa?"
Seokjin tersenyum menenangkan.
"Tidak. Sudah kau istirahat sana, pasti lelah kan seharian ini?"
"Hm. baiklah. Aku ke kamar dulu. Selamat malam, Jin Hyung."
Seokjin mengangguk, lalu sedetik kemudian ia teringat sesuatu.
"Jangan lupa minum obatmu. Jimini!"
"Neeee~" Jimin menyahuti sambil berjalan menjauh.
Seokjin mengamati Jimin hingga dia masuk kekamarnya.
"Seberapa banyak hal baik tentang Min Yoongi yang kau umbarkan, akan sulit bagiku untuk mempercayainya lagi."
Hoseok terbangun keesokan paginya dengan pusing dan mual hebat yang mendera. Ia segera berlari menuju kamar mandi yang terletak dikamarnya.
Setelah membasuh mulutnya, ia baru tersadar jika ada perban yang membalut pergelangan tangannya. Ingatannya samar-samar, membuatnya tak bisa memastikan siapa yang telah menyelamatkannya.
Tunggu.
"Selamat?"
Hoseok menatap pantulan dirinya di cermin wastafel ini.
"Ini justru lebih membunuhku lagi..."
.
.
.
Seluruh isi kamarnya rapih. Padahal Jung ahjumma belum datang. Semua botol kosong menghilang, tak ada kaca berserakan. Walau cermin yang ada dihadapannya kini masih dalam kondisi separuh retak. Cacat. Membuat bayangan dirinya tak utuh , "persis sepertiku..." Gumamnya sambil mengenakan dasi. Sedikit kesulitan, seab rasa sakit ditangannya perlahan-lahan datang.
Ia menatapnya dengan pandangan meredup. Satu persatu ingatannya kembali.
'DEMI TUHAN ! APA YANG KAU LAKUKAN JUNG HOSEOK!?'
Suara itu... "Seokjin...?"
Seketika ia menyambar jas dan tasnya, lalu keluar dari kamar dengan sedikit berlari.
Demi Tuhan, semalam ia mabuk dan Seokjin masuk ke kamarnya. Apa ia meracau sesuatu tentang Yoongi? Apa Seokjin mendengarnya?
.
.
.
"Seok-"
Panggilan Hoseok terhenti saat hanya melihat sosok Jimin sudah siap di meja makan seperti biasa.
"Seokjin hyung sedang bicara dengan Jung ahjumma sebentar. Kau-Hyung!"
Seketika niat Hoseok untuk bertanya menjadi lenyap begitu saja dan ia memilih pergi.
"Hoseok hyung! Tunggu!"
Hoseok tak berhenti ataupun menyahut mendengar panggilan itu. Ia dapat mendengar derap langkah Jimin menyusul nya.
"Hyung, ada apa dengan tanganmu?"
Pertanyaan Jimin kali ini membuatnya kembali teringat penyebab tangannya terluka begini. Sesaat kemudian Hoseok menyesali tindakannya menggulung kemeja pagi ini, hingga perban itu terlihat.
"Hoseok hyung," Jimin berhasil meraih bahu Hoseok, membuatnya terpaksa menoleh.
"Jika kukatakan aku sekarat, apa yang bisa kau lakukan?" Tanya Hoseok dengan datarnya.
"N-ne?"
"Kau bisa menyembuhkanku?"
"Hoseok hyung-"
"Siapa yang kau panggil hyung? Lepas!"
Hoseok menghempaskan tangan Jimin dari bahunya dengan kasar. Menurunkan kemejanya hingga luka itu tertutup, lalu benar-benar pergi darisana.
.
.
.
Begitu Hoseok keluar dari rumahnya, ia langsung disambut pemandangan seorang Min Suga yang baru saja turun dari mobilnya, hendak menjemput Jimin.
Mereka berpapasan, namun Suga seolah tak melihat seorangpun disana. Langkahnya baru terhenti begitu Hoseok mengeluarkan kalimat;
"Sudah benar-benar menikmati peranmu sebagai Tunangan seorang Park Jimin," Hoseok berbalik, menuju Suga alu berdiri menghadapnya. "...Min Yoongi?"
"..."
"Whoa~ Seseorang pernah berkata padaku, bahwa dia bukan orang yang tergila-gila pada materi. Tapi kini? Orang itu terus melilit putra keluarga konglomerat demi perusahaan keluarganya."
"Terserahmu."
Suga tak mau perduli, dia datang untuk memberi kejutan pada Jimin, bukan untuk bicara dengan orang ini.
Jadi, ia melangkah lagi. Namun Hoseok menjegal lengannya. De Javu.
"Lalu bagaimana hubungan kita? Kapan kau akan bicara dan memvonisnya?" Tanya Hoseok tanpa menatap Suga. Objek yang ditanya menghela nafas berat, lalu hendak melepaskan tangan Hoseok. Namun ternyata genggaman ini begitu erat. Dia tidak tahu Hoseok mati-matian menahan sakit pada tangannya.
"Jawab dulu Min Yoon- ah, Min Suga. Bagaimana dengan hubungan kita?," Hoseok bertanya lagi dengan penuh penekanan "...biarkan aku tahu."
Suga menyerah. Dia membiarkan Hoseok tetap menggenggam tangannya lalu menjawab, dengan pertanyaan.
"Kenapa? Apa Direktur Jung sudah tak sanggup? Bagaimana rasanya ditinggal tanpa diberi kepastian? Sakit? Kira-kira begitulah aku dulu."
"Jawab saja Min Yoongi, apa keputusanmu ?!" Rahang Hoseok bergemeretak, menahan rasa sakit.
"Sudah kubilang simpulkan saja sendiri!" Suga balas menggertak "...Kalau kau merasa tak sanggup, silahkan menyerah saja. Dengan begitu aku akan merasa senang karena berhasil membuatmu merasakan karma dan tersiksa..."
Sret~
Genggaman Hoseok melemas, rasa sakitnya memuncak berkali-kali lipat. Dan kesempatan itu Suga gunakan untuk berjalan menjauh.
"Bagaimana jika Jimin tahu...?"
Satu pertanyaan dengan nada bergetar yang Hoseok lontarkan, mau tak mau membuat Suga kembali menghentikan langkahnya.
"Bagaimana jika Jimin tahu, bahwa tunangannya ini ada disisinya hanya demi dua hal. Pertama, demi perusahaan keluarganya. Kedua, demi membuatku cemburu dan tersiksa. Sama sekali bukan demi...cinta," urai Hoseok, yang seketika membuat Suga berjalan kearahnya lalu mencengkeram kedua bahunya dengan kencang. Hoseok sedikit mengernyit sakit, namun dia berpura-pura tersenyum karena berhasil memancing Suga.
"Kau takkan berani melakukan itu." Desis Lelaki dihadapannya dengan tajam.
"Atas dasar apa aku tak berani?"
"Demi Tuhan, Jung Hoseok. Aku sudah bahagia bersama adikmu, jadi jangan mengusikku lagi!"
"..." Hoseok diam, menelusuri sorot mata Suga didepannya. Mencari kebenaran kata-katanya. Apa benar dia sudah bahagia? Dan sialnya Hoseok harus mengakui jika itu...ada.
"Kau ingin keputusan? Baik. Aku akan memutuskan. Kita, kau dan aku, sudah tak ada ikatan apa-apa lagi. Kita berakhir."
"..."
Ada sesuatu yang mencelos dalam hati Jung Hoseok.
Berakhir.
Berakhir?
Inilah yang selama ini Hoseok tunggu. Suga bicara dan memutuskan. Tapi kenapa rasanya menjadi lebih sakit?
"Jadi Jung Hoseok, kuperingatkan kau kali ini. Jangan menggangguku dengan Jimin, karena kami saling mencintai." Tegas Suga.
Hoseok tertawa sedih.
"Cinta?" lirihnya "...Apa yang melambangkan arti cinta bagimu?"
"..."
"Sebuah pelukan? ciuman?Tidur bersama ?! Jika iya, berapa banyak kau sudah melakukannya dengan Jimin? Berapa persen perbandingannya denganku? Bagaimana jika dia tahu aku juga pernah mendapatkannya?!"
"Jaga bicaramu Jung Hoseok,"
"Kenapa aku harus?"
"..."
"Aku bisa, dengan mudahnya mengatakan pada Jimin jika kita saling mencintai. Karena kau juga pernah memelukku, menciumku, bahkan tidur bersa-"
"Jung Ho-"
"Yoongi hyung? Hoseok hyung?"
Suga tersentak.
Ia spontan menurunkan tangannya dari bahu Hoseok. Kemudian menoleh dengan perlahan, sementara Hoseok tak merubah posisi sedikitpun. Pucat pasi dan tegang mewarnai wajah Suga tatkala mendapati seseorang berdiri tak jauh dari mereka dengan raut wajah bingung.
"...Jimin...?"
